Anda di halaman 1dari 20

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) MEDIS

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
ARUS FARADIK

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 01 / 2014
Revisi
:Dibuat oleh :
Ajeng Rositasari

No. Dokumen :
Halaman
: 124
Diperiksa oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

A. PENGERTIAN
Arus faradic adalah arus bolak balik yang tidak simetris yang mempunyai durasi 0,01 1
msc dengan frekuensi 50 100 cy / detik.
Indikasi:
1. LMN Lession dengan nilai otot di bawah tiga.
2. post trauma atau operasi setelah konductivitas membaik.
3. Kelemahan otot karena penyakit atau disuse atropy dengan nilai otot di bawah tiga.
4. Otot yang tidak mampu berkontraksi karena nyeri misalnya setelah trauma.
5. Tiga minggu setelah tendo transfer
6. Adanya pembengkakan lokal /setempat pada anggota.
7. Otot yang memendek atau berlengketan ( contractur ).
Kontra Indikasi
1. Setelah operasi / trauma pada urat syaraf yang konductivitasnya belum membaik.
2. LMN lession yang masih nyeri sekali.
3. LMN complete lession.
4. Panas tinggi diatas 37.50 C
B. TUJUAN
1. Fasilitasi kontraksi otot.
2. Mencegah dan melepaskan perlengketan otot
3. Melatih otot yang paralisis
C. PERALATAN
1. Electrical stimulasi
2. Tempat tidur
3. Bantal, guling, selimut
D. PROSEDUR
Persiapan
1. Terapis melaksanakan assesment untuk mendapatkan masalah dan menentukan program
sehingga modalitas arus faradic lebih mencapai sasaran.
2. Memberi penjelasan terapi misalnya merasakan sedikit sakit tapi tidak perih. Kalau perih
dikawatirkan dapat menimbulkan luka bakar.
3. Serta tujuannya agar pasien tenang dan memahami program
4. Menentukan area terapi yang Tepat agar terapi efektif
5. Pemanasan alat 5 menit.

6. Memilih elektrode dan metode yang digunakan.


a. Stimulasi motor unit
b. Stimulasi secara group
c. Labile treatment
d. Nerve conduction
e. Bath treatment : Bipolar atau Monopolar
7. Celupkan ped dengan air hangat, agar pasien tidak terkejut
8. Posisi pasien seenak mungkin.
9. Area yang akan di terapi terbuka seperlunya dan otot yang akan distimulasi dalam
keadaan memendek / relax.
Pelaksanaan
1. Pasang ped sesuai metode yang dipilh.
2. Putar waktu 10 15 menit sesuai kebutuhan.
3. Intensitas diberikan sesuai toleransi pasien. Lakukan pengontrolan apakah terdapat
keluhan pasien atau control keadaan mesin.
4. Dosis
a. Intensitas : Berdasarkan stadium,jenis dan sifat cidera.Intensitas : 2 60 m A, Durasi
arus 0,01msc.
b. Waktu : Tiapsatu otot perlu 30-90 kali rangsangan dalam waktu 1-3 menit.
c. Pengulangan : 1 kali sehari bila otot telah mencapai nilai 2 + cukup 1 kali selama 10
kali.
Mengakhiri Terapi
1. Matikan mesin, pastikan tombol kembali ke angka 0.
2. Perhatikan reaksi pasien dan efek samping yang timbul.
3. Kembalikan peralatan ke tempat semula.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
SINAR INFRA MERAH
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI

Tanggal Terbit : 01 / 01 / 2014

No. Dokumen :

Revisi

Halaman

:-

: 125

Dibuat oleh :
Ajeng Rositasari

Diperiksa oleh :

Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

A. PENGERTIAN
Sinar infra merah adalah pancaran gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang
7.700 4 juta A.
1. Klasifikasi :
a. Berdasarkan panjang gelombang
Gelombang panjang (non penetrating)
Panjang gelombang : 12.000 A 150.000 A Daya penetrasi : 0,5 mm
(superficial epidermis)
Gelombang pendek (penetrating)
Panjang gelombang : 7.700 A 12.000 A Daya penetrasi : jaringan sub cutan,
pembuluh darah kapiler, pembuluh limfe, ujung ujung syaraf dan jaringan
di bawah kulit
b. Berdasarkan type
Type A : Panjang gelombang 780 1500 mm, penetrasi dalam.
Type B : Panjang gelombang 1500 3000 mm, penetrasi dangkal.
Type C : Panjang gelombang 3000 10.000 mm, penetrasi dangkal.
2. Indikasi
a. Kondisi peradangan setelah sub-acut : kontusio, muscle strain, trauma sinovitis.
b. Arthritis :RA, OA, myalgia, lumbago, neuralgia, neuritis.
c. Gangguan sirkulasi darah : thrombo plebitis, thrombo angitis obliterans, raynolds
desease.
d. Penyakit kulit : Folliculitis, Furuncolosi.
e. Persiapan exercise dan massage.
3. Kontra Indikasi
a. Daerah dengan insufisiensi pada darah.
b. Gangguan sensibelitas kulit.
c. Kecenderungan pendarahan
B. TUJUAN
Memanfaatkan efek panas untuk mengurangi spasme otot dan meningkatkan kelenturan
jaringan lunak.
C. PERALATAN
1. Alat infra merah
2. Tempat tidur / kursi
3. selimut
D. PROSEDUR
1. Persiapan
a. Persiapan alat seperti jenis lampu, besarnya watt.

b. Pemanasan alat 5 menit.


c. Untuk mencegah luka bakar maka daerah yang akan dilakukan penyinaran perlu
ditest sensasi panas, dingin.
2. Pelaksanaan
a. Untuk penyinaran lokal menggunakan reflektor berbentuk parabola
b. Penyinaran general (misalnya punggung) menggunakan lampu yang dipasang pada
reflektor semi sirkuler.
c. Pasien diposisikan seenak mungkin.
d. Posisi bisa duduk, terlentang atau tengkurap.
e. Agar penetrasi lebih dalam daerah yang akan disinar sebaiknya dibersihkan dengan
sabun dan dikeringkan dengan handuk.
f. Lampu dipasang tegak lurus
g. Dosis
h. Pada penggunaan lampu non-luminius jarak lampu antara 45-60 cm, waktu 10-30
menit.
i. Lampu luminius 35-45 cm, waktu 10-30 menit.
j. Pengulangan 1 kali dalam sehari, 1 seri 10 kali.
3. Mengakhiri Terapi
a. Matikan mesin, pastikan tombol dalam keadaan nol.
b. Tidak membiarkan pasien mematikan mesin atau bangun sendiri
c. Memperhatikan pasien dan kemungkinan efek samping.
d. Kembalikan peralatan ketempat semula.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 01 / 2014
Revisi
:Dibuat oleh :
Ajeng Rositasari

PROSEDUR KLINIS
MASSAGE
No. Dokumen :
Halaman
: 126
Diperiksa oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

A. PENGERTIAN
Massage adalah salah satu bentuk modalitas fisioterapi dengan menggunakan tehnik
pemijatan berupa gerusan melintang, tepukan, dorongan, ataupun tekanan pada jaringan
lunak
Indikasi
1. Kondisi post trauma atau operasi sub acut dan kronik pada sisitem musculosceletal.
2. Kondisi kekakuan sendi serta pengerasan, ketegangan, peerlengketan dan pemendekan
jaringan otot dan jaringan lain.
3. Keluhan nyeri, penekanan / penjepitan syaraf dan kelumpuhan syaraf.
4. Kondisi kurang lancarnya peredaran darah dan limfe.
5. Kondisi kurang lancarnya pengeluaran sekresi pada saluran pencernaan.
6. Kondisi kurang lancarnya pencernaan dan pembuangan.
Kontra Indikasi
1. Peradangan akut, trauma dan setelah operasi yang baru.
2. Kulit yang terluka.
3. Cidera musculosceletal ( fraktur, ruptur ) yang belum direposisi atau belum pulih secara
baik dan kuat.
4. Lokasi yang mengalami tanda tanda keganasan.
5. Panas tinggi.
6. Kelainan jantung dan adanya haemoptoe ( tidak boleh dilakukan tapotemen daerah
thorax )
7. Lokasi varices.
8. Daerah perut pada penderita dengan haematemesis.
9. Daerah perut pada wanita hamil atau haid.
B. TUJUAN
Memperlancar sirkulasi darah, meningkatkan metabolisme tubuh, relaksasi dan untuk
mengurangi nyeri.
C. PERALATAN
1. Matras
2. Baby oil
3. Selimut
4. Kain alas
D. PROSEDUR
Persiapan
1. Terapis melaksanakan assesment untuk mendapatkan masalah dan menentukan program
sehingga pelaksanaan lebih mencapai sasaran
2. Menentukan area terapi yang tepat agar terapi efektif
3. Pasien berbaring di di bed / matras atau duduk di kursi dengan rilek.
4. Anggota yang akan di terapi bebas dari pakaian, disangga dengan bantal, sedangkan
bagian yang tidak diterapi ditutup dengan handuk.
5. Fisioterapis di samping bed / pasien

6. Untuk memudahkan massage dapat di tambahkan bahan pelicin seperti salep, minyak
atau bedak.
Pelaksanaan
1. Tehnik massage
a. Effleurage :untuk memperlancar aliran darah dan limfe
b. Friction : Menghancurkan perlengketan/ pengerasan jaringan lunak dan blokir nyeri
diberikan pada akar akar syaraf atau pada titik nyeri.
c. Petrissage : Terdiri dari kneading, wringing dan picking up. Berfungsi melemaskan
dan mengulur otot / jaringan lunak, melancarkan peredaran darah di bagian yang
lebih dalam dan metabolisme setempat. Membantu gerak pencernaan usus.
d. Tapotament : Terdiri dari hacking, clapping, beating dan pounding. Berguna untuk
memberikan rangsangan / pacuan pada syaraf dan otot.
e. Bila dilakukan di daearah thorax bertujuan memperlancar gerak pencernaan dan
pembuangan.
f. Waktu pelaksanaan sangat tergantung dari luasnya bagian yang diterapi, tebalnya
jaringan tubuh dan tujuan terapi.
g. Kecepatan gerakan massage tegantung tujuannya. Gerakan yang cepat akan memacu
sedangkan massage yang lambat sebagai efek penenang.
2. Dosis. Waktu : 5 15 menit Pengulangan : Sub akut dan kondisi berat 1 kali / hari
Kronik dan kondisi ringan 1 kali Seri : 1 seri 10 kali.
3. Mengakhiri Terapi
a. Bersihkan area yang diterapi.
b. Kembalikan peralatan ke tempat semula

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI

PROSEDUR KLINIS
MIKRO WAV DIATHERMY (MWD)

Tanggal Terbit : 01 / 01 / 2014


Revisi
:Dibuat oleh :
Ajeng Rositasari

No. Dokumen :
Halaman
: 127
Diperiksa oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

A. PENGERTIAN
Micro Wave Diathermy (MWD) adalah Alat terapi yang menggunakan gelombang
elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus bolak balik frekuensi tinggi dengan frekuensi

2450 MHz dengan panjang gelombang 12,25 arus rumah 50Hz, penetrasi 3 cm,efektif pada
otot.
Indikasi
1. Kelainan pada syaraf perifer, neuropathy, neuralgia.
2. Kondisi peradangan sub acut dan chronic .
3. Nyeri musculosceletal.
4. Ketegangan, perlengketan dan pemendekan otot dan jaringan lunak.
5. Persiapan latihan atau senam.
6. Gangguan pada sistem peredaran darah.
Kontra Indikasi
1. Logam dalam tubuh atau menempel pada kulit.
2. Alat-alat elektronik dalam tubuh seperti peace maker.
3. Gangguan peredaran darah.
4. Nilon dan bahan kain yang tidak menyerap keringat.
5. Jaringan dan organ yang mempunyai banyak cairan seperti mata, testis, luka dan exim
basah.
6. Gangguan sensibilitas. (Dosis harus 30 % lebih rendah).
7. Neuropathy yang diikuti gangguan trofik pada syaraf perifer,
8. Neuropathy akibat DM, Angiopathy dabetica.
9. Infeksi acut dan demam (panas lebih dari 37,50 C)
10. Setelah X ray.
11. Jaringan yang mitosisnya sangat cepat.
12. Menstrusi atau kehamilan untuk pengobatan daerah pelvic.
13. Faktor kalogenase

B. TUJUAN
1. Membantu meningkatkan sirkulasi limpatik dan sirkulasi darah local
2. Membantu rileksasi otot dan elastisitas jaringan ikat dengan kedalaman 3 cm
3. Membantu mengurangi nyeri
C. PROSEDUR
Memulai Terapi
1. Pemanasan alat sekitar 5 menit.
2. Emitter ( electrode ) yang telah di pilih dipasang pada lengan emitter dan dihubungkan
ke mesin dengan kabel emitter. Emitter bulat ,medan elektromagnetik yang dipancarkan
berbentuk sirkuler dan paling padat di daerah tepi. Sedangkan emitter segi empat medan
elektromagnetik yang dipancarkan berbentuk oval dan paling padat di daerah tengah.
3. Pemasangan electrode pada daerah vasomotor/proximal.
4. Pastikan mesin ke ground
5. Pasien diberitahu program pengobatan agar pasien paham program terapi dan tidak takut
6. Jelaskan berapa waktu yang diperlukan, tujuan, indikasi serta kontra indikasinya.
7. Posisi pasien comfortable
8. Pakaian dilepas seperlunya agar area yang diperiksa lebih jelas

9. Tes sensasi area yang diobati serta jelaskan rasa yang timbul untuk mencegah terjadinya
luka bakar
10. Putar waktu sesuai kebutuhan antara 10-15 menit
11. Dosis diberikan sesuai toleransi pasien.
a. Kondisi sub acut : intensitas sub thermal : Waktu 10-15 menit, pengulangan 1 x
sehari selama 10x
b. Kondisi chronic : Intensitas Thermal : Waktu 10-15 menit, pengulangan 1-2 x sehari
selama 10x
c. Gangguan sistem peredaran darah. Intensitas, pengulangan dan seri sama dengan
kedua kondisi diatas. Waktu 15 menit.
12. Pastikan mesin dalam keadaan tuning
13. Emitter diatur sehingga sejajar kulit dan jarak sesuai ukuran emitter.
14. Kabel tidak boleh menyentuh pasien, bersilangan atau lecet.
15. Lakukan pengontrolan, rasa panas, nyeri pusing
Mengakhiri Terapi
1. Matikan mesin pastikan tombol kembali ke angka 0 atau mesin tetap hidup dengan dosis
0 (stand by stand).
2. Tidak membiarkan pasien mematikan mesin, kecuali dalam keadaan darurat
3. Perhatikan reaksi pasien dan kemungkinan efek samping yang timbul.
4. Kembalikan peralatan seperti kondensor ke tempat semula

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
MIKRO WAV DIATHERMY (MWD)
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 01 / 2014

No. Dokumen :

Revisi

Halaman

:-

: 128

Dibuat oleh :
Ajeng Rositasari

Diperiksa oleh :

Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

A. PENGERTIAN
Transcutaneus Electrical nerve stimulation (TENS) merupakan suatu cara penggunaan
energi listrik guna merangsang sistem saraf melalui permukaan kulit dan terbukti efektif
untuk merangsang berbagai tipe nyeri
TENS mempunyai bentuk pulsa :
1. Monophasic mempunyai bentuk gelombang rectanguler, trianguler dan gelombang
separuh sinus searah

2. biphasic bentuk pulsa rectanguler biphasic simetris dan sinusoidal biphasic simetris; pola
polyphasic ada rangkaian gelombang sinus dan bentuk interferensi atau campuran.
Pulsa monophasic selalu mengakibatkan pengumpulan muatan listrik pulsa dalam
jaringan sehingga akan terjadi reaksi elektrokimia dalam jaringan yang ditandai dengan
rasa panas dan nyeri apabila penggunaan intensitas dan durasi terlalu tinggi.
Frekuensi Pulsa
1. Frekuensi pulsa dapat berkisar 1 200 pulsa detik.
2. Frekuensi pulsa tinggi > 100 pulsa/detik menimbulkan respon kontraksi tetanik dan
sensibilitas getaran sehingga otot cepat lelah
Arus listrik frekuensi rendah cenderung bersifat iritatif terhadap jaringan kulit sehingga
dirasakan nyeri apabila intensitas tinggi. Arus listrik frekuensi menengah bersifat lebih
konduktif untuk stimulasi elektris karena tidak menimbulkan tahanan kulit atau tidak
bersifat iritatif dan mempunyai penetrasi yang lebih dalam.
Penempatan Elektroda
1. Di sekitar lokasi nyeri : Cara ini paling mudah dan paling sering digunakan, sebab
metode ini dapat langsung diterapkan pada daerah nyeri tanpa memperhatikan karakter
dan letak yang paling optimal dalam hubungannya dengan jaringan penyebab nyeri
2. Dermatome :Penempatan pada area dermatome yang terlibat, Penempatan pada lokasi
spesifik dalam area dermatome, Penempatan pada dua tempat yaitu di anterior dan di
posterior dari suatu area dermatome tertentu
3. Area trigger point dan motor point
Indikasi TENS
Kondisi LMNL(Lower Motor Neuron Lesion) baru yang masih disertai keluhan nyeri,
kondisi sehabis trauma/operasi urat saraf yang konduktifitasnya belum membaik, kondisi
LMNL kronik yg sdh terjadi partial/total dan enervated muscle, kondisi pasca operasi
tendon transverse, kondisi keluhan nyeri pada otot, sebagai irritation/awal dari suatu
latihan, kondisi peradangan sendi (Osteoarthrosis, Rheumathoid Arthritis dan Tennis
elbow), kondisi pembengkakan setempat yang belum 10 hari
Kontra Indikasi TENS
Sehabis operasi tendon transverse sebelum 3 minggu, adanya ruptur tendon/otot sebelum
terjadi penyambungan, kondisi peradangan akut/penderita dlm keadaan panas
B. TUJUAN
1. Memeilhara fisiologis otot dan mencegah atrofi otot
2. Re-edukasi fungsi otot
3. Modulasi nyeri tingkat sensorik, spinal dan supraspinal
4. Menambah Range Of Motion (ROM)/mengulur tendon
5. Memperlancar peredaran darah dan memperlancar resorbsi oedema
C. PERALATAN
1. Alat TENS
2. Tempat tidur
3. Bantal guling selimut
D. PROSEDUR
Tingkat analgesia-sensoris : frekuensi 50-150 Hz, durasi pulsa <200 (60-100) mikrodetik
Tingkat analgesia untuk rasa nyeri : frekuensi 150 Hz, durasi pulsa >150 mikrodetik

1. Persipan pasien (kulit harus bersih dan bebas dari lemak, lotion, krim dll)
2. Periksa sensasi kulit, lepaskan semua metal di area terapi, jangan menstimulasi pada area
dekat/langsung di atas fraktur yg baru/non-union, diatas jaringan parut baru, kulit baru.
3. Penempatan elektroda, dosis toleransi pasien
4. Evaluasi
5. Jika sudah selesai alat dirapikan

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
TENS
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 01 / 2014

No. Dokumen :

Revisi

Halaman

:-

: 129

Dibuat oleh :
Ajeng Rositasari

Diperiksa oleh :

Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

A. PENGERTIAN
Transcutaneus Electrical nerve stimulation (TENS) merupakan suatu cara penggunaan
energi listrik guna merangsang sistem saraf melalui permukaan kulit dan terbukti efektif
untuk merangsang berbagai tipe nyeri
TENS mempunyai bentuk pulsa :
3. Monophasic mempunyai bentuk gelombang rectanguler, trianguler dan gelombang
separuh sinus searah
4. biphasic bentuk pulsa rectanguler biphasic simetris dan sinusoidal biphasic simetris; pola
polyphasic ada rangkaian gelombang sinus dan bentuk interferensi atau campuran.
Pulsa monophasic selalu mengakibatkan pengumpulan muatan listrik pulsa dalam
jaringan sehingga akan terjadi reaksi elektrokimia dalam jaringan yang ditandai dengan
rasa panas dan nyeri apabila penggunaan intensitas dan durasi terlalu tinggi.
Frekuensi Pulsa
3. Frekuensi pulsa dapat berkisar 1 200 pulsa detik.

4. Frekuensi pulsa tinggi > 100 pulsa/detik menimbulkan respon kontraksi tetanik dan
sensibilitas getaran sehingga otot cepat lelah
Arus listrik frekuensi rendah cenderung bersifat iritatif terhadap jaringan kulit sehingga
dirasakan nyeri apabila intensitas tinggi. Arus listrik frekuensi menengah bersifat lebih
konduktif untuk stimulasi elektris karena tidak menimbulkan tahanan kulit atau tidak
bersifat iritatif dan mempunyai penetrasi yang lebih dalam.
Penempatan Elektroda
1. Di sekitar lokasi nyeri : Cara ini paling mudah dan paling sering digunakan, sebab
metode ini dapat langsung diterapkan pada daerah nyeri tanpa memperhatikan karakter
dan letak yang paling optimal dalam hubungannya dengan jaringan penyebab nyeri
2. Dermatome :Penempatan pada area dermatome yang terlibat, Penempatan pada lokasi
spesifik dalam area dermatome, Penempatan pada dua tempat yaitu di anterior dan di
posterior dari suatu area dermatome tertentu
3. Area trigger point dan motor point
Indikasi TENS
Kondisi LMNL(Lower Motor Neuron Lesion) baru yang masih disertai keluhan nyeri,
kondisi sehabis trauma/operasi urat saraf yang konduktifitasnya belum membaik, kondisi
LMNL kronik yg sdh terjadi partial/total dan enervated muscle, kondisi pasca operasi
tendon transverse, kondisi keluhan nyeri pada otot, sebagai irritation/awal dari suatu
latihan, kondisi peradangan sendi (Osteoarthrosis, Rheumathoid Arthritis dan Tennis
elbow), kondisi pembengkakan setempat yang belum 10 hari
Kontra Indikasi TENS
Sehabis operasi tendon transverse sebelum 3 minggu, adanya ruptur tendon/otot sebelum
terjadi penyambungan, kondisi peradangan akut/penderita dlm keadaan panas
B. TUJUAN
6. Memeilhara fisiologis otot dan mencegah atrofi otot
7. Re-edukasi fungsi otot
8. Modulasi nyeri tingkat sensorik, spinal dan supraspinal
9. Menambah Range Of Motion (ROM)/mengulur tendon
10. Memperlancar peredaran darah dan memperlancar resorbsi oedema
C. PERALATAN
4. Alat TENS
5. Tempat tidur
6. Bantal guling selimut
D. PROSEDUR
Tingkat analgesia-sensoris : frekuensi 50-150 Hz, durasi pulsa <200 (60-100) mikrodetik
Tingkat analgesia untuk rasa nyeri : frekuensi 150 Hz, durasi pulsa >150 mikrodetik
6. Persipan pasien (kulit harus bersih dan bebas dari lemak, lotion, krim dll)
7. Periksa sensasi kulit, lepaskan semua metal di area terapi, jangan menstimulasi pada area
dekat/langsung di atas fraktur yg baru/non-union, diatas jaringan parut baru, kulit baru.
8. Penempatan elektroda, dosis toleransi pasien
9. Evaluasi
10. Jika sudah selesai alat dirapikan

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
TERAPI INHALASI
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 01 / 2014

No. Dokumen :

Revisi

Halaman

:-

: 130

Dibuat oleh :
Ajeng Rositasari

Diperiksa oleh :

Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

A. PENGERTIAN
1. Terapi inhalasi adalah suatu cara pemberian obat-obatan dengan penghirupan, setelah
obat-obat tersebut berubah menjadi partikel-partikel melalui cara aerosol, humidifikasi
dan lain-lain.
2. Indikasi
a. Penyakit saluran napas bagian atas, akut maupun kronis seperti:
Rhinopharyngitis Sicca, Laryngitis Sicca
Acut Rhinopharyngitis, Laryngitis.
Rhenitis Allergica
Sinusitis
b. Penyakit saluran napas bagian bawah, akut maupun kronik.
Asthma Bronchiale
Bronchitis
Bronchiectasis
Bronchopneumonia
Atelectasis
c. Penyakit jaringan paru
Emphysema
d. Gangguan saluran napas allergika
e. Bayi-bayi dengan secret berlebihan
B. TUJUAN
1. Merelaksasi jalan nafas.
2. Memperbaiki efisiensi kerja sistim pernafasan.
3. Meningkatkan ekspansi rongga dada.
4. Mengencerkan dan mempermudah mobilisasi sekret.

5. Menurunkan edema mukosa.


6. Pemberian obat secara langsung pada saluran pernafasan untuk pengobatan penyakit,
seperti : bronkospasme akut, produksi sekret yang berlebihan, dan batuk yang disertai
dengan sesak nafas
C. PERALATAN
1. Nebulizer kit
2. Tempat tidur
3. Kursi
4. Meja
5. Tisu
D. PROSEDUR
1. Persiapan
a. Pemanasan alat sekitar 5 menit dan mengerti cara cara penggunaannya.
b. Untuk mencegah kontaminasi maka udara ruangan harus bersih, segar dan memiliki
ventilasi yang baik.
c. Persiapkan mouth piece dan masker
d. Agar anak anak tidak takut harus dengan pendekatan sebelumnya.
e. Posisi pasien comfortable
f. Pasien diberitahu program pengobatan, berapa waktu yang dibutuhkan, tujuan serta
kontra indikasinya. Agar pasien mengerti dan tidak takut
2. Pelaksanaan
a. Untuk mengurangi sesak napas akibat bronchial obstruksi terlebih dahulu diberikan
bronchodilatator.
b. Untuk Agar mempercepat pengeluaran sekret , secret yang keluar dianjurkan tidak
ditelan kembali
c. Bila perlu dapat dilakukan suction Supaya secret lebih banyak keluar terutama untuk
pasien yang mengalami kesulitan mengeluarkan secret.
d. Oksigen diberikan pada pasien yang terlihat sesak atau cyanosis, pertusis, biru dan
lain-lain.
3. Dosis
a. Jenis dan jumlah obat tergantung Dokter pengirim.
b. Waktu : Anak anak 10 15 menit. Dewasa 15 20 menit
c. Pengulangan Tergantung Dokter pengirim
d. Untuk kondisi Acut :1-3 kali sehari Untuk kondisi Kronik sekali sehari Seri : 6 10
kali
4. Mengakhiri Terapi.
a. Matikan mesin, pastikan tombol kembali ke posisi angka 0
b. Tidak membiarkan pasien memegang masker/mouth piece kecuali dalam keadaan
darurat.
c. Setelah terapi inhalasi selesai dilanjutkan dengan chest therapy agar secret lebih
banyak keluar dan expansi thorax lebih baik.
d. Untuk mencegah kontaminasi maka peralatan dibersihkan kemudian di sterilkan.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI

TERAPI LATIHAN PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


(ABK).

Tanggal Terbit : 01 / 01 / 2014

No. Dokumen :

Revisi

Halaman

:-

: 131

Dibuat oleh :
Ajeng Rositasari

Diperiksa oleh :

Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

A. PENGERTIAN
Tindakan terapi latihan berdasarkan identifikasi masalah pada anak mengacu
pada pola tahap tumbuh kembang normal.
ABK adalah anak-anak yg mempunyai gangguan motorik, sensoris maupun
prilaku oleh berbagai sebab, sehingga anak tersebut membutuhkan perhatian
dan penanganan secara khusus.
B. TUJUAN
a. Menata alat belajar yang berupa sensoris, yaitu panca indra.
b. Menanamkan pola tumbuh kembang sesuai dengan kemampuan
maksimal.
c. Menginhibisi pola yang tidak diperlukan dan memfasilitasi pola yang
diperlukan
C. PERALATAN
a. Matras.
b. Cermin
D. PROSEDUR
a. Preinteraksi.
1. Saat pasien datang, dipersilahkan masuk kemudian dimintai
kwitansi pembayaran fisioterapi.
2. Mencatat identitas pasien dibuku register fisioterapi, dan mencatat
anamnesa di lembar rekam medis pasien.
3. Mendiagnosa dan menentukan terapi latihan yang diperlukan
pasien.
b. Interaksi.

Tindakan terapi latihannya bisa berupa:

Neurostructure
Membongkar pola/pattern
Strecthing
Inhibisi
Stimulasi
Fasilitasi

Latihan merangkak

c. Postinteraksi.
1. Sebelum pasien pulang diberikan edukasi dan saran untuk
melanjutkan program fisioterapi selanjutnya.
2. Merapikan dan membersihkan peralatan fisioterapi.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

TERAPI ULTRASONIC
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI

TERAPI LATIHAN PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


(ABK).

Tanggal Terbit : 01 / 01 / 2014


Revisi
:Dibuat oleh :
Ajeng Rositasari

No. Dokumen :
Halaman
: 132
Diperiksa oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

A. PENGERTIAN
Terapi Ultrasonic yaitu suatu usaha pengobatan dengan menggunakan mekanisme getaran
dengan frekuensi lebih dari 20 KHz. Didalam praktek klinik frekuensi yang digunakan
antara 0,7 MHz 3 MHz, dengan intensitas 1 3 w / cm2
Indikasi
1. Kelainan/penyakit pada jaringan tulang, sendi dan otot.
2. Keadaan post traumatik seperti kontusio, distorsi, luxation dan fractur. kontra indikasi
relatif selama 24-36 jam setelah trauma.
3. Rheumatoid arthritis stadium tak aktif.
a. Arthritis
b. M. Becherev ( Local )
c. Bursitis, capsulitis, tendinitis
4. Kelainan/penyakit pada persyarafan
a. Neuropathie
b. Panthoom pain
c. H N P
d. Kelainan/penyakit pada sirkulasi darah
Raynould
M. Buerger
Sudeck dystrofie
Oedema
e. Penyakit pada organ dalam
f. Kelainan pada kulit
g. Jaringan parut setelah operasi
h. Jaringan parut karena traumatic
i. Dupuytren contractur
Kontra Indikasi
a. Absolut.
Mata
Daerah jantung

Uterus pada wanita hamil


Epiphyseal plate
Testis
b. Relatif
Hilangnya sensibilitas
Endoprothese
Tumor
Post traumatic
Tromboplebitis dan varices
Septis inflammation
Diabetis militus
B. TUJUAN
1. Mengurangi ketegangan otot
2. Mengurangi rasa nyeri
3. Memacu proses penyembuhan collagen jaringan
C. PERALATAN
7. Alat terapi ultrasonic
8. Tempat tidur
9. Selimut
10. Handuk kecil / tisu
11. Gel
12. Kursi
D. PROSEDUR
1. Persiapan
a. Terapis melaksanakan assesment untuk menemukan masalah dan menentukan
program agar arus Ultasonic tepat mencapai sasaran
b. Memberi penjelasan langkah terapi serta tujuannya agar pasien tenang dan
memahami program
c. Menentukan area terapi yang tepat agar terapi efektif
d. Memilih Tranduser dinamis atau statis
e. Menentukan metode untuk mencegah luka bakar
1. Kontak langsung dengan medium oils (minyak), water oils emulsions, aqueus-gel
atau oinment (pasta)
2. Kontak tak langsung dengana Sub-aqual (dalam air) atau Water pillow
f. Posisikan pasien comfortable
g. Area dibersihkan dengan sabun atau alcohol
h. Rambut yang terlalu lebat dicukur.
2. Pelaksanaan
a. Terapis memperhatikan frekuensi, jenis arus dan intensitas agar sasaran tepat
1. Intensitas
Rendah : 0,3 w/cm2
Sedang : 0,3 - 1,2 w/cm2
Tinggi : 1,2 - 3 w/cm2
Continued : Paling tinggi 3 w/cm2
Intermittern : Paling tinggi 5 w/cm2

b. Lamanya terapi, tergantung luas area yang diterapi dan jenis tranduser yang dipakai.
Sebagai pedoman, area seluas 1cm2 waktu 1 menit

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

TERAPI ULTRASONIC
GANGGUAN SALURAN PERNAFASAN
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 01 / 2014
Revisi
:Dibuat oleh :
Ajeng Rositasari

No. Dokumen :
Halaman
: 133
Diperiksa oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

A. PENGERTIAN
Gangguan saluran pernafasan sering terjadi pada bayi. Beberapa gejala yang
kerap muncul adalah batuk, secret yang menyumbat saluran nafas dan sesak.
Untuk membantu permasalahan tersebut, dilakukan Chest Physical Therapy
( CPT ) dikombinasi dengan inhalasi.
Langkah CPT :
1. Postural Drainage : memosisikan bayi/anak pada posisi tertentu untuk
membantu menyalurkan secret
2. Clapping : tepukan yang dilakukan pada rongga dada untuk melepaskan
secret dari dinding saluran nafas.
3. Caughing : membatukkan secret agar keluar.
CPT dikombinasikan penggunaan nebulizer ( inhalasi ), suction dan obat
pengencer secret.
B. TUJUAN
1. Merelaksasi jalan nafas.

2. Memperbaiki efisiensi kerja sistim pernafasan.


3. Meningkatkan ekspansi rongga dada.
4. Mengencerkan dan mempermudah mobilisasi sekret.
5. Menurunkan edema mukosa.
6. Pemberian obat secara langsung pada saluran pernafasan untuk pengobatan penyakit,
seperti : bronkospasme akut, produksi sekret uyang berlebihan, dan batuk yang disertai
dengan sesak nafas.

C. PERALATAN
1. Nebulizer.
2. Chest Physical Therapy (CPT).
D. PROSEDUR
a. Preinteraksi.
3. Saat pasien datang, dipersilahkan masuk kemudian dimintai
kwitansi pembayaran fisioterapi.
4. Mencatat identitas pasien dibuku register fisioterapi, dan mencatat
anamnesa di lembar rekam medis pasien.
5. Mendiagnosa dan menentukan interfensi yang diperlukan pasien.
b. Interaksi.

Melakukan inhalasi dan CPT.


Langkah CPT :

1. Postural Drainage : memosisikan bayi/anak pada posisi tertentu untuk


membantu menyalurkan secret
2. Clapping : tepukan yang dilakukan pada rongga dada untuk membantu
melepaskan secret dari dinding saluran nafas.
3. Caughing : membatukkan secret agar keluar.
CPT bisa juga dikombinasikan dengan penggunaan nebulizer (inhalasi),
suction dan obat pengencer secret.
c. Postinteraksi.
1. Sebelum pasien pulang diberikan edukasi dan
melanjutkan program fisioterapi selanjutnya.
2. Merapikan dan membersihkan peralatan fisioterapi.

saran

untuk