Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut data epidemiologi pada orang dewasa insiden fraktur
klavicula sekitar 40 kasus dari 100.000 orang, dengan perbandingan lakilaki perempuan adalah 2 : 1. Fraktur pada midhumerus yang paling sering
terjadi yaitu sekitar 85% dari semua fraktur humerus, sementara fraktur
bagian distal sekitar 10% dan bagian proximal sekitar 5%. Sekitar 2%
sampai 5% dari semua jenis fraktur merupakan fraktur humerus (Anonim,
2011).
Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeon, frekuensi
fraktur humerus sekitar 1 kasus dari 1000 orang dalam satu tahun.Fraktur
klavicula juga merupakan kasus trauma pada kasus obstetrik dengan
prevalensi 1 kasus dari 213 kasus kelahiran anak yang hidup (Anonim,
2011).
Trauma lahir merupakan perlukaan pada bayi baru lahir yang terjadi
dalam proses persalinan atau kelahiran bayi. Luka yang terjadi pada waktu
melakukan amniosintesis, transfuse intrauterine, akibat pengambilan darah
vena kulit kepala fetus, dan luka yang terjadi pada waktu melakukan
resusitasi aktif tidak termasuk dalam pengertian perlukaan kelahiran atau
trauma lahir. Pengertian perlukaan kelahiran sendiri dapat berarti luas,
yaitu sebagai trauma mekanis atau sering disebut trauma lahir dan trauma
hipoksik yang disebut sebagai asfiksia. Trauma lahir mungkin masih dapat
dihindari atau dicegah, tetapi ada kalanya keadaan ini sukar untuk dicegah
lagi sekalipun telah ditangani oleh seorang ahli terlatih.
Angka kejadian trauma lahir pada beberapa tahun terakhir ini
menunjukkan kecenderungan menurun. Hal ini disebabkan adanya
kemajuan dalam bidang obstetric, khususnya pertimbangan tindakan
seksio sesaria atas indikasi adanya kemungkinan keuslitam melahirkan
bayi. Cara kelahiran bayi sangat erat hubungannya dengan angka kejadian
trauma lahir. Angka kejadian trauma lahir yang mempunyai arti secara
klinis berkisar antara 2 sampai 7 per seribu kelahiran hidup. Beberapa
1

factor resiko yang dapat menaikkan angka kejadian trauma lahir antara
lain adalah makrosomia, malpresentasi, presentasi ganda, disporposi
sefalo-pelvik, kelahiran dengan tindakan, persalinan lama, bayi kurang
bulan, distosia bahu, dan akhirnya factor manusia penolong persalinan.
Lokasi atau tempat trauma lahir sangat erat hubungannya dengan cara
lahur bayi tersebut atau fantom yang dilakukan penolong persalinan waktu
melahirkan bayi. Dengan demikian cara lahir tertentu umumnya
mempunyai predisposisi lokasi trauma lahir tertentu pula. Secara klinis
trauma lahir dapat bersifat laten yang dapat meninggalkan gejala sisa.
Fraktur tulang humerus adalah salah satu trauma lahir yang dapat
terjadi pada bayi baru lahir, walaupun angka kejadiannya sedikit. Bidan
harus mengetahui tanda-tanda dari trauma ini, sebagai deteksi dini trauma
pada bayi baru lahir.
B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa definisi flaktur humerus ?


Apa patofisiologi flaktur humerus ?
Apa etiologi flaktur humerus ?
Apa klasifikasi flaktur humerus ?
Apa tanda-tanda flaktur humerus ?
Apa penataksanaan flaktur humerus ?
Apa komplikasi flaktur humerus ?

C. Tujuan
Setelah membaca makalah ini, diharapkan mahasiswa dapat
mengetahui materi flaktur humerus dan dapat memberikan asuhan
kebidanan pada bayi atu neonatus yang mengalami flaktur humerus.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, Arif, 2000). Fraktur adalah
rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang
datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang (Linda Juall C,

1999). Fraktur humerus yaitu diskontinuitas atau hilangnya struktur dari


tulang humerus (Mansjoer, Arif, 2000).
Fraktur humerus adalah fraktur pada tulang humerus yang disebabkan
oleh benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung
(Sjamsuhidayat, 2004). Fraktur humerus adalah kelainan yang terjadi pada
kesalahan teknik dalam melahirkan lengan pada presentasi puncak kepala
atau letak sungsang dengan lengan membumbung keatas. Pada keadaan ini
biasanya sisi yang terkena tidak dapat digerakkan dan refleks Moro pada
sisi tersebut menghilang.
Fraktur humerus adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang raan sendi,
tulang rawan sendi, tulang rawan epifiseal baik yang bersifat total maupun
parsial pada tulang humerus. Flaktur humerus proksimal biasa terjadi pada
anak karena jatuh kebelakang dengan posisi siku ekstensi. Kerusakan
neurovaskuler jarang terjadi.
Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak
sungsang dengan tangan menjungkit ke atas. Kesukaran melahirkan tangan
yang menjungkit merupakan penyebab terjadinya tulang humerus yang
fraktur. Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula ditemukan fraktur ini,
jika ditemukan ada tekanan keras dan langsung pada tulang humerus oleh
tulang pelvis. Jenis frakturnya berupa greenstick atau fraktur total.
Humerus atau tulang lengan atas adalah tulang panjang pada lengan
yang terletak antara bahu dan siku. Pada sistem rangka terletak diantara
skapula (tulang belikat) dan radius-ulna (tulang pengumpil-hasta). Secara
anatomis tulang hemurus dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: bagian
atas humerus, badan humerus (corpus humerus), dan bagian bawah
humerus. Kepala bonggol humerus (caput humerus) bersendi dengan
cavitas glenoidales dari skapula. Penyambungan ini dikenal dengan sendi
bahu yang memiliki jangkauan gerak yang luas. Pada persendian ini

terdapat dua bursa yaitu bursa subacromialis dan bursa subscapularis.


Bursa subacromialis membatasi otot supraspinatum dan otot deltoideus.
Bursa subscapularis memisahkan fossa subscapularis dari tendon otot
subscapularis.
Kestabilan sendi humerus dibantu oleh otot rottator cuff. Pada bagian
siku terdapat persendian dengan ulna sehingga memungkinkan gerak fleksi
dan ekstensi. Gerakan ini terjadi pada bagian troklea humerus. Terdapat
dua cekungan pada ujung bawah humerus, yaitu fossa coronoidea dan
fossa olecrani. Selain itu, terdapata banyak otot yang melekat pada
humerus. Otot-otot tersebut memungkinkan gerakan pada siku dan bahu.
Otot khusus rotator cuff melekati bagian atas humerus dan dapat
melakukan rotasi serta abduksi pada bahu. Terdapat pula otot pada lengan
bawah yang melekati humerus seperti otot pronator teres dan otot fleksor
dan ekstensor lengan bawah.
B. Patofisiologi
Trauma yang terjadi pada tulang humerus dapat menyebabkan fraktur.
Fraktur dapat berupa fraktur tertutup ataupun terbuka. Fraktur tertutup
tidak disertai kerusakan jaringan lunak di sekitarnya sedangkan fraktur
terbuka biasanya disertai kerusakan jaringan lunak seperti otot
tendon,ligamen, dan pembuluh darah. Tekanan yang kuat dan berlebihan
dapat mengakibatkan fraktur terbuka karena dapat menyebabkan fragmen
tulang keluar menembus kulit sehingga akan menjadikan luka terbuka dan
akan menyebabkan peradangan dan kemungkinan terjadinya infeksi.
Keluarnya darah dari luka terbuka dapat mempercepat pertumbuhan
bakteri. Tertariknya segmen tulang disebabkan karena adanya kejang otot

pada daerah fraktur menyebabkan disposisi pada tulang sebab tulang


berada pada posisi yang kaku.
C. Etiologi
Fraktur humerus lebih jarang terjadi. Kesulitan yang dijumpai saat
pengeluaran bahu pada presentasi kepala dan lengan ekstensi pada letak
sungsang sering menyebabkan fraktur ini. Akan tetapi, hingga 70% kasus
terjadi pada persalinan normal. Fraktur ekstrimitas atas yang berkaitan
dengan persalinan sering berjenis greenstick, meskipun dapat terjadi
fraktur komplit disertai tumpang tindih tulang (Cunningham, 2005).
Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak
sungsang dengan tangan menjungkit keatas. Kesukaran melahirkan tangan
yang menjungkit inilah merupakan penyebab terjadinya fraktur tulang
humerus. Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula ditemukan fraktur ini
bila terjadi tekanan yang keras dan langsung pada tulang humerus oleh
tulang pelvis (Nelson Pediatric Textbook Volume 3).
Kebanyakan fraktur dapat saja terjadi karena kegagalan tulang
humerus menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar, dan
tarikan.
Trauma dapat bersifat:
1. Langsung
Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan
terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya
bersifat kominutif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.
2. Tidak langsung
Trauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah
yang lebih jauh dari daerah fraktur. Tekanan pada tulang dapat berupa:
1. Tekanan berputar menyebabkan fraktur bersifat oblik/spiral
2. Tekanan membengkok menyebabkan fraktur transversal
3. Tekanan sepanjang aksis tulang menyebabkan fraktur impaksi,
dislokasi atau fraktur dislokasi
4. Kompresi vertikal menyebabkan fraktur kominutif atau memecah
5. Trauma oleh karena remuk
6. Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendon sehingga menarik
sebagian tulang.
D. Klasifikasi
6

Frakture atau patah tulang humerus terbagi atas:


1. Fraktur suprakondilar humerus, jenis fraktur ini dapat dibedakan
menjadi:
a. Jenis ekstensi: terjadi karena trauma langsung pada humerus distal
melalui benturan pada siku dan lengan bawah pada posisi supinasi
dan lengan siku dalam posisi ekstensi dengan tangan terfiksasi.
b. Jenis fleksi: banyak pada anak yang terjadi akibat jatuh pada
telapak tangan dengan tangan dan lengan bawah dalam posisi
pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi.
2. Frakture interkondiler humerus: sering terjadi pada anak.
3. Frakture batang humerus: frakture ini disebabkan oleh trauma
langsung yang mengakibatkan fraktur transfersal atau gaya memutar
tak langsung yang mengakibatkan fraktur spiral (fraktur yang arah
garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi).
4. Fraktur kolum humerus: dapat terjadi pada kolum anatomikum
(terletak dibawah kaput humeri) dan kolum sirurgikum (terletak
dibawah tuberkulum).
E. Gejala Fraktur Humerus
1. Berkurangnya gerakan tangan yang sakit.
2. Refleks moro asimetris.
3. Terabanya deformitas dan krepotasi di daerah fraktur disertai rasa
sakit.
4. Terjadinya tangisan bayi pada gerakan pasif.
F. Penatalaksanaan
1. Secara umum
Prinsip pengobatan fraktur ada 4:
a. Recognition, diagnosis dan penilaian fraktur
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur
dengan anamnesis, pemeriksan klinis dan radiologis.
Pada awal pengobatan perlu diperhatikan:
1) Lokalisasi fraktur
2) Bentuk fraktur
3) Menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan
4) Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah
pengobatan
b. Reduction; reduksi fraktur apabila perlu.

Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi


yang dapat diterima. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi
anatomis dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan
mencegah komplikasi seperti kekakuan, deformitas, serta
perubahan osteoartritis di kemudian hari. Posisi yang baik adalah :
1) Alignment yang sempurna
2) Posisi yang sempurna
c. Retention; imobilisasi fraktur
d. Rehabilitation; mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal
mungkin.
Pilihan Terapi ada 2 terapi :
a. Pilihan berdasarkan banyak faktor seperti bentuk fraktur, usia
penderita, level aktivitas.
b. Pilihan dokter sendiri.
1) Terapi pada fraktur tertutup pilihannya adalah terapi
konservatif atau operasi.
2) Terapi konservatif
a) Proteksi saja
Untuk penanganan fraktur dengan dislokasi fragen yang
minimal atau dengan dislokasi yang tidak akan
menyebabkan cacat di kemudian hari
b) Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur
inkomplit dan fraktur dengan kedudukan yang baik.
c) Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
Dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang
berarti. Fragen distal dikembalikan ke kedudukan
semula terhadap fragen proksimal dan dipertahankan
dalam kedudukan yang stabil dalam gips.
d) Traksi
Dilakukan pada fraktur yang akan terdislokasi kembali di
dalam gips. Cara ini dilakukan pada fraktur dengan otot
yang kuat. Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan
fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips estela tidak sakit

lagi. Pada anak-anak dipakai kulit (traksi Hamilton


Russel/traksi Bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu
dan beban < 5 kg, untuk anak-anak waktu dan beban
tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai traksi definitif,
bilamana tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips.
Untuk orang dewasa traksi definitif harus traksi skeletal
berupa balanced traction.
3) Terapi operatif
Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan
bimbingan radiologis.
a) Reposisi tertutup fiksasi externa
Setelah reposisi berdasarkan control radiologis intraoperatif
maka dipasang fiksasi externa. Untuk fiksasi fragmen
patahan tulang, digunakan pin baja yang ditusukkan pada
fragmen tulang, kemudian pin baja tadi disatukan secara
kokoh dengan batangan logam di luar kulit.
b) Reposisi tertutup dengan control radiologis diikuti fiksasi
interna.
Fragmen direposisi secara non operatif dengan meja traksi.
Setelah tereposisi dilakukan pemasangan pen secara
operatif.
Terapi operatif dengan membuka frakturnya
a) Reposisi terbuka dan fikasasi interna /ORIF (Open
Reduction and Internal Fixation).
Fiksasi interna yang dipakai bisa berupa pen di dalam
sumsum tulang panjang, bisa juga berupa plat dengan skrup
di permukaan tulang. Keuntungan ORIF adalah bisa dicapai
reposisi sempurna dan bila dipasang fiksasi interna yang
kokoh, sesudah operasi tidak perlu lagi dipasang gips dan
segera bisa dilakukan immobilisasi. Kerugiannya adalah
reposisi secara operatif ini mengundang resiko infeksi
tulang.

Indikasinya :
1) Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair
necrosis tinggi.
2) Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup.
3) Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan.
4) Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil
yang lebih baik dengan operasi, misalnya fraktur femur.
b) Excisional arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi.
c) Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
Dilakukan pada fraktur kolum femur.
Terapi pada fraktur terbuka
Fraktur terbuka adalah suatu keadaan darurat yang memerlukan
penanganan segera. Tindakan harus sudah dimulai dari fase pra
rumah sakit:
a) Pembidaian.
b) Menghentikan perdarahan dengan perban tekan.
c) Menghentikan perdarahan dengan perban klem.
2. Secara Rumah sakit / UGD
Tiba di UGD rumah sakit harus segera diperiksa menyeluruh oleh
karena 40% dari fraktur terbuka merupakan polytrauma. Tindakan lifesaving harus selalu di dahulukan dalam kerangka kerja terpadu.
Tindakan terhadap fraktur terbuka:
a. Nilai derajat luka, kemudian tutup luka dengan kassa steril serta
pembidaian anggota gerak, kemudian anggota gerak ditinggikan.
b. Kirim ke radiologi untuk menilai jenis dan kedudukan fraktur
serta tindakan reposisi terbuka, usahakan agar dapat dikerjakan
dalam waktu kurang dari 6 jam (golden period 4 jam).
c. Penderita diberi toksoid, ATS atau tetanus human globulin.

Tindakan reposisi terbuka:


a. Pemasangan torniquet di kamar operasi dalam pembiusan yang
baik.
b. Ambil swab untuk pemeriksaan mikroorganisme dan kultur/
sensitifity test.

10

c. Dalam keadaan narkose, seluruh ekstremitas dicuci selama 5-10


menit dan dicukur.
d. Luka diirigasi dengan cairan Naci steril atau air matang 5-10
liter. Luka derajat 3 harus disemprot hingga bebas dari
e.
f.
g.
h.
i.

kontaminasi.
Tutup luka dengan doek steril.
Ahli bedah cuci tangan dan seterusnya.
Desinfeksi anggota gerak.
Drapping.
Debridement luka (semua kotoran dan jaringan nekrosis kecuali
neirovascular vital termasuk fragmen tulang lepas dan kecil) dan
diikuti reposisi terbuka, kalau perlu perpanjang luka dan membuat

incisi baru untuk reposisi tebuka dengan baik.


j. Fiksasi:
a) Fiksasi interna untuk fraktur yang sudah dipertahankan
reposisinya (unstable fracture) minimal dengan Kischner wire
b) Intra medular nailing atau plate screw sesuai dengan indikasinya
seperti pada operasi elektif, terutama yang dapat dilakukan dalam
masa golden period untuk fraktur terbuka grade 1-2.
c) Tes stabilitas pada tiap tindakan. Apabila fiksasi interna tidak
memadai (karena sifatnya hanya adaptasi) buat fiksasi luar
(dengan gips spalk atau sirkular).
d) Setiap luka yang tidak bisa dijahit, karena akan menimbulkan
ketegangan, biarkan terbuka dan luka ditutup dengan dressing
biasa atau dibuat sayatan kontra lateral.
Untuk grade 3 kalau perlu:
Pasang fikasasi externa dengan fixator externa (pin/screw dengan K
nail/wire dan acrylic cement). Usahakan agar alignment dan panjang
anggota gerak sebaik-baiknya. Apabila hanya dipasang gips,
pasanglah gips sirkuler dan kemudian gips dibelah langsung (split)
setelah selesai operasi.
3. Secara Klafisikasi
a. Fraktur supracondyler humerus
Terapi fraktur yang bergeser ke posterior
1) Tipe 1

11

Jika tidak ada pergeseran, tidak diperlukan reduksi, anak


hanya memakai kain gendongan atau mitela. Sembuh dalam
10 hari sampai 2 minggu.
2) Tipe 2
Perlu dilakukan reposisi tertutup untuk mengembalikan posisi
humerus distal karena akan dapat mengakibatkan gangguan
pergerakan fleksi dan ekstensi di kemudian hari.
3) Tipe 3 dan 4
Fraktur yang disertai pergeseran harus direduksi secepat
mungkin,di bawah anestesi umum. Ini dilakukan dengan
manuver secara metodik dan hati-hati. (reposisi tertutup).
a) Traksi selama 2-3 menit disepanjang lengan itu dengan
traksi lawan di atas siku.
b) Koreksi terhadap kemiringan, pergeseran dan
pemuntiran ke samping (bandingkan dengan lengan di
sebelahnya.
c) Siku difleksikan perlahan-lahan, sementara traksi
dipertahankan.
d) Tekan anjari di belakang fragmen distal untuk
mengoreksi kemiringan posterior.
e) Nadidiraba, jika tidakada kendurkan fleksi siku hingga
nadi muncul lagi.
Sinar-X diambil lagi untuk memastikan reduksi, sambil
memeriksa dengan cermat untuk memastikan bahwa tidak terjadi
angulasi varus atau valgus dan tidak ada deformitas rotasional
(McNicol, 1987).
Setelah direduksi lengan dipertahankan dalam suatu collar dan
manset terus-menerus selama 3 minggu. Setelah itu diperbolehkan
melakukan fleksi siku aktif tetapi lengan disangga dalam kain
gendongan dan ekstensi dihindari selama 3 minggu lagi.Pilihan
lain dengan menggunakan traksi kulit. Siku pada posisi hampir
lurus dan lengan dalam bebat thomas yang kecil (traksi Dunlop)
(Piggot, Graham, McCoy, 1986).

12

Menurut sumber lain, reposisi tertutup sebaiknya dengan


menggunakan image intensifier dan dapat difiksasi dengan Kwire perkutaneus atau tanpa fiksasi dan dipasang gips.
Reduksi terbuka kadang-kadang dipilih untuk mengatasi fraktur
yang tidak dapat direduksi. Fraktur dibuka,hematoma dievakuasi,
fraktur dirduksi dan dipertahankan dengan dua kawat Kirschner.
Hal ini juga dilakukan pada penderita yang datang setelah
beberapa hari fraktur.
a) Terapi pada fraktur pergeseran anterior
Cedera ini jarang terjadi, tapi kadang-kadang fraktur posterior
berubah menjadi fraktur anterior akibat terlalu banyak traksi
dan manipulasi. Fraktur direduksi dengan menarik lengan
bawah dan siku pada posisi semi fleksi, dilakukan penekanan
pada bagian depan fragmen distal kemudian mengekstensikan
siku sepenuhnya, suatu slab posterior dipasang dan
dipertahankan selama 3 minggu. Setelah itu,anak dibiarkan
untuk memperoleh fleksinya kembali secara berangsurangsur.
b. Prinsip pengelolaan patah tulang
Menurut Sjamsuhidajat (1998) prinsip pengelolaan patah tulang
adalah reposisi dan imobilisasi. Penatalaksanaan yang bisa
dilakukan antar lain:
1) Proteksi, misalnya untuk fraktur dengan kondisi ringan.
2) Immobilisasi dengan fiksasi atau immobilisasi luar tanpa
reposisi, tetapi tetap perlu imobilisasi agar tidak terjadi
dislokasi fragmen.
3) Reposisi dan immobilisasi.
4) Reposisi dengan traksi terus-menerus selama masa tertentu
disertai immobilisasi.
5) Reposisi diikuti immobilisasi fiksasi luar.
6) Reposisi secara non operatif diikuti dengan pemasangan
fiksasi dalam pada tulang secara operatif.
7) Reposisi secara operatif diikuti dengan fiksasi patahan
tulang dengan pemasangan fiksasi internal.

13

8) Eksisi fragmen patahan tulang dan menggantinya dengan


prostetis.
Pada prinsipnya pengobatan fraktur humerus dapat dilakukan
secara tertutup dengan cara:
1) Fragmen-fragmen dikembalikan pada posisi anatomis
(reposisi).
2) Dilakukan immobilisasi sampai terjadi penyambungan
fragmen-fragmen tersebut (fiksasi atau immobilisasi).
3) Pemulihan fungsi (restorasi).
Hal di atas dapat dilakukan karena adanya toleransi yang baik
terhadap pemendekan, serta rotasi rotasi fragmen patahan tulang.
Pengobatan secara tertutup dapat dilakukan dengan traksi skelet.
Secara umum, tindakan yang dilakukan pada pasien dengan
fraktur tertutup antara lain:
1) Anjurkan pasien melakukan aktifitas seperti biasa sesegera
mungkin selama kondisi pasien memungkinkan.
2) Ajarkan pasien dalam mengontrol nyeri.
3) Ajarkan pasien untuk aktif sebatas kemampuannya dalam
kondisi immobilisasi fraktur.
4) Lakukan latihan untuk mempertahankan kondisi otot yang
tidak rusak dan untuk meningkatkan kekuatan otot.
5) Ajarkan pasien cara menggunakan alat bantu secara aman.
6) Bantu pasien dalam memodifikasi lingkungan rumah mereka
agar aman bagi pasien.
7) Ajarkan pasien untuk perawatan mandiri dan informasikan
tentang pengobatan.
8) Monitoring potensial komplikasi, dan
9) Pertimbangkan kebutuhan pengawasan pelayanan kesehatan
lanjutan.

14

Kerusakan fragmen tulang

Pelepasan katekolamin

Tekanan sumsum tulang > tinggi dari kapiler


Asam lemak termobilisasi
Reaksi stres klien
Lemak berikatan dengan trombosit

Struktur Penatalaksanaan Flaktur Humerus


Lemak berikatan dengan trombosit
Peningkatan tekanan kapiler
Spasme otot
emboli
Penyumbatan pembuluh darah
Pelepasan histamin
Penekanan pembuluh darah
MK: Kerusakan integritas kulit Trauma langsung
Protein
plasma
hilang
MK:
resiko
infeksi
Penurunan
perfusi
jaringan

Trauma tak langsung

Kondisi patologis

FRAKTUR HUMERUS

edema
MK: Gangguan perfusi
jaringan

Diskontinuitas tulang

Pergeseran fragmen tulang

MK: Nyeri
Perubahan jaringan sekitar

Pergeseran fragmen tulang

Laserasi kulit

Putus vena/arteri

4. Menurut
DeformitasAnik maryunani dan Puspita eka (2013), penatalaksanaan
flaktur humerus adalah:
a. Imobilisasi
selama 2-4 minggu dengan fiksasi bidai
Gangguan
fungsi
perdarahan
MK: Gangguan mobilitas
fisik volume cairan
Kehilangan

15

b. Daya penyembuhan fraktur tulang bagi yang berupa fraktur tulang


tumpang tindih ringan dengan dengan deformias, umumnya akan
baik.
c. Dalam masa pertumbuhan dan pembentukan tulang pada bayi,
maka tulang yang fraktur tersebut akan tumbuh dan akhirnya
mempunyai bentuk panjang yang normal.
5. Menurut Wafi Nur Muslihatu (2010), Fraktur humerus dapat terjadi
pada kesalahan melahirkan lengan pada letak memanjang ( presentasi
kepala / presentasi bokong ) dan letang melintang. Penanganan pada
kasus ini dengan cara sebagai berikut :
a. Memberi bantalan kapas / kasa antara lengan yang terkena dan
dada dari ketiak sampai siku
b. Membalut lengan atas sampai dada dengan kasa, imobilisasi, posisi
lengan abduksi 60
c. Memfleksikan siku 90 dan balut dengan kasa lagi, balut lengan
atas menyilang dinding perut dan pastikan tali pusat tidak tertutup
kasa.
Menasehati ibu agar kembali 10 hari lagi untuk ganti balut, fraktur
humeri ini akan sembuh dalam waktu 2-4 minggu.
G. Komplikasi
1. Dislokasi bahu
Fraktur-dislokasi baik anterior maupun posterior sering terajdi.
Dislokasi biasanya dapat direduksi secara tertutup dan kemudian
diterapi seperti biasa.
2. Cedera saraf
Kelumpuhan saraf radialis dapat terjadi pada fraktur humerus bila
tidak ada tindakan yang berarti.
3. Lesi saraf radialis
Yaitu ketidakmampuan melakukan ekstensi pergelangan tangan
sehingga pasien tidak mampu melakukan fleksi jari secara efektif dan
tidak dapat menggenggam lagi.
4. Kekakuan sendi
Kekakuan pada sendi terjadi jika tidak dilakukan aktivitas lebih awal.

16

5. Non-union
Penyembuhan tulang tidak terjadi walaupun telah memakan waktu
lama karena :
a. Terlalu banyak tulang rusak pada cedera sehingga tidak ada yang
menjembatani fragmen.
b. Terjadi nekrosa tulang karena tidak ada aliran darah.
c. Anemi endoceime imbalance (ketidakseimbangan endokrin atau
penyebab sistemik yang lain).

17

BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Fraktur humerus adalah fraktur pada tulang humerus yang disebabkan
oleh benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung. Fraktur dapat
berupa fraktur tertutup ataupun terbuka. Fraktur tertutup tidak disertai
kerusakan jaringan lunak di sekitarnya sedangkan, Fraktur terbuka
biasanya disertai kerusakan jaringan lunak seperti otot, tendon,ligamen,
dan pembuluh darah. Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada
kelahiran letak sungsang, dan Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula
ditemukan fraktur ini. Gejala dari fraktur ini yaitu berkurangnya gerakan
tangan yang sakit, Refleks moro asimetris, Terabanya deformitas dan
krepotasi di daerah fraktur disertai rasa sakit, Terjadinya tangisan bayi
pada gerakan pasif. Ada empat prinsip pada fraktur yaitu Recognition,
Reduction, Retention, Rehabilitation. Klasifikasi fraktur tulang humerus
terdiri dari fraktur suprakondilar humerus, fraktur interkondiler humerus,
fraktur batang humerus dan fraktur kolum humerus. Ada dua pilihan terapi
pada fraktur, pertama terapi pada fraktur tertutup berupa terapi konservatif
atau operasi, sedangkan terapi pada fraktur terbuka dengan pembidaian,
Menghentikan perdarahan dengan perban tekan atau klem. Komplikasi
fraktur humerus terdapat dislokasi bahu, cedra saraf, lesi saraf radialis,
kekakuan sendi, dan non union.
B. Saran
Dengan penulisan makalah ini, penulis berharap agar dapat menambah
ilmu pengetahuan kepada pembaca. penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu harapan penulis kepada
pembaca semua bersedia memberikan kritik dan saran yang bersifat
membangun.

DAFTAR PUSTAKA

18

Maryunani, Anik dan Eka Puspita. 2013. Asuhan Kegawadaruratan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Transinfomedia.
Nur Muslimah, Wafi. 2008. Asuhan Neonatul Bayi dan Balita. Yogyakarta :
Fitramaya.
Deslidel, dkk. 2011. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta : EG
Sjamsuhidajat, R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jakarta : Media
Aesculapius.
OTA (orthopaedic trauma association, 2010) dan AAOS (American Academy of
Orthopaedic Surgeons). Available [online]:
<http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00513 (13 Mei 2016).
Departemen Kesehatan RI. 2003. Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir untuk
Dokter, Bidan, dan Perawat di Rumah Sakit. Jakarta : U.S Agency for
Internasional Development - Indonesia Mission.
www.Nonanda631.blogspot.co.id (10 Mei 2016).

19