Anda di halaman 1dari 8

Nama : Yosepha

NIM : I4051161018
LAPORAN PENDAHULUAN (LP)
STROKE HEMORAGIK
1. Definisi
Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi
penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun (Smeltzer and Bare, 2002). Menurut
Doenges (2000) stroke/penyakit serebrovaskuler menunjukan adanya beberapa kelainan otak
baik secara fungsional maupun struktural yang disebabkan oleh keadaan patologis dari
pembuluh darah serebral atau dari seluruh sistem pembuluh darah otak.
Menurut Corwin (2009) ada dua klasifikasi umum cedera vascular serebral
(stroke) yaitu iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik terjadi akibat penyumbatan aliran
darah arteri yang lama kebagian otak. Stroke Hemoragik terjadi akibat perdarahan dalam
otak.
Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah
otak. Hamper 70% kasus stroke hemoragik terjadi pada penderita hipertensi (Sudoyo, 2009).
2. Etiologi
Menurut Muttaqin (2008) perdarahan intracranial atau intraserebri meliputi
perdarahan di dalam ruang subarachnoid atau di dalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini
dapat terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi. Pecahnya pembuluh darah otak
menyebabkan perembesan darah ke dalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan
penekanan, pergesaran, dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan, sehingga otak akan
membengkak, jaringan otak tertekan sehingga terjadi infark otak, edema, dan mungkin
herniasi otak.
Penyebab perdarahan otak yang paling umum terjadi:
a. Aneurisma (dilatasi pembuluh darah) berry, biasanya defek congenital
b. Aneurisma fusiformis dari aterosklerosis
c. Aneurisma mikotik dari vaskulitis nekrose dan emboli sepsis.
d. Malformasi arteriovena, terjadi hubungan persambungan pembuluh darah arteri, sehingga
darah arteri langsung masuk vena
e. Rupture arteriol serebri, akibat hipertensi yang menimbulkan penebalan dan degenerasi
pembuluh darah.

3. Faktor Resiko
Faktor resiko yang tidak dapat diubah:

a. Jenis kelamin
Penelitian menunjukkan bahwa pria lebih banyak terkena stroke daripada wanita,
yaitu mencapai kisaran 1,25 kali lebih tinggi. Namun anehnya, justru lebih banyak wanita
yang meninggal dunia karena stroke. Hal ini disebabkan pria umumnya terkena serangan
stroke pada usia muda. Sedangkan, para wanita justru sebaliknya, yaitu saat usianya
sudah tinggi (tua) (Wiwit S., 2010).
b. Usia
Siapa pun tidak akan pernah bisa menaklukkan usia. Sudah menjadi rahasia
umum bahwa usia itu kuasa Tuhan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa 2/3
serangan stroke terjadi pada usia di atas 65 tahun. Meskipun demikian, bukan berarti usia
muda atau produktif akan terbebas dari serangan stroke (Wiwit S., 2010).
c. Keturunan
Terdapat dugaan bahwa stroke dengan garis keturunan saling berkaitan. Dalam hal
ini, hipertensi, diabetes, dan cacat pada pembuluh darah menjadi faktor genetik yang
berperan. Cadasil, yaitu suatu cacat pada pembuluh darah dimungkinkan merupakan
faktor genetik yang paling berpengaruh. Selain itu, gaya hidup dan pola makan dalam
keluarga yang sudah menjadi kebiasaan yang sulit diubah juga meningkatkan resiko
stroke (Wiwit S., 2010).
Faktor resiko yang dapat dirubah :
a. Hipertensi
b. Penyakit jantung
c. Kolesterol tinggi
d. Obesitas
e. Diabetes melitus
f. Polisitemia
g. Masalah emosional
Kebiasaan hidup (Sotirius, 2000):
a. Merokok
Beberapa laporan, termasuk meta-analisis angka studi, menunjukkan bahwa merokok
jelas menyebabkan peningkatan risiko stroke untuk segala usia dan kedua jenis kelamin,
tingkat risiko berhubungan dengan jumlah batang rokok yang dihisap, dan penghentian
merokok mengurangi risiko, dengan resiko kembali seperti bukan perokok dalam masa
lima tahun setelah penghentian.
b. Peminum alkohol
Ada peningkatan risiko infark otak, dan perdarahan subarakhnoid dikaitkan dengan
penyalahgunaan alkohol pada orang dewasa muda. Mekanisme dimana etanol dapat
menghasilkan stroke termasuk efek pada darah tekanan, platelet, osmolalitas plasma,
hematokrit, dan sel-sel darah merah. Selain itu, alkohol bisa menyebabkan miokardiopati,
aritmia, dan perubahan di darah aliran otak dan autoregulasi.
c. Obat-obatan
Obat yang telah berhubungan dengan stroke termasuk methamphetamines, norepinefrin,
LSD, heroin, dan kokain. Amfetamin menyebabkan sebuah vaskulitis nekrosis yang
dapat mengakibatkan pendarahan petechial menyebar, atau fokus bidang iskemia dan

infark. Heroin dapat timbulkan sebuah hipersensitivitas vaskular menyebabkan alergi .


Perdarahan subarachnoid dan difarction otak telah dilaporkan setelah penggunaan kokain.
d. Aktivitas yang tidak sehat: kurang olahraga, makanan berkolesterol.
4. Klasifikasi
Stroke hemoragik ada 2 jenis, yaitu:
a. Hemoragik Intraserebral : pendarahan yang terjadi didalam jaringan otak.
b. Hemoragik Subaraknoid : pendarahan yang terjadi pada ruang subaraknoid (ruang sempit
antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak). (NANDA NIC NOC)
5. Komplikasi
Peningkatan tekanan intrakranial dan herniasi adalah komplikasi yang paling
ditakutkan pada perdarahan intraserebral. Perburukan edema serebri sering mengakibatkan
deteoriasi pada 24-48 jam pertama. Perdarahan awal juga berhubungan dengan deteorisasi
neurologis, dan perluasan dari hematoma tersebut adalah penyebab paling sering deteorisasi
neurologis dalam 3 jam pertama. Pada pasien yang dalam keadaan waspada, 25% akan
mengalami penurunan kesadaran dalam 24 jam pertama. Kejang setelah stroke dapat muncul.
Selain dari hal-hal yang telah disebutkan diatas, stroke sendiri adalah penyebab utama dari
disabilitas permanen (Denise, 2010).
6. Patofisiologi
Beragam faktor pencetus stroke hemoragik menyebabkan penimbunan lemak dan
kolesterol didalam darah meningkat. Lemak yang sudah nekrotik dan berdegenerasi menjadi
kapur menyebabkan pembulh darah menjadi kaku. Apabila pembuluh darah diotak menjadi
kaku dan pecah maka terjadilah stroke hemoragik. Suplai oksigen ke otak menurun
menyebabkan gangguan gangguan pada nervus nervus saraf di otak. Berkurangnya aliran
darah ke otak menyebabkan hipoksemia daerah regional otak dan menimbulkan reaksi-reaksi
berantai yang berakhir dengan kematian sel-sel otak dan unsur-unsur pendukungnya.
Penghentian total aliran darah ke otak menyebabkan hilangnya kesadaran dalam
waktu 15-20 detik dan kerusakan otak yang irreversibel terjadi setelah tujuh hingga sepuluh
menit. Penyumbatan pada satu arteri menyebabkan gangguan di area otak yang terbatas
(stroke). Mekanisme dasar kerusakan ini adalah selalu defisiensi energi yang disebabkan oleh
iskemia. Perdarahan juga menyebabkan iskemia dengan menekan pembuluh darah di
sekitarnya.
Disfungsi pada nervus XI menyebabkan gangguan motoric sehingga terjadi hambatan
mobilitas fisik yang dapat menyebabkan tirah baring lama dan beresiko mengalami luka
dekubitus. Disfungsi pada nervus VII dan IX menyebabkan control otat wajah dan oral
menjadi lemah sehingga menyebabkan ketidakmampuan bicara.
(Pathway terlampir)
7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Angiografi cerebral

b.
c.
d.

e.

Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik seperti perdarahan


arteriovena atau adanya ruptur dan untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurism
atau malformasi vaskular.
Lumbal pungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan lumbal
menunjukkan adanya hemoragi pada subarakhnoid atau perdarahan pada intrakranial.
CT scan
Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma,
adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya secara pasti.
MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan bsar terjadinya
perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang mengalami lesi dan infark dari
hemoragik.
EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan dampak dari
jaringan yang infrak sehingga menurunnya impuls listrik dalam jaringan otak.

8. Tata Laksana
Terapi umum : Pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICU jika volume hematoma
>30mL, perdarahan intravetrikuler dengan hidrosefalus, dan keadaan klinis cenderung
memburuk. Tekanan darah harus diturunkan sampai tekanan darah premorbid atau 15-20%
bila tekanan sistolik >180 mmHg, diastolik >120 mmHg, MAP >130 mmHg, dan volume
hematoma bertambah. Bila terdapat gagal jantung, tekanan darah harus segera diturunkan
dengan labetalol iv 10 mg (pemberian dalam 2 menit) sampai 20 mg (pemberian dalam 10
menit) maksimum 300mg; enalapril iv 0,625-1,25 mg per 6 jam; kaptopril 3 kali 6,25-25 mg
per oral. Jika didapatkan tanda tekanan intrakranial meningkat, posisi kepala dinaikkan 30 0,
posisi kepala dan dada di satu bidang, pemberian mannitol dan hiperventilasi (pCO 2 20-35
mmHg). Penatalaksanaan umum sama dengan stroke iskemik, tukak lambung diatasi dengan
antagonis H2 parenteral, sukralfat, atau inhibitor pompa proton; komplikasi saluran napas
dicegah dengan fisioterapi dan diobati dengan antibiotik spektrum luas.
Terapi khusus: Neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifat vasodilator.
Tindakan bedah mempertimbangkan usia dan letak perdarahan yaitu pada pasie yang
kondisinya kian memburuk dengan perdarahan serebelum berdiameter >3 cm 3, hidrosefalus
akut akibat perdarahan intaventrikel atau serebelum, dilakukan VP-shunting, dan perdarahan
lobar >60 mL dengan tanda peningkatan tekanan intracranial akut dan ancaman herniasi.
Pada perdarahan subaraknoid, dapat digunakan antagonis Kalsim (nimodipin) atau tindakan
bedah (ligase, embolisasi, ekstirpasi, maupun gamma knife) jika penyebabnya adalah
aneurisma atau malformasi arteri-vena (arteriovenous malformation, AVM). (NANDA NICNOC)
9. Diagnosa Keperawatan
No Diagnosa
Tujuan/KH

Intervensi

Rasional

1.

Keperawatan
dan
Hambatan
mobilitas
fisik
b.d
penurunan
kekuatan otot

NOC:
NIC :
Ambulasi/ROM
1.Terapi latihan
normal
Mobilitas sendi
dipertahankan.
o Jelaskan
pada
klien&keluarga
KH:
tujuan
latihan
o Sendi tidak
pergerakan sendi.
kaku
o
Monitor lokasi dan
o Tidak terjadi
ketidaknyamanan
atropi otot
selama latihan
o Gunakan
pakaian
yang longgar
o Kaji
kemampuan
klien
terhadap
pergerakan
o Encourage ROM aktif
o Ajarkan
ROM
aktif/pasif
pada
klien/keluarga.
o Ubah posisi klien tiap
2 jam.
o Kaji
perkembangan/kemaj
uan latihan
2. Self care Assistance
o Monitor kemandirian
klien
o bantu perawatan diri
klien dalam hal:
makan,mandi,
toileting.
o Ajarkan
keluarga
dalam
pemenuhan
perawatan diri klien.

Pergerakan aktif/pasif
bertujuan
untuk
mempertahankan
fleksibilitas sendi

Ketidakmampuan
fisik dan psikologis
klien
dapat
menurunkan
perawatan diri seharihari
dan
dapat
terpenuhi
dengan
bantuan
agar
kebersihan diri klien
dapat terjaga

2.

3
.

Resiko
ketidakefekti
fan perfusi
jaringan
serebral b.d
perdarahan
otak, oedem

NOC:
NIC : Perawatan sirkulasi 1. mengetahui
Perfusi jaringan Peningkatan
kecenderungan tk
perfusi
cerebral.
kesadaran
dan
jaringan otak
indikator :
potensial
o Perfusi
peningkatan TIK
Aktifitas :
dan
mengetahui
jaringan yang 1. Monitor
status
lokasi.
Luas dan
adekuat
neurologik
kemajuan
didasarkan
2. monitor status respirasi
kerusakan SSP
pada tekanan 3. monitor bunyi jantung
2.
Ketidakteraturan
nadi
perifer, 4. letakkan kepala dengan
pernapasan dapat
kehangatan
posisi agak ditinggikan
memberikan
kulit,
urine
dan dalam posisi netral
gambaran lokasi
output
yang 5. kolaborasi pemberian
kerusakan/peningk
adekuat
dan
obat
atan TIK
tidak
ada 6. berikan Oksigen sesuai
3.
Bradikardi dapat
gangguan pada
indikasi
terjadi
sebagai
respirasi
akibat
adanya
kerusakan otak.
4. Menurunkan
tekanan
arteri
dengan
meningkatkan
drainase
&
meningkatkan
sirkulasi
5. Pencegahan/pengo
batan penurunan
TIK
6. Menurunkan
hipoksia
Defisit
NOC :
NIC : Self Care
perawatan
Self
Care 1. Observasi kemampuan 1. Dengan
klien
untuk
mandi,
menggunakan
diri
b.d Assistance( mand
berpakaian
dan
makan.
intervensi
kelemahan
i,
berpakaian,
2. Bantu klien dalam posisi
langsung dapat
fisik
makan, toileting.
duduk,
yakinkan
kepala
menentukan
KH:
dan
bahu
tegak
selama
intervensi yang
-Klien terbebas
makan dan 1 jam setelah
tepat untuk klien
dari bau, dapat
makan
2. Posisi
duduk
makan
sendiri,
3. Hindari
kelelahan
membantu proses
dan
berpakaian
sebelum makan, mandi
menelan
dan
sendiri
dan berpakaian
mencegah
4. Dorong klien untuk tetap
aspirasi
makan sedikit tapi sering
3. Konservasi

energi
meningkatkan
toleransi aktivitas
dan peningkatan
kemampuan
perawatan diri
4. Untuk
meningkatkan
nafsu makan
4.

Resiko
kerusakan
intagritas
kulit
b.d
faktor
mekanik

NOC:
NIC: Berikan manajemen
mempertahankan tekanan
integritas
1. Lakukan penggantian
alat tenun setiap hari
kulitindikator :
dan tempatkan kasur
Tidak
terjadi
yang sesuai
kerusakan kulit
ditandai dengan 2. Monitor kulit adanya
area kemerahan/pecah2
tidak
adanya
3. monitor
area
yang
kemerahan, luka
tertekan
dekubitus
4. berikan masage pada
punggung/daerah yang
tertekan serta berikan
pelembab pad area yang
pecah2
5. monitor status nutrisi

1. Meningkatkan
kenyamanan dan
mengurangi
resiko gatal-gatal
2. Menandakan
gejala awal
lajutan kerusakan
integritas kulit
3. Area
yang
tertekan biasanya
sirkulasinya
kurang
optimal
shg
menjadi
pencetus lecet
4. Memperlancar
sirkulasi
5. Status nutrisi baik
dapat membantu
mencegah
keruakan
integritas kulit.

Referensi :
Corwin, Elizabeth J. (2009).Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Doenges, Marilynn E. dkk. 2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan,
EGC; Jakarta.
Huda, Amin. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA
NIC-NOC. Jakarta: Mediaction Publishing.
Muttaqin, Arif. (2008). BukuAjar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Nasissi, Denise. 2010. Hemorrhagic Stroke Emedicine. Medscape.
Smeltzer and Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 3. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

Sotirios AT,. 2000. Differential Diagnosis in Neurology and Neurosurgery. New York. Thieme
Stuttgart.
Sudoyo, Aru W, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.
Wiwit. S. 2010. Stroke dan penanganannya, Yogyakarta : Katahari.