Anda di halaman 1dari 25

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

SISTEM DAN PROSEDUR


PENATAUSAHAAN KEUANGAN
BADAN LAYANAN UMUM DAERAH

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 01 / 2014
Revisi
:Dibuat oleh :
Sarno

No. Dokumen :
Halaman
: 200
Diperiksa oleh :
Disetujui oleh :
Dr.Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Daftar isi
1. Penyusunan rencana bisnis dan anggaran
2. Penatausahaan penerimaan kas
3. Penatausahaan pengeluaran kas
4. Pertanggungjawaban dana fungsional
5. Akuntansi dan pelaporan

Paraf

BAB I
PENYUSUNAN RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN (RBA)
1.1.

Pendahuluan
Rencana Bisnis Anggaran (RBA) BLUD adalah dokumen perencanaan bisnis

dan penganggaran 1 (satu) tahun yang berisi program/kegiatan pelayanan, target


kinerja dan anggaran BLUD. RBA merupakan penjabaran dari Rencana Strategi
Bisnis (RSB) yang disusun setiap 5 (lima) tahun. RBA disusun berdasarkan:
1. Program dan kegiatan pelayanan sesuai dengan pola kegiatan operasional
(nature business) BLUD
2. Basis kinerja dan perhitungan akuntansi biaya menurut jenis layanannya
3. Basis akrual untuk setiap proyeksi keuangan yang disusun. Adapun untuk
konversi RBA ke RKA-SKPD disesuaikan dengan sistem anggaran di
Pemerintah Kabupaten Ngawi
4. Kebutuhan dan kemampuan pendapatan yang diperkirakan akan diterima dari
masyarakat, badan lain, APBD, APBN dan sumber-sumber pendapatan BLUD
lainnya.
5. Pola anggaran fleksibel (flexible budget) dengan prosentase ambang batas
tertentu. Pola anggaran fleksibel hanya berlaku untuk belanja yang bersumber
dari pendapatan selain dari APBN, APBD, dan hibah terikat. Fleksibel dalam arti
anggaran dapat bertambah atau berkurang dari yang telah dianggarkan sepanjang
pendapatan terkait bertambah atau berkurang secara proporsional.
RBA disusun setiap tahun dan akan dikonsolidasikan menjadi bagian dari Rencana
Kerja dan Anggaran (RKA) Dinas Kesehatan.
Prosedur ini hanya mengatur tentang penyusunan RBA dan konversinya menjadi
RKA/DPA. Format RKA/DPA mengikuti sistem dan prosedur penganggaran yang
telah ditetapkan di Kabupaten Ngawi.

1.2.

Tujuan

RBA bertujuan untuk :


1. Perencanaan dan penganggaran kegiatan operasional dan pengembangan BLUD
dalam 1 (satu) tahun anggaran
2. Pencanangan target kinerja dan acuan pengukuran kinerja BLUD dalam 1 (satu)
tahun anggaran
3. Dasar penyusunan RKA- BLUD Puskesmas dan RKA-SKPD Dinas Kesehatan
4. Acuan kegiatan operasional, pengembangan, aspek keuangan BLUD, dan
pengukuran kinerja dalam pelaksanaan tugas dan fungsi organisasinya
1.3.

Sistem dan Prosedur

RBA disusun dengan tahapan sebagai berikut ini:


1.3.1. Penyusunan oleh Tim Penyusun RBA internal BLUD
1. Pihak Terkait
Pihak terkait dalam kegiatan ini adalah :
a. Pemimpin BLUD
Pemimpin BLUD adalah pihak yang ditetapkan melalui Keputusan Bupati
untuk memimpin BLUD. Pemimpin BLUD bertanggungjawab atas RBA
BLUD yang disusun sebagai bagian dari proses perencanaan operasional
BLUD tahunan. Pemimpin BLUD Puskesmas adalah Kepala Puskesmas
b. Dewan Pengawas/atau yang Pejabat yang menggantikan Fungsi Dewas
(Kepala Dinas Kesehatan)
Dewan Pengawas adalah pihak yang ditetapkan oleh Keputusan Bupati untuk
melakukan proses pembinaan dan pengawasan pengelolaan BLUD. Dewan
pengawas wajib mengetahui atas RBA BLUD yang dibina dan diawasi.
c. Tim Penyusun RBA BLUD
Tim penyusun RBA BLUD adalah tim yang dibentuk dan ditetapkan oleh
pemimpin BLUD sekurang-kurangnya beranggotakan pengelola keuangan,
penyusun program, dan pengelola teknis kegiatan BLUD.
2. Sistem dan Prosedur

a. Pemimpin BLUD menetapkan Tim Penyusun RBA BLUD melalui SK


Pemimpin BLUD
b. Tim Penyusun RBA BLUD bekerja dengan tahapan sebagai berikut ini:
(1) Menelaah pencapaian kinerja BLUD sampai dengan tahun berjalan dan
membuat analisis dalam hubungannya dengan pencapaian kinerja yang
dicanangkan dalam Rencana Strategi Bisnis (RSB)
(2) Menentukan target kinerja BLUD untuk periode anggaran yang akan
datang dengan mengacu pada Rencana Strategi Bisnis (RSB), Standar
Pelayanan Minimum (SPM). Khusus untuk BLUD unit kerja perlu
memperhatikan Target Kinerja SKPD-nya.
(3) Menyusun Estimasi Pendapatan BLUD dari setiap jenis layanan yang
diberikan pada setiap unit kerja berbasis akrual
(4) Menyusun rencana kegiatan operasional (rutin) berikut anggaran biaya
yang diperlukan untuk penyediaan layanan pada setiap unit kerja
(5) Menyusun rencana kegiatan pengembangan layanan berikut anggaran
biaya dan investasi (belanja modal)
(6) Melakukan perhitungan akuntansi biaya yang memuat perhitungan biaya
per unit layanan dan estimasi tarif layanan ideal
(7) Melakukan perhitungan kebutuhan sumber pendanaan dari APBD atau
APBN
(8) Membuat Ikhtisar RBA atau konversi dari RBA ke RKA-SKPD
(9) Memasukkan hasil Ikhtisar RBA/Konversi RKA-SKPD ke aplikasi
RKA yang disediakan oleh Pemkab Ngawi
(10) Membuat Proyeksi Laporan Keuangan untuk periode anggaran 1 (satu)
tahun ke depan yang terdiri dari Proyeksi Neraca, Proyeksi Laporan
Operasional, Proyeksi Laporan Perubahan Ekuitas, dan Proyeksi
Laporan Arus Kas,
c. Tim Penyusun RBA BLUD menyerahkan Draft RBA BLUD kepada
Pemimpin BLUD untuk dikaji dan ditandatangani

d. Pemimpin BLUD menyerahkan RBA BLUD kepada Dewan Pengawas


Rangkap 2 (dua) untuk dikaji
e. Dewan Pengawas :
(1) Memberikan pendapat dan saran terkait RBA BLUD yang diusulkan
kepada Pemimpin BLUD
(2) Menandatangani RBA BLUD untuk diusulkan sebagai bagian dari RKA
SKPD jika RBA dinilai sudah memenuhi syarat paling lambat 1 (satu)
minggu setelah penyerahan RBA BLUD kepada Dewas
(3) Mengarsip RBA BLUD (Rangkap 2) yang telah ditandangani,
menyerahkan RBA Rangkap 1 kepada Pemimpin BLUD
1.3.2. Pengusulan RBA sebagai Lampiran RKA-SKPD kepada Tim Anggaran
Pemerintah Daerah (TAPD)
Sistem dan prosedur untuk kegiatan pengusulan RBA sebagai Lampiran RKA-SKPD
mengikuti Mekanisme Penganggaran yang diatur dalam peraturan tersendiri.
1.3.3. Penyusunan RBA Definitif
1. Pihak Terkait
Pihak terkait dalam kegiatan ini adalah :
a. Pemimpin BLUD
Pemimpin BLUD adalah pihak yang ditetapkan melalui Keputusan Bupati
untuk memimpin BLUD, bertanggung jawab atas pelaksanaan anggaran
sesuai dengan RBA Definitif yang menjadi bagian dari DPA BLUD.
Pemimpin BLUD Puskesmas adalah Kepala Puskesmas
b. Tim Penyusun RBA BLUD
Tim penyusun RBA BLUD adalah tim yang dibentuk dan ditetapkan oleh
pemimpin BLUD paling tidak beranggotakan pengelola keuangan dan
pengelola teknis kegiatan BLUD

c. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD)


PPKD dalam hal ini adalah DPPKA bertanggungjawab untuk melakukan
pengkajian dan pengesahan atas RBA Definitif yang diusulkan BLUD
menjadi DPA BLUD
2. Sistem dan Prosedur
a. Pemimpin BLUD memperoleh alokasi APBD Definitif dari TAPD
b. Tim Penyusun RBA melakukan pengkajian dan penyesuaian RBA untuk
menjadi RBA Definitif menyesuaikan dengan alokasi APBD Definitif
c. RBA Definitif ditandatangani oleh Pemimpin BLUD
d. RBA Definitif dikonversi menjadi Usulan DPA BLUD (yang dilampiri RBA
Definitif) oleh Tim Penyusun RBA BLUD
e. Usulan DPA Definitif dimasukkan dalam Aplikasi Penganggaran yang tersedia
di Kabupaten Ngawi
f. Pemimpin BLUD menyerahkan Usulan DPA BLUD kepada PPKD (hard copy
dan soft copy) untuk disahkan
g. PPKD mengesahkan DPA BLUD yang dilampiri dengan RBA Definitif
dengan persetujuan Sekda
h. PPKD menyerahkan DPA BLUD rangkap 4 (empat). Rangkap ke-1 kepada
Pemimpin BLUD, Rangkap ke-2 kepada Dewan Pengawas BLUD, Rangkap
ke-3 kepada Inspektorat Kabupaten, dan Rangkap ke-4 pada PPKD. Khusus
untuk BLUD Unit Kerja, DPA Definitif (rangkap ke-5) diserahkan ke SKPDnya.

BAB II
PENATAUSAHAAN PENDAPATAN BLUD
Menurut Permendagri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, pendapatan BLUD diperoleh
dari :
a.Jasa Layanan
b.

Hibah

c.Hasil kerjasama dengan pihak lain


d.

APBD

e.APBN
f. Pendapatan BLUD yang sah
Untuk pendapatan BLUD yang diperoleh dari hibah terikat, penggunaanya
sesuai dengan peruntukan hibah yang sudah ditentukan sebelumnya oleh pemberi
hibah. Sedangkan pendapatan BLUD yang diperoleh selain dari hibah terikat dapat
digunakan sesuai dengan kepentingan BLUD SKPD/Unit kerja sepanjang
penggunaan tersebut tercantum ke dalam DPA BLUD. Mengingat pendapatan yang
diterima oleh BLUD dapat digunakan secara langsung tanpa harus disetorkan terlebih
dahulu ke rekening Kas Umum Daerah, maka perlu ditetapkan prosedur penerimaan
pendapatan di BLUD.
Jaringan prosedur yang membentuk Sistem Penerimaan Pendapatan BLUD
terdiri dari prosedur penerimaan, penyetoran kas dan pencatatan. Prosedur
penerimaan, penyetoran kas dan pencatatan merupakan uraian pelaksanaan kegiatan
yang terdiri dari :
a.

Fungsi / pihak yang terkait

b.

Dokumen yang digunakan

c.

Catatan yang digunakan

d.

Laporan yang dihasilkan

e.

Deskripsi Prosedur

2.1

FUNGSI/PIHAK YANG TERKAIT


a. Kasir Pembantu/Kasir Lapangan
Berfungsi menerima setoran dari wajib bayar, membuat Tanda Bukti
Penerimaan (TBP) dan mencatat transaksi penyetorannya di buku kas. Kasir
Pembantu/ Kasir lapangan berkewajiban menyetor semua uang yang diterima
dari wajib bayar beserta dokumen yang dibuat ke Bendahara Penerimaan.
b. Bendahara Penerimaan/Bendahara Penerimaan Pembantu
Berfungsi menerima setoran dari Kasir Pembantu/Kasir Lapangan, merekap
semua

Tanda

Bukti

Penerimaan

(TBP)

dari

masing-masing

Kasir

Pembantu/Kasir Lapangan untuk disetorkan ke bank persepsi dengan


menggunakan Surat Tanda Setoran (STS) dan slip setoran.
c. Bank Persepsi
Berfungsi menerima setoran uang dari Bendahara Penerimaan dan
mengesahkan STS dan Slip Setorannya serta menerbitkan nota kredit.
d. Fungsi Akuntansi di PPK-SKPD
Berfungsi mencatat STS dan Slip Setoran yang telah divalidasi Bank Persepsi
ke dalam Jurnal Penerimaan Kas.
e. Bagian Akuntansi Bagian Keuangan Pemkab
Berdasarkan Laporan Realisasi Pendapatan dan STS/nota kredit yang
disampaikan oleh Bendahara Penerimaan, Bagian Akuntansi mencatat di
Jurnal Penerimaan Kas dan di Buku Besar.
2.2

DOKUMEN YANG DIGUNAKAN


Dokumen yang digunakan dalam Sistem dan Prosedur Penerimaan

Pendapatan BLUD adalah:


a. Tanda Bukti Penerimaan (TBP)
Dokumen ini digunakan sebagai bukti tanda terima pembayaran dari Wajib
Bayar ke Kasir Pembantu/Kasir Lapangan.
b. Surat Tanda Setoran (STS)

Dokumen ini digunakan sebagai sarana untuk melakukan penyetoran kepada


bank persepsi atas pendapatan yang telah diterima oleh Bendahara
Penerimaan/ Bendahara Penerimaan Pembantu.
c. Slip Setoran
Dokumen ini dibuat oleh Bendahara Penerimaan/ Bendahara Penerimaan
Pembantu dalam rangka menyetorkan pendapatan ke bank persepsi dan
divalidasi oleh bank sebagai bukti bahwa bank persepsi telah menerima
penyetoran pendapatan dari Bendahara Penerimaan/ Bendahara Penerimaan
Pembantu ke rekening BLUD.
d. Nota kredit
Laporan yang memuat transaksi penerimaan kas yang masuk ke rekening
bank. Laporan ini diterbitkan oleh bank persepsi.
2.3

CATATAN YANG DIGUNAKAN


Catatan yang digunakan dalam Sistem dan Prosedur Penerimaan Pendapatan

BLUD adalah
a.

Buku Kas Umum (BKU)


Digunakan oleh Bendahara Penerimaan untuk mencatat seluruh penerimaan
(per rincian obyek penerimaan). Pencatatan ke dalam BKU ini dilakukan
setiap hari berdasarkan STS yang telah disahkan oleh bank persepsi.

b.

Buku Pembantu Per Rincian Obyek


Merupakan catatan yang berisi rekapitulasi penerimaan pendapatan untuk
setiap rincian obyek pendapatan selama periode waktu tertentu.
2.4

LAPORAN YANG DIHASILKAN


Laporan yang dihasilkan dalam Sistem dan Prosedur Penerimaan Pendapatan

BLUD adalah Laporan Realisasi Pendapatan yang merupakan laporan yang


menjelaskan besarnya realisasi dan pencapaian target penerimaan pendapatan.
2.5

DESKRIPSI PROSEDUR

a. Wajib Bayar melakukan pembayaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku


melalui Kasir Pembantu/Kasir Lapangan.
b. Kasir

Pembantu/Kasir

Lapangan

akan

menerima,

menghitung

dan

mencocokkan kesesuaian jumlah uang dengan tarif yang telah ditetapkan.


Selanjutnya Kasir Pembantu/Kasir Lapangan membuat Tanda Bukti
Penerimaan (TBP) rangkap 3. TBP lembar 1, 2 dan 3 berikut jumlah uang
disetor ke Bendahara Penerimaan/Pembantu BLUD.
c. Bendahara Penerimaan/Pembantu BLUD mencocokkan TBP lembar 1, 2 dan
3 dengan jumlah uang, dan mengotorisasi dokumen tersebut sebagai bukti
bahwa Bendahara Penerimaan/Pembantu BLUD telah menerima penyetoran
pendapatan dari Kasir Pembantu/Kasir Lapangan. TBP lembar 1 diserahkan
kembali ke Kasir Pembantu/Kasir Lapangan, lembar 2 dan 3 diarsip. Setiap
hari Bendahara Penerimaan/Bendahara Penerimaan Pembantu menyetor
pendapatan ke bank persepsi dengan menggunakan dokumen STS yang dibuat
rangkap 4 dan slip setoran.
d. Bank persepsi akan mengesahkan STS beserta Slip Setoran. Selanjutnya STS
lembar 1 akan dikirm ke Bagian Akuntansi Bagian Keuangan Pemkab, lembar
2 dikirim ke fungsi PPK-SKD, sedangkan lembar 3 dan 4 diarsip. Atas dasar
STS Bendahara Penerimaan/Bendahara Penerimaan Pembantu mencatat
transaksi penerimaan ke dalam BKU.
e.

Atas dasar STS lembar 2, fungsi Akuntansi di PPK-SKPD mencatat


penerimaan pendapatan ke dalam Jurnal Penerimaan Kas.

f.

Setiap bulan, Bendahara Penerimaan/Bendahara Penerimaan Pembantu wajib


mempertanggung-jawabkan secara administratif atas pengelolaan uang yang
menjadi

tanggung

jawabnya

dengan

menyampaikan

laporan

pertanggungjawaban pendapatan (BKU Penerimaan, Buku Pembantu per


Rincian Obyek dan Laporan Realisasi Pendapatan) kepada pengguna
anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD.

g.

Setiap bulan, Bendahara Penerimaan Pembantu BLUD SKPD

wajib

mempertanggungjawabkan pendapatan yang diterimanya secara administratif


kepada Bendahara Penerimaan.
h.

Setiap bulan, Bendahara Penerimaan/Bendahara Penerimaan Pembantu wajib


mempertanggungjawabkan secara fungsional atas pengelolaan uang yang
menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan Laporan Realisasi
Pendapatan dilampiri STS/salinan nota kredit,

kepada Bagian Akuntansi

Bagian Keuangan Pemkab


i.

Berdasarkan Laporan Realisasi Pendapatan dan STS/nota kredit, Fungsi


Akuntansi

di

Bagian

Keuangan

Pemkab

akan

meneliti

penghitungan sekaligus mencatat ke dalam Jurnal Penerimaan.

kebenaran

BAB III
PENATAUSAHAAN PENGELUARAN KAS BLUD
5.1. PENERBITAN SURAT PENYEDIAAN DANA (SPD)
Dalam hal pelaksanaan APBD yang berkaitan dengan pengeluaran kas,
terlebih dahulu diterbitkan Surat Penyediaan Dana (SPD) atau Surat Keputusan
lainnya yang dipersamakan dengan itu. SPD digunakan untuk menyediakan dana bagi
tiap-tiap SKPD dalam periode waktu tertentu. Informasi dalam SPD menunjukkan
secara jelas alokasi per rincian obyek di tiap-tiap kegiatan.
Mengingat terdapat dua sumber dana dalam pelaksanaan pengeluaran kas
pada BLUD, yaitu sumber dana Fungsional dan Non Fungsional), maka SPD Belanja
BLUD SKPD/unit kerja juga terbagi menjdi dua jenis :
1. SPD Belanja Non Fungsional, yang diterbitkan setiap triwulan atau semesteran
(sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Propinsi Jawa
Timur).
2. SPD Belanja Fungsional, yang diterbitkan sekaligus untuk satu tahun.
Prosedur penerbitan SPD Belanja Fungsional sama dengan prosedur penerbitan
belanja Non Fungsional.
5.2

PENCAIRAN DANA FUNGSIONAL


SKPD BLUD memiliki dua jenis pencairan dana , yaitu pencairan dana

Fungsional dan pencairan dana Non Fungsional. Kedua jenis belanja tersebut
memiliki

sistem

dan

prosedur

yang

berbeda

dalam

pelaksanaan

dan

pertanggungjawabannya. Sistem dan Prosedur pencairan dana Non Fungsional


mengacu pada Sistem dan Prosedur Pengeluaran pencairan dana SKPD pada
umumnya. Bab ini akan menjelaskan Sistem dan Prosedur pencairan dana
Fungsional.
Jaringan prosedur yang membentuk Sistem dan Prosedur Pencairan dana
Fungsional terdiri dari:
a.

Fungsi / pihak yang terkait

5.2.1

b.

Dokumen yang digunakan

c.

Catatan yang digunakan

d.

Laporan yang dihasilkan

e.

Deskripsi Prosedur

Fungsi/Pihak Yang Terkait


Fungsi/pihak yang terkait dalam Sistem dan Prosedur Pencairan Dana

Fungsional adalah:
a.

Kuasa Pengguna Anggaran

Mengotorisasi SPM Fungsional


Bertanggungjawab atas kebenaran data yang tertuang dalam SPM
Fungsional serta kelengkapan dokumen pendukungnya.

b.

PPK-UPTD (BLUD)
Mengontrol pagu anggaran
Meneliti kelengkapan, keabsahan dan kebenaran penghitungan dokumen
SPP Fungsional
Membuat SPM Fungsional

Melakukan pencatatan di Kartu Penjagaan SPD Fungsional

Melakukan pencatatan di Kartu Penyerapan SPD (Rincian Obyek)


c.

Bendahara Pengeluaran
Membuat dan mengecek kelengkapan dokumen SPP Fungsional.

Menandatangani SPP Fungsional


d.

Bendahara Penerimaan
Menyalurkan uang ke Bendahara Pengeluaran

5.2.2

Dokumen Yang Digunakan


Dokumen yang digunakan dalam Sistem dan Prosedur Pencairan Dana

Fungsional adalah :
a.

DPA UPTD BLUD

DPA memuat secara lengkap dan rinci Anggaran Pendapatan dan Belanja
UPTD BLUD.
b.

SPD Fungsional
SPD Fungsional dikeluarkan Bendahara Umum Daerah sebagai dasar bagi
SKPD BLUD untuk pengajuan SPP Fungsional.

c.

Surat persetujuan penggunaan pelampauan target pendapatan dari PPKD.


Surat Persetujuan dari PPKD sebagai dasar bagi BLUD untuk menggunakan
10% dari pelampauan target pendapatannya.

d.

Pengantar SPP Fungsional


Dibuat untuk melampiri pengajuan SPP Fungsional kepada PPK-SKPD.

e.

SPP Fungsional
SPP Fungsional digunakan oleh Bendahara Pengeluaran untuk mengajukan
permintaan pembayaran dana fungsional.

f.

Pengantar SPM Fungsional


Dokumen yang digunakan untuk melampiri pengajuan SPM Fungsional
kepada PPK-SKPD.

g.

SPM Fungsional
Dokumen yang dibuat oleh PPK-SKPD sebagai sarana pembayaran dana
fungsional yang diotorisasi oleh PA/KPA.

5.2.3

Catatan Yang Digunakan


Catatan yang digunakan dalam Sistem dan Prosedur Pencairan Dana

Fungsional adalah :
a.

Kartu Penjagaan SPD Fungsional


Merupakan kartu jaga manual yang dibuat oleh PPK-SKPD, untuk
mengetahui sisa SPD Fungsional sebelum membuat SPM Fungsional.

b.

Kartu Penyerapan SPD (Rincian Obyek)


Merupakan kartu jaga manual yang dibuat oleh PPK-SPD, untuk mengetahui
sisa SPD Fungsional per Rincian Obyek sebelum membuat Pengesahan SPJ
Fungsional/SPM Fungsional.

c.

Register SPP Fungsional


Laporan yang memuat secara historis SPP Fungsional yang telah dibuat
Bendahara Pengeluaran
Laporan yang memuat secara historis SPP Fungsional yang diterima PPKSKPD dari Bendahara Pengeluaran.

d.

Register SPM Fungsional


Laporan yang memuat secara historis SPM Fungsional yang diterima
Bendahara Pengeluaran dari PPK-SKPD.
Laporan yang memuat secara historis SPM Fungsional yang telah
dibuat oleh PPK-SKPD.

5.2.4

Deskripsi Prosedur

a. Berdasarkan SPD Fungsional, Surat Persetujuan Penggunaan Pelampauan


Target Pendapatan dan kebutuhan kas, Bendahara Pengeluaran akan membuat
SPP Fungsional rangkap 2 :
Lembar 1 untuk PPK-SKPD,
Lembar 2 arsip.
Untuk unit kerja BLUD, usulan kebutuhan kas fungsional berasal dari
Bendahara Pengeluaran Pembantu yang mengelola dana BLUD. Usulan
tersebut diserahkan kepada Bendahara Pengeluaran.
Setelah ditandatangani oleh Bendahara Pengeluaran, dokumen SPP Fungsional
diajukan kepada PA/KPA melalui PPK-SKPD dengan dilampiri:
Pengantar SPP Fungsional,
Lampiran lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b. PPK-SKPD meneliti dokumen SPP Fungsional baik keabsahan, kelengkapan
maupun pagu anggaran. Jika dokumen SPP Fungsional dinyatakan lengkap, sah
dan tidak melampaui pagu anggararan, PPK-SKPD membuat SPM Fungsional
rangkap 4 :

lembar 1 untuk fungsi Akuntansi di PPK-SKPD

lembar 2 untuk Bendahara Pengeluaran,

lembar 3 untuk Bendahara Penerimaan,

lembar 4 arsip.

Sebelum didistribusikan, PPK-SKPD menyerahkan SPM Fungsional kepada


Pengguna Anggaran untuk diotorisasi. PPK-SKPD mencatat SPM Fungsional
yang sudah diotorisasi di Kartu Penjagaan SPD Fungsional.
c. Berdasarkan SPM Fungsional yang sudah diotorisasi oleh Pengguna Anggaran,
Bendahara Penerimaan wajib dengan segera menyediakan kebutuhan uang
tersebut.

Bendahara

Penerimaan

menyiapkan

slip

penarikan

kas

di

bank/menulis cek sejumlah yang tertera pada SPM Fungsional yang ditujukan
kepada Bendahara Pengeluaran selaku pihak pemohon. Atas penarikan kas di
bank, Bendahara Penerimaan mencatatnya ke dalam BKU dengan rekening Kas
di Bank di sisi pengeluaran dan rekening Bendahara Penerimaan disisi
penerimaan.

Sedangkan

untuk

pengeluaran

uang

kepada

Bendahara

Pengeluaran, dicatat dengan rekening Bendahara Penerima disisi pengeluaran.


d. Bendahara Pengeluaran setelah menerima dana dari Bendahara Penerimaan
mencatat di BKU dengan menggunakan rekening Kas di Bank di sisi
penerimaan, jika dana fungsional diterima secara tunai bendahara pengeluaran
mencatat di BKU dengan menggunakan rekening Kas Bendahara Pengeluaran
di sisi penerimaan.
e. Untuk BLUD SKPD, setelah Bendahara Pengeluaran menerima dana dari
Bendahara Penerimaan maka Bendahara Pengeluaran segera mendistribusikan
dana fungsional tersebut kepada Bendahara Pengeluaran Pembantu yang
mengelola dana fungsional.
f. Atas dasar SPM Fungsional, fungsi Akuntansi PPK-SKPD mencatat transaksi
tersebut di Jurnal Pengeluaran Kas.

BAB IV
PERTANGGUNGJAWABAN DANA FUNGSIONAL
Prosedur pertanggungjawaban dana fungsional merupakan prosedur yang
harus dipenuhi

untuk mempertanggungjawabkan penggunaan dana Fungsional.

Periode pertanggungjawaban ini dilakukan setiap satu bulan sekali. Sedangkan


prosedur pertanggungjawaban dana non fungsional tetap mengacu pada prosedur
pertanggungjawaban yang berlaku umum di Pemerintah Propinsi Jawa Timur.
Jaringan prosedur yang membentuk Sistem dan prosedur pertanggungjawaban dana
fungsional terdiri dari :
a. Fungsi / pihak yang terkait
b. Dokumen yang digunakan
c. Catatan yang digunakan
d. Laporan yang dihasilkan
e. Deskripsi Prosedur
6.1.

FUNGSI/PIHAK YANG TERKAIT

a.

Pengguna Anggaran

Mengotorisasi Pengesahan SPJ Fungsional

Menandatangani bukti pengeluaran bersama Bendahara Pengeluaran/


Bendahara Pengeluaran Pembantu (bila tidak ada KPA).
b.

PPK-BLUD
Mengontrol pagu anggaran
Melakukan verifikasi atas SPJ Fungsional
Membuat Pengesahan SPJ Fungsional
Melakukan pencatatan di Kartu Penyerapan SPD ( Rincian Obyek).
Melakukan pencatatan di Kartu Kendali Ganti Uang.

c.

Bendahara Pengeluaran
Menandatangani bukti-bukti pengeluaran bersama PA/KPA.

Mengumpulkan bukti transaksi per hari.


Memungut dan menyetorkan pajak.
Menerima dan meneliti kelengkapan dokumen SPJ Fungsional yang
diterima dari masing-masing Bendahara Pengeluaran Pembantu.
Mencatat penerimaan dan pengeluaran kas di Buku Kas Umum.
Mencatat transaksi yang belum di SPJ kan dalam Buku Panjar.
d.

Bendahara Pengeluaran Pembantu


Mengumpulkan seluruh bukti transaksi.
Bertugas mencatat seluruh transaksi yang dikelola KPA ke dalam Buku
Kas Umum (BKU).
Mencatat transaksi yang belum di SPJ-kan dalam Buku Panjar.
Memungut dan menyetor pajak serta mencatatnya ke dalam BKU.
Menandatangani semua bukti pengeluaran bersama Kuasa Pengguna
Anggaran (KPA).
Membuat SPJ Fungsional untuk kegiatan-kegiatan yang berada dibawah
kewenangan KPA.
Membuat Laporan Realisasi Belanja Fungsional .

e.

Kuasa Pengguna Anggaran (KPA)


Menandatangani bukti pengeluaran bersama Bendahara Pengeluaran/
Bendahara Pengeluaran Pembantu.
Membuat laporan pertanggungjawaban atas program dan kegiatan yang
dikelolanya kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran.

f.

Fungsi Perbendaharaan Bagian Keuangan Pemkab


6.2

Melakukan pembebanan rekening fungsional terhadap SPD fungsional.

DOKUMEN YANG DIHASILKAN


Dokumen yang dihasilkan dari prosedur pertanggungjawaban dana fungsional

ini adalah :

a.

Pengesahan SPJ Fungsional


Merupakan dokumen yang memuat informasi mengenai pengesahan
pertanggungjawaban atas dana Fungsional oleh Pengguna Anggaran.

b.

Surat Penolakan Pengesahan SPJ Fungsional


Merupakan dokumen yang digunakan oleh PPK-SKPD untuk tidak
mengesahkan SPJ Fungsional yang diajukan oleh Bendahara Pengeluaran.

6.3
a.

CATATAN YANG DIGUNAKAN


Buku Kas Umum (BKU)
Buku yang digunakan oleh Bendahara Pengeluaran/Bendahara Pengeluaran
Pembantu untuk mencatat pengisian kas yang diterima dan mencatat transaksi
pengeluaran kas yang.

b.

Buku Pembantu Per Rincian Obyek


Merupakan rekapitulasi bukti transaksi dalam satu periode untuk setiap kode
rekening rincian obyek.

c.

Kartu Penyerapan SPD (Rincian Obyek)


Mencatat penyerapan belanja yang sudah disahkan untuk setiap kode rekening
rincian obyek.

d.

Kartu Kendali Ganti Uang


Untuk merekam mutasi dan saldo kas di Bendahara Pengeluaran/Bendahara
Pengeluaran Pembantu atas dana Fungsional sekaligus meregister SPJ dan
Pengesahan SPJ.

6.4.

LAPORAN YANG DIHASILKAN


a.Pengantar SPJ Fungsional
Merupakan dokumen penyerta SPJ kepada PPK-SKPD.
b. Rekapitulasi SPJ Fungsional
Merupakan laporan yang berisi rekap pertanggungjawaban penggunaan dana
setiap SKPD per KPA.
c.Laporan Penerimaan dan Penyetoran Pajak .

Merupakan rekapitulasi laporan tentang jumlah dan jenis penerimaan dan


penyetoran pajak yang telah dipungut.
d. Laporan Penyerapan Belanja
Digunakan

untuk

menampung

semua

pengeluaran

yang

menjadi

tanggungjawab Bendahara Pengeluaran/Bendahara Pengeluaran Pembantu.


6.5

DESKRIPSI PROSEDUR
a. Adapun dokumen SPJ Fungsional yang disiapkan baik oleh Bendahara
Pengeluaran maupun oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu terdiri dari:
Bukti-bukti pengeluaran yang sah dan lengkap;
BKU;
Buku Pembantu Per Rincian Obyek;
Laporan Penerimaan dan Penyetoran Pajak;
Laporan Penyerapan Belanja.
Dokumen SPJ Fungsional yang telah lengkap dikirim ke Bendahara
Pengeluaran.
b. Dokumen SPJ Fungsional dari Bendahara Pengeluaran Pembantu akan
direkap oleh Bendahara Pengeluaran menjadi :
Pengantar SPJ Fungsional
Rekapitulasi Surat Pertanggungjawaban (SPJ) Fungsional
Laporan Penerimaan dan Penyetoran Pajak
Setelah itu, Bendahara Pengeluaran akan mengajukannya ke PPK-SKPD
beserta dokumen lainnya.
c. PPK-SKPD kemudian meneliti dokumen SPJ Fungsional baik keabsahan,
kelengkapan, kesesuaian kode rekening maupun pagu anggaran (cek sisa SPD
Fungsional di Kartu Penyerapan SPD Fungsional). Jika SPJ Fungsional
tersebut dinyatakan sah, maka PPK-SKPD membuat Pengesahan SPJ
Fungsional yang dibuat 4 rangkap:
Lembar 1 untuk fungsi Akuntansi di PPK-SKPD

Lembar 2 untuk Fungsi Perbendaharaan di Bagian Keuangan


Pemkab,
Lembar 3 untuk Bendahara Pengeluaran,
Lembar 4 arsip.
PPK-SKPD mengajukan Pengesahan SPJ Fungsional kepada Pengguna
Anggaran untuk diotorisasi. PPK-SKPD mencatat pembuatan Pengesahan SPJ
Fungsional ke:
Kartu Penyerapan SPD Fungsional
Kartu Kendali Kas di Bendahara Pengeluaran
PPK-SPD selanjutnya mengirim ke Fungsi Perbendaharaan di Bagian
Keuangan Pemkab selaku Bendahara Umum Daerah:
Dokumen SPJ Fungsional (lembar 1),
Pengesahan SPJ Fungsional
d.

Jika PPK-SKPD menyatakan bahwa SPJ yang disampaikan oleh Bendahara


Pengeluaran tidak sah maka PPK-SKPD menerbitkan Surat Penolakan
Pengesahan SPJ Fungsional rangkap 2. Lembar ke 1 untuk Bendahara
Pengeluaran, lembar ke 2 digunakan sebagai arsip.

e.

Sepanjang tidak melampaui anggaran 1 tahun, Fungsi Perbendaharaan Biro


Keunagan akan membebankan masing-masing rincian obyek belanja sesuai
dengan Pengesahan SPJ Fungsinal yang telah dikirim PPK-SKPD.

BAB V
PELAPORAN KEUANGAN DAN KONSOLIDASI
5.1.

Pendahuluan
BLUD sesuai dengan PP 23 Tahun 2005 wajib menyusun laporan keuangan

didasarkan atas Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Adapun untuk tujuan


konsolidasi pelaporan kepada instansi di atasnya, BLUD wajib menyusun laporan
keuangan berbasis Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Profesionalisme
kelembagaan

BLUD

dicerminkan

dari

kemampuan

BLUD

untuk

mempertanggungjawabkan keuangannya kepada publik dan institusi di atasnya


melalui penyampaian laporan keuangan.
Dalam penyusunan laporan keuangan, BLUD wajib menyusun Kebijakan
Akuntansi BLUD yang ditetapkan oleh Pemimpin BLUD dengan mengacu pada
Kebijakan Akuntansi Pemkab Ngawi. Pedoman ini mengatur tentang prosedur
penyusunan laporan keuangan, penyampaian laporan keuangan, konsolidasi
pelaporan, serta audit laporan keuangan.
5.2.

Laporan Keuangan Berdasarkan SAK


Laporan Keuangan BLUD berdasarkan SAK disusun setiap periodik dan

disampaian kepada PPKD. Laporan Keuangan BLUD Puskesmas disampaikan


kepada Dinas Kesehatan selanjutnya diserahkan kepada PPKD. Laporan keuangan
tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku spesifik
sesuai dengan core business BLUD. Apabila SAK spesifik belum ada, maka laporan
keuangan tersebut terdiri atas :
1. Neraca
2. Laporan Operasional/Aktivitas
3. Laporan Perubahan Ekuitas
4. Laporan Arus Kas
5. Catatan Atas Laporan Keuangan

Laporan Keuangan BLUD disusun berdasarkan atas transaksi harian yang


dibukukan/dicatat melalui mekanisme penatausahaan yang ditetapkan oleh pemimpin
BLUD. Berikut ini produk laporan yang harus disusun setiap periode :
No
1
2

Periode

Laporan

Jadwal

Otorisator

Semester I

Laporan Operasional

Penyampaian
Paling lambat 15 Pemimpin BLUD

Tahunan

Laporan Arus Kas


Neraca

Juli 20XX
Paling lambat 28 Pemimpin BLUD

Laporan Operasional

Februari 20X+1

Laporan Arus Kas

Mengetahui

Laporan Perubahan Ekuitas

DEWAS/Pejabat

CALK

yang
menggantikan
fungsi dewas

5.3.

Laporan Keuangan Berdasarkan SAP


Laporan Keuangan BLUD berdasarkan SAP disusun setiap periodik dan

disampaian kepada PPKD selaku BLUD. Laporan Keuangan BLUD Puskesmas


disampaikan kepada DInas Kesehatan untuk dikonsolidasilan dalam laporan
keuangan SKPD. Laporan keuangan yang dimaksud adalah:
1. Neraca
2. Laporan Realisasi Anggaran
3. Laporan Operasional
4. Catatan Atas Laporan Keuangan
Mengingat dalam keperluan operasional harian, BLUD lebih mendasarkan pada
pencatatan berbasis SAK, maka dilakukan proses konversi periodik baik pada saat
mekanisme pengesahan pendapatan dan belanja atas dana fungsional maupun secara
periodik ketika penyampaian laporan keuangan. Proses konversi ini dapat mengacu
pada RBA Definitif yang telah disahkan pada awal periode anggaran.
BLUD wajib menyusun Ikhtisar Konversi LO LRA yang menjadi lampiran dari
Laporan Keuangan Berbasis SAP.

No

Periode

Laporan

Jadwal

Otorisator

Semester I

Penyampaian
Laporan Realisasi Anggaran, Paling lambat 15 Pengguna

Tahunan

Laporan Operasional
Neraca

Juli 20XX
Anggaran
Paling lambat 28 Pengguna

Laporan Realisasi Anggaran

Februari 20X+1

Anggaran

Laporan Operasional
CALK
5.4.

Konsolidasi dan Rekonsiliasi Pelaporan


Laporan keuangan berbasis SAP dijadikan dasar untuk proses konsolidasi

periodik. Namun demikian, sebenarnya proses konsolidasi pelaporan keuangan


kepada PPKD telah berjalan pada saat pengesahan SPJ Fungsional. Oleh sebab itu
LRA yang disampaikan Semester I, Semester II, dan Tahunan digunakan untuk
mekanisme rekonsiliasi antara PPKD dengan BLUD.
Prosedur Rekon dan Konsolidasi dilakukan sebagai berikut ini:
1. Membandingkan antara total pendapatan dan belanja yang disahkan versi
SP3B dengan LRA yang disampaikan setiap semester, dan tahunan
2. Apabila terjadi selisih, dilakukan proses identifikasi selisih tersebut dan
dilakukan proses koreksi sesuai dengan mekanisme yang berlaku di
Kabupaten Ngawi
3. Apabila sudah cocok, maka data LRA siap dikonsoliasikan dalam Laporan
Keuangan Pemeritah Daerah (LKPD)
4. Khusus untuk akhir tahun, dilampirkan juga Neraca dan CALK. Proses rekon
juga harus memuat jumlah aset, kewajiban, dan ekuitas yang diakui dengan
pendekatan cash toward accrual. Penyusunan Neraca melibatkan data Sistem
Akuntansi Barang Milik Daerah (SIMBADA) yang harus cocok dengan data
aset di Neraca, terutama dalam kaitannya dengan Aset-Aset BLUD yang
diperoleh dari pendapatan fungsional BLUD.

5. Apabila sudah cocok, maka Laporan Keuangan (Neraca dan LRA) akan
dikonsolidasikan dalam LKPD.
6. Khusus untuk BLUD Unit Kerja, LRA dan Neraca harus dikonsolidasikan
terlebih dahulu ke SKPD di atasnya, dan dilanjutkan dengan konsoldasi ke
LKPD