Anda di halaman 1dari 8

Edisi II/April/2009

Indeks:
Kabar Utama

Nasib RSK Setelah Rakyat


Mencontreng : Parlemen
Baru Terpilih, Bagaimana
Nasib Reformasi Sektor
Keamanan?

Advokasi

Advokasi Legislasi Sektor


Keamanan 2009-2014

Studi

Peran parlemen di Sektor


Keamanan

NEWSLETTER ini diterbitkan atas


kerjasama Institute for Defense,
Security and Peace Studies (IDSPS),
Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
dan Frederich Ebert Stiftung
(FES).
Kritik dan Saran:
Untuk informasi, kritik dan saran
dapat disampaikan kepada redaksi
melalui email di info@idsps.org atau
melalui pos ke alamat sekretariat
Institut for Defense, Security and
Peace Studies (IDSPS), Jl. Teluk
Peleng B-32, Komplek TNI AL
Rawabambu, Pasar Minggu, Jakarta
Selatan, Telp/Fax: 62.21.7804191
News Letter ini juga dapat diakses
dalam format file pdf melalui situs
http://www.idsps.org dan http://
www.ajiindonesia.org
SUSUNAN REDAKSI
PENANGGUNGJAWAB:
Mufti Makaarim A., Nezar Patria
EDITOR:
Meirani Budiman
KONTRIBUTOR:
Abdul Manan, Asep Komarudin,
Dimas P Yudha, Eva Danayanti,
Hamdani
DISTRIBUSI:
Heri Kuswanto

Pemilu 2009 dan Masa Depan RSK


Pengantar

emilu Legisliatif telah usai dengan meninggalkan beragam cerita. Mulai dari
persoalan prosedural, perubahan peta politik partai 10 besar yang akan duduk
di parlemen, hingga ke sejumlah calon legislatif yang stress karena gagal di
ajang Pemilu. Namun banyak pula cerita baru yang ditunggu dari mereka yang
akan duduk sebagai anggota parlemen periode 2009-2014. Salah satunya adalah,
bagaimana keberlanjutan agenda reformasi sektor keamanan (RSK)?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul lantaran tiga hal. Pertama, hampir
seluruh partai politik peserta pemilu 2009, memiliki platform RSK yang minim, baik
dalam program partai maupun agenda kampanye. Seluruh partai lebih menekankan
isu-isu yang dianggap mampu mendongkrak simpati pemilih dan dukungan publik,
seperti kesejahteraan, pendidikan, pembangunan daerah serta perubahan kebijakan
negara yang pro-rakyatwalalupun juga belum cukup jelas.
Isu-isu RSK dipandang kurang strategis mendulang suara, atau barangkali belum
menjadi concern partai dan calegnya. Jika mereka konsisten dengan platform
partai, hampir dipastikan bahwa porsi perhatian terhadap keberlanjutan RSK dalam
5 tahun mendatang kemungkinan menurun.
Kedua, sebagian besar anggota DPR periode 2004-2009 tidak lagi terpilih atau
mencalonkan diri sebagai legislatif periode 2009-2014. Pos-pos yang menangani
RSK, yaitu komisi I dan komisi III akan diisi oleh banyak wajah baru. Sebagaimana
diungkap oleh Joko Susilo, anggota komisi I DPR-RI Periode 2004-2009 dalam
sebuah diskusi, bahwa dua tahun pertama duduk di DPR adalah masa orientasi
dan penjajakan cara pandang atau posisi politik anggota komisi, dan satu tahun
terakhir merupakan masa persiapan pemilu berikutnya.
Bisa dibayangkan berapa masa efektif parlemen bekerja dengan komposisi
anggota yang sebagian besar baru. Dengan komposisi anggota yang tidak memiliki
persinggungan langsung dengan agenda-agenda RSK secara personal sebelum
menjadi anggota legislatif, wajar jika efektifitas komisi-komisi kedepan tersebut
dipertanyakan.
Dan ketiga, adanya harapan publik bahwa sejumlah kemandegan proses RSK
dalam 10 tahun terakhir tidak lagi terjadi dalam lima tahun kedepan. Harapanharapan tersebut barangkali juga bukan pada impian muluk-muluk, namun pada
hal-hal penting yang sederhana. Misalnya, pengawasan terhadap pelaksanaan UU
sehingga tidak ada lagi aktor keamanan (TNI dan POLRI) yang berpolitik, berbisnis,
melanggar HAM, atau kebal hukum atas perlbagai pelanggaran hukum dan HAM
yang mereka lakukan. Dan dengan perubahan sederhana ini, publik juga berharap
profesionalisme aktor keamanan yang bukan sekadar jargon atau janji-janji dapat
terwujud.
Bagaimana anggota-anggota DPR terpilih akan menjawab tiga pertanyaan besar di
atas? Kita tunggu dan lihat kinerja mereka nanti.
Newsletter | [namaNewsletter
lembaga/project]
| Edisi|I/Maret/2009
ed.1:mar.09 | 

Kabar Utama

Nasib RSK Setelah Rakyat Mencontreng

Parlemen Baru Terpilih.


Bagaimana Nasib Reformasi Sektor Keamanan?

emilihan umum legislatif baru saja digelar


tanggal 9 April lalu. Sejumlah masalah mencuat,
misalnya proses penghitungan suara yang
lambat membuat banyak kalangan pesimis Komisi
Pemilihan Umum bisa menetapkan suara pada 9 Mei
2009. Sementara, KPU terus didera dengan berbagai
carut-marut proses pemilu, antara lain soal daftar
pemilih yang kacau.
Namun demikian, kita bisa melihat hasil pemilu
melalui penghitungan singkat (quick count) yang
dilakukan oleh beberapa lembaga survey. Hasil
quick count tersebut menunjukkan Partai Demokrat
mengantongi suara sekitar 20%, disusul oleh Partai
Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP) sekitar 14%, Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
kisaran 8%, Partai Amanat Nasional (PAN) kisaran 6%,
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan hasil
sekitar 5%, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
dengan hasil sekitar 5% juga. Sementara, dua partai
baru, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan
Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA), masing-masing
memperoleh suara sekitar 4%. Partai-partai lainnya
tidak akan memiliki wakil di Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) karena tidak lolos parliamentary
treshold 2,5%.
Tentu, perolehan suara tersebut akan mengubah
wajah parlemen Indonesia. Partai Demokrat dipastikan
akan mendominasi suara parlemen meskipun bukan
mayoritas, disamping Golkar dan PDIP. Partai-partai
lain, seperti PKS, PAN, PPP dan PKB masih memiliki
suara yang signifikan. Disamping itu, ada pendatang
baru yaitu Gerindra dan Hanura.
Khusus untuk Partai Hanura dan Gerindra, dua
partai tersebut unik karena didirikan para jendral
purnawirawan. Hanura didirikan mantan Panglima
ABRI, Wiranto. Sedangkan Gerindra didirikan mantan
Komandan Jendral Komando Pasukan Khusus,
Prabowo Subianto. Keduanya dikenal sebagai tokoh
 | Newsletter | Edisi II/April/2009

tentara garis keras. Mereka adalah dua jendral


Orde Baru yang mempertahankan konsep pertahanan
dan kemanan lama.
Parlemen dan Reformasi Sektor Keamanan
Selama sepuluh tahun terakhir, reformasi sektor
keamanan melalui parlemen tidak mengalami
kemajuan yang berarti. Produk-produk legislasi
yang dikeluarkan parlemen belum menghasilkan
reformasi di sektor keamanan dengan paradigma
baru. Rancangan Undang-undang Intelejen, yang
diharapkan menjadi dasar hukum reformasi intelejen,
belum juga kelar. RUU Peradilan militer tak terdengar
gaungnya di Senayan. RUU Kemanan Nasional sempat
menjadi bahasan namun belum jelas arahnya. RUU
Komponen Cadangan masih dibahas. RUU Komponen
Pendukung juga tak diketahui nasibnya. Yang terakhir,
RUU Wajib Militer, pernah menjadi wacana publik
namun kini hilang gaungnya.
Sementara, pada saat yang sama, muncul
Rancangan Undang-undang Rahasia Negara. RUU
yang ini dikhawatirkan bisa menjadi dasar hukum
untuk menutup akses publik terhadap informasi di
bidang keamanan.
Hanya sedikit produk legislatif dibidang keamanan
yang sudah selesai. Produknya antara lain Ketetapan
MPR No. VI tentang Pemisahan TNI-Polri, Ketetapan
MPR No. VII tentang Peran TNI-Polri, UU No. 3 tahun
2002 tentang Pertahanan Negara, UU No. 2 tahun 2002
tentang Polri dan UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI.
Wajah Parlemen; Lama dan Baru
Parlemen 1999-2009 hampir didominasi oleh para
anggota dengan paradigma lama. Paradigma baru,
seperti human security (keamanan insani) tidak
popular di kalangan politisi ini. Hal ini membuat
konsep-konsep baru dalam RUU Pertahanan dan
Keamanan Negara tidak mudah diterima di Senayan.

Kabar Utama
Rendahnya penerimaan konsep-konsep baru tersebut
membuat ide-ide reformasi di bidang kemanan susah
diterima.
Sementara itu, kekuatan konservatif di parlemen
masih dominan. Partai Golongan Karya, pemenang
pemilu 2004 dan runner up pemili 1999, merupakan
partai pendukung utama Orde Baru. Partai ini memiliki
suara terbanyak di parlemen, sehingga menjadi
benteng yang tangguh dalam mempertahankan
konsep keamanan yang lama.
Adapun PDI Perjuangan, pemenang pemilu 1999 dan
runner up pemilu 2004, tidak memberikan dukungan
bagi reformasi di bidang keamanan. Partai yang dulu
menjadi simbol perlawanan Orde Baru ini malah
membangun
aliansi
dengan
k e k u a t a n
kekuatan sisa-sisa
Orde Baru.
Begitupun
dengan
partaipartai lain tidak
menunjukkan
antusiasme bagi
reformasi
di
bidang kemanan.
Tidak
ada
satu
fraksipun
di
parlemen
yang
lantang
menyuarakan
konsep reformasi ini. Hal ini membuat reformasi
melalui proses legislatif di DPR berjalan tertatihtatih.
Komposisi parlemen baru tampaknya juga tidak
menunjukkan adanya kekuatan politik baik dari
partai besar atau partai tengah yang mendukung
reformasi di sektor keamanan. Justru sebaliknya,
masuknya Partai Hanura dan Partai Gerindra malahan
akan memperkuat barisan konservatif yang menolak
gagasan reformasi. Dua partai yang dipimpin jendral
ini dikenal mengusung kebijakan-kebijakan yang
tidak reformis. Sederet nama pimpinan teras partai
ini memiliki track record sebagai pendukung setia
Orde Baru.
Sistem pemilihan yang baru, dengan sistem
pemilihan nama calon anggota legislatif dengan

suara terbanyak, membuat wajah parlemen baru


susah diterka. Hasil sementara menunjukkan figurfigur terkenal, seperti artis, memperoleh suara
terbanyak. Mereka bukan orang-orang yang dikenal
memiliki pemikiran kritis, pemahaman yang dalam,
apalagi memiliki agenda menggaungkan wacana
mereformasi sektor keamanan.
Jika DPR didominasi individu dan partai yang
tidak memiliki wacana mengenai reformasi sektor
keamanan, proses legislasi sejumlah RUU di atas
akan sulit diprediksi akan berjalan mulus. Hal ini bisa
berkaca pada legislasi yang sudah ada, yang dibentuk
pada masa awal reformasi, masih mengandung
sejumlah masalah, sehingga sulit diimplementasikan
dan lemah dari sisi
pengawasannya.
Ditengah trend
dukungan terhadap
reformasi sektor
keamanan
yang
menurun seperti
saat ini, proses
legislasi
akan
berhadapan dengan
banyak kelemahan.
Mungkin saja akan
terjadi
banyak
perubahan pasal di
sana-sini, mungkin
malah prosesnya
berhenti. Namun,
yang jelas, sulit mengharapkan kesinambungan
pembahasan RUU-RUU tersebut.
Pembahasan RUU-RUU yang tersisa tersebut bisa
mengalami missing link. Para nggota parlemen baru
yang a-historis tidak memahami paradigma dibalik
RUU-RUU tersebut. Wacana-wacana baru seperti
human security mungkin merupakan yang asing
di telinga mereka. Bagian-bagian yang dulu sudah
dibahas, tidak diketahui oleh para anggota baru.
Bisa jadi, proses legislasi RUU-RUU tersebut akan
dimulai dari awal. Jika ini terjadi, pembahasannya
akan semakin lama. Mungkin butuh waktu bertahuntahun. Mungkin pula, banyak konsep yang dirubah.
Wal hasil, hasilnya akan mengecewakan. Semoga
saja, hal itu tidak terjadi. (MY)

Newsletter | Edisi II/April/2009 | 

Advokasi

Advokasi Legislasi
Sektor Keamanan 2009-2014

terhadap RSK di Indonesia, dengan berfokus pada


bidang legislasi, baik yang sudah diberlakukan
maupun yang masih dalam tahap rumusan dan
pembahasan.

Laporan hasil penelitian yang digarap oleh


IDSPS berjudul Masyarakat Sipil dan Reformasi
Sektor Keamanan di Indonesia (1998-2006) secara
komprehensif mengidentifikasi berbagai capaian,
hambatan serta peluang advokasi masyarakat sipil

Sebagai catatan, pada periode awal reformasi,


negara telah berhasil mengeluarkan kebijakan
pemisahan TNI dengan Polri, pembaruan hukum
Undang-undang Pertahanan, Undang-undang Polri,
dan Undang-undang TNI, serta penghapusan bisnis
militer. Hal ini menunjukkan produk legislasi
memihak pada agenda RSK. Sementara pada
periode seterusnya (2004 sekarang) grafik tersebut
menunjukkan trend dukungan yang terus menurun
hingga menunjukkan kondisi stagnan.

emilu 2009 ditandai adanya pembengkakan


jumlah politisi partai yang bertarung
memperebutkan kursi parlemen. Pemilu
legislasi kali ini memang diharapkan menjadi
mekanisme
pematangan
demokrasi
institusi
keamanan, tapi keberhasilnya akan ditentukan
banyak faktor dan mungkin tidak menggembirakan
kalangan organisasi masyarakat sipil yang aktif
mendorong reformasi sektor keamanan (RSK).

Daftar RUU Sektor Keamanan dalam Program Legislasi Nasional 2006-2009


No.

Nama RUU

RUU tentang Perbantuan TNI Kepada POLRI (Dalam Rangka Tugas Keamanan)

RUU tentang Intelejen Negara

RUU tentang Komponen Cadangan

RUU tentang Komponen Pendukung

RUU tentang Pertahanan dan Keamanan Negara

RUU tentang Pelatihan Dasar Kemiliteran Secara Wajib

RUU tentang Pengabdian di Bidang Pertahanan Sesuai dengan Profesi

RUU tentang Perbantuan TNI Kepada POLRI (Dalam Rangka Tugas Keamanan)

RUU tentang Pengesahan perjanjian Pelarangan Ujicoba Nuklir Secara Menyeluruh

10

RUU tentang Perubahan UU No.23/Prp/1959 tentang Keadaan Bahaya

11

RUU tentang Bela Negara

12

RUU tentang Hukum Disiplin Prajurit TNI

13

RUU tentang Perubahan Atas Undang-undang No.39 Tahun 1997 tentang Hukum Pidanan Militer

RUU versi Masyarakat Sipil yang dibutuhkan


dalam penataan sektor keamanan Yang Belum Diundangkan
1

RUU Intelijen

RUU Rahasia Negara (bisa jadi bagian UU Kebebasan memperoleh informasi publik)

RUU Peradilan Militer

 | Newsletter | Edisi II/April/2009

Advokasi
4

RUU Keamanan Nasional

RUU Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung

RUU KUHP Militer

RUU Mobilisasi dan Demobilisasi

RUU Wajib Militer

RUU Bela Negara

10 RUU Tata Ruang Wilayah Pertahanan


11 RUU Keadaaan Bahaya
12 RUU Tugas Perbantuan
Produk hukum dalam kerangka legislasi penataan
sektor keamanan yang telah ada pun masih diselimuti
komplikasi, karenanya sulit diimplementasikan,
miskin pengawasan dan evaluasi dari DPR.
Sementara sejumlah rancangan perundangan
yang dibahas DPR menuai reaksi keras publik, yang
disuarakan oleh berbagai organisasi masyarakat sipil
karena materinya yang kontroversial dan bahkan
memunculkan konflik. Tidak lengkapnya perangkat
Undang-undang yang dihasilkan oleh DPR ini menjadi
penyebab lahirnya kesimpulan bahwa RSK masih
jauh dari yang diharapkan.
Propatria Institute, sebuah lembaga yang
aktif mengasistensi kebijakan mengungkapkan
bahwa selama ini peran DPR kurang efektif dalam
menginisiasi proses legislasi dan menghasilkan
produk legislasi. DPR pun lemah dalam mengawasi
implementasi kebijakan.
Secara
internal
DPR
didera
persoalan
keterbatasan tenaga ahli dalam memahami aspek
teknis keamanan. Masalah ini boleh jadi makin
rumit karena terjadinya perubahan orientasi politik
secara reguler lima tahunan yang membawa agenda
tersendiri. Pemahaman elit politik yang tersebar
di berbagai partai terhadap keamanan nasional
dikenal tidak berangkat dari pijakan yang sama, dan
menganut perbedaan pendekatan.
Baru baru ini Propatria melakukan kajian terhadap
platform partai peserta Pemilu 2009 tentang
Keamanan Nasional. Terungkap bahwa 9 partai yang
lolos parliamentary treshold 2,5%, yang memiliki

bidang program kerja pertahanan dan keamanan,


secara umum partai tersebut masih berpandangan
konservatif, konsisten pada sistem keamanan rakyat
semesta, bertumpu pada ancaman non tradionil dan
sedikit menyentuh masalah human security.
Perubahan atas capaian reformasi di sektor
keamanan ini diakui sangat dipengaruhi oleh aspek
politik. Di sebuah negara transisi, seperti Indonesia,
ketika otoritas militer dialihkan ke otoritas sipil,
proses yang berlangsung tentu tidak bisa mulus karena
ada upaya penolakan atau persimpangan orientasi.
Capaian pada periode awal, bisa tertorehkan
karena reformis menjadi sikap dan aksi sebagian
besar politisi tanah air. Semangat perubahan dan
label reformis berhasil menghimpun energi untuk
berlaku sejalan dengan harapan reformasi. Begitu
iklim reformasi surut, dimana kaum reformis
berangsur akomodatif dengan residu Orde Baru yang
masih memiliki tempat dalam sistem kekuasaaan,
maka prestasi berubah menjadi stagnansi dan daya
kritis pun kian surut. Dalam hal legislasi, kondisi
seperti ini kasat terlihat.
Perubahan Strategi OMS
Sebagaimana yang disebut di atas, DPR periode
2009-2014 mewarisi pekerjaan rumah yang
besar yang ditinggalkan politisi Senayan periode
sebelumnya, sekaligus bagi kerja-kerja advokasi
masyarakat sipil sepanjang waktu itu.
Sejauh ini, advokasi masyarakat untuk sektor
keamanan tidaklah sedikit, sejumlah isu dan kasus
yang menjadi perhatian antara lain pembahasan dan
Newsletter | Edisi II/April/2009 | 

Advokasi
perumusan RUU Kamnas, RUU Rahasia Negara, RUU
Intelijen, RUU Peradilan Militer, penegasan peran
Dephan, pengambilalihan bisnis militer, pelanggaran
HAM dan penegakan hukum bagi aktor keamanan,
pencabutan embargo militer Amerika Serikat, proses
pengadaan alutsista, kontra-terorisme, penanganan
brutalistas polisi dll.
Di tahun 2008, kritik dan ekspresi kekecewaan
mewarnai catatan OMS advokasi dan monitoring isuisu RSK dan HAM. Reaksi ini merupakan sikap tegas
OMS atas fenomena stagnansi RSK, konservativisme
negara dan status quo proses-proses penegakan
hukum dan HAM.
Telah banyak yang diupayakan, walaupun hasil
yang dicapai tidak begitu menggembirakan. Advokasi
OMS berhadapan langsung dengan resistensi dari
aktor keamanan, ambiguitas sikap politik negara dan
miskinnya dukungan politik elit menjadi hambatan
eksternal.
Harus diakui, OMS sendiri juga ikut didera
masalah, beragamnya dinamika dan orientasi
masyarakat sipil yang berujung pada gerakan tanpa
konsensus dan pembagian peran menyebar dalam
mengawal agenda RSK, menjadi halangan internal
kalangan masyarakat sipil.
Oleh karena itu, ke depan, masyarakat sipil harus
berkaca dari kelemahan di atas untuk kemudian
memperbaiki strategi sehingga bisa kembali secara
efektif menjalankan fungsi sebagai kelompok
penekan (pressure group) pemerintah dan parlemen
sehingga RSK tidak kehilangan arahnya, mengingat
tantangan advokasi ke depan begitu besar.
Melihat hasil sementara pemilu legislatif April
lalu, memberi gambaran suram akan laju RSK,
karena kecenderungan meningkatnya kekuatan
politisi berlatar belakang militer di parlemen, dan
politisi sipil yang semakin akomodatif dan terlibat
dalam konflik.
Setidaknya ada dua strategi yang bisa diper
timbangkan oleh masyarakat sipil untuk kerja-kerja
advokasi mendatang. Pertama, masyarakat sipil
 | Newsletter | Edisi II/April/2009

harus memikirkan kembali upaya untuk memperkuat


konsolidasi antar OMS. Hal ini dibutuhkan untuk
menggiring masyarakat sipil kembali pada agenda
bersama dan memperketat peran dan fungsi mereka
dalam mengawal agenda-agenda RSK.
Kondisi seperti ini tercermin pada periode awal
RSK, dimana kalangan masyarakat sipil cenderung
bekerja dalam dinamika yang sama dan konsisten
berfokus pada agenda RSK yang telah disepakati
bersama, sehingga muncul satu kekuatan yang
punya bargain yang kuat untuk dipertimbangkan.
Kedua, strategi yang bisa jadi dipandang paradoks
dengan strategi sebelumnya, namun dirasa relevan
dengan kondisi kekinian, yakni kalangan masyarakat
sipil beralih pada pendekatan teknokratis dalam
menyikapi satu isu atau kasus. Pendekatan ini
memang terkesan pragmatis, artinya kelompok
masyarakat sipil terlibat penuh dalam advokasi
suatu isu dan kasus adalah kelompok yang memang
memiki fokus pada bidang tersebut.
Mungkin nantinya, kelompok inilah yang akan
mengawal isu atau kasus sejak awal dan bertanggung
jawab hingga akhir. Kelompok seperti Pacivis yang
konsen terhadap isu intelijen, IOM (international
Organization for Migration) pada reformasi polisi
dan Lesperssi (Lembaga Studi Pertahanan dan Studi
Strategis Indonesia) pada kebijakan perbatasan
adalah beberapa contohnya. [MR/DN]

Studi

Pengaturan Rahasia Negara:

Studi Jepang Dan Korea Selatan

erdapat tiga hal yang menjadi best practice


kontrol parlemen terhadap pengadaan alutsista
dalam kerangka demokratis. Satu, pengadaan
alutsista mesti berdasar atas kebijakan pertahanan
negara yang menyeluruh didukung analisa utuh
terhadap dinamika ancaman dan perencanaan
yang matang. Dua, kontrak pengadaan alutsista,
khususnya yang memiliki nilai besar, mesti mendapat
persetujuan parlemen untuk menjamin akuntabilitas
dan transparansi penggunaan uang pajak dari rakyat.
Tiga, perlunya hubungan harmonis antara parlemen
(khususnya komisi pertahanan) dengan Departemen
pertahanan agar tercipta kontrol sipil yang kuat
dan terciptanya transparansi dan akuntabilitas
pengadaan alutsista sesuai kebijakan pertahanan
(S.Prabawaningtyas, 2008).
Di Belanda, sebagaimana dijelaskan oleh Eekelen
(2005), setidaknya terdapat lima fase pengadaan
alutsista yang dilakukan bersama parlemen. Pertama,
rencana baru pengadaan dikirimkan pemerintah kepada
parlemen. Parlemen cenderung lebih fokus pada nilai
bagian dari anggaran keseluruhan yang diserap oleh
rencana baru itu dan mengajukan pertanyaan tentang
kesesuaian dengan prioritas kebutuhan lain.
Kedua, jika kebutuhan disetujui atau setidaknya
ditolak dengan pesan: Komisi mencatat beberapa
hal dari dokumen yang dipresentasikan, selanjutnya
terkait dengan persiapan studi tentang jumlah. Pasar
harus dipelajari dan daftar pemasok yang lengkap
harus dibuat. Jika muncul kemungkinan tidak adanya
persediaan barang dalam waktu yang dibutuhkan,
rencana harus disusun untuk fase pengembangan
melalui kerjasama dengan industri dan jika
memungkinkan dengan negara lain yang tertarik.
Ketiga, melakukan studi informasi yang disediakan
dari pemasok yang terlibat. Pertanyaan seputar
ini diantaranya: apakah mereka mampu untuk
memenuhi spesifikasi atau mereka menyarankan
jalan alternatif untuk memenuhi kebutuhan? Apakah
peralatan digunakan oleh angkatan/kekuatan lain dan
apa pengalaman mereka terkait bdengan performa
peralatan yang dimaksud? Apakah kemungkinan untuk
produksi bersama dan bentuk kompensasi? Sebagai
catatan, informasi ini harus menjadi informasi publik.
Keempat, terkait dengan persiapan akuisisi
berdasarkan atas tawaran yang dinegosiasikan,

dan dilengkapi dengan uji lapangan. Direktorat


persenjataan akan menerapkan serangkaian kriteria
untuk menentukan penilaian final. Dengan asumsi
bahwa beberapa alternatif sesuai dengan kebutuhan
militer, faktor lain masuk dalam perdebatan di dalam
parlemen.
Dan fase terakhir berkaitan dengan lobi intensif
yang melibatkan media massa, lembaga think thank
dan parlemen. Para pengambil keputusan diundang
untuk mengunjungi pabrik atau menyaksikan
demostrasi dari alutsista yang dibutuhkan. Fase ini
menandakan keharusan akan kehati-hatian. Sebab
banyak kasus muncul dimana para politikus menerima
bonus perjalanan untuk liburan atau pembayaran
untuk mereka sendiri atau untuk pundi-pundi partai
politiknya.
Dalam kesepakatan kontrak pengadaan alutsista,
kerap kali diawali oleh sebuah Letter of Intent
(surat kepercayaan). Di belanda, hal ini tergantung
pada nilai uangnya. Kontrak di bawah 5 juta euro
diserahkan pada bagian yang terkait. Di atas 25 juta
euro, proyek-proyek itu harus melibatkan rencana
pertahanan secara utuh dari Kepala Staff Pertahanan
dalam porsi peranannya sebagai perencana institusi
dan mengkomunikasikan kepada parlemen.
Di antara 25 juta sampai 100 juta euro, di awal
siklus harus disetujui oleh komite parlemen, kemudian
eksekusi lebih lanjut diserahkan kepada bagian terkait,
atau tidak jika proyek ini dikualifikasi sebagai hal
yang secara politik bersifat sensitif. Kontrak di atas
250 juta euro membutuhkan persetujuan oleh kabinet
penuh sebelum diserahkan kepada parlemen.
Sebagai perbandingan dengan praktek serupa yang
dilakukan beberapa negara anggota NATO. Menteri
Pertahanan bertanggung jawab untuk menyediakan
informasi kepada Komite pertahanan tentang keputusan
pengadaan di atas jumlah nilai tertentu. Jika di
Belanda (di atas 50.000 euro), maka di Jerman (di atas
25 juta euro), di Norwegia (di atas 0.8 juta euro). Di
semua negara tersebut, kecuali Inggris, membutuhkan
izin parlemen untuk menyetujui kontrak.
Selain terdapat kontrol parlemen terhadap
pemerintah dalam hal pengadaan alutsista. Dewan
Penasehat Belanda untuk Isu Internasional telah
mempublikasikan sebuah laporan ketersediaan riset
independen untuk membantu kontrol parlemen.
Tentu saja hal seperti itu akan membantu pengawasan
parlemen yang kuat dalam kerangka demokrasi.
(DPY)
Newsletter | Edisi II/April/2009 | 

Profil
jahteraan yang memadai. Bagi AJI, kesejahteraan jurnalis
yang memadai ikut mempengaruhi jurnalis untuk bekerja
profesional, patuh pada etika dan bersikap independen.
Jl. Kembang Raya No.6 Kwitang-Senen, Jakarta 10420
Tel. +62 21 315 12 14
Fax. +62 21 315 12 61
Friedrich-Ebert-Stiftung mendirikan kantor perwakilan
Email: Sekretariatnya_aji@yahoo.com; sekretariat@ajiinIndonesia pada tahun 1968. Terutama sejak 1998, FES
donesia.org
Indonesia telah menjalankan berbagai kegiatan untuk
Website: www.ajiindonesia.org
mendukung proses demokratisasi dan pembangunan sosial-ekonomi di Indonesia.
Cakupan isu yang di tangani antara lain ialah demokratisasi, good governance, reformasi di bidang hukum, perlindungan hak asasi manusia, pencegahan dan resolusi konflik,
reformasi sektor keamanan, dukungan kepada media yang
bebas dan berimbang, serta isu-isu sosial, ketenagakerInstitute for Defense, Security and Peace Studies (IDSPS)
jaan, dan gender.
Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan melalui ker- didirikan pada pertengahan tahun 2006 oleh beberapa
jasama dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat aktivis dan akademisi yang memiliki perhatian terhadap
dan instansi pemerintah terkait. Kerjasama itu terjalin advokasi Reformasi Sektor Keamanan (Security Sectors
dalam bentuk seminar, lokakarya, diskusi, pelatihan, dan Reform) dalam bingkai penguatan transisi demokrasi di
publikasi. FES Indonesia juga mendukung dialog internasi- Indonesia paska 1998. lembaga ini bekerja sama dengan
onal dengan mengirimkan berbagai delegasi, tenaga ahli, komunitas dan kelompok masyarakat sipil yang didediakademisi, dan jurnalis senior sebagai peserta di forum kasikan bagi tumbuhnya pemerintahan dan negara yang
regional dan internasional. Secara berkala FES juga men- demokratis serta berperannya masyarakat sipil dalam bergundang ahli-ahli dari Jerman dan negara-negara lain un- bagai kebijakan sektor keamanan.
IDSPS melakukan kajian kebijakan pertahanan-keamanan,
tuk memberikan presentasi di Indonesia.
resolusi konflik dan hak asasi manusia (policy research)
mengembangkan dialog antara berbagi stakeholders (maJl. Kemang Selatan II No. 2A 12730 Jakarta-Indonesia
syarakat sipil, pemerintah, legislatif dan institusi lainnya)
Telp. +62 21-7193711; 71791358; 91261736
terkait dengan kebijakan untuk mengakselerasi proses
Fax. +62 21-71791358
reformasi sektor keamanan, memperkuat peran serta maE-mail. info@fes.or.id
syarakat sipil dan mendorong penyelesaian konflik dan
Website. http://www.fes.or.id
pelanggaran hukum secara bermartabat.
Jl. Teluk Peleng B-32 Komplek TNI AL Rawa Bambu, Pasar
Minggu
Jakarta Selatan, Jakarta-Indonesia
Telp. +61 21-7804191
Fax. +61 21-7804191
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) adalah sebuah organisasi
Email. info@idsps.org atau idsps_indo@yahoo.com
yang mewakili para jurnalis profesional di Indonesia. OrWebsite. http://www.idsps.org
ganisasi di tingkat nasional bernama AJI Indonesia, sedangkan AJI Kota merepresentasikan anggota AJI di 26 kota di
seluruh Indonesia.
S. Prabawaningtyas (2008) dalam W.F van Eekelen, Dimensi ParAJI memiliki kepedulian besar terhadap isu kebebasan
lemen dalam Pengadaan Pertahanan, Persyaratan, Produksi, Kerpers dan berekspresi di Indonesia. AJI mempunyai komitjasama dan Akuisisi, (terj.) (Jenewa: DCAF, 2005).
men untuk memperjuangkan hak-hak publik atas infor- W.F van Eekelen, Dimensi Parlemen dalam Pengadaan Pertahanan, Persyaratan, Produksi, Kerjasama dan Akuisisi, (terj.) (Jemasi dan kebebasan pers. Untuk yang pertama AJI memnewa: DCAF, 2005).
posisikan dirinya sebagai bagian dari publik yang berjuang

Makarim, Mufti dan S. Yunanto (ed.), Efektivitas Strategi Organmendapatkan segala macam informasi yang menyangkut
isasi Masyarakat Sipil: Dalam Advokasi Reformasi Sektor Keamankepentingan publik.
an di Indonesia 1998-2006, (Jakarta: IDSPS, 2008).
Muara dari komitmen tersebut adalah terpenuhinya kebu Sukadis, Beni, Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia
tuhan publik akan informasi yang obyektif. Untuk menjaga
2007, (Lesperssi-DCAF, 2007).
kebebasan pers, Aji berupaya menciptakan iklim pers yang Daftar Rancangan Undang-undang Prolegnas 2006-2009, diakses
sehat. Suatu keadaan yang ditandai dengan sikap jurnapada http://www.legalitas.org/database/lain/nasional/Proleglis yang profesional, patuh kepada etika dan-jangan lupa
nas2006-2009.htm
mendapatkan kesejahteraan yang layak. Ketiga soal ini sa- Tim Pengkaji Propatria Institute, Peta Paltform Partai Politik
ling terkait. Profesionalisme-plus kepatuhan pada etika-tiPeserta Pemilu 2009 tentang Keamanan Nasional, (Jakarta,
Propatria Institute, 2009).
dak mungkin bisa berkembang tanpa diimbangi oleh kese-

Referensi:

 | Newsletter | Edisi II/April/2009