Anda di halaman 1dari 21

KOORDINAT POLAR DAN BILANGAN KOMPLEKS

TUGAS JURNAL MINGGU KE-6


MPMT.5103/FONDASI DAN BUKTI MATEMATIKA
ERIS HERIYONO/NIM.500638753
UT UPBJJ BANDUNG
E-mail:smpsimpatik2@gmail.com-erisheriyono@gmail.com

Untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Fondasi dan Bukti
Matematika,setiap mahasiswa pascasarjana UT mendapatkan tugas untuk membuat
jurnal mingguan dimana melaporkan,mencatat hal-hal penting dari hasil
diskusi,tuton,dan Modul atau sumber lain yang relevan dengan materi terkait dalam
perkuliahan ini, Bilangan Kompleks, Koordinat Polar dan Macam-macam Grafik
Koordinat Polar .

A. PENDAHULUAN
1.Bilangan kompleks
Sebelum membahas apa itu bilangan kompleks ? Maka kita harus memahami terlebih
dahulu tentang
Bilangan imajiner (bahasa Inggris: imaginary number) adalah
bilangan yang mempunyai sifat i 2 = 1. Bilangan ini biasanya merupakan bagian dari
bilangan kompleks. Selain bagian dari bilangan kompleks, bilangan imajiner merupakan
bagian bilangan riil. Secara definisi, (bagian) bilangan imajiner ini diperoleh dari
penyelesaian persamaan kuadratik:

atau secara ekuivalen

atau juga sering dituliskan sebagai


.
Bilangan imajiner dan/atau bilangan kompleks ini sering dipakai di bidang teknik
elektro dan elektronika untuk menggambarkan sifat arus AC (listrik arus bolak-balik)
atau untuk menganalisa gelombang fisika yang menjalar ke arah sumbu x mengikuti:
), dengan j = i.

Perkalian akar kuadrat


Perkalian akar kuadrat bilangan negatif perlu perhatian khusus. Misalnya, pemikiran
berikut ini salah:

Kekeliruan (fallacy) yang diperbuat adalah penggunaan aturan xy = xy, di


mana nilai prinsip akar kuadrat dihitung setiap kali, sebenarnya hanya valid jika
x dan y dibatasi dengan sepatutnya. Tidak mungkin untuk mengembangkan definisi
nilai prinsip akar kuadrat pada semua bilangan kompleks dengan cara aturan perkalian
biasa. Jadi 1 dalam konteks ini harus dianggap "tidak berarti", atau sebagai
ekspresi bernilai ganda dengan kemungkinan nilai i dan i.
Dalam matematika, bilangan kompleks adalah bilangan yang berbentuk
, di mana a dan b adalah bilangan real, dan i adalah bilangan imajiner
tertentu yang mempunyai sifat i

= 1. Bilangan real a disebut juga bagian real dari

bilangan kompleks, dan bilangan real b disebut bagian imajiner. Jika pada suatu
bilangan kompleks, nilai b adalah 0, maka bilangan kompleks tersebut menjadi sama
dengan bilangan real a.
Sebagai contoh, 3 + 2i adalah bilangan kompleks dengan bagian real 3 dan bagian
imajiner 2i.
Bilangan kompleks dapat ditambah, dikurang, dikali, dan dibagi seperti bilangan real;
namun bilangan kompleks juga mempunyai sifat-sifat tambahan yang menarik.
Misalnya, setiap persamaan aljabar polinomial mempunyai solusi bilangan kompleks,
tidak seperti bilangan real yang hanya memiliki sebagian.
Dalam bidang-bidang tertentu (seperti teknik elektro, di mana i digunakan
sebagai simbol untuk arus listrik), bilangan kompleks ditulis a + bj.

2. Notasi ,Operasi dan Definisi


Himpunan bilangan kompleks umumnya dinotasikan dengan C, atau

. Bilangan

real, R, dapat dinyatakan sebagai bagian dari himpunan C dengan menyatakan setiap
bilangan real sebagai bilangan kompleks:

Bilangan kompleks ditambah, dikurang, dan dikali dengan menggunakan sifatsifat aljabar seperti asosiatif, komutatif, dan distributif, dan dengan persamaan i
2

= 1:

(a + bi) + (c + di) = (a+c) + (b+d)i


(a + bi) (c + di) = (ac) + (bd)i
(a + bi)(c + di) = ac + bci + adi + bd i 2 = (acbd) + (bc+ad)i
Pembagian bilangan kompleks juga dapat didefinisikan (lihat di bawah). Jadi,
himpunan bilangan kompleks membentuk bidang matematika yang, berbeda dengan
bilangan real, berupa aljabar tertutup.
Dalam matematika, adjektif "kompleks" berarti bilangan kompleks digunakan
sebagai dasar teori angka yang digunakan. Sebagai contoh, analisis kompleks, matriks
kompleks, polinomial kompleks, dan aljabar Lie kompleks.

Definisi
Definisi formal bilangan kompleks adalah sepasang bilangan real ( a, b) dengan operasi
sebagai berikut:

Dengan definisi di atas, bilangan-bilangan kompleks yang ada membentuk


suatu himpunan bilangan kompleks yang dinotasikan dengan C.
Karena bilangan kompleks a + bi merupakan spesifikasi unik yang berdasarkan
sepasang bilangan real (a, b), bilangan kompleks mempunyai hubungan korespondensi
satu-satu dengan titik-titik pada satu bidang yang dinamakan bidang kompleks.
Bilangan real a dapat disebut juga dengan bilangan kompleks ( a, 0), dan
dengan cara ini, himpunan bilangan real R menjadi bagian dari himpunan bilangan
kompleks C.
Dalam C, berlaku sebagai berikut:

identitas penjumlahan ("nol"): (0, 0)

identitas perkalian ("satu"): (1, 0)

invers penjumlahan (a,b): (a, b)

invers perkalian (reciprocal) bukan nol (a, b):

Notasi

3. Bentuk Penjumlahan dan Perkalian Bilangan Kompleks.


Jika u= a + bi , dan v=c + dim aka hasil penjumlahannya adalah:
u + w = a + bi + c + di =a+c + bi +di =a+c + (bi +di) =(a+c) +(b+d)i

Ambil beberapa sebarang bilangan kompleks, dimana p = 3 + 5i, q =


2 - 3i
Dan r = 6 + 8i. Tentukanlah nilai dari:
1.p + q
=
2.p + r
=
3. p +q +r =
4. p.q
=
5. p. r =
6. p .q .r
=
Jawab:

1.p + q = (3 + 5i) + (2 - 3i) = (3+2) +(5i-3i) =5 + 2i


2.p + r = (3 + 5i) + ( 6+8i )= (3 +6)+(5i +8i)= 9 +13i
3.p + q + r = (3 + 5i) + (2 - 3i) +( 6+8i ) =(3+2+6)+(5i3i+8i)=11+10i
4.p.q =(3 + 5i) (2 - 3i)= 6-9i +10i-15i 2 = 6 + i + 15 = 21+ i , dimana
(i2=-1)
5.p.r = (3 + 5i) (6 + 8i)= 18 +24i+30i+40i 2 =18+54i-40=-22+54i
6.p.q.r= (p.q).r =(21+i )(6+8i)=126+168i+6i+8i 2 =126+174i8=118+174i
Bilangan kompleks pada umumnya dinyatakan sebagai penjumlahan dua suku, dengan

suku pertama adalah bilangan real, dan suku kedua adalah bilangan imajiner.

Bentuk Polar
Dengan menganggap bahwa:

dan

maka
Untuk mempersingkat penulisan, bentuk
sebagai

juga sering ditulis

1. Diketahui bilangan kompleks dengan z= 2 + i, nyatakanlah dalam


bentuk:
a.persegi panjang
b.bentuk polar
c.bentuk trigonometri
Jawab :
a.bentuk persegi: (2,1)
b.bentuk polar
c.r= a2 +b2 = 22 + 12 = 5
1
tg =----- , maka =arctg , =260 33
2
Sehingga bentuk polar nya adalah (r,) =5, 260 33)
c.bentuk trigonometri
a +bi = r (cos + I sin)
2+ i = 5 (cos 26033 + i. sin26033)
3. Bentuk Eksponen
Bentuk lain adalah bentuk eksponen, yaitu:

Bidang kompleks

Bilangan kompleks dapat divisualisasikan sebagai titik atau vektor posisi pada sistem
koordinat dua dimensi yang dinamakan bidang kompleks atau Diagram Argand.

Koordinat Kartesius bilangan kompleks adalah bagian real x dan bagian imajiner
y, sedangkan koordinat sirkularnya adalah r = |z|, yang disebut modulus, dan =
arg(z), yang disebut juga argumen kompleks dari z (Format ini disebut format modarg). Dikombinasikan dengan Rumus Euler, dapat diperoleh:

Kadang-kadang, notasi r cis dapat juga ditemui.


Perlu diperhatikan bahwa argumen kompleks adalah unik modulo 2, jadi, jika
terdapat dua nilai argumen kompleks yang berbeda sebanyak kelipatan bilangan bulat
dari 2, kedua argumen kompleks tersebut adalah sama (ekivalen).
Dengan menggunakan identitas trigonometri dasar, dapat diperoleh:

dan

Penjumlahan dua bilangan kompleks sama seperti penjumlahan vektor dari dua vektor,
dan perkalian dengan bilangan kompleks dapat divisualisasikan sebagai rotasi dan
pemanjangan secara bersamaan. Perkalian dengan i adalah rotasi 90 derajat
berlawanan dengan arah jarum jam (

radian). Secara geometris, persamaan i2 =

1 adalah dua kali rotasi 90 derajat yang sama dengan rotasi 180 derajat (

radian).

4. Sistem koordinat polar

Titik-titik dalam sistem koordinat polar dengan kutub/pole O dan aksis polar L.
Warna hijau: titik dengan koordinat radial 3 dan koordinat angular 60 derajat, atau
(3,60). Warna biru: titik (4,210).

Sistem koordinat polar (sistem koordinat kutub) dalam matematika adakag


suatu sistem koordinat 2-dimensi di mana setiap titik pada bidang ditentukan dengan
jarak dari suatu titik yang telah ditetapkan dan suatu sudut dari suatu arah yang
telah ditetapkan.
Titik yang telah ditetapkan (analog dengan titik origin dalam sistem koordinat
Kartesius) disebut pole atau "kutub", dan ray atau "sinar" dari kutub pada arah yang
telah ditetapkan disebut "aksis polar" ( polar axis). Jarak dari suatu kutub disebut

radial coordinate atau radius, dan sudutnya disebut angular coordinate, polar angle,
atau azimuth.[1]
Konsep sudut dan jari-jari sudah digunakan oleh manusia sejak zaman purba, paling
tidak pada milenium pertama SM. Astronom dan astrolog Yunani, Hipparchus, (190
120 SM) menciptakan tabel fungsi chord dengan menyatakan panjang chord bagi
setiap sudut, dan ada rujukan mengenai penggunaan koordinat polar olehnya untuk
menentukan posisi bintang-bintang.[2] Dalam karyanya On Spirals, Archimedes
menyatakan Archimedean spiral, suatu fungsi yang jari-jarinya tergantung dari sudut.
Namun, karya-karya Yunani tidak berkembang sampai ke suatu sistem koordinat
sepenuhnya. Dari abad ke-8 M dan seterusnya, para astronom mengembangkan
metode untuk menghitung arah ke Mekkah (kiblat) dan jaraknya dari semua
lokasi di bumi.[3]
Kaidah

Sebuah grid polar dengan beberapa sudut yang diberi label dalam derajat.
Koordinat radial sering dilambangkan dengan r, dan koordinat angular dilambangkan
dengan , , atau t. Koordinat angular ditetapkan sebagai oleh standar ISO 3111.Sudut dalam notasi polar biasanya dinyatakan dalam derajat atau radian (2 rad
sama dengan to 360). Derajat biasanya digunakan dalam navigasi, surveying, dan
banyak bidang, sementara radian lebih umum dalam matematika dan fisika.[4]Dalam
banyak konteks, suatu koordinat angular positif berarti sudut diukur berlawanan
dengan jarum jam dari aksis. Dalam literatur matematika, aksis polar sering digambar
horizontal dan mengarah ke kanan.

5. Konversi dari atau ke koordinat Kartesius

Sebuah diagram menggambarkan hubungan antara sistem koordinat Kartesius dan


polar.

Y=sin(6x)+2
Sebuah kurva dalam bidang Kartesian dapat dipetakan ke dalam koordinat polar.
Dalam grafik di atas ,

dipetakan kepada

Koordinat polar r dan dapat dikonversi ke dalam sistem koordinat Kartesius x dan y
menggunakan fungsi trigonometri sinus dan kosinus:

Koordinat Kartesian x dan y dapat dikonversi ke dalam koordinat polar r dan dengan

r 0 dan dalam interval (, ] dengan:[5]

(sebagaimana dalam teorema Pythagoras atau Euclidean


norm), dan
,di mana atan2 merupakan variasi umum pada fungsi
arctangent yang didefinisikan sebagai

Nilai di atas adalah principal value dari fungsi bilangan kompleks arg yang
diterapkan pada x+iy. Suatu sudut dalam rentang [0, 2) dapat diperoleh dengan
menambahkan 2 pada nilai sudut itu jika nilainya negatif.

B. PEMBAHASAN KOORDINAT POLAR


1.SISTEM KOORDINAT POLAR
Dua orang Perancis, yaitu Pierre de Fermat (1601-1665) dan Rene Descrates
(1596-1650), memperkenalkan apa yang kita sebut sistem kooordinat Cartesius atau
persegi panjang. Dasar pemikiran mereka ialah untuk merinci setiap titik P di bidang
dengan jalan memberikan dua bilangan (x,y), jarak berarah dari sepasang sumbu yang
tegak lurus dengan sesamanya. Gagasan in sampai sekarang demikian umumnya
sehingga kita menggunakannya hampir tanpa berpikir. Namun ini adalah gagasan
mendasar dalam geometri analitis dan memungkinkan pengembangan kalkulus seperti
yang kita capai hingga saat ini. Pemberian jarak berarah dari sepasang sumbu yang
tegak lurus bukanlah satu-satunya jalan untuk merinci suatu titik. Cara lain untuk
melakukan ini adalah dengan memberikan apa yang disebut koordinat polar.
Koordinat polar dimulai dengan sebuah setengah garis tetap, disebut sumbu

polar, memancar dari sebuah titik tetap O, disebut polar atau titik asal (lihat gambar
2). Sumbu polar dipilih horizontal dan mengarah ke kanan dan oleh sebab itu sumbu ini
dapat disamakan dengan sumbu x-positif pada sebuah koordinat siku siku. Sebarang
titik P (selain polar) adalah perpotongan anatar sebuah lingkaran tunggal yang
berpusat di O dan sebuah sinar tunggal yang memancar dari O. Jika r adalah jari-jari
lingkaran dan

adalah salah satu sudut antara sinar dan sumbu polar, maka (r,)

adalah sepasang koordinat polar untuk P.Dalam koordinat polar, r negatif menyatakan
bahwa sinar yang berlawanan dari sisi akhir dan |r| satuan dari titik asal. Contoh-

contoh dari persamaan polar adalah r = 8

dan r =

Persamaan polar dapat dibuat dalam bentuk grafik persamaan polar dimana grafik
persamaan polar adalah himpunan titik-titik, masing-masing mempunyai paling sedikit
sepasang koordinat polar yang memenuhi persamaan polar tersebut. Cara yang paling
mendasar untuk mensketsakan grafik ialah menyusun tabel nilai nilai, plot titik
titik yang berpadanan, kemudian menghubungkan titik-titik ini dengan kurva mulus.

a.Hubungan Koordinat Cartesius Kita andaikan bahwa sumbu polar berimpit dengan
sumbu x-positif sistem Cartesius. Maka koordinat polar (r,) sebuah titik P dan
koordinat Cartesius (x,y) titik yang sama itu dihubungkan oleh persamaan
Polar ke Cartesius

Cartesius ke Polar

x=r

y=r

Contoh :
Carilah koordinat Cartesius yang berpadanan dengan (4, ) dan
koordinat polar yang berpadanan dengan (-3,

)!

Penyelesaian :

Jika (r,) = (4, ) maka : x = 4

Jika (x,y) = (-3,

) maka :

Satu nilai (r,) adalah (2

= 4.

=2

,y=4

= 4.

= 12 dan

, 5 /6). Lainnya adalah (-2

, -/6).

b.Persamaan Polar untuk Garis, Lingkaran, dan Konik


melalui polar, persamaannya adalah
garis

=2

Jika sebuah garis

. Apabila garis tidak melalui polar, maka

tersebut berjarak misalnya


polar dan garis tegaklurus

dari kutub

. Andaikan

sudut antara sumbu

dari polar pada garis itu (Figure 9). Apabila

sebuah titik pada garis, maka

atau

Apabila sebuah lingkaran dengan jari-jari a berpusat di polar, persamaannya adalah r


= a. Apabila pusatnya di (
(Figure

), persamaannya agak rumit, kecuali kalau kita pilih

10).

Maka

menurut

hukum

kosinus,

yang dapat disederhanakan menjadi

Suatu hal yang menarik jika


persamaan

dan

. Yang pertama menghasilkan

; yang kedua menghasilkan

atau

. Persamaan terakhir hendaknya dibandingkan dengan contoh 1.


Akhirnya kalau sebuah konik (elips, parabol, atau hiperbol) diletakkan sedemikian
hingga fokusnya berada di polar, garis arahnya berjaark

satuan dari kutub (Figure

11), maka dengan menggunakan definisi konik, yaitu

kita akan

memperoleh

Atau, secara analitik setara

Contoh
Contoh 1:

Tentukan persamaan elips mendatar dengan keeksentrikan , berfokus di


polar dan dengan garis arah tegak yang jaraknya 10 satuan di sebelah
kanan polar.

Penyelesaian

Contoh 2:

Tentukan jenis konik dan gambarkan grafik yang persamaannya

Penyelesaian kita tulis persamaan itu dalam bentuk baku sebagai berikut.

Yang kita kenal sebagai koordinat polar


menggambarkan sebuah hiperbol dengan e
= 2, berfokus di polar dan dengan garis
arah yang mendatar, sejauh 7/4 satuan di
atas sumbu polar ( Figure 12).

2. GRAFIK PERSAMAAN POLAR


Persamaan polar yang ditinjau dalam sebelumnya menuju ke grafik-grafik
yang dikenal, terutama garis, lingkaran, dan konik. Sekarang kita mengalihkan
perhatian kita pada grafik-grafik yang lebik eksotis kardioida, limason, lemniskat,
mawar, dan spiral. Persamaan-persamaan Cartesius padanannya agak rumit. Beberapa
kurva memiliki persamaan sederhana dalam suatu system; kurva-kurva ini mmiliki
persamaan sederhana dalam system yang kedua.

Sifat simetri dapat membantu

kita memahami sebuah grafik. Berikut beberapa uji yang cukup untuk kesimetrian
dalam koordinat polar. Diagram-diagram akan membantu Anda mengembangkan
validitas mereka.
a.Grafik persamaan polar simetri terhadap sumbu-x (sumbu polar) jiak penggantian
(r, ) atau oleh ( - r, -

) memnghasilkan persamaan yang ekuivalen.

b.Grafik persamaan polar simetri terhadap sumbu-y (gari


(r, ) oleh (-r, - ) atau oleh ( r, -

s = /2) jika penggantian

) menghasilkan persamaan ekuivalen.

c.Grafik persamaan polar simetris terhadap titik asal (polar), jika pengganti ( r,
oleh (- r, ) atau oleh ( r, +

) menghasilkan persamaan yang ekuivalen.

Karena pernyataan ganda titik-titik di dalam koordinat polar, maka mungkin terdapat
simetri-simetri yang tidak teridentifikasi oleh ketiga tes ini.
d. Kardioida dan Limason
Kita tinjau persamaan yang berbentuk r = a b cos

; r = a b sin

dengan a dan b positif. Grafik mereka dinamakan limason, dengan khusus untuk a = b
disebut sebagai kardioda.

CONTOH 1
Analisis persamaan r = 2 + 4 cos

untuk simetri dan sketsakan grafiknya.

PENYELESAIAN

Karena kosinus adalah fungsi genap (cos(- ) = cos

), grafik

simetris terhadap sumbu-x. Pengujian simetri yang lain gagal.

Lemniskat Grafik dari


r2 = a cos 2

r2 = a sin 2

berupa kurva berbentuk-angka-delapan dinamakan lemniskat.


CONTOH 2
Analisis persamaan r2 = 8 cos 2

untuk simetri dan sketsakan grafiknya

PENYELESAIAN Karena cos(-2 ) = cos 2

dan

cos [2 ( - ) ] = cos (2 - 2 ) = cos(-2 ) = cos 2


maka grafik simetris terhadap kedua sumbu. Jelas, garfik simetri juga terdapat titik
asal.

Mawar Persamaan polar yang berbentuk


r = a cos n

r = a sin n

menyatakan kurva-kurva berbentuk bunga yang dinamakan mawar. Mawar memiliki n daun jika n
gasal dan 2n daun jika n genap.

CONTOH 3

Analisis r = 4 sin 2 untuk simetri dan sketsakan grafiknya.

PENYLESAIAN Anda dapat memeriksa bahwa r = s sian 2

memenuhi ketiga pengujan

simetri. Sebagai contoh, dia memenuhi Uji 1 karena


sin 2( -

) = sin (2-2 ) = - sin 2

sehingga penggantian (r,

) oleh (-r, -

) menghsilkah persamaan ekuivalen.

Tabel nilai yang agak lengkap untuk 0

/2, dan yang agak ringkas untuk /2

2.

Anak panah pada menunjukkan arah gerak titik P(r,

) apabila

bertambah besar

mulai dari 0 hingga 2.


Spiral Grafik r = a

disebut spiral Archimedes; grafik r =

dinamakan spiral logaritma

(logarithmic spiral).
CONTOH 4
Sketsakan grafik r =

untuk

0.

PENYELESAIAN Kita abaikan tabel nilai, tetapi perhatikan bahwa grafik memotong sumbu polar di (0,0),
(2, 2), (4, 4), dan memotong perpanjangan yang ke kiri di (, ), (3, 3), (5, 5), .

Perpotongan Kurva dalam Koordinat Polar Dalam koordinat polar sebuah titik P
memiliki banyak koordinat polar, dan satu pasangan dapat memenuhi persamaan polar

satu kurva dan pasangan yang lain dapat memenuhi kurva yang lain. Misalnya, lingkaran
r = 4 cos

memotong garis

= /3 di dua titik, yaitu polar dan (2, /3), tetapi hanya

pasangan terakhir yang merupakan penyelesaian bersama kedua persamaan tersebut.


Ini terjadi karena koordinat polar yang memenuhi persamaan garis adalah (0, /3)
dan yang memenuhi persamaan lingkaran adalah (0, /2 + n).

Kesimpulannya untuk memperoleh semua perpotongan dua kurva yang


persamaan polarnya diberikan, selesaikanlah persamaan-persamaan secara imulutan;
kemugian Gambarkan garfik dua persamaan tersebut secara seksama untuk
menemukan titik potong lain yang masih mungkin.
CONTOH 5
Carilah titik potong dua kardioida r = 1 + cos

dan r = 1 sin .

PENYELESAIAN Jika kita hilangkan r dari dua persamaan tersebut, kita peroleh 1
+ cos = 1 sin . Jadi cos = - sin , atau tan = -1. Kita simpulkan bahwa

= , yang menghasilkan dua titik potong (1 -

, ) dan (1+

= atau

, ).

Namun grafik diatas memperlihatkan bahwa kita telah melewatkan titik potong yang
ketiga, yaitu polar. Alasan kita terlewat adalah bahwa r = 0 dalam persamaan r = 1 +
cos

ketika

= , tetapi r = 0 dalam persamaan r = 1 sin

ketika

3. KALKULUS DALAM KOORDINAT POLAR

a.Luas dalam Koordinat Polar Untuk memulai,misalkan


sebuah kurva di bidang,dengan

menentukan

fungsi kontinu, tak-negatif untuk

. Kurva-kurva

dan

dan

membatasi daerah R (yang

diperlihatkan di bagian kiri dalam Gambar 2).yang luasnya A(R) ingin kita temukan.

Gambar 2
Partisikan interval [

menjadi n interval bagian menggunakan sarana

bilangan-bilangan

dengan

demikian

daerah R menjadi n daerah berbentuk kue yang lebih kecil,yaitu


diperlihatkan

dalam

paruhan

kanan

Kita aproksimasi luas irisan ke-I,

Gambar

, seperti
2.

; kenyataannya

kita melakukannya dalam dua cara. Pada interval ke-I [


,misalkan

mencapai

nilai

maksimumnya,masing-masing di

minimumnya
dan

dan

nilai

( Gambar 3). Jadi,jika

Gambar
Sehingga

mengiris

Jelas

Anggota pertama dan ketiga pertidaksamaan ini adalah jumlah Riemann untuk
integral yang sama:

Ketika norma pastisi kita biarkan menuju

nol,kita peroleh (dengan menggunakan Teorema Apit) rumus luas

Contoh soal :
1.

Carilah luas satu daun dari mawar berdaun-empat


Jawaban :
Disini kita hanya memperlihatkan daun di kuadran pertama ( Gambar 3) Daun
ini panjangnya 4 satuan dan lebarnya rata-rata 1,5 satuan, memberikan
estimasi 6 untuk luasnya. Luas eksak A diberikan oleh

b.Garis Singgung dalam Koordinat Polar Dalam koordinat Cartesius, kemiringan


m dari garis singgung pada suatu kurva diberikan oleh m =
menolak

. Dengan cepat kita

sebagai rumus kemiringan yang berpadanan dalam koordinat polar.

Lebih baik. Jika r = f ( ) menentukan kurva , kita tuliskan : y = r sin

x = r cos

= f ( ) cos

= f ( ) sin

jadi,

Yakni,

m=

Rumus yang baru saja diturunkan menjadi sederhana jika grafik r = f

()

melalui polar. Sebagai contoh, andaikan untuk sudut , r = f () = 0 dan f () 0.


Maka ( di polar tersebut ) rumus kita untuk m adalah

m=

= tan

Karena garis = juga memiliki kemiringan tan , kita simpulkan bahwa garis
ini menyinggung kurva di polar. Kita memutuskan fakta yang berguna bahwa garis

garis singgung di titik polar dapat dicari dengan menyelesaikan persamaan f ( ) = 0.


Kita ilustrasikan ini berikutnya
Contoh Soal.
Perhatikan persamaan polar r = 4 sin 3 .

(a) Carilah kemiringan garis singgung di


(b) Carilah garis singgung di titik polar.
(c) Sketsakan grafik.
(d) Carilah luas satu daun.

Penyelesaian

a. m =
Di

=
=

dan

m=

=-

Di

m=

b.

Kita tetapkan r = 4 sin 3


,

c.

= ,

= 0 dan selesaikan. Ini menghasilkan


=

, dan

= 0,

Setelah memperhatikan bahwa


sin 3 ( -

) = sin ( 3 - 3

) = sin 3 cos 3

- cos 3 sin 3

= sin 3

yang mengaplikasikan simetris terhadap sumbu-y, kita dapatkan suatu


tabel nilai dan mensketsakan grafik , sebagai berikut
R
0

0
2,8
4
2,8
0
-2,8
-4

d.

d = 8

A =

=4

= 4

C. KESIMPULAN
1. Sebarang titik P (selain polar) adalah perpotongan anatar sebuah lingkaran
tunggal yang berpusat di O dan sebuah sinar tunggal yang memancar dari O.
Jika r adalah jari-jari lingkaran dan

adalah salah satu sudut antara sinar

dan sumbu polar, maka (r,) adalah sepasang koordinat polar untuk P.
2. Maka koordinat polar (r,) sebuah titik P dan koordinat Cartesius (x,y) titik
yang sama itu dihubungkan oleh persamaan

Polar ke Cartesius

Cartesius ke Polar

x=r
y=r

+
=

3. Grafik persamaan polar dibagi menjadi grafik kadiodida, limason, lemniskat,


mawar dan spiral.
4. Perpotongan kurva dalam koordinat polar diperoleh dengan menyelesaikan
persamaan polar secara simultan dan menggambarkan grafik dua persamaan
tersebut untuk kemungkinan titik potong yang lain.
5. Luas dalam koordinat polar, yaitu : A =
6. Garis singgung dalam koordinat polar dapat dicari melalui kemiringan kurva
polar tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Bilangan_imajiner
https://id.wikipedia.org/wiki/Bilangan_kompleks
Varberg,dkk.2011.Kalkulus Edisi Kesembilan Jilid 2.Jakarta:Erlangga
Wahyudin: 2014, Cetakan ke-3 Edisi 1:Penerbit Universitas Terbuka