Anda di halaman 1dari 3

Abu-abu Dunia Rehabilitasi Penyalahguna Narkoba

Indonesia Darurat Narkoba, demikian seruan Presiden Jokowi. Maraknya


penyalahgunaan narkoba membuat pemerintah harus jelih menyiasati, mengatur
strategi dan mengeluarkan kebijakan. Langkah yang diambil pemerintah tentulah
memiliki dasar dan ingin mencapai sebuah tujuan. Perkara narkoba hanya tentang
supply and demand. Bagaimana upaya kita menekan laju permintaan dan
membatasi bahkan menghilangkan ketersediaan barang (narkoba). Kedua hal ini
seperti dua mata pisau yang tajam. Salah-salah memainkan ritmenya, kita sendiri
yang terhujam olehnya. Hanya ada dua pilihan, siap bermain dengan mata pisau
atau hilang menjauh tutup mata dengan semua ini.
Berbicara mengenai rehabilitasi. Sampai saat ini belum ada metode yang
benar-benar ideal untuk mengobati para penyalahguna narkoba. Yang harus kita
pahami bahwa setiap penyalahguna narkoba memiliki kompleksitas permasalahan
sendiri-sendiri dan membutuhkan metode pemecahan permasalahan mereka
sendiri-sendiri pula. Problem solving yang tidak tuntas akan permasalahan mereka,
membuat mereka cenderung mudah kembali lagi menjadi penyalahguna narkoba.
Just call it relaps.
Disinilah kita semua dituntut untuk paham bagaimana dunia adiksi itu
bekerja. Adiksi bukanlah sebuah penyakit yang dengan mudah kita sebut sembuh
total. Adiksi adalah penyakit yang bisa pulih namun terkontrol. Apa saja komponen
pengontrol kesembuhan penyakit ini? Komitmen diri sendiri, keluarga dan
lingkungan sosial. Ketika komponen ini bersinergi dengan baik, penyalahguna
narkoba dapat pulih.

Lalu bagaimana menyikapi penyalahguna narkoba yang sudah menjalani


berbagai metode rehabilitasi namun tetap saja kembali mengkonsumsi narkoba?
Apakah ada yang salah dengan metode rehabilitasi tersebut? Harus kita pahami
bahwa rehabilitasi bukan jaminan bagi seorang penyalahguna narkoba untuk benarbenar lepas dari narkoba. Risiko mengulang itu akan selalu ada. Namun, hal
sederhana yang bermakna yang sering kita lewatkan, dengan mengikuti rehabilitasi,
penyalahguna narkoba memiliki selang waktu (sempat) jauh dari narkoba. Memiliki
bekal nilai-nilai kebaikan yang dengan harapan nilai-nilai kebaikan itulah menjadi
bekal bagi mereka untuk kembali hidup bersama keluarga dan lingkungan sosialnya.
Mari kita bermain analogi, seorang pasien kanker payudara stadium lanjut
yang sudah bermetastase (menyebar) ke organ tubuh lainnya. Dapat diprediksi
pasien tersebut hanya mampu bertahan hidup kurang dari lima tahun. Misalnya,
berdasarkan evidence based medicine, five years survival rate pasien ini hanya
40%. Sehingga jika diberikan pengobatan kemoterapi tidak akan menyembuhkan
namun menambah angka kebertahan hidup lima tahun pada pasien ini. Setidaknya,
dengan kemoterapi kita sudah mengusahakan menigkatnya sedikit harapan hidup
pasien ini, bahkan bisa jadi meningkatkan kualitas hidup pasien ini. Boleh jadi,
berimbas pada kualitas hidup keluarganya.
Begitu pula pasien penyalahguna narkoba, dengan kita lakukan rehabilitasi
setidaknya memberikan nilai-nilai kebaikan sebagai modal di kehidupan mendatang.
Meningkatkan kualitas hidup mereka dan tentu kualitas hidup orang orang-orang
terdekat mereka. Dan ketika mereka relaps, dont make a judgement without
understanding deeply. Relaps is their own siclus who cant maintain of narcotics
abstain.