Anda di halaman 1dari 26

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1.

Tinjauan Pustaka

Gabion terdiri dari unit-unit kotak, dibuat dengan lilitan ganda (double-twist)
membentuk lubang segi enam (hexagonal) yang diikat kuat dengan dilapisi zinc
heavy galvanized. Aplikasi gabion adalah sebagai struktur penahan tanah,
perkuatan jalan, perkuatan lereng, pelindung jembatan, pelindung tepian sungai,
dan pelindung jalur kereta api. Gabion biasanya digunakan karena mempunyai
karakteristik seperti fleksibel, permeabel, ekonomis, mudah dipasang, dapat
dipasang dilingkungan yang beragam dan ramah lingkungan. (Maccaferri, 1987)
Metode elemen hingga adalah metode numerik yang digunakan untuk
memecahkan permasalahan dalam bidang rekayasa ataupun bidang fisik lainnya.
Permasalahan-permasalahan dalam bidang rekayasa yang dapat dipecahkan
dengan metode ini adalah meliputi analisa struktur, analisa tegangan, perpindahan
panas dan masa, dan medan elektromagnetik. Pehitungan elemen hingga
umumnya sulit dilakukan secara manual, sehingga diperlukan bantuan dengan
menggunakan program komputer. (Choiron dan Purnowidodo, 2013).
Plaxis adalah program komputer berdasarkan Metode elemen hingga dua-dimensi
yang digunakan secara khusus untuk melakukan analisis deformasi dan stabilitas
untuk berbagai aplikasi dalam bidang geoteknik. Kondisi permodelan dapat
dimodelkan dalam regangan bidang atau axi-simetri. Program Plaxis 8.2
menyediakan beberapa jenis perhitungan elemen hingga, yaitu: perhitungan
plastis, konsolidasi, reduksi phi-c (faktor keamanan), dan perhitungan dinamik.
(Brinkgreve, 2007)

2.2.

Dasar Teori

2.2.1. Stabilitas lereng


Analisis stabilitas lereng merupakan analisis yang sering kali perlu dilakukan,
karena hampir setiap pekerjaan konstruksi yang melibatkan pembuatan lereng.
Metode yang dipakai dalam analisa stabilitas lereng pada umumnya adalah limit
equilibrium. Seiring dengan perkembangan teknologi komputer, berkembang pula
aplikasi Metode elemen hingga untuk kestabilan lereng.
Berbeda dengan metode limit equilibrium dimana bidang longsor ditentukan
terlebih dahulu, metode elemen hingga mencari bidang longsor dengan mencari
titik-titik/bidang lemah didalam tanah. Faktor keamanan didapatkan dengan cara
mengurangi nilai kohesi (c) dan sudut geser () secara bertahap hingga tanah
mengalami keruntuhan. Metode ini dikenal dengan nama strenght reduction atau
phi c reduction method. Nilai keamanan dihitung dengan Persamaan (2.1).

Msf

tan masukan
tan tereduksi

cmasukan
ctereduksi

(2.1)

dengan,

Msf
cmasukan
ctereduksi
masukan
tereduksi

= faktor keamanan
= nilai c masukan
= nilai c terendah yang didapatkan pada saat tanah
mengalami keruntuhan.
= nilai masukan
= nilai terendah yang didapatkan pada saat tanah
mengalami keruntuhan.

Perhitungan phi c reduction method dilakukan dengan prosedur peningkatan


beban jumlah langkah. Peningkatan faktor pengali Msf digunakan untuk
menentukan peningkatan dari reduksi kekuatan dan langkah perhitungan pertama.
Peningkatan ini secara prapilih diatur ke 0.1, yang umumnya merupakan nilai
awal yang memadai. Parameter kekuatan selanjutnya direduksi secara otomotis
hingga seluruh langkah tambahan telah digunakan. Jika sebelum langkah terakhir
terjadi keruntuhan, angka keamanan dihitung dengan Persamaan (2.2).

Msf saat runtuh

Kekua tan yang tersedia


Kekua tan saat runtuh

(2.2)

Proses perhitungan phi c reduction method dalam diagram keruntuhan MohrCoulomb diilustrasikan pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Teori keruntuhan Mohr-Coulomb (Gouw, J.L., 2012)


Adapun hubungan beberapa variasi nilai faktor keamanan terhadap kemungkinan
longsoran lereng maupun pada perancangan lereng menurut Bowles, J.E. dapat
dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Hubungan nilai Safety Factor dan kemungkinan kelongsoran lereng
tanah (Bowles, J.E., 1989)
Nilai SF

Kemungkinan Longsor

< 1,07

Kelongsoran bisa terjadi

1,07 < SF < 1,25

Kelongsoran pernah terjadi

> 1,25

Kelongsoran jarang terjadi

2.2.2. Gabion
A. Umum
Gabion terbentuk dari suatu box anyaman kawat yang diisi dengan batu. Tiap-tiap
gabion box tersusun atas kawat (double twist hexagonal) yang telah diberi lapisan

galvaniz. Setelah gabion disusun, struktur gabion bekerja sebagai satu kesatuan
(secara monolit). Struktur dari gabion fleksible untuk menerima settlement,
defleksi maupun tegangan.
Bedasarkan klasifikasi struktur perkuatan tanah gabion dapat berfungsi sebagai
dinding gravitasi, salah satu jenis sistem stabilisasi eksternal. Oleh karena itu,
gabion dapat menahan tekanan tanah lateral dengan menggunakan berat
strukturnya sendiri.
Struktur gabion dapat di desain sebagai reinforced soil structure untuk
meningkatkan efisiensi dari dinding gabion. Reinforce soil structure, perkuatan
tersusun atas double twisted wire mesh yang sama dengan wire mesh pada gabion
box. Wire mesh tersebut ditempatkan di antara susunan box gabion dan
diperpanjang hingga menembus backfill.
B. Komponen material gabion
Beberapa komponen material yang terdapat pada gabion sebagai berikut:
1. Kawat
a. Material Kawat
Kualitas kawat memenuhi spesifikasi internasional (BS 1052/80, BS
443/82, ASTM A975-97, ASTM 856 dan EN /Euronorm 10244/2) dan
standar nasional (SNI 03-0090-1999 dan SNI 03-3046-1992). Setiap panel
anyaman diperkuat di bagian tepi dengan kawat yang berdiameter lebih
besar daripada kawat anyaman.
Kawat harus terbuat dari bahan baja karbon rendah berlapis galvanis.
Tebal minimum lapisan galvanis untuk kawat anyaman harus 0,26 kg/m 2,
kawat tulangan tepi 0,275 kg/m2, dan kawat pengikat 0,24 kg/m2, yang
memenuhi BS 1052/80 dan BS 443/82. Lapisan PVC dengan tebal 0,4-0,6
mm digunakan untuk lapisan luar kawat. Penggunaan PVC sebagai lapisan
pencegah korosi, memungkinkan bronjong dapat digunakan di daerah
dekat laut ataupun daerah berpolusi. Lapisan kawat gabion ditunjukan
pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Lapisan kawat gabion


b. Anyaman kawat
Anyaman kawat harus merata berbentuk segi enam yang teranyam dengan
tiga lilitan dengan bukaan lubang kira-kira 80 mm x 110 mm (toleransi
10%), dengan kuat tarik anyaman sebesar 4250 kN/m. Keliling tepi dari
anyaman kawat harus diikat pada kerangka gabion, sehingga sambungansambungan yang diikatkan pada kerangka harus sama kuatnya seperti pada
badan anyaman Gambar 2.3..

Gambar 2.3. Anyaman kawat gabion


Keterangan:
1. kawat anyaman

S= lebar anyaman

2. kawat sisi

d = panjang lilitan

3. lilitan ganda

l = panjang anyaman

2. Batu
Material batu yang akan dipakai untuk gabion harus terdiri dari batu yang bersih,
keras dan dapat tahan lama, berbentuk bulat atau persegi. Ukuran batu yang
diijinkan untuk digunakan adalah antara 15 cm25 cm (toleransi 5%) dan
sekurang-kurangnya 85% dari batuan yang digunakan harus mempunyai ukuran
yang sama atau lebih besar dari ukuran tersebut serta tidak boleh ada batuan yang
diijinkan melewati lubang anyaman.
3. Material timbunan
Material tanah timbunan yang digunakan pada pemasangan gabion harus
memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan dalam desain. Berdasarkan AASHTO
2007, maksimum sudut geser dari material granular terpilih untuk perkuatan
diasumsikan 34.
C. Parameter gabion
1. Material kawat
Pendekatan kawat/wire mesh yang paling sesuai adalah geogrid. Geogrid dipilih
karena material kawat/wire mesh memiliki sifat elastis seperti material geogrid
Parameter yang dibutuhkan pada material geogrid adalah parameter kekakuan
axial elastis (EA). Parameter kekakuan axial dihitung dengan menggunakan
Persamaan (2.3).

EA

TS

(2.3)

dengan,
EA
TS

= kekakuan axial elastis (kN/m)


= tensile strength (kN/m)
= elongation

2. Material batu
Pendekatan model Mohr-Coulomb batuan pengisi gabion diambil dari buku
keluaran Maccaferri, 1987. Buku ini berisi tentang spesifikasi produk gabion,
pengujian gabion, dan analisis produk gabion. Berdasarkan buku keluaran

10

Maccaferri (1987), batuan pengisi memiliki berat volume yang berbeda sesuai
jenis batuan. Indentifikasi berat volume batu pengisi menurut jenis batuan
ditunjukan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Indikasi berat volume batu pengisi (Maccaferri, 1987 )
Berat Volume
(kN/m3)
29
26
26
25
23
22
17

Jenis Batu
Basalt
Granite
Hard limestone
Trachytes
Sandstone
Soft limestone
Tuff

Berdasarkan maccaferri dalam praktek rekayasa, material pengisi gabion dapat


ditentukan sesuai dengan berbagai parameter kekuatan batu. Parameter batu
pengisi dihitung dengan Persamaan (2.4) hingga Persamaan (2.8).
a. unsat
b.
sat
c.
d. c
e. E
dengan,
s
n
unsat
sat

= s. (1-n)
= s. (1-n) + n. w
= 25. unsat - 10
= 0,03. Pu-0,05
= 2. G (1+ )

= berat volume batu padat (kN/m3)


= rongga udara gabion anatara 30%-40%
= berat volume tak jenuh material pengisi (kN/m3)
= berat volume jenuh material pengisi (kN/m3)

(2.4)
(2.5)
(2.6)
(2.7)
(2.8)

11

c
E
G
Pu

= sudut geser material pengisi ()


= sudut geser material pengisi (kN/m2)
= modulus geser gabion (kN/m2)
= modulus Young gabion (kN/m2)
= berat volume kawat (kN/m3)

Besarnya nilai Pu tergantung pada rasio berat kawat gabion dengan jumlah
penyekat dan tinggi gabion. Berikut adalah asumsi nilai Pu berdasarkan tinggi
gabion (Maccaferri, 1987).

2.2.3.

0,5 m Pu = 11,5 kg/m3


0,8 m Pu = 9,0 kg/m3
1,0 m Pu = 8,0 kg/m3
Beban lalulintas

Beban kendaraan diasumsikan sebagai dua buah beban garis. Beban garis
merupakan susunan beban pada setiap jalur lalulintas yang dinyatakan dalam ton
per meter (Persamaan 2.9).

MST D MST B
LKENDARAAN
Pi

dengan:
Pi
MST D
MST B
LKENDARAAN

(2.9)

= beban garis lajur roda (kN/m)


= muatan sumbu terberat depan (kN)
= muatan sumbu terberat belakang (kN)
= jarak beban roda depan dengan belakang (m)

2.2.4. Korelasi parameter tanah


Data parameter tanah yang diperlukan dalam desain struktur geoteknik didapatkan
dari pengujian langsung di lapangan, pengujian di laboratorium, ataupun dengan
mengunakan korelasi empiris antar parameter yang telah direkomendasikan oleh
para tenaga ahli. Parameter tanah umumnya diperoleh dari hasil pengujian di
lapangan dan laboratorium. Korelasi empiris antar parameter biasanya digunakan
apabila data yang diperlukan untuk desain tidak tersedia dari hasil pengujian
langsung dilapangan ataupun laboratorium. Selain itu, korelasi empiris digunakan

12

untuk verifikasi hasil data dengan data lainnya. Berikut adalah beberapa korelasi
empiris yang telah direkomendasikan oleh para ahli:

13

A. Klasifikasi Tanah
Klasifikasi tanah adalah penentuan jenis tanah pada lokasi penelitian. Penentuan
jenis tanah diperlukan untuk mengetahui karakteristik tanah pada lokasi tanah
tersebut. Penentuan jenis tanah tersebut dilakukan dengan cara pengolahan data
tanah di laboratorium, selain itu juga dengan cara melakukan visualisasi terhadap
hasil bor. Hubungan antara kepadatan dengan relative density, nilai N-SPT, qc, dan
adalah sebanding. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.3:
Tabel 2.3. Hubungan antara kepadatan, relative density, nilai N, qc, dan
(Mayerhoff, 1965)
Kepadatan
Very Loose (sangat lepas)
Loose (lepas)
Medium Dense (agak kompak)
Dense (kompak)
Very Dense (sangat kompak)

Relative
Density
(d)
<0,2
0,2 0,4
0.4 0,6
0,6 0,8
0,8 1,0

Nilai N-SPT
<4
4 10
10 30
30 50
>50

Tekanan
Konus (qc)
(kg/cm2)
<20
20 40
40,0 120
120 200
>200

Sudut
Geser
()
<30
30 35
35 40
40 45
>45

B. Berat isi (sat dan unsat)


Hubungan volume yang umum digunakan untuk suatu elemen tanah adalah angka
pori (void ratio), porositas (porosity), derajat kejenuhan (degree of saturation),
sedangkan hubungan berat digunakan istilah kadar air (water content), dan berat
volume (unit weight). Hubungan-hubungan tersebut dapat dikembangkan,
sehingga dapat diketahui parameter yang digunakan dalam perhitungan desain.
Penentuan berat volume dalam keadaan jenuh ( sat) dapat menggunakan beberapa
Persamaan (2.10) dan Persamaan (2.11). (Hardiyatmo, 2010)

sat

sat

unsat .(G s e)
1 e

G s . w .(1 w)
1 e

(2.10)

(2.11)

14

dimana nilai e (angka pori) dapat ditentukan dengan Persamaan (2.12).


(Hardiyatmo, 2010)
e

n
1 n

(2.12)

dimana nilai n (porositas) dapat ditentukan dengan Persamaan (2.13).


(Hardiyatmo, 2010)

n 1

w
s
(2.13)

s adalah berat isi butiran tanah, yang ditentukan dengan Persamaan (2.14).

Gs

s
w
(2.14)

Korelasi untuk menentukan berat jenis tanah () dan berat jenis tanah jenuh ( sat)
pada tanah kohesif dan non kohesif dapat dilihat pada Tabel 2.4 dan Tabel 2.5.
Tabel 2.4. Korelasi empiris antara nilai N-SPT dengan unconfined compressive
strength dengan berat jenis tanah jenuh (sat) untuk tanah kohesif. (Terzaghi and
Peck, 1994)
N-SPT
(Blows/ft)
<2
2 4
4 8
8 15
15 30
> 30

Konsistensi
Very Soft
Soft
Medium
Stiff
Very Stiff
Hard

Qu
(Unconfined Compressive Stength)
(tons/ft2)
< 0.25
0.25 0.50
0.50 1.00
1.00 2.00
2.00 4.00
>4.00

sat
kN/m3
16 - 19
16 - 19
17 - 20
19 - 22
19 - 22
19 - 22

Tabel 2.5. Korelasi berat jenis tanah jenuh (sat) untuk tanah nonkohesif. (Terzaghi
and Peck, 1994)
Desciption

Very Loose

Fine
Medium
Coarse

1-2
2-3
3-6

Fine

26-28

Loose
Medium
N-SPT
3-6
7-15
4-7
8-20
59
10-25
Angle of friction
28-30
30 - 34

Dense

Very Dense

16 - 30
21 - 40
16 - 45

> 40
> 45

33 - 38

15

Medium
Coarse
wet (kN/m3)

27-28
28-30
11-16

30-32
30-34
14-18

32 - 36
33 - 34
17 - 20

36 - 42
40 - 50
17 - 22

> 50
20 - 23

Tabel 2.6. Korelasi berat jenis tanah () untuk tanah non kohesif dan kohesif.
(Terzaghi and Peck, 1994)
N
Unit Weight
, kN/m3
Angle of
Friction,
State
N
Unit Weight
, kN/m3
qu, kPa
State

0 - 10

Cohesionless Soil
11-30
31 50

12 -16

14 - 18

16 - 20

18 23

25 - 32

28- 36

30 - 40

> 35

Loose
>4

Medium
Dense
Cohesive
4-6
6 15

> 50

Very Dense
16 25

> 25

14 -18

16 - 18

16 - 18

16 20

> 20

< 25
Very Soft

20 - 50
Soft

30 - 60
medium

40 200
Stiff

> 100
Hard

C. Poisson ratio
Nilai poisson ratio ditentukan sebagai rasio kompresi poros terhadap regangan
pemuaian lateral. Nilai poisson ratio dapat ditentukan berdasar jenis tanah seperti
yang terlihat pada Tabel 2.7 di bawah ini.
Tabel 2.7. Nilai perkiraan angka poisson tanah (Bowles, 1997)
Macam Tanah
Lempung Jenuh
Lempung Tak Jenuh
Lempung Berpasir
Lanau
Pasir Padat
Pasir Kasar
Pasir Halus
Batu
Loess

v (angka poisson tanah)


0,40 0,50
0,10 0,30
0,20 0,30
0,30 0,35
0,20 0,40
0,15
0,25
0,10 0,40
0,10 0,30

D. Modulus Young
Nilai modulus Young menunjukkan besarnya nilai elastisitas tanah yang
merupakan perbandingan antara tegangan yang terjadi terhadap regangan. Nilai
ini bisa didapatkan dari Triaxial Test. Data sondir, booring, dan grafik triaksial

16

dapat digunakan untuk mencari besarnya nilai elastisitas tanah. Modulus


elastisitas untuk korelasi N-SPT didekati dengan menggunakan Persamaan (2.15)
dan Persamaan (2.16).
E = 6 ( N + 5 ) k/ft

( untuk pasir berlempung )

E = 10 ( N + 15 )

k/ft

( untuk pasir )

(2.15)
(2.16)

Tabel 2.8. Nilai perkiraan modulus elastisitas tanah (Bowles, 1997)


Macam Tanah
Lempung
Sangat Lunak
Lunak
Sedang
Berpasir
Pasir
Berlanau
Tidak Padat
Padat
Pasir Dan Kerikil
Padat
Tidak Padat
Lanau
Loess
Cadas

E (Kg/cm2)
3-30
20 40
45 90
300 425
50-200
100 250
500-1000
800-2000
500-1400
20-200
150 600
1400-14000

E. Sudut geser
Kekuatan geser dalam mempunyai variabel kohesi dan sudut geser dalam. Sudut
geser dalam bersamaan dengan kohesi menentukan ketahanan tanah akibat
tegangan yang bekerja berupa tekanan lateral tanah. Nilai ini juga didapatkan dari
pengukuran engineering properties tanah dengan Direct Shear Test. Hubungan
antara sudut geser dalam dan jenis tanah ditunjukkan pada Tabel 2.9 dan Gambar
2.4.
Korelasi N-SPT dengan sudut geser tanah menurut Hatanaka & Uchida (1996)
didekati dengan Persamaan (2.17).

1,54 N 20
(2.17)

17

Tabel 2.9 Hubungan antara sudut geser dalam dengan jenis tanah (Das, 1985)
Jenis Tanah
Kerikil kepasiran
Kerikil kerakal
Pasir padat
Pasir lepas
Lempung kelanauan
Lempung

Sudut Geser Dalam ()


355- 405
355- 405
355- 405
305
255 305
205 255

F. Kohesi
Kohesi merupakan gaya tarik menarik antar partikel tanah. Bersama dengan sudut
geser dalam, kohesi merupakan parameter kuat geser tanah yang menentukan
ketahanan tanah terhadap deformasi akibat tegangan yang bekerja pada tanah
dalam hal ini berupa gerakan lateral tanah. Deformasi ini terjadi akibat kombinasi
keadaan kritis pada tegangan normal dan tegangan geser yang tidak sesuai dengan
Direct Shear
faktor aman dari yang direncanakan. Nilai ini didapat dari pengujian
Test.
G. Koefisien permeabilitas
Permeabilitas tanah merupakan sifat bahan berpori yang memungkinkan aliran
rembesan dari cairan yang berupa air mengalir melewati rongga yang
menyebabkan tanah bersifat permeable. Permeabilitas menunjukkan kemampuan
tanah meloloskan air. Tanah dengan permeabilitas tinggi dapat menaikkan laju
infiltrasi sehingga menurunkan laju air larian. Harga koefisien permeabilitas (k)
untuk tiap-tiap tanah adalah berbeda-beda. Beberapa koefisien permeablitas
diberikan dalam Tabel 2.10.

18

Tabel 2.10. Harga-harga koefisien permeabilitas tanah pada umumnya (Das,


1985)
Koefisien permeabilitas (k)
Jenis Tanah
cm/dt
ft/menit
Kerikil bersih
1,0 100
2,0 200
Pasir kasar
1,0 0,01
2,0 0,02
Pasir halus
0,01 0,001
0,02 0,002
Lanau
0,001 0,00001
0,002 0,00002
Lempung
< 0,000001
< 0,000002

Gambar 2.4. Hubungan antara sudut geser ( ) dan nilai N-SPT untuk tanah pasir
(Terzaghi dan Peck, 1948)
H. Sudut dilatansi ()
Sudut dilatansi () dinyatakan dalam derajat. Bolton (1986), dalam kaitannya
dengan Plaxis, merekomendasikan korelasi sudut gesekan dan sudut dilatansi
untuk tanah kohesif.

= - 30

(2.18)

19

Untuk tanah kohesif, yang cenderung memiliki dilatansi kecil, nilai = 0 realistis
untuk digunakan dalam kasus umum.

2.3.

Program Plaxis

Plaxis 8.2 adalah program komputer berdasarkan Metode elemen hingga duadimensi yang digunakan secara khusus untuk melakukan analisis deformasi dan
stabilitas untuk berbagai aplikasi dalam bidang geoteknik. Model elemen hingga
dimodelkan berupa regangan bidang maupun secara axi-simetri. Program ini
terdiri dari empat buah sub-program (Masukan, Perhitungan, Keluaran dan
Kurva).
2.3.1. Masukan untuk perhitungan
Untuk menjalankan suatu analisis berdasarkan Metode elemen hingga dengan
Plaxis, langkah pertama adalah membuat sebuah model elemen hingga dan
menentukan sifat-sifat material serta kondisi batasnya. Untuk membuat sebuah
model elemen hingga yang lengkap, terlebih dahulu harus membuat sebuah model
geometri 2D yang terdiri dari titik-titik, garis-garis dan komponen-komponen
lainnya dalam bidang x-y Gambar 2.5. Penyusunan jaring elemen hingga dan
penentuan sifat-sifat serta kondisi batas pada tiap elemen dilakukan secara
otomatis berdasarkan parameter dari model geometri.
Langkah terakhir dari Plaxis meliputi perhitungan tekanan air dan tegangan efektif
pada kondisi awal dari model. Saat pembuatan model geometri dalam Plaxis
Input, disarankan agar pemilihan dan penggunaan berbagai jenis masukan
dilakukan secara berurutan dari kiri ke kanan sesuai urutan toolbar.

20

Gambar 2.5.Plaxis input

21

2.3.2. Perhitungan
Plaxis dapat melakukan beberapa jenis perhitungan elemen hingga yang berbeda.
Plaxis output hanya akan melakukan analisis deformasi dan membedakan antara
perhitungan Plastis, Konsolidasi, Reduksi phi-c (faktor keamanan), dan
perhitungan dinamik. Tiga jenis perhitungan yang pertama (Plastis, Konsolidasi,
dan Reduksi phi-c) dapat mengikutsertakan efek dari perpindahan yang besar.
Proses perhitungan dalam Plaxis dapat dibagi menjadi beberapa tahapan
perhitungan (Gambar 2.6) sesuai dengan metode pekerjaan model. Setiap tahap
perhitungan umumnya dibagi lagi menjadi beberapa langkah perhitungan. Hal ini
diperlukan karena perilaku non-linier dari tanah membutuhkan peningkatan
pembebanan dalam proporsi yang kecil (langkah pembebanan).

Gambar 2.6. Plaxis calculations

22

2.3.3. Data keluaran hasil perhitungan


Keluaran utama dari suatu perhitungan elemen hingga adalah perpindahan pada
titik-titik nodal dan tegangan pada titik-titik tegangan Gambar 2.7. Selain itu, saat
model elemen hingga mengikutsertakan elemen-elemen struktural, maka gayagaya struktural juga akan dihitung dalam elemen-elemen ini.

Gambar 2.7. Plaxis output


2.3.4. Kurva beban-perpindahan
Plaxis Curves dapat digunakan untuk menggambarkan kurva beban-perpindahan,
kurva waktu-perpindahan, diagram tegangan-regangan, dan lintasan tegangan atau
lintasan regangan dari titik-titik tinjauan. Kurva-kurva ini menghasilkan tampilan
dari perhitungan nilai-nilai tertentu selama berbagai tahapan perhitungan dan
dapat memberikan gambaran mengenai perilaku global maupun lokal dari tanah
Gambar 2.8. Titik-titik dimana kurva akan dibentuk harus dipilih terlebih dahulu.
Titik-titik tinjauan dibedakan antara titik nodal dan titik tegangan. Secara umum,
titik nodal digunakan untuk penggambaran kurva beban-perpindahan sedangkan
titik tegangan digunakan untuk penggambaran kurva tegangan-regangan dan
lintasan tegangan.

23

Gambar 2.8. Plaxis curves

2.4.

Metode Elemen Hingga

2.4.1. Umum
Metode elemen hingga adalah metode numerik yang digunakan untuk
memecahkan permasalahan dalam bidang rekayasa ataupun bidang fisik lainnya.
Permasalahan-permasalahan dalam bidang rekayasa yang dapat dipecahkan
dengan metodei ini adalah meliputi analisa struktur, analisa tegangan, perpindahan
panas dan masa, dan medan elektromagnetik. Permasalahan-permsalahan yang
melibatkan bentuk geometri, kondisi pembebanan dan sifat mekanik material yang
komplek tidak mungkin untuk dipecahkan dengan menggunakan persamaan atau
rumus matematis yang biasanya disebut dengan penyelesaian analitis.
Penggunaan komputer sangat berperan besar dalam operasi penyelesaian
persamaan dalam metode elemen hingga. Sebelum pengunaan komputer,
meskipun sudah diketahui sebelumnya bahwa metode matrik dan metode elemen
hingga dapat digunakanuntuk menyelesaikan persoalan-persoalan komplek, tetapi
penggunaannya tidak praktis dan memerlukan waktu yang sangat lama. Kondisi
ini berubah semenjak tahun 1950-an, yang mana pada waktu itu mulai
dikembangkan komersial komputer generasi pertama oleh IBM. Bahkan sekarang
sudah banyak dikembangkan program-program komputer berbasis elemen hingga,

24

misalnya program Plaxis, ANSYS, Algor, Abaqus, MARC, SAP 2000 dan lainlain.
2.4.2. Langkah-langkah metode elemen hingga
Perumusan dan penerapan metode elemen hingga dianggap terdiri darl 8 langkah
dasar. Langkah-langkah tersebut meliputi:
1. Memilih jenis elemen dan diskritisasi
Bodi kontinum dibagi menjadi elemen-elemen yang terdiri dari beberapa
node. Proses ini disebut diskritisasi. Sebelumnya, menentukan jenis elemen
yang sesuai untuk memodelkan kondisi fisik sebenarnya. Di dalam
pendiskritan ini, memungkinkan ukuran elemen berbeda sesuai dengan
kondisi geometri dari suatu struktur. Pemilihan jenis suatu elemen dan dimensi
(satu, dua atu tiga dimensi) pada saat melakukan analisa dengan menggunakan
Metode elemen hingga tergantung dari beberapa faktor misalnya, kondisi
pembebanan. Gambar 2.9 menunjukkan contoh dari beberapa jenis elemen.

Gambar 2.9. Contoh jenis elemen

25

2. Memilih fungsi perpindahan


Langkah ini menentukan fungsi perpindahan di dalam elemen. Fungsi
mendifinisikan harga perpindahan dari tiap-tiap node dan jenis fungsi tersebut
tergantung dari jumlah node yang digunakan di dalam elemen. Jenis fungsi
yang sering digunakan adalah fungsi linier, kwadratik dan kubik polynomial.
Jenis fungsi tersebut sering digunakan karena tidak rumit atau sederhana untuk
memformulasikan

elemen.

Fungsi

polinomial

bisa

didapat

dengan

menggunakan segitiga Pascal yang ditunjukkan pada Gambar 2.10.

Gambar 2.10. Segitiga Pascal untuk Polinimial


3. Mendefinisikan

hubungan

antara

regangan/perpindahan

dan

tegangan/regangan
Hubungan regangan/ perpindahan dan tegangan/regangan adalah sangat
penting untuk menurunkan tiap-tiap rumus elemen hingga. Untuk kasus
deformasi elastis (kecil) pada satu dimensi, misalnya, pada arah x dengan
perpindahan u, dinyatakan dengan strain, x, Persamaan (2.19).

du
dx

(2.19)

Selanjutnya hubungan tegangan dan regangan dapat dinyatakan sesuai dengan


hukum Hooke, yang ditunjukkan pada Persamaan (2.20), yang mana x
menyatakan tegangan ke arah sumbu x dan E adalah modulus elastisitas.

x E. X

(2.20)

26

27

4. Menurunkan rumus dan matrik kekakuan elemen


Ada beberapa metode untuk menurunkan rumus dan kekakuan suatu elemen,
yaitu yang pertama adalah metode kesetimbangan langsung (Direct
Equilibrium Method). Menurut metode ini, kekakuan matrik dan rumus
elemen yang berhubungan dengan gaya dan perpindahan pada node diperoleh
dengan menggunakan kondisi kesetimbangan gaya. Karena rumus ini
sederhana dan mudah, maka digunakan untuk menurunkan matrik kekakuan
dan rumus elemen untuk elemen-elemen garis atau satu dimensi, misalnya
untuk elemen pegas atau batang.
Metode selanjutnya adalah metode untuk menurunkan rumus elemen dan
matrik kekakuan untuk elemen-elemen dua dimensi dan tiga dimensi. Metode
yang digunakan dikenal sebagai metode energi.
5. Menggabungkan rumus elemen untuk mendapat rumus global dan
menentukan kondisi batas.
Rumus pernurunan dari langkah 4, digabung menjadi rumus global. Rumus
global ini mencakup seluruh node yang ada pada suatu bodi.
6. Menyelesaikan atau memecahkan derajat kebebasan yang tidak diketahui.
Persamaan (2.21) menunjukkan rumus kekakuan global dengan jumlah derajat
kebebasan sebanyak n. Di sini kita mencari harga-harga d yang tidak
diketahui, dan menentukan harga d sebagai kondisi batas. Untuk mencari
harga d yang tidak diketahui kita bisa menggunakan beberapa metode
eleiminasi seperti metode

Gauss, atau iterasi

Gauss-Seidel. Untuk

menyelsaikan jumlah node yang banyak atau dimensi matrik yang besar, maka
penyelesain menggunakan program komputer adalah efektif.

28

K 11
K
21

K 12
K 22

K n1

K n2

. . . K 1n
. . . K 2 n
. . .
.

. . .
.
. . .
.

. . . K nn

d1

d 2
.

.
.

d n

(2.21)

7. Menghitung harga tegangan dan regangan pada elemen


Setelah dapat mengetahui harga-harga perpindahan pada masing masing node,
maka harga regangan dan tegangan dapat diketahui.
8. Menginterprestasikan hasil
Langkah ini melakukan analisa hasil model untuk menentukan dimana terjadi
tegangan atau regangan yang terbesar pada model. Dari sini dapat diambil
keputusan suatu struktur mempunyai kekuatan atau tidak, karena kondisi suatu
pembebanan tertentu.