Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

Bab ini membahas laporan keuangan konsolidasi perusahaan induk dan perusahaan anak
yang didalamnya terdapat transaksi persediaan antar perusahaan afiliasi. Laporan konsolidasi
dibuat untuk menunjukkan posisi keuangan dan hasil operasi dari dua atau lebih perusahaan
afiliasi seolah-olah perusahaan tersebut merupakan satu perusahaan. Oleh karena itu, pengaruh
transaksi antar perusahaan afiliasi harus dieliminasi dari laporan keuangan konsolidasi.
Transaksi antar perusahaan mengakibatkan saldo akun resiprokal pada buku perusahaan
afiliasi. Contohnya, transaksi penjualan antar perusahaan menimbulkan saldo respirokal
penjualan dan pembelian (atau harga pokok penjualan) dan juga piutang dan hutang usaha
resporokal. Oleh karena transaksi antar perusahaan ini adalah transaksi internal perusahaan dari
sudut pandang entitas yang dikonsolidasikan, maka pengaruhnya harus dieliminasi dalam proses
konsolidasi. Selain saldo akun respirokal, keuntungan dan kerugian dari transaksi
antar perusahaan juga harus dieliminasi sampai terjual kepada pihak-pihak
diluar entitas yang dikonsolidasikan. Seperti disebutkan dalam accounting
Research

Bulletin

(ARB)

NO.

51,

Laporan

konsolidasi

tidak

boleh

memasukkan keuntungan atau kerugian transaksi antar perusahaan di


dalam grup sehingga laba atau rugi yang terjadi harus dieliminasi, konsep
yang biasanya diterapkan untuk tujuan ini adalah laba atau rugi kotor
(bruto).
1. TRANSAKSI PERSEDIAAN ANTAR PERUSAHAAN
Pendapatan diakui ketika pendapatan tersebut direalisasi, yaitu ketika
pendapatan

tersebut

diperoleh.

Dari

sudut

pandang entitas

yang

dikonsolidasikan, pendapatan yang diperoleh harus berasal dari penjualan


kepada entitas luar (pihak luar). Pendapatan atas penjualan antara
perusahaan-perusahaan afiliasi tidak dapat diakui sampai barang tersebut
dijual keluar dari entitas yang dikonsolidasikan.
1.1

Eliminasi Pembelian dan Penjualan Antar Perusahaan


Penjualan dan pembelian antar perusahaan dari perusahaan-

perusahaan

afiliasi

dieliminasi

dalam

proses

konsolidasi

untuk

melaporkan penjualan dan pembelian (atau harga pokok penjualan)


pada jumlah pembelian dari dan penjual kepada entitas luar.

ILUSTRASI
PT Prima mendirikan sebuah perusahaan anak yaitu PT Sarana pada
tahun 2001 untuk menjual lini produk PT Prima. Semua pembelian PT
Ssarana berasal dari PT Prima dengan harga 20% diatas harga perolehan
PT Prima. Selama tahun 2001 PT Prima menjual barang dagangan senilai
Rp 20.000 kepada PT Sarana dengan harga Rp 24.000. PT Sarana menjual
semua barang dagangannya pada para pelanggannya dengan harga Rp
30.000. Selama tahun 2001, penjualan PT Prima termasuk yang dijual ke
PT Sarana adalah Rp 24.000
Ayat jurnal yang berhubungan dengan barang dagang dicatat terpisah
oleh PT Prima dan PT Sarana adalah sebagai berikut:
Buku PT Prima
1. Mencatat pembelian kredit dari entitas lain
Persediaan

20.000

Utang dagang

20.000

2. Mencatat penjualan antar-perusahaan ke PT Sarana


Piutang dagang PT Sarana

24.000

Penjualan

24.000

3. Mencatat HPP atas penjualan ke PT Sarana


HPP

20.000
Persediaan

20.000

Buku PT Sarana
1. Mencatat pembelian antar-perusahaan dari PT Prima
Persediaan

24.000

Utang dagang PT Prima

24.000

2. Mencatat penjualan ke pelanggan diluar entitas yang dikonsolidasikan


Piutang dagang

30.000

Penjualan

30.000

3. Mencatat HPP atas penjualan ke pelanggan


HPP

24.000
Persediaan

24.000

Eliminasi Kertas Kerja Konsolidasi


PT

PT

Penyesuaian dan

Konsolida

Prima

Sarana

Eliminasi

si

Penjuala

24.0

30.00

00

HPP

20.0

24.00

24.00

00

Laba

4.00

6.000

Bruto

24.000

30.000
20.000
10.000

Eliminasi kertas kerja tidak mempengaruhi laba bersih konsolidasi karena


jumlah penjualan dan harga pokok penjualan yang sama dieliminasi, dan
gabungan laba bruto adalah sama dengan laba bruto konsolidasi.
1.2

Eliminasi Laba yang Belum Realisasi dalam Persediaan

Akhir
Seluruh laba antar perusahaan atas penjualan antara perusahaanperusahaan

afiliasi

direalisasi

dan

diakui

oleh

entitas

yang

dikosolidasikan pada periode dimana barang dagangan tersebut dijual


kembali kepada entitas-entitas luar. Setiap laba atau rugi yang belum
direalisasi atas penjualan anatar perusahaan direfleksikan dalam
persediaan akhir dari afiliasi pembeli karena persediaan tersebut
merefleksikan harga transfer antar perusahaan bukan biaya bagi
entitas yang dikonsolidasikan.

ILUSTRASI
Selama tahun 2002 PT Prima menjual barang dagangan senilai Rp 30.000
kepada PT Sarana dengan harga Rp 36.000. PT Sarana menjual kembali
semuanya kecuali Rp 6.000, dengan harga Rp 37.500 (Dari Harga Pokok
Penjualan 30.000, karena yang 6.000 belum terjual).
Ayat jurnal yang berhubungan dengan barang dagang dicatat terpisah
oleh PT Prima dan PT Sarana adalah sebagai berikut:
Buku PT Prima
1. Mencatat pembelian kredit dari entitas lain
Persediaan
30.000
Utang dagang
30.000
2. Mencatat penjualan antar-perusahaan ke PT Sarana
Piutang dagang PT Sarana
36.000
Penjualan
36.000
3. Mencatat HPP atas penjualan ke PT Sarana
HPP
30.000
Persediaan
30.000
Buku PT Sarana
1. Mencatat pembelian antar-perusahaan dari PT Prima
Persediaan
36.000
Utang dagang PT Prima
36.000
2. Mencatat penjualan ke pelanggan diluar entitas yang dikonsolidasikan
Piutang dagang
37.500
Penjualan
37.500
3. Mencatat HPP atas penjualan ke pelanggan
HPP
30.000
Persediaan
30.000
Eliminasi Kertas Kerja Konsolidasi

Laporan

PT

Penyesuaian

Prima

Sarana

Eliminasi

36.0

37.50

(Penjualan)

00

HPP

30.0

30.00

00

6.00

7.500

Laba Bruto

L/R

PT

dan

asi

36.000
1.000

Konsolid

37.500
36.000

25.000
12.500

0
Neraca

6.000

1.000

5.000

(Persediaan)

Ayat jurnal kertas kerja konsolidasi :


1. Mengeliminasi penjualan dan pembelian atar perusahaan
Penjualan
36.000
HPP
36.000
2. Mengeliminasi laba antar-perusahaan dari HPP dan persediaan
HPP
1.000
Persediaan
1.000
1.3

Pengakuan

Laba

yang

Belum

Direalisasi

dalam

Persediaan Awal
Laba yang belum direalisasi dalam persediaan akhir akan direalisasi
ketika barang dagang dijual kepada pihak diluar entitas konsolidasi.
Realisasi terjadi pada periode fiskal berikutnya, sehingga pengakuan
ditunda sampai tahun berikutnya. Pengakuan laba yang

belum

direalisasi mengharuskan kredit pada harga pokok penjualan pada


kertas kerja karena jumlah persediaan tercermin dalam harga pokok
penjualan jika sistem perpetual yang digunakan.
ILUSTRASI
Selama tahun 2003 PT Prima menjual barang dagangan senilai Rp 40.000
kepada PT Sarana dengan harga Rp 48.000. PT Sarana menjual 75% dari
barang dagang tersebut seharga Rp 45.000. PT Sarana juga menjual
barang dagang dari persediaan awalnya (yang Rp 6.000) dengan harga
Rp 7.500.
Ayat jurnal yang berhubungan dengan barang dagang dicatat terpisah
oleh PT Prima dan PT Sarana ada;ah sebagai berikut:
Buku PT Prima
1. Mencatat pembelian kredit dari entitas lain
Persediaan
40.000
Utang dagang
40.000
2. Mencatat penjualan antar-perusahaan ke PT Sarana
Piutang dagang PT Sarana
48.000

Penjualan
48.000
3. Mencatat HPP atas penjualan ke PT Sarana
HPP
40.000
Persediaan
40.000
Buku PT Sarana
1. Mencatat pembelian antar-perusahaan dari PT Prima
Persediaan
48.000
Utang dagang PT Prima
48.000
2. Mencatat penjualan sebesar Rp 45.000 dan Rp 7.500
Piutang dagang
52.500
Penjualan
52.500
3. Mencatat HPP (dari pembelian Rp 48.000x75%, dan dari persediaan
awal Rp 6.000)
HPP
Persediaan

PT
Prima

Laporan L/R
(Penjualan)

42.000
42.000

PT
Sarana

48.00
0

HPP

Penyesuaian
Eliminasi

52.50

a.48.000

42.00

c. 2.000

dan

Konsolid
asi

52.500

40.00
0

a.48.000

35.000

0
b. 1.000

Laba Bruto

8.000

10.50

17.500

Neraca
(Persediaan)

12.00
0

c. 2.000

10.000

Investasi pada
PT Sarana

b. 1.000

Eliminasi Kertas Kerja Konsolidasi


Ayat jurnal kertas kerja konsolidasi :
1. Mengeliminasi penjualan dan pembelian atar perusahaan
Penjualan
48.000
HPP
48.000
2. Mengakui laba dari persediaan awal yang sebelumnya ditangguhkan
Investasi pada PT Sarana
1.000
HPP
1.000
3. Menangguhkan laba yang belum direalisasi dalam persediaan akhir
HPP
2.000
Persediaan
2.000
2.

PENJUALAN DOWN STREAM (ARUS KE BAWAH) DAN UPSTREAM


(ARUS KE ATAS)
Penjualan arus ke bawah (down stream) adalah Penjualan oleh
perusahaan induk kepada perusahaan anak. Sedangkan penjualan arus ke
atas

(upsteam)

adalah

Penjualan

oleh

perusahaan

anak

kepada

perusahaan induk.
Penjualan arus ke bawah
1. Pendapatan terpisah perusahaan induk meliputi laba yang belum
direalisasikan (termasuk dalam akun penjualan dan harga pokok
penjualannya).
2. Laba bersih perusahaan anak tidak terpengaruh. Karena, pendapatan
hak minoritas dihitung sebagai laba bersih yang dilaporkan anak
perusahaan dikalikan dengan persentase pendapatan hak minoritas.
3. Persediaan akhir perusahaan anak meliputi laba yang belum direalisasi
hingga barang dagangan dijual ke entitas luar.
a. Persediaan akhir perusahaan anak menunjukkan harga transfer,
daripada biaya entitas yang dikonsolidasikan.
b. Dalam kertas kerja konsolidasi, persediaan dikurangi biaya asalnya
yaitu harga pokok penjualan pada debit dan persediaan akhir pada
kredit.

4. Dalam metode ekuitas, jumlah total laba yang belum direalisasi dari
pejualan

arus

bawah

antar

perusahaan

dibebankan

kepada

pendapatan dari perusahaan anak.


Penjualan arus ke atas
1. Pendapatan bersih perusahaan anak meliputi jumlah total dari laba
yang belum direalisasi (termasuk didalamnya akun penjualan dan
harga pokok penjualan).
a. Laba yang belum direalisasi dalam pendapatan bersih perusahaan
anak dialokasikan secara proporsional kepada pemegang sahan
mayoritas dan minoritas dalam pencatatan.
b. Pendapatan bersih yang dikonsolidasikan dan pedapatan hak
minoritas dihitung berdasarkan pendapatan awal yang direalisasi
dari sudut pandang entitas yang dikonsolidasi.
c. Pendapatan peusahaan anak yang direalisasika dicatat sebagai
pendapatan bersih, disesuaikan untuk laba antar perusahaan dari
penjualan arus ke atas.
2. Pendapatan terpisah perusahaan induk tidak dipengaruhi oleh laba
yang belum direalisasi dari penjualan arus ke atas, tetapi pendapatan
bersihnya (yang meliputi pendapatan investasi) terpengaruh.
3. Persediaan akhir perusahaan induk meliputi laba persediaan yang
belum direalisasi hingga barang dagangan dijual kepada entitas luar.
4. Dalam metode ekuitas, hanya saham proporsional perusahaan induk
atas laba yang belum direalisasi dari penjualan arus ke atas
perusahaan dibebankan kepada pendapatan perusahaan anak.
Pengaruh Arus ke Bawah dan Arus ke Atas pada Perhitungan
Pendapatan
Pendapatan terpisah perusahaan induk dan 80% kepemilikannya pada
perusahaan anak tahun 2005 sbb :
Induk (Rp) Anak (Rp)
Penjualan
600.000
300.000
HPP
300.000
180.000
Laba Bruto
300.000
120.000
Beban-beban
-100.000
-70.000
Pendapatan terpisah induk
200.000
Pendapatan bersih anak
50.000

Penjualan antar perusahaan selama 2005 Rp 100.000.

Pada 31 Desember 2005, dalam persediaan termasuk Rp 20.000


laba yang belum direalisasi.

Perhitungan Pendapatan Hak Minoritas


Penjualan arus ke bawah :
Laba yang belum direalisasi Rp 20.000 direfleksikan dalam akun
penjualan dan HPP induk, dan laba bersih anak = pendapatan
realisasinya. Sehingga, perhitungan pendapatan hak minoritas tidak
dipengaruhi oleh transaksi antar-perusahaan dan dihitung :
Laba bersih anak Rp 50.000 x 20% = Rp 10.000
Penjualan arus ke atas :
Laba yang belum direalisasi Rp 20.000 direfleksikan dalam akun
penjualan dan HPP anak, dan pendapatan yang direalisasi anak
Rp 30.000. Perhitungan pendapatan hak minoritas :
Laba bersih anak
50.000
Yang belum direalisasi
20.000
Pendapatan yang direalisasi
30.000
Pendapatan hak minoritas Rp 30.000 x 20% = 6.000
Perhitungan Laba Bersih Konsolidasi
Catatan : Perbedaan dalam perhitungan

laba

bersih

konsolidasi

berdasarkan asumsi arus ke atas dan arus ke bawah hanya terletak pada
perhitungan pendapatan hak minoritas.

Arus
Bawah

Pendapatan terpisah induk

Tambah : Pendapatan dari anak

ke

Arus
Atas

ke

200.000

200.00
0

20.000

24.000

*Arus ke bawah :
Ekuitas dalam laba yg dilaporkan anak
dikurangi
laba
yg
belum
direalisasi
(50.000x80%) -20.000
*Arus ke atas :
Ekuitas dalam pendapatan anak yg telah
direalisasi (50.000 20.000) x 80%

Laba bersih induk (dan konsolidasi)

220.000

224.00
0

PERUSAHAAN INDUK DAN PERUSAHAAN ANAK LAPORAN LABA RUGI


KONSOLIDASI 31 DESEMBER 2005

Penjualan Arus ke

Penjualan

Bawah

ke Atas

Penjualan (900.000 100.000)

800.000

800.000

HPP (480.000+20.000-100.000)

-400.000

-400.000

400.000

400.000

-170.000

-170.000

Laba Bruto

Beban-beban (100.000+70.000)

Arus

Total pendapatan yang telah

230.000

230.000

-10.000

-6.000

220.000

224.000

direalisasi

Dikurangi

Pendapatan

hak

minoritas

Laba bersih konsolidasi

3.

LABA YANG BELUM DIREALISASI DARI PENJUALAN ARUS KE


BAWAH
Karena seluruh jumlah laba bruto atas barang dagangan yang dijual
secara arus ke bawah dan sisanya yang terdapat pada persediaan
perusahaan anak meningkatkan pendapatan perusahaan induk, maka
seluruh jumlah tersebut harus dieliminasi dari laporan laba bersih
perusahaan induk berdasarkan metode ekuitas. Konsisten dengan metode
konsolidasi satu baris, hal ini dilakukan dengan mengurangi pendapatan
investasi dan akun investasi. Dalam laporan konsolidasi, laba bruto yang
belum direalisasi dieliminasi dengan meningkatkan Harga Pokok Penjualan
konsolidasi dan mengurangi persediaan atas dasar harga perolehan bagi
entitas yang dikonsolidasikan.
1.
Penangguhan Laba Antar Perusahaan Dalam Periode Penjualan
Antar Perusahaan.
ILUSTRASI
PT Perkasa mempunyai 90% saham berhak suara PT Sakti. Berikut
Laporan L/R terpisah PT Perkasa dan PT Sakti tahun 2007, sebelum
mempertimbangkan laba yang belum direalisasi:

Penjualan

PT Perkasa

PT Sakti

100.000

50.000

HPP

60.000

35.000

Laba Bruto

40.000

15.000

Beban-beban

15.000

5.000

Laba Operasi

25.000

10.000

Pendapatan dari PT Sakti

9.000

Laba Bersih

34.000

10.000

Penjualan PT Perkasa termasuk Rp15.000 yang dijual ke PT Sakti dengan


laba Rp 6.250. Dalam persediaan PT Sakti 31 Desember 2007, termasuk
40% barang dagangan dari transaksi antar-perusahaan. Laba yang belum
direalisasi dalam persediaan PT Sakti Rp 2.500 (harga transfer 6.000
harga pokok 3.500) direfleksikan dalam laba operasi PT Perkasa.
Pengakuan bagian atas pendapatan PT Sakti dan

penangguhan

pengakuan laba yang belum direalisasi :


Investasi pada PT Sakti
9.000
Pendapatan dari PT Sakti
9.000
Pendapatan dari PT Sakti
2.500
Investasi pada PT Sakti
2.500
PT PERKASA DAN PERUSAHAAN ANAK, PT SAKTI SEBAGIAN KERTAS KERJA
KONSOLIDASI 31 DESEMBER 2007
PT P

90% PT S

Penyesuaian dan
Eliminasi

Konsolidasi

Laporan Laba Rugi


Penjualan

100.000

50.000

a.15.000

135.000

Pendapatan dari PT S

6.500

HPP

-60.000

-35.000

Beban-beban

-15.000

-5.000

c. 6.500

Pendapatan hak minoritas


Laba Bersih

b. 2.500

a.15.000

-82.500
-20.000
-1.000

31.500

10.000

31.500

Neraca
Persediaan

7.500

Investasi pada PT S
2.

b. 2.500

xxx

5.000

c. 6.500

Penangguhan Laba Antar Perusahaan Saat Penjualan Kepada


Entitas Luar
ILUSTRASI
Barang dagangan yang diperoleh dari PT Perkasa selama 2007, dijual
oleh PT Sakti selama 2008, dan tidak ada transaksi antar-perusahaan
sepanjang 2008. Laporan L/R terpisah PT Perkasa dan PT Sakti tahun
2008, sebelum mempertimbangkan laba yang belum direalisasi:
PT Perkasa

PT Sakti

Penjualan

120.000

60.000

HPP

80.000

40.000

40.000

20.000

20.000

5.000

20.000

15.000

Laba Bruto
Beban-beban
Laba Operasi
Pendapatan dari PT Sakti

13.500

Laba Bersih

33.500

15.000

Dari sudut pandang PT Perkasa, laba yang belum direalisasi dari tahun
2007 direalisasi tahun 2008 dan pendapatan investasinya dicatat dan
disesuaikan :
Investasi pada PT Sakti
13.500
Pendapatan dari PT Sakti
Investasi pada PT Sakti
2.500
Pendapatan dari PT Sakti

Laporan Laba Rugi


Penjualan

PT P

90% PT S

120.000

60.000

13.500
2.500

Penyesuaian dan Eliminasi

Konsolidasi
180.000

Pendapatan dari PT S

16.000

b.16.000

HPP

-80.000

-40.000

Beban-beban

-20.000

-5.000

a. 2.500

-25.000

Pendapatan hak
minoritas
Laba Bersih

-117.500

-1.500
36.000

15.000

36.000

Neraca
Persediaan
Investasi pada PT S

xxx

a. 2.500

b.16.000

PT PERKASA DAN PERUSAHAAN ANAK, PT SAKTI SEBAGIAN KERTAS KERJA


KONSOLIDASI 31 DESEMBER 2008

4.

LABA YANG BELUM DIREALISASI DARI PENJUALAN ARUS KE


ATAS
Penjualan oleh anak perusahaan kepada induk perusahaannya akan
meningkatkan penjualan, harga pokok penjualan dan laba kotor anak
perusahaan, tetapi tidak memengaruhi laba operasi induk sampai barang
dagang dijual kembali kepada entitas lain. Laba bersih induk perusahaan
dipengaruhi,

karena

induk

perusahaan

mengakui

bagiannya

atas

pendapatan anak perusahaan berdasarkan metode ekuitas. Jika anak


perusahaan penjual adalah perusahaan afiliasi yang dimiliki 100%, induk
perusahaan menangguhkan 100% dari laba yang belum direalisasi pada
tahun terjadinya penjualan antar perusahaan. Jika anak perusahaan
adalah

perusahaan

afiliasi

yang

hanya

dimiliki

sebagian,

induk

perusahaan juga hanya menangguhkan sebatas bagiannya atas laba anak


perusahaan yang belum direalisasi.

LABA ATAS TRANSAKSI ANTAR


PERUSAHAAN - PERSEDIAAN

Disusun Oleh:
Silvi Aprilliani
Marvin Imanuel L
Fahmita Hidayanti
Riska Fauziah

1313010092
13130101
1313010125
1313010298

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR


Fakultas Ekonomi
Akuntansi
Tahun Ajaran 2015/2016