Anda di halaman 1dari 7

Swear, Pak Guru...

Saya paham, usia-usia kalian ini masih labil. Masih ingin bercanda
dan kurang serius. Semua mingkem. Si guru kemudian merangsek maju.
Tepat di depan meja Angga dia berhenti. Patah hati itu biasa.
Suasana di SMA Caraka II mendadak khidmat. Perang suara dan
segala kekisruhan lain tak terdengar. Burung-burung yang biasanya harus
terbirit-birit, akibat timpukan maut dari hampir seluruh murid, pagi itu
bernyanyi riang. Lapangan bersih. Pohon beringin kurus di lapangan
basket, yang sehari-hari menderita tekanan mental, kali ini bernapas lega.
Inilah hari berkabung bagi semua murid sekolah itu. Hari pembagian
rapor!
Dari arah gerbang, sebuah sedan merah melesat menuju parkiran,
tempat yang mirip ladang mobil. Angga segera mematikan mesin
mobilnya. Bersama seorang wanita bertubuh semampai, keduanya
menyusuri koridor. Raut anak pejabat itu begitu tenang. Siapapun tahu,
meski berotak freezer, jarang masuk, dan terlampau sering berulah,
pastilah Angga naik kelas.
Gina dan sang mama, yang sudah cukup lama duduk di deret
bangku orangtua murid, menyapa kedatangan mereka. Keadaan menjadi
hangat.
Sudah lama, Jeng? sapa Tante Ayuni, ibunda Angga. Tante
Wulandari, mama Gina, menjawabnya dengan seutas senyum.
Tanpa perlu waktu panjang, kedua wanita yang merupakan rekan
bisnis perhiasan itu sudah lebur dalam perbincangan. Angga lalu
menghampiri Gina, gebetannya sejak SMP.
Sedari tadi Gina lebih banyak bersikap dingin, setingkat lebih dingin
dari teman-temannya yang rata-rata pasi. Dia ragu akan hasil rapornya
semester ini. Sebenarnya tak ada alasan Gina untuk bersikap demikian,
mengingat dua bulan lalu baru saja dirinya dinobatkan sebagai siswi
teladan.
Peringkatnya
di
semester-semester
kemarin
juga
membanggakan. Dua tawaran beasiswa bergengsi di luar negeri pun
sudah menunggunya. Terlalu berbeda dari Angga.
Akhirnya Gina tersenyum. Saat rapor dibagikan, semua nilainya
nyaris sempurna. Dia juara kelas lagi. Sementara Angga, meski tanpa
kejelasan peringkat, ia tetap naik kelas. Pulangnya, Gina terpaksa
menerima tawaran Angga yang memaksa ingin mengantar.
***

Mampus gue! Jam berapa, nih? Gina gelagapan dan buru-buru


menyingkap bed cover. Liburan panjang telah membuat matanya asing
bangun pagi. Bakal makan banyak waktu kalau mandi dulu. Parfum!
Semprot! Itu jalan keluar satu-satunya, pikir Gina
Di tengah keadaan genting itu, HP-nya tiba-tiba bunyi. SMS.
Mimpiin gw kan td mlm. Gw jg. Miss U.
Sumpah, nggak penting banget. Dari Angga.
Gin, hari ini kamu naik bus, ya.... Mobil yang satunya masih di
bengkel.
Jgerrr! Udah siang gini naik bus? Habis gue, batin Gina.
Penderitaan belum usai. Gina diberi uang saku yang cuma cukup buat
ongkos pulang-pergi plus semangkuk bakso. Penghematan kata maminya.
Selalu saja!
Akhirnya, berhasil juga Gina nyeplosin badannya ke dalam bus
kota yang berjubal. Kernet sialan, emang badan gue sansak tinju apa?
Umpat hati Gina begitu si kernet mendorong badannya ke dalam. Gina
sempat sempoyongan. Selain tak sarapan, supir di depan terus aja nginjek
gas kemudian mendadak ngerem.
Ngekkk! Gawat, ada orang yang kegencet Gina. Seorang pria
necis.
Maaf... maaf banget, Pak, Gina mendadak gelagapan, persis
maling kegep.
Lelaki necis itu hanya tersenyum kecil. Berkas cukuran kumis yang
menyisakan warna kehijauan membuatnya terlihat dinamis. Gina sempat
terpana dibuatnya. Tapi, bak kesetanan, buru-buru gadis itu turun.
Sekolahnya lengang. Dia nggak sadar kalau lelaki necis itu juga turut
turun. Mengikutinya.
***
Cewek kurus itu terpana. Kakinya mendadak tak bisa bergerak, serasa
lumpuh. Matanya terbelalak. Pemandangan di depan matanya seperti
lapangan yang baru selesai ditinggal kerumunan penonton layar tancap.
Kertas-kertas bergeletakan, kebanyakan berbentuk kapal-kapalan.
Baru hari pertama.... Gina menapak sambil geleng-geleng kepala. Dia
terus berjalan. Kelihatannya guru belum ada yang masuk kelas, sebab
suara rusuh masih di sana-sini. Ya, siapa guru yang nggak ngeper ngajar

di hari perdana. Risikonya terlalu berat. Sambutan yang diberi biasanya


berlebihan.
Disorakinlah,
didieminlah,
diajak
bercanda
sampai
kewalahan.... Parah, kan?
Welcome to class, Gin...!
Gina terlonjak. Ada sambutan meriah untuknya.
Wah, hebat banget lo! Selamat, ya..... Juara kelas lagi, gilaaaaa! Rosi
ngucapinnya terlampau kencang. Nih anak kebanyakan naik kereta,
makanya bolot.
Crooot! Gina disemprot.
Preeet! Terompet bunyi.
Jderrr! Balon dipecahin tepat di depan mukanya.
Tiba-tiba semua tak bersuara, hening....
Dari balik pintu Angga melangkah selayak pangeran. Tangannya
disembunyikan ke belakang, seperti memegang sesuatu. Semua anak di
kelas itu berdiri.
Gina..., kata Angga dramatis.
Yang diajak ngomong malah nyengir tak mengerti.
Will you marry me.... Now!
Plakk!! Angga kena gaplok. Teman-temannya
mengelus pipi masing-masing. Pasti sakit, tuh.

yang

berdiri

kontan

Rosi yang terkenal romantis, sweety pink, langsung nahan napas.


Melotot kencang. Habis itu dia segera menarik Gina ke toilet. Sementara
Angga cuma mangap. Melongo.
Lo stres, depresi, apa idiot sih, Gin? Cowok se-cool Angga lo gampar!
Gina puyeng ngedengerin ocehan Rosi. Ini kan urusannya dengan Angga,
kenapa jadi Rosi yang semaput. Tak tahan, Gina berbalik, bergegas keluar
dengan langkah cepat sampai menubruk seseorang. Mereka jatuh berdua.
Tubuh Gina menindih si lelaki. Rosi histeris.
Gawat! Ada perkos.... untungnya Gina kilat bertindak, ngebekap congor
si Rosi. Bagai de javu, Gina merasa tampang orang ini pernah dia lihat.
Tapi di mana?
Belum terjawab, Rosi sudah menariknya kembali.

Kayaknya gue pernah lihat tuh orang. Di mana, ya...? Gina masih
tercenung.
Aduh, Gin... lo pintarnya palsu, ya. Masa lo nggak kenal dia. Dia guru
fisika baru kita.
Kok lo tahu?
Jangan panggil gue Rosi kalau gue nggak up to date. Mira, anak kepsek,
seminggu lalu cerita ke gue.
Seminggu lalu? Gina mangap. Kok bisa-bisanya dia ketinggalan berita.
Makanya jadi orang jangan kuper.
Sialan lo.
Ya udah, ayo cabut. Katanya sih dia mau langsung ngajar gitu ke kelas
kita. Ayo!
Serius? Gina terbelalak hebat.
Bukan SMA Caraka Dua bila tanpa keisengan. Nggak cowok, nggak cewek.
Semuanya sama. Sejak beberapa menit tadi, tanda-tanda itu sudah
tercium oleh si guru. Salah satunya Mamo, cowok gendut di deretan
belakang. Begitu si guru masuk, dia segera menyambut. Dia kentut
sebanyak-banyaknya. Karuan semua mabok, dan si guru disalahkan.
Baru pertama datang udah ngebom! komentar seorang cewek. Semua
tergelak.
Si guru tetap stay cool. Dia justru berbalik menghadap papan tulis dan
menuliskan sesuatu di sana. S U P R I.
SU... PRI! Oh... SU... PRI! Suasana mendadak jadi TK.
Namanya keren... mirip... merek rokok! seorang cowok di pojok nyeletuk
panas.
Saya paham, usia-usia kalian ini masih labil. Masih ingin bercanda dan
kurang serius.
Semua mingkem. Si guru kemudian merangsek maju. Tepat di depan meja
Angga dia berhenti.
Patah hati itu biasa.

Angga dengan tampang nggak semangat menatapnya dingin.


Sok tahu! Entah siapa yang nyeletuk. Kayaknya sih cewek.
Sebelum bel pulang, Angga dan genknya berkumpul di kantin. Di depan
semuanya dia janji bakal mendapatkan Gina. Apa pun caranya.
***
Gina menerima kabar itu dari seorang sohib Angga. Katanya, Angga
akan adu balap malam ini. Kalau kalah, dia janji bunuh diri saat itu juga.
Ini semata buat Gina, begitu kasak-kusuknya.
Malam harinya Gina dijemput seorang cowok yang ngaku dapat
perintah dari Angga, untuk mengantarnya ke suatu tempat,
mirip track balap. Di sana Angga sudah siap melesat. Biar bagaimanapun
juga, Gina tak ingin terjadi apa-apa. Maka, Gina pun menerimanya.
Dasar cewek, baru diginiin aja nyerah, Angga tertawa di dalam hati.
Semenjak itulah Gina sedikit-sedikit berubah. Hidupnya jadi serba
tak teratur. Seminggu paling hanya tiga hari sekolah. Sisanya cabut
bersama Angga. Gina seakan melupakan semua hal yang menyangkut
sekolah, termasuk pelajaran fisika favoritnya.
Suatu malam Gina pulang larut dalam keadaan setengah sadar.
Orangtuanya kontan marah habis-habisan.
Kenapa kamu berubah begini, Gina? Mama sama sekali nggak nyangka.
Sudahlah, Ma. Ini hidup Gina, kan. Mau begini kek, begitu kek,
terserah Gina. Gina udah gede, Ma. Lagian, apa sih perintah Mama yang
Gina nggak turutin? Belajar-sekolah, belajar-sekolah. Please, Ma, kasih
Gina kebebasan. Sekali aja!
Kamu...
Mulai sekarang Mama nggak usah ngatur-ngatur Gina. Stop!
lanjutnya ketus.
Sesuatu yang tak seharusnya kali itu terjadi. Mama Gina menampar
anaknya.
Entah bagaimana, setiap kali Gina masuk sekolah selalu saja
ketemu pelajaran fisika.
Saya tahu kamu anak baik. Ingat, bertengkar sama orangtua itu
tiada guna. Cuma dosa besar.

Heran! Kenapa tiap kali bermasalah, Pak Supri bisa tahu. Dia lupa
sarapan, telat tidur, sering keluar malam bersama Angga, semua
diketahui guru itu.
Menjelang istirahat, Gina mendapat pesan dari Angga. Intinya
mereka berdua akan keluar malam. Dugem. Katanya acara reuni SMP. Tapi
bisa jadi itu hanya alasan. Gina pusing. Alasan apa lagi yang akan dia
bilang pada mamanya?
Mama tahu kamu bohong. Kamu boleh begini sama orang lain, tapi
tidak pada Mama. Mama mengurus kamu bukan sehari-dua hari ini.
Semua gerak-gerik kamu Mama hafal betul.
Ini serius, Ma. Sekali ini, deh. Angga bilang gitu. Reunian doang!
Gina nggak sadar suaranya mulai meninggi.
Mamanya menghela napas. Terserah kamu saja.
Angga sepertinya sengaja mutar-mutar. Gina jelas merasakan itu.
Tepat di sebuah jalan lengang, Angga mematikan mobil. Berhenti. Kala itu
juga ia mengatakan niatnya untuk melamar gadis itu. Setelah itu mereka
menuju diskotek biasa.
Gina sama sekali nggak nyangka Angga mampu berbuat begitu.
Waktu di diskotek tadi Angga hendak menciumnya, memperlakukannya
seperti cewek gampangan. Kita sudah terlalu jauh. Ini harus diakhiri,
tekad Gina sesaat sebelum kabur naik taksi.
Paginya, dengan mata super-ngantuk, Gina maksa sekolah. Dia tak
tahu hari ini ada ulangan.
Ulangan apaan? Kok lo nggak bilang?
Fisika!, tandas Rosi. Ye, udah seratus kali gue telpon lo, tapi HP lo
mampus. Gue yakin lo pasti lagi jalan sama Angga.
Gina mendengus. Apa-apaan sih, lo!
Gina pingin segera kabur dari sekolah. Masalahnya, dia sama sekali
nggak belajar. Akan tetapi, Pak Supri sudah nongol.
40 dari 45 menit waktu yang diberikan dihabiskan Gina hanya untuk
melototin kertas soal. Tak ada yang dia mengerti sama sekali. Menjelang
bel Gina menulis: Pak, saya tahu dugem itu nggak baik. Jadi ijinin saya
remedial, ya. Saya janji berubah, Pak. Suer.

Hari itu Gina ngaku duluan, sebelum guru mata-mata itu bersuara.