Anda di halaman 1dari 9

RESUME

Materi Masa Bimbingan di Stroma II


Widi Sri Mulyani (1307220)

Materi

: Hubungan Interpersonal
Menurut Pearson (1983) manusia adalah makhluk sosial. Artinya kita tidak mungkin

menjalin hubungan dengan diri sendiri, kita selalu menjalin hubungan dengan orang lain.
Mencoba untuk mengenali dan memahami kebutuhan satu sama lain, membentuk interaksi,
serta berusaha mempertahankan interaksi tersebut.
Hubungan interpersonal (antarpribadi) adalah hubungan yang terdiri atas dua orang
atau lebih, yang memiliki ketergantungan satu sama lain dan menggunakan pola interaksi
yang konsisten. Ketika akan menjalin hubungan interpersonal, akan terdapat suatu proses dan
biasanya dimulai dengan interpersonal attraction.
Model Hubungan Interpersonal
1. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang.
Pada model ini, orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu
yang memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley dalam Jalaluddin Rakhmat (2011)
menyimpulkan model ini sebagai asumsi dasar bahwa setiap individu secara sukarela
memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup
memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya.
2. Model peranan (role model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara.
Disini setiap orang harus memainkan peranannya sesuai dengan naskah yang telah
dibuat oleh masyarakat.
3. Model permainan
Model ini berasal dari psikiater Erie Berne (19964, 1972). Analisisnya
kemudian dikenal sebagai analisis transaksional. Dalam model ini, orang-orang
berhubungan dalam bermacam-macam permainan. Mendasari permainan ini adalah
tiga bagian kepribadian manusia yaitu:

a. Orang tua (parent), adalah aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan
perilaku yang kita terima dari orang tua kita atau orang yang kita anggap orang
tua kita.
b. Orang dewasa (adult), adalah bagian kepribadian yang mengolah informasi
secara rasional.
c. Anak (child), adalah unsur kepribadian yang diambil dari perasaan dan
pengalaman kanak-kanak dan mengandung potensi intuisi, spontanitas,
kreativitas, dan kesenangan.
Contoh:

Suatu hari terdapat seorang suami yang sakit dan meminta perhatian

dari istrinya (kepribadian anak). Istri tersebut merawat sang suami seperti seorang ibu
(kepribadian orang tua). Namun, bila sang istri tidak menghiraukan dan menyuruh
sang suami untuk pergi ke dokter maka inilah kepribadian orang dewasa (kepribadian
anak dibalas dengan orang dewasa).
4. Model interaksional (interactional model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap
sistem memiliki sifat struktural, integratif, dan medan. Semua sistem, terdiri atas
subsistem-subsistem yang saling bergantung dan bertindak bersama sabagai satu
kesatuan. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode
komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan, serta permainan yang dilakukan.

(Sumber: Psikologi.or.id)

Materi: Dinamika Kelompok dan Kerjasama Tim


Pengenalan Diri

Diri merupakan inti dari keberadaan seseorang dengan sadar.

Konsep Diri (self concept) : Konsep yang dimiliki oleh individu atas dirinya sendiri
sebagai suatu makhluk fisik, sosial dan spiritual/moral. (Viktor Gecas)

Dengan memiliki Konsep Diri, maka anda mengenali diri anda sendiri sebagai
manusia yang berbeda.

Konsep Diri

Penghargaan Diri / Self Esteem : Evaluasi pribadi secara menyeluruh

Kemanjuran Diri / Self Efficacy : Kepercayaan terhadap kemampuan untuk


menjalankan tugas

Pemantauan Diri / Self Monitoring : Perilaku diri sendiri dan menyesuaikannya


dengan situasi.

Dinamika Kelompok
Kekuatan yang bekerja dalam kelompok, yang mempengaruhi hasil kerja kelompok
dan kepuasan anggotanya.
Unsur unsur :
Kegiatan, tindakan verbal maupun non verbal yang dilakukan
kelompok.
Interaksi, Komunikasi dan kontak antar pribadi yang terjadi
anggota kelompok.
Sentimen, Perasaan, sikap, keyakinan/nilai-nilai yang
kelompok.

oleh

anggota

di antara anggota-

dianut oleh

anggota

Membentuk Konsensus Kelompok

Hindari cara mempertahankan pendapat secara membabi buta

Jangan merubah pendapat hanya demi kesepakatan dan menghindari konflik

Hindari prosedur penyerangan konflik, seperti voting, lempar koin

Mencoba melibatkan semua orang dalam proses pengambilan keputusan

Jangan berasumsi bahwa seorang harus menang dan seorang harus kalah pada waktu
diskusi.

Kerjasama Tim

Definisi Tim (Team) :


Dua Orang atau lebih yang berinteraksi dan saling mempengaruhi ke arah tujuan
bersama.

Macam-macam tim

Tim Formal

Tim Komando, Komite, Gugus tugas/tim proyek

Tim Informal

Reference Group,

Membangun Kerjasama Tim

Untuk membangun sebuah tim yang dapat bekerjasama, dibutuhkan pemahaman


menyeluruh terhadap :
1. Karakteristik Tim
2. Tahap-tahap Perkembangan Tim
3. Cara-cara mengembangkan

Kekompakkan Tim

4. Faktor-faktor Penentu Efektivitas kerja


Karakteristik Tim
Cara / metode tim untuk mengembangkan :

Peran kepemimpinan

Norma

Kekompakkan

Tahap-tahap Perkembangan Tim

Pembentukkan

Konflik

Pemantapan Norma

Berprestasi

Pembubaran

Empat cara meningkatkan kekompakkan Tim

Memperkenalkan Persaingan

Tim

Meningkatkan ketertarikan antar pribadi

Meningkatkan interaksi

Menciptakan tujuan bersama dan rasa senasib

Membangun tim yang efektif

Sasaran Tim harus ditentukan dengan jelas

Kenali Faktor-faktor penentu efektivitas kerja

Fokuskan Tim Pada Prestasi kerja

Wewenang setiap anggota harus jelas

Pimpinan dipilih berdasarkan kemampuan dan ketrampilan dalam memimpin

Ciptakan kondisi yang baik dan disiplin terhadap tugas-tugas tim

Faktor-faktor penentu efektifitas tim

Faktor saling ketergantungan tugas


(Teknologi, Peraturan dan kedekatan antar anggota)

Faktor saling ketergantungan Hasil


(Imbalan, pengakuan, sistem Pengendalian)

Faktor Potensi
(Rencana strategis Organisasi, sejarah dan budaya)

Faktor Efektivitas tugas


(kriteria-kriteria tugas)
( Sumber : slideshare.com)

Materi : Peran dan Fungsi Mahasiswa dalam Masyarakat


Peran Mahasiswa
Mahasiswa dapat dikatakan sebuah komunitas unik yang berada di masyarakat, dengan
kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya, mahasiswa mampu berada sedikit di atas
masyarakat. Mahasiswa juga belum tercekcoki oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan,
ormas, parpol, dsb. Sehingga mahasiswa dapat dikatakan (seharusnya) memiliki idealisme.
Idealisme adalah suatu kebenaran yang diyakini murni dari pribadi seseorang dan tidak
dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dapat menggeser makna kebenaran tersebut.
Berdasarkan berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh mahasiswa, tidak
sepantasnyalah bila mahasiswa hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa
memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negaranya. Mahasiswa itu sudah bukan siswa
yang tugasnya hanya belajar, bukan pula rakyat, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki
tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari
masyarakat. Oleh karena itu perlu dirumuskan perihal peran, fungsi, dan posisi mahasiswa
untuk menentukan arah perjuangan dan kontribusi mahasiswa tersebut.
1. Agent Of Change( Generasi Perubahan )
Mahasiswa sebagai agen dari suatu perubahan.Artinya jika ada sesuatu
yang terjadi di lingkungan sekitar dan itu salah, mahasiswa dituntut untuk
merubahnya sesuai dengan harapan sesungguhnya. Dengan harapan bahwa suatu
hari mahasiswa dapat menggunakan disiplin ilmunya dalam membantu pembangunan
indonesia untuk menjadi lebih baik kedepannya.
Mahasiswa adalah salah satu harapan suatu bangsa agar bisa berubah ke arah
lebih baik.hal ini dikarenakan mahasiswa dianggap memiliki intelek yang cukup
bagus dan cara berpikir yang lebih matang, sehingga diharapkan mereka dapat
menjadi jembatan antara rakyat dengan pemerintah.
Hal-hal yang menunjang :

Kesadaran Sosial (kepekaan serta kesadaran tentang kehidupan


masyarakat, mengerti keadaan yang berkenaan dengan masyarakat,

perlu diadakan komunikasi)


Kematangan Berpikir (sudah dipikirkan (dipertimbangkan) baik-baik)
Sikap Intelektual

2. Social Control( Generasi Pengontrol )

Sebagai generasi pengontorol seorang mahasiswa diharapkan mampu


mengendalikan keadaan sosial yang ada di lingkungan sekitar.Jadi, selain pintar
dalam bidang akademis, mahasiswa juga harus pintar dalam bersosialisasi dan
memiliki kepekaan dengan lingkungan. Mahasiswa diupayakan agar mampu
mengkritik,memberi saran dan memberi solusi jika keadaan sosial bangsa sudah tidak
sesuai dengan cita-cita dan tujuan bangsa,memiliki kepekaan, kepedulian, dan
kontribusi nyata terhadap masyarakat sekitar tentang kondisi yang teraktual. Asumsi
yang kita harapkan dengan perubahan kondisi social masyarakat tentu akan berimbas
pada perubahan bangsa. Intinya mahasiswa diharapkan memiliki sense of belonging
yang tinggi sehingga mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat.
Tugas inilah yang dapat menjadikan dirinya sebagai harapan bangsa, yaitu menjadi
orang yang senantiasa mencarikan solusi berbagai problem yang sedang menyelimuti
mereka.
Hal-hal yang menunjang :

3.

Kemantapan Spiritual yang stabil, aman, teguh hati, tetap tidak berubah

yang berhubungan dengan kejiwaan (rohani/batin)


Integritas Pribadi
Ketauladanan

Iron Stock( Generasi Penerus )


Sebagai tulang punggung bangsa di masa depan, mahasiswa diharapkan
menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak
mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya di
pemerintahan kelak.Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan
bangsa untuk masa depan bangsa Indonesia . Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh
organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian
kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus
dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan
momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang
memiliki kesempatan.
Dalam hal ini mahasiswa diartikan sebagai cadangan masa depan. Pada saat
menjadi mahasiswa kita diberikan banyak pelajaran, pengalaman yang suatu saat nanti
akan kita pergunakan untuk membangun bangsa ini.

Hal-hal yang menunjang :

Kemandirian (bersifat keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung

pada orang lain)


Tanggung jawab pembelajaran diaman keadaan wajib menanggung
segala sesuatunya kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan,

diperkarakan, dsb
Penguasaan Iptek

4. Moral Force( Gerakan Moral )


Mahasiswa sebagai penjaga stabilitas lingkungan masyarakat, diwajibkan
untuk menjaga moral-moral yang ada. Bila di lingkungan sekitar terjadi hal-hal
yang menyimpamg dari norma yang ada, maka mahasiswa dituntut untuk merubah
dan meluruskan kembali sesuai dengan apa yang diharapkan. Mahasiswa sendiripun
harus punya moral yang baik agar bisa menjadi contoh bagi masyarakat dan juga
harus bisa merubah ke arah yang lebih baik jika moral bangsa sudah sangat buruk,
baik melalui kritik secara diplomatis ataupun aksi.
Hal-hal yang menunjang :

Mampu terjun dalam lingkungan apapun


Tanggung jawab (keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau

terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb)


Tanggap dan kritis (segera mengetahui keadaan dan memperhatikan
sungguh-sungguh,cepat dapat mengetahui dan menyadari gejala yg
timbul)

Fungsi Mahasiswa
Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M.Hatta yaitu membentuk
manusisa susila dan demokrat yang
1. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat
2. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan
3. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat
Berdasarkan pemikiran M.Hatta tersebut, dapat disederhanakan bahwa tugas
perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis, yang selanjutnya hal tersebut akan
menjadi sebuah fungsi bagi mahasiswa itu sendiri. Insan akademis itu sendiri memiliki dua
ciri yaitu : memiliki sense of crisis, dan selalu mengembangkan dirinya.

Insan akademis harus memiliki sense of crisis yaitu peka dan kritis terhadap masalah-masalah
yang terjadi di sekitarnya saat ini. Hal ini akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu
mengikuti watak ilmu, yaitu selalu mencari pembenaran-pembenaran ilmiah. Dengan
mengikuti watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai
masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi-solusi yang tepat untuk
menyelesaikannya.
Insan akademis harus selalu mengembangkan dirinya sehingga mereka bisa
menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Dalam hal insan akademis sebagai orang yang selalu mengikuti watak ilmu, ini juga
berhubungan dengan peran mahasiswa sebagai penjaga nilai, dimana mahasiswa harus
mencari nilai-nilai kebenaran itu sendiri, kemudian meneruskannya kepada masyarakat, dan
yang terpenting adalah menjaga nilai kebenaran tersebut.

(Sumber : catatanaktivismuda.co.id)