Anda di halaman 1dari 2

BIMBINGAN KONSELING DAN PERAN GURU

A. Pendahuluan
Bimbingan konseling di sekolah merupakan salah satu aktivitas pendidikan yang tidak
boleh lepas dari perhatian administrator, manajemen, dan guru sekolah. Kemampuan
mengenal dan menyelenggarakan program bimbingan konseling merupakan salah satu
tuntutan bagi seorang kepala sekolah sebagai manajer dan bagi guru sebagai pembimbing.
Kepala sekolah harus mengelola program bimbingan konseling di sekolah dengan
memberdayakan seluruh sumber daya manusia yang dimiliki sekolah di bidang bimbingan
konseling baik konselor, guru pembimbing, guru bidang studi, maupun staf lain yang
memiliki kompetensi bidang bimbingan konseling.
Secara historis Bimbingan dan Konseling (BK) di Indonesia mempunyai sejarah
sendiri karena masuk melalui dunia pendidikan atau sekolah baru melebar aau bergerak ke
dunia kerja atau karir dengan gencarnya Bimbingan dan Konseling Karier 1984-an setelah
Konvensi Bimbingan dan Konseling Ikatan Penyuluhan Bimbingan Indonesia (IPMB) ke-5 di
Hotel Sahid Yogyakarta dilanjutkan dengan Konferensi AVAREG ke-5 di Hotel Orchid
Jakarta. Jurusan dan Program Studi Bimbingan dan Konseling yang ada di LPTK masih
mempunyai fokus pelayanan di sekolah dengan tujuan untuk mencetak Guru Pembimbing.
Tidak heran kalau Bimbingan dan Konseling lebih kokoh posisinya di dunia pendidikan,
apalagi dengan keluarnya UU No.2/89 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan
bahwa BK adalah bagian integral dari pendidikan disamping Administrasi-Supervisi dan
Kurikulum.
Saat ini kata Bimbingan sudah ditinggalkan dan disosialisasikan kata Konseling.
Merujuk pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebutan untuk
guru pembimbing dimantapkan menjadi konselor. Keberadaan konselor dalam sistem
pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan
kualifikasi guru, dosen, pamong praja, tutor widyasuara, fasilitatordan instruktur (UU No.
20/2003, pasal 1 ayat 6). Sifat-sifat Konseling, diantaranya :
1. Pertolongan diarahkan ke peningkatan kemampuan dalam menghadapi hidup dengan
segala persoalannya.
2. Pertolongan yanng kontiniu diberikan atas dasar perencanaan dan pemikiran ilmiah
3. Pertolongan yang proses pemecahannya dari persoalan membutuhkan aktivitas dan
tanggung jawab bersama antar yang menolong dengan yang ditolong.
4. Pertolongan yang isi, bentuk dan caranya disesuaikan dengan kebutuhan tiap-tiap
masalah.
5. Pertolongan yang berusaha menolong tiap anak yang dibimbing agar ia dapat
mencapai kehidupan yang layak dan bahagia di dalam masyarakatnya.

1. Konsep Dasar Konseling

Secara umum Konseling dapat diartikan sebagai bantuan. Namun dalam pengertian
sebenarnya, tidak setiap bentuk bantuan adalah konseling. Bentuk bantuan dalam arti
konseling membutuhkan syarat, bentuk, prosedur, dan pelaksanaan tertentu sesuai dengan
dasar, prinsip dan tujuannya (Rochman Natawijaya, 1891). Dalam keseluruhan proses
pendidikan di sekolah meliputi tiga bidang, yaitu bidang pengajaran, bidang administrasi dan
kepemimpinan serta bidang pemberian bantuan.
Pendidikan dapat diumpamakan sebagai mengajak anak membawa barang muatan
yang selalu bertmbah pada sebuah jalan untuk mencapai suatu titik tujuan atau tempat, di
tempatb tersebut ia kelak bisa menjual barang-barang muatan tersebut. Kurikulum merupakan
barang-barang muatannya, adminuistrasi pendidikan merupakan biro perjalanan yang
mengatur perjalanan, kapal berangkat, dimana berhenti, menyediakan jalan yang rata, teduh
dan sebagainya.
Konseling membantu siswa mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada dalam dirinya.
Siswa tidak mungkin dapat belajar dengan baik apabila banyak kesulitan yang dihadapi
dalam dirinya yang menghambatinya. Seorang konselor bertujuan :
a. Menolong anak mengenal diri sendiri
b. Menolong anak menerima diri sendir
c. Menolong anak mampu membuat keputusan sendiri, menetukan pilihan sendiri
d. Menolong anak mampu membuat rencana hidup dan lain lain, maka kegiatan
konseling itu diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan sementara bimbingan yang
selanjutnya akan berfungsi sebagai langkah untuk tercapainya tujuan akhir konseling.
2. Pengertian Konseling
Konseling merupakan suatu proses pertemuan langsung antar konselor dengan konseli
(face to face relationship) yang bermasalah, dimana pembimbing membantu konseling dalam
mengusahakan perubahan sikap dan tigkah laku.
Sasaran utama dari konseling adalah perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan
definisi yang dikemukakan oleh Carl. R. Rogers Counseling is a series of direct contacts
with the individual which aims to offer him assistance in changing his attitudes and
behavior. Antar sikap dengan tingkah laku terdapat hubungan yang sangat erat. Sesuatu
sikap di manifestasikan dalam tingkah laku tertentu. Tingkah laku tertentu didasari oleh sikap
tertentu. Beberapa tingkah laku yang di perlihatkan oleh siswa mungkin didasri oleh sesuatu
sikap yang sama. Misalnya, seorang siswa memperlihatkan tingkah laku berisi absen, tidak
mungkin mau mengerjakan tugas, pasif didalam diskusi, tidak sungguh dalam belajar dan
sebagainya karena memiliki sikap tidak senang kepada gurunya.
Tugas konselor adalah mengusahakan perubahan sikap tersebut. Perubahan tingkah
laku tanpa perubahan sikap yang mendasarinya mungkin akan bersifat sementara saja, karena
adanya tekanan dari luar atau karena ada sesuatu akan lebih bersifat permanen, sebab
perubahan sikap terjadi atas penemuan dan pemahamannya sendiri.