Anda di halaman 1dari 3

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit :
Revisi :
Dibuat oleh :
Nama
:
Paraf
:

PROSEDUR KLINIS
ASMA PERSISTEN RINGAN

Diperiksa oleh :
Nama
:
Paraf
:

No. Dokumen :
Halaman : 144
Disetujui oleh :
Nama
:
Paraf
:

1. Tujuan.
Sebagai pedoman dalam memahami gejala klinis, patofisiologi dan pengambilan
keputusan klinis yang termasuk Asma Persisten Ringan sehingga dapat
direncanakan penatalaksanaan yang tepat dalam rangka menjaga angka morbiditas
dan mortalitas seminimal mungkin
2. Ruang Lingkup
Pasien di poli umum Puskesmas Sine Kecamatan Sine yang menderita Asma
Persisten Ringan
3.

Uraian Umum
3.1 Definisi
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan napas yang melibatkan
berbagai sel inflamasi. Dasar penyakit ini adalah berbagai tingkat hiperaktivitas
bronkus dalam berbagai tingkat, obstruksi jalan napas, dan gejala pernapasan (
mengki dan sesak ). Obstruksi jalan napas umumnya bersifat reversibel tetapi
dapat menjadi nonreversibel tergantung berat dan lamanya penyakit.
3.2 Tujuan terapi asma adalah :
1. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma
2. Mencegah kekambuhan
3. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya
4. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan
exercise.
5. Menghindar efek samping obat asma
6. Mencegah obtruksi jalan napas yang ireversibel
3.3 Obat antiasma adalah :
3.3.1 Bronkodilator
a. Agonis B2
Obat ini mempunyai efek bronkodilatasi. Terbulatin, salbutamol, dan feneterol
memiliki lama kerja 4-6 jam, sedangkan agonis B2 long-acting bekerja lebih
dari 12 jam seperti salmeterol, formoterol, bambuterol. Bentuk aerosol dan
inhalasi memberikan efek bronkodilatasi yang sama dengan dosis yang jauh
lebih kecil dan pemberian secara lokal.
b. Metilxantin
Teofilin termasuk dalam golongan ini. Efek bronkodilator berkaitan dengan
konsentrasinya di dalam serum. Efek samping obat ditekan dengan
pemantauan kadar teofilin serum dalam pengobatan jangka panjang

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
ASMA PERSISTEN RINGAN

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit :
Revisi :
Dibuat oleh :
Nama
:
Paraf
:

Diperiksa oleh :
Nama
:
Paraf
:

No. Dokumen :
Halaman : 144
Disetujui oleh :
Nama
:
Paraf
:

c. Antikolinergik
Golongan ini menurunkan tonus vagus intrinsik dari saluran nafas
3.3.2 Antiinflamasi
Antiinflamasi berfungsi menghambat inflamasi jalan napas dan mempunyai
efek supresi dan profilaksis.
3.4 Kortikosteroid
3.5 Natrium kromolin ( sodium cromoglycate )
4. Prosedur Klinis
4.1 Anamnesis
4.1.1
Riwayat asma sebelumnya atau riwayat asma dalam keluarga
4.1.2
Kapan serangan timbul, adakah faktor pencetus serangan ,
seberapa sering serangan timbul, riwayat alergi, nyeri saat
bernafas.
4.1.3
Obat-obatan yang tela atau biasa dikonsumsi
4.2 Pemeriksaan fisik
4.2.1 Lihat keadaan umum
4.2.2 Hitung TNSP
4.2.3 Inspeksi : adakah sianosis, retraksi otot-otot bantu pernafasan
4.2.4 Auskultasi : adakah wheezing dan ekpirasi yang memanjangkan
pada auskultasi paru
4.3 Pemeriksaan penunjang
4.3.1 Pemeriksaan darah : eusinofil meningkat
4.3.2 Pemeriksaan tes fungsi paru dengan spirometri atau peak expiratory flow
( PEF ) untuk menentukan adanya obstruksi jalan napas
Derajat asma
Persisten
ringan
( mingguan )

Gejala
Gejala
>1x/minggu
<x/minggu
Serangan

Gejala malam Fungsi paru


2
kali Forced expiratory
tetapi seminggu
volume ( FEV-1) atau
Peak
expiratory flow
dapat
(PEF) 80% normal

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit :
Revisi :
Dibuat oleh :
Nama
:
Paraf
:

PROSEDUR KLINIS
ASMA PERSISTEN RINGAN

Diperiksa oleh :
Nama
:
Paraf
:

No. Dokumen :
Halaman : 144
Disetujui oleh :
Nama
:
Paraf
:

menganggu aktifitas dan


tidur

Variabilitas
20-30%

PEF

4.4 Pengobatan asma jangka panjang berdasarkan berat penyakit


Derajat asma
Obat pengontrol
Asma
persisten Inhalasi kortikosteroid 200
ringan
500 mg atau kromolin / nedokromil
atau teofilin lepas lambat
Bila
perlu
ditingkatkan
sampai 800 mg atau ditambahkan
bronkodilator aksi lama
Dapat diberikan agonis B2
aksi lama inhalasi atau oral atau
teofilin lepas lambat
5. DOKUMEN TERKAIT
5.1 Form status pasien dalam rekam medik

Obat pelega
Inhalasi agonis B2 aksi
singkat bila perlu dan tidak
melebihi 3-4 kali sehari