Anda di halaman 1dari 21

SUPERKONDUKTOR

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisika Zat Padat


Dosen Pengampu : Dr. Budi Astuti, M. Sc.

Disusun Oleh :
ELVIRA RIZQI WIDYANTI
RIZKA OCTA BOLITA
YUNI LESTIYANTI
SRI SUHARYANTI

(4211412067)
(42114120XX)
(4211412071)
(42114120XX)

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan berkah dan rahmat, sehingga kami
dapat menyelesaikan Makalah Superkonduktor dengan baik. Shalawat dan salam semoga
terlimpah kepada baginda tercinta Nabi Muhammad SAW.
Makalah mengenai Superkonduktor ini untuk memenuhi salah satu tugas dari
mata kuliah Fisika Zat Padat, dan sebagai sarana pengetahuan mengenai materi yang ada
pada perkuliahan Fisika Zat Padat
Kami juga mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. Budi Astuti, M.Sc. Dosen Fisika Zat Padat


2. Teman-teman yang telah membantu
kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena
itu kritik dan saran sangat dinantikan oleh kami. Demikian semoga bermanfaat bagi para
pembaca.

Semarang, 6 Juni 2015

Penyusun

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Fisika merupakan cabang ilmu sains yang paling mendasar. Fisika
mempelajari perilaku dan stuktur materi ilmu yang berhubungan dengan
penciptaan alam semseta serta interaksi yang terjadi di dalamnya. Pada abad ke 19,
fisika telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dampak perkembangan
fisika telah dapat kita rasakan yaitu berupa perkembangan teknologi mutakhir,
misalnya teknologi laser, semikonduktor, superkonduktor dan nuklir yang telah
membuat revolusi besar dalam sejarah kehidupan manusia.
Belakangan ini, superkonduktor menjadi topik pembicaraan dan penelitian
yang paling populer. Superkonduktor menjanjikan banyak hal bagi kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi manusia, misalnya transmisi listrik yang efisien yang
berarti tak ada lagi kehilangan energi atau energy yang terbuang menjadi kalor
selama transmisi. Memang saat ini penggunaan superkonduktor belum praktis,
dikarenakan masalah perlunya pendinginan atau dalam kata lain suhu kritis yang
dimiliki superkonduktor masih jauh di bawah suhu kamar. Namun selama kurun
waktu dari pertama kali superkonduktor ini ditemukan hingga sampai saat ini
sudah banyak peneliti yang mengembangkan dan meneliti bahan-bahan yang dapat
memiliki sifat superkonduktor seperti ditemukannya keramik yang bersifat
superkonduktor pada suhu 90 K pada Februari 1987. Selain itu juga ditemukan
suatu bahan yang memiliki rumus Hg0.8Tl0.2Ba2Ca2Cu3O8.33 yang memiliki suhu
tertinggi suatu bahan menjadi superkonduktor yaitu 138 K.

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

2. Rumusan Masalah
Makalah ini akan membahas mengenai superkonduktor dalam berbagai hal, yaitu:
a. Apa yang dimaksud dengan superkonduktor dan bagaimana sejarah
superkonduktor?
b. Bagaimana sifat superkonduktor?
c. Apa saja tipe dan kelompok superkonduktor?
d. Bagaimana manfaat dan aplikasi superkonduktor?

3. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:
a.
b.
c.
d.

Menjelaskan pengertian superkonduktor dan sejarah penemuannya


Mengetahui sifat-sifat superkonduktor
Mengetahui tipe-tipe dan kelompok superkonduktor
Mengetahui manfaat dan aplikasi superkonduktor

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian dan Sejarah Superkondukor
Ditinjau

dari

superkonduktor

terdiri

segi

bahasa,

dari

kata

super yang berarti luar biasa dan


konduktor yang berarti suatu bahan
yang dapat menghantarkan arus listrik.
Sehingga superkonduktor berarti suatu
bahan yang dapat mengahantarkan
arus listrik dengan sangat hebat atau maksudnya nilai hambatannya sama dengan
nol.
Pengertian superkonduktor adalah suatu material yang tidak memilki
hambatan dibawah suatu nilai suhu tertentu. Superkonduktor dapat berupa suatu
konduktor, semikonduktor maupun isolator pada keadaan ruang. Suhu dimana
terjadi perubahan sifat konduktivitas menjadi superkonduktor disebut dengan
temperatur kritis (Tc). Jika tahanan listrik ini nol maka arus yang dialirkan tidak
akan kehilangan energi, dengan kata lain efisiensi arus menjadi sangat tinggi. Hal
tersebut dapat terjadi jika temperatur bahan tersebut berada di bawah temperatur
kritis (Tc).
Superkonduktor pertama kali ditemukan oleh seorang fisikawan Belanda,
Heike Kamerlingh Onnes, dari Universitas Leiden pada tahun 1911. Pada tanggal 10
Juli 1908, Onnes berhasil mencairkan helium dengan cara mendinginkannya hingga
4 K atau -269oC. Kemudian pada tahun 1911, Onnes mulai mempelajari sifat-sifat
listrik dari logam pada suhu yang sangat dingin. Pada waktu itu telah diketahui
bahwa hambatan suatu logam akan turun ketika didinginkan dibawah suhu ruang,
akan tetapi belum ada yang dapat mengetahui berapa batas bawah hambatan yang
dicapai ketika temperatur logam mendekati 0 K atau nol mutlak.

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

Gb. Heike Kamerlingh Onnes


Beberapa

ahli

ilmuwan

pada

waktu

itu

seperti

William

Kelvin

memperkirakan bahwa elektron yang mengalir dalam konduktor akan berhenti


ketika suhu mencapai nol mutlak. Dilain pihak, ilmuwan yang lain termasuk Onnes
memperkirakan bahwa hambatan akan menghilang pada keadaan tersebut. Untuk
mengetahui yang sebenarnya terjadi, Onnes kemudian mengalirkan arus pada kawat
merkuri yang sangat murni dan kemudian mengukur hambatannya sambil
menurunkan suhunya. Pada suhu 4.2 K, Onnes terkejut ketika mendapatkan bahwa
hambatannya tiba-tiba menjadi hilang. Arus mengalir melalui kawat merkuri terus
menerus. Kurva hasil pengamatan Onnes digambarkan sebagai berikut:

Grafik hubungan temperatur dan hambatan hasil pengamatan pada merkuri


Dengan tidak adanya hambatan, maka arus dapat mengalir tanpa kehilangan energi.
Percobaan Onnes dengan mengalirkan arus pada suatu kumparan superkonduktor
dalam suatu rangkaian tertutup dan kemudian mencabut sumber arusnya lalu
mengukur arusnya satu tahun kemudian ternyata arus masih tetap mengalir.

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

Fenomena ini kemudian oleh Onnes diberi nama superkondutivitas.


Superkonduktivitas adalah sebuah fenomena yang terjadi dalam beberapa
material pada suhu rendah, dicirikan dengan ketiadaan hambatan listrik dan
dampin dari medan magnetik interior (Efek Meissner). Superkonduktivitas
merupakan sebuah fenomena mekanika-kuantum yang berbeda dari konduktivtas
sempurna. Superkonduktivitas terjadi diberbagai macam material, termasuk unsur
sederhana seperti Timah dan Alumunium, beberapa Logam Alloy, beberapa
semikonduktor di-dop-berat, dan beberapa compound keramik berisi bidang atom
Tembaga dan Oksigen. Kelas compound yang terakhir, dikenal sebagai kuprat
(superkonduktor suhu-tinggi).
Penemuan lainnya yang berkaitan dengan superkonduktor terjadi pada tahun
1933. Walter Meissner dan Robert Ochsenfeld menemukan bahwa suatu
superkonduktor akan menolak medan magnet. Sebagaimana diketahui, apabila suatu
konduktor digerakkan dalam medan magnet, suatu arus induksi akan mengalir dalam
konduktor tersebut. Prinsip inilah yang kemudian diterapkan dalam generator. Akan
tetapi, dalam superkonduktor arus yang dihasilkan tepat berlawanan dengan medan
tersebut sehingga medan tersebut tidak dapat menembus material superkonduktor
tersebut. Hal ini akan menyebabkan magnet tersebut ditolak. Fenomena ini dikenal
dengan istilah diamagnetisme dan efek ini kemudian dikenal dengan efek Meissner.
Efek Meissner ini sedemikian kuatnya sehingga sebuah magnet dapat melayang
karena ditolak oleh superkonduktor. Medan magnet ini juga tidak boleh terlalu besar.
Apabila medan magnetnya terlalu besar, maka efek Meissner ini akan hilang dan
material akan kehilangan sifat superkonduktivitasnya.

Gb. Walter Meissner dan Robert Ochsenfeld


Dengan berlalunya waktu, ditemukan juga superkonduktor-superkonduktor
lainnya. Selain merkuri, ternyata beberapa unsur-unsur lainnya juga menunjukkan

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

sifat superkonduktor dengan harga Tc yang berbeda. Sebagai contoh, karbon juga
bersifat superkonduktor dengan Tc 15 K. Hal yang ironis adalah logam emas,
tembaga dan perak yang merupakan logam konduktor terbaik bukanlah suatu
superkonduktor.
Pada tahun 1986 terjadi sebuah terobosan baru di bidang superkonduktivitas.
Alex Mller and Georg Bednorz, peneliti di Laboratorium Riset IBM di Rschlikon,
Switzerland berhasil membuat suatu keramik yang terdiri dari unsur Lanthanum,
Barium, Tembaga, dan Oksigen yang bersifat superkonduktor pada suhu tertinggi
pada waktu itu, 30 K. Penemuan ini menjadi spektakuler karena keramik selama ini
dikenal sebagai isolator. Keramik tidak menghantarkan listrik sama sekali pada suhu
ruang. Penemuan ini dipublikasikan di Jerman dalam jurnal Zeitschrift for Physik,
September 1986.
Penemuan demi penemuan dibidang superkonduktor kini masih saja
dilakukan oleh para peneliti di dunia. Penemuan lainnya yang juga fenomenal adalah
berhasil disintesanya suatu bahan organik yang bersifat superkonduktor oleh Peneliti
Danish yaitu Klaus Bechgaard dari Universitas Copenhagen beserta anggota tim
Perancis D. Jerome, A. Mazaud, and M. Ribault, yaitu (TMTSF) 2PF6. Titik kritis
senyawa organik ini masih sangat rendah yaitu 1,2 K.
Pada tahun 1987, Paul C. W. Chu dari Universitas Houston berhasil membuat
bahan superkonduktor dengan Tc 93K. Bahan tersebut disusun oleh yttrium, barium,
tembaga dan oksigen dengan rumus molekul YBa2Cu3O7-x. Pada bulan Februari
1987, ditemukan suatu keramik yang bersifat superkonduktor pada suhu 90 K.
Penemuan ini menjadi penting karena dengan demikian dapat digunakan nitrogen
cair sebagai pendinginnya. Karena suhunya cukup tinggi dibandingkan dengan
material superkonduktor yang lain, maka material-material tersebut diberi nama
superkonduktor suhu tinggi.
Setahun kemudian Paul Chu membuat superkonduktor dengan Tc yang lebih
besar, 120K. Tersusun dari unsur bismuth, stronsium, kalsium, tembaga dan oksigen.
Para ahli terus berusaha meneliti berbagai material agar diperoleh superkonduktor
temperatur kamar. Suhu tertinggi suatu bahan menjadi superkonduktor hingga saat
ini

adalah

138

K,

yaitu

untuk

suatu

bahan

yang

memiliki

rumus

Hg0.8Tl0.2Ba2Ca2Cu3O8.33.
Pada tahun 2003 tiga orang ilmuwan diberi Nobel Fisika yakni Alexei

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

abrikosov, Anthony legget dan Vitally Ginzburg, akibat temuan mereka mengenai
perkembangan teori superkonduktor. Mereka menemukan aplikasi superkonduktor,
yakni sebuah alat pencitra/pendiagnosa yang disebut Magnetic Resonance Imaging /
MRI.
Indonesia juga telah bisa membuat superkonduktor, salah satunya di
Laboratorium

Fisika

Material,

Superkonduktor

dan

Organik

Terkonjugasi

(FISMOTS) di jurusan fisika ITB. Bahan yang digunakan berbentuk keramik.

2.

Unsur
Ti
Zn
AI
TI
In
Sn
Hg
Ta
V
Pb
Nb
Tc
Th
U

Tc( K )
0,49
0,82
1,20
2,38
3,40
3,73
4,16
4,39
5,1
7,22
8,00
11,2
1,3
0,68

senyawa
Na Bi
Ba Ba3
Nb2 Zn
Mo N
Mo Re
V2,95 Ga
Nb N
V3 Si
Nb3AI
Nb3Sn

Tc (K)
2,2
6,0
10,8
12,0
12,6
14,4
15,2
17,1
18,0
18,1

Cu S
Pb Sb

1,6
1,5

Tabel Suhu kritis (Tc)


beberapa bahan
superkonduktor

Sifat-sifat Superkondukor
1. Sifat
kelistrikan
superkonduktor
Sebelum
menjelaskan

prinsip

superkonduktor, akan lebih baik jikaterlebih dahulu menjelaskan bagaimana kerja


logam konduktor padaumumnya. Bahan logam tersusun dari kisi-kisi dan basis
serta electron bebas. Ketika medan listrik diberikan pada bahan, elektron
akanmendapat percepatan. Medan listrik akan menghamburkan elektron kesegala
arah dan menumbuk atom-atom pada kisi. Hal ini menyebabkanadanya hambatan
listrik pada logam konduktor.

Gambar 2. Keadaan normal Atom Kisi pada logam

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

Pada bahan superkonduktor terjadi juga interaksi antara electrondengan inti atom.
Namun elektron dapat melewati inti tanpa mengalami hambatan dari atom kisi.
Efek ini dapat dijelaskan oleh Teori BCS. Ketika elektron melewati kisi, inti yang
bermuatan positif menarik elektron yang bermuatan negatif dan mengakibatkan
elektron bergetar.

Gambar 3. Keadaan Superkonduktor Atom Kisi pada logam

Jika ada dua buah elektron yang melewati kisi, elektron kedua akan
mendekati elektron pertama karena gaya tarik dari inti atom-atom kisi lebih besar.
Gaya ini melebihi gaya tolak-menolak antar electron sehingga kedua elektron
bergerak berpasangan.
Pasangan ini disebut Cooper Pairs. Efek ini dapat dijelaskan dengan istilah
Phonons. Ketika elektron pertama pada Cooper Pairs melewati inti atom kisi.
Elektron yang mendekati inti atom kisi akanbergetar dan memancarkan Phonon.
Sedangkan elektron lainnya

menyerap

Phonon.

Pertukaran

Phonon

ini

mengakibatkan gaya tarik menarik antar elektron. Pasangan elektron ini akan
melalu kisi tanpa gangguan dengan kata lain tanpa hambatan.
2. Teori BCS
Pada tahun 1957, dikembangkan teori yang lebih mendasar untuk menjelaskan
superkonduktivitas. Teori ini disebut Teori BCS, dinamakan sesuai nama belakang
tiga penciptanya yaitu John Bardeen, Leon Cooper dan John Schrieffer. Teori BCS
dapat menjelaskan fenomena superkonduktivitas secara detail.

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

Gb. Keadaan superkonduktor atom kisi pada logam


Penjelasan teori BCS yaitu sebagai berikut:
a. Interaksi tarik-menarik antara electron dapat menyebabkan keadaan dasar
terpisah dengan keadaan tereksitasi oleh energy gap.
b. Interaksi antar electron-elektron dan kisi menyebabkan adanya energy gap
diamati. Mekanisme interaksi yang tidak langsung ini terjadi jika satu
electron berinteraksi dengan kisi dan merusaknya. Electron kedua
memanfaatkan keuntungan dari deformasi kisi. Kedua electron ini
berorientasi melalui deformasi kisi.
3. Sifat kemagnetan superkonduktor
Sifat lain dari superkonduktor yaitu bersifat diamagnetisme sempurna. Jika
sebuah superkonduktor ditempatkan pada medan magnet, maka tidak akan ada
medan magnet dalam superkonduktor. Hal ini terjadi karena superkonduktor
menghasilkan medan magnet dalam bahan yang berlawanan arah dengan medan
magnet luar yang diberikan. Efek yang sama dapat diamati jika medan magnet
diberikan pada bahan dalam suhu normal kemudian didinginkan sampai menjadi
superkonduktor. Pada suhu kritis, medan magnet akan ditolak. Efek ini dinamakan
Efek Meissner.
4. Efek Meissner
Ketika superkonduktor ditempatkan di medan magnet luar yang lemah, medan
magnet akan menembus superkonduktor pada jarak yang sangat kecil dan
dinamakan London Penetration Depth. Pada bahan superkonduktor umumnya
London Penetration Depth sekitar 100 nm. Setelah itu medan magnet bernilai nol.

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

Peristiwa ini dinamakan Efek Meissner dan merupakan karakteristik dari


superkonduktor. Efek
Meissner adalah efek dimana superkonduktor menghasilkan medan magnet.
Efek Meissner ini sangat kuat sehingga sebuah magnet dapat melayang karena
ditolak oleh superkonduktor. Medan magnet ini juga tidak boleh terlalu besar.
Apabila medan magnetnya terlalu besar, maka efek Meissner ini akan hilang dan
material akan kehilangan sifat superkonduktivitasnya.

Gb. Efek Meissner

Gb. London Penetration Depth


5. Suhu dan Medan Magnet Kritis
Suhu kritis adalah suhu yang membatasi antara sifat konduktor dan
superkonduktor. Jika suhu suatu bahan dinaikan, maka getaran electron akan
bertambah sehingga banyak Phonons yang dipancarkan. Ketika mencapai suhu
kritis tertentu, maka Phonons akan memecahkan Cooper Pairs dan bahan kembali
ke keadaan normal.
Medan magnet kritis adalah batas kuatnya medan magnet sehingga bahan

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

superkonduktor memiliki medan magnet. Jika medan magnet yang diberikan pada
bahan superkonduktor, maka bahan superkonduktor tak akan mengalami efek
meissner lagi.
Contoh grafik Hambatan terhadap suhu pada bahan YBa2Cu3O7 sebagai
berikut.

Grafik Hambatan terhadap Suhu


3. Tipe-tipe dan Kelompok Superkonduktor
a. Tipe Superkondukor
Berdasarkan interaksi dengan medan magnetnya, maka superkonduktor dapat
dibagi menjadi dua tipe yaitu Superkonduktor Tipe I dan Superkonduktor Tipe II.
1. Superkonduktor Tipe I
Superkonduktor tipe I menurut teori BCS (Bardeen, Cooper, dan
Schrieffer) dijelaskan dengan menggunakan pasangan elektron (yang sering
disebut pasangan Cooper). Pasangan elektron bergerak sepanjang terowongan
penarik yang dibentuk ion-ion logam yang bermuatan positif. Akibat dari
adanya pembentukan pasangan dan tarikan ini arus listrik akan bergerak
dengan merata dan superkonduktivitas akan terjadi. Superkonduktor yang
berkelakuan seperti ini disebut superkonduktor jenis pertama yang secara fisik
ditandai dengan efek Meissner, yakni gejala penolakan medan magnet luar
(asalkan kuat medannya tidak terlalu tinggi) oleh superkonduktor.
Bila kuat medan melebihi batas kritis, gejala superkonduktivitasnya akan
menghilang. Maka pada superkonduktor tipe I akan terus-menerus menolak
medan magnet yang diberikan hingga mencapai medan magnet kritis

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

(Kusmahetiningsih, 2011).

Grafik magnetisasi terhadap medan magnet


Berikut merupakan nama-nama superkonduktor tipe I:
Timbal (Pb) menjadi superkonduktor di suhu 7,196 K
Lantanum (La) menjadi superkonduktor di suhu 4,88 K
Taltalum (Ta) menjadi superkonduktor di suhu 4,47 K
Air raksa (Hg) menjadi superkonduktor di suhu 4,15 K
Timah (Sn) menjadi superkonduktor di suhu 3,72 K
Indium (In) menjadi superkonduktor di suhu 3,41 K
Paladium (Pd) menjadi superkonduktor di suhu 3,3 K
Krom (Cr) menjadi superkonduktor di suhu 3 K
Aluminium (Al) menjadi superkonduktor di suhu 1,175 K
Seng (Zn) menjadi superkonduktor di suhu 0,85 K
Platina (Pt) menjadi superkonduktor di suhu 0,0019 K
2. Superkonduktivitas Tipe II
Superkonduktor tipe II ini tidak dapat dijelaskan dengan teori BCS karena
apabila superkonduktor jenis II ini dijelaskan dengan teori BCS, efek Meissner
nya tidak terjadi. Abrisokov berhasil memformulasikan teori baru untuk
menjelaskan superkonduktor jenis II ini. Ia mendasarkan teorinya pada
kerapatan pasangan elektron yang dinyatakan dalamparameter keteraturan

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

fungsi gelombang.Abrisokov dapat menunjukkan bahwa parameter tersebut


dapat mendeskripsikan pusaran (vortices) dan bagaimana medan magnet dapat
memenetrasi bahan sepanjang terowongan dalam pusaran-pusaran ini. Lebih
lanjut ia pun dengan secara mendetail dapat memprediksikan jumlah pusaran
yang tumbuh seiring meningkatnya medan magnet. Teori ini merupakan
terobosan dan masih digunakan dalam pengembangan dan analisis
superkonduktor dan magnet. Superkonduktor tipe II akan menolak medan
magnet yang diberikan. Namun perubahan sifat kemagnetan tidak tiba-tiba
tetapi secara bertahap. Pada suhu kritis, maka bahan akan kembali ke keadaan
semula. Superkonduktor Tipe II memiliki suhu kritis yang lebih tinggi dari
superkonduktor tipe I.

Grafik Magnetisasi dalam medan magnet


Superkonduktor tipe II mempunyai dua nilai medan magnet kritis, Bc1 (di
bawah) dan Bc2 (di atas). Selain itu, superkonduktor tipe II memiliki tiga keadaan
seperti ditunjukkan pada Gambar 1.
Meissener State

Mixed State

Normal State

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

B< Bc1

Bc 1< B < Bc2

B >Bc2

Keadaan bahan superkonduktor tipe II berdasarkan Gambar 1, ketika


B<Bc1 bahan superkonduktor tipe II berada dalam keadaan Meissner, yaitu fluks
magnetik ditolak sempurna hingga medan magnet kritis dengan resistivitas ()
adalah nol dan induksi magnetik (B) adalah nol. Selain itu ketika Bc1 <B<Bc2
maka superkonduktor berada dalam keadaan campuran (mixed state), yaitu
sebagian fluks magnetik menerobos spesimen superkonduktor. Ketika B >Bc2
bahan superkonduktor berada dalam keadaan normal, yaitu fluks magnetik dapat
menembus bahan superkonduktor seluruhnya ( 0 dan B 0) (Cyrot & Pavuna,
1992).
Pada keadaan campuran, fluks magnet yang menerobos superkonduktor
terkuantisasi berbentuk seperti barisan tabung-tabung kecil. Tiap tabung yang biasa
disebut vortex tersebut membawa fluks magnet sebesar :
0=

Dimana h =

h 2
=
2,067 1015 weber
2e
e

2 dan e menunjukkan konstanta Planck dan muatan electron.

(CyrotdanPavuna, 1992; Tinkham, 1996; BuckeldanKleiner, 2004)

Berikut merupakan nama-nama superkonduktor tipe II:


(Sn5In)Ba4Ca2Cu11Oy menjadi superkonduktor di suhu 218 K
(Sn5In)Ba4Ca2Cu10Oy menjadi superkonduktor di suhu 212 K
Sn5Ba4Ca2Cu11Oy menjadi superkonduktor di suhu 200 K
b. Kelompok Superkonduktor
Berdasarkan nilai suhu kritisnya, superkonduktor dibagi menjadi 2 kelompok,

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

yaitu:
1. Superkonduktor bersuhu kritis rendah
Superkonduktor suhu rendah merupakan superkonduktor yang memiliki
suhu kritis di bawah suhu nitrogen cair (77 K). Sehingga untuk memunculkan
superkonduktivitasnya, material tersebut menggunakan helium cair sebagai
pendingin (Windartun, 2008). Superkonduktor jenis ini sudah ditinggalkan
karena biaya yang mahal untuk mendinginkan bahan.
Adapun contoh dari superkonduktor suhu rendah adalah Hg (4,2 K), Pb
(7,2 K), niobium nitride (16 K), niobium-3-timah (18,1 K), Al0,8Ge0,2Nb3
(20,7 K), niobium germanium (23,2 K), dan lanthanum barium tembaga
oksida (28 K) (Pikatan, 1989).
2.

Superkonduktor bersuhu kritis tinggi


Superkonduktor yang memiliki suhu kritis di atas suhu nitrogen cair (77 K)
sehingga sebagai pendinginnya dapat digunakan nitrogen cair (Windartun,
2008).Superkonduktor jenis ini merupakan bahan yang sedang dikembangkan
sehingga diharapkan memperoleh superkonduktor pada suhu kamar sehingga
lebih ekonomis.
Pada tahun 1987, kelompok peneliti di Alabama dan Houston yang
dikoordinasi oleh K.Wu dan P. Chu, menemukan superkonduktor YBa 2Cu3O7dengan Tc = 92 K. Ini adalah suatu penemuan yang penting karena untuk

pertama kali didapat superkonduktor dengan suhu kritis di atas suhu nitrogen
cair, yang harganya jauh lebih murah daripada helium cair. Pada awal tahun
1988, ditemukan superkonduktor oksidaBi-Sr-Ca-Cu-O dan Tl-Ba-Ca-Cu-O
berturut-turut dengan Tc = 110 K dan 125 K (Sukirman dkk., 2003
4. Manfaat dan Aplikasi Superkonduktor
a. Bidang Komputer
Kemajuan teknologi dan mikroposesor dimotori oleh kemajuan miniaturisasi dan
kecepata pemrosesan. Dalam suatu chip computer, yang besarnya sangat kecil atau
tidak lebih dari ukur lubang jarum, terdapat jutaan komponen aktif yang bila
diuraikan lagi akan menjadi jutaan switch yang biasanya dibuat dari bahan metal
film ataupun emas. Efisiensi dan efektivitas makin ditingkatkan dengan membuat
switch dari bahan-bahan superkonduktor. Hal yang sama terjadi juga dalam
pembuatan sel-sel memori computer. Keunggulan superkonduktor disbanding

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

material-material lainnya menyebabkan perkembangan teknologi computer dan


mikroprosesor makin cepat. Aplikasi dari superkonduktor dalam teknologi
computer biasa disebut dengan istilah cryotrons.
b. Bidang Fisika
Kemajuan superkonduktor di bidang fisik juga pesat, salah satunya yaitu pada
fusilaser. Teknologi kriogenik telah menjadi suatu hal yang tidak dapat dipisahkan
dalam proses fusilaser, yaitu proses penghasil energy di masa yang akan datang.
Dalam proses tersebut suatu energy dalam jumlah yang sangat besar akan
dihasilkan sebagai akibat reaksi fusi antara isotop hydrogen. Kontruksi reactor
tempat

reaksi

berlangsung

sebagian

besar

dibangun

dengan

teknologi

superkonduktor.
c. Dalam Kehidupan
1. Kabel Listrik
Dengan menggunakan bahan superkonduktor, maka energy listrik tidak akan
mengalami disipasi karena hambatan pada bahan superkonduktor bernilai nol.
Maka penggunaan energy listrik akan semakin hemat.
2. Magnetometer
Aplikasi lainnya dari sambungan Josephson adalah magnetometer yang
disebut SQUID (Superconducting Quantum Interference Device). Operasinya
didasarkan pada sifat yang disebutkan sebelumnya bahwa arus super maksimum
melalui dua sambungan paralel tergantung pada fuk magnetik yang
melingkupinya. Hal ini mengikuti periode komplit pada Imax sedangkan
berubah dari 0 (nol) sampai emudian jika dapat katakan untuk arus super

mempunyai akurasi 10 %, dan kita dapat mengambil area loop 1 cm 2, medan


magnet yang paling kecil dapat diukuradalah 10-11 tesla.hasil terbaik yang
dicapai laboaratorium adalah kira-kira 10-7 tesla. Alt-alat yang tersedia secara
komersil (bekerja secara kasar tapi prinsipnya sama) dapat memberi sensitivitas
kira-kira 10-6 tesla dengan konstanta waktu 1 sekon, dan itu merupakan
magnetometer yang paling sensitif.
Penerapaan yang nyata dari magnetometer adalah pada kapal selam yang
mana dapat mendeteksi kekacauan yang kecil dari medan magnet bumi,
sehingga dapat mengetahui letak dari kapal tersebut. Selain itu juga dapat
diterapkan pada bidang arkeologi. Dalam bidang tersebut dapat mengukur arah

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

medan magnet dan sudut dip dari beberapa batuan, sehingga dapat mengetahui
tempat asli batuan itu. Biasanya digunakan oleh museum-museum arkeologi.
3. Metrologi
Dapat dilakukan untuk menentukan salah satu konstantan fundamental
(seperti kecepatan cahaya) dengan bantuan laser. Kehadiran dari sambungan
Josephson mungkin digunakan untuk menentukan konstanta fundamental yang
lain. Dengan mengukur tegangan yang melalui sambungan dan frekuensi radiasi
h mungkin dapat ditentukan konstanta tersebut. Sebagai hasil, didapatkan nilai
konstanta planck yang akhir-akhir ini dari 6,62559 x 10-34 Js diganti dengan
6,62696 x 10-34 Js
4. Sistem Suspensi dan Motor
Sistem suspensi yang sedikit gesekan mungkin disadari dengan interaksi
antara fluk magnet yang dihasilkan secara eksternal dengan arus yang mengalir
dalam superkonduktor. Jika superkonduktor ditekan ke bawah, ia akan mencoba
mengeluarkan medan magnet karenanya medan magnet itu berhenti ditekan, dan
gaya yang dikeluarkan diperkuat. Selanjutnya tidak ada sesuatu yang tidak
mungkin untuk menyampaikan rotasi kecepatan tinggi untuk ditutup body
superkonduksi pada motor bebas resistansi. Sehingga pada motor tersebut
mempunyai efesiensi yang mendekati 100
5. Detektor Radiasi
Operasi alat ini didasarkan pada panas yang disediakan oleh radiasi yang
datang. Superkonduktor menjaga di atas temperatur kritisnya, dimana resistansi
berubah secara cepat dengan fungsi temperatur. Perubahan resistansi kemudian
dikalibrasi sebagai perubahan radisasi yang datang.
6. Katup Panas
Konduktivitas superkonduktor boleh meningkat kira-kira dua kali besaran,
ketika dibuat normal oleh medan magnet. Fenomena ini digunakan dalam katup
panas di laboratorium sistem pendingin yang didesain untuk menjaga
temperatur di bawah 0,3 K
7. Alat Transportasi
Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

Penggunaan superkonduktor dalam bidang transportasi adalah kereta listrik


super cepat yang dikenal dengan sebutan Magnetik Levitation (MAGLEV).

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Superkonduktor adalah suatu material yang tidak memilki hambatan dibawah suatu
nilai suhu tertentu. Superkonduktor dapat berupa suatu konduktor, semikonduktor
maupun isolator pada keadaan ruang. Suhu dimana terjadi perubahan sifat
konduktivitas menjadi superkonduktor disebut dengan temperatur kritis (Tc).
Superkonduktor pertama kali ditemukan oleh seorang fisikawan Belanda, Heike
Kamerlingh Onnes, dari Universitas Leiden pada tahun 1911.
Tipe superkonduktor ada dua yaitu Superkonduktor tipe I dan Superkonduktor tipe
II yang memiliki suhu kritis lebih tinggi dibanding superkonduktor tipe I.
Kelompok superkonduktor dibagi menjadi dua yaitu superkonduktor suhu kritis
rendah yaitu kurang dari 23 K dan super kondutor suhu kritis tinggi yaitu lebih dari
78K.
Aplikasi superkonduktor yaitu dalam bidang computer disebut cryotrons, dalam
bidang fisika yaitu fusilaser dan dalam kehidupan yaitu digunakan untuk kabel
listrik dengan hambatan nol serta alat transportasi yaitu kereta super cepat
MAGLEV dan mobil dengan kecepatan 5000 daya kuda, dll.

Fisika Zat Padat {Superkonduktor} Fisika-Unnes 2015