Anda di halaman 1dari 51

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
PENGAMBILAN SAMPEL DARAH

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
LUKLUK MUNAWAROH, SKM

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 088
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Pengertian

Hasil pemeriksaan suatu laboratorium akan baik bila specimennya baik.


Specimen yang baik didapatkan apabila metode pengambilan, pengumpulan,
penampungan dan pemrosesannya baik. Salah satu usaha dalam mendapatkan
sampel darah yang baik adalah melaksanakan tehnik pengambilan yang baik
dan benar dengan mempertimbangkan kenyamanan, keselamatan pasien dan
petugas pengambil sampel

Tujuan

Prosedur pengambilan bahan pemeriksaan dibuat untuk keseragaman dan


mengurangi kesalahan agar diperoleh hasil yang lebih teliti

Penjelasan

Prosedur ini adalah petunjuk pengambilan sempel darah untuk menjaga dan
menghindari kesalahan sekecil apapun dan mendapatkan hasil yang optimal.

Kebijakan

Darah tidak boleh diambil dari daerah terinfeksi (misal bisul, luka radang,
dll) atau kulit yang dingin dan pucat

Persiapan

A. Persiapan pasien
Penderita di persilahkan untuk siap di tempat yang disediakan untuk
pengambilan sampel.
B. Alat yang dipersiapkan
1. Tabung
2. Spuit steril
3. Lancet steril
4. Ikatan pembendung (tourniquet)
5. Kapas kering
6. Kapas Alkohol 70 %
7. Plester
8. Sarung tangan steril

Prosedur

Tahap Pra Interaksi


1. Melaksanakan ferifikasi data
2. Mencuci tangan dan memakai sarung tangan steril
3. Menempatkan peralatan pada tempat yang benar
Tahap Orientasi
1. Memberi salam dan memberikan penjelasan tentang prosedur tindakan
2. Menanyakan kesiapan pasien dan persetujuan pasien sebelum tindakan
dilaksanakan
Tahap Kerja
A. Pengambilan darah kapiler
1. Bersihkan ujung jari pasien dengan kapas alkohol 70%, biarkan
kering sendiri.
2. Pegang bagian yang akan ditusuk agar tidak bergerak dan tekan
sedikit. Tusuk dengan lancet seteril sedalam 3mm, pada bayi tidak
boleh lebih dari 2,5mm darah harus keluar dengan sendiri tanpa
ditekan.
3. Tetesasan pertama dihapus dengan kapas alkohol yang sudah diperas
dan tetesan berikutnya dapat dipergunakan untuk pemeriksaanpemeriksaan. Dipergunakan kapas alkohol yang sudah diperas agar
lubang bekas lancet tidak cepat menutup lagi dan darah tidak
melebar.
B. Pengambilan darah vena
1. Letakan lengan pasien lurus diatas meja dengan telapak tangan
menghadap keatas
2. Kemudian lengan diikat cukup erat dengan tourniquet untuk
membendung aliran darah, tetapi tidak boleh terlalu kencang sebab
dapat merusak pembuluh darah
3. Pasien disuruh mengepal dan membuka tanganya beberapa kali
untuk mengisi pembulu darah
4. Dalam keadaan tangan pasien mengepal ujung telunjuk kiri
pemeriksa mencari lokasi pembuluh darah yang akan ditusuk
5. Bersihkan lokasi tersebut dengan kapas alkohol dan biarkan kering
6. Peganglah semprit dengan tangan kanan dan ujung telunjuk pada
pangkal jarum, kencangkan jarum, dorong pengisap semprit sampai
keujung depan.
7. Tegangkan kulit dengan jari telunjuk dan ibu jari kiri diatas
pembuluh darah supaya tidak bergerak, kemudian tusukan jarum
dengan sisi miring menghadap keatas dengan sudut 25
8. Jarum dimasukan sepanjang pembuluh darah 1-1,5cm
9. Dengan tangan kiri pengisap semprit ditarik perlahan-lahan
sehingga darah masuk kedalam semprit
10. Sementara itu pasien membuka kepalan tangan, ikatan pembendung
di renggangkan atau dilepas sampai didapat sejumlah darah yang
dikehendaki
11. Letakan kapas alkohol yang sudah diperas pada tempat tusukan,
jarum ditarik kembali
12. Pasien disuruh menekan bekas tusukan dengan kapas tersebut
selama beberapa menit dengan tangan masih dalam keadaan lurus
13. Lepaskan jarum dari sempritnya dan alirkanlah (jangan
disemprotkan) darah kedalam wadah atau tabung yang sudah
tersedia melalui dindingnya.
Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi paska tindakan
2. Memberaskan peralatan
3. Berpamitan dengan pasien

Unit terkait

Petugas, ( Bidan , Perawat, Dokter )

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

Referensi

Petunjuk praktikum puskesmas,DEPKES RI, Jakarta, 1992

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
PEMERIKSAAN PROTEIN URINE

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
LUKLUK MUNAWAROH, SKM
.

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 089
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Protein urine jika direaksikan dengan asam asetat kemudian dibakar maka
Akan menimbulkan endapan.

Tujuan

Mengetahui sejumlah protein dalam urine.

Alat

a. Tabung reaksi
b. Pipet tetes
c. Penjepit
d. Bunsen

Reagen

Larutan asam asetat

Prosedur

Pelaporan

Nilai normal

1. Masukan 2 ml urine yang telah diputar kedalam tabung kemudaian


dipanaskan sampai mendidih.
2. Ditambahkan 5 tetes asam asetat kedalam tabung tadi kemudiaan
dipanaskan lagi sampai mendidih.
3. Kekeruhan dilihat dengan latar belakang gelap dan cahaya yang
terpantul.
Negatif
Positif + (+1)
Positif ++ (+2)
Positif +++ (+3)
Positif ++++ (+4)

: Tidak ada kekeruhan sama sekali


: Ada kekeruhan ringan tanpa butir-butir
: Butir-butir
: Urine jelas keruh dan kekeruhan berkeping-keping
: Urin sangat keruh dan berkeping-keping besar
/bergumpal-gumpal memadat
Protein urine : negatif

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
PEMERIKSAAN GLUKOSA URINE

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
LUKLUK MUNAWAROH, SKM
.

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 090
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Glukosa dapat mereduksi ion cupri dalam larutan alkalis sehingga terjadi
perubahan warna.

Tujuan

Mengetahui sejumlah glukosa yang terdapat didalam urine.

Alat

a. Tabung reaksi
b. Bunsen
c. Penjepit

Reagen

Larutan Benedict

Prosedur

Pelaporan

1.
2.
3.
4.

Masukan larutan benedict dalam lubang tabung sebanyak 5 ml.


Teteskan ke dalamnya, 8 tetes urine.
Panaskan diatas bunsen.
Angkat dan kocoklah tabung dan bacalah hasil reduksinya.

Negatif
agak keruh
Positif + (+1)
Positif ++ (+2)
Positif +++ (+3)
Positif ++++ (+4)

: laporan tetap biru jernih atau sedikit kehijauan dan


: Hijau kekuning-kuningan dan keruh
: Kuning keruh
: Jingga atau warna lumpur keruh
: Merah keruh

Nilai normal

Glukosa urine : negatif

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN BILIRUBIN URINE

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
LUKLUK MUNAWAROH, SKM
.

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 091
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Oksidasi pikmen empedu oleh asam sehingga terjadi biliferdin yang berwarna
hijau atau biliasin yang berwarna biru atau choletein yang berwarna ungu.

Tujuan

Mengetahui sejumlah bilirubin yang terdapat didalam urine.

Alat

a. Kertas saring
b. Corong
c. Tabung reaksi

Reagen

- Larutan BaCL.2 10%


- Reaksi Fauchet

Prosedur

1. Masukan 2 ml urine kedalam tabung kemudian di tambah 2 ml larutan


BaCL.2 10% dicampur dan saringlah dengan kertas saring.
2. Kertas saring yang berisi endapan diangkat dari corong, biarkan agak
lama supaya mengering.
3. Diteteskan 2 3 tetes reagen Fauchet diatas precipitat pada kertas
saring tersebut.
4. Perhatikan warna yang terjadi.

Interpretasi Hasil

Warna hijau diatas kertas saring dilaporkan positif.


Bila tidak warna hijau dilaporkan dengan negatif

Nilai normal

Bilirubin urine : negatif

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN UROBILIN URINE

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
LUKLUK MUNAWAROH, SKM
.

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 092
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Reaksi antara urobilin dan reagen Schlesinger membentuk fluroensi hijau


terang dimana penambahan lugol pada pemeriksaan ini dimaksudkan untuk
mengoksidasi urobilinugen, karena dalam urine segar tidak ada urobilin.

Tujuan

Mengetahui sejumlah urobilin yang terdapat pada urine.

Alat

a. Tabung reaksi
b. corong
c. Rak tabung
d. Latar belakang gelap
e. Kotak cahaya dengan latar belakang gelap
f. Kertas saring

Bahan

- Urine yang tidak mengandung bilirubin dan fluorensi

Prosedur

1. Masukan 5 ml urine kedalam tabung tabung reaksi, jika ada Bilirubin


tambahkan 4 tetes larutan lugol campur dan biarkan 5 menit atau lebih
2. Tuangkan 5 ml reagen Schlesinger campur dan saring

Interpretasi hasil

Pemeriksaan adanya fluoresensi dalam filtrat diuji dengan cahaya terpantul


dan latar belakang hijau.
Adanya fluorensi hijau terang menandakan positif

Nilai normal

Negatif tidak adanya fluoresensi

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
: 093
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Berat jenis unsur sedimen organik dan non organik lebih besar dari pada berat
jenis urine sehingga dengan sentrifungsi maka zat-zat tersebut akan
mengendap.

Tujuan

Mengetahui unsur organik dan non organik didalam urine

Alat

a. Centrifuge
b. Tabung
c. Pipet
d. Object glass
e. Cover glass

Bahan

- Urine

Prosedur
1.
2.
3.
4.
5.

Pelaporan

1. Kocok urine yang ada dalam botol supaya bila ada endapan akan
tercampur dengan rata.
Masukan 5 10 urine kedalam tabung kemudian di centrifuge selama 5
menit dengan kecepatan 2000 rpm.
Tuang cairan bagian atas sehingga volume dari cairan dan sedimen
menjadi kira-kira1/2 -1 ml kocoklah tabung untuk mencampur kembali
sedimen.
Dengan pipet teteskan 1 tetes sedimen diatas permukaan obyek glass
kemudian ditutup dengan cover glass.
Periksalah dengan mikroskop dengan pembesaran 40 x (lapang
penglihatan besar/LPB) diamati beberapa lapangan (antara 1 10
lapangan).
Sedimen urine yang akan ditemukan antara lain: erytrosit, lekosit,
epithel, silinder, kristal, jamur, parasit, bakteri.

Jumlah rata-rata leukosit, erytrosit dan epitel dilaporkan per lapang pandang
besar (LPB).
Untuk unsur lain dilaporkan dengan:
Negatif : Bila tidak ada
+
: Bila jumlahnya sedikit
++
: Bila jumlahnya banyak
+++
: Bila jumlahnya banyak sekali

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN HITUNG JUMLAH LEUKOSIT


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Anis Sovia W, SKM

No. Dokumen :
Halaman
: 094
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Hitung jumlah leukosit dalam volume tertentu dengan pengenceran tertentu dalam
satuan per ul darah.

Tujuan

Untuk mengetahui , karena leukosit adalah sel darah putih yang bertugas melawan
infeksi.

Alat

Pipet Leukosit
Tabung pengenceran
Kamar hitung
Mikroskop

Bahan

Sampel Darah

Prosedur

1.
2.
3.
4.

Darah dihisap dengan pipet leukosit sampai tanda 1.


Kelebihan darah pada ujung pipet dibersihkan dengan kapas.
Kemudiaan diteruskan dengan menghisap larutan turk sampai tanda 11.
Kedua ujung pipet ditutup dengan ujung jari sambil dikocok dengan cara
dibolak - balikan.
5. Buanglah 3 4 tetes pertama kemudian ujung pipet disearahkan pada
permukaan kamar hitung.
6. Jumlah leukosit dihitung dengan mikroskop dengan pembesaran 10x dalam
1 bidang sedang dalam kamar hitung.
7. Jumlah leukosit:
1/t.TP
X
A
X: Jumlah Leukosit Yang Ditemukan
T: Tinggi Kamar Hitung
P: Pengenceran
A: Bidang Atau Kamar Yang Digunakan Untuk Menghitung

Pelaporan

Di laporkan dalam satuan mm3

Nilai normal

Laki laki : 4.000 11.000/ul darah


Perempuan: 4.000 11.000/ul darah

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

Kaitan
dengan prosedur lain
Lampiran
Referensi

Petunjuk pratikum puskesmas,DEPKES RI, Jakarta, 1992

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN HITUNG SEL ERYTROSIT


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
: 095
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Menghitung jumlah Erytrosit dalam volume tertentu dengan pengenceran tertentu


dalam satuan per ul darah.

Tujuan

Untuk mengetahui , erytrosit adalah sel darah merah yang berbentuk bikonkaf
berinti yang berdiameter 8 um.

Alat

Pipet erytrosit
Kamar hitung
Mikroskop

Bahan

Darah kapiler atau darah dengan antikoagulan

Prosedur

1. Darah dihisap dengan pipet erytrosit sampai tanda 0,5.


2. Kelebihan darah pada ujung pipet dibersihkan dengan kapas.
3. Kemudiaan diteruskan dengan menghisap larutan rees ecker sampai
tanda 101.
4. Kedua ujung pipet ditutup dengan ujung jari sambil dikocok dengan cara
dibolak - balikan.
5. Buanglah 3 4 tetes pertama kemudian ujung pipet disentuhkan pada
permukaan kamar hitungyang telah ditutu dengan deck glass hingga
tertutup cairan.
6. Jumlah erytrosit dihitung dengan mikroskop dengan pembesaran 40x
pada 5 bidang kecil dalam 1 bidang besar ditengah-tengah kamar hitung.
7. Jumlah erytrosit:
X.1/t. 1/lp

x.101.1 0 0025 -2000


x.10.000/ul darah

80

Keterangan:
X: Jumlah Erytrosit Yang Ditemukan
T: Tinggi Kamar Hitung
L: Luas tiang bidang kecil
P: Pengenceran
A: Luas bidang kecil Yang Digunakan Untuk Menghitung (5x16)

Pelaporan

Di laporkan dalam satuan mm3

Nilai normal

Laki laki : 4.500.000 6.500.000/ul darah


Perempuan: 3.000.000 6.000.000/ul darah

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

Kaitan dengan prosedur lain


Lampiran
Referensi
Petunjuk pratikum puskesmas,DEPKES RI, Jakarta, 1992

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN HITUNG TROMBOSIT


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
: 096
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Menghitung jumlah trombosit dengan pengenceran dan volume tertentu dalam


satuan per ul darah.

Tujuan

Trombosit adalah pecahan sitoplasma megakariosit yang bentuknya sangat kecil


dan berfungsi pada hemostasis dan pembekuan.

Alat

Pipet trombosit
Kamar hitung
Mikroskop

Bahan

Darah kapiler atau


Darah dengan antikoagulan

Prosedur

1. 1. Darah dihisap dengan pipet erytrosit sampai tanda 0,5.


2. 2. Kelebihan darah pada ujung pipet dibersihkan dengan tissue.
3. 3. Kemudiaan diteruskan dengan menghisap larutan rees ecker sampai tanda101
4. Kedua ujung pipet ditutup dengan ujung jari sambil dikocok selama 15 -30
detik.
5. Dibuanglah 3 4 tetes pertama kemudian ujung pipet disentuhkan pada
permukaan kamar hitung yang telah ditutup dengan deck glass biarkan kamar
hitung berisi cairan.
6. Jumlah trombosit adalah:
X.1/t.p

x. 101.200
x.2000/ul darah

Keterangan:
X: Jumlah Trombosit Yang Ditemukan
T: Tinggi Kamar Hitung
P: Pengenceran
A: Bidang/kamar hitung yang dipakai
Pelaporan

Di laporkan dalam satuan mm3 atau /ul darah

Nilai normal

Laki laki : 150.000 450.000/ul darah


Perempuan: 150.000 450.000/ul darah

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

Kaitan dengan prosedur lain


Referensi
Petunjuk pratikum puskesmas,DEPKES RI, Jakarta, 1992

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN NILAI HEMATOKRIT


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
: 097
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Apabila darah dicentrifuge maka sel-sel yang lebih berat maka akan turun kedasar
tabung sedangkan sel-sel yang lebih ringan (leukositdan trombosit) berada diatas
sel-sel yang berat tadi.

Tujuan

Untuk mengetahui nilai hematokrit karena semua erytrosit dalam 100 ml dan
dinyatakan dengan % dari volume darah itu.

Alat

Tabung Wintrobe
Sentrifuge

Bahan

Darah dengan antikoagulan

Prosedur

1. Ambil darah vena sebanyak 2 cc, cabut jarum spuit dan masukan ke tabung
wintrobe mulai dari dasar agar tidak ada gelembung udara sampai tepat
angka 10.
2. Kemudian dicentrifuge 3000 rpm jam.
3. Kemudian dibaca tinggi volume erytrositnya

Pelaporan

Di laporkan dalam satuan %

Nilai normal

Laki laki : 40 - 54%


Perempuan: 35 - 47%

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN HITUNG JENIS LEUKOSIT


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
: 098
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Darah dibuat hapusan obyek glass kemudian di cat dengan pewarna tertentu
kemudian dihitung jenis leukositnya.

Tujuan

Untuk mengetahui jenis leukosit yang diidentivikasi dalam darah perifer adalah
eosinofil, basofil, neutrofil batang, neutrofil segmen, monosit dan lymposit.

Alat

Tabung Wintrobe
Sentrifuge

Bahan

Darah kapiler atau


Darah dengan antikoagulan
Reagen: Methanol
Cat giemsa
Larutan buffer pro giemsa.

Prosedur

1. Teteskan setetes darah pada tepi ujung kanan obyek glass.


2. Dengan menggunaka deck glass disebelah kiri tetesan darah tadi
digeser kekanan sampai menyetuh tetesan darah.
3. Tetesan darah akan menyebar pada sisi deck glass, kemudian digesr ke
kiri dengan sudut<0.
4. Biarkan sediaan kering diudara.
5. Setelah kering diletakan pada rak pengecatan kemudian difiksasi dengan
methanol selama 5 menit.
6. Tuangkan kelebihan methanol dari obyek kemudian dicat menggunakan
cat giemsa + buffer pro giemsa biarkan 20 menit.
7. Bilas sediaan dengan air mengalir.
8. Letakan dengan sikap vertikal dan biarkan sampai kering diudara.
9. Hitung jenis sel leukosit dihitung dengan menggunakan mikroskop
dengan pembesaran 40x.
10. Sel dilihat pada bagian yang cukup tipis, rata dan dihitung sampai jumlah
100 sel dengan satuan %
11. Pelaporan hasil hitung jenis leukosit harus diurut sebagai berikut:
12. Eosinophil, basofil, neutrofil batang, neutrofil segmen, lymposit, monosit

Pelaporan

Di laporkan dalam satuan %

Nilai normal

Eosinophil
:13 %
Basofil
:01 %
Neutrofil batang : 2 6 %
Neutrofil segmen : 50 70 %
Lymposit
: 20 40 %
Monosit
:28 %

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

Kaitan dengan prosedur lain


Lampiran
Referensi

Petunjuk pratikum puskesmas,DEPKES RI, Jakarta, 1992

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN MALARIA
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 099
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Memisahkan hemoglobin dalam darah merah sehingga adanya parasit dalam


darah merah dapat dilihat.

Tujuan

Untuk mengetahui Malaria adalah penyakit yang disebabkan plasmodium dan


ditularkan melalui nyamuk anopheles.

Alat

Obyek glas

Bahan

Darah kapiler.

Prosedur

1. Teteskan darah kapiler pada permukaan object glass.


2. Ambil object glass lain, tempelkan ujungnya pada tetesan darah tadi
dan lebarkan berlawanan dengan arah jarum jam diameter 1 cm.
3. Setelah kering diletakan pada rak pengecatan dengan dituangi air
ditunggu sampai terjadi hemolisa, kemudian sisa air dibuang.
4. Sediaan dikeringkan lagi, kemudian dicat dengan giemsa biarkan
selama 30 menit.
5. Sediaan dibilas dengan air, kemudian dikeringkan. Sediaan yang telah
kering diperiksa dengan mikroskop untuk mencari gambaran parasit
yang mempunyai inti dan sitoplasma yang jelas.

Nilai Normal

Negatif

Pelaporan

Penemuan parasit malaria dilaporkan dengan menggunakan simbol sebagai


berikut:
- Plasmodium falcifarum hanya bentuk cincin
:F
- Plasmodium falcifarum hanya bentuk cincin dan gametosit : F + G
- Plasmodium falcifarum hanya gametosit
:G
- Plasmodium vivax untuk semua stadium
:V
- Plasmodium malariae untuk semua stadium
:M
- Tidak ada parasit
: Negatif

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

Referensi

Petunjuk pratikum puskesmas,DEPKES RI, Jakarta, 1992

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN WAKTU PERDARAHAN


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 100
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Melakukan penusukan pada cuping telinga dan menghitung waktu


pendarahan sampai berhentinya perdarahan.

Tujuan

Waktu pendarahan adalah waktu antara terjadinya perdarahan setelah


dilakukan penusukan pada cuping telinga sampai berhentinya tersebut secara
spontan.

Alat

Stop watch
Kertas saring
Lancet

Bahan

Darah kapiler dari cuping telinga.

Prosedur

Pelaporan

1. Bersihkan cuping telinga dengan kapas alkohol 70% dan biarkan


kering diudara.
2. Tusuklah pinggir daun telinga dengan lancet sedalam 2 mm.
3. Jika darah keluar jalan stop watch.
4. Setiap 30 detik hiasaplah tetesan darah dengan menggunakan kertas
kering, pada waktu penghisapan darah jangan sampai kertas menekan
kulit.
5. Catat sampai darah tidak keluar lagi.
6.
Di laporkan dalam satuan menit

Nilai normal

1 5 menit

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN WAKTU PEMBEKUAN


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 101
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Sejumlah darah diambil dari vena lalu dimasukan kedalam tabung dan dicatat
waktunya sampai darah membeku.

Tujuan

Masa pembekuan adalah waktu yang dibutuhkan mulai keluarnya darah vena
yang dimasukan kedalam tabung sampai membeku.

Alat

Stop watch
Tabung reaksi

Bahan

Darah vena.

Prosedur

1. Sediakan 4 tabung reaksi


2. Dilakukan pengambilan darah vena, pada saat darah keluar dalam
spuit mulai jalankan stop watch
3. Angkat jarum dari spuit alirkan darah pelan-pelan kedalam tabung
1 ml.
4. Setiap 30 detik tabung 1 diangkat dan dimiringkan untuk melihat
apakah sudah beku atau belum.
5. Demikian pula untuk tabung II, III, IV.
6. Masa pembekuan dilaporkan dengan dibulatkan sampai menit.

Pelaporan

Di laporkan dalam satuan menit

Nilai normal

5 11 menit

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

SOP PEMERIKSAAN HAPUSAN DARAH


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 102
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Setetes darah dibuat hapusan kemudian dicat dan hasilnya digunakan untuk
melihat keadaan erytrosit atau leukosit dan trombosit.

Tujuan

Hapusan darah adalah suatu sediaan yang digunakan untuk menggambarkan


morfologi erytrosit, leukosit dan trombosit.

Alat

Object glass

Bahan

Darah kapiler / darah dengan antikoagulan.


Reagen:
Cat giemsa
Buffer pro giemsa

Prosedur

1. Teteskan setetes darah pada obyek glass bagian tepi kanan.


2. Dengan menggunakan deck glass disebelah kiri tetesan darah tadi
digeser ke kanan sampai menyentuh tetesan darah.
3. Tetesan darah akan menyebar pada sisi deck glass kemudian digeser
ke kiri dengan sudut 45 biarkan kering di udara.
4. Kemudian diletakan pada rak wetergren dan difiksasi dengan
methanol selama 5 menit.
5. Kemudian dicat dengan menggunakan cat giemsa + pro giemsa,
biarkan selama 20 menit.
6. Bilas dengan air mengalir, letakan dengan sikap vertikal sampai
kering, kemudian dilihat dengan mikroskopdengan pembesaran 40x.
- Melihat keadaan erytrosi yang harus dilaporkan adalah ukuran, bentuk
dan warna.
- Melihat keadaan leukosit, melakukan hitung jenis leukosit sampai 100
sel dan kemudian melakukan perbandingan jumlah jenis selnya
- Melihat keadaan trombosit, melaporkan jumlah dan penyebaranya
trombosit juga kelainan morfologi trombosit.

Pelaporan

Di laporkan dalam satuan %

Nilai normal

Untuk melaporkan erytrosit dalam keadan normal: Normokromik


Normocytik
Untuk melaporkan leukosit dalam keadaan normal:
Dilihat dari hitung jenis:
Eosinosil
:12%
Basofil
:01%
Neutrofil batang : 2 6 %
Neutrofil segmen : 50 70 %
Lymposit
: 20 40 %
Monosit
:28%
Untuk trombosit keadaan normal: dalam 100 lapang pandang akan didapatkan
antara 300 800 trombosit.

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

Lampiran

Referensi

Petunjuk pratikum puskesmas,DEPKES RI, Jakarta, 1992

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

: 103
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Paraf

Prinsip

Golongan darah diketahui dengan melakuka reaksi aglutinasi terhadap tes anti
serum.

Tujuan

Golongan darah adalah penggolongan yang berdasarlan aglutinogen yang


terdapat pada erytrosit seseorang.

Alat

- Object glass
- Lancet

Bahan

Darah kapiler.
Reagen:Serum anti A, anti B dan anti AB

Prosedur

Pelaporan

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Teteskan darah pada kartu golongan darah 1 tetes di ketiga tempat


Pada tetesan I diberi anti A
Pada tetesan II diberi anti B
Pada tetesan ke III diberi anti AB
Masing masing tetesan dicampur sampai rata
Diamati adanya aglutinasi.

Dilaporkan dengan : A, B, O, AB

Nilai normal

Interprestasi hasil
No

Anti A

Anti B

Anti AB

GOL.DARA
H

+
+

+
+
+

A
B
AB

2
+
3
4
+
Keterangan:
+ : Aglutinasi
- : Tidak aglutinasi
Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

Referensi

Petunjuk pratikum puskesmas,DEPKES RI, Jakarta, 1992

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI

PEMERIKSAAN DAN PEWARNAAN


TB PARU

Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 104
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Bakteri tahan asam akan memberikan warna merah pada pewarnaan Ziehl
Neelsen.

Tujuan

Pewarnaan tahan asam adalah pewarnaan yang digunakan untuk melihat


adanya bakteri tahan asam.

Alat

- Object glass
- Ose
- Bunsen
- Tusuk gigi
- Penjepit
Reagen:
- Larutan I : Carbol Fuchsin 0,3%
- Larutan II : HCL Alkohol 3%
- Larutan III : Methylen Blue 0,3%

Bahan

Dahak S P S

Prosedur

1. Ambil sample dahak dengan ose steril letakan pada objeck glass,
ratakan dengan tusuk gigi biarkan mengering.
2. Difiksasi langsung diatas nyala api 3 - 5 detik.
3. Lalu diletakan diatas bak pewarnaan dituangi carbol fuchsin 0,3%
sampai menutupi seluruh permukaan sediaan.
4. Dipanasi diatas api langsung sampai menguap, jangan sampai
mendidih lalu sediaan didiamkan minimal 5 menit.
5. Bilas dengan air mengalir lalu ditetesi sediaan dengan HCL alkohol
3% sampai warna fuchsin hilang.
6. Bilas dengan air pelan.
7. Teteskan larutan Methyline blue 0.3% sampai menutupi seluruh
sediaan selama 10 20 detik.
8. Bilas dengan air pelan.
9. Keringkan sediaan di rak pengering di udara terbuka lalu periksa
dengan mikroskop objeck 10x lalu 100x degan oil imersi.

Pelaporan

1. (-)
2. (scanty)
3. +1
4. +2
5. +3

: Tidak diketemukan BTA dalam 100 lapangan pandang.


: ditemukan 1 9 BTA dalam 100 lapangan pandang
: ditemukan 10 99 BTA dalam 100 lapangan pandang.
: ditemukan 1 100 BTA dalam rata-rata 1 lapangan pandang.
: ditemukan > 10 BTA dalam rata-rata 1 lapangan pandang.

Nilai normal

Tidak diketemukan BTA dalam seratus lapang pandang atau negatip

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

Kaitan
dengan prosedur lain
Lampiran
Referensi

Petunjuk pratikum puskesmas,DEPKES RI, Jakarta, 1992

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PENGAMBILAN SAMPEL TB PARU


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

: 105

Tujuan

Untuk mendapatkan sampel pemeriksaan TB paru yang representatif.

Prinsip

Agar diperoleh sampel yang representatif maka dilakukan pengambilan


sampel untuk pemeriksaan TB paru secara tepat.

Ruang Lingkup

Instruksi kerja ini berlaku di laboratorium sebagai petunjuk pengambilan


sampel dahak pada pemeriksaan TB paru.

Alat yang
digunakan

Tempat terbuka yang mendapatkan sinar matahari langsung


Sputum pot

Prosedur

Pada pemeriksaan TB paru dibutuhkan sampel dahak S P S.


S : Sewaktu pertama yaitu dahak sewaktu yang dikeluarkan saat pertama
kali pasien berkunjung ke laboratorium
P : Pagi yaitu dahak yang dikeluarkan pada saat bangun tidur di hari kedua
S : Sewaktu kedua yaitu dahak yang dikeluarkan saat pasien mengantar
dahak pagi di hari kedua.
Pengambilan Dahak
1. Pengambilan dahak dihari pertama dilakukan di tempat pelayanan,
pengambilan sampel dilakukan di tempat terbuka yang mendapatkan sinar
matahari langsung, sampel di label S.
2. Pasien dipersilahkan pulang dengan dibawakan 1 sputum pot yang dilabel
P untuk tempat dahak pagi bangun tidur.
3. Di hari kedua saat pasien menyerahkan dahak pagi, pasien diberi sputum
pot lagi untuk tempat dahak sewaktu kedua. Pasien disuruh mengeluarkan
dahak lagi ditempat terbuka.
4. Diperoleh sampel dahak S P S yang siap diperiksa.

Catatan

Pengambilan sampel dahak dilakukan diruang terbuka yang mendapatkan


sinar matahari langsung karena kuman Mycobacterium tuberculosa mati oleh
sinar matahari, sehingga bisa mengurangi resiko penularan.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN TB KUSTA
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 106
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Bakteri tahan asam akan memberikan warna merah pada pewarnaan Ziehl
Neelsen.

Tujuan

Untuk menemukan adanya bakteri berbentuk batang yang tahan asam dalam
reitz serum yang disebut Bakteri Tahan Asam.

Ruang Lingkup

Instruksi kerja ini berlaku di laboratorium sebagai petunjuk pemeriksaan


kusta.

Prosedur

A. PENGAMBILAN SPESIMEN
1. Alat
a. Skalpel / pisau kecil / lanset stal
b. Kapas alkohol
c. Obyek glass bersih, tidak berlemak dan tidak tergores
d. Lampu spiritus
e. Pensil kaca
f. Forsep
2. Lokasi Pengambilan Spesimen
Beberapa ketentuan lokasi pengambilan spesimen :
a. Sediaan diambil dari kelainan kulit yang paling aktif
b. Kulit muka sebaiknya dihindarkan karena alasan kosmetik kecuali
tidak ditemukan kelainan kulit ditempat lain.
c. Tempat-tempat yang sering diambil sediaan apus jaringan untuk
pemeriksaan Mycobacterium leprae adalah :
1. Cuping telinga
2. Lengan
3. Punggung
4. Bokong
5. Paha
d. Jumlah pengambilan sediaan apus jaringan kulit harus minimum
dilaksanakan di 3 tempat yaitu :
1. Cuping telinga kiri
2. Cuping telinga kanan
3. Bercak yang paling aktif

3. Cara Pengambilan
a. Kaca obyek diberi nama, nomor pasien dan tanggal dengan pensil
kaca
b. Permukaan kulit yang akan diambil dibersihkan dengan kapas
alkohol 70%
c. Jepitlah kulit pada bagian tersebut dengan forsep atau dengan jari
tangan untuk menghentikan aliran darah ke bagian tersebut
d. Dengan pisau steril (dicelup dahulu dalam spiritus lalu dilewatkan
diatas nyala api) kulit disayat sedikit sepanjang 5 mm, dalamnya
2 mm agar mencapai dermis. Bila terjadi perdarahan bersihkan
dengan kapas
e. Keroklah tepi dan dasar sayatan secukupnya dengan menggunakan
punggung mata pisau sampai didapat semacam bubur jaringan dari
epidermis dan dermis, kemudian kumpulkan dengan skalpel pada
obyek glass.
B. PEMBUATAN SEDIAAN
1. Alat
a. Forsep
b. Lampu spiritus
c. Rak pewarnaan
d. Rak pengering
2. Reagen
Metode Ziehl Neelsen
a. Larutan Carbol Fuchsin
b. Larutan Asam Alkohol
c. Larutan Methylen Blue
3. Cara Pembuatan sediaan
a. Letakkan bahan yang telah diambil pada obyek glass, kemudian
ratakan sehingga membentuk lingkaran dengan garis tengah 1
cm.
b. Keringkan diudara.
c. Fiksasi dengan cara melakukan dengan cepat diatas nyala api
sebanyak 2 - 3 kali (selama 3 5 detik).
d. Sediaan diletakkan diatas rak pewarnaan dan siap diwarnai
C. PEWARNAAN ZIEHL NEELSEN
a. Tuang larutan carbol Fuchsin sampai menutupi seluruh sediaan
b. Panaskan sampai menguap, jangan sampai mendidih
c. Diamkan 10 20 menit
d. Cuci dengan air mengalir
e. Tuangkan Asam Alkohol 3% sampai warna merah dari Fuchsin hilang
f. Cuci dengan air mengalir
g. Tuang larutan Methylen Blue 0,1% dan diamkan 1 3 menit
h. Cuci dengan air mengalir dan keringkan di udara.
D. PENGIRIMAN SEDIAAN
Bila diperlukan pemeriksaan uji silang (cross check) atau bila fasilitas
laboratorium kurang dan lain lain maka sediaan perlu dikirim ke
laboratorium lain.
Cara Pengiriman :
1. Setelah sediaan difiksasi, bungkus dengan kertas tik tipis yang dibagi 2
menurut panjangnya. Tiap potong dapat dipakai untuk membungkus
15 sampai 20 sediaan
2. Bungkus lagi dengan kertas karton bergelombang menurut lebarnya
dan ikat 2 kali
3. Bungkus lagi dengan kertas karton bergelombang menurut panjangnya
dan ikat 1 kali
4. Ikat lagi dengan kertas karton bergelombang menurut lebarnya dan
ikat 2 kali
5. Ikat lagi dengan kertas sampul dan ikat 3 kali.

E. CARA PEMERIKSAAN
1. Alat yang diperlukan
a. Mikroskop
b. Minyak imersi
c. Xylol
2. Cara
a. Sediaan yang sudah diwarnai dan sudah kering diperiksa di bawah
mikroskop
b. Teteskan 1 tetes minyak imersi diatas sediaan dan periksalah
dengan pembesaran obyektif 100x dan okuler 10x.
c. Carilah kuman tahan asam yang berwarna merah, berbentuk batang
dengan latar belakang berwarna biru. Bentuknya mirip dengan
Mycobacterium tuberculosa berbentuk batang tetapi kadang
kadang tampak seperti titik titik. BTA tersebut dapat tampak
sendiri sendiri, berkelompok atau membentuk pulau sendiri.
d. Dalam mencari kuman digunakan cara zig zag.
Pelaporan

Negatip
1+
2+
3+
4+
5+
6+

:
:
:
:
:
:
:

tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang


ditemukan 1 10 BTA dalam 100 lapang pandang
ditemukan 1 10 BTA dalam 10 lapang pandang
ditemukan 1 10 BTA dalam rata rata 1 lapang pandang
ditemukan 10 100 BTA dalam rata rata 1 lapang pandang
ditemukan 100 1000 BTA dalam rata rata 1 lapang pandang
ditemukan lebih dari 1000 BTA dalam rata rata 1 lapang
pandang

Catatan

Hal hal yang perlu diperhatikan


1. Spesimen yang diambil dari beberapa lokasi pada satu orang dapat dibuat
pada satu kaca objek.
2. Pisau bekas dipakai harus dicuci dengan spiritus, lalu lewatkan di atas
nyala api sebelum dipakai lagi.
3. Luka bekas sayatan cukup ditekan dengan kapas steril kering.
4. Pada pemeriksaan ulangan dilakukan ditempat kelainan yang sama, bila
perlu ditambah dengan kelainan kulit yang baru timbul.
5. Sebaiknya petugas yang mengambil dan memeriksa sediaan apus
dilakukan oleh orang yang berlainan untuk menjaga pengaruh gambaran
khusus terhadap hasil pemeriksaan mikroskopis.
6. Spesimen dari selaput lendir hidung sebaiknya dihindarkan karena :
a. Tidak menyenangkan pasien
b. Kemungkinan false positip
c. Tidak pernah ditemukan Mycobacterium leprae pada selaput lendir
hidung bila sediaan apus kulit negatip.
d. Pada pengobatan, pemeriksaan BTA selaput lendir hidung negatif lebih
dulu paripada di kulit.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN GLUKOSA (Gula Darah)


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 107
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Darah dimasukan dalam strip test darah secara otomatis akan bereaksi dengan
pereaksi dalam strip glukosa meter.

Metode

Rapid Diagnostik.

Alat

Glukosa Meter.
Reagen : Strip Test.

Sampel

Whole Blood

Prosedur

1. Alat dalam kondisi Off


2. Masukan strip EZ Scan ke alat (inlet strip) dan secara otomatis alat
akan On (berfungsi).
3. Lihat kode yang tertera pada alat sama dengan kode yang tertera pada
botol kemasan EZ Scan strip. Jika kode diantara keduanya tidak
sama segera tombol S untuk menyamakanya.
4. Jika kode telah sama (pada langkah 3), tunggu beberapa detik dan
akan terlihat symbol tanda darah pada alat EZ Scan Strip.
5. Dekatkan ujung strip EZ Scan ke ujung jari (yang telah ditusuk jarum
lanset)), dan secara otomatis darah akan dihisap oleh EZ Scan Strip.
6. Lepaskan ujung jari, jika alat telah menunjukan tanda .... yang
diikuti angka 20.
7. Tunggu lebih kurang lebih 20 detik dan hasil akan tampil pada alat EZ
Scan.

Pelaporan

Di laporkan dalam satuan mg/dl

Nilai normal

Gula Darah Sewaktu


: 110 180 mg/dl
Gula Darah Puasa
: 70 110 mg/dl
Gula darah 2 jam sesudah makan : <150 mg/dl

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

Lampiran

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN CHOLESTEROL DARAH


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 108
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Darah dimasukan dalam strip test darah secara otomatis akan bereaksi dengan
pereaksi dalam strip cholesterol meter.

Metode

Rapid Diagnostik.

Alat

Cholesterol Meter.
Reagen : Strip Test.

Sampel

Whole Blood

Prosedur

1. Saat pertama diaktifkan, harus mengatur jam dan tanggal alat.


2. Buka tabung kemasan strip,ambil data-chip didalamnya dan pasangkan
data-chip pada holder chip dibagian belakang alat. Jika alat dalam posisi
ON maka alat akan berbunyi bip saat chip dipasang.
3. Periksa :
- Tampilan pada layar
- Angka data-chip pada layar sesuai dengan angka code pada label
kemasan strip
- Alat siap dipakai
4. Persilahkan pasien duduk dan istirahat sejenak.
5. Ambil strip dan segera tutup kembali tabung strip, pasangkan strip pada
alat dengan benar. Dari posisi OFF, saat strip dipasang alat otomatis ON.
6. Tusuk jari pasien dengan lancet/jarum steril,buang darah yang pertama
kali keluar. Keluarkan darah dari jari dengan memijit jari.
7. Saat tampilan darah berkedip pada alat segera teteskan darah satu tetes
pada lingkaran strip.
8. Hasil akan tampak pada layar.

Pelaporan

Di laporkan dalam satuan mg/dl

Nilai Normal

Kurang dari 200 mg/dl

Catatan

Jika pada layar tampil :


E01 artinya suhu dibawah 50C atau diatas 450C
Maka, pindah pemeriksaan ke ruang bersuhu 5 450C. Tunggu sesaat
supaya alat menyesuaikan suhu ruangan baru sebelum alat digunakan.
E02 - artinya terpasang tes strip bekas pakai atau warna reagen test strip
sudah berubah. Maka gunakan test strip baru untuk pemeriksaan.
- Test strip tidak terpasang dengan benar, cabut dan pasang kembali test
strip dengan benar.
- Lubang sensor atau optik alat kotor, buka cover depan optik
bersihkan
lubang dan optik dengan kapas yang dilembabkan
dengan air. Keringkan dengan tidak menggores kaca optik dan tutup
kembali.
E03 artinya test strip terlepas dari alat atau dicabut dari alat sebelum
digunakan untuk pemeriksaan.
Matikan alat dengan menekan tombol ON/OFF, pasang kembali test
strip dan gunakan untuk pemeriksaan. Test strip jangan dicabut sebelum
ditetesi darah dan pemeriksaan berakhir.
E04 Test strip yang digunakan tidak sesuai dengan data-chip.
Ganti data-chip dengan data-chip yang sesuai dengan test strip.
Pastikan
jenis strip sesuai dengan jenis pemeriksaan yang akan
dilakukan.
Pemasangan test strip terbalik.
Pasang kembali test strip. Perhatikan petunjuk strip.
Lubang sensor atau optik alat kotor.
Bersihkan lubang sensor dan kaca optik.
HI Hasil pemeriksaan tinggi, melebihi batas kemampuan alat
LO Hasil pemeriksaan rendah, dibawah batas bawah pembacaan alat.
Ulangi pemeriksaan dengan sampel lebih banyak.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

KALIBERASI GLUCOTEST
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 109
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip
Metode

Sampel kontrol dimasukan dalam strip test darah secara otomatis akan
bereaksi dengan pereaksi dalam strip glukosa meter.
Rapid Diagnostik.

Alat

Glukosa Meter.
Reagen : Sampel kontrol

Sampel

Sampel kontrol

Prosedur

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Hasil

Alat dalam kondisi Off


Masukan strip ke alat (inlet strip) dan secara otomatis alat akan On
(berfungsi).
Lihat kode yang tertera pada alat sama dengan kode yang tertera pada
botol kemasan strip. Jika kode diantara keduanya tidak sama segera
tombol S untuk menyamakanya.
Jika kode telah sama (pada langkah 3), tunggu beberapa detik dan akan
terlihat symbol tanda darah pada alat.
Dekatkan atau sentuhkan sampel kontrol ke strip, dan secara otomatis
sampel kontrol akan dihisap oleh strip.
Lepaskan sampel kontrol, jika alat telah menunjukan tanda .... yang
diikuti angka 20.
Tunggu lebih kurang 20 detik dan hasil akan tampil pada alat.

Jika hasil sesuai dengan stantard pada sampel kontrol maka alat masih dalam
kondisi bagus.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

SOP PEMERIKSAAN WIDAL


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 110
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Reaksi aglutinasi spesifik antara antigen yang sudah diketahui dengan


serumpenderita (Ab) yang belum diketahui.

Metode

Kuantitatif

Tujuan

Untuk mengetahui adanya antibody terhadap infeksi kuman salmonella


thypose.

Alat

Porselen
Pengaduk
Reagen: - Antigen Salmonella Thypi O.
- Antigen Salmonella Thypi H.
- Antigen Salmonella Para Thypi A.
- Antigen Salmonella Para Thypi B

Prosedur

Screning test
Letakan 1 tetes serum + 1 tetes antigen:
Salmonella Thypi O
Salmonella Thypi H
Salmonella Para Thypi A
Salmonella Para Thypi B
Pada tempat atau objeck glass kemudian digoyang 10 menit.
Hasil postif menunjukan adanya aglutin/aglutinasi

Kadar slide test:


Pada slide test:
1. Pada tempat objeck glass letakan:
0,08 ml serum
0,04 ml serum
0,02 ml serum
0,01 ml serum
0,005 ml serum
2. Tambahkan satu tetes antigen yang cocok yang menunjukan
aglutinin/aglutinasi dalam test screening.
3. Campur denga cara digoyang 10 menit
4. Lihat adanya aglutinasi.
5. Hasl ditulis dimana terdapat aglutinasi pada penambahan serum.

Serum Volume

Approximate Tube Test Titre

0,08 ml

1 : 20

0,04 ml

1 : 40

0,02 ml

1 : 80

0,01 ml

1 : 160

0,005 ml

1 : 320

Pelaporan

Dilaporkan dengan titer pengencerannya

Nilai normal

negatip

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN TEST KEHAMILAN


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

: 111
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Adanya hormon Human Chorionic Gonadotropin pada urin selama proses


kehamilan dapat bereaksi dengan HCG Latex sehingga terjadi agglutinasi.

Metode

Untuk mengetahui adanya kehamilan secara immunologi.

Alat

Wadah/botol urine
Reagen: HCG Latex.

Sampel

Urine

Prosedur

1. Teteskan 1 tetes urine dan 1 tetes HCG Latex diatas lingkaran reaksi.
2. Campur baik-baik dengan batang pengaduk disposibel.
3. Goyangkan dengan hati-hati slide selama 2 menit dengan gerakan
memutar sehingga cairan berputar perlahan-lahan didalam lingkaran
reaksi.
\4. Amati reaksi agglutinasi yang terjadi tepat 2 menit.

Interpretasi hasil

Positif : Terjadi agglutinasi


Negatif : Tidak terjadi agglutinasi

Hasil

Positif : menunjukkan adanya kehamilan


Negatif : menunjukkan tidak adanya kehamilan

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

KEWASPADAAN UNIVERSAL
DI LABORATORIUM

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

: 112
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Paraf

Prinsip

Pelayanan pada laboratorium membutuhkan proses dan menimbulkan efek


berbahaya bagi petugas. Dengan demikian kita wajib memiliki kewaspadaan
universal untuk mengurangi efek yang ditimbulkan dalam bekerja demi
keamanan diri.

\Prosedur

A. CARA KERJA HIGIENIS


1. Cuci tangan higienis sebelum dan sesudah bekerja
2. Menggunakan Alat Pelindung Diri seperti jas laboratorium, sarung
tangan, masker dan kaca mata.
3. Dilarang makan, minum, merokok di dalam laboratorium.
B. TATA RUANG DAN SANITASI RUANG LABORATORIUM
1. Ruang analisis spesimen harus terpisah dengan ruang staff administrasi
(dirty area terpisah dari clean area)
2. Reagen, spesimen disimpan secara terpisah pada dirty area dan diberi
tabel yang jelas.
3. Staff yang masuk dirty area harus memakai jas laboratorium.
4. Ruang analisis (dirty area) harus dibersihkan setiap hari, sebelum dan
sesudah bekerja dengan disinfektan (fenol 50% / lisol 0,5 % / Asam
karbol)
C. PENGELOLAAN SPESIMEN
Serum dari darah utuh diambil secara aseptis, dapat langsung dianalisis
atau disimpan pada temperatur 2-80C stabil selama 48 jam, jika
disimpan pada temperatur -200C stabil untuk waktu yang lebih lama
(beberapa bulan)
D. DEKONTAMINASI DAN PENANGANAN TUMPAHAN
1. Permukaan meja didisenfeksi setiap kali akan bekerja dan sesudah
bekerja, menggunakan sodium hipokhlorida 5-10 % (menggunakan
50.000 100.000 ppm zat khlor aktif)
2. Jika terjadi tumpahan (spesimen maupun reagen) tutup segera dengan
kertas atau tissue dan tuangi dengan disinfektan Na hipokhlorida 5-10
%, biarkan selama 30 menit dan bersihkan.
E. PENANGANAN LIMBAH
Meliputi : Pemilahan / Pemisahan dan Pengelolaan lanjutan
1. Limbah padat
( termasuk jarum, spuit, kertas penyerap tumpahan) dilakukan
disinfektan dengan Na hipokhlorida 5-10 %, sterilisasi dengan
autoclave dan insenerasi
2. Limbah cair
(termasuk sisa-sisa spesimen) dilakukan disinfeksi dengan disinfektan
fenol 50% atau Na hipokhlorida 5-10%, dan dibuang ke penampungan
limbah melalui saluran tertutup.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PERAWATAN MIKROSKOP
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015

No. Dokumen :

Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

Halaman
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

: 113
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Paraf

Tujuan

Untuk menjaga mikroskop dari kerusakan akibat jamur, debu dan minyak
imersi

Prinsip

Mencegah adanya jamur, debu, dan minyak imersi yang menempel pada
mikroskop supaya tidak mengakibatkan kerusakan pada mikroskop, karena
musuh utama mikroskop adalah jamur, debu dan minyak imersi.

Ruang Lingkup

Instruksi kerja ini berlaku di laboratorium sebagai petunjuk perawatan


mikroskop.

Alat yang
digunakan

Kertas / tissue lensa


Kotak mikroskop
Blower / peniup debu
Cotton bud / tusuk gigi
Kaca pembesar
Kuas

Bahan yang
digunakan

Eter alkohol ( 7 : 3 )
Silica gel

Prosedur

A. MENCEGAH PERTUMBUHAN JAMUR


1. Menjaga mikroskop tetap bersih dan kering
2. Masukkan mikroskop pada kotak yang dilengkapi lampu saat tidak
dipakai
3. Kotak mikroskop harus diberi silica gel
4. Tempatkan mikroskop pada lingkungan yang berventilasi baik dan
jauh dari sumber getaran.
B. MEMBERSIHKAN PERMUKAAN MIKROSKOP
Bersihkan permukaan mikroskop dengan menggunakan kuas.
C. MEMBERSIHKAN PERMUKAAN KACA DAN LENSA
Bersihkan permukaan kaca dan lensa dengan jalan ditiup menggunakan
dust blower.
D. MEMBERSIHKAN LENSA
1. Balutkan melingkar tissue lensa mengelilingi tusuk gigi (buang ujung
yang lancip karena bisa menyebabkan lensa tergores)
2. Bersihkan lensa dengan gerakan spiral, usapkan dari bagian dalam
kearah luar lensa.
E. MEMBERSIHKAN FILTER
1. Bungkus / tutup jari telunjuk dengan tissue lensa
2. Bersihkan dengan jalan mengusap filter dengan gerakan memutar
3. Usapkan dari bagian dalam kearah luar sampai filter bersih.
F.

Catatan

MEMBERSIHKAN LENSA OBYEKTIF


Bersihkan lensa obyektif dengan tissue lensa dengan sekali usap, khusus
untuk obyektif 100x bersihkan dengan eter alkohol dengan sekali usap.

Hindari membersihkan lensa bagian


menggunakan larutan pembersih.

dalam

dari

eyepiece

dengan

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

STERILISASI ALAT
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
No. Dokumen :
Revisi
:Halaman
: 114
Dibuat oleh :
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Bambang W, Amd
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Donik Sukartika W, Amd
Paraf :

Paraf :

Paraf

Pengertian

Suatu tindakan untuk membunuh kuman patogen dan apatogen beserta


sporanya pada peralatan perawatan medis dengan cara merebus stoom panas
tinggi atau menggunakan bahan kimia.

Tujuan

Untuk menjamin kualitas Alat kesehatan dan Linen dalam keadaan steril.

Penjelasan

Prosedur ini sebagai petunjuk untuk mensterilisasikan alat dengan benar.

Persiapan

1. Medis :
- Sarung tangan
2. Non Medis :
- Panci untuk mengukus
- Wastafel dengan air mengalir
- Ruangan 3 x 4 meter dengan ventilasi dan penerangan yang cukup.
- Bak perendaman.
- Sabun batang / cair dengan antiseptik / non antiseptik.
- Handuk/lap sekali pakai atau tisue untuk mengeringkan tangan.
- Tempat sampah medis beralas plastik dan tertutup.
- Tempat sampah non medis.

Prosedur

A. Dekontaminasi
1. Pemakaian sarung tangan
2. Menyiapkan bak perendam yang diisi dengan larutan klorin 0,5%
3. Memasukkan Alat kesehatan yang sudah terpakai dan bisa digunakan
lagi ke dalam bak perendam.
4. Biarkan selama kurang lebih 10 menit.
B. Pencucian & Pembilasan
1. Membuka kran dengan tangan
2. Mengambil alat bekas pakai yang sudah di Dekontaminasi (hati-hati
bila memegang peralatan yang tajam, seperti gunting, jarum jahit agar
tidak merusak benda-benda yang terbuat dari plastik/karet, jangan
dicuci secara bersamaan dengan peralatan dari logam/kaca)
3. Mencuci dengan hati-hati semua benda tajam.
4. Mengulangi prosedur untuk benda-benda lain, jika peralatan akan di
DTT secara kimiawi.
5. Peralatan yang akan di DTT dengan cara di kukus/ rebus tidak perlu
dikeringkan dulu sebelum proses sterilisasi dimulai.
6. Selagi masih menggunakan sarung tangan, cuci sarung tangan dengan
air dan sabun, kemudian bilas dengan menggunakan air bersih.
7. Melepas sarung tangan.
8. Menggantung sarung tangan dengan cara diangin-anginkan.
9. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

C. DTT dengan Rebus / Kukus


1. Mengambil panci dengan penutup yang rapat
2. Merendam peralatan di dalam air, sehingga semua terendam air.
3. Memulai memanaskan air.
4. Menghitung waktu saat air mendidih selama 20 menit.
5. Jangan tambahkan benda apapun saat air mendidih setelah
penghitungan waktu dimulai.
6. Biarkan peralatan kering dengan cara diangin-anginkan sebelum
digunakan / disimpan.
7. Saat peralatan kering gunakan segera / simpan dalam wadah DTT
bertutup.
8. Mengganti air setiap kali mendisinfeksi peralatan.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

APD (ALAT PELINDUNG DIRI)


PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
: 115
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Pengertian APD

Seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh
/ sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya /
kecelakaan kerja.

Tujuan

Melindungi anggota tubuh dan pakaian petugas dari pejanan sampel, cat,
maupun reagen yang bisa menyebabkan bahaya bagi petugas.

Penjelasan

Prosedur ini adalah petunjuk pemakaian APD dengan benar.

Kebijakan

Digunakan oleh petugas laboratorium sebagai pencegahan infeksi dan


bahaya akibat bahan kimia atau reagen.

Persiapan

Prosedur

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Topi
Sarung tangan
Masker
Kaca mata / pelindung wajah
Skort / jas laboratorium
Sepatu karet / bot

a. Sarung tangan :
1. Mencuci tangan dengan tujuh langkah
2. Mengambil sarung tangan.
3. Memasukkan jari-jari tangan sesuai dengan jari-jari sarung tangan.
4. Lakukan juga dengan tangan yang lain.
5. Melepas sarung tangah, kemudian masukkan dalam bengkok berisi
larutan desinfektan.
6. Mencuci tangan.
b. Masker :
1. Memasangkan masker menutupi hidung dan mulut serta mengikat
talinya.
2. Bagian atas, lewat atas telinga ke belakang kepala.
3. Pasangkan klip hidung dari logam flexibel pada batang hidung.
4. Pas-kan dengan erat pada wajah dan di bawah dagu.
5. Periksa ulang pengepasan masker sehingga melekat dengan baik.
c. Kaca mata / pelindung wajah :
1. Pasang pada wajah dan mata dan sesuaikan agar pas.
d. Skort / Jas Laboratorium
1. Tutupi badan sepenuhnya dari leher hingga lutut, lengan hingga
bagian lutut dengan memakai skort / jas laboratorium.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

CUCI TANGAN
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
:116
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Pengertian

Menggosok tangan dari kotoran dengan sabun/ antiseptik dan dibilas dengan
air mengalir.

Tujuan

1. Menjaga kebersihan perorangan.


2. Mencegah terjadinya infeksi silang.

Penjelasan

Prosedur ini sebagai petunjuk untuk mencuci tangan dengan benar.

Kebijakan

Dilakukan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

Alat yang
digunakan

1. Bak cuci & air mengalir (wastafel)


2. Sabun / antiseptic
3. Handuk / pengering

Prosedur

1. Melepaskan semua aksesoris pada tangan dan gulung lengan baju sampai
siku.
2. Melakukan inspeksi tangan dan jari, adanya luka/sayatan.
3. Menjaga agar tangan dan pakaian tidak menyentuh wastafel (jika tangan
menyentuh wastafel cuci tangan di ulang).
4. Mengalirkan air, hindari percikan pada pakaian.
5. Membasahi tangan dan lengan bawah, mempertahankannya lebih rendah
dari siku.
6. Menaruh sedikit sabun / antiseptik (2-4 CC) untuk sabun batang, pegang
& gosok sampai berbusa.
7. Menggosok kedua lengan dengan cepat, selama 10-15 detik.
8. Menggosok punggung tangan, sela-sela jari.
9. Menggosok sela-sela jari secara melingkar minimal 5x.
10. Menggosok ujung-ujung jari ketelapak tangan yang lain.
11. Membilas lengan dan tangan sampai bersih.
12. Menutup kran dengan siku (bila kran harus ditutup dengan tangan, cuci
kran dengan sabun terlebih dahulu sebelum membilas tangan).
13. Mengeringkan tangan dengan handuk / pengering.

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN DARAH LENGKAP


(HEMA ANALIZER )

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
:117
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Pengertian

Pemeriksaan darah lengkap meliputi : hitung jumlah lekosit, hitung jumlah


eritrosit, hitung jumlah trombosit, hemoglobin, hitung jenis lekosit, MCV,
MCH, dan MCHC.
Dimana masing-masing pemeriksaan mempunyai petunjuk atau fungsi
sendiri-sendiri, misalnya hitung jumlah lekosit untuk mengetahui apakah
tubuh terjadi infeksi berupa bakteri, virus, atau jamur. Tergantung dari
penyebab infeksi, tubuh akan memberikan reaksi yang berbeda. Pemeriksaan
hitung jumlah eritrosit untuk menentukan jenis dan penyebab anemia.
Pemeriksaan hitung trombosit untuk menilai fungsi pembekuan darah.
Pemeriksaan hemoglobin untuk mengetahui penyebab penyakit, untuk
persiapan operasi, untuk mengetahui indek eritrosit, atau perdarahan
tersembunyi. Pemeriksaan hematokrit untuk mengetahui jumlah lekosit secara
kasar, mengetahui kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit. Pemeriksaan hitung
jumlah lekosit untuk membantu diagnosis penyakit, misalnya malaria, untuk
kontrol terhadap pemeriksaan hematologi yang lain sebagai screning tes.
Pemeriksaan MCV, MCH, dan MCHC untuk mengetahui penyebab anamia
dan sebagai penunjang pemeriksaan yang lain.

Tujuan

Untuk menegakkan diagnosa suatu penyakit yang berhubungan dengan darah


atau untuk medical chek-up.

Penjelasan

Kebijakan

1. Pasien yang mengalami demam yang dicurigai terkena infeksi


2. Pasien yang memerlukan contoh darah untuk kebutuhan tranfusi darah.

Alat yang
digunakan

Alat :
1. Hema analizer
2. Tabung reaksi kecil
3. Rak tabung
4. Thermal paper
Reagensia :
1. Diluent
2. Lyse
3. Eight Check
4. Larutan EDTA 10 %

Prosedur

1. Melaksanakan pemeriksaan pada alat


- Periksa ketersediaan reagen
- Periksa ketersediaan kertas printer
- Periksa selang-selang dan kabel power. Pastikan tidak ada selang terjepit
dan kabel power terpasang pada stop kontak dengan baik.
2. Hidupkan alat dengan menekan saklar pada posisi on
3. Alat melakukan self check secara otomatis pada mikroprosesor dan motor
secara otomatis pula menjalankan background check.
4. Pastikan nilai background sesuai dengan specifikasi
5. Melakukan eight check atau quality control
- Menetapkan nilai target/ limit darah kontrol
- Menjalankan darah kontrol
6. Analisa sampel
Sampel Whole Blood ( WB )
- Pastikan alat dalam status READY. Tekan tombol WB.
- Homogenisasikan darah sampel yang akan diperiksa dengan baik dan
letakkan diatas dapter sampel.
- Tutup dan tekan RUN.
- Hasil akan tampil pada layar dan secara otomatis tercetak pada kertas
printer.

Pelaporan

Nilai Normal

Hitung jumlah lekosit :


Hitung jumlah eritrosit :
Hitung jumlah trombosit :150.000-450.000/cmm
Hemoglobin :
Hematokrit :
Hitung jumlah lekosit :
MCV :
MCH :
MCHC :

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan Laboratorium

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN URINE LENGKAP

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
:118
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Pengertian

Banyak keterangan yang diperoleh dari hasil pemeriksaan urine, walaupun


macam pemeriksaan yang dilakukan hanyalah sederhana.
Hasil pemeriksaan ini dapat ddipakai untuk menunjang diagnosa penyakit
baik didalam maupun diluar ginjal dan saluran kemih yang mempunyai arti
penting didalam menunjang kemungkinan dini penyakit ginjal.
Pelaporan hasil menurut apa adanya sangat diperlukan dan diyakini, tanpa
keraguan akan penemuan kelainan didalam urine merupakan modal sangat
berharga.
Agar hal tersebut dapat terlaksana dengan baik maka diperlukan sikap tenang,
teliti,terampill, penuh kesabaran dan rasa tanggung jawab yang dapat
diperoleh melalui latihan dan pengalaman serta pengetahuan yang cukup
tentang urinalisa.

Tujuan

Untuk mendapatkan keterangan yang terdapat dalam urine yang diperiksa

Penjelasan

Kebijakan

1. Kasus kelainan saluran kemih


2. Kecurigaan diabetes millitus
3. Kasus resiko tinggi ibu hamil

Alat yang
digunakan

Stik urine 10 parameter/ 3 parameter


Botol urine
Tabung centrifuge
Centrifuge
Objek glas
Cover glas
Mikroskop

Prosedur

Jenis urine yang diperlukan untuk pemeriksaan yaitu :


1. Urine Sewaktu yaitu :
Urine yang dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan (sewaktu-waktu)
Baik untuk pemeriksaan urine rutin
2. Urine Pagi yaitu :
Urine yang dikeluarkan pertama pada pagi hari setelah bangun tidur
Lebih pekat, baik untuk pemeriksaan Tes kehamilan
3. Urine Post Prandial yaitu :
Urine yang pertama kali dikeluarkan 1 - 3 jam sehabis makan
4. Urine 24 Jam yaitu :
Bila diperlukan penetapan kualitatif sesuatu zat yang terdapat didalam
urine dalam waktu tertentu. Biasanya dimulai dari jam 7 pagi hari ini
sampai dengan jam 7 pagi esok hari.
Tahap Kerja :
1. Kocok urine dalam botol dan dibagi 2 tabung, tabung 1 untuk pemeriksaan
pH, berat jenis, protein, reduksi, billirubin, dan urobillin. Dan tabung 2
untuk pemeriksaan sedimen.
2. Celupkan stik pemeriksaan pada urine didalam tabung 1 dan tunggu 10 -20
detik.
3. Amati perubahan warna yang terjadi dan bandingkan dengan warna
standart yang terdapat diluar botol stik pemeriksaan.
4. Urine yang terdapat dalam tabung 2 dimasukkan kedalam tabung
centrifuge dan diputar dengan kecepatan 1500 rpm selama 15 menit.
5. Cairan yang jernih dibuang dengan membalikkan tabung dengan cepat. dan
endapan yang tersisa diambil dengan pipet dan teteskan pada objek glas
dan ditutup dengan cover glas.
6. Periksa dibawah mikroskop, mula-mula dengan pembesaran obyektif 10X
kemudian 40X.
7. Amati beberapa lapangan pandang (1 10 LP )
8. Amati dan catat adanya unsur-unsur sedimen organik dan anorganik yang
ada.

Dokumen

Lembar hasil pemeriksaan, buku kunjungan laboratorium

Laporan

Lembar hasil pemeriksaan manual, elektronik

Kaitan dengan
prosedur lain
Lampiran

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN URIC ACID

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
119
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Darah dimasukkan dalam strip test darah secara otomatis akan bereaksi
dengan pereaksi dan terbaca didalam uric acid meter

Metode

Rapid Diagnostik

Tujuan

Untuk mengetahui kadar uric acid yang terdapat didalam darah

Alat yang
digunakan

Uric acid meter


Reagen Strip test
Lancet
Autoclik

Sampel

Whole blood

Prosedur

1. Alat dalam kondisi Off


2. Masukkan strip UA ke alat dan secara otomatis alat akan ON (berfungsi)
3. Lihat kode yang tertera pada alat sama dengan kode yang tertera pada botol
kemasan Strip UA, jika kode sudah sama tunggu beberapa detik dan akan
terlihat simbol tanda darah pada alat.
4. Dekatkan ujung strip UA ke ujung jari ( yang telah ditusuk dengan lancet),
dan secara otomatis darah akan terhisap oleh Strip UA.
5. Lepaskan ujung jari, jika alat telah berbunyi.yang diikuti angka 20.
6. Tunggu kurang lebih 20 detik dan hasil akan tampil pada alat Uric acid
meter.

Pelaporan

Hasil dilaporkan dalam satuan mg/dl

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI

PEMERIKSAAN N. GONORRHOEA

Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015


Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman 120
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Dengan pewarnaan Gram, kuman Neisseria gonorrhoea akan menyerap cat


Carbol Fuchsin sehingga kuman akan berwarna merah

Tujuan

Mencari kuman Neiserria dalam secret genital

Persiapan pasien

a. Pasien dalam pengobatan, obat perlu dihentikan sehari sebelum


pengambilan specimen
b. Sebaiknya pengambilan specimen pada pagi hari sebelum buang air kecil
c. Pada wanita dengan Gonorrhoea kronis, specimen sebaiknya diambil
sebelum atau sesudah haid

Prosedur

A. Pengambilan specimen
1. Alat
- Kapas/ lidi steril
- Kaca objek yang bersih dan kering
- Lampu spiritus
- Kursi obstetrik
- Speculum vaginal steril
- Sarung tangan steril
- Pensil kaca
- Larutan salin/ PZ steril
2. Cara pengambilan
Pasien laki-laki
- Bersihkan lubang kemaluan dengan lidi kapas yang dibasahi dengan
larutan salin.
Jangan gunakan larutan anti septik
- Dengan tekanan yang ringan pada alat kemaluan diurut dari bagian
pangkal ke arah ujung ( belakang ke ujung )
- Sekret yang didapat dioleskan pada kaca objek. Bilamana tidak ada sekret
yang keluar masukkan lidi kapas steril kedalam ureter sedalam 2-3 cm
dan putar pelan-pelan sebelum ditarik keluar. Kemudian dilebarkan
dengan memakai ose sehingga didapatkan sediaan yang cukup tipis.
Pasien wanita
- Pasien berbaring terlentang dengan kedua lutut ditekuk pada kursi
obstetrik
- Masukkan speculum steril yang telah dilunakkan dengan air hangat
dengan hati-hati dan speculum dibuka
- Masukkan ujung lidi kapas steril sedalam 2-3 cm kedalam endocervix
Gerakkan lidi kapas melingkar kekanan dan diamkan beberapa saat untuk
penyerapan
- Sekret yang didapat dioleskan pada kaca objek yang telah diberi nomor
untuk dibuat sediaan

B. Pembuatan sediaan
1. Alat
- Forsep
- Rak pewarna
- Rak pengering
- Larutan Alkohol 95%
2. Reagen cat Giemsa : - Larutan Carbol Gentian Violet
- Larutan Lugol/ Iodine
- Larutan Carbol Fuchsin
3. Cara
- Setelah specimen dioleskan di kaca objek, biarkan kering. Setelah kering,
fiksasi dengan melakukan diatas nyala api lampu spiritus
Hindari pemanasan yang berlebihan
- Tuangi larutan Carbol Gentian Violet selama 30 detik
- Cuci dengan air mengalir
- Tuangi dengan larutan Lugol/ Iodin selama 30 detik
- Cuci dengan air mengalir
- Tuangi dengan Alkohol 95% selama 2-3 detik atau sampai warna ungu
hilang, lalu cuci kembali dengan air mengalir
- Tuangi dengan larutan Carbol Fuchsin selama 30 detik
Cuci dengan air mengalir
- Keringkan di rak pengering
Cara pemeriksaan
1. Alat
- Mikroskpo
- Minyak imersi
2. Cara
- Sediaan yang sudah diwarnai dan sudah kering diperksa dibawah
mikroskop
- Teteskan 1 tetes minyak imersi diatas sediaan dan periksa dengan
pembesaran objektif 100x dan okuler 10x
- Carilah kuman Neissria gonorrhoea yang oleh pengecatan berwarna
merah, berbentuk menyerupai biji kopi/ ginjal yang saling berhadapan
pada sisi yang berlekuk dan tersusun dua-dua sehingga disebut
Diplococcus.Kuman dapat terletak didalam ( intrasellular ) maupun diluar
( ekstrasellular ) dari sel lekosit
Pelaporan

Bila pada pemeriksaan ditemukan adanya kuman gonococcus maka


dilaporkan sebagai :
Gram - diplococcus intra selluler +/ekstra selluler +/Bila pada pemeriksaan tidak ditemukan adanya kuman gonococcus maka
dilaporkan : Tidak ditemukan kuman diplococcus
Selain dari diplococcus, adanya Staphylococcus, Streptococcus, jamur atau
lekosit dan lain-lain juga perlu dilaporkan

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS

PEMERIKSAAN TINJA

PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
: 121
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Prinsip

Dengan penembahan zat Eosin atau Lugol maka mikro organisme dan unsurunsur lain dalam tinja akan tampak jelas

Tujuan

Melihat adanya kelainan-kelainan dalam tinja, baik secara makroskopis


maupun secara mikroskopis

Persiapan pasien

Pasien tidak dibenarkan makan obat pencahar

Prosedur

Pengambilan / Pengumpulan specimen


a. Wadah
Pot plastik yang bermulut lebar bertutup dan bersih
b. Alat
- Lidi kapas/ spatel kayu
- Lidi
c. Cara segar
1. Tinja sebaiknya diambil pada pagi hari. Ambil tinja bagian tengah
sebesar ujung ibu jari, masukkan kedalam wadah dan tutup rapat
2. Rectal swab
Cara pemeriksaan
A. Makroskopis
- Specimen diperiksa ditempat yang terang
- Perhatikan warna, bau, konsistensi, adanya darah, lendir, cacing dll
B. Mikroskopis
1. Alat
- Lidi
- Kaca objek
- Kaca penutup
- Mikroskop
2. Reagen
- Larutan Eosin 2%/ Lugol
3. Cara pembuatan
- Tetesi kaca objek dengan 1 tetes larutan Eosin/ Lugol
- Ambil tinja dibagian tengah atau permukaan yang mengandung darah/
lendir seujung lidi
- Aduk sampai rata dan tutup dengan kaca penutup
- Lihat dibawah mikroskop mula-mula pembesaran 10x kemudian 40x

Pelaporan

A. Makroskopis
- Warna
- Bau
- Konsistensi
- Darah : ada/ tidak
- Lendir : ada/ tidak
- Cacing dewasa
B. Mikroskopis
- Telur cacing
- Amuba
- Larva
- Eritrosit
- Lekosit
- Lemak
- Sisa makanan
- Dll

Catatan

- Untuk pemeriksaan amuba harus segera diperiksa


- Tinja tidak boleh disimpan terlalu lama

Referensi

Balai Laboratorium Kesehatan Surabaya, Pedoman pemeriksaan laboratorium


untuk Tehnisi Laboratorium Puskesmas dan Rumah Sakit,1986

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

PROSEDUR KLINIS
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI

PEMERIKSAAN RAPID HIV 1&2 ANTIBODY

Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015


Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman 122
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

Tujuan

Diagnosa cepat infeksi HIV 1&2 sangatlah penting untuk penanganan pasien
dan penyakit tersebut. Pengembangan test cepat ( 5 30 menit )
immunokromatografi merupakan penyaringan awal untuk mendeteksi adanya
antibodyterhadap HIV type 1, HIV type 2 dan subtype 0 didalam serum/
plasma dan darah pasien

Sampel

Serum, plasma, atau darah


- Plasma harus dicentrifuge terlebih dahulu.
- Hasil tebaik bila sampel diperiksa segera setelah diambil. Sampel haruslah
dibekukan ( - 20C atau lebih ) jika tes akan dilakukan lebih dari 3 hari
setelah pengambilan

Alat yang
digunakan

- Test Card HIV 1&2


- Sampel Diluent Buffer
- Pipet kecil

Prosedur

1. Bawa tes dan sampel ke suhu ruang


2. Buka bungkus ambil kartu, letakkan pada permukaan datar
3. Untuk specimen Serum/ Plasma : teteskan 1 tetes serum/ plasma
( 25 uL) ke lubang sampel (S), kemudian teteskan 1 tetes buffer (40uL)
dan jalankan timer
4. Untuk specimen Darah : teteskan 2 tetes darah (50uL) kedalam lubang
sampel (S) , kemudian teteskan 2 tetes buffer (80 uL) dan jalankan timer
5. Bacalah hasil antara 5 30 menit setelah diteteskan buffer

Interpretasi Hasil

- Positif : Terbentuk 2 atau 3 garis berwarna, pada zona garis Tes 1 atau 2
dan pada zona garis Control
- Negatif : Terbentuk 1 warna garis pada garis Control saja
- Invalid : Jika tidak timbul garis warna pada zona control maka tes
dinyatakan gagal. Ulangi tes dengan alat baru

Referensi

1. Mllich DR.1989 Synthetic T and B cell recognition sites : Implication for


vaccine development. Adv Immunol 45 : 195-282
2. Coffin JM. 1986 Genetic variation in AIDS viruses . Cell 46:1-4

SISTEM MANAJEMEN MUTU ( SMM )

LABORATORIUM
PUSKESMAS SINE
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN NGAWI
Tanggal Terbit : 01 / 02 / 2015
Revisi
:Dibuat oleh :
Bambang W, Amd
Donik Sukartika W, Amd

No. Dokumen :
Halaman
:123
Disetujui oleh :
Disetujui oleh :
Dr. Agung Wahyu Hidayat
Dr. Agung Wahyu Hidayat

Paraf :

Paraf :

Paraf

RAWAT INAP

1. Petugas datang jam 08.00 Wib dan mengambil buku permintaan


pemeriksaan laboratorium di ruang jaga rawat inap dan UGD.
2. Masuk ke ruang laboratorium dan membalik papan keterangan buka
3. Menyalakan komputer dan alat pemeriksaan.
4. Menyiapkan peralatan pengambilan sampel
5. Melakukan pengambilan sampel pada pasien rawat inap dan UGD, serta
sampel rujukan
6. Menerima dan menyiapkan sampel untuk dilakukan pemeriksaan
7. Catat hasil pemeriksaan pada buku register dan blangko hasil
8. Mengantar hasil pemeriksaan ke ruang rawat inap dan UGD
9. Membersihkan dan merapikan peralatan
10. Entry data
11. Membalik papan keterangan tutup dan tutup ruangan.

RAWAT JALAN

1. Petugas datang jam 08.00 Wib


2. Masuk ke ruang laboratorium dan membalik papan keterangan buka
3. Menyalakan komputer dan alat pemeriksaan.
4. Pasien dipersilahkan duduk dan minta lembar permintaan pemeriksaan dari
Poli yang merujuk
4. Menyiapkan peralatan pengambilan sampel
5. Melakukan pengambilan sampel
6. Menyiapkan sampel untuk dilakukan pemeriksaan
9. Sambil menunggu, pasien dipersilahkan membayar biaya pemeriksaan di
kasir.
10. Catat hasil pemeriksaan pada buku register dan blangko hasil
11. Menyerahkan hasil pemeriksaan pada pasien dan mempersilahkan
kembali pada poli yang merujuk.
12. Membersihkan dan merapikan peralatan
13. Entry data
14. Membalik papan keterangan tutup dan tutup ruangan.