Anda di halaman 1dari 5

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
PENALAKSANAN LUKA GIGI

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit :
Revisi :
Dibuat oleh :
Nama
:
Paraf
:

Diperiksa oleh :
Nama
:
Paraf
:

No. Dokumen :
Halaman : 171
Disetujui oleh :
Nama
:
Paraf
:

1. Tujuan.
Sebagai pedoman dalam penatalksanaan luka gigi ( Vulnus Morsum)
2.

Ruang Lingkup
Pasien di layanan 24 jam Puskesmas Sine Kecamatan Sine yang menderita luka
gigi

3. Uraian Umum
Vulnus Morsum ( luka gigi ) adalah luka yang disebabkan oleh gigitan binatang
( ular, anjing) manusia atau serangga ( laba-laba, tawon, kalajengking )
3. PROSEDUR
4.1 Anamnesis
4.1.1 Tanyakan bagaimana, dimana dan kapan luka terjadi
4.1.2 Perkirakan kemungkinan terjadinya kontaminasi jika penampang luka tampak
kotor.
4.1.3 Tentukan apakah luka akan ditutup secara primer atau dibiarkan terbuka
4.2 Pemeriksaan fisik
4.2.1 Tentukan lokasi
4.2.2 Tentukan kemungkinan adanya cedera atau struktur yang lebih dalam jika
luka
terdapat thorax ( dada ) dan abdomen (perut )
4.2.3 Eksplorasi luka : cari benda asing yang mungkin tertinggal pada luka serta
tentukan adanya jaringan yang telah mati
4.3

Penanganan dan pengobatan

4.3.1 Gigitan ular berbisa :


4.3.1.1 Pasang torniket di sebela proksimal tempat gigitan untuk mencegah
perluasan penjalaran bisa ular dengan menghalangi aliran vena dan kalenjer getah
bening. Longgarkan setiap 30 menit untuk mencegah nekrosis luka.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit :
Revisi :
Dibuat oleh :
Nama
:
Paraf
:

PROSEDUR KLINIS
PENALAKSANAN LUKA GIGI

Diperiksa oleh :
Nama
:
Paraf
:

No. Dokumen :
Halaman : 171
Disetujui oleh :
Nama
:
Paraf
:

4.3.1.2 Batasi pergerakan penderita untuk mencegah penyebaran bisa yang cepat
4.3.1.3 Tindakan lokal:
4.3.1.3.1 Luka dipijit untuk mengeluarkan bisa
4.3.1.3.2 Buatlah insisi linear multipel
4.3.1.3.3. Luka jangan dikompres dengan es karena dapat meningkatkan
kemungkinan nekrosis
4.3.1.4 Berikan antivenin ( antibisa ) dengan Wyeths polyvalent antivenin secara IV
4.3.1.5 Bila penderita tidak alergi, berikan 1 vial serum antibisa ular secara IV ke
dalam 100 cc saline isotonik ( (NaCl 0,9 %) ditambah dengan 100 mg Solu-cortef,
berikan dalam bentuk infus selama 20 menit
4.3.1.6 Bila penderita alergi, lakukan desensitasi dengan 0,1 ml antisera 1:1000 dan
dosis ditingkatkan setiap 5 menit
4.3.1.7 Pikirkan akan kemungkinan perlunya transfusi darah, imunisasi tetanus,
pemberian antibiotika, oksigen, kalsium, trakheostomi ataupun hemodialisis
4.3.1.8 Lakukan debridemen pada daerah subkutan dan fasia untuk mencegah
perluasan edema dan kerusakan jaringan
4.3.1.9 Pemberian kortikosteroid dosis tinggi pada 48-72 jam pasca trauma.
4.3.1.10 Jangan diberi minuman beralkhohol karena dapat mempercepat sirkulasi
sehingga mempercepat penyebaran luka
4.3.1.11 Penderita harus diobservasi ketat
4.3.2 Gigitan anjing
4.3.2.1 Bersihkan luka dengan sabun dan air berulang-ulang, irigasi denga larutan
betadine
4.3.2.2. Lakukan debridemen dengan anestesi dengan cara blok atau umum jika
perlu.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit :
Revisi :
Dibuat oleh :
Nama
:
Paraf
:

PROSEDUR KLINIS
PENALAKSANAN LUKA GIGI

Diperiksa oleh :
Nama
:
Paraf
:

No. Dokumen :
Halaman : 171
Disetujui oleh :
Nama
:
Paraf
:

4.3.2.3 Balut luka secara longgar dan observasi luka dua kali sehari
4.3.2.4 Berikan ATS atau HTIG. Bila luka gigitan berat, berikan suntikan infiltrasi
serum anti rabies di sekitar luka
4.3.2.5 Vaksinasi ( imunisasi aktif ) dengan DEV ( Tissue emulsion Duck Embryo
Vaccine ) 10% dengan dosis 1ml / kali selama 14 hari atau 2 ml / kali selama 7 hari
( 14 kali suntikan ). Suntikan dilakukan per subkutan dengan daerah suntikan di
abdomen, bokong, paha bagian lateral. Diberikan setelah 24 jam pemberian serum
anti rabies
4.3.2.6 Berikan serum hiperimun ( imunisasi pasif ) dengan dosis 1000 IU / 40 kg BB
secara intramuskular. Sebelum pemberian harus dilakukan tes sensitivitas
4.3.3

Gigitan manusia

4.3.3.1 Penatalaksanaan luka baru ( bbrp setelah digigit/tergigit )


4.3.3.2 Lakukan anestesi blok, selanjutnya cukur rambut di sekitar luka
4.3.3.3 Bagian sekitar luka dicuci dengan air sabun selama 5 menit dan irigasi luka
dengan betadine selama menit
4.3.3.4 Lakukan debdrimen secukupnya, rawat luka
4.3.3.5 Berikan antibiotik berspektrum luas dan ATS serta toksoid
4.3.3.6 Penatalaksanaan luka lama ( beberapa hari setelah gigitan )
4.3.3.7 Luka lama sebaiknya dirawat di rumah sakit
4.3.3.8 Lakukan biakan dan tes sensitivitas
4.3.3.9 Luka dibersihkan dan diirigasi serta di debridemen
4.3.3.10 Kompres dan irigasi dengan antibiotika
4.3.3.11 Sementara menunggu hasil biakan dan tes sensitivitas, berikan antibiotika
berspektrum luas.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit :
Revisi :
Dibuat oleh :
Nama
:
Paraf
:

PROSEDUR KLINIS
PENALAKSANAN LUKA GIGI

Diperiksa oleh :
Nama
:
Paraf
:

No. Dokumen :
Halaman : 171
Disetujui oleh :
Nama
:
Paraf
:

4.3.3.12 Berikan pula ATS dan toksoid


4.3.4 Gigitan laba-laba
4.3.4.1 1 Gigitan black window spider ( Lactrodectus mactans )
4.3.4.1.2 Tindakan spesifik yaitu dengan pemberian serum kuda antibisa laba-laba,
suntikan sebanyak 2,5ml secara IM
4.3.4.1.3 Kompres dengan es, diberikan muscle relaxant ( pelemas obat ) cara ini
hanya boleh dilakukan oleh ahli anestesi
4.3.4.1.4 Berikan kalsium glukonat 10% IV untuk mengurangi spasme dan rasa nyeri
serta antihistamin
4.3.4.2 Gigitan Brown Recluse Spider ( Loxosceles reclusa )
4.3.4.2.1 Lakukan eksisi lesi dalam 12 jam, hal ini dapat mengurangi nyeri
4.3.4.2.2 Lakukan debridemen dan perawatan luka
4.3.4.2.3 Berikan kortikosteroid ( metilprednisolon ) secara intramuskular dalam
dosis 80 mg/24 jam selama 3 hari, selanjutnya 40 mg / 24 jam hingga gejala
menghilang antihistamin
4.3.4.2.4 Berikan ATS, antibiotika, tidak terdapat antivenin spesifik
4.3.5 Gigitan tawon :
4.3.5.1 Eksisi, keluarkan sengatan, kompres es dan berikan salep antihistamin
4.3.5.2 Torniket, epinefrin 1:1000 0,5 ml IM, suntikan antihistamin IM
4.3.5.3 Ulangi epinefrin 0,2 ml kortison IV ( solucortef ) 100 mg , oksigen dan
aminofilin pada keadaan yang berat.
4.3.5.4 Dapat diberikan vasopresor pada keadaan yang kritis.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
PENALAKSANAN LUKA GIGI

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit :
Revisi :
Dibuat oleh :
Nama
:
Paraf
:

Diperiksa oleh :
Nama
:
Paraf
:

No. Dokumen :
Halaman : 171
Disetujui oleh :
Nama
:
Paraf
:

4.3.6 Gigitan kalajengking :


4.3.6.1 Torniket dipasang di sebelah sengatan.
4.3.6.2 Penatalaksanaan lokal dilakukan eksisi dan kompres es
4.3.6.3 Apabila terjadi kejang, diberikan kalsium glukons per IV dan luminal per IM
4.3.6.4 Berikan 1 grain ( 64,8 mg ) Emetin HCI dalam 1 cc NaCl 0,9 %, disuntikkan
di tempat sengatan sebagai antagonis racun.
DOKUMEN TERKAIT
5.1 Form status pasien dalam rekam medik