Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Dewasa ini, pemakaian anesthesia regional banyak dilakukan. Anesthesia
regional mencakup blok subdural atau biasa disebut dengan spinal anestesi. Spinal
anestesi pertama kali digunakan untuk prosedur operasi pada pergantian abad ke
dua puluh. Saat ini, spinal anestesi digunakan secara luas untuk anesthesia saat
section caesaria, prosedur ortopedik, dan managemen nyeri kronik.1
Spinal anestesi telah menunjukkan mengurangi rasa stress terhadap
operasi, untuk mengurangi kehilangan darah intraoperatif, untuk menurunkan
insidensi terjadinya tromboembolik post operatif dan untuk menurunkan angka
kesakitan serta angka kematian pada pasien dengan risiko operasi tinggi. Sebagai
tambahan, spinal anestesi dapat digunakan untuk memanjangkan efek analgesia
sampai ke tahap post operatif atau memberikan analgesia kepada pasien nonbedah.2
Dengan peralatan modern dan teknik yang dikembangkan, metode anestesi
ini tetap menjadi bagian penting dan pembiayaan yang efisien. Dengan
pengetahuan mekanisme yang telah berkembang, metode anestesi serbaguna
anestesi ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Semakin banyak operasi yang
dilakukan secara rawat jalan dan metode anestesi spinal ini telah disesuaikan
untuk memenuhi tuntutan lingkungan yang sibuk.3
Pada laporan kasus ini akan membahas penggunaan anestesi regional
dengan teknik blok subdural atau biasa disebut spinal anestesi pada pasien, lakilaki, usia 34 tahun, dengan diagnosis penyakit union fraktur distal femur
diagnosis anestesi ASA I tanpa penyulit airway, pembedahan yang dilakukan
adalah remove implant.

A. Identitas Pasien
Nama

: Tn. AS

No.RM

: 803639

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 34 tahun

TTL

: 17-06-1986

Pekerjaan

: Wiraswasta

Status Perkawinan

: Belum menikah

Agama

: Islam

Alamat

: Eka Mulya RT 008/001 Mesuji Timur Lampung

Kelompok pasien

: BPJS

Pasien bangsal

: Lantai 5 bedah

B. Anamnesis
1. Keluhan utama : Pasien tidak ada keluhan.
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien, laki-laki, 34 tahun datang dengan riwayat fraktur femur
pada tahun 2015 lalu. Saat ini pasien tidak mengeluhkan apapun.
Demam disangkal, lemas disangkal, mual muntah tidak ada, sesak
disangkal. Pasien tidak ada gigi yang goyang dan tidak menggunakan
gigi palsu. BAB normal. BAK normal.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Hipertensi
: Disangkal
Riwayat Diabetes Melitus
: Disangkal
Riwayat Asma
: Disangkal
Riwayat Ginjal
: Disangkal
Riwayat Alergi
: Disangkal
4. Riwayat Penyakit pada Anggota Keluarga
Penyakit Keganasan
: Disangkal
Penyakit Jantung
: Disangkal
Diabetes Mellitus
: Disangkal
Hipertensi
: Disangkal
Alergi
: Disangkal
5. Riwayat Operasi
2

Pada bulan Juni 2015 pasien menjalani operasi pemasangan ORIF pada
fraktur femur distal dextra, anestesi yang dilakukan adalah tindakan
anestesi spinal. Pasien mengatakan sedikit mual setelah operasi namu tidak
ada muntah.
6. Riwayat Trauma
Riwayat fraktur femur distal dextra
7. Riwayat Penggunaan Obat
Saat ini tidak mengkonsumsi obat untuk pengobatan penyakit tertentu.
8. Riwayat Kebiasaan
Merokok (+) ; minum alkohol disangkal.

C. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum :
2) Kesadaran
2) Status gizi
:
Tanda Vital

Tampak sakit sedang


Compos mentis
BB
77 kg
TB
165 cm
Tensi : 120/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit, isi dan tegangan cukup
Frekuensi Respirasi : 18 x/menit, dangkal

3) Kulit
4) Kepala
:
5) Mata

Suhu : 36 0C
Warna sawo matang, ikterik (-), anemis (-)
Bentuk normocephal, rambut warna

hitam,

terdistribusi merata.
Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
isokor dengan diameter 3mm/3mm, refleks cahaya (+/

6) Mulut

+)
Sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-) pucat (-),
coated tongue (-), papil lidah atrofi (-) stomatitis (-),

7) Leher

luka pada sudut bibir (-)


JVP 5-2 cmH2O, trakea

8) Thorax

pembesaran tiroid (-), pembesaran KGB cervical (-)


Bentuk normochest, simetris, retraksi intercostal (-),

di

tengah,

simetris,

pernafasan thorakoabdominal, sela iga melebar (-),


spider naevi (-), pembesaran KGB (-/-), nyeri tekan (-)
Jantung
3

Inspeksi
Palpasi
Perkusi

:
:

Iktus kordis tidak tampak


Iktus kordis teraba di SIC V linea midclavicula sinistra,
tidak kuat angkat.
Batas pinggang jantung SIC II linea parasternalis dextra.

Batas jantung kanan bawah SIC IV linea parasternalis


dextra.
Batas jantung kiri atas SIC II linea parasternalis sinistra.
Batas jantung kiri bawah SIC IV linea midclavicularis
Auskultasi

sinistra.
Bunyi jantung I-II murni, intensitas normal reguler, bising
(-), gallop (-), murmur (-).

Pulmo
Inspeksi Statis :
Inspeksi Dinamis :
Palpasi
:
Perkusi : Kanan :
Kiri
:
Auskultasi
:
Kanan
:
Kiri
:
9) Punggung
:
10) Abdomen
:
Inspeksi
:
Auskultasi
:
Perkusi
:
Palpasi
:
11)
Genitourinaria :
12)
Ekstremitas
:
Superior dekstra :

Normochest, simetris
Pengembangan dada kanan = kiri, sela iga tidak melebar,
retraksi intercostal (-)
Pergerakan dada kanan = kiri, fremitus raba kanan = kiri
Sonor
Sonor
Suara dasar vesikuler (+), suara tambahan (-)
Suara dasar vesikuler (+), suara tambahan (-)
Kifosis (-), Lordosis (-), Skoliosis (-), luka (-), tatoo (-)
Dinding perut simetris, venektasi (-), caput medusae (-)
Bising usus (+)
Timpani pada seluruh lapang abdomen
Nyeri tekan (-)
Sekret (-), radang (-)
Gerakan bebas, edema (-), jaringan parut (-), pigmentasi
normal, telapak tangan pucat (-), turgor kembali lambat
(-), sianosis (-), parestesia telapak tangan (-), CRT <2

Superior sinistra :

detik (+).
Gerakan bebas, edema (-), jaringan parut (-), pigmentasi
normal, telapak tangan pucat (-), turgor kembali lambat
(-), sianosis (-), parestesia telapak tangan (-), CRT <2

Inferior dekstra :

detik (+).
Gerakan terbatas, jaringan parut (+), pigmentasi normal,
telapak kaki pucat (-), jari tabuh (-), turgor kembali

lambat (-), edema pitting tungkai dan pergelangan kaki


Inferior sinistra :

(-), parestesia (-), CRT <2 detik (+).


Gerakan bebas, jaringan parut (-), pigmentasi normal,
telapak kaki pucat (-), jari tabuh (-), turgor kembali
lambat (-), edema pitting tungkai dan pergelangan kaki
(-), parestesia (-), CRT <2 detik (+).

D. Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium

Jenis Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit

21-10-2015

Nilai Rujukan

16,1
49

13-18 g/dL
40-52%

5.6

4.3-6.0 juta/L

10000
383000

4.800-10.800/L
150.000-400.000/L

MCV

87

80-96 fL

MCH

29

27-32 pg

MCHC

33

32-36 g/dL

200
400

1-3 menit
1-6 menit

35
1.0

20 - 50 mg/dL
0.5 - 1.5 mg/dL

Glukosa Darah (Sewaktu)

96

<140 mg/dL

SGPT

16

<40 mg/dL

SGOT

18

<35 mg/dL

Eritrosit
Leukosit
Trombosit

Faal Hemostasis Koagulasi


Waktu Perdarahan
Waktu Pembekuan
Kimia Klinik
Ureum
Kreatinin

Radiologi

Foto Rontgen Thorax : tampang terpasang screw pada condyles medial

femur kanan sebanyak 2 buah.


Spirometri
: dalam batas normal
EKG
: dalam batas normal

E. Diagnosis
Union fraktur femur distal dextra
F. Penggolongan Status Fisik Pasien Menurut ASA
ASA I tanpa penyulit airway dan pasien disarankan untuk puasa pre op selama
6 jam.
G. Rencana Pembedahan
Remove implant
H. Rencana Anestesi
Anestesi Regional dengan teknik spinal anestesi pada daerah L4-L5

BAB II
PERSIAPAN ANESTESI
II.1 Persiapan Pasien
Sebelum Operasi :
a. Pasien dikonsultasikan ke spesialis anestesi, spesialis jantung, dan
spesialis paru untuk menilai kondisi fisik pasien, apakah pasien dalam
kondisi fisik yang layak untuk dilakukan tindakan opeasi.
b. Setelah mendapatkan persetujuan dari spesialis anestesi, spesialis jantung,
dan spesialis paru, pasien diperiksa pada satu hari sebelum operasi
(kunjungan pre-operatif).
c. Pasien diminta untuk puasa selama 6-8 jam sebelum operasi.
Di Ruang Persiapan
a. Cek identitas pasien : pasien seorang laki-laki usia 34 tahun, status fisik
ASA I dengan diagnosis union fraktur femur distal dextra dengan rencana
anestesi regional teknik spinal anestesi pada daerah L3-L4.
b. Sebelum pasien masuk kamar operasi, pasien diminta untuk mengganti
pakaian dengan pakaian yang telah disediakan.
c. Pemeriksaan fisik pasien : Tekanan darah : 130/80 mmHg, Nadi : 90
x/menit, Suhu : 36oC, RR : 16 x/menit.
d. Pasien masuk kamar operasi dan dibaringkan di meja operasi kemudian
dilakukan pemasangan EKG, manset, dan kanulasi tepi untuk infus serta
diikuti dengan pemasangan saturasi oksigen (Pulse Oxymetri).
Selama Operasi
Dilakukan spinal anestesi, kemudian melakukan monitoring tanda-tanda
vital pasien, obat-obatan yang digunakan selama operasi, dan melakukan
pengisian pada kartu anestesi.
II.2 Persiapan Alat
Alat Anestesi Spinal
a. Sepasang sarung tangan
b. 1 buah jarum spinal jenis Quincke nomor 26G

c. Duk steril
d. Kassa steril
e. Bethadine
f. Alkohol
g. Spuit (ukuran 1 ml, 5 ml, 10 ml)
Alat Anestesi Umum
e. Mesin anestesi
f. Monitor EKG
g. Sphygmomanometer
h. Pulse Oxymetri
i. Laringoskop
j. Stetoskop
k. Pipa endotrakeal (3 ukuran : No.6,5;7;7,5)
l. Orofaringeal airway
m. Plester/tape : micropore
n. Mandrain (introducer)
o. Forcep Magill
p. Suction
q. Gel lubrikasi
r. Face mask dewasa
s. Spuit
Alat Kanulasi Vena
a. Infus set, abbocath no. 18G, cairan infuse (Ringer Laktat, Koloid)
b. Plester
c. Kapas steril
d. Tourniqet
II.3 Persiapan Obat
Anestesi Spinal
a. Bupivacain 0.5% Heavy 12.5 mg

b. Fentanyl 25 mcg
c. Antiemetik

: Ondancetron 8 mg

d. Antibiotik

: Ceftriaxone 1 gr

e. Analgetik post op

: Ketorolac 30 mg

Anestesi Umum
a. Midazolam dosis 0.01-0.1 mg/kgBB
b. Propofol dosis 2-2.5 mg/kgBB
c. Fentanyl dosis 1-2 mcg/kgBB
d. Atracurium dosis 0.5-0.8 mg/kgBB
e. Maintenance (rumatan) : Isofluren, N2O, O2
Obat Emergensi
a. Sulfas atropine dosis 0.5 mg-1 mg
b. Dexamethason dosis 0.5-25 mg/hsri iv
c. Ephedrine dosis 5-20 mg

BAB III
PELAKSANAAN ANESTESI
III.1 Proses Anestesi
a. Pukul 09.45 WIB
1) Memasang infus ringer laktat
2) Memasang monitor EKG dan Pulse Oxymetri
3) Mengukur tekanan darah
4) TD 127/78 mmHg; Nadi 80 x/mnt; saturasi O2 99%; pernafasan :
23x/menit.
b. Pukul 10.00 WIB
1) Pasien dalam posisi duduk sambil memeluk bantal. pasien diberitahu
bahwa akan dilakukan tindakan pembiusan. Lalu, identifikasi daerah
yang akan dipungsi, kemudian, melakukan tindakan aseptik dan
antiseptik pada daerah yang akan dipungsi yaitu di daerah punggung
bagian lumbal sakral dan sekitarnya dengan menggunakan bethadine
10% dan alcohol 70%.
2) Identifikasi celah intervertebral pada L4-L5
3) Menusukkan jarum spinal Quincke no. 26G hingga menembus kulit
sampai menembus membrane dura-arachnoid yang dikonfirmasi dengan
keluarnya CSF bila stilet dicabut.
4) Setelah itu, memasang spuit berisi obat anestesi yang telah disiapkan
(Bupivacain 0.5% Heavy 12.5 mg dan Fentanyl 25 mcg)
5) Setelah obat spinal anestesi masuk, tindakan selanjutnya adalah
menarik keluar jarum dan menutup bagian punggung menggunakan
tape/plester.
6) Kemudian, memposisikan pasien dengan posisi supinasi
7) Untuk memastikan efek dari obat dengan meminta pasien untuk
mengangkat kaki, nilai bromage score.
8) TD : 135/85 mmHg, Nadi : 112 x/menit, Saturasi O2 100%
c. Pukul 10.15 WIB
1) Memasang nasal kanul O2 2 liter/menit

10

2) TD : 130/85 mmHg, Nadi : 78 x/menit, Saturasi O2 100%


3) Diberikan Ceftriaxone 2 gr intravena
d. Pukul 10.30 WIB
1) Pembedahan dimulai
2) TD : 118/76 mmHg, Nadi : 80 x/menit, Saturasi O2 100%
3) Diberikan Ondancetron 8 mg intravena
e. Pukul 10.45 WIB
1) TD : 110/73 mmHg, Nadi : 78 x/menit, Saturasi O2 100%
f. Pukul 11.00 WIB
1) TD : 125/76 mmHg, Nadi : 65 x/menit, Saturasi O2 100%
g. Pukul 11.15 WIB
1) TD : 120/82 mmHg, Nadi : 70 x/menit, Saturasi O2 100%
h. Pukul 11.30 WIB
1) Pembedahan selesai
2) TD : 125/76 mmHg, Nadi : 65 x/menit, Saturasi O2 100%
2) Monitor EKG, manset, pulse oxymetri dilepaskan
3) Pasien dibawa ke ruang pemulihan

11

Terapi Cairan
Kebutuhan cairan pada pasien per jam dengan berat badan 77 kg adalah sebesar
160 cc/jam (50cc/kgBB/hari) dengan lama puasa pasien 6 jam sebagai terapi
cairan pengganti puasa pasien membutuhkan 960 cc cairan. Jenis operasi yang
dilakukan pada pasien ini tergolong ke dalam operasi sedang, dibutuhkan cairan
sebanyak 306 cc (6 cc/kgBB/jam) perioperatif. Berdasarkan kebutuhan pasien,
keseluruhan jumlah cairan yang dibutuhkan intraoperatif dengan waktu
pembedahan 40 menit adalah sebesar 1266 cc. selain itu, jumlah cairan yang
keluar selama operasi adalah sebesar 220 cc, dimana jumlah urin keluar sebesar
200 dan jumlah kehilangan darah 20 cc. Pada pasien ini, cairan yang diberikan
intraoperatif adalah sebesar 500 cc, pemberian cairan dilanjutkan di ruang
pemulihan dan setelah pasien kembali ke ruangan dengan instruksi anestesi postoperatif.
Post operatif
Pasien masuk ke ruang pemulihan pada pukul 10.15 WIB, di ruang pemulihan
dilakukan penilaian terhadap tingkat kesadaran, pada pasien kesadarannya
composmentis. Dilakukan penilaian tanda-tanda vital, ditemukan tekanan darah
120/80 mmHg, Nadi 70 x/menit, pernafasan 20 x/menit, dan saturasi oksigen
100%. Pada pasien diberikan instruksi pasca anestesi selama di ruang pemulihan
yaitu bila kesakitan dapat diberikan injeksi ketorolac 30 mg intravena, bila
mual/muntah dpat diberikan injeksi ondancetron 8 mg intravena, obat-obatan
sesuai instrument DPJP, infuse dengan RL 10 tetes/menit, pemantauan (tensi, nadi,
napas) setiap 15 menit selama 1 jam, pasien bebas makan dan minum, miring
kanan-kiri sampai 6 jam post-op setelah itu mobilisasi aktif.
Sebelum dipindahkan ke ruangan, dilakukan penilaian Aldrete Score di ruang
pemulihan dan ditemukan tingkat kesadaran dengan nilai 2, pernafaasan dengan
nilai 2, tekanan darah dengan nilai 2, aktivitas dengan nilai 1, warna kulit dengan
nilai 2, dan total nilai kesadaran adalah 9 yang menandakan pasien diperbolehkan
pindah ke ruang perawatan.

12

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada kasus ini, pasien dengan jenis kelamin laki-laki, 57 tahun dengan
diagnosis soft tissue tumor inguinalis dextra akan dilakukan Eksisi. Berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang didapatkan, tidak
ada kelainan, maka pasien dapat digolongkan dalam ASA I tanpa penyulit airway,
hal ini mengacu pada tabel ASA (American Society Anesthesiologist)

Rencana anestesi pada pasien ini adalah anestesi regional dengan teknik blok
subarachnoid (spinal anestesi) pada daerah L4-L51. anestesi spinal, yaitu anestesi
dengan injeksi obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Alasan pemilihan
teknik anestesi ini berdasarkan indikasi sebagai berikut: pasien tidak menolak
untuk dilakukan tindakan spinal, jenis pembedahan yang dilakukan pada tubuh
bagian bawah, yaitu eksisi, tidak ditemukan kontraindikasi pada pasien ini untuk
dilakukan spinal, seperti infeksi di daerah penusukan, koagulopati, hipovolemi
berat, peningkatan tekanan intrakranial, gangguan perdarahan 1. Spinal anestesi
menghasilkan blok segmental yang menyebar baik ke cranial dan caudal dari
lokasi injeksi. Pemilihan lokasi anestesi yaitu pada L4-L5. Injeksi di daerah
lumbal akan menyebar ke caudal dan meliputi seluruh dermatom sacral1.
13

Pasien dalam kondisi duduk lalu di identifikasi celah intervertebral pada L4L5, menggunakan jarum jenis Quincke no. 26G menembus kulit lalu subkutis
kemudian ligamentum flavum sampai membran dura-arachnoid, dikonfirmasi
dengan keluarnya CSF saat stilet dikeluarkan.
Jarum spinal yang digunakan jenis Quincke berukuran 26G. Jarum jenis
Quincke adalah jarum dengan ujung jarum tajam (cutting). Posisi utama yang
biasanya digunakan pada penyuntikan obat anestesi lokal pada anestesi
spinal/epidural yaitu lateral dekubitus, duduk, dan prone (tengkurap)2. Pada pasien
ini dilakukan dengan posisi duduk. Anatomi tulang belakang kadang lebih mudah
dipalpasi pada posisi ini dibandingkan lateral dekubitus 2. Pendekatan yang
dilakukan pada pasien ini adalah pendekatan garis tengah (midline approach).
Pendekatan ini paling sering dilakukan. Setelah celah diidentifikasi maka jarum
penuntun (jika menggunakan jarum penuntun) disuntikkan pada garis tengah
sampai kedalaman jarum kira-kira sampai ligamentum interspinosum2. Kemudian
jarum spinal disuntikkan menembus kulit, ketika jarum menembus ligamentum
flavum, umumnya akan terjadi kehilangan tahanan (loss of resistance). Kemudian
jarum didorong lagi sampai menembus lapisan dura dan membran subarachnoid
dan berhenti setelah ditandai dengan keluarnya cairan liquor2.
Dosis obat anestesi lokal yang digunakan dalam teknik spinal anestesi adalah
bupivakain 0,5% dengan efek blok sensorik yang kuat dan blok motorik yang
ringan sampai sedang3. Bupivakain mempunyai onset yang relatif lambat (5-10
menit) dan mempunyai durasi yang panjang 90-120 menit1. Dosis yang digunakan
adalah bupivakain 0,5% sebesar 12,5 mg, dosis ini digunakan untuk prosedur di
region abdomen bawah.

14

Dosis untuk anestesi spinal :


Dose (mg)
Drug
Procaine

Duration (min)

Preparation

Perineum,
lower
limbs

Lower
abdomen

10%

75

125

200

45

60

solution
0.75% in

4-10

12-14

12-18

90-120

100-150

4-8

10-12

10-16

90-120

120-240

25-50

50-75

75-100

60-75

60-90

Upper
abdomen

Plain

Epinephrine

Bupivacaine 8.25%
dextrose
1% solution
Tetracaine

Lidocaine

in 10%
glucose
5% in 7.5%
glucose

Opioid dan klonidin dapat ditambahkan sebagai agen spinal anestesi untuk
meningkatkan kualitas anestesi dan durasi dari blok subarachnoid 1. Klonidin
merupakan 2 agonis bersifat vasokonstriktor4. Efektivitas klonidin setara dengan
epinefrin dalam hal memanjangkan durasi dari blok sensorik, tetapi dikaitkan
dengan penurunan tekanan darah yang lebih hebat pada beberapa studi5. Fentanyl
termasuk obat opioid, bekerja sebagai agonis reseptor . Fentanyl digunakan
karena onset untuk mencapai analgesia lebih singkat dibanding morfin dan
meperidin (5 menit) dan relative kurang mempengaruhi kardiovaskular4. Pada
kasus ini bupivakain ditambahkan dengan fentanyl.
Uji keberhasilan spinal anestesi dapat diketahui dengan melakukan uji tusuk
jarum tumpul menilai blok sensorik dan melihat pergerakan motorik yang terjadi
pasca dilakukan anestesi dengan penilaian melalui skala Bromage 6. Pada pasien
ini didapatkan skala Bromage dengan total skor 3.

15

Dampak Fisiologis Anestesi Spinal


a)

Pengaruh terhadap sistem kardiovaskuler :


Pada anestesi spinal tinggi terjadi penurunan aliran darah jantung dan
penghantaran (supply) oksigen miokardium yang sejalan dengan penurunan
tekanan arteri rata-rata. Penurunan tekanan darah yang terjadi sesuai dengan
tinggi blok simpatis, makin banyak segmen simpatis yang terblok makin
besar penurunan tekanan darah. Untuk menghindarkan terjadinya penurunan
tekanan darah yang hebat, sebelum dilakukan anestesi spinal diberikan cairan
elektrolit NaC1 fisiologis atau ringer laktat 10-20 ml/kgbb. Pada Anestesi
spinal yang mencapai T4 dapat terjadi penurunan frekuensi nadi dan
penurunan tekanan darah dikarenakan terjadinya blok saraf simpatis yang
bersifat akselerator jantung6.

b) Terhadap sistem pernafasan :


Pada anestesi spinal blok motorik yang terjadi 2-3 segmen di bawah blok
sensorik, sehingga umumnya pada keadaan istirahat pernafasan tidak banyak
dipengaruhi. Tetapi apabila blok yang terjadi mencapai saraf frenikus yang
mempersarafi diafragma, dapat terjadi apnea.
c)

Terhadap sistem pencernaan :


Oleh karena terjadi blok serabut simpatis preganglionik yang kerjanya
menghambat aktifitas saluran pencernaan (T4-5), maka aktifitas serabut saraf

16

parasimpatis menjadi lebih dominan, tetapi walapun demikian pada umumnya


peristaltik usus dan relaksasi spingter masih normal. Pada anestesi spinal bisa
terjadi mual dan muntah yang disebabkan karena hipoksia serebri akibat dari
hipotensi mendadak, atau tarikan pada pleksus terutama yang melalui saraf
vagus6.
Komplikasi yang terjadi pada spinal anestesi selain hipotensi adalah sakit
punggung, retensi urin, hearing loss, Post Dural Puncture Headache (PDPH),
cedera neurologik, Transient Radicular Irritation dan lain-lain.
Retensi urin sebagai respon tubuh dari spinal anestesi yang berlebihan, hal ini
sering terjadi pada pasien1. Pada pasien ini dipasang kateter urin dan urine-bag
sehingga apabila ada efek samping ini, dapat teratasi.
Sakit pinggang sering terjadi pada spinal maupun epidural anestesi.
Penyebabnya tidak jelas, beberapa teori menyebutkan trauma akibat jarum, iritasi
anestesi lokal, dan strain ligamen5. Pada pasien ini sakit pinggang dirasakan
setelah operasi.
Hearing loss, terdapat penurunan pendengaran ringan (>10 dB) merupakan
komplikasi yang sering terjadi setelah prosedur spinal anestesi. Angka kejadian
lebih sering pada wanita. Mekanisme komplikasi ini masih belum jelas. Pada
pasien ini tidak ditemukan komplikasi ini.
Sakit kepala yang terjadi setelah punksi dura disebut spinal headache atau
post-dural puncture headache (PDPH). CSF keluar dari ruang subarachnoid
melalui punksi dura, menyebabkan tarikan pada struktur vaskuler yang sensitive
terhadap sakit. Sakit kepala diperburuk oleh sikap berdiri atau duduk dan terasa
berkurang dengan terlentang. Rasa sakit tersebut dirasakan di frontal, occipital
atau keduanya dan mungkin disertai dengan gejala seperti tinitus atau diplopia.
Walupun ini terjadi segera setelah punksi dura, tapi bisanya setelah 24-72 jam.
Kejadian PDPH lebih banyak terjadi pada pasien muda dan wanita. Komplikasi
ini biasanya terjadi pada pemakaian jarum tipe Quincke, berukuran 20-22G 7. Pada
kasus ini digunakan jarum Quincke yang merupakan faktor resiko terjadinya
PDPH, namun ukuran jarum yang dipakai lebih kecil yaitu 26G.
Cedera neurologic sangat jarang terjadi. Ditandai dengan parestesia persisten,
terbatasnya gerakan motorik, dapat terjadi cedera langsung dari jarum ke korda
17

spinalis atau saraf spinal, iskemia korda spinalis, kontaminasi bakteri 5. Pada
pasien ini tidak ditemukan tanda-tanda komplikasi ini.
Transient Radicular Irritation (TRI) didefinisikan sebagai rasa nyeri,
disestesia, atau keduanya di kedua kaki atau bokong setelah spinal anestesi. Nyeri
biasanya hilang setelah 72 jam. Semua anestesi lokal dapat menyebabkan TRI,
namun resiko lebih besar pada penggunaan lidokain 5. Kualitas nyeri biasanya
sedang dan dapat hilang pada pemberian NSAID, tetapi pada beberapa pasien
nyerinya melebihi nyeri insisi bedah. Pada pasien ini tidak ditemukan gejala
komplikasi ini.

18

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan status fisik menurut ASA, pasien ini termasuk ASA I karena pada
anamnesa, pemeriksaan fisik dan penunjang tidak ditemukan kelainan sistemik.
Pemilihan teknik spinal anestesi pada pasien dengan rencana eksisi ini sudah
sesuai indikasi. Alasan pemilihan teknik anestesi ini berdasarkan indikasi sebagai
berikut: pasien tidak menolak untuk dilakukan tindakan spinal, jenis pembedahan
yang dilakukan pada tubuh bagian bawah, yaitu eksisi soft tissue tumor inguinalis
dextra, tidak ditemukan kontraindikasi pada pasien ini untuk dilakukan spinal
anestesi, seperti infeksi di daerah penusukan, koagulopati, hipovolemi berat,
peningkatan tekanan intrakranial, gangguan perdarahan.
Pasien sudah ditatalaksana dengan baik, pada saat proses operasi dan anestesi
berlangsung dengan baik. Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke Recovery
Room untuk dipantau sebelum kembali ke Ruang Perawatan. Setelah kondisi
hemodinamik pasien stabil, pasien dibawa ke Ruang Perawatan untuk
mendapatkan terapi selanjutnya sesuai instruksi pasca pembedahan.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Baldini G, Butterworth JF. Carli F, et al. Spinal, Epidural, and Caudal
Block. Dalam : Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ, editor. Clinical
Anesthesiology 5th Edition. United States Of America : Lange Medical
Books/ McGraw Hill. 2013. Hal. 937-74.
2. Sukmono RB. Anestesi Regional. Dalam : Soenarto RF, Chandra S. Buku
Ajar Anestesiologi, Jakarta : Departemen Anestesiologi dan Intesive Care
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012. Hal 451-67.
3. Hadzic A. Textbook of Regional Anesthesia and Acute Pain Management.
United States of America : McGraw Hill. 2007. Hal 245.
4. Syarif A, Sunaryo. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2009. Hal 206-271.
5. Barash, Paul G, Bruce F. Cullen, Robert K. Stoelting, Mikhael K.
Cahalanand, dan M. Christine Stock. Clinical Anesthesia Sixth Edition.
Wolters Kluwer : Lippincott Williams & Wilkins; 2009.
6. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Buku Petunjuk Praktis Anestesiologi
Jilid II. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2001. Hal
112-16.
7. Finucane, T. Brendan. Complication of regional Anesthesia Second
Edition. New York : Springer Science. 2007. Hal 149.
8. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Buku Petunjuk Praktis Anestesiologi
Jilid II. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2001. Hal
112-16.

20