Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Sejarah dan Perkembangan Pabrik
Minyak bumi pertama kali ditemukan pada tahun 221 SM ketika penggalian
sumur-sumur sampai kedalaman 3500 ft dengan menggunakan alat yang sangat
sederhana. Namun demikian, Pengeboran secara komersial pertama kali dilakukan
pada tahun 1859 di Titusville, Pennsylvania, Amerika Utara yang dilakukan oleh
Colonel Drake. Hal yang mendorong Colonel Drake untuk melakukan pengolahan
minyak secara komersial tersebut karena telah ditemukannya pengolahan minyak
murni untuk lampu di Glasglow pada tahun 1847 di Inggris. Penemuan
pengolahan minyak bumi di Inggris pada saat itu dianggap sebagai awal dari
sejarah perkembangan industri perminyakan di dunia.
1.1.1 Sejarah PT. PERTAMINA (PERSERO)
PT. PERTAMINA (PERSERO) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang bergerak di bidang pertambangan Minyak dan Gas Bumi (MIGAS) di
Indonesia. Pertamina berkomitmen mendorong proses transformasi internal dan
pengembangan yang berkelanjutan guna mencapai standar internasional dalam
pelaksanaan operasional dan tata kelola lingkungan yang lebih baik, serta
peningkatan kinerja perusahaan sebagai sasaran bersama.
Sejarah berdirinya PT. PERTAMINA (PERSERO) dimulai pada tahun 1871,
ketika Jhon Reenik melakukan eksplorasi sumber minyak bumi pertama kali di
Indonesia, tepatnya di kaki Gunung Ceremai dan selanjutnya proses pengeboran
dilakukan oleh Aleko Jan Zooen Zijkler pada tanggal 15 Juni 1885 di Pangkalan
Brandan. Tanggal tersebut menjadi tanggal yang bersejarah bagi dunia
perminyakan di Indonesia.
Pada tahun 1960, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang (UU) untuk
membentuk tiga perusahaan negara di sektor minyak dan gas bumi. Ketiga
perusahaan tersebut adalah :
1.

PN. PERTAMIN (Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Indonesia).


Disahkan berdasarkan PP No.3/1961. Perusahaan ini bermula dari

2
perusahaan Nederlandsche Indische Aardolie Maatschappij (NIAM) yang
didirikan tahun 1921. Pada tanggal 1 Januari 1959 namanya berubah
menjadi PT. Pertambangan Minyak Indonesia (PT. Permindo).
2.

PN. PERMINA (Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Nasional).


Disahkan berdasarkan PP No.198/1961. Perusahaan ini merupakan
peralihan nama dari PT. ETMSU. Sejak tahun 1961, PN inilah yang
melakukan operasi penyediaan dan pelayanan bahan bakar minyak dalam
negeri.

3.

PN. PERMIGAN (Perusahaan Negara Pertambangan Minyak dan Gas


Nasional). Disahkan berdasarkan PP No.199/1961. Perusahaan ini semula
berasal dari Perusahaan Tambang Minyak Rakyat Indonesia (PTMRI)
yang berlokasi di Sumatera Utara, namanya berubah menjadi PN Permigan
pada tahun 1961.

Pada tanggal 20 Agustus, dibentuk Perusahaan Negara Pertambangan Minyak


dan Gas Negara (PN. PERTAMINA) yang melebur PN. PERMINA dan PN.
PERTAMIN. Tujuannya adalah agar dapat meningkatkan produktivitas,
efektivitas, dan efisiensi di bidang perminyakan nasional di dalam wadah suatu
Integrated Oil Company dengan satu manajemen yang sempurna.
Kemudian PN. PERTAMINA diubah menjadi PERTAMINA (Pertambangan
Minyak dan Gas Negara). Pada tahun 2003, PERTAMINA dijadikan Persero
dengan nama PT. PERTAMINA (PERSERO).
Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak dalam negeri, PT.
PERTAMINA (PERSERO) hingga saat ini telah mengoperasikan tujuh Refinery
Unit (RU) yang tersebar di Indonesia. Ketujuh unit tersebut adalah :
1. RU I berlokasi di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara dengan kapasitas 5
MBSD (berhenti beroperasi pada tahun 2007)
2. RU II berlokasi di Dumai, Riau dengan kapasitas 170 MBSD
3. RU III berlokasi di Plaju-Sungai Gerong, Sumatera Selatan dengan
kapasitas 126,2 MBSD
4. RU IV berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah dengan kapasitas 348 MBSD

3
5. RU V berlokasi di Balikpapan, Kalimantan Timur dengan kapasitas 260
MBSD
6. RU VI berlokasi di Balongan, Jawa Barat dengan kapasitas 125 MBSD
7. RU VII berlokasi di Kasim, Papua dengan kapasitas 9,5 MBSD
Adapun peta ke 6 Refinery Unit (RU) saat ini dari PT. PERTAMINA
(PERSERO) adalah sebagai berikut:

Sumber : PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju, 2012

Gambar 1. Peta Refinery Unit PT. PERTAMINA (PERSERO) di Indonesia


1.1.2 Sejarah PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III, Plaju merupakan satu dari tujuh unit
pengolahan yang dimiliki oleh PT. PERTAMINA (PERSERO). Daerah operasi
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III ini meliputi Kilang Plaju dan Kilang
Sungai Gerong serta Terminal Pulau Sambu dan Tanjung Uban.
Kilang minyak Plaju didirikan oleh Shell sebuah perusahaan asing milik
Belanda pada tahun 1903, yang mengolah minyak mentah dari Prabumulih dan
juga mengolah minyak mentah dari Jambi di tahun 1923. Pada tahun 1965
pemerintah Indonesia mengambil alih kilang Plaju dari PT. Shell Indonesia.
Kilang Plaju mempunyai kapasitas produksi 110 MBCD (Million Barrel Calender
Day). Kilang Sungai Gerong didirikan oleh Stanvac sebuah perusahaan minyak

4
asing milik Amerika Serikat pada tahun 1922. Kilang yang berkapasitas produk 70
MBCD ini kemudian dibeli PT. PERTAMINA (PERSERO) pada tahun 1970,
sekarang kapasitasnya tinggal 25 MBCD sesuai dengan unit yang masih ada.
Pada tahun 1973, kedua kilang ini mengalami proses integrasi, kedua kilang
ini disebut dengan Kilang Musi. Kilang ini di bawah pengawasan PT.
PERTAMINA (PERSERO) RU III dan bertanggung jawab dalam pengadaan
BBM untuk wilayah Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung.
Sebagian besar peralatan di Kilang Plaju menggunakan teknologi lama
sehingga sudah tidak begitu efisien lagi. Normalnya umur pabrik ini adalah 20
tahun dan sampai sekarang ini pabrik tersebut sudah beroperasi melebihi
umurnya. Berdasarkan pertimbangan tersebut direncanakanlah pembuatan kilang
minyak baru yang disebut Proyek Kilang Musi (PKM). Sesuai dengan kebijakan
pemerintah yang tertuang dalam Inpres Nomor 12 dan 13 tahun 1983 tentang
penjadwalan kembali PKM, maka pelaksanaan PKM dilakukan secara bertahap.
PKM tahap 1 dijalankan tahun 1982 dengan menitikberatkan pada konservasi
energi dengan tujuan untuk meningkat efisiensi unit-unit proses.
Hal ini diwujudkan dengan melakukan revamping (penambahan alat) dan
pembangunan unit baru. Upaya yang telah dilakukan pada PKM tahan I adalah
sebagai berikut:
1. Revamping dapur dan beberapa peralatan CD Plaju untuk menurunkan
pemakaian bahan bakar.
2. Revamping FCCU dan Unit Light End Sungai Gerong.
3. Pembangunan destilasi bertekanan hampa bernama New Vacuum
Distilation Unit (NVDU) di Sungai Gerong dengan kapasitas produksi
48 MBCD Long Residue.
4. Mengganti koil pemanas tangki.
5. Melengkapi fasilitas transfer produk antara kilang Plaju dan Sungai
Gerong.
6. Memanfaatkan feed semaksimal mungkin.
Dengan upaya tersebut, pemakaian refinery fuel menurun menjadi lebih
efisien. Proyek kilang Musi Tahap I telah selesai bulan September 1986.
Tahap II dari PKM dijalankan pada tahun 1991 dengan melakukan
pembaruan diantaranya:

5
1. Peningkatan kapasitas produksi-produksi Kilang Polypropylene
2.
3.
4.
5.

menjadi 45.000 ton/tahun.


Revamping RFCCU dan Unit Alkilasi.
Redesign siklon FCCU Sungai Gerong.
Modifikasi unit redistiller I/II Plaju.
Pemanasan Gas Turbin Generator Complex (GTCC) dan perubahan
frekuensi listrik dari 60 Hz ke 50 Hz.

6. Pembangunan Water Treatment Unit (WTU) dan Sulphur Acid


Recovery Unit (SAU).
Secara umum, sejarah PT. Pertamina (Persero) RU III dan perubahanperubahan yang terjadi dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini :
Tabel 1. Sejarah PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju Sungai Gerong
Tahun
Sejarah
1903
1922
1957
1965
1970
1971
1973
1982

Pembangunan Kilang Minyak di Plaju oleh Shell (Belanda)


Kilang Sungai Gerong dibangun oleh STANVAC (AS)
Kilang Plaju diambil alih oleh PT. Shell Indonesia
Kilang Plaju/Shell dengan kapasitas 100 MBCD dibeli oleh
negara/PERTAMINA
Kilang Sungai Gerong/STANVAC dibeli oleh negara/PERTAMINA
Pendirian kilang polypropylene untuk memproduksi pellet polytam
dengan kapasitas 20.000 ton/th
Integrasi operasi kilang Plaju Sungai Gerong
Pendirian Plaju Aromatic Center (PAC) dan Proyek Kilang Musi
(PKM I) yang berkapasitas 98 MBSD

1982

Pembangunan High Vacuum Unit (HVU) Sungai Gerong dan


revamping CDU (konservasi energi)

1984

Proyek pembangunan kilang TA/PTA dengan kapasitas produksi


150.000 ton/th

1986

Kilang PTA (Purified Terephtalic Acid) mulai berproduksi dengan


kapasitas 150.000 ton/th

1987
1988
1990
1994

Proyek pengembangan konservasi energi/Energy Conservation


Improvemant (ECI)
Proyek Usaha Peningkatan Efisiensi dan Produksi Kilang (UPEK)
Debottlenecking kapasitas kilang PTA menjadi 225.000 ton/th
PKM II: Pembangunan unit polypropylene baru dengan kapasitas
45.200 ton/th, revamping RFCCU Sungai Gerong dan unit alkilasi,
redesign siklon RFCCU Sungai Gerong, modifikasi unit Redistilling

2002
2003
2007

I/II Plaju, pemasangan Gas Turbine Generator Complex (GTGC) dan


perubahan frekuensi listrik dari 60 Hz ke 50 Hz, dan pembangunan
Water Treatment Unit (WTU) dan Sulphuric Acid Recovery Unit
(SARU)
Pembangunan jembatan integrasi Kilang Musi
Jembatan integrasi Kilang Musi yang menghubungkan Kilang Plaju
dengan Sungai Gerong diresmikan
Kilang TA/PTA berhenti beroperasi

Sumber: Pedoman BPST Angkatan XIV Pertamina. 1999. Palembang.

1.2 Lokasi Pabrik


PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju merupakan salah satu unit proses
produksi dalam jajaran direktorat pengolahan yang terletak di Sumatera Selatan
dan merupakan RU terluas diantara 6 RU lainnya. PT. PERTAMINA (PERSERO)
RU III ini mempunyai dua buah kilang yaitu:
1. Kilang Plaju.
2. Kilang Sungai Gerong.
Kilang Plaju terletak di sebelah selatan Sungai Musi dan sebelah barat Sungai
Komering, sedangkan kilang Sungai Gerong terletak di persimpangan Sungai
Musi dan Sungai Komering.

Untuk lebih jelasnya lokasi PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III dapat


dilihat pada Gambar 3 berikut:

Sumber : PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju, 2012

Gambar 2. Lokasi PT. PERTAMINA RU III Plaju-Sungai Gerong


Luas wilayah kerja PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III 1812,6 Ha
sedangkan luas wilayah efektif yang dipergunakan oleh PT. PERTAMINA
(PERSERO) RU III dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Wilayah Penjabaran PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III
No
Tempat
Luas (Ha)
1.
Area Perkantoran Kilang Plaju
229,60
2.
Area Kilang Sungai Gerong
153,90
3.
Diklat - SDM Sungai Gerong
34,95
4.
RDP dan Lap. Golf Bagus Kuning
51,40
5.
RDP Kenten
21,20
6.
Lapangan Golf Kenten
80,60
7.
RDP Plaju, Sungai Gerong dan Ilir
349,37
Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV Pertamina, 1999. Palembang.

1.3

Jenis Produk yang Dihasilkan


PT. PERTAMINA RU III menghasilkan produk-produk berupa produk BBM,
produk non- BBM, serta produk petrokimia. Produk BBM meliputi avigas, avtur,
premium, kerosin, ADO, IDO, dan fuel oil. Untuk produk non-BBM, PT.
PERTAMINA RU III memproduksi LPG, SBPX, LAWS, LSWR, dan MusiCool.
Sedangkan untuk produk petrokimia, PT. PERTAMINA RU III menghasilkan
produk polypropylene dengan tipe Film Grade, Injection Molding Grade, Yarn
Grade, dan Non-Standard Grade.
1.3.1 Produk Bahan Bakar Minyak (BBM)

Berikut ini merupakan penjelasan lebih detail mengenai produk-produk BBM


yang dihasilkan oleh PERTAMINA RU III:

8
1. Avigas
Avigas merupakan bahan bakar pesawat baling-baling dengan warna hijau
yang dihasilkan dari unit Gas Plant dengan kapasitas produksi 0,06 MBCD.
Avigas merupakan produk khas dari PERTAMINA RU III karena avigas hanya
diproduksi di kilang ini di lingkup Asia. Negara yang memproduksi avigas di
seluruh dunia hanyalah Indonesia, Australia, dan Italia.
2. Avtur
Avtur merupakan bahan bakar pesawat turbin atau jet yang dihasilkan dari
unit Gas Plant dengan kapasitas 1,67 MBCD. Avtur berwarna kuning muda.
3. Premium
Premium merupakan bahan bakar kendaraan bermotor yang memiliki standar
bilangan oktan 88 dan berwarna kuning. Premium didapat dari hasil blending
bahan bakar beroktan tinggi, yaitu catalytic naphta dari unit RFCCU dengan
bahan bakar beroktan rendah, yaitu naphta II dari unit CD sehingga menghasilkan
bilangan oktan 88. Kapasitas produksi premium adalah 22,1 MBCD.
4. Pertamax
Pertamax merupakan bahan bakar kendaraan bermotor yang memiliki
standart bilangan oktan yang tinggi dari premium, yaitu 92. Pertamax dihasilkan
dengan cara menambahkan zat aditif pada proses pengolahannya di kilang.
5. Pertamina DEX
Pertamina DEX merupakan bahan bakar mesin diesel modern yang telah
memenuhi dan mencapai standar emisi gas buang EURO 2, memiliki angka
performa tinggi dengan cetane number 53 keatas ( HSD mempunyai cetane
number 45 ), memiliki kualitas tinggi dengan kandungan sulfur di bawah 300
ppm.
6. Kerosin
Kerosin atau minyak tanah merupakan bahan bakar keperluan rumah tangga
yang dihasilkan oleh unit CD dengan kapasitas produksi sebesar 14,33 MBCD.
Kerosin berwarna kuning muda.
7. Solar/ADO (Automotive Diesel Oil)
Solar atau ADO merupakan bahan bakar kendaraan bermotor bermesin diesel

9
yang dihasilkan oleh unit CD dengan kapasitas produksi sebesar 30,82 MBCD.
Solar berwarna orange.
8. IDO (Industrial Diesel Oil)
IDO merupakan bahan bakar mesin diesel dengan harga dan kualitas di
bawah solar yang dipasarkan untuk keperluan industri (mesin-mesin pabrik). IDO
dihasilkan oleh CDU dengan kapasitas produksi 1,75 MBCD. IDO bewarna
hitam.
9. IFO (Industrial Fuel Oil)
IFO merupakan bahan bakar mesin non-diesel dengan harga dan kualitas
dibawah premium untuk keperluan industri. IFO dihasilkan dari unit CD dengan
kapasitas produksi 18,69 MBCD. IFO berwarna hitam.
10. Racing Fuel
Racing Fuel merupakan bahan bakar kendaraan balap dengan bilangan oktan
sangat tinggi, yaitu 105 dan sedang dikembangkan oleh PT. PERTAMINA
(PERSERO) RU III. Harga bahan bakar ini juga sangat mahal mencapai Rp
75.000 per liter.
1.3.2. Produk Non Bahan Bakar Minyak (Non BBM)
Berikut ini merupakan penjelasan lebih detail mengenai produk-produk non
BBM yang dihasilkan oleh PERTAMINA RU III:
1. LPG (Liquified Petroleum Gas)
LPG merupakan bahan bakar campuran dari propane dan butane untuk
keperluan rumah tangga (kompor gas). LPG dihasilkan dari unit Gas Plant dengan
kapasitas produksi 3,75 MBCD.
2. SBPX (Special Boiling Point X)
Merupakan pelarut berwarna bening yang sering digunakan pada industri
kimia yang diperoleh dari unit Stabilizer C/A/B dengan kapasitas produksi 1,19
MBCD.
3. LAWS (Low Aromatic White Spirit)
Merupakan pelarut yang digunakan pada industri-industri kimia yang

10
diperoleh dari CDU dengan kapasitas produksi 1,19 MBCD.
4. LSWR (Low Sulfur Wax Residue)
Merupakan bahan bakar industri kimia.
5. MusiCool
MusiCool merupakan produk alternatif pengganti refrijeran freon dan bersifat
tidak merusak lapisan ozon. Produk ini merupakan produk khas dari PT.
PERTAMINA RU III yang sedang dikembangkan karena refrijeran ini lebih
efisien dibanding refrijeran konvensional yakni dapat menghemat penggunaan
refrijeran sebesar 70%. MusiCool terdiri dari tiga jenis yakni propane murni,
isobutane murni, dan campuran propan-isobutan. Jenis musicool yang dipasarkan
yakni MC-12 yang menggantikan R-12, MC-22 yang menggantikan R-22, MC134 yang menggantikan R-134, dan MC-600.
1.3.3. Produk Petrokimia
Produk-produk petrokimia yang dihasilkan dari unit polypropylene yakni :
1. Film Grade
Film grade merupakan bahan baku pembuatan plastik untuk bahan
pembungkus makanan, barang-barang, pakaian, rokok dan sebagainya.
2. Injection Molding Grade
Injection molding grade merupakan bahan baku pembuatan plastik untuk
machine parts, automotive part, houseware, tray, cups dan sebagainya.
3. Yarn Grade
Yarn grade merupakan bahan baku pembuatan plastik yang digunakan untuk
filament seperti ropes, nets, carpets, textiles dan sebagainya.
4. Non-Standard Grade
Non-standard grade merupakan bahan baku pembuatan plastik dengan
kualitas di bawah grade-grade lainnya.
1.4. Sistem Pemasaran

11
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III bergerak di sektor hilir yang
mengoperasikan kilang BBM dan petrokimia. Bahan baku crude oil dari
Prabumulih, Pendopo, dan Jambi disalurkan melalui pipa-pipa. Sedangkan hasil
produksi berupa BBM, non BBM, Bahan bakar khusus, dan petrokimia
didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan minyak dan gas di wilayah Sumatera
Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, Pangkal Pinang, Medan, Pontianak, Jakarta
dan ekspor.
Pendistribusian minyak di PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III dilakukan
melalui

pipa-pipa,

kapal-kapal

tanker

dan

mobil-mobil

pendistribusian.

Pemasaran produk PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III dilakukan oleh Unit


Pemasaran dan Pembekalan Dalam Negeri (UPPDN).
1.5. Sistem Manajemen
1.5.1. Struktur Organisasi
Strukur Organisasi PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III dipimpin oleh
General Manager yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Pengolahan
PT. PERTAMINA Pusat di Jakarta. Struktur

Organisasi PT. PERTAMINA

(PERSERO) RU III, Plaju berbentuk line and staff Organization. Line and staff
organization merupakan gabungan kedua jenis organisasi, yaitu line organization
dan staff organization. Dalam organisasi ini staff bukan sekedar pelaksanatugas
tetapi juga memberikan wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya
tujuan dengan baik. Demikian juga pimpinan tidak sekedar memberikan perintah
atau nasehat tetapi juga bertanggung jawab atas oerintah dan nasehat tersebut.
Berdasarkan surat keputusan No.Kpst-004/E3000/2000-50 tanggal 18
Februari 2000 struktur organisasi di PERTAMINA RU III diubah.
Struktur organisasi PT PERTAMINA (PERSERO) RU-III dilihat pada
Gambar 2 berikut ini.

12

Sumber: Pedoman BPST Angkatan XIV.Penerbit Pertamina,Palembang,2012

Gambar 3. Struktur Organisasi PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III


Adapun tugas dan tanggung jawab yang dimiliki oleh stuktur organisasi pada
PT.PERTAMINA (PERSERO) RU III, yaitu :
1. General Manager Refeneri Unit III
Tanggung jawab yang dimiliki oleh Engineering and Development adalah :
a. Menetapkan kebijakan perusahaan dengan menentukan rencana dan tujuan
perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang.
b. Mengkoordinir dan mengawasi seluruh aktivitas yang dilaksanakan dalam
c.

perusahaan.
Membantu peraturan itern pada perusahaan yang tidak bertentangan

dengan kebijakan perusahaan.


d. Memperbaiki dan menyempurnakan segi penataan agar tujuan organisasi
e.

dapat tercapai dengan efektif dan efisien.


Menjadi perantara dalam mengkomunikasikan ide, gagasan dan strategi

antara pimpinan dan staf.


f. Membimbing bawahan dan mendelegasikan tugas-tugas yang dapat
dikerjakan oleh bawahan secara jelas.
2. Secertary
Tanggung jawab yang dimiliki oleh Secretary adalah :
a.
Koordinasi perencanaan dan penyelenggaraan RUPS
b. Memastikan perseroan mematuhi ketentuan tentang

persyaratan

keterbukaan dan pengungkapan dalam laporan tahunan


c. Mengkoordinasikan rapat direksi dan rapat gabungan direksi dan
komisaris
d. Membuat dan mendokumentasikan risalah RUPS, risalah rapat direksi dan
risalah rapat gabungan direksi dan komisaris
e.
Menyiapkan daftar pemegang saham dan daftar khusus

13
f.
Memastikan kepatuhan atas pelaksanaan GCG
g.
Mewakili perseroan untuk berkomunikasi dengan stakeholders
h. Menyeleksi informasi yang relevan untuk dipublikasikan kepada
stakeholders
3. Senior Manager Operating and Manufacturing.
Tanggung jawab yang dimiliki oleh Senior Manager Operating and Manufacturing
adalah:
a. Membawahi 5 Manager yang terdiri Manager Production, Manager Ref. Planning
& Optimazion, Manager Maint. Planning & Support, Manager Maintenance
Execution dan Manager turn Arround.
b. Membantu General Manager dalam mengkoordinir dan mengawasi
seluruh aktivitas yang dilaksanakan dalam perusahaan.
4. Manager Engineering and Development
Tanggung jawab yang dimiliki oleh Engineering and Development adalah :
a. Mengupayakan kemajuan dan

pengembangan kilang. Mengupayakan

kondisi operasi kilang yang optimum agar diperoleh produk yang bernilai
jual tinggi.
5. Manager Reliability
Reliability bertugas dalam hal-hal berikut ini :
a. Menganalisa kehandalan atau kinerja instrumen pada kilang.
b. Melakukan perawatan terhadap instrumen yang sudah tidak optimal.
c. Menguji kehandalan instrumen setelah dilakukan perawatan.
6. Manager General Affairs and Legal
General Affairs and Legal bertanggung jawab dalam hal :
a. Pengamanan aset-aset yang dimiliki kilang, perijinan, pengkajian undangundang, dan menganalisa peraturan.
b. Sebagai media penghubung publik (public relations) yang mencakup
relations, CSR, internal relations and protokoler, dan media relations.
7. Manager HSE (Health Safety and Environment)
Tugas dan fungsi HSE antara lain :
a. Melindungi keselamatan, kesehatan, dan lingkungan kerja karyawan
melalui unit HSE.
b. Sebagai pengelola lingkungan hidup.
8. Manager Procurement
Kegiatan utama Procurement bergerak dalam bidang-bidang antara lain :
a. Pengendalian persediaan (inventory controlling).
b. Pengadaan material (purchasing).

14
c. Kontrak jasa (officers).
d. Service and warehousing
9. Manager OPI (Operational Performance Improvement)
Tugas dan fungsi OPI adalah memberikan pelatihan yang berguna dalam hal :
a. Meningkatkan performance pekerja.
b. Mengubah budaya kerja yang tidak baik.
c. Menjaga sustainability dari improvement yang sudah terlaksana.
1.5.2. Manajemen Perusahaan
Karyawan yang bekerja pada PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III ini
terbagi menjadi karyawan kerja shift dan karyawan kerja reguler. Karyawan kerja
reguler adalah karyawan yang bekerja pada bagian yang tidak berhubungan
langsung dengan pengolahan pada kilang minyak, sedangkan karyawan kerja shift
adalah karyawan yang berhubungan langsung dengan pengolahan pada kilang
minyak.
Karyawan kerja shift dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu pagi, siang, dan
malam. Sistem kerja karyawan kerja shift adalah 3 hari kerja dan 1 hari libur.
Waktu kerja karyawan kerja shift adalah 8 jam untuk setiap shift.
Tabel 3. Sistem Jam Kerja PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju
Waktu Kerja
Reguler
Shift
Hari
Waktu
Hari
Waktu
Senin-Kamis
07.00 - 16.00
Istirahat
12.00 - 12.30
07.30 16.00
Senin - Minggu
16.00 23.00
Jumat
07.00 - 16.00
23.00 07.30
Istirahat
11.30 - 13.00
Sabtu
Libur
Minggu
Libur
Sumber : PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju, 2012