Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN

FRAKTUR CRURIS ( TIBIA DAN FIBULA )


I.

KONSEP TEORI
A. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya.
Fraktur Tibia Fibula adalah terputusnya tulang tibia dan fibula ( Smeltzer & Bare, 2004).
Patah atau fraktur tibia merupakan fraktur yang sering terjadi dibandingkan fraktur
batang tulang panjang lainnya. Periost yang melapisi tibia agak tipis, terutama pada daerah
depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah dan biasanya fragmen
frakturnya bergeser. Karena berbeda langsung di bawah kulit, sering ditemukan juga fraktur
terbuka (Sjamsuhidajat,R.2004).
B. Etiologi
Penyebab fraktur diantaranya :
1. Trauma
a) Trauma langsung : Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat tersebut.
b) Trauma tidak langsung : Titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
2. Fraktur Patologis
Fraktur disebabkan karena proses penyakit seperti osteoporosis, kanker tulang dan lainlain.
3. Degenerasi
Terjadi kemunduran patologis dari jaringan itu sendiri : usia lanjut
4. Spontan
Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga.
C. Manifestasi Klinis
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang
untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan eksremitas.
Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal.
Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung
pada integritas tulang tempat melengketnya obat.
3. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat
fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm
4. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang.
Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau
beberapa hari setelah cedera.

D. Patofisiologi
Ketika patah tulang, terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang
dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan
jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medul antara tepi
tulang bawah periostrium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya
respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik ditandai dengan fase vasodilatasi dari
plasma dan leukosit, ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses
penyembuhan untuk memperbaiki cedera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan
tulang. Hematom yang terbentuk biasa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum
tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut
masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematom
menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler di otot,
sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang
iskemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini
menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf, yang
bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndrom comportement.
E. Pathways
Terlampir
F. Komplikasi
1. Dini
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT
menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada
ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi
pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
b. Kompartement Syndrom
Komplikasi ini terutama terjadi pada fraktur proksimal tibia tertutup. Komplikasi
ini sangat berbahaya karena berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan
vaskularisasi tungkai bawah yang dapat mengancam kelangsungan hidup tungkai
bawah. Yang paling sering terjadi yaitu anterior compartment syndrome.
Mekanisme: dengan terjadi fraktur tibia terjadi perdarahan intra-kompartemen,
hal ini akan menyebabkan tekanan intrakompartemen meninggi, menyebabkan
aliran balik darah vena terganggu. Hal ini akan menyebabkan oedem tekanan
intrakompartemen makin meninggi sampai akhrinya sedemikian tinggi sehingga
menyumbat aarteri di intrakomparmen.
Gejala: rasa sakit pada tungkai bawah dan temukan paraesthesia. Rasa sakit akan
bertambah bila jari digerakan secar pasif. Kalau hal ini berlangsung cukup lama

dapat terjadi paralyse pada oto-otot ekstensor hallusis longus, ekstensor digitorum
longus dan tibial anterior. Tekanan intrakompatemen dapat diukur langsung
dengan cra whitesides. Penanganan: dalam waktu kurang 12jam harus dilakukan
fasciotomi.
c. Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada
kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan
bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen
dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi,
hypertensi, tachypnea, demam.
d. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini
biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan
bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
e. Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau
terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya
Volkmans Ischemia.
f. Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas
kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada
fraktur.
2. Lanjut
a. Malunion: biasanya terjadi pada fraktur yang kominutiva sedang immobilisasinya
longgar, sehingga terjadi angulasi dan rotasi. Untuk memperbaiki perlu dilakukan
osteotomi.
b. Delayed union: terutama terjadi padda fraktur terbuka yang diikuti dengan infeksi
atau pada fraktur yang communitiva. Hal ini dapat di atasi dengan operasi tandur
alih tulang spongiosa.
c. Non union: disebabkan karena terjadi kehilangan segmen tulang tibia disertai
dengan infeksi. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan bone grafting menurut
cara papineau.
d. Kekakuan sendi: hal ini disebabkan karena pemakaian gips yang terlalu lama.
Pada persendian kaki dan jari-jari biasanya terjadi hambatan gerak. Hal ini dapat
diatasi dengan fisioterapi
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi / luasnya fraktur trauma

2. Scan tulang, tomogram, scan CT / MRI : memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan
untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
4. Hitung daerah lengkap : HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menurun
(pendarahan sel darah putih adalah respon stress normal setelah trauma).
5. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klien ginjal.(Doenges,
2004 : 762)
H. Penatalaksanaan Medis
Ada empat konsep dasar dalam menangani fraktur, yaitu :
a. Rekognisi
Rekognisi dilakukan dalam hal diagnosis dan penilaian fraktur. Prinsipnya adalah
mengetahui riwayat kecelakaan, derajat keparahannya, jenis kekuatan yang berperan dan
deskripsi tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri.
b. Reduksi
Reduksi adalah usaha / tindakan manipulasi fragmen-fragmen seperti letak asalnya.
Tindakan ini dapat dilaksanakan secara efektif di dalam ruang gawat darurat atau ruang
bidai gips. Untuk mengurangi nyeri selama tindakan, penderita dapat diberi narkotika IV,
sedative atau blok saraf lokal.
c. Retensi
Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi atau dipertahankan dalam
posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat
dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi gips,
bidai, traksi dan teknik fiksator eksterna.
d. Rehabilitasi
Merupakan proses mengembalikan ke fungsi dan struktur semula dengan cara melakukan
ROM aktif dan pasif seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan klien. Latihan
isometric dan setting otot. Diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan
meningkatkan peredaran darah ( Smeltzer & Bare, 2001 : 2360 2361 ).
Kebanyakan fraktur tibia tertutup ditangani dengan reduksi tertutup dan imobilisasi awal
dengan gips sepanjang tungkai jalan atau patellar tendon bearing. Reduski harus relative
akurat dalam hal angulasi dan rotasinya. Ada saatnya di mana sangat sulit mempertahankan
reduksi, sehingga perlu dipasang pin perkutaneus dan dipertahankan dalam posisinya dengan
gips (mis. Teknik pin dalam gips) atau fiksator eksterna yang digunakan. Pembebanan berat
badan parsial biasanya diperbolehkan dalam 7 samapi 10 hari. Aktivitas akan mengurangi
edema dan meningkatkan peredaran darah. Gips diganti menjadi gips tungkai pendek atau
brace dalam 3 sampai 4 minggu, yang memungkinkan gerakan lutut. Penyembuhan fraktur
memerlukan waktu 6 sampai 10 minggu.
Fraktur terbuka atau komunitif dapat ditangani dengan traksi skelet, fiksasi interna
dengan batang, plat atau nail, atau fiksasi eksterna. Latihan kaki dan lutut harus didorong

dalam batas alat imobilisasi. Pembebanan berat badan dimulai sesuai resep, biasanya 4
sampai 6 minggu ( Smeltzer & Bare & Bare, 2001 : 2386 ).
I. Gambaran Umum ORIF ( Open Reduduction Intra Fixation )
ORIF adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang
yang mengalami fraktur. Fungsi ORIF untuk mempertahankan posisi fragmen tulang agar
tetap menyatu dan tidak mengalami pergeseran. Internal fiksasi ini berupa Intra Medullary
Nail biasanya digunakan untuk fraktur tulang panjang dengan tipe fraktur tranvers.
Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) atau Reduksi terbuka dengan Fiksasi Internal.
ORIF akan mengimobilisasi fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukan paku,
sekrup atau pen kedalam tempat fraktur untuk memfiksasi bagian-bagian tulang pada fraktur
secara bersamaan.

II.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
1.1. Pengumpulan Data
1) Anamnesa
a) Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status
perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register,
tanggal MRS, diagnosa medis.
b) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri
tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk
memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
1) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi
faktor presipitasi nyeri.
2) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan
klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
3) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit
menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
4) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa
berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit
mempengaruhi kemampuan fungsinya.
5) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada
malam hari atau siang hari.
c)Riwayat Penyakit Sekarang

Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang
nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa
berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa
ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain
itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka
kecelakaan yang lain.
d)Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi
petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit
tertentu seperti kanker tulang dan penyakit pagets yang menyebabkan fraktur
patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes
dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun
kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang.
e)Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah
satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang
sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung
diturunkan secara genetik.
f)Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran
klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam
kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
g)Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan
pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk
membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi
kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat
mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa
mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau
tidak.
2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehariharinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk
membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi
klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan
mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama
kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan
faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain
itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
3) Pola Eliminasi

Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi
walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau
feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji
frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga
dikaji ada kesulitan atau tidak.
4) Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini
dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga,
pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan,
kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
5) Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan
klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh
orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien
terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko
untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain.
6) Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat.
Karena klien harus menjalani rawat inap.
7) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan
kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang
salah (gangguan body image).
8) Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal
fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan.begitu juga
pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa
nyeri akibat fraktur.
9) Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan
seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta
rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status
perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya.
10) Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu
ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme
koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan

Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah


dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan
karena nyeri dan keterbatasan gerak klien.
2) Pemeriksaan Fisik
Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk
mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini
perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana
spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih
mendalam.
2.1) Gambaran Umum
Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda,
seperti:
a) Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis
tergantung pada keadaan klien.
b) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada
kasus fraktur biasanya akut.
c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun
bentuk.
2.2) Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
a) Sistem Integumen
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak,
oedema, nyeri tekan.
b) Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada
penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
c) Leher
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan
ada.
d) Muka
Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi
maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
e) Mata
Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak
terjadi perdarahan)
f) Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau
nyeri tekan.

g) Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
h) Mulut dan Faring
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut
tidak pucat.
i) Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
j) Paru

Inspeksi :Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada


riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.

Palpasi :Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.

Perkusi :Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.

Auskultasi :Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara


tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.

k) Jantung

Inspeksi : Tidak tampak iktus jantung.

Palpasi :Nadi meningkat, iktus tidak teraba.

Auskultasi :Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.

l) Abdomen

Inspeksi : Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.

Palpasi :Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.

Perkusi :Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.

Auskultasi
Peristaltik usus normal 20 kali/menit.

m) Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.
2.3)

Keadaan Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama
mengenai status neurovaskuler. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal
adalah:
A. Look (inspeksi)

1. Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas
operasi).
2. Cape au lait spot (birth mark).
3. Fistulae.
4. Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
5. Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak
biasa (abnormal).
6. Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
7. Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
B. Feel (palpasi)
1. Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit.
2. Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema
terutama disekitar persendian.
3. Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3
proksimal,tengah, atau distal).
4. Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang
terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga
diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat
benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya,
pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan
ukurannya.
C. Move (pergeraka terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan
menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada
pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi
keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran
derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau
dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan
gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif
dan pasif.

2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan:


a) Risiko cedera b/d gangguan integritas tulang
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Pertahankan

tirah

baring

imobilisasi sesuai indikasi.

RASIONAL
dan Meningkatkan stabilitas, meminimalkan
gangguan akibat perubahan posisi.

2. Bila terpasang gips/bebat, sokong Mencegah gerakan yang tak perlu akibat
fraktur dengan bantal atau gulungan perubahan posisi.

selimut untuk mempertahankan posisi


yang netral.
3. Evaluasi pembebat terhadap resolusi
edema.

Penilaian kembali pembebat perlu


dilakukan seiring dengan berkurangnya
edema

4. Bila terpasang traksi, pertahankan Traksi memungkinkan tarikan pada aksis


posisi traksi (Buck, Dunlop, Pearson, panjang fraktur tulang dan mengatasi
tegangan otot untuk mempercepat
Russel)
reunifikasi fragmen tulang
5. Yakinkan semua klem, katrol dan tali
berfungsi baik.
6. Pertahankan

integritas

fiksasi

eksternal.

7. Kolaborasi pelaksanaan kontrol foto.

Menghindari iterupsi penyambungan


fraktur.
Keketatan kurang atau berlebihan dari
traksi eksternal (Hoffman) mengubah
tegangan traksi dan mengakibatkan
kesalahan posisi.
Menilai proses penyembuhan tulang.

b. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak,
pemasangan traksi, stress/ansietas.
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Pertahankan imobilasasi bagian yang Mengurangi nyeri dan mencegah


sakit dengan tirah baring, gips, bebat malformasi.
dan atau traksi
2. Tinggikan posisi ekstremitas yang Meningkatkan aliran balik vena,
terkena.
mengurangi edema/nyeri.
3. Lakukan dan awasi latihan gerak Mempertahankan kekuatan otot dan
pasif/aktif.
meningkatkan sirkulasi vaskuler.
4. Lakukan

tindakan

5. Ajarkan

penggunaan

untuk

Meningkatkan sirkulasi umum,


meningkatkan kenyamanan (masase, menurunakan area tekanan lokal dan
kelelahan otot.
perubahan posisi)
teknik Mengalihkan perhatian terhadap nyeri,
manajemen nyeri (latihan napas meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang
mungkin berlangsung lama.
dalam, imajinasi visual, aktivitas
dipersional)

6. Lakukan kompres dingin selama fase Menurunkan edema dan mengurangi rasa
akut (24-48 jam pertama) sesuai nyeri.
keperluan.
7. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai
indikasi.
8. Evaluasi

keluhan

Menurunkan nyeri melalui mekanisme


penghambatan rangsang nyeri baik secara
sentral maupun perifer.

nyeri

(skala, Menilai perkembangan masalah klien.


petunjuk verbal dan non verval,
perubahan tanda-tanda vital)

c. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera


vaskuler, edema, pembentukan trombus)
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Dorong klien untuk secara rutin Meningkatkan sirkulasi darah dan


melakukan latihan menggerakkan mencegah kekakuan sendi.
jari/sendi distal cedera.
Mencegah stasis vena dan sebagai petunjuk
2. Hindarkan restriksi sirkulasi akibat perlunya penyesuaian keketatan
tekanan bebat/spalk yang terlalu ketat. bebat/spalk.
3. Pertahankan letak tinggi ekstremitas Meningkatkan drainase vena dan
yang
cedera
kecuali
ada menurunkan edema kecuali pada adanya
keadaan hambatan aliran arteri yang
kontraindikasi
adanya
sindroma
menyebabkan penurunan perfusi.
kompartemen.

Mungkin diberikan sebagai upaya


4. Berikan obat antikoagulan (warfarin) profilaktik untuk menurunkan trombus
vena.
bila diperlukan.
5. Pantau kualitas nadi perifer, aliran Mengevaluasi perkembangan masalah
klien dan perlunya intervensi sesuai
kapiler, warna kulit dan kehangatan
keadaan klien.
kulit distal cedera, bandingkan dengan
sisi yang normal.
d. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli, perubahan
membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti)

INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Instruksikan/bantu

RASIONAL

napas Meningkatkan ventilasi alveolar dan


perfusi.
dalam dan latihan batuk efektif.

2. Lakukan

dan

latihan

ajarkan

perubahan Reposisi meningkatkan drainase sekret dan


posisi yang aman sesuai keadaan menurunkan kongesti paru.
klien.

Mencegah terjadinya pembekuan darah


3. Kolaborasi
pemberian
obat pada keadaan tromboemboli.
Kortikosteroid telah menunjukkan
antikoagulan (warvarin, heparin) dan
keberhasilan untuk mencegah/mengatasi
kortikosteroid sesuai indikasi.
emboli lemak.
Penurunan PaO2 dan peningkatan PCO2
4. Analisa pemeriksaan gas darah, Hb, menunjukkan gangguan pertukaran gas;
anemia, hipokalsemia, peningkatan LED
kalsium, LED, lemak dan trombosit
dan kadar lipase, lemak darah dan
penurunan trombosit sering berhubungan
dengan emboli lemak.

Adanya takipnea, dispnea dan perubahan


mental merupakan tanda dini insufisiensi
upaya bernapas, perhatikan adanya pernapasan, mungkin menunjukkan
stridor, penggunaan otot aksesori terjadinya emboli paru tahap awal.

5. Evaluasi frekuensi pernapasan dan

pernapasan, retraksi sela iga dan


sianosis sentral.

e. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi


restriktif (imobilisasi)
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Pertahankan pelaksanaan aktivitas Memfokuskan perhatian, meningkatakan


rekreasi terapeutik (radio, koran, rasa kontrol diri/harga diri, membantu
menurunkan isolasi sosial.
kunjungan teman/keluarga) sesuai
keadaan klien.
2. Bantu latihan rentang gerak pasif Meningkatkan sirkulasi darah
aktif pada ekstremitas yang sakit muskuloskeletal, mempertahankan tonus
otot, mempertahakan gerak sendi,
maupun yang sehat sesuai keadaan
mencegah kontraktur/atrofi dan mencegah
klien.
reabsorbsi kalsium karena imobilisasi.

3. Berikan
gulungan

papan

penyangga

trokanter/tangan

Mempertahankan posis fungsional


kaki, ekstremitas.
sesuai

indikasi.

Meningkatkan kemandirian klien dalam


4. Bantu dan dorong perawatan diri perawatan diri sesuai kondisi keterbatasan
(kebersihan/eliminasi) sesuai keadaan klien.
klien.

Menurunkan insiden komplikasi kulit dan


5. Ubah posisi secara periodik sesuai pernapasan (dekubitus, atelektasis,
penumonia)
keadaan klien.

6. Dorong/pertahankan asupan cairan

Mempertahankan hidrasi adekuat, mencegah komplikasi urinarius dan konstipasi.


Kalori dan protein yang cukup diperlukan
untuk proses penyembuhan dan mempertahankan fungsi fisiologis tubuh.

2000-3000 ml/hari.
7. Berikan diet TKTP.

Kerjasama dengan fisioterapis perlu untuk


8. Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi menyusun program aktivitas fisik secara
individual.
sesuai indikasi.
Menilai perkembangan masalah klien.
9. Evaluasi kemampuan mobilisasi klien
dan program imobilisasi.
f. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat,
sekrup)
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Pertahankan

tempat

RASIONAL

tidur

yang Menurunkan risiko kerusakan/abrasi kulit


nyaman dan aman (kering, bersih, alat yang lebih luas.
tenun kencang, bantalan bawah siku,
tumit).

2. Masase

kulit

terutama

daerah

Meningkatkan sirkulasi perifer dan


penonjolan tulang dan area distal meningkatkan kelemasan kulit dan otot

bebat/gips.

terhadap tekanan yang relatif konstan pada


imobilisasi.

3. Lindungi kulit dan gips pada daerah Mencegah gangguan integritas kulit dan
jaringan akibat kontaminasi fekal.
perianal
4. Observasi keadaan kulit, penekanan Menilai perkembangan masalah klien.
gips/bebat

terhadap

kulit,

insersi

pen/traksi.
g. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, taruma
jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Lakukan perawatan pen steril dan Mencegah infeksi sekunderdan


mempercepat penyembuhan luka.
perawatan luka sesuai protokol
2. Ajarkan klien untuk mempertahankan Meminimalkan kontaminasi.
sterilitas insersi pen.
Antibiotika spektrum luas atau spesifik
3. Kolaborasi pemberian antibiotika dan dapat digunakan secara profilaksis,
toksoid tetanus sesuai indikasi.
mencegah atau mengatasi infeksi. Toksoid
tetanus untuk mencegah infeksi tetanus.
pemeriksaan Leukositosis biasanya terjadi pada proses
infeksi, anemia dan peningkatan LED
laboratorium (Hitung darah lengkap,
dapat terjadi pada osteomielitis. Kultur
LED,
Kultur
dan
sensitivitas untuk mengidentifikasi organisme
penyebab infeksi.
luka/serum/tulang)

4. Analisa

hasil

5. Observasi tanda-tanda vital dan


tanda-tanda peradangan lokal pada
luka.

Mengevaluasi perkembangan masalah


klien

h. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d


kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif,
kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Kaji kesiapan klien mengikuti

Efektivitas proses pemeblajaran

program pembelajaran.

dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental


klien untuk mengikuti program
pembelajaran.

2. Diskusikan metode mobilitas dan


ambulasi sesuai program terapi fisik.

Meningkatkan partisipasi dan kemandirian


klien dalam perencanaan dan pelaksanaan
program terapi fisik.

3. Ajarkan tanda/gejala klinis yang


memerluka evaluasi medik (nyeri
berat, demam, perubahan sensasi
kulit distal cedera)

Meningkatkan kewaspadaan klien untuk


mengenali tanda/gejala dini yang
memerulukan intervensi lebih lanjut.

4. Persiapkan klien untuk mengikuti


terapi pembedahan bila diperlukan.

Upaya pembedahan mungkin diperlukan


untuk mengatasi maslaha sesuai kondisi
klien.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E. et.al. 2004, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.
Rasjad, Chairuddin. 2006. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar : Lintang Imumpasue.
Smeltzer, Suzanne C. Bare Brenda G. 2004. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth, Edisi 8. Jakarta : EGC
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi III. Jakarta : EGC.

PATHWAY

Trauma

Fraktur

Perubahan
status
kesehatan
Kurang
informa
si
Kuran
g
penge
tahun

Cedera sel

Degranulasi
sel mast

Pelepas
an
mediato
r kimia

Gg. Mobilitas
fisik

Lepasnya
lipid pada
sum-sum
tulang
Terabsorbsi
masuk
kealiran
darah

Nociceptor

Korteks
serebri

Nyeri

Terapi
restrictif

Diskontuinitas
fragmen tulang

Emboli
Medulla
spinali

Gangguan
pertukaran gas

Luka terbuka

Port de entri
kuman

Gg. Integritas
kulit

Penurunan
laju difusi

Edema

Penekanan
pada jaringan
vaskuler

Resiko Infeksi

Oklusi arteri
paru

Reaksi
peradangan

Nekrosis
Jaringan
paru

Luas
permukaan
paru menurun

Penurunan
aliran darah

Resiko
disfungsi
neurovaskule
r