Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

HERNIA
A.

DEFINISI
Hernia adalah penonjolan isi perut dari rongga yang normal melalui suatu defek pada

fasia muskuloaponeurotik dinding perut, baik secara kongenital atau didapat, yang memberi
jalan keluar pada setiap alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut.
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui
defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut.
Sedangkan Hernia Scrotalis adalah penonjolan hernia yang terjadi pada kantong
scrotum sering terjadi pada anak-anak karena kelainan kongenital (bawaan). Operasi hernia
adalah tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengembalikan isi hernia pada posisi
semula dan menutup cincin hernia.
Hernia Scrotalis merupakan penonjolan yang keluar dari rongga peritoneum melalui
anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior, kemudian
hernia masuk kedalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari anulus
inguinalis eksternus.
Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hernia
hernia scrotalis adalah hernia yang melalui atau menekan area scrotum yang terletak lateral
dari pembuluh epigastrika inferior kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis dan
jika cukup panjang, menonjol keluar dan menekan testis.
Sedangkan Herniotomi adalah pembedahan kantong hernia sampai ke lehernya,
kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi kantong
hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
B.

ETIOLOGI
Hernia dapat terjadi karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, atau

akibat tekanan rongga perut yang meninggi. Adapun beberapa faktor yang dapat
menyebabkan terjadinya hernia antara lain sebagai berikut:
a. Kongenital
Terjadi akibat prosesus vaginalis peritonium disertai dengan annulus inguinalis yang
cukup lebar, terutama ditemukan pada bayi. Lemahnya dinding rongga perut. Dapat
ada sejak lahir atau didapat kemudian dalam hidup. Adapun penyebab kongenital atau
bawaan dapat dibagi menjadi dua berdasarkan kelainannya:
1.
Hernia congenital sempurna. Bayi sudah menderita hernia kerena adanya defek
pada tempat tempat tertentu.

2.

Hernia congenital tidak sempurna. Bayi dilahirkan normal (kelainan belum


tampak) tapi dia mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan
beberapa bulan (0 1 tahun) setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek
tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal (mengejan,

batuk, menangis).
b. Prosesus vaginalis yang terbuka, yang disebabkan oleh:
1.
Pekerjaan mengangkat barang-barang berat.
2.
Batuk kronik, bronchitis kronik, TBC.
3.
Hipertropi prostat dan konstipasi.
4.
Pekerja keras
c. Kelemahan otot dinding perut, yang disebabkan oleh:
1.
Usia tua, sering melahirkan.
2.
Perubahan defek setelah appendiktomy
d. Aquisial, aquisial adalah hernia yang terbuka disebabkan karena adanya defek bawaan
tetapi disebabkan oleh fakor lain yang dialami manusia selama hidupnya, antara lain :
1.
Tekanan intraabdominal yang tinggi. Banyak dialami oleh pasien yang sering
mengejan yang baik saat BAB maupun BAK.
Konstitusi tubuh. Orang kurus cenderung terkena hernia jaringan ikatnya yang

2.

sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terkena hernia karena banyaknya
jaaringan lemak pada tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat
penyokong pada LMR.
Banyaknya preperitoneal fat banyak terjadi pada orang gemuk.
Distensi dinding abdomen karena peningkatan tekanan intraabdominal.

3.
4.
C.

KLASIFIKASI HERNIA
Berikut ini adalah pembagian atau klasifikasi dari hernia:
a. Hernia Menurut Lokasinya.
1.
Hernia inguinalis adalah hernia yang terjadi dilipatan paha. Batang usus
melewati cincin abdomen dan mengikuti saluran sperma masuk ke dalam kanalis
inguinalis. Jenis ini merupakan yang tersering ditemukan atau terjadi pada pasien
dan dikenal dengan istilah turun berok atau burut.
2. Hernia Scrotalis adalah hernia yang terjadi apabila usus masuk kedalam kantung
scrotum ini terjadi bila batang usus melewati cincin abdomen dan mengikuti
saluran sperma masuk ke dalam kanalis inguinalis kemudian masuk kedalam
kantong scrotum dan menekan pada isi kantung scrotum sehingga scrotum
membesar.
3. Hernia umbilikus adalah hernia yang tejadi apabila usus masuk melalui prosecus
discus pada pusat atau sering disebut hernia di pusat, hernia jenis ini terjadi pada
bayi yang baru lahir yang disebabkan karena kelainaan kongenital.
4. Hernia femoralis adalah hernia yang tejadi apabila usus masuk melalui prosecus
discus di paha.

b. Hernia Menurut Isinya


1. Hernia usus halus adalah hernia yang terjadi bila yang melewati cincin abdomen
adalah usus halus.
2. Henia Omentum
Hernia omentum adalah hernia yang terjadi bila yang melewati cincin abdomen
adalah penyangga usus. Omentum adalah berupa organ atau jaringan yang keluar
melalui kantong hernia, misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus
(omentum).
3. Hernia Nukleus Pulposus
Adalah jenis hernia yang terjadi apabila, system syaraf pusat atau sumsum tulang
belakang pada vertebra terjepi pada discus vertebrae terjadi karena trauma yang
melibatkan tulang belakang misalmya jatuh dalam posisi terduduk.
c. Hernia Menurut Sifatnya
1. Hernia Reponibel
Isi hernia dapat keluar masuk, usus keluar jika mengejan dan masuk jika berbaring
atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri/gejala.
2. Hernia Ireponibel
Kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga, ini disebabkan oleh
perlengketan isi kantong pada peritonial. Penatalaksanaan harus dengan operasi.
3. Hernia Inkaserata/Hernia Stragulata
Isi hernia terjepit oleh cincin hernia/terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam
rongga perut.
Bagian bagian hernia :
Kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia
memiliki kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa, hernia

D.

intertitialis.
Isi hernia
Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya usus,
ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).
Pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia.
Leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia.

PATOFISIOLOGI
Pada hernia karena kelainan kongenital yang terjadi bawaan lahir, kanalis inguinalis

dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke 8 dari kehamilan, terjadinya desensus
vestikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan testis itu akan menarik peritoneum ke daerah
scrotum sehingga terjadi tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis
peritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi, sehingga isi
rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam beberapa hal sering belum

menutup, karena testis yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis
inguinalis yang kanan lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini
akan menutup pada usia 2 bulan.
Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila kanal terbuka terus,
karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital.
Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi karena usia lanjut, karena pada umur tua otot
dinding rongga perut melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh
mengalami proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup.
Namun karena daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka pada keadaan
yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat seperti batuk batuk kronik, bersin
yang kuat dan mengangkat barang barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat
terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu jaringan
tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan dinding rongga yang telah
tertekan akibat trauma, hipertropi prostat, asites, kehamilan, obesitas dan kelainan kongenital
dan dapat terjadi pada semua. Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses
perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin.
Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong
hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan terhadap cincin
hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin hernia menjadi sempit dan
menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Timbulnya edema bila terjadi obtruksi usus yang
kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian terjadi nekrosis. Bila terjadi penyumbatan
dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah, konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan,
maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan
terjadi nekrosis. Juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan ususnya terputar. Bila isi
perut terjepit dapat terjadi shock, demam, asidosis metabolik, abses.
Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Antara lain
obstruksi usus sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang akhirnya dapat
menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis.
Hernia eksternal merupakan protrusi abnormal organ intra-abdominal melewati defek
faskia pada dinding abdominal. Hernia yang sering terjadi adalah inguinal, femoral, umbilical,
dan paraumbilikal.
Hernia indirek bersifat congenital dan disebabkan oleh kegagalan penutupan prosesus
vaginalis (kantong hernia) sewaktu turun ke dalam skrotum. Kantong yang dihasilkan bisa
meluas sepanjang kanalis inguinalis; jika meluas kedalam skrotum maka disebut hernia
lengkap. Karena processus vaginalis terletak didalam funikulus spermatikus, maka prosessus
ini dikelilingi oleh muskulus kremater dan dibentuk oleh pleksus venosus pampiniformis,
duktus spermatikus dan arteria spermatika. Lubang interna ke dalam kavitas peritonealis

selalu lateral terhadap arteria epigastrica profunda dngan adanya hernia inguinalis indirek,
sedangkan lubang interna medial terhadap pembuluh darah ini bila hernianya direk.
Hernia inguinalis dan scrotalis sering timbul pada pria dan lebih sering pada sisi kanan
dibandingkan sisi kiri. Peningkatan tekanan intra abdomen akibat berbagai sebab, yang
mencakup pengejanan yang mendadak, gerak badan yang terlalu aktif, obesitas, batuk
menahun, asites, mengejan pada waktu buang air besar, kehamilan dan adanya massa
abdomen yang besar, mempredisposisi pasien ke perkembangan hernia.
Peningkatan tekanan intra abdomen ini akan mendorong bagian dari usus dan lambung
ke dalam kanalis ini, atau bahkan kedalam scrotum. Faktor yang dipandang berperan kausal
adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, dan kelemahan otot dinding perut karena usia.
Proses turunnya testis mengikuti prosesus vaginalis. Pada neonatus kurang lebih 90%
prosesus vaginalis tetap terbuka sedangkan pada bayi umur satu tahun sekiar 30% prosesus
vaginalis belum tertutup. Tetapi kejadian hernia pada umur ini hanya beberapa persen. Tidak
sampai 10% anak dengan prosesus vaginalis paten menderita hernia. Pada anak dengan hernia
unilateral dapat dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral lebih dari separo, sedangkan
insidens hernia tidak melebihi 20%. Umumnya disimpulkan bahwa adanya prosesus vaginalis
yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan faktor lain
seperti anulus ingunalis yang cukup besar.
Tekanan intraabdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi
prostat, konstipasi, dan asites sering disertai hernia ingunalis.
Insidens hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin karena meningkatnya
penyakit yang meninggikan tekanan intraabdomen dan jaringan penunjang berkurang
kekuatannya.
Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus
turut kendur. Sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih
transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam
kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan
N.Ilioinguinalis dan N.Iliofemoralis setelah apendektomi.
Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum disebut hernia skrotalis.
Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut lateral pembuluh epigastrika inferior.
Disebut indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran yaitu anulus dan kanalis
inguinalis; berbeda dengan hernia medialis yang langsung menonjol melalui segitiga
Hesselbach dan disebut sebagai hernia direk.
Pada pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak tonjolan berbentuk lonjong sedangkan
hernia medial berbentuk tonjolan bulat. Pada bayi dan anak, hernia lateralis disebabkan oleh
kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritonium sebagai akibat
proses penurunan testis ke skrotum. Hernia geser dapat terjadi disebelah kanan atau kiri.

Sebelah kanan isi hernia biasanya terdiri dari sekum dan sebagian kolon asendens, sedangkan
sebelah kirinya terdiri dari sebagian kolon desendens. Pada umumnya keluhan pada orang
dewasa berupa benjolan di lipat paha yang timbul pada waktu mengedan, batuk, atau
mengangkat beban berat, dan menghilang waktu istirahat baring. Pada bayi dan anak-anak
adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha biasanya diketahui oleh orang tua. Jika
hernia mengganggu dan anak atau bayi sering gelisah, banyak menangis dan kadang-kadang
perut kembung, harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulate.
Defek pada dinding abdomen dapat kongenital (misalnya: hernia umbilikalis, kanalis
femoralis) atau didapat (misalnya akibat suatu insisi) dan dibatasi oleh peritoneum (kantung).
Peningkatan tekanan intraabdomen lebih lanjut membuat defek semakin lemah dan
menyebabkan beberapa isi intraabdomen (misalnya: omentum, lengkung usus halus), keluar
melalui celah tersebut. Isi usus yang terjebak di dalam kantung menyebabkan inkarserasi
(ketidakmampuan untuk mengurangi isi) dan kemungkinan strangulasi (terhambatnya aliran
darah ke daerah yang mengalami inkarserasi).
Pasien datang dengan benjolan di tempat lokasi hernia. Hernia femoralis berada di
bawah dan lateral dari tuberkulum pubikum. Biasanya hernia ini mendatarkan garis-garis kulit
di lipatan paha dan 10 kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. 50% kasus
merupakan kasus kegawatdaruratan bedah akibat terobstruksinya isi hernia dan 50% dari
kasus ini membutuhkan reseksi usus halts. Hernia femoralis tidak dapat dikembalikan ke
tempat semula (irreducible). Hernia inguinalis dimulai pada bagian atas dan medial terhadap
tuberkulum pubikum namun dapat turun lebih luas jika membesar, biasanya mempertegas
garis-garis lipatan paha. Sebagian besar ringan dan jarang mengalami komplikasi.

E.

PATHWAY

F.

MANIFESTASI KLINIS
Pada kebanyakan kasus hernia, tanda dan gejala yang sering muncul pada pasien yang

dapat ditemui antara lain :


a. Berupa benjolan keluar masuk/keras
b. Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan
c. Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada komplikasi.
d. Terdapat keluhan kencing berupa disuria pada hernia femoralis yang berisi kandung
kencing.
Hernia yang tak memperlihatkan gejala-gejala diketemukan pada waktu pemeriksaan
rutin. Suatu penonjolan atau gumpalan pada skrotum, dan pada waktu batuk dan defekasi
penonjolan semakin menonjol. Juga pada waktu meningkat sesuatu atau kegiatan fisik
lainnya. Pada beberapa kasus tertentu massa menjulur sampai ke dalam skrotum, daerah
pangkal paha terasa tidak enak, terutama kalau hernia membesar.
Umumnya pasien pengatakan turun berok, burut atau kelingsir, mengatakan adanya
benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang pada
waktu tidur, dan bila menangis, mengejan, atau mengangkat benda berat atau bila posisi
pasien berdiri dapat timbul kembali. Bila telah terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri.
Keadaan umum pasien biasanya baik. Bila benjolan tidak nampak, pasien dapat
disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri. Bila ada hernia maka akan
tampak benjolan. Bila memang sudah tampak benjolan, harus diperiksakan apakah benjolan
tersebut dapat dimasukkan kembali. Pasien diminta berbaring, bernapas dengan mulut untuk
mengurangi tekanan intraabdominal, lalu skrotum diangkat perlahan-lahan. Diagnosis pasti
hernia pada umumnya sudah dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang teliti.
Keadaan cincin hernia juga perlu diperiksa. Melalui skrotum jari telunjuk dimasukkan
ke atas lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti fasikulus spermatikus sampai ke annulus
inguinalis internus. Pada keadaan normal jari tangan tidak dapat masuk. Pasien diminta
mengejan dan merasakan apakah ada massa yang menyentuh jari tangan. Bila massa tersebut
menyentuh ujung jari maka itu adalah hernia inguinalis lateralis, sedangkan bila menyentuh
sisi jari maka diagnosisnya adalah hernia inguinalis medialis.
Umumnya penderita hernia menyatakan adanya benjolan di kemaluan. Benjolan itu
bisa mengecil atau menghilang, dan bila menangis mengejan waktu defekasi/miksi,
mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan
atau gejala muntah dan mual bila telah ada komplikasi.
Umumnya klien mengatakan adanya benjolan pada lipatan paha. Pada bayi dan anak
adanya benjolan yang hilang timbul dilipatan paha, dan hal ini biasanya diketahui oleh orang
tuanya.
G.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Biasanya tidak diperlukan pemeriksaan tambahan untuk menegakkan diagnosis hernia.


Namun pemeriksaan seperti ultrasonografi (USG), CT Scan, maupun MRI (Magnetic
Resonance Imaging) dapat dikerjakan guna melihat lebih lanjut keterlibatan organ-organ yang
terperangkap dalam kantung hernia tersebut. Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk
kepentingan operasi.
Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/ obstruksi usus.
Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi
(peningkatan hematokrit), peningkatan sel darah putih (Leukosit : >10.000 18.000/mm3) dan
ketidak seimbangan elektrolit.
H.

PENATALAKSANAAN
a. Konservatif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian
penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.
b. Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang
rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi
hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.
c. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong
dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong
hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
d. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya
dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai
metode hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan
terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan
muskulus tranversus internus abdominis dan muskulus oblikus internus abdominis
yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut
metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa musculus transversus abdominis,
musculus oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mac Vay.
Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan
sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek.
Dalam melaksanakan tindakan penatalaksanaan pada pasien dengan hernia maka yang

hal-hal yang harus diperhatikan antara lain adalah prinsip pembedahan:


a.Herniotomi: eksisi kantung hernianya saja untuk pasien anak.

b.

Herniorafi: memperbaiki defek, perbaikan dengan pemasangan jaring (mesh)


yang biasa dilakukan untuk hernia inguinalis, yang dimasukkan melalui bedah terbuka
atau laparoskopik.

I.

KOMPLIKSI
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Hemtoma (luka atau pada skrotum).


Retensi urin akut.
Infeksi pada luka.
Gangguan aktivitas
Nyeri kronis.
Nyeri dan pembengkakan testis yang menyebabkan atrofi testis
Rekurensi hernia (sekitar 2%).
Dampak post herniotomi terhadap sistem tubuh dan system kelangsungan aktivitas

pasien setelah dilakukan post operasi herniotomy antara lain adalah sebagai berikut:
a.Sistem Gastrointestinal
Pembedahan traktus gastrointestinal sering kali mengganggu proses fisiologi normal
pencernaan dan penyerapan. Mual, muntah dan nyeri dapat terjadi selama pembedahan
ketika digunakan anestesia spinal. Dan penurunan peristaltik usus ini mengakibatkan
distensi abdomen dan gagal untuk mengeluarkan feses dan flatus. motalitas
gastrointestinal dapat mengakibatkan distensi abdomen dan gagal untuk mengeluarkan
feses dan flatus.
Sistem Neurologi
Luka pembedahan mengakibatkan spasme otot dan pembuluh darah sehingga

b.

merangsang pelepasan mediator kimia ( seratonin, bradikinin, histamin ). Proses ini


merangsang reseptor nyeri kemudian rangsangan ditransmisikan ke thalamus, kortek
cerebri sehingga terasa nyeri. Nyeri akan merangsang RAS (Retikular Activating
Sistem) stimulus ini menyebabkan sikap terjaga dan berkurangnya stimulus untuk
mengantuk.
c.Sistem Pernapasan
Peningkatan frekuensi nafas dapat terjadi akibat nyeri pada luka operasi, hal ini
merangsang sinyal dari sum-sum tulang belakang yang dihantarkan melalui dua jalur
yaitu Spinal Thalamus Traktus (STT) ke Spinal Respiratory Traktus ( SRT ). Dari
spinal thalamus traktus akan dihantarkan ke korteks cerebri sehingga nyeri
dipersepsikan, sedangkan dari spinal respirator, traktus akan dihantarkan ke medula
oblongata sehingga mengakibatkan neural inspiratory yang akan meningkatkan
frekuensi pernapasan. Nyeri pada luka operasi dapat menekan pengembanahan rongga
dada dan pasien dapat memerlukan sangat banyak dorongan untuk beergerak,
ambulasi dan bernafas dalam.
Sistem Kardiovaskuler

d.

Pada klien post herniotomi biasanya dapat terjadi peningkatan denyut nadi, hal ini
disebabkan dari rasa nyeri akibat luka operasi sehingga mengakibatkan medula
oblongata untuk meningkatkan frekuensi pernapasan dan merangsang epineprin
sehingga menstimulasi jantung untuk memompa lebih cepat selain itu juga dapat
terjadi akibat faktor metabolik, endokrin dan keadaan yang menghasilkan adrenergik
sehingga dimanifestasikan peningkatan denyut nadi.
e.Sistem Integumen
Luka operasi akan mengakibatkan kerusakan kontinuitas jaringan dan keterbatasan
gerak dapat mengakibatkan kerusakan kulit pada daerah yang tertekan karena sirkulasi
perifer terhambat. Akibat dari keadaan post operatif seperti peradangan, edema dan
perdarahan, sering terjadi pembekakan skrotum setelah perbaikan hernia inguinal.
f. Sistem Muskuloskeletal
Nyeri pada luka operasi timbul akibat terputusnya kontinuitas jaringan serta adanya
spasme otot, terjadi penekanan pada pembuluh darah yang mengakibatkan
metabolisme anaerob sehingga menghasilkan asam laktat, hal ini mengakibatkan
terjadinya gangguan pergerakan (otot persendian) sehingga aktivitas sehari-hari dapat
terganggu. Selain itu nyeri akibat luka operasi dapat mengakibatkan klien mengalami
keterbatasan gerak.
Sistem Perkemihan
Terjadinya retensi urine dapat terjadi setelah prosedur pembedahan. Retensi terjadi

g.

paling sering setelah pembedahan pada rektum, anus dan vagina setelah pembedahan
pada abdomen bagian bawah, penyebabnya diduga adalah spasme spinkter kandung
kemih.
J.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


a. Pengkajian
Tahap ini merupakan tahap awal dalam proses keperawatan dan menentukan hasil dari
tahap berikutnya. Pengkajian dilakukan secara sistematis mulai dari pengumpulan
data, identifikasi dan evaulasi status kesehatan klien
Pengkajian data fisik berdasarkan pada pengkajian abdomen dapat menunjukan
benjolan pada lipat paha atau area umbilikal. Keluhan tentang aktivitas yang
mempengaruhi ukuran benjolan. Benjolan mungkin ada secara spontan atau hanya
tampak pada aktivitas yang meningkatkan tekanan intra abdomen, seperti batuk,
bersin, mengangkat berat atau defekasi. Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa
ketidaknyamanan dialami karena tegangan yang meningkatkan tekanan intra abdomen,
seperti batuk, bersin, mengangkat berat atau defekasi.
Keluhan tentang ketidaknyamanan. Beberapa ketidaknyamanan dialami karena
tegangan. Nyeri menandakan strangulasi dan kebutuhan terhadap pembedahan segera.

Selain itu manifestasi obstruksi usus dapat dideteksi (bising usus, nada tinggi sampai
tidak ada mual/muntah).Data yang diperoleh atau dikaji tergantung pada tempat
terjadinya, beratnya, apakah akut atau kronik apakah berpengaruh terhadap struktur
disekelilingnya dan banyaknya akar saraf yang terkompresi atau tertekan. Pengkajian
secara teoritis yang dapat muncul diantaranya :
1. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk,
mengemudi dalam waktu lama. Membutuhkan matras/papan yanag keras saat
tidur. Penurunan rentang gerak dari ekstremitas pada salah satu bagian tubuh.
Tidak mampu melakukan aktivitas yang biasa dilakukan.
Tanda : Atropi otot pada bagian yang terkena. Gangguan dalam berjalan.
2. Eliminasi
Gejala : Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi, adanya inkontinensia
atau retensi urine.
3. Neuro Sensori
Gejala : Kesemutan, kekauan, kelemahan dari tangan atau kaki.
Tanda : Penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot, hipotonia. Nyeri tekan
atau spasme otot pada vertebralis. Penurunan persepsi nyeri (sensorik).
4. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk dengan adanya
batuk, bersin, membengkokan badan, mengangkat, defekasi, mengangkat kaki atau
fleksi pada leher, nyeri yang tiada hentinya atau adanya episode nyeri yanag lebih
berat secara intermiten. Nyeri yang menjalar pada kaki, bokong (lumbal) atau
bahu/lengan, kaku pada leher atau servikal. Terdengar adanya suara krek saat
nyeri bahu timbul/saat trauma atau merasa punggung patah. Keterbatasan untuk
mobilisasi atau membungkuk kedepan.
Tanda : Sikap dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang tekena. Perubahan
cara berjalan, berjalan dengan terpincang-pincang, pinggang terangkat pada bagian
tubuh yang terkena. Nyeri pada palpasi.
b. Diagnosa Keperawatan
Pre operasi
1. Nyeri akut
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Disfungsi motilitas gastrointestinal
4. Defisiensi pengetahuan
Post operasi
1. Nyeri akut
2. Resiko infeksi