Anda di halaman 1dari 17

PERCOBAAN 4

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ANALITIK DASAR
ANALISIS KATION GOLONGAN II

OLEH
KELOMPOK: 6
ILLIYIN FRIZKI A
KHUBAILUL AGUSTINA
M. IQBAL FITRANDA

(140331600558)
(140331605092)
(140331600976)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2015

JUDUL PERCOBAAN

: ANALISIS KATION GOLONGAN II

TUJUAN

: 4. 1. Dapat memisahkan kation golongan II dari sampel dan


mengidentifikasi kation-kation tersebut dengan pereaksi
spesifik.

DASAR TEORI
:
Kation golongan II merupakan endapan yang diperoleh dari penambahan
hydrogen sulfide dalam suasana asam encer ke dalam larutan sampel. Kation golongan II
tidak dapat bereaksi dengan HCl. Golongan II disebut juga dengan asam hydrogen sulfide
atau golongan tembaga-timah.Walaupun tidak termasuk dalam skema pemisahan, karena
bersifat sangat beracun, arsen dan bismuth juga termasuk dalam golongan ini.
Sulfide golongan II memiliki Ksp yang sangat kecil. Oleh karena itu kosentrasi
sulfide harus dijaga relative rendah agar menghindari sulfide-sulfida yang diharapkan tetap
larut (golongan III dan IV). Konsentrasi ion sulfide dapat dikontrol dengan pengaturan
konsentrasi H+.
Kation golongan II dibagi menjadi dua berdasarkan kelarutan endapan sulfide dalam
ammonium polysulfide yaitu sub golongan II A dan Sub golongan II B. Sub golongan II A
larut dalam reagensia tersebut (ammonium polysulfida) namun sub golongan II B larut
dengan membentuk garamtio. Ion-ion dalam golongan ini adalah Pb 2+, Hg2+, Cu2+, dan Bi3+.
Sedangkan yang termasuk dalam golongan II B adalah As3+/As5+, Sn2+/Sn4+ dan Sb3+/Sb5+.
Tahapan pemisahan kation golongan II dari sampel adalah penambahan pereaksi
pengendap yang selektif yaitu H 2S (atau Na2S dalam suasana asam). Setelah endapan kation
golongan II diperoleh, sebagai garam sulfida, golongan IIA dan IIB dapat dipisahkan dengan
2 metode, yaitu metode amonium polisulfida dan metode kalium hidroksida. Pemisahan
dengan metode amonium polisulfida didasarkan pada prinsip:
1. Garam sulfida kation golongan II B larut dalam amonium polisulfida membentuk garam
tiosulfida, sedangkan garam sulfida kation golongan II A tidak larut.
2. Filtrat golongan II B dapat diendapkan kembali sebagai garam sulfidanya dengan
pengasaman.
Sedangkan pada metode kalium hidroksida, pemisahan kation golongan II didasarkan pada
prinsip:
1. Garam sulfida dari kation golongan II B larut dalam KOH 2M, sedangkan kation golongan
II A tidak.
2. Kation golongan II B yang larut diendapkan kembali menjadi garam sulfida dengan H 2S
dalam suasana asam
Setelah kation dalam satu golongan terpisah, maka dapat dilakukan identifikasi pada
setiap kation yang diduga ada dalam sampel.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Berikut adalah ciri-ciri dari beberapa kation yang akan dilakukan pada percobaan
keempat (G. Svehla,1985):
Merkurium, Hg
Ion Hg2+ tak berwarna, memiliki keunikan adanya ikatan kovalen logam-logam,
ditemukan dalam sejumlah senyawa padatan. Dalam keadaan larutan, keberadaan ion Hg 2+
terbatas pada rentang pH 3 sampai 4. Pada pH lebih tinggi mengalami reaksi
disproporsional dengan air atau ion hidroksida. Merkurium adalah logam cair yang putih
keperakan pada suhu biasa dan mempunyai rapatan 13,534 g ml -1 pada 25oC. Ia tidak
dipengaruhi HCl atau H2SO4 encer 2M, tetapi mudah bereaksi dengan HNO3. HNO3 yang
dingin dan sedang pekatnya (8M) dengan merkurium yang berlebihan menghasilkan ion
merkurium (I).
Bismuth, Bi
Bismuth adalah logam yang putih kemerahan, kristalin dan getas. Titik leburnya
271,5oC. Ia tidak larut dalam HCl disebabkan oleh potensial standarnya (0,2 V), tetapi
larut dalam asam pengoksid seperti asam nitrat pekat, air raja atau asam sulfat pekat panas.
Tembaga, Cu
Tembaga adalah logam merah-muda yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Ia melebur
pada 1038oC. Karena potensial elektrode standarnya positif (+0,34 V), ia tak larut dalam
HCl dan H2SO4 encer. Asam nitrat pekat (8M) dengan mudah melarutkan tembaga.
Kadmium, Cd
Kadmium adalah logam putih keperakan yang dapat ditempa. Ia melebur pada 321 oC.
Kadmium larut dengan lambat dalam asam encer dengan melepaskan hidrogen
(disebabkan potensial elektodenya yang negatif).
Arsenik, As
Arsenik adalah zat padat yang berwarna abu-abu seperti baja, getas dan mengkilap.
Jika dipanaskan, arsenik bersublimasi dan timbul bau seperti bawang putih yang khas.
Ketika dipanaskan dalam aliran udara yang bebas, arsenik terbakar dengan nyala biru
menghasilkan asap putih arsenik (III) oksida. Semua senyawa arsenik beracun. Arsenik
tidak larut dalam HCl dan H2SO4 encer tetapi larut dengan mudah dalam HNO 3 encer
menghasilkan ion arsenit As3+, dan dalam HNO3 pekat atau air raja atau dalam larutan
natrium hipoklorit membentuk arsenat As4+.
Stibium, Sb
Stibium adalah logam putih keperakan yang mengkilap dan melebur pada 630 oC.
Stibium tak larut dalam HCl dan dalam H2SO4 encer. Dalam H2SO4 pekat yang panas ia
larut perlahan dengan membentuk ion stibium (III)
Timah, Sn
Timah adalah logam putih perak yang dapat ditempa dan liat pada suhu biasa. Tetapi
pada suhu rendah menjadi getas karena berubah menjadi suatu modifikasi alotropi yang
berlainan. Ia meleleh pada 231,8oC. Logam ini melarut dengan lambat dalam HCl encer
dan H2SO4 encer, dengan membentuk garam-garam timah (II) (stano).

ALAT DAN BAHAN


ALAT
: 1. Gelas kimia

6. Kaki tiga

2. Gelas ukur
3. Pengaduk gelas
4. Pemanas spiritus
5. Kassa
: 1. Sampel
2. HCl 2 M
3. Na2S
4. (NH4)2SX
5. (NH4)2S
6. HNO3 6 M
7. H2SO4 0,2 M

BAHAN

7. Kertas saring
8. Corong gelas
9. Cawan penguapan
8. Amonia 6 M
9. Amonia encer
10. NaOH
11. KI
12. K4[Fe(CN)6]

LANGKAH KERJA DAN DATA PENGAMATAN


N
o.
A

Cara Kerja
Sampel B
diambil 10 mL dan ditempatkan
dalam gelas kimia
dipanaskan hingga volume akhir
dari volume awal
ditambahkan aquades hingga
volume 10 mL
ditambahkan HCl 2M tetes demi
tetes
ditambahkan (NH4)2SX dalam
suasana asam sebanyak 4 tetes
disaring
Endapan dari sampel B
dicuci dengan air 5 mL
diambil sedikit endapannya
dimasukkan ke dalam tabung reaksi
ditambahkan (NH4)2SX
diamati apa yang terjadi
dicuci lagi endapan dengan 1 mL
amonium sulfida encer

dicuci dengan 1 mL amonium nitrat


2%
dipindahkan ke dalam gelas kimia

ditambahkan 10-15 mL HNO3 6 M

dipanaskan selama 10 menit

Hasil

Hasil Pengamatan

Persamaan reaksi

-Tidak terdapat endapan

-Kation gol. II A + HCl

-Terdapat endapan berwarna


hitam

-Kation gol. II A + (NH4)2SX


garam sulfida

-Endapan tidak larut


-Endapan berwarna hitam
mengkilat
-Endapan berwarna hitam
mengkilat

-Endapan berwarna coklat


gelap
-Endapan habis (tidak

- Endapan + HNO3 endapan


(garam)

mengandung kation Hg),


terdapat filtrat
Filtrat
ditambahkan 1 mL H2SO4 encer
tetes demi tetes
diuji identifikasi dengan
penambahan KI

diuji identifikasi dengan


penambahan NaOH

Hasil
Larutan Bismuth Nitrat
ditambahkan alkali karbonat

ditambahkan alkali hidroksida


(NaOH)
ditambahkan KI

Hasil
Larutan Kadmium Nitrat
ditambahkan alkali hidroksida
(NaOH)
ditambahkan amonia
Hasil

Sampel A
diambil 10 mL dan ditempatkan
dalam gelas kimia
dipanaskan hingga volume akhir
dari volume awal
ditambahkan aquades hingga
volume 10 mL
ditambahkan HCl 2M tetes demi
tetes
ditambahkan (NH4)2SX dalam
suasana asam sebanyak 4 tetes
disaring
Endapan dari sampel A
dicuci dengan air 5 mL

-tidak terbentuk endapan (tidak


mengandung Pb2+)
-terdapat endapan berwarna
- Bi2+ (aq) + 2I- (aq) BiI2(s)
hitam (filtrat mengandung Bi2+)
- Cd2+ (aq) + 2OH- (aq)
-terdapat sedikit endapan
Cd(OH)2 (s)
berwarna putih (filtrat
mengandung Cd2+)

-terdapat endapan
-terdapat endapan berwarna
putih
-terdapat endapan berwarna
hitam

-terdapat endapan berwarna


putih (putih keruh)
-terdapat endapan berwarna
putih

- Bi2+ (aq) + CO32+(aq)


BiCO3 (s)
- Bi2+ (aq) + 2OH- (aq)
Bi(OH)2 (s)
- Bi2+ (aq) + 2I- (aq) BiI2(s)

- Cd2+ (aq) + 2OH- (aq)


Cd(OH)2 (s)
- Cd2+ (aq) + 2NH3 (aq) + 2H2O
Cd(OH)2 (s) + 2NH4+(aq)

-larutan berwarna biru


- Sampel + HCl

-tidak terbentuk endapan


-terbentuk endapan putih dan
hitam

- Sampel + (NH4)2S garam


sulfida

diamati apa yang terjadi


dicuci lagi endapan dengan 1 mL
amonium sulfida encer
dicuci dengan 1 mL amonium nitrat
2%
dipindahkan ke dalam gelas kimia
ditambahkan 10-15 mL HNO3 6 M
dan dipanaskan selama 10 menit

Hasil

Filtrat
ditambahkan 1 mL H2SO4 encer
tetes demi tetes

diuji identifikasi dengan


penambahan KI

diuji identifikasi dengan


penambahan NaOH

diuji identifikasi dengan


penambahan ammonia

Hasil

B
1

- endapan + (NH4)2SX

diambil sedikit endapannya


dimasukkan ke dalam tabung reaksi
ditambahkan (NH4)2SX

IDENTIFIKASI KATION
Merkuri, Hg2+
Larutan HgCl2
diambil dan dimasukkan ke dalam
beberapa tabung reaksi
ditambahkan asam sulfida

ditambahkan alkali hidroksida

ditambahkan natrium karbonat

-endapan tidak larut dalam


(NH4)2SX, endapan menjadi
berwarna hitam dan berbau
menyengat

- endapan + HNO3 garam


nitrat
-terbentuk endapan berwarna
hitam yang merupakan kation
Hg
- filtrat + H2SO4

-tidak terbentuk endapan putih - Bi(NO3)2 + 2KI BiI2 +


yang berarti tidak ada kation Pb
2KNO3
-terbentuk endapan berwarna
- Filtrat + NaOH
hitam (filtrat mengandung Bi2+)

-tidak terbentuk endapan

- Filtrat + NH4OH

-tidak terbentuk endapan

-awalnya terjadi endapan putih,


coklat dan akhirnya hitam
-akan terdapat endapan kuning
-terjadi endapan coklat merah,
bila dididihkan endapan
menjadi kuning

-HgCl2(aq) + H2S(aq)
HgS(s) + 2HCl (aq)
-HgCl2(aq) + 2LOH(aq)
Hg(OH) 2(s) + 2LCl (aq)
-HgCl2(aq) + Na2CO3(aq)
HgCO 3(s) + 2NaCl (aq)

ditambahkan logam Cu atau Fe

ditambahkan alkali kromat netral

ditambahkan amonia

ditambahkan KI
Hasil
2

-terjadi endapan Hg pada logam


tsb berwarna abu-abu
- HgCl2(aq) + Cu(s) Hg(s)
+ CuCl2 (aq)
-terjadi endapan kuning, jika
dipanaskan menjadi merah
- HgCl2(aq) + L2CrO4(aq)
HgCrO4(s) + 2LCl (aq)
- akan terjadi endapan putih
amino klorida
- 2Hg+(aq) + NO3-(aq) +
4NH3(aq) + H2O (l)
Hg.Hg(NH2)NO3(s) +
- akan terjadi endapan merah
3NH4+
- Hg+(aq) + 2I-(aq) HgI2 (s)
HgI2 dan larut dalam KIx

Bismuth, Bi2+
Larutan Bi(SO4) atau Bi(NO3)2
diambil 1mL, dimasukkan ke dalam
beberapa tabung reaksi
- akan terjadi endapan coklat
ditambahkan asam sulfida
Bismuth sulfida
- akan terjadi endapan Bi(OH)2 ditambahkan alkali hidroksida
putih, jika dipanasi menjadi
kuning dengan terbentuknya
BiO(OH)
akan
terjadi endapan bismuth ditambahkan alkali karbonat
karbonat basa
- akan terjadi hitam BiI2.
ditambahkan KI
Endapan larut dalam KIX dan
terjadi larutan kuning

2Bi3+(aq) + 3H2S Bi2S3(s)


+ 6H+(aq)
Bi2+ (aq) + 2OH- (aq)
Bi(OH)2 (s)

Bi2+ (aq) + CO32+(aq)


BiCO3 (s)
Bi2+ (aq) + 2I- (aq) BiI2 (s)

Hasil
3

Kupri, Cu2+
Larutan CuSO4
diambil 1mL, dimasukkan ke dalam
beberapa tabung reaksi
ditambahkan asam sulfida

- terjadi endapan hitam

ditambahkan alkali hidroksida

- terjadi endapa biru dari


Cu(OH)2

ditambahkan amonia

ditambahkan KI

- terjadi endapan hijau dari


garam basa. Jika ditambah
amonia berlebihan akan larut
dengan warna biru intensif
- akan terjadi endapan putih,
tetapi larutan agak kuning

Hasil

- Cu2+(aq) + H2S(aq) CuS(s)


+ 2H+(aq)
- Cu2+(aq) + 2OH-(aq)
Cu(OH)2 (s)
- 2Cu2+(aq) + SO42-(aq) +
2NH3(aq) + 2H2O (l)
Cu(OH)2.CuSO4(s) + 2NH4+
(aq)
- 2Cu2+(aq) + 5I-(aq) 2CuI(s)
+ I3-(aq)

Kadmium, Cd2+
Larutan CdSO4
diambil 1mL, dimasukkan ke dalam
beberapa tabung reaksi
- akan terjadi endapan kuning
ditambahkan asam sulfida

ditambahkan alkali hidroksida

ditambahkan amonia

Hasil
5

- Cd2+(aq) + H2S(aq) CdS(s)


+ 2H+(aq)
- terjadi endapan putih, jika - Cd2+ (aq) + 2OH- (aq)
dididihkan warnanya tetap
Cd(OH)2 (s)
- akan terjadi endapan putih - Cd2+ (aq) + 2NH3 (aq) + 2H2O
Cd(OH)2 yang larut dalam
Cd(OH)2 (s) + 2NH4+
amonia
berlebihan.
Jika
(aq)
larutan tsb diencerkan dan di
panasi akan terjadi endapan
putih

Arsenit, As3+
Larutan Na3AsO3
diambil 1mL, dimasukkan ke dalam
beberapa tabung reaksi
- akan terjadi endapan kuning
ditambahkan asam sulfida

ditambahkan AgNO3 dalam suasana - akan terjadi endapan kuning


netral
ditambahkan pereaksi campuran
magnesia (larutan yang mengandung - akan terjadi endapan
MgSO4, NH4Cl dan sedikit amonia)

- 2As3+(aq)+3H2S(aq) As2S3
(s) + 6H+(aq)
- AsO33-(aq) + 3Ag+(aq)
Ag3AsO3 (s)
- AsO43-(aq) + Mg2+(aq)

ditambahkan CuSO4 dalam suasana - akan terbentuk endapan hijau


netral

Hasil

Arsenat, As4+
Larutan natrium arsenat
diambil 1mL, dimasukkan ke dalam
beberapa tabung reaksi
ditambahkan amonium molibdat,
- terbentuk endapan berwarna
ditambah HNO3, dipanaskan
kuning

ditambahkan natrium tiosulfat


(Na2S2O3)

ditambahkan CuSO4

ditambahkan MgCl2 kemudian

- terbentuk endapan kuning

- tidak terjadi endapan

- AsO43-(aq) + 12MoO42-(aq) +
3NH4+(aq)
(NH4)3AsMo12O40(s) +
12H2O(l)

NH4Cl dan NH4Cl

- terjadi endapan putih

ditambahkan AgNO3 dalam suasana


- terjadi endapan coklat
netral

- AsO43-(aq) + Mg2+(aq) +
NH4+ (aq) MgNH4AsO4
- AsO43-(aq) + 3Ag+(aq)
Ag3AsO4(s)

Hasil

Antimon, Sb3+
Larutan SbCl3
diambil 1mL, dimasukkan ke dalam
beberapa tabung reaksi
- terjadi endapan merah jingga
ditambahkan asam sulfida

ditambahkan kalium hidroksida,


amonia dan alkali karbonat

- terjadi endapan hidrat oksida

ditambahkan natrium tiosulfat

- terbentuk garam basa

- 2Sb2+(aq) + 3H2S(aq)
Sb2S3(s) + 6H+(aq)
- 2Sb2+(aq) + 6OH-(aq)
Sb2O3(s) + 3H2O(l)

Hasil
8

Antimon, Sb5+
Larutan Kalium Antimonat
diambil 1mL, dimasukkan ke dalam
beberapa tabung reaksi
- terjadi endapan merah jingga
ditambahkan asam sulfida dalam
suasana asam (HCl 4N)

- 2Sb5+(aq) + 5H2S(aq)
Sb2S5(s)
- Sb2S5(s) + 6H+(aq) 2Sb3+
(aq) + 2S(s) + 3H2S

- Sb5+(aq) + 4H2O(l)
H3SbO4 (s) + 5H+(aq)
ditambahkan air suling
5+
3+
- akan membebaskan iodium (I2) - 2Sb (aq) + 2I (aq) Sb
(aq) + I2(aq)
ditambahkan KI dalam susasana
- akan terjadi endapan hitam dari
asam
- 2Sb5+(aq) + 5Zn(aq)
antimon metalik
2Sb(s) + 5Zn2+(aq)
ditambahkan logam seng atau timah
- 2Sb5+(aq) + 5Sn(aq)
(Sn) dalam suasana HCl
2Sb(s) + 5Sn2+(aq)

Hasil

- terbentuk endapan putih

Stano, Sn2+
Larutan SnCl2

diambil 1mL, dimasukkan ke dalam


beberapa tabung reaksi
ditambahkan asam sulfida

ditambahkan kalium hidroksida

ditambahkan logam Zn

-terdapat endapan coklat

- Sn2+(aq) + H2S(aq)

-terdapat endapan putih

- Sn2+(aq) + 2OH-(aq)

SnS(s)

- mengendapkan Sn tsb pada


Zn

Sn(OH)2 (s)

- Sn2+(aq) + Zn(s) Sn(s) +


Zn2+ (s)

Hasil

Stani, Sn4+
Larutan SnCl4

10

diambil 1mL larutan SnCl4 dalam


HCl encer
ditambahkan asam sulfida dalam
suasana encer (0,3 N HCl)
ditambahkan NaOH
ditambahkan logam Fe dalam
suasana asam

- endapan kuning SnS2 yang - Sn4+(aq) + 2H2S(aq)


SnS2 (aq) + 4H+(aq)
larut dalam HCl pekat
- terjadi endapan putih koloid - Sn4+(aq) + 4OH-(aq)
Sn(OH)4(s)
Sn(OH)4
4+
2+
- akan mereduksi garam stani - Sn (aq) + Fe(aq) Fe
2+
(aq) + Sn (aq)
menjadi stano

Hasil

PEMBAHASAN DAN ANALISIS DATA:


1. Pemisahan kation pada Sampel B
Pada percobaan keempat, praktikan akan menganalisis sebuah sampel yang
diduga mengandung kation golongan IIA yaitu Hg2+, Cu2+, Cd2+ dan Bi2+. Pertama, praktikan
mengambil sampel B sebanyak 1 mL dan ditempatkan dalam gelas kimia. Kemudian sampel
dipanaskan hingga volume akhir dari volume awal. Hal ini bertujuan untuk membebaskan
anion-anion yang terdapat dalam sampel. Kemudian ditambah aquades hingga volume larutan
menjadi 10 mL. Selanjutnya, ke dalam sampel ditambahkan tetes demi tetes HCl 2M. Setelah
diamati ternyata tidak ada endapan yang terbentuk karena sampel tersebut mengandung
kation golongan II, dimana kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida.
-

Kation gol. II A + HCl

Kemudian ditambahkan (NH4)2S (dalam suasana asam) sebanyak 4 tetes dan terbentuk
endapan berwarna hitam. Setelah itu endapan disaring.
-

Kation gol. II A + (NH4)2SX garam sulfida

Endapan dari sampel B tersebut kemudian dicuci dengan 5 mL aquades. Endapan


yang sudah dicuci dengan aquades diambil sedikit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
Kemudian ditambah lagi dengan (NH4)2SX (dalam suasana asam) agar dapat mengetahui
bahwa endapan dapat larut atau tidak. Setelah diamati ternyata endapan tersebut tidak larut.
Jika endapan tersebut tidak larut maka sampel tersebut mengandung kation golongan IIA.
Untuk analisis kation golongan IIA, dilakukan dengan cara mencuci lagi endapan
dengan 1 mL amonium sulfida encer dan 1 mL amonium nitrat. Didapati bahwa endapan
tersebut berwarna hitam mengkilat. Endapan kemudian dipindahkan ke dalam gelas kimia.
setelah itu, di tambahkan 10 mL HNO3 6M dan diamati ternyata endapan tersebut berwarna
coklat gelap.
-

Endapan + HNO3 endapan (garam)

Kemudian endapan dipanaskan selama 10 menit dalam suasana asam. Setelah dilakukan
pemanasan selama 10 menit, endapan menjadi habis (tidak ada endapan) namun terbentuk
filtrat.
Filtrat yang diperoleh kemudian ditambahkan 1 mL H2SO4 encer tetes demi tetes.
Hal ini untuk mengetahui apakah sampel mengandung kation Pb 2+ atau tidak yang ditandai
dengan terbentuknya endapan putih. Dari hasil pengamatan ternyata tidak terbentuk endapan
putih sehingga sampel tersebut terbukti tidak mengandung kation Pb2+.
Filtrat yang tersisa akan diidentifikasi apakah mengandung kation Bi, Cu atau Cd.
Filtrat tersebut ditambahkan dengan beberapa pereaksi yaitu KI dan NaOH. Setelah filtrat
ditambahkan dengan KI terbentuk endapan berwarna hitam. Ini menandakan bahwa sampel
tersebut mengandung Bi2+.
-

Bi2+ (aq) + 2I- (aq) BiI2 (s)

Selanjutnya filtrat ditambahkan dengan pereaksi NaOH, terbentuk sedikit


endapan putih yang menandakan bahwa sampel tersebut mengandung Cd2+.
-

Cd2+ (aq) + 2OH- (aq) Cd(OH)2 (s)

Setelah melakukan rangkaian percobaan diatas, kita tahu bahwa sampel B


mengandung kation Bi2+ dan Cd2+.
Selanjutnya untuk mengidentifikasi kation lebih lanjut, praktikan membuat
larutan bismuth nitrat dengan cara filtrat dari endapan BiI2 diambil kemudian ditambah
dengan asam nitrat. Kemudian ditambahkan dengan pereaksi alkali karbonat, alkali
hidroksida (NaOH) dan KI. Setelah ditambah dengan pereaksi alkali karbonat terbentuk

endapan bismuth karbonat basa, ditambah dengan NaOH terbentuk endapan berwarna putih
dan ditambah dengan KI terbentuk endapan berwarna hitam.
-

Bi2+ (aq) + CO32+(aq) BiCO3 (s)


Bi2+ (aq) + 2OH- (aq) Bi(OH)2 (s)
Bi2+ (aq) + 2I- (aq) BiI2 (s)

Praktikan juga membuat larutan kadmium nitrat dengan cara filtrat dari endapan
Cd(OH)2 diambil sedikit kemudian ditambah dengan larutan asam nitrat. Kemudian larutan
kadmium nitrat tersebut ditambahkan dengan pereaksi NaOH dan amonium. Setelah
ditambah dengan NaOH terbentuk endapan berwarna putih susu. Namun setelah ditambah
dengan amonium terbentuk endapan yang berwarna putih.
-

Cd2+ (aq) + 2OH- (aq) Cd(OH)2 (s)


Cd2+ (aq) + 2NH3 (aq) + 2H2O Cd(OH)2 (s) + 2NH4+(aq)

2. Pemisahan kation pada Sampel A


Pada pemisahan kation dari sampel A caranya sama dengan rangkaian percobaan
diatas. Pertama, praktikan mengambil sampel B sebanyak 1 mL dan ditempatkan dalam gelas
kimia. Kemudian sampel dipanaskan hingga volume akhir dari volume awal. Kemudian
ditambah aquades hingga volume larutan menjadi 10 mL. Selanjutnya, ke dalam sampel
ditambahkan tetes demi tetes HCl 2M. Setelah diamati ternyata tidak ada endapan yang
terbentuk karena sampel tersebut mengandung kation golongan II, dimana kation golongan
ini tidak bereaksi dengan asam klorida.
-

Kation gol. II A + HCl

Kemudian ditambahkan (NH4)2S (dalam suasana asam) sebanyak 4 tetes dan terbentuk
endapan berwarna hitam. Setelah itu endapan disaring.
Endapan dari sampel A tersebut kemudian dicuci dengan 5 mL aquades. Endapan
yang sudah dicuci dengan aquades diambil sedikit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
Kemudian ditambah lagi dengan (NH4)2SX (dalam suasana asam) agar dapat mengetahui
bahwa endapan dapat larut atau tidak. Setelah diamati ternyata endapan tersebut tidak larut
yang berarti bahwa sampel tersebut mengandung kation golongan IIA.
Selanjutnya endapan dicuci dengan 1 mL amonium sulfida encer dan 1 mL
amonium nitrat 2%. setelah itu, di tambahkan 10 mL HNO 3 6M dan dipanaskan selama 10
menit dalam suasana asam. Setelah dilakukan pemanasan selama 10 menit ternyata terbentuk
endapan berwarna hitam yang menunjukkan bahwa sampel mengandung kation Hg2+.
-

3Hg+(aq) + 2Cl- (aq) + 2H2S (aq) Hg3S2Cl2 (s) + 4H+ (aq)


Hg3S2Cl2 (s) + 2H2S (aq) 3HgS (s) + 2H+ (aq) + 2Cl- (aq)

Filtrat yang diperoleh kemudian ditambahkan 1 mL H2SO4 encer tetes demi tetes.
Hal ini untuk mengetahui apakah sampel mengandung kation Pb 2+ atau tidak yang ditandai

dengan terbentuknya endapan putih. Dari hasil pengamatan ternyata tidak terbentuk endapan
putih sehingga sampel tersebut terbukti tidak mengandung kation Pb2+.
Filtrat yang tersisa akan diidentifikasi apakah mengandung kation Bi, Cu atau Cd.
Filtrat tersebut ditambahkan dengan beberapa pereaksi yaitu KI, NaOH dan amonia. Setelah
filtrat ditambahkan dengan NaOH dan amonia tidak terbentuk endapan. Namun setelah
ditambah dengan KI terbentuk endapan berwarna hitam. Hal ini membentuk dugaan bahwa
sampel A mengandung Bi2+. Jika diliat dari warna larutannya, sampel mengandung kation
Cu2+. Namun setelah dianalisis, ternyata sampel tidak mengandung kation Cu 2+. Ini
dimungkinkan terjadi kekeliruan karena pada proses percobaan, praktikan kurang
memperhatikan prosedur kerja.
Menurut percobaan yang telah dilakukan, kita tahu bahwa sampel A
mengandung kation Hg2+ dan Bi2+.

KESIMPULAN
Pada percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa sampel B
mengandung kation Bi2+ dan Cd2+ karena filtrat setelah ditambah dengan KI terbentuk
endapan berwarna hitam yang menandakan bahwa sampel B mengandung kation Bi 2+.
Sedangkan sampel mengandung kation Cd2+ karena filtrat setelah ditambah dengan NaOH
terbentuk sedikit endapan putih.
Menurut percobaan yang telah dilakukan sampel A mengandung kation Hg2+ dan Bi2+.
Sampel A mengandung Hg2+ karena setelah ditambah 10 mL HNO 3 6M dan dipanaskan
selama 10 menit terbentuk endapan hitam. Sedangkan sampel mengandung Bi 2+ karena filtrat

setelah ditambah dengan pereaksi KI terbentuk endapan hitam. Jika pada sampel A terjadi
kekeliruan dalam analisa dimungkinkan pada proses percobaan praktikan kurang
memperhatikan prosedur kerja.

RUJUKAN
Ibnu, Shodiq, Endang, Budiasih, Hayuni, Retno, & Munzil. 2004. Kimia Analitik I. Malang:
Universitas Negeri Malang
Svehla,G. 1990. Vogel Analisis Anorganik Kualitatif. Jakarta: Kalman Media Pustaka
Utomo, Yudhi, Munzil, Neena, Zakea, Irma, Kartika, K., & Anugrah, Ricky. 2015. Analisis
Kualitatif Kation dan Anion. Malang: Universitas Negeri Malang

LAMPIRAN
Sampel B dipanaskan hingga volume akhir
dari volume awal

Penambahan aquades hingga volume


larutan 10mL

Penambahan (NH4)2S di dalam lemari


asam

Penambahan HCl encer ke dalam sampel

Setelah dilakukan penambahan(NH4)2S


terdapat endapan berwarna hitam

Dilakukan penyaringan
Setelah dilakukan penambahan HCl encer
dan tidak terdapat endapan

Setelah ditambah (NH4)2S dan endapan


tidak larut

Setelah penambahan HNO3 6M 1mL


terdapat endapan berwarna coklat gelap

Pengambilan amonium nitrat 1mL

Dilakukan pemanasan selama 10 menit,


endapan tersebut habis

Penambahan amonium sulfida


Filtrat hasil pemanasan ditambah dengan
KI terbentuk endapan berwarna hitam

Larutan bismuth nitrat ditambah dengan


NaOH terbentuk endapan putih

Filtrat hasil pemanasan ditambah dengan


NaOH terbentuk endapan putih (sedikit)

Larutan kadmium nitrat ditambah dengan


NaOH terbentuk endapan

Larutan bismuth nitrat ditambah dengan


KI terbentuk endapan

Larutan kadmium nitrat ditambah dengan


ammonia terbentuk endapan putih