Anda di halaman 1dari 10

Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan.

Dalam pandangan Demokratis, Pendidikan Kewarganegaraan adalah suatu pendidikan yang


bertujuan untuk memdidikan para generasi muda dan mahasiswa agar mampu menjadi warga
negara yang demokratis dan partisipatif dalam pembelaan negara. Dalam hal ini pendidikan
kewarganegaraan merupakan suatu alat pasif untuk membangun dan memajukan sistem
demokrasi suatu bangsa.
Adapun dari segi politik yang mendefinisikan bahwa Pendidikan Pancasila merupakan suatu
pendidikan politik yang membantu para peserta didik menjadi warganegara yang ikut
berpatisipasi dalam membangun sistem politik yang baik dan benar.
Namun dari segi apapun, pada intinya Pendidkan Pancasila adalah suatu Pendidikan dengan
tujuan agar warga negara dituntut untuk dapat hidup berguna dan bermakna bagi negara dan
bangsanya, serta mampu mengantisipasi perkembangan dan perubahan masa depannya.
Untuk itu diperlukan pembekalan IPTEKS yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, nilainilai moral, dan nilai-nilai budaya bangsa. Nilai-nilai dasar tersebut berperan sebagai
panduan dan pegangan hidup setiap warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
Pengertian Kewarganegaraan
10 Pengertian Kewarganegaraan Menurut Para Ahli Kewarganegaraan ialah keanggotaan
seseorang dalam kontrol satuan politik tertentu (secara khusus ialah negara) yang dengannya akan
membawa hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Seseorang dengan memiliki keanggotaan
yang sedemikian ialah disebut warga negara. Seorang warga negara berhak utuk memiliki paspor dari
negara yang dianggotainya.

kewarganegaraan
Kewarganegaraan ialah bagian dari konsep kewargaan ( dalam bahasa Inggris ialah citizenship). Di
dalam pengertian tersebut , warga suatu kota ataupun kabupaten ialah disebut sebagai warga kota atau
warga kabupaten, dikarenakan keduanya juga merupakan satuan politik. Dalam suatu otonomi daerah,
kewargaan ini akan menjadi penting, sebab masing-masing satuan politik akan memberikan hak
(biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi warganya.
Kewarganegaraan memiliki kemiripan dengan kebangsaan (bahasa Inggris ialah nationality). Yang
membedakan ialah hak-hak untuk dapat aktif dalam perpolitikan. Ada kemungkinan untuk memiliki
kebangsaan tanpa harus menjadi seorang warga negara .
Pengertian Kewarganegaraan Menurut Para Ahli
1.Daryono
Kewarganegaraan ialah isi pokok yang mencakup hak serta kewajiban warga
Negara.Kewarganegaraan adalah keanggotaan seseorang didalam satuan politik tertentu (secara
khusus ialah Negara ) yang dengannya akan membawa hak untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan
politik. Seseorang dengan keanggotaan yang demikian ialah disebut dengan warga Negara.

2.Wolhoff
Kewarganegaraan adalah keanggotaan suatu bangsa tertentu yakni ialah sejumlah manusia yang
terikat dengan yang lainnya dikarenakan kesatuan bahasa kehidupan social-budaya serta kesadaran
nasionalnya.
Kewarganegaraan pun memiliki kemiripan dengan kebangsaan yang membedakana ialah hak-hak
untuk aktif dalam perpolitikan.
3.Ko Swaw Sik ( 1957 )
Kewarganegaraan ialah ikatan hukum antara Negara serta seseorang. Ikatan itu menjadi suatu
kontrak politis antara Negara yang mendapat status sebagai Negara yang berdaulat serta diakui
karena memiliki tata Negara.Kewarganegaraan ialah bagian dari konsep kewargaan .
4.R. Daman
Kewarganegaraan ialah istilah hal-hal yang berhubungan dengan penduduk dalam suatu bangsa.
5.Graham Murdock ( 1994 )
Kewarganegaraan adalah hak untuk dapat berpartisipasi secara utuh dalam berbagai pola struktur
social , politik serta kehidupan kultural serta untuk dapat membantu menciptakan bentuk-bentuk yang
selanjutnya dengan begitu maka memperbesar ide-ide.
6.R. Parman
Kewarganegaraan adalah suatu hal-hal yang saling berhubungan dengan penduduk dalam suatu
bangsa.
7.Soemantri
Kewarganegaraan adalah sesuatu yang saling berhubungan dengan manusia sebagai individu dalam
suatu perkumpulan yang terorganisir dalam suatu hubungan dengan Negara.
8.Mr. Wiyanto Dwijo Hardjono, S.Pd.
Kewarganegaraan adalah keanggotaan seseorang dalam satuan politik tertentu (secara
khusus ialah Negara) yang dengannya membawa hak untuk dapat berprestasi dalam kegiatan-kegiatan
politik.
9.Stanley E. Ptnord dan Etner F.Peliger
Kewarganegaraan adalah studi yang berhubungan dengan tugas-tugas pemerintahan serta hakkewajiban warga Negara.
Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan.
Berdasarkan dengan Kep. Dirjen Dikti No. 267/Dikti/2000, tujuan Pendidikan Kewarganegaraan ialah
mencakup:
Tujuan Umum :
www.gurupendidikan.com Untuk dapat memberikan pengetahuan serta kemampuan dasar kepada
mahasiswa mengenai hubungan antara warga negara dengan negara serta PPBN agar menjadi warga
negara yang diandalkan oleh bangsa serta negara.
Tujuan Khusus :
Agar mahasiswa juga dapat memahami serta melaksanakan hak dan kewajiban secara santun, jujur,
serta demokratis serta ikhlas sebagawai Warga Negara Indonesia terdidik dan bertanggung jawab.

Agar mahasiswa menguasai serta memahami berbagai masalah dasar dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa serta bernegara, dam dapat mengatasinya dengan pemikiran kritis serta bertanggung jawab
yang berlandaskan Pancasila, Wawasan Nusantara, dan juga Ketahanan Nasional
Agar mahasiswa memiliki sikap serta perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kejuangan, cinta tanah
air, serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa.

TUJUAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN


Tujuan utama pendidikan kewarganegaraan adalah untuk membangun dan menumbuhkan
wawasan dan kesadaran bernegara, sikap serta perilaku yang mencintai tanah air dan
bersendikan kebudayaan bangsa, wawasan nusantara, serta ketahanan nasional dalam diri
para calon-calon penerus bangsa yang sedang dan mengkaji dan akan menguasai ilmu
pengetahuaan dan teknologi serta seni.
Dangan hal berbeda bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia indonesia yang
berbudi luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, profesional, bertanggung jawab, dan
produktif serta sehat jasmani dan rohani.
Pendidikan kewarganegaraan yang berhasil akan membuahkan sikap mental yang cerdas,
penuh rasa tanggung jawab dari peserta didik. Sikap ini disertai perilaku yang:
1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa serta menghayati nilai-nilai
falsafah bangsa.
2. Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam masnyarakat berbangsa dan bernegara.
3. Rasional, dinamis, dan sabar akan hak dan kewajiban warga negara.
4. Bersifat profesional yang dijiwai oleh kesadaran bela negara.
5. Aktif memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni untuk kepentingan
kemanusiaan, bangsa dan negara.
Melalui pendidikan Kewarganegaraan , Rakyat Republik indonesia diharapkan mampu
memahami, menganalisa, dan menjawab masalah-masalah yang di hadapi oleh masyarakat ,
bangsa dan negaranya secara konsisten dan berkesinambungan dalam cita-cita dan tujuan
nasional seperti yang di gariskan dalam pembukaan UUD 1945.
KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas dapat di ambil kesimpulan akan pentingnya suatu pendidikan
berbangsa dan bernegara agar terciptanya keseibangan antara hak dan kewajiban bagi setiap
warga negra dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan berbegara . Dan menjadi suatu
penjelasan, bahwa sesuatu hal yang mungkin sebagian besar orang menganggapnya tidak
penting pada hakikatnya memiliki peranan yang menentukan kelangsungan hidup kita di

masa yang akan datang. Dan perlu kita ketahui dan pahami ketika hal itu terjadi, maka
pahamilah bahwa nilai-nilia terkandung dari hal tersebut sudah mulai menghilang dari diri
kita,dan perlu kita pelajari kembali
TUJUAN DAN FUNGSI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
TUJUAN DAN FUNGSI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Oleh Drs. H. Dodi
Supandi, M.Pd.
Menurut Branson (1999:7) tujuan civic education adalah partisipasi yang
bermutu dan bertanggung jawab dalam kehidupan politik dan masyarakat baik
tingkat lokal, negara bagian, maupun nasional. Tujuan pembelajaran PKn dalam
Depdiknas (2006:49) adalah untuk memberikan kompetensi sebagai berikut:
a. Berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu Kewarganegaraan.
b. Berpartisipasi secara cerdas dan tanggung jawab, serta bertindak secara
sadar dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan
karakter-karakter masyarakat di Indonesia agar dapat hidup bersama dengan
bangsa-bangsa lain.
d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam peraturan dunia secara
langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
Tujuan PKn yang dikemukakan oleh Djahiri (1994/1995:10) adalah sebagai
berikut:
a. Secara umum. Tujuan PKn harus ajeg dan mendukung keberhasilan
pencapaian Pendidikan Nasional, yaitu Mencerdaskan kehidupan bangsa yang
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Yaitu manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur,
memiliki kemampuan pengetahuann dan keterampilan, kesehatan jasmani, dan
rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.
b. Secara khusus. Tujuan PKn yaitu membina moral yang diharapkan diwujudkan
dalam kehidupan sehari-hari yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai
golongan agama, perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab,
perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan
bersama di atas kepentingan perseorangan dan golongan sehingga perbedaan
pemikiran pendapat ataupun kepentingan diatasi melalui musyawarah mufakat,
serta perilaku yang mendukung upaya untuk mewujudkan keadilan sosial seluruh
rakyat Indonesia.
Sedangkan menurut Sapriya (2001), tujuan pendidikan Kewarganegaraan adalah:
Partisipasi yang penuh nalar dan tanggung jawab dalam kehidupan politik dari
warga negara yang taat kepada nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar demokrasi

konstitusional Indonesia. Partisipasi warga negara yang efektif dan penuh


tanggung jawab memerlukan penguasaan seperangkat ilmu pengetahuan dan
keterampilan intelektual serta keterampilan untuk berperan serta. Partisipasi
yang efektif dan bertanggung jawab itu pun ditingkatkan lebih lanjut melalui
pengembangan disposisi atau watak-watak tertentu yang meningkatkan
kemampuan individu berperan serta dalam proses politik dan mendukung
berfungsinya sistem politik yang sehat serta perbaikan masyarakat.
Tujuan umum pelajaran PKn ialah mendidik warga negara agar menjadi warga
negara yang baik, yang dapat dilukiskan dengan warga negara yang patriotik,
toleran, setia terhadap bangsa dan negara, beragama, demokratis ...,
Pancasilasejati (Somantri, 2001:279). Fungsi dari mata pelajaran PKn adalah
sebagai wahana untuk membentuk warga negara yang cerdas, terampil, dan
berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan
merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan
amanat Pancasila dan UUD NRI 1945.
Upaya agar tujuan PKn tersebut tidak hanya bertahan sebagai slogan saja, maka
harus dirinci menjadi tujuan kurikuler (Somantri, 1975:30), yang meliputi:
a. Ilmu pengetahuan, meliputi hierarki: fakta, konsep, dan generalisasi teori.
b. Keterampilan intelektual:
1) Dari keterampilan yang sederhana sampai keterampilan yang kompleks
seperti mengingat, menafsirkan, mengaplikasikan, menganalisis,
mensintesiskan, dan menilai;
2) Dari penyelidikan sampai kesimpulan yang sahih: (a) keterampilan bertanya
dan mengetahui masalah; (b) keterampilan merumuskan hipotesis, (c)
keterampilan mengumpulkan data, (d) keterampilan menafsirkan dan
mneganalisis data, (e) keterampilan menguji hipotesis, (f) keterampilan
merumuskan generalisasi, (g) keterampilan mengkomunikasikan kesimpulan.
c. Sikap: nilai, kepekaan dan perasaan. Tujuan PKn banyak mengandung soalsoal afektif, karena itu tujuan PKn yang seperti slogan harus dapat dijabarkan.
d. Keterampilan sosial: tujuan umum PKn harus bisa dijabarkan dalam
keterampilan sosial yaitu keterampilan yang memberikan kemungkinan kepada
siswa untuk secara terampil dapat melakukan dan bersikap cerdas serta
bersahabat dalam pergaulan kehidupan sehari-hari, Dufty (Numan Somantri,
1975:30) mengkerangkakan tujuan PKn dalam tujuan yang sudah agak terperinci
dimaksudkan agar kita memperoleh bimbingan dalam merumuskan: (a) konsep
dasar, generalisasi, konsep atau topik PKn; (b) tujuan intruksional, (c) konstruksi
tes beserta penilaiannya.
Djahiri (1995:10) mengemukakan bahwa melalui PKn siswa diharapkan:
a. Memahami dan menguasai secara nalar konsep dan norma Pancasila sebagai
falsafah, dasar ideologi, dan pandangan hidup negara RI.
b. Melek konstitusi (UUD NRI 1945) dan hukum yang berlaku dalam negara RI.
c. Menghayati dan meyakini tatanan dalam moral yang termuat dalam butir di
atas.
d. Mengamalkan dan membakukan hal-hal di atas sebagai sikap perilaku diri dan

kehidupannya dengan penuh keyakinan dan nalar.


Secara umum, menurut Maftuh dan Sapriya (2005:30) bahwa tujuan negara
mengembangkan Pendiddikan Kewarganegaraan agar setiap warga negara
menjadi warga negara yang baik (to be good citizens), yakni warga negara yang
memiliki kecerdasan (civics inteliegence) baik intelektual, emosional, sosial,
maupun spiritual; memiliki rasa bangga dan tanggung jawab (civics
responsibility); dan mampu berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Berdasarkan pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa PKn sebagai
program pengajaran tidak hanya menampilkan sosok program dan pola KBM
yang hanya mengacu pada aspek kognitif saja, melainkan secara utuh dan
menyeluruh yakni mencakup aspek afektif dan psikomotor. Selain aspek-aspek
tersebut PKn juga mengembangkan pendidikan nilai.

PKn Sebagai Pendidikan Karakter


Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan pendidikan politik
yang fokus materinya berupa peranan warga negara dalam kehidupan bernegara
yang kesemuanya itu diproses dalam rangka untuk membina peranan tersebut
sesuai dengan ketentuan Pancasila dan UUD 1945 agar menjadi warga negara
yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara (Prewitt & Dawson, dan Aziz dkk
dalam Cholisin, 2004:10). Pendidikan Kewarganegaraan lebih merupakan bentuk
pengajaran politik atau pendidikan politik. Sebagai pendidikan politik berarti
fokusnya lebih menekankan bagaimana membina warga negara yang lebih baik
(memiliki kesadaran politik dan hukum) lewat suatu proses belajar mengajar
(Cholisin, 2004:11). Selain itu, Pendidikan Kewarganegaraan adalah sebagai
wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warga negara
yang demokratis dan bertanggung jawab. Kemudian tujuan mata pelajaran
Kewarganegaraan

menurut

Kurikulum

2004

adalah

untuk

memberikan

kompetensi-kompetensi sebagai berikut:


1.

berpikir

secara

kritis,

rasional,

dan

kreatif

dalam

menanggapi

isu

kewarganegaraan;
2. berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab, dan bertindak secara
cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, bernegara;

3. berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan


pada karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan
bangsa-bangsa lainnya;
4. berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung
atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
(Standar Kompetensi Kewarganegaraan SMA/Aliyah Tahun 2003).
Selain itu, dari sisi teori dan implementasinya mata pelajaran PKn
mempunyai

peran

yang

sangat

penting

dalam

pendidikan

untuk

mengembangkan pembangunan karakter melalui peran guru PKn. Sesuai dengan


salah satu misi mata pelajaran PKn paradigma baru yaitu sebagai pendidikan
karakter.
Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang perlu didukung dengan
baik dan nyata, dengan pendidikan karakter yang tepat akan dihasilkan output
generasi muda yang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas secara
lahir maupun batin.
PKn sebagai salah satu mata pelajaran yang memiliki muatan dalam
pendidikan moral dan nasioalisme, merupakan sebuah mata pelajaran yang
wajib mengambil bagian dalam proses pendidikan karakter melalui peran guru
PKn. Dengan menerapkan metode pengajaran yang tepat dan didukung oleh
semua jajaran personel dilembaga pendidikan tersebut, maka guru PKn dapat
mengambil

inisiatif

untuk

menjadi

pendorong

berlangsungnya

program

pembelajaran karakter tersebut. Sebagai output dari pembelajaran PKn ini akan
diperoleh generasi yang memiliki sumber daya manusia yang benar-benar
berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Untuk mewujudkan pendidikan PKn sebagai bagian dari pendidikan
karakter yang mengandung moral, nilai, demokrasi serta Pancasila, maka ada
beberapa hal yang perlu dilakukan guru PKn, yakni sebagai berikut:
1. Dalam pembelajaran PKn sebaiknya dilakukan dengan pendekatan komprehensif,
baik komprehensif dalam isi, metode, maupun dalam keseluruhan proses
pendidikan. Isi pendidikan PKn hendaknya meliputi semua permasalahan yang
berkaitan dengan pilihan nilai pribadi sampai nilai-nilai etika yang bersifat
umum. Selain itu, guru PKn juga perlu memahami dengan baik mengenai konsep
dan indikator karakter yang hendak diinternalisasikan kepada peserta didik

supaya guru PKn dapat membuat silabus dan RPP dengan baik sehingga dapat
melaksanakan pembelajaran secara efektif.
2. Metode pembelajaran PKn yang digunakan oleh guru PKn, harus mengembangkan
pembelajaran aktif dengan menggunakan banyak metode belajar seperti
penanaman

nilai

melalui

studi

pustaka,

klarifikasi

nilai

melalui

mengamati/mengobservasi, analisis nilai melalui pemecahan masalah/kasus,


maupun diskusi kelas untuk menanamkan nilai berpikir logis, kritis, kreatif dan
inovatif.
3. Guru PKn hendaknya menjadi model atau contoh bagi peserta didik sebagai guru
yang berkarakter. Jadi dalam setiap sikap dan tindakan guru PKn harus
menggambarkan karakter yang diinternalisasikan kepada peserta didiknya.
4. Untuk mewujudkan PKn sebagai bagian dari pendidikan karakter maka harus
menciptakan kultur sekolah yang kondusif bagi pengembangan karakter peserta
didik. Sehingga, kultur sekolah yang berupa norma-norma, nilai-nilai, sikap,
harapan-harapan, dan tradisi yang ada di sekolah yang telah diwariskan dan
dipegang bersama yang mempengaruhi pola pikir, sikap, dan pola tindakan
seluruh warga sekolah. Karena kultur sekolah yang positif dan sehat akan
berdampak pada motivasi, prestasi, produktivitas, kepuasan serta kesuksesan
siswa dan guru.
Dalam mencapai tujuan ini tentunya Pendidikan PKn tidak dapat berdiri
sendiri, tetapi harus bisa berkolaborasi dengan mata pelajaran yang lain, seperti
mata pelajaran agama. Pekerjaan ini memang bukan hanya bertumpu pada mata
pelajaran PKn tetapi mata pelajaran PKn akan menjadi dasar dan motor dalam
setiap kegiatan dan aktivitas yang ada, dan guru PKn akan menjadi pengontrol
dan pembimbing dalam pelaksanaannya. Tentu saja, untuk mewujudkan tujuan
ini, guru PKn harus didukung dan dibantu oleh semua warga sekolah melalui
kerjasama yang baik antara semua pihak, baik oleh kepala sekolah, guru, siswa,
serta komite sekolah

Azyumardi Azra:
Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan yang mengkaji dan membahas tentang
pemerintahan, konstitusi, lembaga-lembaga demokrasi, rule of law, HAM, hak dan kewajiban
warganegara serta proses demokrasi.
Pendidikan demokrasi menyangkut: Sosialisasi; Diseminasi dan aktualisasi konsep; Sistem;
Nilai; Budaya; dan Praktek demokrasi melalui pendidikan.

Pendidikan HAM mengandung pengertian,


sebagai aktivitas mentransformasikan nilai-nilai HAM agar tumbuh kesadaran akan
penghormatan, perlindungan dan penjaminan HAM sebagai sesuatu yang kodrati dan dimiliki
setiap manusia.
Zamroni:
Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk
mempersiapkan warga masyarakat berpikir kritis dan bertindak demokratis.
Merphin Panjaitan:
Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mendidik
generasi muda menjadi warganegara yang demokratis dan partisipatif melalui suatu
pendidikan yang dialogial.
Soedijarto:
Pendidikan kewarganegaraan sebagai pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu
peserta didik untuk menjadi warganegara yang secara politik dewasa dan ikut serta
membangun sistem politik yang demokratis.
Tim ICCE UIN Jakarta:
Pendidikan kewarganegaraan adalah suatu proses yang dilakukan oleh lembaga pendidikan
di mana seseorang mempelajari orientasi, sikap dan perilaku politik sehingga yang
bersangkutan memiliki political knowledge, awareness, attitude, political efficacy dan
political participation serta kemampuan mengambil keputusan politik secara rasional.
Tim ICCE UIN Jakarta:
Unsur-unsur yang harus dipertimbangkan dalam menyusun program civic education yang
diharapkan akan menolong para peserta didik untuk:
Mengetahui, memahami dan mengapresiasi cita-cita nasional.
Dapat membuat keputusan-keputusan cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai
macam masalah pribadi, masalah masyarakat dan masalah negara.
Henry Randall, civics adalah ilmu kewarganegaraan yang membicarakan hubungan manusia
dengan:
a. manusia dalam perkumpulan-perkumpulan yang terorganisasi [sosial, ekonomi, politik];
b. individu-individu dengan negara.
Civitas Internasional:
Civic Education adalah pendidikan yang mencakup pemahaman dasar tentang cara kerja
demokrasi dan lembaga-lembaganya, pemahaman tentang rule of law, HAM, penguatan
ketrampilan partisipatif yang demokratis, pengembangan budaya demokratis dan
perdamaian.
Muhammad Numan Soemantri:

Kegiatan yang meliputi seluruh program sekolah.


Meliputi berbagai macam kegiatan mengajar yang dapat menumbuhkan hidup dan
perilaku yang lebih baik dalam masyarakat yang demokratis.

Termasuk pula hal-hal yang menyangkut pengalaman, kepentingan masyarakat, pribadi


dan syarat-syarat obyektif untuk hidup bernegara.
Jadi pendidikan kewarganegaraan (civic education) adalah program:
1. Memuat bahasan tentang: a. Masalah kebangsaan. b. Masalah kewarganegaraan.
2. Dalam hubungannya dengan: a. Negara b. Demokrasi c. HAM d. Masyarakat madani
3. Dalam implementasinya menerapkan prinsip-prinsip pendidikan demokratis dan humanis.
Tujuan pendidikan kewarganegaraan adalah:
a. Membentuk kecakapan partisipatif yang bermutu dan bertanggung jawab.
b. Menjadi warganegara yang baik dan demokratis.
c. Mampu berpikir komprehensif, analitis dan kritis.
d. Membentuk mahasiswa yang memiliki good and responsible citizen.
Urgensi pendidikan kewarganegaraan (Azyumardi Azra):
a. Meningkatnya gejala dan kecenderungan political literacy, tidak melek politik, tidak
mengetahui cara kerja demokrasi dan lembaga politik di kalangan warganegara.
b. Meningkatnya political apathies yang ditunjukkan dengan sedikitnya keterlibatan
warganegara dalam proses-proses politik.
c. Sebagai salah satu instrument pendidikan politik yang mampu melakukan empowerment
bagi masyarakat, terutama masyarakat kampus.
d. Sebagai wahana dan instrument untuk melakukan social engineering dalam rangka
membangun social capital yang efektif bagi tumbuhnya kultur demokrasi dalam kehidupan
masyarakat berbangsa, bernegara serta tumbuhnya masyarakat madani.