Anda di halaman 1dari 3

SLE

Systemic Lupus Erythematosus adalah suatu peradangan kronis jaringan


ikat mengenai sendi, ginjal, selaput serosa permukaan, dan dinding
pembuluh darah yang belum jelas penyebabnya. Peradangan kronis ini
mengenai perempuan muda dan anak-anak. 90% penderita SLE adalah
perempuan.
Keluhan dan Gejala
Gambaran klinik SLE sangat bervariasi antara satu pasien SLE yang satu
dengan yang yang lainnya. Gejala terjadi dimulai dengan timbulnya
demam akibat adanya suatu infeksi. Gejalanya hilang-hilang timbul
selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun yang diselingi demam dan
badan lemah.
Keluhan penderita SLE yang lain adalah sakit kepala, kejang epilepsi, dan
gangguan kejiawaan (psikose) sering merupakan keluhan awal.
Pengelompokan Gejala SLE
a. Gejala pada persendian
Mulai dari keluhan nyeri pada banyak persendian yang hilang-hilang
timbul sampai keluhan nyeri sendi akut, merupakan keluhan awal
90% penderita SLE.
Dalam keadaan SLE berlangsung lama, terjadi erosi sendi tulang
telapak kaki. Namun demikian, kebanyakan SLE yang menyerang
banyak sendi, tidak memperlihatkan kerusakan sendi.
b. Gejala pada kulit
Yang khas disebut gambaran kemerahan kulit pipi berbentuk kupukupu yang disebut buterfly erithema.
Lesi kulit berbentuk makulo papul pada kulit muka sampai ke leher
dan bahu lesi kulit ini jarang yang melepuh atau menjadi borok.
Tetapi lesi pada rahang atas pada pertemuan bagian lunak dan
bagian keras, pada daerah pipi bagian dalam dan bagian depan
rongga hidung, bisa terjadi.
Rambut rontok pada beberapa daerah kulit kepala (generalize focal
allopecia) terjadi pada fase aktif SLE.
Timbul bintik-bintik perdarahan (purpura) karena sel pembeku darah
turun (trombositopeni).
Penderita mengeluh pada sinar yang terang (photophobi).

Beberapa penderita SLE menunjukkan gejala pleuritis yang hilang


timbul (recurrent) yaitu peradangan dinding dada dan selaput paru
hingga penderita mengeluhkan sakit dada, tetapi tidak ada efusi
cairan pada rongga paru.
Pada keadaan berat bisa terjadi perdarahan paru dan mengancam
kehidupan (fatal).
Peradangan selaput pembungkus jantung (pericarditis) sering terjadi
pada penderita SLE.
Peradangan pembuluh darah jantung (coronary artery vasculitis)
atau otot jantung mengalami fibrosis(fibrosing myocarditis).
Timbul pembengkakan limfe di seluruh tubuh terutama pada
penderita anak-anak dan dewasa muda (umur 20 tahunan).
Pembesaran limphe terjadi pada 10% penderita SLE.
c. Gejala gangguan saraf pusat
- Keluhan sakit kepala
- Perubahan kepribadian
- Stroke
- Kejang epilepsi
- Psikosis
- Gangguan organik pada otak
d. Gangguan Ginjal
Bisa ringan tanpa gejala, sampai gangguan progresif

dan

mematikan. Gejala yang sering ditemukan pada pemeriksaan


laboratorium air seni, terdapat protein (proteinuria).
Secara patologi terdapat kelainan pada ginjal,

peradangan

glomerulus jinak, sampai yang peradangan membran yang luas


(diffuse membrane proliferatif glomerulonefritis)
Akibat perhatian yang meningkat pada penyakit SLE, sudah banyak
didiagnosa SLE yang tingkat sedang hingga kelainan ginjal sudah
jarang dijumpai.
Sindroma menghancurkan darah sendiri pada stadium akut SLE.
(Acute Lupus homo pagositik syndrome). Meskipun jarang tetapi
pernah terjadi di Asia khususnya semenanjung Cina dimana SLE
banyak ditemukan.
Pada keadaan ini sum-sum tulang belakang mengalami proliferasi
yang terlihat pada pemeriksaan darah tepi, banyak terlihat sel
histiosit. Untuk mengatasi ini biasanya penderita berespon baik
terhadap pemberian obat kortikosteroid.
Pengobatan SLE berat :

Segera diberikan obat kortikosteroid dikombinasi dengan pemberian


obat imunosupresif. Obat kortikosteroid diutamakan pada penderita
SLE dengan anemi hemolitik 60 mg/hari.
Pada purpura yang disebabkan jumlah sel pembeku darah rendah
diberikan dengan dosis 40-60 mg/hari per oral.
Pada penderita gangguan ginjal diberi kortikosteroid 40-60 mg/hari
per oral, digabung dengan obat imunosupresif.
Perbaikan penyakit muali terlihat setelah 4-12 minggu pengobatan.
Azathioprine 2,5 mg/kg BB/ hari atau siklopospamid digunakan
sebagai obat imunosupresif. Obat imunosupresif diberikan berkala
misalnya

siklopospamid 500 mg diberikan melalui intravena.

Pemberian diulang tiap bulan selama 6-12 bulan tergantung respon


ginjal dan toleransi hematologi.
Pengobatan supresif
Pengobatan ini diberikan pada penderita sedang maupun berat.
Dapus :
Yatim, Faisal, 2006, Penyakit Tulang dan Persendian, Pustaka Populer
Obor, Jakarta.