Anda di halaman 1dari 14

Manajemen Pendidikan Dan Ranah Yang Melingkupinya

Indra Dwi Wijayanti


Prodi Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Malang
E-mail: sahi2703@gmail.com

ABSTRAK
Penulisan artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta mereview
ulang ruang lingkup manajemen pendidikan yang telah dijelaskan
sebelumnya oleh dosen pendamping dalam materi perkuliahan
prapascasarjana. Penulisan ini menggunakan jenis penulisan artikel
konseptual dengan analisis data yang berpegang pada kecenderungan
bahan-bahan pustaka yang relevan. Hasil dari penulisan ini merujuk pada
kesimpulan penulis mengenai masing-masing bahasan dalam ruang lingkup
manajemen pendidikan. Manajemen pendidikan dilaksanakan dengan tujuh
substansi, yaitu: (1) manajemen kurikulum; (2) manajemen keuangan; (3)
manajemen sumber daya manusia; (4) manajemen sarana dan prasarana;
(5) manajemen kesiswaan; (6) manajemen hubungan masyarakat; dan (7)
kewirausahaan. Dalam pengelolaannya dibutuhkan seorang kepala sekolah
dengan kepemimpinan yang kuat, melalui empat fungsi manajemen, yaitu:
(1) planning; (2) organizing; (3) actuating; dan (4) controlling. Dan proses
akhir yang harus dilakukan kepala sekolah, menyangkut seluruh kegiatan
dalam manajemen pendidikan, adalah melakukan supervisi pendidikan
untuk memperbaiki dan membina seluruh kinerja sekolah.
Kata kunci: manajemen pendidikan, ruang lingkup, substansi.

Pengertian manajemen pendidikan begitu luas jika masing-masing orang


memberikan pendapatnya. Para ahli di bidang manajemen pendidikan sendiri,
memiliki persepsi yang berbeda mengenai pengertian manajemen pendidikan,
meskipun inti dari keseluruhannya adalah sama. Mengambil dari salah satu pakar,
menurut Nawawi (1981) manajemen pendidikan adalah rangkaian kegiatan atau
keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sekelompok orang untuk
mencapai

tujuan

pendidikan

secara

berencana

dan

sistematis

yang

diselenggarakan di lingkungan tertentu, terutama lembaga pendidikan formal.


Sementara itu, Sagala (2005) mengemukakan bahwa manajemen pendidikan
adalah penerapan ilmu-ilmu manajemen dalam dunia pendidikan atau sebagai
penerapan manajemen dalam pembinaan, pengembangan, dan pengendalian usaha
dan praktek-praktek pendidikan.
Manajemen pendidikan memiliki beberapa unsur atau substansi yang
mendukung terjadinya proses pendayagunaan. Diantaranya adalah: (1) manajemen

kurikulum dan pembelajaran; (2) manajemen keuangan; (3) manajemen tenaga


pendidik dan kependidikan; (4) manajemen sarana dan prasarana; (5) manajemen
kesiswaan; dan (6) manajemen hubungan masyarakat. Ke enam substansi tersebut
saling terkait satu sama lain agar tujuan dalam pendidikan dapat tercapai sesuai
dengan apa yang telah ditentukan oleh organisasi. Hal terpenting dalam proses
pencapaian tujuan ialah adanya seorang pemimpin. Peran pemimpin terutama
dalam pendidikan sangatlah penting dalam mewujudkan tujuan yang telah
ditetapkan, selain itu pemimpin pendidikan merupakan motor penggerak
terjadinya proses perubahan dalam pendidikan.
Perubahan yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin merujuk pada tujuh
substansi dalam manajemen pendidikan. Kepala sekolah sebagai pemimpin
tertinggi dari sebuah lembaga pendidikan harus mampu mengelola ke tujuh
substansi tersebut agar dapat menunjang terjadinya pencapaian tujuan. Untuk
mengkoordinasi seluruh gerak langkah anggota sekolah, kepala sekolah harus
berusaha mengetahui keseluruhan situasi sekolahnya dalam segala bidang.
Aktivitas yang dilakukan kepala sekolah ini disebut supervise atau pengawasan
sebagai salah satu proses yang dilakukan kepala sekolah agar kinerja warga
sekolah berjalan sesuai dengan tugas dan bidangnya masing-masing. Berdasarkan
pendahuluan mengenai manajemen pendidikan dan ruang lingkupnya yang sangat
luas, maka perlu adanya pembahasan lebih lanjut mengenai manajemen
pendidikan serta hal-hal yang melingkupinya.
METODE
Metode yang digunakan adalah metode studi literatur yang relevan yaitu
metode dengan menganalisis kajian teori dari berbagai bahan pustaka yang
menjadi referensi bagi penulis.
PEMBAHASAN
Manajemen pendidikan merupakan penggabungan dari dua kata, yaitu
manajemen dan pendidikan. Fattah (2011:1) mengungkapkan bahwa manajemen
adalah proses merencana, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan upaya
organisasi dengan seluruh aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif
dan efisien. Sementara itu UU Sisdiknas mengungkapkan bahwa pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya


untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara. Beberapa ahli mengungkapkan mengenai
pengertian manajemen pendidikan, namun secara umum manajemen pendidikan
dapat diartikan sebagai upaya dalam mendayagunakan seluruh sumber daya yang
ada dalam lingkup pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Manajemen pendidikan pada dasarnya adalah alat-alat yang diperlukan dalam
usaha mencapai tujuan pendidikan.
Telah diungkapkan pada pendahuluan, bahwa pencapaian tujuan pendidikan
diperlukan adanya kepemimpinan yang handal dari seorang pemimpin. Banyak
ahli yang mengungkapkan pengertian dari kepemimpinan, salah satunya Louis et
al. (2010) mengungkapkan bahwa Leadership can be described by reference to
two core functions. One function is providing direction; the other is exercising
influence. Whatever else leaders do, they provide direction and exercise
influence.

Nawawi

(Ambarita,

2015)

yang

mengemukakan

bahwa

kepemimpinan pendidikan adalah proses mempengaruhi, menggerakkan, dan


mengarahkan orang-orang yang ada dalam organisasi pendidikan untuk mencapai
tujuan pendidikan. Karenanya, kepemimpinan pendidikan memiliki peranan yang
sangat penting dalam menggerakkan dan mengarahkan organisasi pendidikan
dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, manajemen pendidikan memiliki
tujuh substansi, ketujuh substansi tersebut juga merupakan acuan bagi sekolah
dalam mencapai tujuan pendidikan. Oleh karenanya, kepala sekolah harus mampu
menggerakkan seluruh warga sekolahnya untuk bekerja sesuai dengan bidangnya.
Berikut masing-masing penjelasan dari ketujuh substansi manajemen pendidikan
atau dapat disebut juga sebagai manajemen sekolah:
Manajemen Kurikulum
Manajemen kurikulum merupakan panduan atau pedoman utama bagi sekolah
dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Undang-undang Nomor 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum adalah seperangkat rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang

digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk


mencapai

tujuan

pendidikan

tertentu.

Arikunto

dan

Yuliana

(2008)

mengungkapkan bahwa manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha


bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat
pada usaha meningkatkan kualitas belajar mengajar.
Manajemen kurikulum meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan
evaluasi kegiatan mengenai pendataan mata pelajaran yang diajarkan, waktu yang
disediakan, jumlah guru dan pembagian jam pelajaran, jumlah kelas, penjadwalan,
kegiatan belajar-mengajar, buku-buku yang dibutuhkan, program semester,
program tahunan, kalender pendidikan, perubahan kurikulum, maupun inovasiinovasi dalam pengembangan kurikulum.
Kurikulum dianggap sangat penting bagi pendidikan dikarenakan kurikulum
yang berhasil adalh kurikulum yang mampu menciptakan output yang bermutu.
Namun apabila kurikulum yang diterapkan tidak sesuai justru akan memberikan
masalah baru bagi pendidikan. Kurikulum yang sering berganti-ganti juga dapat
memacu ketidaksiapan siswa pada model kurikulum yang baru diterpakan, hal ini
justru dapat membuat kualitas lulusan yang dihasilkan kurang bermutu.
Kurikulum baru diterapkan sebenarnya bertujuan untuk memperbaiki mutu dan
kualitas pembelajaran. Namun beberapa sekolah yang tidak memiliki kesiapan
dalam penerapan kurikulum baru justru merasa hal tersebut sangat membebani
pihak sekolah, bahkan dapat menghambat kemajuan sekolah tersebut.
Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan merupakan salah satu substansi yang turut menentukan
berjalannya seluruh kegiatan di sekolah. Tanpa adanya manajemen keuangan
sekolah, maka pengaturan keuangan di sekolah tidak akan berjalan sesuai
peraturan. Beberapa pakar mengungkapkan bahwa manajemen keuangan
merupakan salah satu fondasi dalam melaksanakan kegiatan agar suatu tujuan
tercapai secara efektif dan efisien. Barnawi dan Arifin (2012) menyatakan bahwa
manajemen keuangan adalah segenap proses perencanaan alokasi dana dengan
penuh perhitungan dan pengawasan penggunaan dana, baik untuk keperluan
operasional, maupun keperluan investasi disertai dengan bukti-bukti fisik yang
sesuai dengan besarnya dana yang dikeluarkan sekolah. manajemen keuangan

sekolah adalah suatu kegiatan pengaturan keuangan sekolah yang meliputi


kegiatan budgeting (prencanaan dan pengganggaran), accounting (pelaksanaan,
pengorganisasian,

pencatatan,

pengelolaan),

auditing

(evaluasi,

control,

pelaporan, pertanggung jawaban, peninjauan, pengawasan).


Keuangan sekolah memiliki sumber-sumber perolehannya, diantaranya dari:
(1) pemerintah yang meliputi pemerintah pusat yang dialokasikan melalui APBN
dan pemerintah daerah yang dialokasikan melalui APBD; (2) usaha mandiri
sekolah, berupa kegiatan-kegiatan yang dilakukan sekolah untuk menambah
pendanaan sekolah diantaranya seperti pengelolaan kantin sekolah, koperasi
siswa, menyewakan aula sekolah, memanfaatkan lahan sekolah untuk berkebun,
dan lain sebagainya; (3) orangtua peserta didik, berupa sumbangan-sumbangan
untuk fasilitas belajar peserta didik, sumbangan uang gedung, dan SPP; (4) dunia
usaha dan industri, yaitu dengan melakukan kerjasama dalam berbagai kegiatan
yang mampu menghasilkan usaha sekolah; (5) hibah yang sesuai dengan peraturan
perundangan; (6) yayasan penyelenggara pendidikan; dan (7) masyarakat luas.
Ada beberapa prinsip dalam manajemen keuangan, diantaranya adalah
transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan efisiensi. Memang tidak semua sekolah
mampu menerapkan keempat prinsip tersebut. Bahkan beberapa sekolah sampai
tertangkap media telah melakukan tindak korupsi, penyalahgunaan dana, sampai
manipulasi laporan keuangan. Hal ini justru memperburuk keadaan ekonomi
pdalam pendidikan. Tanpa adanya tindakan pasti dan tegas dari pemerintah, maka
pengelolaan keuangan sekolah banyak yang tidak berjalan sesuai peraturan yang
telah ditetapkan.
Manajemen Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam menentukan tujuan
organisasi. Selain sebagai salah satu unsur kekuatan daya saing organisai, juga
sebagai penentu utama organisasi dalam meningkatkan produknya atau
pelayanannya kepada masyarakat. Sumarsono (2003) mengatakan bahwa Sumber
Daya Manusia atau human recources memiliki dua pengertian. Pertama, adalah
usaha kerja atau jasa yang dapat diberikan dalam proses produksi yang
mencerminkan kualitas usaha seseorang dalam waktu tertentu untuk menghasilkan
barang dan jasa. Pengertian kedua, SDM menyangkut manusia yang mampu

bekerja untuk memberikan jasa atau usaha kerja tersebut. Mampu bekerja berarti
mampu melakukan kegiatan yang mempunyai kegiatan ekonomis, yaitu bahwa
kegiatan tersebut menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan atau
masyarakat.
Karena unsur utama dari MSDM adalah manusia yang mampu bekerja serta
menghasilkan barang atau jasa yang berkualitas, maka Daryanto (2006)
menjelaskan Tenaga pendidik dan kependidikan termasuk dalam kepegawaian
atau disebut juga personel sekolah. Pegawai dalam suatu sekolah adalah manusia
yang tergabung di dalam kerjasama pada suatu sekolah untuk melaksanakan
tugas-tugas dalam mencapai tujuan pendidikan. Menurut ketentuan umum
Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
khususnya pasal 1 (5) tenaga kependidikan yang dimaksud adalah anggota
masyarakat

yang

mengabdikan

diri

dan

diangkat

untuk

menunjang

penyelengaraan pendidikan. Dalam pasal 1 (6) tersebut juga dijelaskan pendidik


adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor,
pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan yang
lainnya

yang

sesuai

dengan

kekhususannya,

serta

partisipasi

dalam

menyelenggarakan pendidikan.
Tenaga pendidik biasanya lebih identik dengan seorang guru di. Menurut
Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang guru dan dosen pada pasal 1
ayat 1 disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sementara tenaga
kependidikan yang memiliki arti dan cakupan yang lebih luas biasanya
diidentikkan dengan sumber daya manusia selain guru, seperti kepala sekolah,
pengawas, peneliti, pengembang bidang pendidikan, pustakawan, laboran, teknisi
sumber belajar, tukang kebun, tenaga tata usaha, dan lain-lain.
Dikarenakan Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan salah satu bidang
ilmu yang dipelajari sebagai dasar keilmuan maka, sumber daya manusia
menempati kedudukan yang paling strategis dan penting diantara sumber-sumber
daya lainnya. Oleh karena itu sumber daya manusia harus berkualitas memiliki

kompetensi dan kinerja yang tinggi. Sutadji (2010) mengungkapkan dalam


pengelolaan sumber daya manusia perlu dilakukan perencanaan, penyusunan
karyawan, pengembangan karyawan, pengelolaan karier, evaluasi kinerja,
kompensasi karyawan, dan hubungan ketenagakerjaan yang baik, serta
pengembangan sehingga dimasa datang dapat tersedia SDM yang berkualitas dan
unggul. SDM tidak saja dituntut professional, sehingga upaya perbaikan
pengelolaan sumber daya manusia harus terus dilakukan tanpa henti agar
produktifitas kerjanya dapat meningkat dan dapat dicapai efektivitas dan efisiensi
organisasi.
Manajemen Sarana dan Prasarana
Sarana prasarana tentu sangat diperlukan sekolah untuk menunjang setiap
aktivitas dan kegiatan yang berlangsung di sekolah. Departemen Pendidikan
Nasional tahun 2008 menjelaskan sarana pendidikan adalah semua perangkat,
peralatan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses
pendidikan di sekolah dan prasarana pendidikan adalah semua perangkat
kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelakasanaan proses
pendidikan di sekolah.
Barnawi dan Arifin (2012) menjelaskan bahwa manajemen sarana dan
prasarana pendidikan dapat diartikan sebagai segenap proses pengadaan dan
pendayagunaan komponen-komponen yang secara langsung maupun tidak
langsung menunjang proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara
efektif dan efisien. Dalam pengadaan dan pendayagunaan sarana prasarana
terdapat terdapat limat proses yang dilakukan, yaitu perencanaan, pengadaan,
pengaturan, penggunaan, dan penghapusan. Sarana pendidikan dibagi menjadi
tiga bagian, yaitu: barang habis tidaknya (habis pakai dan tahan lama), barang
bergerak tidaknya (bergerak dan tidak bergerak), dan barang yang berhubungan
dalam proses pembelajaran (alat pelajaran, alat peraga, dan media pembelajaran).
Sementara prasarana sekolah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu prasarana
langsung (prasarana yang secara langsung digunakan dalam proses pembelajaran:
ruang kelas, lab IPA, lab komputer) dan prasarana tidak langsung (prasarana yang
tidak digunakan dalam proses pembelajaran namun keberadaannya sangat
diperlukan, seperti ruang kantor, kantin, ruang uks, taman, dan tempat parkir).

Sarana dan prasarana pendidikan berkaitan erat dengan fasilitas yang dimiliki
sekolah. Di era modern ini banyak sekolah yang memiliki fasilitas lengkap,
namun tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang lengkap untuk menunjang
kegiatannya di sekolah. Beberapa sekolah terutama di daerah terpencil fasilitas
yang dimiliki sangatlah minim. Terkait dengan manajemen keuangan sekolah,
sumber pendapatan sekolah menengah ke bawah dengan sekolah menegah ke atas
dirasa sangat tidak adil. Oleh karenanya pemerataan dana sekolah serta bantuan
sarana prasarana sekolah harus ditingkatkan oleh pemerintah.
Manajemen Kesiswaan
Peserta didik merupakan faktor pendukung utama dalam peningkatan prestasi
sekolah. Menurut ketentuan umum Undang-Undang Republik Indonesia tentang
Sistem Pendidikan Nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang
berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang,
dan jenis pendidikan tertentu. Sementara menurut Imron (2011) peserta didik
adalah mereka yang sedang mengikuti program pendidikan pada suatu sekolah
atau jenjang pendidikan tertentu. Dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah
anggota masyarakat yang sedang menempuh pendidikan baik pada jalur
pendidikan formal maupun informal.
Sementara Barnawi dan Arifin (2012) menjelaskan bahwa manajemen peserta
didik adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan kesiswaan, yaitu mulai dari
masuknya siswa sampai dengan keluarnya siswa dari sekolah. Manajemen peserta
didik selalu diakitkan dengan pencatatan kegiatan siswa. Dalam hal ini terdapat 4
kegiatan dalam manajemen peserta didik, yaitu: (1) penerimaan siswa baru yang
dilakukan setiap tahun ajaran baru; (2) penempatan siswa/pembinaan, penempatan
siswa dilakukan dengan pengelompokan siswa dalam kelompok belajar yang
dilakukan secara menyeluruh dan pembinaan dilakukan dalam kegiatan belajarmengajar terkait dengan kegiatan siswa diluar pelajaran; (3) bimbingan dan
konseling bertujuan agar siswa menjadi lebih baik serta dapat membantu
permasalahan yang dialami oleh siswa; dan (4) pencatatan prestasi siswa, biasanya
didasarkan pada apa yang diperoleh siswa baik saat mengikuti pelajaran maupun
lomba-lomba di sekolah atau di luar sekolah.

Manajemen Hubungan Masyarakat


Hubungan antara sekolah dan masyarakat tidak dapat dipisahkan karena
terkait erat satu sama lain, masyarakat membutuhkan sekolah dan sekolah
membutuhkan masyarat. Dalam berhubungan dengan masyarakat, sekolah tentu
tidak akan melakukannya secara sembarangan, dibutuhkanlah suatu pengelolaan
yang mengatur agar hubungan sekolah dengan dengan masyarakat berjalan
dengan baik. Secara sederhana hubungan atau komunikasi dapat diartikan sebagai
penyampaian berita dari satu orang ke orang lainnya. Daryanto (2006)
mengungkapkan bahwa komunikasi di dalam administrasi sekolah adalah suatu
proses penyampaian sesuatu (berita/ide) kepada orang lain, baik secara intern
(dalam organisasi sekolah) maupun ekstern (pihak lain, masyarakat luas).
Sementara itu, Barnawi dan Arifin (2012) menjelaskan bahwa manajemen
hubungan masyarakat adalah segenap proses komunikasi antara sekolah dengan
masyarakat untuk menarik simpati masyarakat agar mendukung proses pendidikan
di sekolah. Secara umum manajemen hubungan masyarakat adalah suatu kegiatan
yang dilakukan sekolah secara terus menerus untuk mencari simpati masyarakat
demi tercapainya tujuan pendidikan.
Dukungan yang diberikan oleh masyarakat dapat berupa dukungan fisik
maupun nonfisik. Dukungan fisik dapat berupa uang, tanah, material, dan media
pembelajaran. Sementara nonfisik dapat berupa ide, saran, maupun petunjuk.
Barnawi dan Arifin (2012) tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah:
(1) meningkatkan kualitas belajar dan pertumbhan anak; (2) meningkatkan
pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan dan meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat; (3) meningkatkan antusiasme untuk saling membantu
demi kemajuan kedua belah pihak. Selain itu, diungkapkan pula empat tahapan
manajemen hubungan masyarakat, yaitu: (a) perencanaan; (b) pelaksanaan; (c)
pengorganisasian; (d) pelaporan.
Namun masih banyak sekolah-sekolah yang tidak menerapkan manajemen
hubungan masyarakat. Selain itu, peran komite sekolah banyak yang dianggap
hanya sebagai formalitas di atas masyarakat luas. Perlu adanya pemberdayaan
komite sekolah agar hubungan yang terjalin antara sekolah dengan masyarakat
menjadi semakin baik. Karena salah satu tugas komite sekolah adalah

menjembatani hubungan antara masyarakat dengan sekolah. Karenanya penting


bagi setiap sekolah memiliki struktur organisasi yang jelas terkait dengan adanya
komite sebagai anggota sekolah dan masyarakat.
Kewirausahaan
Secara etimologi kewirausahaan didasarkan pada dua inti kata, yaitu wira
dan usaha. Wikipedia (2016) menerangkan kata wira berarti pejuang,
pahlawan, manusia unggul, berbudi luhur, teladan, gagah berani, dan berwatak
agung. Sementara usaha adalah perbuatan amal, bekerja, dan berbuat sesuatu.
Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. Menurut
Kasmir (Sinaga: 2016) entrepreneur adalah orang yang berjiwa berani mengambil
resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Alma (2013)
menjelaskan bahwa wirausaha seseorang yang mampu melihat peluang kemudian
membuat organisasi untuk memanfaatkan peluang yang ada tersebut. Secara
umum kewirausahaan adalah kemampuan seseorang yang dengan berani
mengambil resiko untuk memulai usaha dengan melihat peluang yang ada.
Sementara kewirausahaan didalam pendidikan adalah jenis usaha yang
dikelola oleh sekolah. Barnawi dan Arifin (2013) menjelaskan bahwa bisnis
sekolah merupakan aktivitas produksi atau penjualan barang-barang dan jasa-jasa
yang diinginkan konsumen agar memperoleh profit. Meskipun bertujuan untuk
memperoleh keuntungan, namun keuntungan tersebut dapat membantu keuangan
dalam kegiatan-kegiatan di sekolah. Adanya kewirausahaan di sekolah bertujuan
untuk melatih jiwa kemandirian siswa agar kelak dapat memanfaatkan bekal yang
diperoleh dari sekolah untuk memulai usahanya sendiri.
Fungsi Manajemen
Manajemen sendiri selalu terkait dengan pengelolaan, dikarenakan dalam
setiap pelaksanaan substansi manajemen sekolah selalu dibutuhkan adanya
pengelolaan yang baik agar semuanya dapat berjalan sesuai aturan. Sementara itu
beberapa ahli juga mengungkapkan beberapa fungsi dalam manajemen, salah satu
yang paling dikenal ialah menurut Terry (1968) yaitu POAC (planning,
organizing, actuating, controlling). Planning merupakan proses terpenting dalam
manajemen, tanpa perencanaan fungsi-fungsi manajemen lainnya tidak akan
berjalan karena perencanaan merupakan fungsi paling awal dari keseluruhan

fungsi manajemen. Fattah (2011) mengungkapkan bahwa perencanaan adalah


tindakan

untuk

menetapkan

apa

yang

akan

dikerjakan,

bagaimana

mengerjakannya, apa yang harus dikerjakan, dan siapa yang mengerjakannya.


Kurniadin dan Machali (2012) menjelaskan bahwa perencanaan meliputi beberapa
hal, yaitu: (a) penetapan tujuan-tujuan dan maksud-maksud organisasi; (b)
perkiraan lingkungan (sumber-sumber dan hambatan) dalam hal apa tujuan-tujuan
yang dimaksud harus dicapai; (c) penentuan pendekatan yang akan dicapai.
Sehingga proses perencanaan harus benar-benar dilakukan secara matang agar
membuahkan hasil sesuai dengan kebutuhan. Dalam pendidikan perencanaan
merupakan pedoman yang harus dibuat dan dilaksanakan sehingga usaha
pencapaian tujuan sekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien
Organizing merupakan lanjutan dari proses perencanaan yang dilakukan
untuk membagi keseluruhan anggota menjadi sub-sub dengan bagian masingmasing berdasarkan keahliannya, hal ini dilakukan untuk mempermudah dan
mempercepat

penyelesaian

tugas.

Menurut

Menurut

Fattah

(2011)

pengorganisasian adalah proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih


kecil,

membebankannya

pada

orang-orang

yang

sesuai

kemampuan,

mengalokasikan sumber daya, kemudian mengkoordinasikannya dalam rangka


efektivitas pencapaian tujuan organisasi. Sehingga penerapan pengorganisasian
dalam pendidikan juga sangat penting. Setiap personel sekolah harus saling
bekerjasama dengan baik agar tujuan sekolah tercapai secara efektif dan efisien.
Kepala sekolah harus membagi tugas antara dirinya, staf pengajar, pegawai
administrasi, komite sekolah, bahkan siswa agar semuanya berjalan baik.
Actuating merupakan pelaksanaan dari proses yang telah direncanakan dan
dibagi ke dalam struktur organisasi. Menurut Kurniadin dan Machali (2012)
actuating adalah upaya untuk menggerakkan atau mengarahkan tenaga kerja serta
mendayagunakan fasilitas yang ada untuk menunjang pelaksanaan tugas secara
baik. Dalam actuating atasan akan memberikan arahan dan motivasi kepada
bawahan agar mereka mau bekerja bersama-sama dan secara sungguh-sungguh
menyelesaikan tugas yang telah dibebankan pada mereka. Fungsi penggerakan ini
juga merupakan hal paling penting terutama dalam merealisasikan tujuan
organisasi.

Controlling berarti pengawasan, dalam hal ini lebih merujuk pada penilaian
kinerja yang dilakukan bawahan oleh atasannya. Kurniadin dan Machali (2012)
mengungkapkan bahwa pengawasan adalah proses pengamatan dan pengukuran
pada suatu kegiatan operasional dan hasil yang dicapai akan dibandingkan dengan
standar yang telah ditetapkan sejak awal, yaitu pada saat perencanaan.
Pengawasan dilakukan untuk memastikan semua kegiatan terlaksana sesuai
kebijakan, strategi, keputusan, rencana, dan program kerja yang telah dianalisis,
dirumuskan, dan ditetapkan sebelumnya. Tidak hanya itu, fungsi controlling juga
diharapkan dapat menjadi penggerak pembaharuan serta pembinaan sekolah ke
arah yang lebih baik melalui cara-cara pengawasan yang sesuai dengan peraturan.
Apabila

seluruh proses

dalam manajemen

dalam pendidikan

telah

dilaksanakan, maka proses terakhir yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin,
kepala sekolah, adalah melakukan supervisi pendidikan. Arikunto (2004)
menjelaskan bahwa supervisi merupakan kegiatan berupa bantuan dan bimbingan
yang diberikan oleh supervisor yaitu pengawas dan kepala sekolah kepada guru
dan staf tata usaha untuk meningkatkan kinerjanya dalam mencapai tujuan
pendidikan. Sementara itu menurut Purwanto (1987) supervisi ialah suatu
aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai
sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Esensi dari
supervisi pendidikan sendiri adalah usaha pemberian bantuan yang dilakukan
kepala sekolah dalam memperbaiki seluruh proses yang terjadi di sekolah.
Arikunto (2004) juga menjelaskan supervisi memiliki 3 fungsi, yaitu: (1) sebagai
kegiatan meningkatkan mutu pembelajaran; (2) sebagai pemicu atau penggerak
terjadinya perubahan pada unsur-unsur yang terkait dengan pembelajaran; (3)
sebagai kegiatan memimpin dan membimbing.
Karena supervisi yang dilakukan berfungsi untuk memperbaiki kualitas
sekolah. Tanpa adanya supervisi dalam pendidikan, maka tujuan yang telah
ditetapkan dapat berjalan keluar dari jalur yang telah ditetapkan. Oleh karenanya,
supervisi berfungsi untuk memperbaiki dan membina kesalahan-kesalahan yang
terjadi atau kekurangan-kekurangan yang ada agar menjadi baik kembali.

PENUTUP
Simpulan
Manajemen pendidikan secara umum diartikan sebagai upaya dalam
mendayagunakan seluruh sumber daya yang ada dalam lingkup pendidikan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Manajemen pendidikan pada dasarnya
adalah alat-alat yang diperlukan dalam usaha mencapai tujuan pendidikan. Dalam
manajemen pendidikan terdapat tujuh substansi, yaitu: (1) manajemen kurikulum;
(2) manajemen keuangan; (3) manajemen sumber daya manusia; (4) manajemen
sarana dan prasarana; (5) manajemen kesiswaan; (6) manajemen hubungan
masyarakat; dan (7) kewirausahaan. Dalam mengelola ketujuh substansi tersebut,
dibutuhkan seorang kepala sekolah yang memiliki kepemimpinan yang kuat, yang
mampu mengelola ketujuh substansi tersebut dengan baik. Dalam mengelolanya,
kepala sekolah membutuhkan empat fungsi dalam manajemen, yaitu: (1)
planning; (2) organizing; (3) actuating; dan (4) controlling. Apabila seluruh
proses dalam manajemen dalam pendidikan telah dilaksanakan, maka proses
terakhir yang harus dilakukan oleh seorang kepala sekolah, menyangkut seluruh
kegiatan dalam manajemen pendidikan, adalah melakukan supervisi pendidikan.
Supervisi dilakukan untuk memperbaiki dan membina kesalahan-kesalahan yang
terjadi atau kekurangan-kekurangan yang ada agar menjadi baik kembali.
Saran
Dalam pelaksanaan dilapangan, terkait seluruh lingkup yang berhubungan
dengan manajemen pendidikan, tidak semua sekolah mampu melaksanakannya
secara keseluruhan, terutama dengan baik. Banyak sekolah-sekolah kecil yang
melakukannya

hanya

sebagai

formalitas

semata,

bukan

benar-benar

melakukannya untuk meningkatkan kualitas sekolahnya. Hal utama yang menjadi


hambatan adalah dana, kemudian menyusul kualitas sumber daya manusia yang
dimiliki sekolah tersebut. Saran penulis, apabila benar-benar ingin memajukan
kualitas

pendidikan,

maka

apa

yang

menjadi

bahan

utama

untuk

memperbaikinya harus dilakukan dengan baik dan benar sesuai aturan yang telah
berlaku. Pelaksanaan manajemen dalam pendidikan harus diterapkan secara
maksimal, jangan hanya setengah-setengah, karena hal tersebut dapat pula
membuat system pendidikan yang ada semakin buruk.

DAFTAR RUJUKAN
Alma, Buchari. 2013. KEWIRAUSAHAAN. Bandung: Alfabeta.
Arikunto, Suharsimi & Yuliana, Lia. 2008. Manajemen Pendidikan.
Yogyakarta: Aditya Media.
Barnawi dan Arifin, Mohammad. 2012. Manajemen Sarana dan Prasarana
Sekolah. Jogjakarta: Ar Ruzz Media.
Barnawi dan Arifin, Mohammad. 2013. Mengelola Sekolah Berbasis
Enterpreneurship. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
Daryanto. H. M. 2006. Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008.
Fattah, Nanang. 2011. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
Imron, Ali. 2011. Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah. Jakarta: Bumi
Aksara.
Kurniadin, Didin dan Machali, Imam. MANAJEMEN PENDIDIKAN: Konsep
dan Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Jogjakarta: Ar Ruzz Media.
Louis, Karen Seashore. Leithwood, Kenneth. Wahlstrom, Kyla L. Anderson,
Stephen E. 2010. Learning from Leadership Project: Investigating the
Links to Improved Student Learning, Final report of Research Findings.
[Online]. (http://www.wallacefoundation.org/knowledge-center/schoolleadership/key-research/Documents/Investigating-the-Links-toImproved-Student-Learning.pdf, diakses pada tanggal 18 Februari 2016).
Nawawi, Hadari. 1981. Manajemen dan Organisasi Sekolah. Jakarta: Gunung
Agung.
Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang guru dan dosen.
Purwanto, M. Ngalim. 1987. Administrasi dan Supervisi Pendidikan.
Bandung: Remadja Karya.
Sagala, Syaiful. 2005. Administrasi Pendidikan Kontemporer, Alfabeta,
Bandung.
Sinaga, Readypranto. 2016. Pengertian Enterpreneur Menurut Para Ahli.
[online].
(https://www.scribd.com/doc/314445419/PengertianEntrepreneur-Menurut-Para-Ahli, diakses pada tanggal 24 Agustus 2016,
pukul 09.00)
Sutadji. 2010. Perencanaan dan Pengembangan Manajemen Sumber Daya
Manusia. Yogyakarta: Deepublish.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003.
Wikipedia.
2016.
Kewirausahaan.
[online].
(https://id.wikipedia.org/wiki/Kewirausahaan, diakses pada tanggal 24
Agustus 2016, pukul 08.57).