Anda di halaman 1dari 8

Sistem Kontrol Level Air Pada Steam Drum

Steam drum level control merupakan salah satu sistem kontrol pada Steam Generator
(boiler). Tujuan dari drum level control adalah untuk menjaga water level pada boiler steam
drum agar sesuai dengan setpoint-nya, walaupun terjadi perubahan beban atau terjadi
gangguan pada power plant system. Dengan water level yang terjaga, maka kualitas steam
yang dihasilkan baik. Yaitu steam yang dihasilkan tidak overheated yang dapat
mengakibatkan kerusakan pada boiler tubes (bisa bengkok atau bocor) atau steam yang
dihasilkan tidak mengandung uap air yang dapat merusak turbine blades.
Terdapat tiga tipe level control system pada steam drum, yaitu single-element, two-element
dan three-element level controls. Pada kesempatan ini yang akan saya bahas adalah threeelement level control, yang sesuai untuk aplikasi power system dimana perubahan bebannya
(baik beban dari jaringan maupun dari pemakaian sendiri) tinggi, terus-menerus dan tidak
dapat diprediksi. Selain itu single-element dan two-element hanya cocok bagi pembangkit
listrik untuk industri atau perusahaan yang mana perubahan bebannya kecil dan menengah.
Unjuk kerja dari three-element control system pada kondisi sementara membuatnya sangat
berguna untuk aplikasi umum pada industri dan perangkat boiler. Gambar dibawah
menunjukan skema dari three-element level control system.

Thr
ee-element drum level control system
Cara Kerja Sistem (Lihat gambar dibawah):
Perangkat yang diperlukan untuk melengkapi skema three-element drum level control terdiri
dari flow element tambahan (FE-2) dan differential pressure transmitter (FT-2). Area sebelah
kiri garis putus-putus pada gambar berfungsi sama dengan two-element drum level control,

dengan pengecualian: output dari feedwater flow computer (FY-3) menjadi set-point untuk
feedwater flow controller (FIC-2).
Feedwater flow diukur oleh transmitter (FT-2). Sinyal output dari feedwater flow transmitter
di-linearkan oleh square root extraxtor, (FY-2). Sinyal ini merupakan variabel proses untuk
feedwater controller dan dibandingkan dengan output dari feedwater flow computer (setpoint). Feedwater flow controller menghasilkan sinyal korektif yang diperlukan untuk
menjaga feedwater flow pada set-point nya dengan pengaturan feedwater control valve (FC1).

Three-element drum level control system (SAMA diagram)


Kondisi Operasi pada Steam Drum
Pada saat pendidihan air dalam steam drum, steam menghasilkan produk berupa steam
bubbles yang terbentuk diantara penghubung steam/water level. Steam bubbles tersebut
memiliki volume dan karenanya dapat memunculkan kekeliruan mengenai water level yang
sebenarnya di dalam drum. Pengaruh lainnya yang terjadi adalah perubahan pressure dalam
drum. Karena steam bubbles ditekan oleh pressure (jika perubahan pressure akibat dari steam
demands), pada kondisi masing-masing steam bubbles akan mengembang atau menyusut
terhadap perubahan pressure tersebut.
Steam demand yang tinggi akan mengakibatkan pressure di dalam steam drum menurun,
akibatnya steam bubbles akan mengembang untuk menampilkan water level tinggi padahal
sebenarnya tidak (low). Fiksi dari tingginya water level ini meyebabkan feedwater input
untuk shut down, padahal pada saat tersebut suplai air justru sangat dibutuhkan. Peningkatan
Water level hasil dari penurunan pressure disebut swell, dan sebaliknya penurunan water
level yang disebabkan oleh peningkatan pressure disebut shrink.

Berikut adalah kronologis dari terjadinya swell and shrink effects pada steam drum:
Swell effect terjadi pada saat terjadinya peningkatan beban pada boiler (steam demand
meningkat). Pada kondisi ini, boiler akan merespon dengan meningkatkan pembakaran bahan
bakar (batubara, minyak, gas, dsb). Seperti telah dibahas diatas, yang mana peningkatan
steam demand dapat menyebabkan penurunan pressure di dalam steam drum. Dalam kondisi
tersebut, produksi steam bubbles meningkat dan menggantikan air di dalam steam drum.
Swell effect pun terjadi dan akibatnya steam drum akan mengindikasikan High Water Level
(padahal sebenarnya Low Level). Dan secara otomatis, feedwater system akan merespon
dengan memberi sinyal kepada feedwater control valve untuk closing agar aliran air yang
masuk kedalam steam drum dikurangi. Akibatnya, water level pada steam drum akan low dan
sistem akan mengaktifkan low level alarm untuk interlock/tripping boiler.
Sebaliknya, shrink effect terjadi dikarenakan menurunnya beban pada boiler (steam demands
berkurang), yang akan diikuti juga dengan menurunnya laju pembakaran pada boiler.
Akibatnya produksi steam bubble menurun terpengaruh oleh peningkatan pressure di dalam
steam drum.
Pada kondisi ini shrink effect terjadi, yang mana steam drum akan mengindikasikan Low
Water Level. Selanjutnya feedwater system merespon dengan memberi command pada
feedwater control valve untuk opening. Karena itu , steam drum level akan naik dan hal ini
berbahaya karena akan menyebabkan kualitas steam yang dihasilkan menjadi tidak baik
(steam dengan kandungan air yang cukup tinggi). Dan hal tersebut berbahaya bagi steam
turbine karena akan merusak sudu-sudunya (turbine blades).
Oleh karena itu, selain untuk menjaga mass balance antara steam flow demand dan feedwater
flow, sistem kontrol ini juga berfungsi untuk mencegah terjadinya fenomena shrink and
swell effects pada boiler steam drum.
Dan dengan three-element level control, fenomena tersebut akan dapat teratasi. Dengan
cascade control, konfigurasi sistem kontrol ini akan menghasilkan mass balance antara steam
flow dan feedwater flow dan juga memberikan kendali yang halus pada kondisi shrink dan
swell.

Sistem Kontrol Level Air Pada Steam Drum


(II)
Pada boiler, air yang dipanaskan oleh boiler agar menjadi uap, akan selalu melewati steam
drum. Air di dalam steam drum dipompa menuju wall tube yang letaknya berjajar secara
rapat dan didesain menjadi dinding furnace, yaitu tempat terjadinya proses pembakaran
bahan bakar. Pada pipa-pipa inilah air berubah fase menjadi uap dan kembali menuju steam
drum. Selanjutnya air dan uap air akan dipisahkan oleh steam drum, yang masih berfase air
akan dipompa kembali menuju wall tube, sedangkan yang sudah berfase uap akan menuju
pipa-pipa superheater dan menjadi supply untuk turbin uap.
Air pada boiler juga berfungsi sebagai media pendingin pada pipa-pipanya. Terutama pula di
sisi wall tube yang secara langsung ia menjadi dinding furnace, tempat proses pembakaran.
Untuk itulah level air pada steam drum menjadi parameter yang sangat dijaga untuk
memastikan tetap ada media pendingin bagi pipa-pipa boiler.
Parameter lain yang berhubungan dengan level air pada steam drum yaitu debit aliran uap
superheater (main steam) sebagai produk dari boiler, serta debit aliran feed water yang masuk
ke boiler. Dua parameter lain tersebut mempengaruhi kondisi level air pada steam drum, dan
digunakanlah sebuah sistem kontrol untuk menjaga level air steam drum. Ada tiga cara yang
digunakan oleh sistem kontrol tersebut, yaitu single element, two element, dan three element
control, berkaitan dengan parameter-parameter yang sudah saya sebutkan di atas.
Single Element Control
Pada sistem kontrol single element, digunakan sensor level air pada steam drum dan menjadi
sinyal input untuk sistem kontrol tersebut. Sebagai outputnya, sistem kontrol mengeluarkan
perintah/sinyal kepada valve kontrol supply feed water untuk berada pada posisi bukaan
tertentu sehingga level air di dalam steam drum tetap terjaga pada level set point-nya.
Single Element Control

Pada boiler berskala besar yang digunakan oleh pembangkit listrik, sistem kontrol ini tidak
cocok untuk digunakan. Karena boiler pada pembangkit dituntut untuk selalu menyesuaikan
besar produksi uap airnya sesuai dengan beban listrik yang ada. Saat terjadi perubahan beban
listrik (naik misalnya) maka konsumsi uap air akan naik, sehingga level steam drum turun.
Saat level turun itu perintah untuk valve kontrol feed water agar membuka dikirim. Dapat
dibayangkan bahwa proses kontrol tersebut terlalu lambat untuk merespons terjadinya
perubahan beban listrik.
Two Element Control
Pada sistem kontrol ini digunakan pula sinyal input berupa debit aliran main steam / uap
superheater, selain sinyal input dari level steam drum. Dua sinyal input tersebut dijumlahkan
dan diproses oleh sistem kontrol untuk mengatur besar bukaan valve kontrol feed water.
Two Element Control

Two Element System Control

Pada sistem kontrol ini, besar bukaan dari valve kontrol feed water diharapkan dapat
mensupply debit feed water yang sesuai dengan kebutuhan untuk menjaga level steam drum.
Namun jika supply feed water tidak sesuai maka level steam drum akan berada di luar set
point. Setelah terjadi perubahan level steam drum tersebut, baru sistem kontrol akan

merespons dan bukaan valve supply feed water akan diatur lagi. Karena sistem kontrol two
element ini memiliki kelemahan, muncullah alternatif three element control.
Three Element Control
Sistem kontrol ini menggunakan parameter level steam drum, debit aliran main steam, dan
debit aliran feed water sebagai sinyal inputan untuk sistem kontrol. Sehingga diharapkan
level air pada steam drum dapat dijaga untuk tetap berada pada set point-nya sekalipun terjadi
permintaan perubahan beban yang signifikan.
Three Element Control

Three Element System Control

Secara umum boiler-boiler pada pembangkit listrik menggunakan sistem single element
control dan two element control. Single elemnt control digunakan pada saat unit pembangkit
start up dan shut down saja. Sedangkan pada saat beroperasi normal menggunakan three
element control karena produksi uap air yang fluktuatif tergantung oleh kebutuhan beban
listrik konsumen.