Anda di halaman 1dari 5

PEMERINTAHAN KLASIK

Kelompok 3:
Alif
Fakhri

Adhie
M Rizky
Rafi
Rayhan

Reynaldin
Rachman
Mahendra
Hariyanto
Abiyyu
Darmawan

Pemerintahan Klasik
Bentuk pemerintahan klasik biasanya menggabungkan bentuk negara dan bentuk
pemerintahan secara bersamaan. Menurut teori pemerintahan klasik, bentuk pemerintahan
dibedakan dari jumlah pemegang kekuasaan. Biasanya pemegang kekuasaan ialah mereka
dengan kedudukan juga tinggi pada sebuah negara.
Dalam teori klasik bentuk pemerintahan dapat dibedakan atas jumlah orang yang
memerintah dan sifat pemerintahannya. Bentuk pemerintahan menurut ajaran klasik banyak
dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Plato dan aristoteles. Baik Plato maupun Aristoteles,
kedunanya membagi bentuk pemerintahan ke dalam dua kelompok besar yakni, bentuk yang
paling baik dan bentuk yang buruk (bentuk pemerosotan).Tokoh yang menganut teori klasik
adalah Plato,Aristoteles dan polybios.

Menurut Plato[429-374 SM]

Plato dikenal sebagai orang pertama yang menyelidiki bentuk-bentuk pemerintahan


secara sistematis dan mendalam. Berdasarkan hasil penyelidikannya, Plato menyebutkan ada
lima bentuk negara Yaitu:
1. Aristokrasi, suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh kaum cendikiawan yang
dilaksanakan sesuai dengan pikiran keadilan.
2. Oligarki, suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh golongan hartawan.
3. Temokrasi, suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh orang-orang yang ingin
mencapai kemahsyuran dan kehormatan.
4. Demokrasi, suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat jelata.
5. Tirani, suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seorang tiran (sewenangwenang) sehingga jauh dari cita-cita keadilan.
Menurut Plato, bentuk pemerintahan yang paling baik adalah monarki, sedangkan tirani
merupakan bentuk pemerosotannya. Diantara monarki sebagai bentuk ideal dan tirani sebagai
bentuk pemerosotannya, terdapat aritokrasi dengan bentuk pemerosotannya adalah oligarki
dan demokrasi dengan bentuk pemerosotannya adalah mobokrasi.

Menurut aristoteles [385-322 SM]

Aristoteles membedakan bentuk pemerintahan berdasarkan dua


kriteria pokok, yaitu jumlah orang yang memegang pucuk pemerintahan

dan

kualitas

pemerintahannya.

Berdasarkan

dua

kriteria

tersebut,

perbedaan bentuk pemerintahan adalah sebagai berikut :


1. Monarki, yaitu bentuk pemerintahan yang dibentuk oleh satu orang demi
kepentigan umum, sifat pemerintahan ini baik dan ideal.
2. Tirani, yaitu bentuk pemerintahan yang dibentuk oleh saru orang demi
kepentingan pribadi, bentuk pemerintahan ini buruk dan kemerosotan.
3. Aristokrasi, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok
cendikiawan demi kepentingan kelompoknya. Bentuk pemerintahan ini
merupakan pemerosotan dan buruk.
4. Politea, yaitu bentuk pemerintahan yang dianggap oleh seluruh rakyat demi
kepentingan umum. Bentuk pemerintahan ini baik dan ideal.
5. Demokrasi, yaitu pemerintahan yang dipegang oleh orang-orang tertentu demi
kepentingan sebagina orang. Bentuk pemerintahan ini kurang baik dan
merupakan pemerosotan.
Berdasarkan kedua kriteria tersebut, aristoteles mengklasifikasikan bentuk-bentuk
pemerintahan ke dalam tiga bentuk pemerintahan yang baik dan tiga pemerosotan. Tiga
bentuk pemerintahan yang baik adalah monarki, aristokrasi dan politea.
Bentuk-bentuk pemerintahan yang buruk adalah tirani sebagai bentuk pemerosotan dari
monarki, oligarki sebagai bntuk pemerosotoan dari aristokrasi dan demokrasi sebagai bentuk
pemerosotan politea.

Menurut Polybios[200-118 SM]


Ajaran
polybios
yang

dikenal dengan teori Siklus, sebenarnya merupakan pengembangan lebih lanjut dari

Aristoteles dengan sedikit perubahan, yaitu dengan mengganti bentuk pemerintahan ideal
politea dan demokrasi.

Monarki adalah bentuk pemerintahan yang pada mulanya mendirikan kekuasaan atas
nama rakyat dengan baik dan dapat dipercaya. Namun pada perkembangannya, para
penguasa dalam hal ini adalah raja tidak lagi menjalankan pemerintahan untuk kepentingan
umum, bahkan cenderung sewenang wenang dan menindas rakyat. Bentuk pemerintahan
monarki bergeser menjadi tirani.
Dalam situasi pemerintahan tirani yang sewenang wenang, mumcullah kaum
bengsawan yang bersekongkol untuk melawan. Mereka bersatu untuk mengadakan
pemberontakan sehingga kekuasaan beralih kepada mereka. Pemerintahan selanjutnya
dipegang oleh beberapa orang dan memperhatikan kepentingan umum. Pemerintahan pun
berubah dari tirani menjadi aristokrasi.
Aristokrasi yang semula baik dan memperhatikan kepentingan umum, pada perkembangan
tidak lagi menjalankan keadilan dan hanya mementingkan diri sendiri. Keadaan itu
mengakibatkan pemerintahan Aristokrasi bergeser ke Oligarki.
Dalam pemerinyahan Oligarki yang tidak memiliki keadilan rakyat mengambil alih
kekuasaan untuk memperbaiki nasib lewat pemberontakan. Rakyat menjalankan kekuasaan
negara demi kepentingan rakyat. Akibatnya, pemerintahan bergeser menjadi demokrasi.
Namun, pemerintahan demokrasi yang awalnya baik lama kelamaan banyak diwarnai
kekacauan, kebobrokan, dan korupsi sehingga hukum sulit ditegakkan. Akibatnya
pemerintahan berubah menjadi okhlokrasi. Dari pemerintahan okhlokrasi ini kemudian
muncul seorang yang kuat dan berani yang dengan kekerasan dapat memegang pemeritahan.
Dengan demikian, pemerintahan dipengang oleh satu tangan lagi dalam bentuk monarki.
Perjalanan siklus pemerintahan diatas memperlihatkan kepada kita adanya hubungan
kausal (sebab sebab) antara bentuk pemerintahan yang satu dengan yang lain. Itulah
sebabnya polybios beranggapan bahwa lahirnya pemerintahan yang satu dengan yang lain
merupakan akibat dari pemerintahan yang sebelumnya telah ada.

Monarki

Leon Duguit dalam bukunya Traite de Droit Constitutional membedakan


pemerintahan dalam bentuk monarki dan republik. Perbedaan antara bentuk pemerintahan
monarki dan republik menurut Leon Duguit, adalah ada pada kepala negaranya. Jika
ditunjuk berdasarkan hak turun temurun, maka kita berhadapan dengan Monarki. Kalau
kepala negaranya ditunjuk tidak berdasarkan turun temurun tetapi dipilih, maka kita
berhadapan dengan Republik.

1. Monarki absolut
Monarki absolut adalah bentuk pemerintahan dalam suatu negara yang dikepalai oleh seorang
(raja, ratu, syah, atau kaisar) yang kekuasaan dan wewenangnya tidak terbatas. Perintah raja
merupakan wewenang yang hrus dipatuhi oleh rakyatnya. Pada diri raja terdapat kekuasaan
eksekutif, yudikatif, dan legislatif yang menyatu dalam ucapan dan perbuatannya. Contoh
Perancis semasa Louis XIV dengan semboyannya yang terkenal Letat Cest Moi (negara
adalah saya).
2. Monarki konstitusional
suatu negara yang dikepalai oleh seorang raja yang kekuasaannya dibatasi undang undang
dasar (konstitusi). Proses monarki kontitusional adalah sebagai berikut:
Monarki konstitusional adalah bentuk pemerintahan dalam

Ada kalanya proses monarki konstitusional itu datang dari raja itu sendiri karena takut
dikudeta. Contohnya: negara Jepang dengan hak octroon.

Ada kalanya proses monarki konstitusional itu terjadi karena adanya revolusi rakyat
terhadap raja. Contohnya: inggris yang melahirkan Bill of Rights I tahun 1689,
Yordania, Denmark, Aarab Saudi, Brunei Darussalam.

3. Monarki parlementer
Monarki parlementer adalah bentuk pemerintahan dalam suatu negara yang dikepalai oleh
seorang raja dengan menempatkan parlemen (DPR) sebagai pemegang kekuasaan tertinggi.
Dalam monarki parlementer, kekuasaan, eksekutif dipegang oleh kabinet (perdanan menteri)
dan bertanggung jawab kepada parlemen. Fungsi raja hanya sebagain kepala negara (simbol
kekeuasaan) yang kedudukannya ridak dapat diganggu gugat. Bentuk monarki parlementer
sampai sekarang masih tetap dilaksanakan di negara Inggris, Belanda, dan Malaysia.

Anda mungkin juga menyukai