Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tidak setiap anak mengalami perkembangan normal. Banyak di antara mereka yang dalam
perkembangannya mengalami hambatan, gangguan, kelambatan, atau memiliki faktor-faktor
resiko sehingga untuk mencapai perkembangan optimal diperlukan penanganan atau intervensi
khusus. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus.
Anak-anak
tersendiri
anak

berkebutuhan

dalam

jenis

dan

khusus, adalah

karakteristiknya,

normal pada umumnya.

Keadaan

anak-anak

yang

yang

memiliki

membedakan

inilah yang menuntut

mereka

keunikan
dari anak-

pemahaman terhadap

hakikat anak berkebutuhan khusus. Keragaman anak berkebutuhan khusus terkadang


menyulitkan
pendidikan

guru
yang

dalam
sesuai.

upaya
Namun

menemu
apabila

kenali
guru

jenis dan pemberian layanan

telah

memiliki

pengetahuan dan

pemahaman mengenai hakikat anak berkebutuhan khusus, maka mereka akan dapat
memenuhi kebutuhan anak yang sesuai.
Anak berkebutuhan khusus sejatinya terjadi dari berbagai macam dan karakter. Anak
berkebutuhan khusus bisa digolongkan menjadi anak yang memiliki kelainan secara fisik,
mental, berkelainan emosional maupun akademik. Dan sebagai tenaga pendidik, memahami
berbagai karakter anak terutama anak yang memiliki karakter yang istimewa seperti anak
berkebutuhan khusus tentu saja harus menjadi sebuah keahlian karena bukan tidak mungkin ,
siswa yang pada nantinya menjadi anak didik bisa saja memiliki keistimewaan seperti anak
berkebutuhan khusus.
Untuk itu melalui makalah ini kami mencoba mengkaji lebih dalam mengenai klasifikasi dan
karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) berkelainan Fisik dan ABK berkelainan emosi.
Oleh karna itu , penulis membuat makalah ini yang fungsinya bertujuan untuk memaparkan
karakteristik karakteristik yang terdapat pada anak yang mengalami gangguan fisik, dan emosi
agar nantinya bagi para calon pendidik Anak Berkebutuhan Khusus dapat mengenali dan
memahami mereka serta mampu memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan
Anak Berkebutuhan Khusus.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus berkelainan fisik?

2. Apa saja yang menjadi klasifikasi dan karakteristik anak berkebutuhan khusus berkelainan
fisik?
3. Apa yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus berkelainan emosi (tunalaras)?
4. Apa saja yang menjadi klasifikasi dan karakteristik anak berkebutuhan khusus berkelainan
emosi (tunalaras)?

C. Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Anak Berkebutuhan Khusus Berkelainan Fisik.
2. Mengetahui dan memahami apa saja klasifikasi serta karakteristik Anak Berkebutuhan
Khusus Berkelainan Fisik.
3. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Anak Berkebutuhan Khusus Berkelainan Emosi
(Tunalaras).
4. Mengetahui dan memahami apa saja klasifikasi serta karakteruistik Anak Berkebutuhan
Khusus Berkelainan Emosi (Tunalaras).

BAB II
PEMBAHASAN
A. Anak-Anak Berkebutuhan Khusus Berkelainan Fisik
a) Anak Tunanetra
a) Klasifikasi Anak Tunanetra

Anak tunanetra adalah anak-anak yang mengalami kelainan atau gangguan fungsi
penglihatan, yang dinyatakan dengan tingkat ketajaman penglihatan atau visus sentralis diatas
20/200 dan secara pedagogis membutuhkan layanan pendidikan khusus dalam belajarnya di
sekolah.
Tunanetra memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Secara pedagogis membutuhkan pelayanan
pendidikan khusus dan belajarnya di sekolah. Berdasarkan tingkatannya, anak Tunanetra
dibedakan atas :
1.

Berdasarkan Tingkat Ketajaman Penglihatan


Seseorang dikatakan penglihatannya normal, apabila hasil tes Snellen menunjukkan
ketajaman penglihatannya 20/20 atau 6/6 meter. Sedangkan untuk seseorang yang
mengalami kelainan penglihatan kategori low vision (kurang lihat), yaitu penyandang
tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan 6/20m-6/60m. kondisi yang demikian
sesungguhnya penderita masih dapat melihat dengan bantuan alat khusus. Selanjutnya
untuk seseorang yang mengalami kelainan penglihatan kategori berat, atau The blind,
yaitu penyandang tunanetra yang memiliki tingkat ketajaman penglihatan 6/60m atau
kurang. Untuk yang kategori berat ini masih ada dua kemungkinan,
a.

Penderita adakalanya masih dapat melihat gerakan-gerakan tangan, ataupun

b.

Hanya dapat membedakan gelap dan terang.

Sedangkan tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan dengan visus 0, sudah sama
sekali tidak dapat melihat.
2.

Berdasarkan Adaptasi Pedagogis


Kirk, SA (1989) mengklasifikasikan penyandang tunanetra berdasarkan kemampuan
penyesuaiannya dalam pemberian layanan pendidikan khusus yang diperlukan.
Klasifikasi yang dimaksud adalah :
a.

Kemampuan melihat sedang (moderate visual disability), dimana pada taraf ini

mereka masih dapat melaksanakan tugas-tugas visual yang dilakukan oleh orang awas
dengan menggunakan alat bantu kgusus serta dengan bantuan cahaya yang cukup.
b.

Ketidakmampuan melihat taraf berat (severe visual disability). Pada taraf ini,

mereka memiliki penglihatan yang kurang baik, atau kurang akurat meskipun dengan
menggunakan alat bantu visual dan modifikasi, sehingga mereka membutuhkan banyak
dan tenaga dalam mengerjakan tugas-tugas visual.
c.

Ketidakmampuan melihat taraf sangat berat (profound visual disability). Pada taraf

ini mereka mengalami kesulitan dalam melakukan tugas-tugas visual, dan tidak dapat
melakukan tugas-tugas visual yang lebih detail seperti membaca dan menulis. Untuk itu
mereka sudah tidak dapat memanfaatkan penglihatannya dalam pendidikan, dan
mengandalkan indra perabaan dan pendengaran dalam menempuh pendidikan.

b) Karakteristik Anak-Anak Tunanetra


Menurut Suparno dan Heri Purwanto,beberapa kara-kteristik anak-anak tunanetra adalah:
1.

Segi Fisik
Secara fisik anak-anak tunanetra, nampak sekali adanya kelainan pada organ
penglihatan/mata, yang secara nyata dapat dibedakan dengan anak-anak normal pada
umumnya hal ini terlihat dalam aktivitas mobilitas dan respon motorik yang merupakan
umpan balik dari stimuli visual.

2.

Segi Motorik
Hilangnya indera penglihatan sebenarnya tidak berpengaruh secara langsung terhadap
keadaan motorik anak tunanetra, tetapi dengan hilangnya pengalaman visual
menyebabkan tunanetra kurang mampu melakukan orientasi lingkungan. Sehingga tidak
seperti anak-anak normal, anak tunanetra harus belajar bagaimana berjalan dengan aman
dan efisien dalam suatu lingkungan dengan berbagai keterampilan orientasi dan
mobilitas.

3.

Perilaku
Kondisi tunanetra tidak secara langsung menimbulkan masalah atau penyimpangan
perilaku pada diri anak, meskipun demikian hal tersebut berpengaruh pada perilakunya.
Anak tunanetra sering menunjukkan perilaku stereotip, sehingga menunjukkan perilaku
yang tidak semestinya. Manifestasi perilaku tersebut dapat berupa sering menekan
matanya, membuat suara dengan jarinya, menggoyang-goyangkan kepala dan badan,
atau berputar-putar. Ada beberapa teori yang mengungkap mengapa tunanetra kadangkadang mengembangkan perilaku stereotipnya. Hal itu terjadi mungkin sebagai akibat
daritidak adanya rangsangan sensoris, terbatasnya aktifitas dan gerak didalam
lingkungan, serta keterbatasan sosial. Untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku
tersebut

dengan

membantu

mereka

memperbanyak

aktifitas,

atau

dengan

mempergunakan strategi perilaku tertentu, seperti memberikan pujian atau alternatif


pengajaran, perilaku yang lebih positif, dan sebagainya.
4.

Akademik
Secara umum kemampuan akademik, anak-anak tunanetra sama seperti anak-anak
normal pada umumnya. Keadaan ketunanetraan berpengaruh pada perkembangan
keterampilan akademis, khususnya dalam bidang membaca dan menulis. Dengan kondisi
yang demikian maka tunanetra mempergunakan berbagai alternatif media atau alat untuk
membaca dan menulis, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Mereka mungkin
mempergunakan huruf braille atau huruf cetak dengan berbagai alternatif ukuran.

Dengan asesmen dan pembelajaran yang sesuai, tunanetra dapat mengembangkan


kemampuan membaca dan menulisnya seperti teman-teman lainnya yang dapat melihat.
5.

Pribadi dan Sosial


Mengingat tunanetra mempunyai keterbatasan dalam belajar melalui pengamatan dan
menirukan, maka anak tunananetra sering mempunyai kesulitan dalam melakukan
perilaku sosial yang benar. Sebagai akibat dari ketunanetraannya yang berpengaruh
terhadap keterampilan sosial, anak tunanetra perlu mendapatkan latihan langsung dalam
bidang pengembangan persahabatan, menjaga kontak mata atau orientasi wajah,
penampilan postur tubuh yang baik, mempergunakan gerakan tubuh dan ekspresi wajah,
mempergunakan intonasi suara atau wicara dalam mengekspresikan perasaan,
menyampaikan pesan yang tepat pada waktu melakukan komunikasi.

Penglihatan memungkinkan kita untuk bergerak dengan leluasa dalam suatu lingkungan,
tetapi tunanetra mempunyai keterbatasan dalam melakukan gerakan tersebut. Keterbatasan
tersebut mengakibatkan keterbatasan dalam memperoleh pengalaman dan juga berpengaruh
pada hubungan sosial. Dari keadaan tersebut mengakibatkan tunanetra lebih terlihat memiliki
sikap:
i.

Curiga yang berlebihan pada orang lain, ini disebabkan oleh kekurangmampuannya

ii.

dalam berorientasi terhadap lingkungannya.


Mudah tersinggung. Akibat pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan
atau mengecewakan yang sering dialami, menjadikan anak-anak tunanetra mudah

iii.

tersinggung
Ketergantungan pada orang lain. Anak-anak tunanetra umumnya memilki sikap
ketergantungan yang kuat pada oranglain dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Kondisi yang demikian umumnya wajar terjadi pada anak-anak tunanetra berkenaan
dengan keterbatasan yang ada pada dirinya.

b) Anak Tunarungu
a) Klasifikasi Anak Tunarungu
Tunarungu adalah istilah yang menunjuk pada kondisi ketidakfungsian organ
pendengaran atau telinga seseorang anak. Kondisi ini menyebabkan mereka memiliki
karakteristik yang khas, berbeda dari anak-anak normal pada umumnya.
Tunarungu terdiri atas 2 tingkatan yaitu umum dan khusus:
1.

Tunarungu secara umum


a) the deaf atau tuli, yaitu peyandang tunarngu berat dan sangat berat dengan
tingkat ketulian di atas 90 dB.

b)

heard of hearing, atau kurang dengan yaitu penyandang tunarungu ringan atau
sedang dengan derajat ketulian 20- 90 dB.

2.

Tunarungu secara khusus.


a) tunarungu ringan adalah penyandang tunarungu yang mengalami tingkt
ketulian 25-45 dB. Seseorang yang mengalami ketunarunguan taraf ringan
dimana ia mengalami kesulitan untuk merespon suara-suara yang datangnya
agak jauh.
b) Tunarungu sedang, adaah penyandan tunarungu yang mengalami tingkat
ketulian 46-70 dB. Seseorang yang mengalami ketnarunguan taraf sedang
dimana ia hanya dapat mengerti percakapan pada jarak 3-5 feet secara
berhadapan, tetapi idak dapat mengikuti diskusi-diskusi dikelas. Pada kondisi
anak tunarungu yang demikian sudah memerlukan alat bantu dengar
(heardingan aid) memerukan pembinaan komunikasi, persepsi, bunyi dan
irama.
c) Tunarungu berat, adalah penyandang tunarungu yang mengalami tingkat
kesulitan 71-90 dB. Seseorang yang mengalami ketunarunguan taraf berat,
hanya dapat merespon bunyi-bunyi dalam jarak yang sangat dekat dan
diperkeras. Pada anak tunarungu demikian memerlukan alat bantu dengar
dalam mengikuti pendidikan disekolah, selain itu juga diperlukan pembinaan
dan latihan berkomunikasi dan pengembangan bicaranya.
d) Tunarungu sangat berat (profound) adalah penyandang tunarungu yang
mengalami tingkat ketulian 90 dB ke atas. Pada tahap ini seseorang sudah tidak
dapat lagi merespon suara sama sekali, kemungkinan hanya bisa merespon
melaui getaran-getaran suara yang ada. Untuk menyandang tunarungu ini lebih
mengandalkan kemampuan visual atau penglihatannya.

Perkembangan fisik atau motorik anak tunarungu tidak begitu jauh berbeda dengan
perkembangan anak pada umunya. Bahkan tidak jarang anak tunarungu baru dapat
dikendali ketika diajak berbicara atau berkomunikasi, tetapi terkadang ditemui pada
beberapa anak tunarungu yang letak gangguan pendengarannya pada teliga bagian
dalam ( auri internal) yang mengenai bagian organ keseimbangan (semiciculas canals)
yang pada giliranya juga dapat mempengaruhi nerves cochlearis (saraf keseimbangan )
yang menyebabkan anak ketika berjalan seperti terhuyung huyung (akan jatuh). Anak
kurang memiliki keseimbangan yang baik. Tetapi selain dari pada itu, jika anak murni
mengalami ketunarunguan maka perkembangan fisik tidak banyak mengalami
ketunarunguan maka perkembangan fisiknya mengalami ketunaan penyerta (double
handicapped) (Mely novikasari: 2014).
b) Karakteristik Anak Tunarungu

Menurut Suparno dan Heri Purwanto,karakteristik anak tunarungu adalah:


1. Segi Fisik
a) Cara berjalannya kaku dan agakmembungkuk. Akibat terjadinya permasalahan
pada organ keseimbangan pada telinga, menyebabkan anak-anak tunarungu
mengalami kekurangseimbangan dalam aktivitas fisiknya.
b) Pernapasannya pendek, dan tidak teratur. Anak-anak tunarungu tidak pernah
mendengarkan suara-suara dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana bersuara
atau mengucapkan kata-kata dengan intonasi yang baik, sehingga mereka juga
tidak terbiasa mengatur pernapasannya dengan baik, khususnya dalam
berbicara.
c) Cara melihatnya agak beringas. Penglihatan merupakan salah satu indra yang
paling dominan bagi anak-anak penyandang tunarungu, dimana besar
pengalamanannya diperoleh melalui penglihatan. Oleh karena itu anak-anak
tunarungu juga dikenal sebagai anak visual, sehingga cara melihatpun selalu
menunjukkan keingintahuan yang besar dan terlihat beringas.
2. Segi Bahasa
a) Miskin akan kosa kata
b) Sulit mengartikan kata-kata yang mengandung ungkapan, atau idiomatic
c) Tatabahasanya kurang teratur
3. Intelektual
Kemampuan intelektualnya normal
Pada dasarnya anak-anak tunarungu tidak mengalami permasalahan dalam
segiintelektual. Namun akibat keterbatasan dalam berkomunikasi dan berbahasa,
perkembangan intelektual menjadi lamban.
Perkembangan akademiknya lamban akibat keterbatasan bahasa. Seiring terjadinya
kelambanan dalam perkembangan intelektualnya akibat adanya hambatan dalam
berkomunikasi, maka dalam segi akademiknya juga mengalami keterlambatan.
4. Sosial-emosional
a) Sering merasa curiga. Sikap seperti ini terjadi akibat adanya kelainan fungsi
pendengarannya. Mereka tidak dapat memahami apa yang dibicarakan
oranglain, sehingga anak-anak tunarungu menjadi mudah merasa curiga.
b) Sering bersikap agresif.
c) Tunadaksa
Anak tunadaksa adalah kelainan yang meliputi cacat tubuh atau kerusakan tubuh, kelainan
atau kerusakan pada fisik dan kesehatan dan kelainanan atau kerusakan yang disebabkan oleh
kerusakan otak dan saraf tulang belakang (Hargeo, 2012:47)
a) Klasifikasi Anak Tunadaksa

Klasifikasi anak tunadaksa terdiri dari kelainan pada sistem serebrai (cerebral sistem
disorders). Penyebabnya kelahiran yang terletak pada sistem saraf pusat. Cerebral palsy
digolongkan menjadi tiga yaitu: derajat kecacatan, topografi dan fisiologi kelaianan
gerak.
1.

Penggolongan cerebral palsy menurut derajat kecacatan


a) Golongan ringan adalah, mereka yang dapat berjalan tanpa menggunakan alat,
berbicara tegas dan dapat menolong dirinya sendiri.
b) Golongan sedang ialah, mereka yang membutuhkan treatment atau latihan
untuk berbicara, belajar dan mengurus dirinya sendiri.
c) Golongan berat, golongan ini selalu memerlukan perawatan dalam ambulance,
bicara dan menolong diri sendiri.

2.

Golongan cerebral palsy menurut topografi monoplegia, adalah kecacatan satu


anggota gerak, kaki kanan
a) Hemiplegia adalah lumpuh anggota gerak atas dan bawah, tangan kanan dan
kaki kanan.
b) Paraplegi adalah lumpuh pada kedua tungkai kakinya.
c) Diplegi adalah lumpuh kedua tangan kanan dan kiri atau kedua kaki kanan dan
kiri.
d) Kuadriplegi adalah kelumpuhan keseluruhan anggota geraknya.

3.

Golongan menurut fisiologi


a) Cerebral palsy ringan, mereka menderita cerebral palsy ringan hanya memiliki
sedikit penurunan, gejala tidak begitu jelas dan biasanya tidak begitu terlihat.
b) Cerebral palsy spastik ini adalah kasus cerebral palsy yang umum. Ia
mempengaruhi sekitar 80% dari semua kasus cerebral palsy. Ada kerusakan
pada konteks motor yang akan menyebabkan otot ata kelompok otot ketat dan
kaku, hal ini akan membatasi gerak misalnya anak-anak akan sulit untuk
memegang benda.
c) Cerebral palsy athetoid, spastik adalah yang paling umum, athetoid mencakup
10% dari kasus-kasus cerebral palsy,. Kerusakan otak akan berada pada
bagian-bagian yang mengkoordinasikan gerakan tubuh dan pada saat yang
sama mempertahankan postur tegak. Mereka yang menderita cerebral palsy
athethoid menemukan bahwa wajah mengalami wajah tak terkendali. Bicara
ahampir tak dipahami dan makanan sulit untuk ditelan. Selain itu, orang yang
terpengaruh dengan ini juga mengalami masalah dengan penglihatan.
d) Cerebral palsy ataxic, bentuk cerebral palsy yang agak jarang, hanya sekitar 510% dari jumlah total pasien cerebral palsy yang menderita ini. Mereka yang
menderita ini akan mengalami pembentukan dan pembangunan otot yang
buruk. Koordinasi juga sangat sulit. Mereka juga cenderung memiliki pegangan
yang sangat gemetar.

e) Cerebral palsy tremor, suatu gerakan gemetar yang berirama dan tidak
terkendali, yang terjadi karena otot berkontaksi dan berileksasi secara berulangulang,
f) Cerebral palsy rigid, suatu keadaan kontraksi otot yang persisten, yang sering
dijumpai dalam keadaan terhipnotis dan akibat gangguan patologis.
g) Cerebral palsy campuran adalah kombinasi dari berbagai jenis cerebral palsy.
Anak normal memiliki kemampuan menyesuaikan gerakan dengan tujuan yang
dimaksudkan, sedangkan anak cerebral palsy gerakan terbatas. Gerakan menonton
(stereotype) dan asal gerak, yang penting dapat melakukan gerakan. Jika anak mulai
dengan pola yang gerakan yang salah, maka ia akan meneruskannya dan mengabaikan
gerakan yang salah tersebut. Hal ini menghambat perkembangan fisik yang normal dan
kesalahan gerakan yang berulang ulang akan menimbulkan kekakuan sendi
(contracture) dan salah bentuk (derformities).
d) Karakteristik Tuna Daksa
Menurut Suparno dan Heri Purwanto, karakteristik anak tunadaksa adalah:
1) Gangguan Motorik
Gangguan motoriknya berupa kekakuan, kelumpuhan, gerakan-gerakan yang
tidak dapat dikendalikan, gerakan ritmis dan gangguan keseimbangan. Gangguan
motorik ini meliputi motorik kasar dan motorik halus.

2) Gangguan Sensorik
Pusat sensoris pada manusia terletak pada otak, mengingat anak cerebral palsy
adalah anak yang mengalami kelainan di otak, maka sering anak cerebral palsy
disertai gangguan sensorik, beberapa gangguan sensorik antara lain penglihatan,
pendengaran, perabaan, penciuman dan perasa. Gangguan penglihatan pada
cerebral palsy terjadi karena ketidakseimbangan otot-otot mata sebagai akibat
kerusakan otak. Gangguan pendengaran pada anak cerebral palsy sering dijumpai
pada jenis athetoid.
3) Gangguan Tingkat Kecerdasan
Walaupun anak cerebral palsy disebabkan karena kelainan otaknya tetapi
keadaan kecerdasan anak cerebral palsy bervariasi, tingkat kecerdasan anak
cerebralpalsy mulai dari tingkat yang paling rendah sampai gifted. Sekitar 45%
mengalami keterbelakangan mental, dan 35% lagi mempunyai tingkat
kecerdasan normal dan diatas rata-rata. Sedangkan sisanya cenderung dibawah
rata-rata (Hardman, 1990).

4) Kemampuan Berbicara
Anak cerebral palsy mengalami gangguan wicara yang disebabkan oleh kelainan
motorik otot-otot wicara terutama pada organ artikulasi seperti lidah, bibir, dan
rahang bawah, dan ada pula yang terjadi karena kurang dan tidak terjadi proses
interaksi dengan lingkungan. Dengan keadaan yang demikian maka bicara anakanak cerebral palsy menjadi tidak jelas dan sulit diterima orang lain.
5) Emosi dan Penyesuaian Sosial
Respon dan sikap masyarakat terhadap kelainan pada anak cerebral palsy,
mempengaruhi pembentukan pribadi anak secara umum. Emosi anak sangat
bervariasi, tergantung rangsang yang diterimanya. Secara umum tidak terlalu
berbeda dengan anakanak normal, kecuali beberapa kebutuhan yang tidak
terpenuhi yang dapat menimbulkan emosi yang tidak terkendali. Sikap atau
kurangnya penerimaan masyarakat terhadap anak cerebral palsy dapat
memunculkan keadaan anak yang merasa malu, rendah diri atau kepercayaan
dirinya kurang, mudah tersinggung/ sensitif, dan suka menyendiri, serta kurang
dapat menyesuaiakan diri dan bergaul dengan lingkungan. Sedangkan anak anak
yang mengalami kelumpuhan yang dikarenakan kerusakan pada otot motorik
yang sering diderita oleh anak-anak pasca polio dan muscle dystrophy lain
mengakibatkan gangguan motorik terutama gerakan lokomosi, gerakan ditempat,
dan mobilisasi. Ada sebagian anak dengan gangguan gerak yang berat, ringan,
dan sedang. Untuk berpindah tempat perlu alat ambulasi, juga perlu alat bantu
dalam memenuhi kebutuhannya, yaitu memenuhi kebutuhan gerak. Dalam
kehidupan sehari-hari anak perlu bantuan dan alat yang sesuai. Keadaan
kapasitas kemampuan intelektual anak gangguan gerak otot ini tidak berbeda
dengan anak normal.
Pelayanan pendidikan bagi anak tunadaksa, guru mempunyai peranan sebagai
pengajar, pendidik dan pelatih. Pelayanan terapi yang diperlukan anak tunadaksa
antara lain: latihan berbicara, fisioterapi, occupational therapy dan hydro therapy.
Anak tunadaksa pada dasarnya sama dengan anak normal pada umumnya, hanya pada
aspek psikologi sosial mereka membutuhkan rasa aman dalam bermobilisasi dalam
kehidupan nya.
Model layanan pendidikan bagi anak tunadaksa dibagi pada sekolah khusus atau
inklusi. Sekolah yang diperuntukkan bagi anak yang mempunyai problema yang
lebih berat bagi intelektualnya maupun emosinya.
e) Penyebab Tuna Daksa
Penyebab tunadaksa dilihat saat terjadinya kerusakan otak yang terjadi pada:

1) Masa sebelum lahir, antara lain: terjadi infeksi penyakit, kelainan kandungan,
kandungan radiasi, saat mengandng mengalami trauma ( kecelakaan),
2) Pada saat kelahiran, antara lain: proses kelahiran terlalu lama, proses kelahiran
yang mengalami kesulitan, dan pemakaian anestesi, yang melebihi ketentuan.
3) Setelah proses kelahiran, antara lain: kecelakaan, infeksi penyakit, dan ataxia.
d) Tunawicara
Menurut Heri Purwanto (Ortopedagogik Umum, 1998). tuna wicara adalah apabila
seseorang mengalami kelainan baik dalam pengucapan (artikulasi) bahasa maupun suaranya
dari bicara normal, sehingga menimbulkan kesulitan dalam berkomunikasi lisan dalam
lingkungan.Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa anak tunawicara adalah individu
yang mengalami gangguan atau hambatan dalam dalam komunikasi verbal sehingga
mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
a) Klasifikasi Tuna Wicara
Heri Purwanto (Ortopedagogik Umum, 1998), mengemukakan tunawicara

secara

umum diklasifikasikan menjadi 4 bagian,yaitu:


1) Keterlambatan bicara (Delayed speech ), Yaitu seseorang yang mengalami
keterlambatan dalam perkembangan bicaranya jika dibandingkan dengan anak
2)

seusianya.
Gagap (stuttering), Yaitu:kelainan dalam memulai pembicaraan dapat berupa:
a. Pemanjangan fonom atau suku kata depan (prolongation),
b. Pengulangan suku kata depan ( repetition ),
c. Gerak mulut berbicara namun tidak keluar suara ( silent struggle )
d. Anak dengan kekacauan dalam berbicara (cluttering), biasanya berupa bicara
terlalu cepat, struktur kalimat tidak karuan, repitisi berlebihan.

3) Kehilangan kemapuan berbahasa(disphasia), Yaitu kehilangan kemampuan berbahasa


mulai dari kesalahan dalam inti pembicaraan sampai tidak dapat bebicara sama sekali.
4) Kelainan suara(voice disorder), Ditandai dengan perbedaan suara dengan anak normal.
Adapun kelainan suara berupa:
a. Kelainan nada(pitch)
b. Kelainan nada bicara dapat berupa nada terlalu tinggi, terlalu rendah, atau monoton.
c. Kelainan kualitas suara, Kelainan kualitas atau warna suara berupa serak, lemah,
atau desah.
d. Kelainan keras lembutnya suara, Kelainan ini dapat berupa suara keras ataupun suara
lembut
b) Karakteristik Tuna Wicara
Menurut Heri Purwanto (Ortopedagogik umum ,1998) yang merupakan karakterisktik
anak tunawicara adalah :

1) Karakteristik bahasa dan wicara, Pada umumnya anak tunawicara memiliki


kelambatan dalam perkembangan bahasa wicara bila dibandingkan dengan
2)

perkembangan bicara anak-anak normal.


Kemampuan intelegensi, Kemamapuan intelegensi (IQ) tidak berbeda dengan
anak-anak normal, hanya pada skor IQ verbalnya akan lebih rendah dari IQ

performanya
3) Penyesuaian emosi,sosial dan perilaku
4) Dalam melakukan interaksi sosial di masyarakat banyak mengandalkan
komunikasi verbal, hal ini yang menyebabkan tuna wicara mengalami kesulitan
dalam penyesuaian sosialnya.Sehingga anak tunawicara terkesan agak eksklusif
atau terisolasi dari kehidupan masyarakat normal.
5) Sedangkan yang merupakan ciri-ciri fisik dan psikis anak tunawicara
adalah: Berbicara keras dan tidak jelas, Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh
teman bicaranya, Telinga mengeluarkan cairan, Biasanya Menggunakan alat bantu
dengar, Bibir

sumbing, Suka

melakukan

gerakan

tubuh, Cenderung

pendiam, Suara sengau, Cadel.


c) Hambatan yang dialami Anak Tuna Wicara
Anak tunawicara memiliki keterbatasan dalam berbicara atau komunikasi verbal,
sehingga mereka memiliki hambatan dan kesulitan dalam berkomunikasi dan
menyampaikan apa yang ingin mereka rasakan. Kesulitan dalam berkomunikasi akan
semakin parah apabila anak tunawicara ini menderita tungarungu juga. Adapun
hambatan - hambatan yang sering ditemui pada anak tuna wicara :
a.

Sulit berkomunikasi dengan orang lain

b.

Sulit bersosialisasi.

c.

Sulit mengutarakan apa yang diinginkannya.

d. Perkembangan pskis terganggu karena merasa berbeda atau minder.


e.

mengalami

gangguan dalam perkembangan intelektual,

kepribadian, dan

kematangan sosial.
B. Anak Berkebutuhan Khusus Berkelainan Emosi (Tunalaras)
Istilah tunalaras berasal dari kata tuna yang berarti kurang dan laras yang berarti sesuai.
Jadi, anak tunalaras berarti anak yang bertingkah laku kurang/ tidak sesuai dengan lingkungan.
Perilakunya sering bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat tempat
ia berada. Anak tunalaras sering disebut dengan anak tuna sosial karena tingkah laku mereka
menunjukkan pertentangan yang terus menerus terhadap norma-norma masyarakat yang
berwujud seperti mencuri, mengganggu dan menyakiti orang lain. (Soemantri, 2006)
a) Klasifikasi Anak Tunalaras

Secara garis besar anak tunalaras dapat diklasifikasikan sebagai anak yang mengalami
kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, dan yang mengalami
gangguan emosi. Tiap jenis kelainan anak tersebut dapat ditinjau dari segi gangguan
atau hambatan dan klasifikasi berat ringan nya kenakalan, dengan penjelasan sebagai
berikut:
1.

Menurut jenis ganguan atau hambatan


a) Gangguan emosi, anak tunalaras yang mengalami hambatan atau gangguan emosi
terwujud dalam tiga jenis perbuatan yaitu, senang-sedih, lambat-cepat marah, dan
rileks-tekanan. Secara umum emosinya menunjukkan sedih, cepat tersinggung atu
marah, rasa tertekan dan merasa cemas.
b) Gangguan sosial, anak ini mengalami gangguan atu merasa kurang senang
menghadapi pergaulan. Mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan hidup
bergaul. Gejala-gejala perbuatan ini adalah seperti sikap bermusuhan, agresif,
bercakap kasar, menyakiti hati orang lain, keras kepala, menentang, menghina orang
lain, berkelahi, merusak milik orang lain, dan lain sebagainya. Perbuatan mereka
sangat mengganggu ketentraman orang lain.

2.

Klasifikasi berat-ringan nya kenakalan


a) Besar-kecilnya gangguan emosi, artinya semakin tinggi memiliki perasaan negatif
terhadap orang lain makin dalam rasa negatif semakin berat tingkat kenakalan anak
tersebut.
b)

Frekuensi tindakan, artinya frekuensi tindakan semakin sering dan tidak


menunjukkan sikap penyesalan terhadap perbuatan yang kurang baik semakin berat
kenakalan nya.

c)

Berat-ringan nya pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan dapat diketahui dari
sangsi hukum.

d)

Tempat atau situasi kenakalan yang dilakukan atinya anak berani berbuat kenakalan
dimasyarakat sudah menunjukkan berat, dibandingkan dengan apabila dia dirumah.

e) Mudah-sukarnya dipengaruhi untuk bertingkah laku baik. Para pendidik atau orang
tua dapat mengetahui sejauh mana dengan segala cara memperbaiki anak. Anak
bandel dan keras kepala sukar mengikuti petunjuk termasuk kelompok berat.
f)

Tunggal atau ganda ketunaan yang dialami, apabila seorang anak tunalaras juga
mempunyai ketunaan lain maka dia termasuk golongan berat dalam pembinaan nya.

c) Karakterisitk Anak Tunalaras

Karakteristik yang dikemukakan oleh Hallahan & Kauffman (1986) berdasarkan dimensi
tingkah laku anak tunalaras adalah sebagai berikut:
1) Anak yang mengalami kekacauan tingkah laku, memperlihatkan cirri-ciri: suka
berkelahi, memukul, menyerang, mengamuk membangkang, menantang, merusak milik
sendiri atau milik orang lain, kirang ajar, lancang, melawan, tidak mau bekerja sama,
tidak mau memperhatikan, memecah belah, rebut, tidak bias diam, menolak arahan, cepat
marah, menganggab entengg, sok aksi, ingin menguasai orang lain, mengancam,
pembohong, tidak dapat dipercaya, suka berbicara kotor, cemburu, suka bersoal jawab,
tak sanggub berdikari, mencuri, mengejek, menyangkal, berbuat salah, egois, dan mudah
2)

terpengaruh untuk berbuat salah.


Anak yang sering merasa cemas dan menarik diri, dengan cirri-ciri khawatir, cemas,
ketakutan, kaku, pemalu, segan, menarik diri, terasing, tak berteman, rasa tertekan, sedih,
terganggu, rendah diri, dingin, malu, kurang percaya diri, mudah bimbang, sering

3)

menangis, pendiam, suka berahasia.


Anak yang kurang dewasa, dengan cirri-ciri, yaitu pelamun, kaku, berangan-angan,

4)

pasif, mudah dipengaruhi, pengantuk,pembosan, dan kotor.


Anak yang agresif bersosialisasi, dengan cirri-ciri, yaitu mempunyai komplotan jahat,
mencuri bersama kelompoknya, loyal terhadap teman nakal, berkelompok dengan geng,
suka diluar rumah sampai larut malam, bolos sekolah, dan minggat dari rumah.

d) Karakteristik dari segi akademik,sosial/emosional,dan fisik/kesehatan


1) Karakteristik Akademik,
Kelainan perilaku akan mengakibatkan adanya penyesuaian social dan sekolah yang
buruk. Akibat penyesuaian yang brurk tersebut maka dalam belajarnya memperlihatkan
cirri-ciri sebagai berikut.
1) Pencapaian hasil belajar yang jauh dibawah rata-rata
2) Seringkali dikirim ke kepala sekolah atau ruangan bimbingan untuk tindakan
3)
4)
5)
6)

discipliner.
Seringkali tidak naik kelas atau bahkan ke luar sekolahnya
Sering kali membolos sekolah
Lebih sering dikirim ke lembaga kesehatan dengan alasan sakit, perlu istirahat
Anggota keluarga terutama orang tua lebih sering mendapat panggilan dari petugas

7)
8)
9)
10)

kesehatan atau bagian absensi


Orang yang bersangkutan lebih sering berurusan dengan polisi
Lebih sering menjalani masa percobaab dari yang berwenang
Lebih sering melakukan pelanggaran hokum dan pelanggaran tanda-tanda lalu lintas
Lebih sering dikirim ke klinik bimbingan.

2) Karakteristik Sosial/Emosional, Karakteristik social/emosional anak tunalaras dapat


dijelaskan sebagai berikut.
1. Karakteristik social

a. Masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain, dengan cirri-ciri: perilaku
tidak diterima oleh masyarakat dan biasanya melnggar norma budaya, dan perilaku
melanggar aturan keluarga, sekolah, dan rumah tangga.
b. Perilaku tersebut ditandai dengan tindakan agresif, yaitu tidak mengikuti aturan,
bersifat mengganggu, mempunyai sikap membangkang atau menentang, dan tidak
dapat bekerja sama.
2.

Karakteristik emosional
a. Adanya hal-hal yang menimbulkan penderitaan bagi anak, seperti tekanan batin dan
rasa cemas.
b. Adanya rasa gelisah, seperti rasa malu, rendah diri, ketakutan, dan sangat sensitive
atau perasa.

3) Karakteristik Fisik/Kesehatan
Karakteristik fisik/kesehatan anak tunalaras ditandai dengan adanya gangguan
makan, gangguan tidur, dan gangguan gerakan (tik). Seringkali anak merasakan ada
sesuatu yang tidak beres pada jasmaninya, ia mudah mendapat kecelakaan, merasa
cemas terhadap kesehatannya, merasa seolah-olah sakit. Kelainan lain yang berwujud
kelainan fisik, seperti gagap, buang air tidak terkendali, sering mengompol dan jorok.
e) Perkembangan Kognitif, Kepribadian, Emosi, dan Sosial Anak Tunalaras
1. Perkembangan Kognitif Anak Tunalaras
Anak tunalaras memiliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak-anak
pada umumnya. Prestasi yang rendah di sekolah disebabkan mereka kehilangan minat
dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan emosi yang mereka alami.
Kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan anggapan bahwa mereka
memiliki intelegensi yang rendah. Memang anggapan tersebut tidak sepenuhnya
keliru karena diantara anak yang tunalaras juga ada yang mengalami keterbelakangan
mental. Kelemahan dalam perkembangan kecerdasan ini justru yang menjadi
penyebab timbulnya gangguan tingkah laku. Masalah yang dihadapi anak dengan
intelegensi rendah di sekolah adalah ketidakmampuan untuk menyamai temantemannya, padahal pada dasarnya seorang anak tidak ingin berbeda dengan
kelompoknya terutama yang berkaitan dengan prestasi belajar.
Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman-temannya dalam belajar
dapat menyebabkan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri
sehingga anak mencari kompensasi yang sifatnya negatif, misalnya: membolos, lari
dari rumah, berkelahi, mengacau dalam kelas, dan sebagainya. Akibat lain dari

kelemahan intelegensi ini terhadap gangguan tingkah laku adalah ketidakmampuan


anak untuk memperhitungkan sebab akibat dari suatu perbuatan, mudah dipengaruhi
serta mudah pula terperosok ke dalam tingkah laku yang negatif.
Disamping anak yang berintelegensi rendah, tidak berarti anak yang memiliki
intelegensi tinggi tidak memiliki masalah. Anak berintelegensi tinggi seringkali
memiliki masalah dalam penyesuaian diri dengan teman-temannya. Ketidaksejajaran
antara pekembangan intelegensi dengan kemampuan sosial mengakibatkan anak
mengalami kesulitan penyesuaian diri dengan kelompok anak yang lebih tua (tetapi
setara dalam kemampuan mentalnya). Anak yang pintar dengan hambatan ego
emosional seringkali mempunyai anggapan negatif terhadap sekolah. Ia menganggap
sekolah terlalu mudah dan guru menerangkan terlalu lambat.
Masalah lain yang dihadapi anak ini dalam hubungannya dengan orang lain
adalah sikap tidak mau kalah. Mereka selalu ingin berhasil dan tidak mau ikut dalam
permainan dengan kemungkinan dikalahkan orang lain. Hal ini nampak dari sikap
anak yang selalu ingin lebih unggul dari teman-temannya sehingga apabila suatu
waktu dia mengalami kekalahan, maka ia cenderung untuk selalu merasa mudah
kecewa.
2. Perkembangan Kepribadian Anak Tunalaras
Kepribadian akan mewarnai peranan dan kedudukan seseorang dalam berbagai
kelompok dan akan mempengaruhi kesadaran sebagai bagian dari kepribadian akan
dirinya. Dengan demikian kepribadian akan menjadi penyebab seseorang berperilaku
menyimpang. Menifestasi kepribadian yang teramati tampak dalam interaksi individu
dengan lingkungannya, dan pada dasarnya interaksi ini sebagai upaya bentuk
pemenuhan kebutuhan.
Tingkah laku yang ditampilkan orang ini erat sekali kaitannya dengan upaya
pemenuhan kebutuhan hidup. Sejak lahir setiap individu sudah dibekali dengan
berbagai kebutuhan dasar yang menuntut pemenuhan kebutuhan, dan untuk itu setiap
individu senantiasa berusaha memenuhinya yang diwujudkan dalam berbagai
lingkungannya. Konflik psikis dapat terjadi apabila terjadi benturan antara usaha
pemenuhan kebutuhan dengan norma sosial. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan
dan penyelesaian konflik, dapat menjadikan stabilitas emosi terganggu. Selanjutnya
mendorong terjadinya perilaku menyimpang dan dapat menimbulkan frustasi pada diri
individu. Keadaan seperti ini yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan dapat
menimbulkan frustasi pada diri individu. Apabila keadaan ini berkepanjangan maka
dapat menimbulkan gangguan.

3. Perkembangan Emosi Anak Tunalaras


Terganggunya perkembangan emosi merupakan penyebab dari tingkah laku anak
tunalaras. Ciri yang menonjol pada mereka adalah kehidupan emosi yang tidak stabil,
ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara tepat, dan pengendalian diri yang
kurang sehingga mereka seringkali menjadi sangat emosional. Terganggunya kehidupan
emosi ini terjadi sebagai akibat ketidakberhasilan anak dalam melewati fase-fase
perkembangan.
Kematangan emosional seorang anak ditentukan dari hasil interaksi dengan
lingkungannya, dimana anak belajar tentang bagaimana emosi itu hadir dan bagaimana
cara untuk mengekspresikan emosi-emosi tersebut. Perkembangan emosi ini
berlangsung terus menerus sesuai perkembangan usia, akan banyak pula pengalaman
emosional yang diperoleh anak.ia semakin banyak merasakan berbagai macam
perasaan.
Akan tetapi tidak demikian dengan anak tunalaras. Ia tidak mampu belajar
dengan baik dalam merasakan dan menghayati berbagai macam emosi yang mungkin
dapat dirasakan, kehidupan emosinya kurang bervariasi dan ia pun kurang dapat
mengerti dan menghayati perasaan orang lain. Mereka juga kurang mampu
mengendalikan emosinya dengan baik sehingga seringkali terjadi peledakan emosi.
Ketidakstabilan emosi ini menimbulkan penyimpangan tingkah laku, misalnya: mudah
marah dan mudah tersinggung, kurang mampu memahami perasaan orang lain,
berperilaku agresif, menarik diri, dan sebagainya. Perasaan-perasaan seperti itu akan
mengganggu situasi belajar dan akan mengakibatkan prestasi belajar yang tidak sesuai
dengan potensi yang dimilikinya.
4. Perkembangan Sosial Anak Tunalaras
Sebagaimana telah kita pahami bahwa anak tunalaras mengalami hambatan
dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau lingkungannya. Hal ini tidak
berarti bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membentuk
hubungan sosial dengan semua orang. Dalam banyak kejadian ternyata mereka dapat
menjalin hubungan sosial yang sangat erat dengan teman-temannya. Mereka mampu
membentuk suatu kelompok yang kompak dan akrab serta membangun keterikatan
antara yang satu dengan yang lainnya.
Anak tunalaras memiliki penghayatan yang keliru, baik tehadap dirinya sendiri
maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tak berguna bagi
orang lain dan merasa tidak berperasaan. Oleh karena itu timbullah kesulitan apabila
akan menjalin hubungan dengan mereka. Apabila berhasil sekalipun mereka akan

menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada akhirnya dapat menjalin
hubungan sosial dengannya.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
. Anak tunanetra
a.

Klasifikasi anak tunanetra

Anak tunanetra adalah anak-anak yang mengalami kelainan atau gangguan fungsi penglihatan,
yang dinyatakan dengan tingkat ketajaman penglihatan atau visus sentralis diatas 20/200 dan
secara pedagogis membutuhkan layanan pendidikan khusus dalam belajarnya di sekolah.
b. Yang menjadi karakteristik anak-anak tunanetra antara lain dapat dilihat dari segi fisik, segi
motorik, perilaku, akademik, pribadi dan sosial.
Anak tunarungu
Tunarungu adalah istilah yang menunjuk pada kondisi ketidakfungsian organ pendengaran atau
telinga seseorang anak. Kondisi ini menyebabkan mereka memiliki karakteristik yang khas,
berbeda dari anak-anak normal pada umumnya.
Yang menjadi karakteristik anak-anak tunarungu antara lain dapat dilihat dari segi fisik, segi
bahasa, intelektual, sosial-emosional.
Anak tunadaksa
Anak tunadaksa adalah kelainan yang meliputi cacat tubuh atau kerusakan tubuh, kelainan atau
kerusakan pada fisik dan kesehatan dan kelainanan atau kerusakan yang disebabkan oleh
kerusakan otak dan saraf tulang belakang.
a.

Klasifikasi anak tunadaksa meliputi beberapa golongan antara lain:

1.

Penggolongan cerebral palsy menurut derajat kecacatan.

2.

Golongan cerebral palsy menurut topografi monoplegia, adalah kecacatan satu anggota

gerak, kaki kanan.


3.

Golongan menurut fisiologi.

b.

Yang menjadi karakteristik anak tunadaksa adalah: gangguan motorik, gangguan sensorik,

gangguan tingkat kecerdasan, kemampuan berbicara, emosi dan penyesuaian sosial.


Tuna wicara

Tunawicara adalah individu yang mengalami gangguan atau hambatan dalam dalam
komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
a.

Faktor penyebab tuna wicara dapat terjadi karena gangguan ketika: gangguan pre natal,

gangguan neo natal, gangguan pos natal.


b.

Tunawicara secara umum diklasifikasikan menjadi 4 bagian,yaitu: keterlambatan bicara

(Delayed speech ), gagap (stuttering), kehilangan kemapuan berbahasa(disphasia), kelainan


suara(voice disorder).
c.

Yang merupakan karakterisktik anak tunawicara adalah : Karakteristik bahasa,

kemampuan intelegensi, Penyesuaian emosi,sosial dan perilaku


Sedangkan anak berkebutuhan khusus berkelainan emosi (Tunalaras)
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami gangguan/ hambatan emosi dan
tingkah laku sehingga tidak/ kurang menyesuaikan diri dengan baik, baik terhadap lingkungan,
sekolah, maupun masyarakat.
1.

Klasifikasi anak tunalaras

a.

Menurut jenis ganguan atau hambatan yaitu Gangguan emosi, Gangguan sosial.

b.

Klasifikasi berat-ringan nya kenakalan yaitu Besar-kecilnya gangguan emosi, Frekuensi

tindakan, Berat-ringan nya pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan.


c.

Yang menjadi karakteristik anak tunalaras antara lain: Anak yang mengalami kekacauan

tingkah laku, merasa cemas dan menarik diriAnak yang kurang dewasa, anak yang agresif
bersosialisasi.

DAFTAR PUSTAKA