Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.

T DENGAN THYPOID
DI RUANG INAYAH KAMAR 11
PKU MUHAMMADIYAH GAMBONG

PENGKAJIAN
Tanggal masuk RS

: 10-05-2011

Jam masuk RS
Tanggal pengkajian
Jam pengkajian

: 19.45 WIB
: 15-05-2011
: 20.30 WIB

Pengkaji
1.

: Ira Indra Imawati

IDENTITAS KLIEN
Nama Klien
Tempat/tgl lahir

: An.T
: Kebumen,06-11-2006

Umur

: 4,6 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Suku
Bahasa yang dimengerti

: Jawa
: Jawa/Indonesia

Dx Medis
No Rekam Medis

: 0198092

Orang tua/wali

Nama ayah/ibu/wali
Pekerjaan ayah/ibu/wali
Alamat ayah/ibu/wali
2.

: Thypoid

: Tn.K
: Buruh
: Wonorejo,1/2 karanganyar

KELUHAN UTAMA
Pasien panas .

3.

RIWAYAT KELUHAN SAAT INI

Pada tanggal 10 mei 20011 pukul 19.45 WIB klien di bawa ke IGD PKU Muhammadiyah
Gombong dengan keluhan panas sejak 5 hari yang lalu,pusing,mual,lemes,.Pada saat di IGD
pasien mendapatkan terapy Aminopilin 2x300 g/l, amoxilin g/l, Infus RL 12tpm, puyer
(Paracetamol 250mg 3x1).Tanda tanda vital Nadi di IGD; 110 x/mnt, suhu; 40 C, RR ; 16x/mnt.
BB: 12Kg
Pasien dibawa ke bangsal inayah sekitar jam 20.00 WIB. Pada saat di ruangan Kondisi klien
tampak lemas,akral hangat,pusing,pasien mual,tidak mau makan, tanda tanda vital; S: 3880C, N:
100x/m, R:20x/m.
4.
1.

RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU


Prenatal

Selama kehamilan ibu klien melakukan ANC ke bidan secara teratur sesuai dengan anjuran dari
bidan, selama hamil tidak ada keluhan dan penyakit yang diderita ibu klien
2.

Perinatal dan post natal

An. N lahir spontan ditolong bidan, BBL 3,2kg, langsung menangis.


3.

Penyakit yang pernah diderita :


Ibu klien mengatakan anaknya tidak pernah sakit yang mengharuskan dirawat di RS, baru kali
ini.

4.

Hospitalisasi/tindakan operasi

Klien belum pernah mengalami hospitalisasi sebelum sakit yang sekarang.


5.

Injuri/kecelakaan

Ibu klien mengatakan anaknya belum pernah mengalami kecelakaan.


6.

Alergi

Ibu klien mengatakan anaknya tidak mempunyai riwayat alergi demikian juga dengan keluarga,
tidak ada yang mempunyai riwayat alergi.
7.

Imunisasi dan tes laboratorium :


Ibu klien mengatakan anaknya sudah mendapatkan imunisasi lengkap.

8.

Pengobatan

Apabila klien sakit ibu klien membawa ke bidan atau dokter.


5.

RIWAYAT SOSIAL

1.

Yang mengasuh

Yang mengasuh klien adalah ibunya sendiri


2.

Hubungan dengan anggota keluarga :


Hubungan dengan keluarga dan orang lain baik, komunikasi masih belum lancar karena masih
dalam taraf perkembangan.

3.

Hubungan dengan teman sebaya

Hubungan dengan teman sebaya baik


4.

Pembawaan secara umum :


Klien nampak pendiam, kooperatif, tidak takut dengan petugas
6.

1.

RIWAYAT KELUARGA
Sosial ekonomi :
Ibu klien sebagai seorang ibu rumah tangga dan bapak klien sebagai buruh.

2.

Lingkungan rumah

Ibu klien mengatakan lingkungan rumahnya cukup bersih dan ventilasi udara cukup, lantai
rumah dari semen, jumlah jendela 6 buah, tidak ada sumber polusi yang dekat dengan rumahnya.
3.

Penyakit keluarga

Tidak ada anggota keluarga, saudara yang mempunyai penyakit menular ataupun menurun.
7.
1.

PENGKAJIAN TINGKAT PERKEMBANGAN SAAT INI


Personal sosial
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa memakai baju, gosok gigi dengan bantuan
ibunya, cuci dan mengeringkan tangan, menyebutkan nama temanya.

2.

Motorik halus
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa membuat menara dari 6 kubus,meniru garis
vertikal.

3.

Bahasa
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa bicara cukup mengerti, menyebut 4 gambar,
mengatakan 2 nama kegiatan

4.

Motorik kasar
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa melompat dan melempar bola lengan ke atas

Interpretasi
Pertumbuhan dan perkembangan normal

8.
1.

PENGKAJIAN POLA KESEHATAN KLIEN


Pemeliharaan kesehatan :
Selama ini apabila anaknya sakit atau ada anggota keluarga yang sakit maka akan priksa ke bidan
kalau tidak sembuh dibawa ke dokter ataupun di bawa ke rumahsakit

2.

Nutrisi :
Saat ini klien mendapatkan diet bubur kasar ,ibu klien mengatakan klien susah makan sejak
sebelum sakit biasanya hanya makan pagi dan sore saja dan paling hanya 8- 10 sendok makan,
pada saat dikaji ibu klien mengatakan klien makan hanya 1-3 sendok. Ibu klien mengatakan
anaknya muntah.

3.

Cairan :
Sebelum sakit klien minum susu 1-3 gelas perhari, selama sakit klien minum susu 1 gelas dan
kadang minum air putih serta mendapatkan terapi cairan IV RL.

4.

Aktivitas :
Sebelum sakit klien tidak ada keluhan dalam aktifitasnya, dapat bermain dengan teman-teman
sebayanya di rumah, sekarang klien hanya tiduran, tidak bisa beraktifitas seperti biasanya, ADL
dibantu oleh ibunya dan perawat.

5.

Tidur dan istirahat :


Sebelum sakit klien tidur sekitar pukul 19.30 s.d 05.00, tidur siang 2x dengan konsistensi 1 jam ,
pada saat sakit klien tidur sekitar jam 20.00 sampai jam 05.00, tidur siang sekitar 3 jam dengan
konsistensi 1 jam.

6.

Eliminasi :
Sebelum sakit klien biasanya BAB 1x /hari BAK: 4-6x/hari
Pada saat dikaji klien BAB 1x konsistensi padat dan BAK 3-4x/hari

7.

Pola hubungan :
Hubungan dengan orang tua baik, dengan orang lain dan perawat baik.

8.

Koping atau temperamen dan disiplin yang diterapkan :

Orang tua klien memberikan kebebasan kepada anaknya untuk bermain bersama temantemannya asalkan tidak melebihi waktunya beristirahat.
9.

Kognitif dan persepsi :


Tidak ada keluhan tentang penglihatan, penciuman, pendengaran dan perabaan, klien berumur
4,6 tahun kemampuan kognitifnya baik,

10.

Konsep diri :
Ibu klien mengatakan pingin anaknya cepat sembuh karena tidak tega melihat anaknya sakit.

11.

Seksual dan menstruasi :


Klien berjenis kelamin perempuan usia 4,6 tahun, belum mengalami menstruasi.

12.

Nilai :
Tidak ada nilai-nilai keluarga yang bertentangan dengan kesehatan.
9.

PEMERIKSAAN FISIK :

1.

Keadaaan umum :

1.

Tingkat kesadaran : composmentis.

2.

S: 3880C, N: 100x/m, R:20x/m.

3.

BB; 11 kg ,TB; 105 cm , LLA ; 18 cm , LK; 49 cm,LD; 60cm

2.

Kulit :
Warna sawo matang, kulit teraba hangat, kuku pendek dan bersih, turgor kulit menurun,

3.

Kepala :
Bentuk mesochepal, warna rambut hitam, lurus, tersisir rapi dan bersih.

4.

Mata :
Simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva anemis.

5.

Telinga :
Simetris, discharge (-) bersih, bentuk normal.

6.

Hidung :
Simetris, discharge (-), bentuk normal,

7.

Mulut :
Simetris, mukosa bibir kering, gigi normal, bersih, karies (-),
Lidah kotor/ putih

8.

Leher :

JVP tidak meningkat, tidak ada pembesaran limponodi.


9.

Dada :
Paru-paru
I

: Simetris, tidak ada retraksi dinding dada

: tidak ada nyeri tekan

: sonor

: vesikuler

Jantung
S1-S2 murni, tak ada murmur, bising (-).
10.

Payudara :
Tak ada keluhan, simetris.

11.

12.

Abdomen :
I

: terlihat membesar

: bunyi bising usus 10x/m

:perut kembung, agak keras

:bunyi thimpany

Genetalia :
Tak ada keluhan.

13.

Muskuleskeletal :
Tak ada keluhan, pergerakan sendi sesuai jenis, ROM baik.

14.

Neurologi :
Normal, tak ada keluhan.
10. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PENUNJANG
a.Lab darah
Tanggl

:15-05-2011

Pukul

:10.44 WIB
Pemeriksaan Hasil
Bilirubin total 0,90 mg/dl
Bilirubin direk0.30 mg/dl
SGOT
22.0 u/l

Nilai normal
0.00-1.00
< 0,20
40.0 u/l

SGPT
Leokosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH
Trombosit
HbSag
Gol. Darah
Widal (+)

C. Terapi
Tanggal

23.0 u/l
12.61
4.52
11,9 g/dl
34.9 %
77.2
34.1 g/dl
178x 10 /ul
Negative
O

41.0 u/l
4.80-10.80
4.20- 5.40
12-16 g/dl
37-47 g/dl
79-99
33.0-47.0
82.0-95.0
negatif
-

Per-oral
Paracetamol 250 mg
Ctm

Per-interal
Ceftriaxon 2x 3 mg
Dexa 3 x2 mg
Sotatic 2x 1
N. 500 /drip
Inffus RL 20 tpm
D5 15 tpm

3x1

Curliv 2x1
No
Data
1 DS : ibu Klien mengatakan anaknya badan Proses
nya panas
thypi
DO :
klien tampak lemas,

Etiologi
Problem
infekksi salmonella Hipertermi

akral teraba hangat


Suhu: 3880C
Nadi: 100x/ menit
RR: 20x/ menit
2 DS:

Proses inflamasi

P: ibu pasien mengatakan anak nya nyeri


bila

untuk

beraktifitas/bergerak

hilang

apabila saat beristirahat.


Q : ibu pasien mengatakan nyeri anak nya
seperti ditusuk-tusuk
R: ibu Pasien mengatakan nyeri anak nya
pada perut bagian kanan atas.
S: Skala nyeri 4

nyeri

T: nyeri timbul hingga 5 menit


DO:
Wajah pasien tampak menahan nyeri
N :100x/mnt
S : 38 C
RR: 20x/mnt
Ps lemah, ps

tampak gelisah, ps merintih

kesakitan
Nafsu makan menurun, mual (+)
Konjungtiva anemis
Akral hangat
Pasien menangis
3 DS : - ibu klien mengatakan klien makan Anoreksia ( mual dan muntah) Resiko nutrisi kurang
susah hanya 1-3 sendok.
dari kebutuhan
Ibu klien mengatakan anaknya muntah 23x setiap makan
ibu Klien mengatakan anaknya badan nya
panas
DO :
klien muntah
BB : 11 kg
Porsi makan dari RS hanya dimakan 1-3
sendok

1.

ANALISA DATA

2.

PRIORITAS MASALAH
1.
salmonella thypi
2.
3.
anoreksia ( mual & muntah)

3.

RENCANA KEPERAWATAN

Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi


Nyeri b.d proses inflamasi
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d

No
Diagnoses
Tujuan
1 Hipertermi
Setelah dilakukan tindakan
berhubungan
keperawatan selama 2 x 24
dengan
proses jam diharapkan suhu tubuh
ifeksi salmonella normal
engan
KH:
thypi
Mempertahaankan
suhu
tubuh dalam batas normal

intervensi
Mengobserfasi tanda tanda vital
Pantau aktifitas kejang
Pantau hidrasi
Berikan kompres air biasa
Pemberian terapi 0bat anti piretik

sesuai program
Nyeri b.d proses Setelah dilakukan tindakan a.monitor KU
inflamasi

keperawatan
jam

selama

diharapkan

2x24 b.kaji tingkat nyeri intensitas dan skala


nyeri nyeri

berkurang,dengan KH:

c.jelaskan penyebab nyeri

Skala nyeri menjadi 3

d.ajarkan

Pasien nampak lebih rileks

relaksasi(nafas dalam)

teknik

distraksi

Pasien mampu mengontrol e.posisikan pasien senyaman mungkin


nyeri
f.kolaborasi
dengan
tim
medis
pemberian obat analgesik
3 Resiko
nutrisi Setelah dilakukan tindakan Kaji pola dan kebiasaan makan
kurang
dari keperawatan selama 2 x 24
Observasi adanya muntah
kebutuhan
b.d jam
kebutuhan
nutrisi
anoreksia ( mual, adekuat
dengan
kriteria
Menganjurkan keluarga untuk
muntah)
hasil :
memberi makanan dalam porsi kecil
Klien tidak muntah
3. Porsi makan yang disediakan tapi sering dan tidak merangsang
habis
produksi asam (biskuit)
Memberikan terapi pemberian cairan
dan nutrisi sesuai program
Memberikan terapi pemberian anti
emetik sesuai program
1.
1.

IMPLEMENTASI
Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi
Tgl
Implementasi
Respon pasien
15-05-2011 Mengukur tanda tanda vital S: 37,80 C, N: 100x/m, R:20x/m.
Memantau aktifitas kejang
Menganjurkan keluarga untuk

Ttd

memberikan sedikit minum tapi

Pasien tidak mengalami kejang

sering
memberikan kompres hangat

Klien sedikit-sedikit mau minum

memberikan terapi sesuai


program
Pasien dikompres pake air hangat

16-05-2011 Mengukur kembali tanda

Terapi diberikan
S: 36,8C, N: 100x/m, R:20x/m.

tanda vital
Memantau kembali aktifitas
kejang

Pasien tidak mengalami kejang

Menganjurkan kembali
keluarga untuk memberikan

Klien sedikit-sedikit mau minum

sedikit minum tapi sering


memberikan kompres hangat
memberikan kembali terapi
sesuai program

Pasien sudah tidak dikompres


Terapi diberikan

2. Nyeri b.d proses inflamasi


Tgl
Implementasi
15-05-2011
Monitor KU / TTV
Mengkaji skala nyeri

Respon pasien
Keadaan pasien lemah
N : 100 x/mnt

Memberikan posisi yang nyaman. R : 20 x/mnt


Mengajarkan teknik relaksasi

S : 37 C

Memberikan motivasi untuk


kompres air hangat pada bagian Skala nyeri 4
yang sakit
Memberikan terapi obat analgesik

Ttd

-terapi masuk
1.

Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia ( mual, muntah)


Tgl
Implementasi
Respon pasien
15-05-2011
Mengkaji pola dan kebiasaan Klien makan hanya 1-3sdm
makan
Mengobservasi

adanya klien sudah muntah 1x

muntah
Menganjurkan keluarga untuk Ibu klien mengatakan anaknya masih
susah makan
memberi makanan dalam porsi
kecil tapi sering dan tidak
merangsang

produksi

asam

(biskuit)
Memberikan terapi pemberian
cairan

dan

nutrisi

sesuai

program

Infus RL terpasang 20tpm

Memberikan terapi pemberian


anti emetik sesuai program

16-05-2011

Terapi diberikan
Mengkaji kembali pola dan Klien menghabiskan porsi dari RS
kebiasaan makan
Mengobservasi

kembali
Klien sudah tidak muntah terus

adanya muntah
Menganjurkan kembali pada
keluarga

untuk

memberi

makanan dalam porsi kecil tapi


sering dan tidak merangsang
produksi asam
Memberikan kembali terapi
pemberian cairan dan nutrisi

Klien terlihat makan biskuit,pisang

Ttd

sesuai program
Memberikan kembali terapi
pemberian obat anti emetik Infus RL terpasang 20 tpm
sesuai program

Terapi diberikan
2.

EVALUASI
Hari / tanggal
Rabu
18-05-2011

SOAP
S: ibu klien mengatakan anaknya sudah tidak panas
O: klien masih tampak lemas,
klien sudah tdak muntah
Suhu: 36 C
Nadi: 90x/ menit
RR: 20x/ menit
A: masalah teratasi sebagian
P: pertahankan intervensi

Ttd

Rabu
18-05-2011

S: ibu Pasien mengatakan ,anak nya sudah tidak nyeri


perut
O: pasien nampak rileks
A: Masalah teratasi
P: pertahankan intervensi
Motivasi pasien untuk tetap melakukan teknik
relaksasi distraksi (nafas dalam) bila nyeri timbul
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

Rabu
18-5-2011

S:
- S: ibu klien mengatakan ,klien setiap habis makan
sudah berkurang muntah nya.
O: klien masih muntah 1x
BB : 11kg
Porsi makan dari RS hanya dimakan porsi
A: masalah teratasi
P: pertahankan intervensi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.T DENGAN THYPOID


DI RUANG INAYAH KAMAR 11
PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
Di Indonesia demam thypoid jarang dijumpai secara epidemic , tetapi lebih sering
bersifat seporadis, terpencar-pencar di suatu daerah, dan jarang menimbulkan lebih dari satu
kasus pada orang-orang serumah. Pasien anak yang ditemukan berumur diatas 1 tahun.
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan
bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan
mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002)
Masa inkubasi demam thypoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari)
bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam
keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto, 2002)
BP RSUD Kebumen adalah salah satu Rumah Sakit daerah yang mengelola berbagai
penyakit, termasuk penyakit thipoid. Bangsal Melati adalah salah satu bangsal di BP RSUD
Kebumen yang mengelola pasien anak. Di Bangsal Melati pada bulan april terdapat 10 pasien
anak yang menderita penyakit thypoid.
Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada
umumnya seperti demam, nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah, diare, konstipasi, serta suhu
badan yang meningkat.
Pada minggu kedua maka gejala/tanda klinis menjadi makin jelas, berupa demam
remiten, lidah tifoid, pembesaran hati dan limpa, perut kembung, bisa disertai gangguan
kesadaran dari ringan sampai berat. Lidah tifoid dan tampak kering, dilapisi selaput kecoklatan
yang tebal, di bagian ujung tepi tampak lebih kemerahan. (Ranuh, Hariyono, dan dkk. 2001)

2.

Konsep Dasar

1.

Definisi
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi.
Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan
urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.
( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella
Thypi
( Arief Maeyer, 1999 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella
thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan
paratyphoid abdominalis
( Syaifullah Noer, 1996 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid fever,
enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis
(.Seoparman, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang
disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral
melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi
(Mansoer Orief.M. 1999).
Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah
suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat
menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.

2.

ETIOLOGI
Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. Ada dua sumber
penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier
adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi
dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
C.PATOLOGI ANATOMI
Susunan saluran pencernaan terdiri dari : Oris (mulut), faring (tekak), esofagus
(kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus), intestinum mayor (usus
besar ), rektum dan anus.

Pada kasus demam tifoid, salmonella typi berkembang biak di usus

halus (intestinum minor). Intestinum minor adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang
berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum, panjangnya 6 cm, merupakan saluran
paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan yang terdiri dari :

lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar (M sirkuler), lapisan
otot memanjang (muskulus longitudinal) dan lapisan serosa (sebelah luar).
Usus halus terdiri dari duodenum (usus 12 jari), yeyenum dan ileum. Duodenum disebut
juga usus dua belas jari, panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri pada
lengkungan ini terdapat pankreas. Dari bagian kanan duodenum ini terdapat selapu t lendir yang
membukit yang disebut papila vateri. Pada papila vateri ini bermuara saluran empedu (duktus
koledikus) dan saluran pankreas (duktus wirsung/duktus pankreatikus). Dinding duodenum ini
mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar, kelenjar ini disebut kelenjar
brunner yang berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah
yeyenum dengan panjang 23 meter dari ileum dengan panjang 4 5 m. Lekukan yeyenum dan
ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan lipatan peritonium yang
berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium.
Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan vena
mesenterika superior, pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritonium yang
membentuk mesenterium. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang
tegas.
Ujung dibawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang bernama
orifisium ileoseikalis. Orifisium ini diperlukan oleh spinter ileoseikalis dan pada bagian ini
terdapat katup valvula seikalis atau valvula baukhim yang berfungsi untuk mencegah cairan
dalam asendens tidak masuk kembali ke dalam ileum.
Mukosa usus halus. Permukaan epitel yang sangata luas melalui lipatan mukosa dan
mikrovili memudahkan pencernaan dan absorbsi. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub
mukosa yang dapat memperbesar permukaan usus. Pada penampang melintang vili dilapisi oleh
epitel dan kripta yag menghasilkan bermacam-macam hormon jaringan dan enzim yang
memegang peranan aktif dalam pencernaan.
Didalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam sel, termasuk banyak leukosit. Disana-sini
terdapat beberapa nodula jaringan limfe, yang disebut kelenjar soliter. Di dalam ilium terdapat
kelompok-kelompok nodula itu. Mereka membentuk tumpukan kelenjar peyer dan dapat berisis
20 sampai 30 kelenjar soliter yang panjangnya satu sentimeter sampai beberapa sentimeter.
Kelenjar-kelenjar ini mempunyai fungsi melindungi dan merupakan tempat peradangan pada

demam usus (tifoid). Sel-sel Peyers adalah sel-sel dari jaringan limfe dalam membran mukosa.
Sel tersebut lebih umum terdapat pada ileum daripada yeyenum. ( Evelyn C. Pearce, 2000)
D.PATOFISIOLOGI
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan
5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui
Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi
kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan
hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang
memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman
salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke
dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk
ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman
berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel
retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan
bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh
endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia
bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada
patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam
disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat
pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
E..KOMPLIKASI
a. Komplikasi intestinal
1) Perdarahan usus
2) Perporasi usus
3) Ilius paralitik

b. Komplikasi extra intestinal


1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis,
tromboplebitis.
2) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.
3) Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer, sindroma
Guillain bare dan sidroma katatonia.
F.PENATALAKSANAAN
1.
1.

Perawatan
Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi
perdarahan usus.

2.

Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi
perdarahan.

2.

Diet
Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.

2.

Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.

3.

Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.

BAB III
TINJAUAN KASUS
Tinjauan kasus merupakan gambaran asuhan keperawatan yang diterapkan pada klien
demam tifoid melalui proses pendekatan keperawatan yang dilakukan dari tanggal 03 sampai
dengan 05 Juni 2012. Di ruang perawatan wanita Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia Aceh
Utara.
A. Pengkajian
1.

Identitas klien
Nama Ny W berumur 40 tahun dengan jenis kelamin perempuan, bertempat tinggal di cibrek
syamtalira bayu, suku Aceh, beragama Islam dan berpendidikan SMA, status perkawinan kawin,
suku bangsa aceh, pekerjaan IRT, Masuk rumah sakit pada tanggal 02 Juni 2012.
2. Penanggung Jawab Klien
Nama Tn. A berumur 44 tahun dengan jenis kelamin laki-laki, suku Aceh, beragama Islam dan
berpendidikan SD. Tn. A bekerja sebagai wiraswasta dengan bertempat tinggal di cibrek
syamtalira bayu, suku Aceh dan hubungan dengan klien suami klien.
3. Data Riwayat Masuk
a. Keluhan Utama
Klien masuk rumah sakit dengan keluhan demam tinggi, mual, muntah, sakit kepala, nyeri
dibagian abdomen, berat badan : 60 kg, tinggi badan 162 cm, tekanan darah : kanan 100/80
mmHg, temperature : 37,80 C, respirasi rate : 26x/menit, pols : 90x/menit, jam pencatatan 15.00
Wib, Ruang perawatan wanita.
b. Riwayat keluhan

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

17.

18.
19.

Klien sudah merasakan demam, mual, muntah, sakit kepala dan nyeri dibagian abdomen sudah
dua hari sebelum masuk rumah sakit kemudian klien dibawa ke rumah sakit umum daerah cut
meutia oleh suami klien pada tanggal 02 Juni 2012.
Alergi dan reaksi
klien mengatakan tidak ada alergi terhadap obat dan makanan tertentu.
Obat/pengobatan
Obat yang sudah digunakan sebelum di rumah sakit paracetamol, Amoxcilin 3x1, dexametason
1x1. Pemakaian terakhir tanggal 01 juni 2012 2011.
Riwayat penyakit
Klien mengatakan tidak pernah mengalami sakit sebelumnya.
Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit tersebut.
Alat perlengkapan/bantuan yang digunakan spesial
Alat perlengkapan yang digunakan adalah kursi roda.
Riwayat Psikologi
Stress yang baru dialami : klien gelisah, mekanisme koping : yakin kalau penyakitnya akan
sembuh, suport keluarga : klien mendapat suport dari orang tua klien dan suami klien.
Neurologis
Orientasi : orang, tempat, waktu, kesadaran composmentis, pupil : normal kekuatan ekstremitas :
tidak sama, bicara normal, sensori normal, penglihatan normal.
Respirasi
Pola nafas datar, suara pernafasan bersih, taktil fremitus normal, tidak ada sekresi, batuk,
Kardiovaskuler
Pols 90 x/menit, reguler, nadi radial kiri : 24x/menit, kanan : 26x/menit reguler. Auskultasi
jantung tidak ada oedema, perfusi kering.
Gastrointestinal
Mukosa mulut kering, suara peristaltik usus 8x/menit, kemampuan menelan baik, BAB normal,
tidak ada konstipasi.
Genitourinarius
Jenis kelamin perempuan, frekuensi 3-6 kali/24 jam, Tipe kuning muda jernih.
Self care
Pemenuhan kebutuhan yang dibantu higiene, makan. Tingkat kemampuan pemenuhan mandiri.
Nutrisi
Penampilan umum : sedang, nafsu makan kurang selama sakit, penurunan berat badan 1 kg, pola
makan dibantu.
Pengkajian kulit
Warna kehitaman, tampilan secara umum kelembaban kering, temperatur sejuk, tekstur halus.
Pengkajian bahaya tekanan resiko dekubitus status mental sadar siaga, BAB/miksi kontrol
sepenuhnya, mobilitas sedikit terbatas, activitas dapat berjalan, nutrisi sedang/cukup. Score 7
tidak danya resiko dekubitus .
Muskuloskeletal
Rom ekstremita tidak normal nyeri akibat pemasangan infus.
Pendidikan rencana pulang
Apa yang anda ketahui tentang penyakit anda sekarang ? yang saya tau kedaan saya semakin
memburuk sebelum dibawa ke rumah sakit. Informasi apa yang anda butuhkan atau perlu tentang

20.

21.

penyakit anda ? cara menanggulangi demam, dan nyeri. Siapakah anggota kelurga yang anda
senangi terlibat dalam perawatan ? suami, Berapa lama anda berharap dirawat dirumah sakit ?
minimal 3 hari. Apakah klien memerlukan batuan setelah pulang, berkaitan dengan ADL/fungsi
fisik ? tidak ada. Apakah klien memiliki anggota keluarga yang cakap/mampu dan mau bersedia
membantu klien setelah pulang ? ada, suami. Sebelumnya masuk rumah sakit/enam bulan yang
lalu ? tidak ada. Klien tinggal bersama suami. Komentar : klien mengatakan ingin mengetahui
lebih lanjut tentang penyakit.
Pemeriksaan penunjang
Dari data pemeriksaan laboratorium penulis mendapatkan data, yang dilakukan tes laboratorium
pada tanggal 03 Juni 2012 darah : haemoglobin : 9,6 g%, eritosit : 4,29 x 10/mm, leukosit : 16,7
x 10/mm, haematokrit : 24,4%, trombosit : 636 x10/mm, LED : 5 mm/jam, urine : kekeruhan :
jernih, warna : kuning tua, PH : 6, Bj : 1,020, protein : 25mg/dl (positive), billirubin : 1mg/dl
(positive), widal test slide : salmonella thypi : O-1/320 H-1/320, salmonella para thypi A : O1/80 H-1/29, salmonella para thypi B : O-1/160 H-1/320, salmonella parathypi C : O-1/40 H180.
Catatan cerita (narative notes)
Data Subjektif : klien mengatakan demam, sakit kepala, mual, muntah, nyeri perut, batuk,
lemas. Klien tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari.
Data Objektif : keadaan umum lemah, diet : MB, berat badan 70 kg, tinggi badan 157 cm,
temperatur 37,80C, pols 90x/menit.

B. Diagnosa keperawatan
1. Analisa Data
a. Data Subjektif : Klien mengatakan badannya panas atau demam. Data Objektif : temperatur
37,80C. kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah
berselaput putih. Masalah : Hipertermi. Penyebab : proses inflamasi di usus.
b. Data Subjektif : Klien mengatakan tidak mau makan, mual, muntah. Data Objektif : klien
makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang disediakan. Masalah :
Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Penyebab : anoreksia.
c. Data Subjektif : Klien mengatakan nyeri dibagian perut. Data objektif : klien meringis, suara
peristalti usus 13 x/menit. Masalah : Ketidaknyaman nyeri. Penyebab : peningkatan peristaltik
usus.
2. Prioritas Diagnosa Keperawatan
a. Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi di usus ditandai dengan temperatur 37,80C.
kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah berselaput
putih.
b. Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai
dengan klien makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang disediakan.
c. Nyeri perut berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus ditandai dengan klien meringis,
suara peristalti usus 13 x/menit.
C. Perencanaan
1.
Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi di usus di tandai dengan temperatur 37,80C.
kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah berselaput
putih .

Tujuan : suhu dalam batas normal. Kriteria Hasil : tidak mengalami komplikasi yang
berhubungan inflamasi, suhu 36-370C.
Intervensi/Rasional
Intervensi : Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diafosis. Rasional : Suhu
380C menunjukkan proses penyakit infeksi akut pola demam dapat membantu diagnosis Mis :
Kurva demam lanjut berakhir lebih dari 24 jam menunjukkan peunomonia pereumokokal.
Intervensi :Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahan linan tempat tidur sesuai dengan indikasi.
Rasional : Suhu ryangan, jumlah selumut haru diubah untuk mempertahankan suhu mendekati
normal. Intervensi : Kolaborasi dalam pemberian obat antipieretik sesuai dengan indikasi asa :
(Aspirin), asetaminofen (tylonel). Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam aksi sentral.
Intervensi : Jelaskan upaya untuk mengurangi hipertermi dan bantu untuk pelaksanaannya :
tirah baring dan mengurang aktifitas fisik. Rasional : Dapat mengurangi energi yang
dikeluarkan. Intervensi : Anjurkan klien untuk banyak minum 2-3 liter perhari. Rasional :
piningkatan suhu tubuh menyebabkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi
dengan masukan cairan yang banyak.
2.

Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai
dengan klien makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang disediakan.
Tujuan : menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan. Kriteria Hasil : Melakukan
prilaku/perubahan pola hidup untuk mempertahankan berat yang tepat.
Intervensi/Rasional
Intervensi :Catat status nutrisi pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan derajat
kekuranga berat badan, integritas mukosa oral, riwayat mual, muntah atau diare. Rasional :
berguna dalam mendefinisikan derajat/luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat.
Intervensi : Awasi masukan/pengeluaran dan berat badan periodik. Rasional : berguna dalam
mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan. Intervensi : Selidiki mual, muntah, diare dan
catat kemungkinan hubungan dengan obat. Rasional : dapat mempengaruhi pilihan diet dan
mengidentifikasi area pemecahan masalah untuk meningkatkan pemasukan/pengeluaran nutrient.
Intervensi : Dorong dan berika periode istirahat sering. Rasional : membantu menghemat
energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam. Berikan perawatan mulut
sebelum dan sesudah tindakan. Rasional : memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan
dan menurunkan iritasi gaster.
Kolaborasi : Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet. Rasional : memberikan
bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.

3.

Nyeri perut berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus ditandai dengan klien meringis,
suara peristalti usus 13 x/menit.
Tujuan : nyeri teratasi. Kriteria Hasil : Tampak rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.
Intervensi/Rasional
Intervensi : dorong pasien untuk melaporkan nyeri. Rasional : mencoba untuk mentoleransi
nyeri, daripada meminta analgesic. Intervensi : Kaji skala nyeri, Rasional : Nyeri kolik hlang
timbul pada penyakit crohn. Nyeri sebelum defekasi sering terjadi pada KU dengan tiba-tiba.
Intervensi : kaji ulang factor-faktor yang meningkatkan atau menghilangkan nyeri. Rasional :
dapat menunjukkan dengan tepat pencetus atau factor pembert. Intervensi : izinkan pasien untuk
memulai posisi yang nyaman, mis. Lutut fleksi. Rasional : menurunkan tegangan abomen dan
meningkatakan rasa kontrol. Kolaborasi Lakukan modivikasi diet sesuai resep, mis.

Memverikan cairan dan meningkatkan makanan padat sesuai toleransi. Rasional : istirahat usus
penuh dapat menurunkan nyeri, kram.
D. Implementasi/Evaluasi
1. Implementasi Tanggal 03 juni 2012
DX 1 Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi di usus di tandai dengan temperatur
37,80C. kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah
berselaput putih .
Implementasi Jam 09.00 wib Mengukur suhu tubuh klien, Kompres dingin di bagian frontal,
dada dan leher. Mengkaji warna kulit dan membran mukosa, mengatur posisi dengan semi
fowler. Memberikan obat Paracetamol untuk menurukan demam, memberikan minuman yang
banyak.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : Klien mengatakan masih demam. Objektif : Temperatur 37,80C, membran mukosa
kering, kompres terpasang, klien tidak mau minum, infus terpasang, obat diminum. Analisa
Data : Masalah belum teratsi. Perencanaan : Tindakan dilanjutkan.
DX 2 Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
ditandai dengan klien makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang
disediakan.
Implementasi Jam 10.30 wib Menimbang berat badan klien, mengobservasi mencatat
pemasukan makanan klien melalui oral, memberi klien diet MB II, menganjurkan klien untuk
makanan-makanan yang bergizi, dalam porsi sering tapi sedikit.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : Klien mengatakan tidak mau makan, klien mual dan muntah. Objektif : keadaan
umum lemah, BB : 70 kg, makanan yang disajikan hanya mampu dihabiskan 2-3 sendok makan
saja. Analisa data : Masalah belum teratasi. Perencanaan : Intervensi dilanjutkan.
DX 3 Nyeri perut berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus ditandai dengan klien
meringis, suara peristalti usus 13 x/menit.
Implementasi Jam 11.30 wib Mengkaji skala nyeri, memberikan posisi yang nyaman mis, lutut
fleksi, observasi distensi abdomen/peningkatan suhu, penurunan TD, memberikan obat
analgesik.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : klien mengatakan masihnyeri. Objektif : wajah tampak meringis. Analisa data :
Masalah Belum teratasi. Perencanaan : Tindakan dilanjutkan.
2.

Implementasi Tanggal 04 Juni 2012


DX 1 Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi di usus di tandai dengan temperatur
37,80C. kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah
berselaput putih.
Implementasi Jam 09.00 wib Kompres dingin di bagian dada dan leher. Mengkaji warna kulit
dan membran mukosa, menganjurkan klien untuk banyak minum air putih, memberikan obat
paracetamol.
Evaluasi (14:00 wib)

Subjektif : Klien mengatakan demam sudah berkurang. Objektif : Temperatur 370C, membran
mukosa kering. Analisa Data : Masalah teratasi sebagian. Perencanaan : Tindakan dilanjutkan.
DX 2 Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
ditandai dengan klien makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang
disediakan.
Implementasi Jam 10.30 wib Menimbang berat badan klien, mengobservasi mencatat
pemasukan makanan klien melalui oral, memberi klien diet MB II, menganjurkan kepada klien
untuk makanan-makanan yang bergizi, dalam porsi sering tapi sedikit, memberikan pilihan
makanan yang disukai klien yang tinggi protein.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : Klien mengatakan tidak mau makan, klien mual dan muntah. Objektif : keadaan
umum lemah, BB : 70 kg, makanan yang disajikan hanya mampu dihabiskan 3-4 sendok makan
saja. Analisa data : Masalah belum teratasi. Perencanaan : Intervensi dilanjutkan.
DX 3 Nyeri perut berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus ditandai dengan klien
meringis, suara peristalti usus 13 x/menit.
Implementasi Jam 11.30 wib Mengkaji skala nyeri, memberikan posisi yang nyaman mis, lutut
fleksi, observasi distensi abdomen/peningkatan suhu, penurunan TD, memberikan obat
analgesik, mengompres di bagian perut, memberikan antikoligernik.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : klien mengatakan nyeri berkurang. Objektif : wajah tampak rileks. Analisa data :
Masalah teratasi sebgian. Perencanaan : Tindakan dilanjutkan.
3.

Implementasi Tanggal 05 Juni 2012


DX 1 Hipertemia berhubungan dengan proses inflamasi di usus di tandai dengan temperatur
37,80C. kulit tampak kemerahan, berkeringat, ekstremitas hangat, mukosa mulut kering, lidah
berselaput putih.
Implementasi Jam 09.00 wib Mengukur suhu tubuh, kompres dingin di bagian dada dan leher.
menganjurkan klien untuk banyak minum air putih, memberikan obat paracetamol.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : Klien mengatakan anaknya tidak demam lagi. Objektif : Temperatur 370C, turgor
baik. Analisa Data : Masalah teratsi. Perencanaan : Tindakan dihentikan.
DX 2 Resiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
ditandai dengan klien makan hanya 3-4 sendok saja, klien tidak menghabiskan porsi yang
disediakan.
Implementasi Jam 10.00 wib Menimbang berat badan klien, mengobservasi mencatat
pemasukan makanan klien melalui oral, memberi klien diet MB II, menganjurkan kepada orang
tua klien untuk memberi klien makanan-makanan yang bergizi, dalam porsi sering tapi sedikit,
memberikan pilihan makanan yang disukai klien yang tinggi protein.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : Klien mengatakan klien masih belum selera makan. Objektif : keadaan umum
lemah, BB : 70 kg, makanan yang disajikan hanya mampu dihabiskan1/2 porsi. Analisa data :
Masalah teratasi sebagian. Perencanaan : Intervensi dilanjutkan.
DX 3 Nyeri perut berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus ditandai dengan klien
meringis, suara peristalti usus 13 x/menit.

Implementasi Jam 11.30 wib Mengkaji skala nyeri, memberikan posisi yang nyaman mis, lutut
fleksi, observasi distensi abdomen/peningkatan suhu, penurunan TD, memberikan obat
analgesik.
Evaluasi (14:00 wib)
Subjektif : klien mengatakan nyeri hilang. Objektif : wajah tampak rileks Analisa data :
Masalah teratasi. Perencanaan : Tindakan dihentika.
BAB IV
PEMBAHASAN
Dalam bab ini, penulis akan membahas kesenjangan-kesenjangan yang ditemukan antara
tinjauan teoritis dan tinjauan kasus yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
implementasi dan evaluasi.
A. Pengkajian Keperawatan
Data pengkajian yang penulis amati di tinjauan teoritis dan tinjauan kasus ada perbedaan
antara lain : pada tinjauan teoritis terdapat data leucopenia, limfositosis relative, dan
aneosinofilia pada permukaan sakit. Pada tinjauan kasus hal ini tidak diketahui karena tidak
dilakukan pemeriksaan darah tepi. Pengkajian pada tinjauan kasus dilakukan pemeriksaan widal
untuk membuat diagnosis, pemerikasaan yang diperlukan ialah titer zat anti terhadap antigen O,
titer yang bernilai 1/200 atau lebih menunjukkan kenaikan yang progresif. Tetapi pada tinjauan
kasus tidak dilakukan pemeriksaan ini dengan alasan gejala yang diperlihatkan klien sudah
menunjukkan klien menderita demam tipoid.
B.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang terdapat ditinjauan teoritis adalah Nyeri kronis yang berhubungan dengan
proses inflamasi usus. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
pembatasan diet, mual, diare, dan kram abdomen berhubungan dengan makan atau nyeri ulkus
membran mukosa mulut
Diare yang berhubungan dengan proses inflamasi usus, risiko tinggi terhadap inefektif
koping yang berhubungan dengan sifat kronis dari kondisi dan kurang tindakan definitif. Risiko
tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen teurapeutik yang berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, prognosis, tindakan, dan tanda serta gejala
komplikasi. Sedangkan ditinjauan kasus adalah : Hipertemia berhubungan dengan proses
inflamasi di usus. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia. Resiko terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang
tidak adekuat.
Diagnosa yang ada pada tinjauan teoritis tetapi tidak ada pada tinjauan kasus ; nyeri
kronis berhubungan dengan proses inflamasi usus. diagnosa ini tidak terjadi pada klien karena
pada pengkajian klien hanya merasakan nyeri ringan atau nyeri akut. Diare berhubungan dengan
proses inflamasi usus, juga tidak terjadi karena klien BAB dalam bentuk cair dan hanya 2 kali
saja dan hanya satu hari. diagnosa Risiko tinggi terhadap inefektif penatalaksanaan regimen
teurapeutik yang berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, juga tidak terjadi
pada kasus karena klien dan keluarga mendapatkan informasi yang jelas dari perawat.

C. Perencanaan
Perencanaan asuhan keperawatan pada tinjauan teoritis pada diagnosa nyeri kronis yang
berhubungan dengan inflamsi usus mengobservasi nyeri, pada tinjauan kasus tidak dilakukan
karena klien tidak mengalami nyeri kronis, pada diagnosa perubahan nutrisi dilakukan (NGT)
sedangkan pada tinjauan kasus pada doagnosa perubahan nutrisi tidak dilakukan (NGT) hanya
menganjurkan keluarga agar menyediakan makanan yang bervariasi agar klien tertarik. Pada
tinjauan teoritis diagnosa Diare dilakukan tindakan mengkaji ukuran, jenis, konsistensi diare,
sedangkanpada tinjauan kasus tidak dilakukan karena tidak terjadi masalah diare. Diagnosa
inefektif koping individu dilakukan tindakan mensuport klien dan keluarga pada tinjauan kasus
tidak dilakukan karena klien memiliki keluarga yang selalu menjaga dan mensuport klien
sehingga klien tidak merasa cemas.
D. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana tindakan yang
telah disusun dimana tindakan keperawatan yang diberikan masukan untuk memenuhi kebutuhan
klien sehingga tujuan keperawatan dapat tercapai dari semua tindakan keperawatan.
Pada tinjauan kasus dapat dilaksanakan dengan baik walaupaun ada sebahagian tindakan
tidak bisa diterapkan yaitu pada diagnosa perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Karena
terbatasnya waktu bagi penulis dan masalah nutrisi pencapaian tujuannya butuh waktu agak
lama.
E.

Evaluasi
Untuk mengetahui hasil dan tercapainya masalah dari suatu tindakan yang dilaksanakan
melalui pengkajian ulang terhadap aspek-aspek yang terkait dengan klien selama dalam
perawatan. Berdasarkan evaluasi maka dapat disimpulkan bahwa sebagian masalah telah
menggambarkan keberhasilan antara lain : pada masalah hipertemia, masalah teratasi pada hari
ke tiga pengkajian dengan menunjukkan klien tidak demam lagi, Temperatur 370C, pada masalah
resiko terhadap kekurangan volume cairan tidak terjadi.
Sebagian masalah yang tidak teratasi antara lain : pada masalah perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh, keterbatasan waktu penulis dalam memberikan asuhan keperawatan
sedangkan membutuhkan waktu yang lama untuk mengatasi masalah pada klien.