Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA
KINETIKA REAKSI SAPONIFIKASI ETIL ASETAT

OLEH:
KELOMPOK: 7

ILLIYIN FRIZKI APRILIAN


INTAN AYU PUSPITASARI

(140331600558)
(140331605170)

MUHAMMAD IQBAL FITRANDA

(140331600976)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
April 2016

KINETIKA REAKSI SAPONIFIKASI ETIL ASETAT


I.

II.

TUJUAN PERCOBAAN
1. Dapat menunjukkan bahwa reaksi penyabunan etil asetat oleh ion hidroksida
adalah reaksi orde dua.
2. Dapat menentukan konstanta kecepatan reaksi pada reaksi saponifikasi etil
asetat
DASAR TEORI

Reaksi penyabunan atau saponifikasi adalah proses hidrolisis basa kuat seperti KOH dan
NaOH terhadap lemak (lipid). Dimana reaksinya akan menghasilkan gliserol sebagai hasil
sampingan. Dengan reaksi sebagai berikut:
C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH C3H5(OH)3 +
Gliserol

3 NaOOCR
Na-Stearat (sabun)

Sabun bertindak sebagai suatu zat pengemulsi untuk mendispersikan minyak dan
sabun teradsorpsi pada butiran kotoran. Kinetika kimia merupakan bagian dari ilmu kimia
fisika yang mempelajari tentang kecepatan ataupun laju reaksi-reaksi kimia dan mekanisme
reaksi-reaksi yang terlibat didalamnya. Kecepatan reaksi atau laju reaksi adalah kecepatan
perubahan konsentrasi terhadap waktu, jadi tanda negatif hanya menunjukkan bahwa
konsentrasi berkurang bila waktu bertambah.
Laju reaksi dapat pula digunakan untuk memprediksi kebutuhan bahan pereaksi tiap
satuan waktu dan dapat juga digunakan untuk menghitung kebutuhan energi untuk produksi
hydrogen. Seiring bertambahnya waktu dalam suatu reaksi, mka jumlah zat pereaksi akan
menjadi produk, dan sebaliknya jumlah zat hasil reaksi(produk) akan semakin bertambah.
Satuan laju reaksi adalah mol/L det atau M det-1. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju
reaksi adalah : 1) Temperatur , semakin tinggi suhu dalam sistem maka reaksi dalam sistem
akan semakin cepat pula, 2) Katalis, keberadaan katalis dalam suatu reakasi ini akan
memperepat jalannya suatu reaksi dalam sistem tanpa merubah komposisi, 3) Konsentrasi
reaktan, semakin tinggi konsentrasi reaktan maka semakin cepat reaksi yang terjadi, 4)
Tekanan, tekanan yang dimaksud adalah tekanan gas, semakin tinggi tekanan reaktan maka
reaksi akan semakin cepat berlangsung, 5) Luas permukaan, semakin luas permukaan suatu
partikel maka reaksi akan semakin cepat berlangsung.

Selain penentuan laju reaksi, percobaan juga dapat menunjukkan orde suatu reaksi.
Orde reaksi merupakan jumlah pangkat dari faktor konsentrasi dalam hukum laju bentuk
deferensial. Umumnya orde reaksi terhadap suatu zat tidak sama dengan koefisien dalam
persamaan stoikiometri reaksi.

Reaksi yang terjadi pada penyabunan etil asetat merupakan salah satu reaksi berorde dua,
meskipun reaksi yang terjadi pada penyabunan etil asetat bukan reaksi sederhana. Sehingga
hukum hukum laju reaksi untuk penyabunan etil asetat dapat dinyatakan sebagai:

dimana:
a : konsentrasi awal ester dalam mol/liter
b : konsentrasi awal ion OH dalam mol/liter
x : jumlah mol/liter ester atau basa yang telah bereaksi pada waktu t

Apabila dialurkan terhadap waktu (t) akan diperoleh garis lurus dengan arah lereng ,
sehingga dari arah lereng ini memungkinkan perhitungan dari tetapan reaksi . Hubungan
tersebut dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Plot terhadap t


Dalam praktikum ini akan menyelesaikan apa bukti bahwa penyabunan etil asetat oleh ion
hidroksida adalah reaksi orde dua dan berapa tetapan laju reaksi pada penyabunan etil asetat.
Tujuan dari praktikum ini adalah membuktikan bahwa reaksi penyabunan etil asetat oleh ion
hidroksida adalah reaksi yang berorde dua dan menentukan tetapan laju reaksi yang terjadi
pada saponifikasi etil asetat.

III.

METODOLOGI
1. Alat :
- Kaca arloji
- Labu ukur
- Erlenmeyer
- Buret
- Statif dan klem
- Corong
- Beaker glass
- Stopwatch
- Pipet gondok dan pipet tetes
- Botol semprot
- Termometer
2. Bahan :
- Etil asetat
- NaOH
- HCl
- Indikator fenoftalein
- Aquades
- Asam oksalat
3. Prosedur Kerja
1. Disediakan 250 mL larutan etil asetat dengan konsentrasi 0,02 N.
2. Disediakan kurang lebih 200 mL larutan NaOH 0,02 N. Konsentrasi kedua
larutan ini harus diketahui dengan tepat.
3. Dengan menggunakan pipet, dimasukan sejumlah tertentu larutan NaOH
dan etil asetat ( sesuai ketentuan) masing-masing ke dalam labu
erlenmeyer. Kedua labu diletakan dalam termostat untuk mencapai suhu
yang sama. Sementara itu ke dalam masing-masing dari 7 buah lainya
dipipet 20 mL larutan HCl 0,02 N.
4. Bila larutan NaOH dan larutan etil asetat telah mencapai suhu termostat,
maka larutan etil asetat dicampurkan dengan cepat pada larutan NaOH dan
dikocok dengan baik. Dijalankan stopwatch pada saat kedua larutan
dicampur.
5. Tiga menit setelah reaksi dimulai di pipet 10 mL dari campuran reaksi dan
dimasukan kedalam salah satu labu yang berisi 20 mL larutan HCl.
Diaduk dengan baik dan segera titrasi kelebihan HCl dengan larutan
standar NaOH 0,02 N. Titrasi ini hendaknya dilakukan secepat mungkin.
6. Dilakukan pengambilan ini seperti pengerjaan 5 pada menit ke 8, 15,
25, 40, dan 65.
7. Sisa campuran dibiarkan selama kurang dua hari atau lakukan pemanasan
agar reaksi sempurna. Setelah di dinginkan dilakukan langkah 5.

IV.

DATA PENGAMATAN
1. Volume total etil asetat
=
250mL
2. Volume etil asetat untuk campuran
=
50mL
3. Volume NaOH untuk campuran
=
50mL
4. Suhu Termostat
=
65oC
5. Tekanan udara
=
mmHg
6. [NaOH]
=
0,01 N
7. [HCl]
=
0,02 N
8. [Etil Asetat]
=
0,02 N
9. Volume NaOH yang diperlukan untuk titrasi sebagai berikut:
Waktu Pengambilan
(Menit)
3
8
15
25
40
65

V.

VCampuran

VHCl

10mL
10mL
10mL
10mL
10mL
10mL

20mL
20mL
20mL
20mL
20mL
20mL

VNaOH Titrasi
(mL)
16,6
17,2
17,5
17,8
18
18,8

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


Persamaan reaksi
:
CH3COOC2H5 (aq) + OH- (aq)
Ketika t = 3menit
Diket : [NaOH] = 0,01M

CH3COO- (aq) + C2H5OH (aq)

[HCl]
t
VNaOH
a
b
x

= 0,02M
= 180s
= 16,6 mL
= M etil asetat awal
= M NaOH
= konsentrasi OH- yang bereaksi

Jawab :
a) Mol OH- titrasi yang bereaksi dengan HCl sisa
= MNaOH x VNaOH
= 16,6 mL x 0,01 M
= 0,166 mmol
Mol HCl sisa
b) Mol HCl yang bereaksi dengan OH- sisa penyabunan
= Mol HCl awal Mol HCl sisa
= (20mL x 0,02 M) 0,166 mmol
= 0,4 mmol 0,166 mmol
= 0,234 mmol
Mol NaOH sisa penyabunan
c) Mol OH yang bereaksi saat proses penyabunan
= Mol OH- awal Mol OH- sisa
= (50mL x 0,01 M) 0,234 mmol
= 0,5 mmol 0,234 mmol
= 0,266 mmol
d) Konsentrasi OH- yang bereaksi dengan etil asetat (x)
= Mol OH- yang bereaksi
Vcampuran
= 0,266 mmol
100mL
= 0,00266 N
e) Ketetapan Laju Reaksi (k1)
ln b (a-x)
=
k1 (a-b) t
a (b-x)
ln 0,01 (0,02-0,00266) =
k1 (0,02-0,01)N 180s
0,02 (0,01-0,00266)
ln 0,0001734_
=
k1 0,01 x 180
0,0001468
0,1665
=
k1 1,8
k1
=
0,1665
1,8
k1
=
0,0925 mol-1 L s-1
Ketika t = 8menit
Diket : [NaOH] = 0,01M
[HCl] = 0,02M
t
= 480s
VNaOH = 17,2 mL
a
= M etil asetat awal
b
= M NaOH
x
= konsentrasi OH- yang bereaksi
Jawab :
a) Mol OH- titrasi yang bereaksi dengan HCl sisa
= MNaOH x VNaOH
= 17,2 mL x 0,01 M

b)

c)

d)

e)

= 0,172 mmol
Mol HCl sisa
Mol HCl yang bereaksi dengan OH- sisa penyabunan
= Mol HCl awal Mol HCl sisa
= (20mL x 0,02M) 0,172 mmol
= 0,4 mmol 0,172 mmol
= 0,228 mmol
Mol NaOH sisa penyabunan
Mol OH- yang bereaksi saat proses penyabunan
= Mol OH- awal Mol OH- sisa
= (50mL x 0,01 M) 0,228 mmol
= 0,5 mmol 0,228 mmol
= 0,272 mmol
Konsentrasi OH- yang bereaksi dengan etil asetat (x)
= Mol OH- yang bereaksi
Vcampuran
= 0,272 mmol
100mL
= 0,00272 N
Ketetapan Laju Reaksi (k1)
ln b (a-x)
=
k1 (a-b) t
a (b-x)
ln 0,01 (0,02-0,00272) =
k1 (0,02-0,01)N 480s
0,02 (0,01-0,00272)
ln 0,0001728_
=
k1 0,01 x 480
0,0001456
0,1713
=
k1 4,8
k1
=
0,1713
4,8
k1
=
0,0357 mol-1 L s-1

Ketika t = 15menit
Diket : [NaOH] = 0,01M
[HCl] = 0,02M
t
= 900s
VNaOH = 17,5 mL
a
= M etil asetat awal
b
= M NaOH
x
= konsentrasi OH- yang bereaksi
Jawab :
a) Mol OH- titrasi yang bereaksi dengan HCl sisa
= MNaOH x VNaOH
= 17,5 mL x 0,01 M
= 0,175 mmol
Mol HCl sisa
b) Mol HCl yang bereaksi dengan OH- sisa penyabunan
= Mol HCl awal Mol HCl sisa
= (20mL x 0,02M) 0,175 mmol
= 0,4 mmol 0,175 mmol
= 0,225 mmol
Mol NaOH sisa penyabunan

c) Mol OH- yang bereaksi saat proses penyabunan


= Mol OH- awal Mol OH- sisa
= (50mL x 0,01 M) 0,225 mmol
= 0,5 mmol 0,225 mmol
= 0,275 mmol
d) Konsentrasi OH- yang bereaksi dengan etil asetat (x)
= Mol OH- yang bereaksi
Vcampuran
= 0,275 mmol
100 mL
= 0,00275 N
e) Ketetapan Laju Reaksi (k1)
ln b (a-x)
=
k1 (a-b) t
a (b-x)
ln 0,01 (0,02-0,00275) =
k1 (0,02-0,01)N 900s
0,02 (0,01-0,00275)
ln 0,0001725_
=
k1 0,01 x 900
0,000145
0,1895
=
k1 9
k1
=
0,1895
9
k1
=
0,0211 mol-1 L s-1

a)

b)

c)

d)

Ketika t = 25menit
Diket : [NaOH] = 0,01M
[HCl] = 0,02M
t
= 1500s
VNaOH = 17,8 mL
a
= M etil asetat awal
b
= M NaOH
x
= konsentrasi OH- yang bereaksi
Jawab :
Mol OH- titrasi yang bereaksi dengan HCl sisa
= MNaOH x VNaOH
= 17,8 mL x 0,01 M
= 0,178 mmol
Mol HCl sisa
Mol HCl yang bereaksi dengan OH- sisa penyabunan
= Mol HCl awal Mol HCl sisa
= (20mL x 0,02M) 0,178 mmol
= 0,4 mmol 0,178 mmol
= 0,222 mmol
Mol NaOH sisa penyabunan
Mol OH- yang bereaksi saat proses penyabunan
= Mol OH- awal Mol OH- sisa
= (50mL x 0,01M) 0,222 mmol
= 0,5 mmol 0,222 mmol
= 0,278 mmol
Konsentrasi OH- yang bereaksi dengan etil asetat (x)

= Mol OH- yang bereaksi


Vcampuran
= 0,278 mmol
100 mL
= 0,00278 N
e) Ketetapan Laju Reaksi (k1)
ln b (a-x)
=
a (b-x)
ln 0,01 (0,02-0,00278) =
0,02 (0,01-0,00278)
ln 0,0001722_
=
0,0001444
0,1761
=
k1
=
k1

a)

b)

c)

d)

e)

k1 (a-b) t
k1 (0,02-0,01)N 1500s
k1 0,01 x 1500
k1 15
0,1761
15
0,01174 mol-1 L s-1

Ketika t = 40menit
Diket : [NaOH] = 0,01M
[HCl] = 0,02M
t
= 2400s
VNaOH = 18 mL
a
= M etil asetat awal
b
= M NaOH
x
= konsentrasi OH- yang bereaksi
Jawab :
Mol OH- titrasi yang bereaksi dengan HCl sisa
= MNaOH x VNaOH
= 18 mL x 0,01M
= 0,18 mmol
Mol HCl sisa
Mol HCl yang bereaksi dengan OH- sisa penyabunan
= Mol HCl awal Mol HCl sisa
= (20mL x 0,02M) 0,18 mmol
= 0,4 mmol 0,18 mmol
= 0,22 mmol
Mol NaOH sisa penyabunan
Mol OH- yang bereaksi saat proses penyabunan
= Mol OH- awal Mol OH- sisa
= (50mL x 0,01M) 0,22 mmol
= 0,5 mmol 0,22mmol
= 0,28 mmol
Konsentrasi OH- yang bereaksi dengan etil asetat (x)
= Mol OH- yang bereaksi
Vcampuran
= 0,28 mmol
100 mL
= 0,0028 N
Ketetapan Laju Reaksi (k1)

a)

b)

c)

d)

e)

ln b (a-x)
a (b-x)
ln 0,01 (0,02-0,00280)
0,02 (0,01-0,00280)
ln 0,000172_
0,000144
0,1777
k1

k1 (a-b) t

k1 (0,02-0,01)N 2400s

k1 0,01 x 2400

=
=

k1

k1 24
0,1777
24
0,0074 mol-1 L s-1

Ketika t = 65menit
Diket : [NaOH] = 0,01 M
[HCl] = 0,02 M
t
= 3900s
VNaOH = 18,8 mL
a
= M etil asetat awal
b
= M NaOH
x
= konsentrasi OH- yang bereaksi
Jawab :
Mol OH- titrasi yang bereaksi dengan HCl sisa
= MNaOH x VNaOH
= 18,8mL x 0,01M
= 0,188mmol
Mol HCl sisa
Mol HCl yang bereaksi dengan OH- sisa penyabunan
= Mol HCl awal Mol HCl sisa
= (20mL x 0,02M) 0,188 mmol
= 0,4 mmol 0,188 mmol
= 0,212 mmol
Mol NaOH sisa penyabunan
Mol OH yang bereaksi saat proses penyabunan
= Mol OH- awal Mol OH- sisa
= (50mL x 0,01M) 0,212 mmol
= 0,5 mmol 0,212 mmol
= 0,288 mmol
Konsentrasi OH- yang bereaksi dengan etil asetat (x)
= Mol OH- yang bereaksi
Vcampuran
= 0,288 mmol
100 mL
= 0,00288 N
Ketetapan Laju Reaksi (k1)
ln b (a-x)
=
k1 (a-b) t
a (b-x)
ln 0,01 (0,02-0,00288) =
k1 (0,02-0,01)N 3900s
0,02 (0,01-0,00288)
ln 0,0001712
=
k1 0,01 x 3900
0,0001424

0,1842
k1

=
=

k1

k1 39
0,1842
39
0,0047 mol-1 L s-1

Berdasarkan perhitungan di atas di dapatkan data sebagai berikut :


a-x
t

k1

x (N)

15

0,092
5
0,035
7
0,0211

25

0,0117

40

0,007
4
0,004
7

0,0026
6
0,0027
2
0,0027
5
0,0027
8
0,0028
0
0,0028
8

65

a
(M)

b
(M)

0,02

0,01

0,02

0,01

0,02

0,01

0,02

0,01

0,02

0,01

0,02

0,01

0,0173
4
0,0172
8
0,0172
5
0,0172
2
0,0172
0
0,0171
2

ln(a-x)

ax
bx

ln
ax
bx

ln
1
2
(ax)

-4,0547

2,3624

0,8597

8,1094

-4,0582

2,3736

0,8644

8,1164

-4,0599

2,3793

0,8668

8,1199

-4,0617

2,3850

0,8692

8,1234

-4,0628

2,3888

0,8708

8,1257

-4,0675

2,4044

0,8773

8,1350

grafik orde satu


-4.05
-4.05

10

20

30

40

50

60

70

80

60

70

80

-4.06
-4.06

f(x) = - 0x - 4.06

-4.06
-4.06
-4.06
-4.07
-4.07
-4.07

grafik orde dua


0.88

f(x) = 0x + 0.86

0.88
0.87
0.87
0.86
0.86
0.85
10

20

30

40

50

grafik orde tiga


8.14

f(x) = 0x + 8.11

8.14
8.13
8.13
8.12
8.12
8.11
8.11
8.1
8.1
10

20

30

40

50

60

70

Percobaan yang dilakukan kali ini adalah Kinetika Saponifikasi Etil Asetat.
Perlakuan awal dari percobaan ini adalah dengan pencampuran NaOH 0,01 N yang
telah distandarisasi dengan asam oksalat 0,05 M dan etil asetat hasil pengenceran
yaitu 0,02 N. Agar dapat terjadi reaksi saponifikasi. Pencampuran larutan dilakukan
dengan suhu yang sama agar laju reaksi yang dihasilkan tidak mengalami perubahan
yang besar. Suhu termostat NaOH dan etil asetat adalah 65 oC. Adapun reaksi
pencampuran larutan yaitu :
CH3COOC2H5 (aq) + OH- (aq)
CH3COO- (aq) + C2H5OH (aq)
Kecepatan terbentuknya produk dari waktu pertama to ke tn berbeda. Semakin
lama waktu reaksi maka volume NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi semakin banyak
dikarenakan NaOH dalam campuran etil asetat dan NaOH yang semakin berkurang.
Sehingga NaOH sisa yang bereaksi dengan HCl semakin sedikit, itu artinya bahwa
HCl semakin banyak. Maka dari itu untuk menetralkan HCL diperlukan NaOH yang
semakin lama semakin banyak.

80

Konstanta kecepatan reaksi rata-rata yang didapat dari perhitungan ialah


0,06367 mol-1 L s-1. Reaksi saponifikasi merupakan reaksi orde dua yang dibuktikan
dengan harga konstanta kecepatan pada menit ke 3, 8, 15, 25, 40, dan 65 konstan
menurun. Adanya penurunan nilai konstanta kecepatan dikarenakan waktu berbanding
terbalik terhadap konstanta kecepatan. Semakin lama waktu yang dibutuhkan pada
reaksi maka hasil konsentrasi akan semakin kecil. Hal ini dapat dilihat dari tabel
diatas.
Pada penentuan orde reaksi penyabunan etil asetat, digunakan kurva untuk
membuktikan orde reaksi yang terjadi. Kurva yang digunakan pada penentuan orde
reaksi adalah kurva yang menunjukkan linearitas yang terbesar. Dari ketiga kurva
dapat dilihat bahwa pada pembuktian orde dua, kurva menunjukkan linearitas paling
tinggi. Hal ini membuktikan bahwa pada reaksi penyabunan etil asetat merupakan
reaksi orde dua selain dibuktikan dari penurunan nilai konstanta kecepatan.
Adapun kesalahan pada reaksi saponifikasi ini adalah penurunan jumlah
NaOH untuk titrasi saat setelah pemanasan. Kesalahan penurunan NaOH titran pada
sisa campuran yang dipanaskan terjadi karena pemanasan dilakukan dengan penangas
spirtus bukan dengan penangas air. Sehingga terdapat molekul-molekul yang
membuat NaOH yang tersisa menjadi lebih banyak. NaOH yang tersisa lebih banyak
maka yang bereaksi dengan HCl pun semakin sedikit. Maka dari itu saat titrasi
volume NaOH yang diperlukan untuk mentitrasi HCl semakin sedikit pula.

KESIMPULAN
Reaksi penyabunan etil asetet oleh ion hidroksida adalah reaksi orde dua yang dapat
dibuktikan dengan kurva dengan linearitas paling tinggi dan penurunan secara konstan
harga konstanta kecepatan dari to ke tn. Konstanta kecepatan reaksi saponifikasi etil
asetat rata-rata sebesar 0,02885 mol-1 L s-1.
VI.

JAWABAN PERTANYAAN
1. Kenyataan apakah yang membuktikan bahwa reaksi penyabunan etil
asetat ini adalah reaksi orde dua?
Kenyataan yang membuktikan bahwa reaksi penyabunan etil asetat ini
adalah reaksi orde dua dapat dilihat dari harga k1 (konstanta kecepatan) yang
secara konstan menurun (dikarenakan berbanding terbalik dengan waktu) dan
kurva orde dua yang paling linear dibanding dengan kurva orde satu dan orde
tiga.
2. Apakah perbedaan antara orde reaksi dengan kemolekulan reaksi?
- Orde reaksi adalah jumlah pangkat dari faktor konsentrasi dalam
hukum laju bentuk diferensial.
- Kemolekulan reaksi adalah jumlah spesi tahap penentu laju reaksi yang
merupakan suatu konsep teoritis yang dapat digunakan jika sudah
diketahui mekanisme reaksinya.

a. Apakah yang mempengaruhi kecepatan reaksi? Jelaskan!


- Luas Permukaan Sentuh
Apabila semakin kecil luas permukaan bidang sentuh, maka makin
kecil tumbukan yang terjadi antar partikel. Sehingga laju reaksi pun
semakin kecil, begitupun sebaliknya.
- Suhu
Bila suhu dinaikkan, partikel semakin aktif bergerak sehingga
tumbukan yang terjadi makin sering dan menyebabkan laju reaksi
makin besar. Hal ini juga berlaku sebaliknya saat suhu diturunkan.
- Katalis
Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau
memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan
yang dipicunya terhadap pereaksi.
- Molaritas
Makin besar molaritas suatu zat, maka semakin cepat suatu reaksi
berlangsung.
- Konsentrasi
Semakin tinggi konsentrasi maka makin banyak molekul reaktan
yang tersedia dengan demikian kemungkinan bertumbukan akna
semakin banyak sehingga kecepatan reaksi meningkat.
b. Apa yang dimaksud dengan konstanta kecepatan reaksi?
Konstanta kecepatan reaksi adalah kecepatan atau banyaknya reaksi
kimia yang berlangsung per satuan waktu.
VII.

DAFTAR PUSTAKA
Daniels et al. 1970. Experimental Physical Chemistry 7th Ed. New York: Mc Graw
Hill
Shoemaker et al. Experimental Physical Chemistry 3rd Ed. New York: Mc Graw Hill
Sumari dkk. 2003. Petunjuk Praktikum Kimia Fisika. Malang:UM
Tony Bird. 1987. Penuntun Praktikum untuk Universitas. Jakarta: PT Gramedia