Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRATIKUM

PENGUJIAN IMPAK

Oleh:
(NAMA) (NIM)

Laboratorium Metalurgi dan Material


Program Studi Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2016

BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang

Pada masa perang dunia kedua, kegagalan getas pada lasan kapal
liberty dan T-2 tank merupakan hal yang mendapat perhatian lebih.
Beberapa kapal yang terbuat dari baja terbelah menjadi dua bagian,
biasanya hal ini terjadi saat musim dingin. Hal ini difokuskan pada
kenyataan bahwa baja ulet dapat menjadi getas pada kondisi tertentu.
Patah getas disebabkan oleh tegangan tiga sumbu (triaxial stress),
temperatur rendah, dan laju peregangan tinggi akibat pembebanan
cepat. Untuk itu saat pembuatan kapal, aspek ketahanan terhadap
pembebanan impak perlu menjadi perhitungan untuk memaksimalkan
faktor keselamatan (safety factor).

1.2

Tujuan

Tujuan pada pratikum ini adalah


a. Menentukan bentuk patahan dari material baja dan aluminium
setelah pengujian.
b. Menentukan kurva Harga Impak (HI) terhadap temperatur dari

material baja dan aluminium.


c. Menentukan temperatur transisi material baja dan aluminium.

TEORI DASAR
2.1 Metode Pengujian Impak
Uji impak adalah pengujian material dengan diberikan pembebanan
cepat. Ada 3 faktor yang menyebabkan kegagalan material akibat patah
getas diantaranya, tegangan tiga arah, temperatur rendah, dan laju
regangan tinggi akibat pembebanan cepat.
Terdapat dua metode dalam pengujian impak yaitu, metode charpy
dan metode izod. Berbagai jenis takikan (notch) pada pengujian impak
digunakan untuk menentukan kecendrungan material terhadap patah getas
seperti terlihat pada Gambar 2.1 dan 2.2. Standar yang digunakan untuk
pengujian impak adalah ASTM E-23M dan A370. Perbedaan antara metode
charpy dan izod terletak pada:
a. Letak takikan (notch)
Posisi takikan pada metode charpy tepat ditengah-tengah spesimen
pada salah satu sisi, sedangkan pada metode izod mendekati salah
satu ujung yang ditanam.
b. Arah pembebanan
Arah pembebanan pada metode charpy tepat di tengah-tengah
sejajar dengan posisi takikan dengan arah yang berlawanan,
sedangkan

metode

izod

pembebanan

diberikan

pada

ujung

spesimen searah dengan arah takikan.


c. Posisi pengujian spesimen
Pada metode charpy peletakan spesimen horizontal, sedangkan
pada metode izod spesimen diletakkan secara vertikal.
d. Penyerapan energi
Dengan peletakan spesimen pada metode charpy maka energi
impak yang diberikan seluruhnya akan diserap oleh spesimen,
sedangkan metode izod energi akan terdistribusi sebagian ke
bagian penumpu. Semakin besar energi yang terbaca, maka
semakin

besar

juga

ketangguhan

material

pada

temperatur

tertentu.

Gambar 2.1 Takikan pada Pengujian Impak

Charpy

Izod

Keuntunga

Energi yang terserap lebih

Lebih mudah dalam mengatur

n
Kerugian

akurat
Harus meletakkan takikan

peletakan takikan
Energi yang terserap kurang

tepat ditengah-tengah

akurat karena terbuang ke

spesimen

penumpu

Gambar

Gambar 2.2 Metode Pengujian Izod dan Charpy


Takikan yang diberikan pada spesimen bertujuan untuk menghasilkan
konsentrasi tegangan dan membentuk tegangan tiga arah yang akan
berpegaruh pada arah patahan di spesimen. Selain tegangan tiga arah,
terdapat tegangan geser pada material akibat pembebanan seperti yang
terlihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Tegangan Tiga Arah dan Tegangan Geser


Pengaruh temperatur terhadap ketangguhan (kemampuan menyerap
energi) material akan menurun seiring dengan menurunnya temperatur
lingkungan. Semakin rendah temperatur maka material akan semakin getas.
Hal

ini

berhubungan

dengan

adanya

vibrasi

atom,

semakin

rendah

temperatur makan vibrasi akan semakin lambat sehingga perpindahan


dislokasi semakin sulit. Karena dislokasi sulit berpindah, maka patahan yang
timbul adalah patah getas. Begitu juga sebaliknya. Gambar 2.4 menunjukkan
perbandingan

jenis

baja

terhadap

perubahan

temperatur.

Baja

menunjukkan ketangguhan yang lebih tinggi dibandingkan baja B, tetapi


memiliki temperatur transisi yang lebih rendah dibandingkan baja B.

Gambar 2.4 Kurva Temperatur Transisi pada Dua Baja


6

Gambar 2.5 memperlihatkan hubungan temperatur dengan energi


yang diserap untuk menentukan temperatur trasnsisi.
a. T1 transition temp adalah temperatur dimana patahan 100% ulet NDT (nil ductile temperature).
b. T2 transition temp adalah temperatur dimana patahan 50% ulet dan
50 getas - FATT (fracture appearance transition temperature).
c. T3 transition temp adalah temperatur dimana energi rata-rata yang
terserap pada upper dan lower shelf.
d. T4 transition temp adalah temperatur dimana terjadi perubahan
keuletan.
e. T5 transition temp adalah temperatur dimana patahan 100% getas FTP (fracture transition plastic)

Gambar 2.5 Berbagai Temperatur Transisi Yang Didapat Dari


Pengujian Charpy pada Baja

2.2

Faktor Metalurgi Terhadap Kurva Ductile to Brittle


Transition Temperatur (DBTT)
Bentuk dan posisi spesimen mempengaruhi kurva DBTT karena untuk
mengetahui

temperatur

keselematan

suatu

transisi

aplikasi.

yangmana

Terdapat

mengindikasikan

beberapa

fakto

yang

mempengaruhi yaitu:
a. Struktur kristal

FCC

BCC

HCP

Di antara ketiga struktur kristal, hanya struktur kristal BCC yang


mengalami transisi ulet ke getas akibat penurunan temperatur. Hal ini
dikarenakan slip sistem pada BCC lebih sedikit dibandingkan FCC dan
HCP, sehingga energi yang diserap lebih sedikit untuk mematahkan
material BCC.

b. Interstisial atom

Material

yang

mengandung

karbon

dan

magnesium

dapat

mempengaruhi kurva DBTT. Semakin banyak kandungan karbon maka


temperatur transisi semakin rendah dan kurva DBTT semakin landai.
Sehingga pada temperatur tinggi, material bersifat ulet. Unsur P, Si,
Mo dan O diketahui juga dapat menaikkan temperatur transisi.

c. Ukuran butir
Semakin kecil ukuran butir, temperatur transisi semakin rendah. Hal ini
dikarenakan pergerakan butir semakin mudah ketika temperatur
dinaikkan.

d. Perlakuan panas
Perlakuan panas yang menyebabkan recovery pada butir seperti,
proses

rekristalisasi dapat menurunkan temperatur transisi dan

mengakibatkan

kurva

semakin

lebar

ke

kenan.

Baja

tempered

martensit menghasilkan kombinasi kekuatan dan ketangguhan dalam


menerima beban impak.

e. Orientasi spesimen
Produk dari proses rolling

atau

forging

menghasilkan

material

anisotropik, sehingga ketika pengujian impak, posisi orientasi spesimen


memberikan hasil yang berbeda-beda di setiap sisinya.

Pada posisi longitudinal B memperlihatkan penyerapan energi paling


baik dikarenakan pertumbuhan retakan melintasi arah pengerolan.

10

Sedangkan posisi tranversal C memberikan penyerapan energi yang


paling buruk karena pertumbuhan retakan paralel dengan arah rolling.
f. Ketebalan spesimen
Semakin lebar ukuran spesimen, maka semakin kuat material dalam
menerima beban impak dan meningkatkan temperatur transisi.

Bentuk patahan
a. Material ulet mengalami deformasi plastik dan menyerap energi
(ketangguhan) sebelum patah.
b. Material getas sangat sulit mengalami deformasi plastik dan rendah
dalam menyerap energi (ketangguhan) sebelum patah.

11

DATA PERCOBAAN
3.1 Data Hasil Percobaan
Tabel 3.1 Data Hasil Pengujian Baja

Baja

o
1

T (oC) Ao

Energi

HI* =

(J)
58

E/Ao
0.63795

80

(mm2)
90.916

30

8
0.32997

4
0.07699

II

25

2
90.916

III

-30

2
90.916
2

*Harga Impak (HI) diperoleh dari energi yang terserap dibagi luas penampang

Tabel 3.2 Data Hasil Pengujian Baja

Alumini

Ao

Energi

HI* =

o
1

um

(mm2)
90.916

(J)

(oC)
80

48

E/Ao
0.52795

II

25

2
90.916

20

9
0.21998

III

-30

2
90.916

20

3
0.21998

*Harga Impak (HI) diperoleh dari energi yang terserap dibagi luas penampang

Tabel 3.3 Bentuk Patahan dari Baja dan Aluminium

N
o

Material

Temperatu

Bentuk Patahan

r (C)

12

Baja I

80

Baja II

25

Baja III

-30

Aluminiu
mI

80

Aluminiu
m II

25

13

Aluminiu
m III

-30

ANALISIS DATA
4.1 Analisis bentuk patahan dari Baja dan Aluminium
Dari percobaan yang dilakukan didapatkan bentuk patahan dari baja
dan aluminium. Hasil patahan baja pada temp -30 oC menghasilkan bentuk
patahan getas. Hal ini ditandai dari reduksi penampang yang dihasilkan tidak
berkurang dan tidak terdapat patah geser di bagian luar penampang.
Sedangkan pada temperatur 25 dan 80 oC, hasil patahan yang dihasilkan
berupa patah ulet yang ditandai dengan adanya patah geser di bagian luar
penampang dan reduksi luas penampang.
Pada material aluminium, patahan yang dihasilkan pada setiap
temperatur menunjukkan patah ulet. Hal ini ditandai dengan adanya fibrous
padan penampang patahan, patah geser di bagian luar penampang dan
terjadi

reduksi

luas

penampang

(necking)

akibat

deformasi

plastik.

Perbedaan patahan aluminium terletak pada persen clevage (celah-celah)


yang terbentuk pada permukaan patahan.
Perbedaan jenis paahan antara aluminium dan baja terjadi karena
perbedaan struktur kristal dimana aluminium memiliki struktur FCC dan baja
memiliki struktur BCC. Pada struktur FCC, antar atom memiliki banyak
rongga sehingga memudahkan atom untuk bergeser. Meskipun temperatur
diturunkan, atom-atom masih memiliki tempat untuk bergeser sehingga
menghasilkan patahan ulet ketika diberi beban impak.
14

Hal yang berbeda terjadi pada baja dengan struktur BCC dimana jarak
antar atomnya sangat padat. Sehingga ketika diberi beban impak, atomatom sulit bergerak dan ketika patah akan menghasilkan patah getas.

4.2 Analisis pengaruh temperatur terhadap harga HI


Pada percobaan ini didapat kurva hubungan antara perubahan temperatur
dengan energi yang terserap. Pada Gambar 4.1 terlihat bahwa temperatur transisi
baja tidak terdeteksi sedangkan pada aluminium terjadi peningkatan energi yang
terserap pada temperatur 25oC. Berdasarkan literatur, perubahan sifat dari ulet ke
getas berada di temperatur 20 oC. Perbedaan ini terjadi mungkin diakibatkan
komposisi material yang tidak diketahui, kemungkinan perbedaan pembacaan
sensor temperatur karena tertutup es nitrogen.

Harga Impak vs Temp. Transisi


0.7
0.6
0.5

Steel

0.4

Alumunium

0.3
0.2
0.1
0
-40

-20

20

40

60

80

100

Gambar 4.1 kurva hubungan antara Harga Impak dengan Temperatur


Transisi

15