Anda di halaman 1dari 5

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA TANIN

DARI DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.)

A. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keanekaragaman
tanaman terutama hasil pertanian dan rempah-rempah. Salah satu keanekaragaman
hayati yang terdapat di Indonesia adalah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.).
Belimbing wuluh tumbuh hampir di seluruh daerah, namun belum dibudidayakan
secara khusus (Abdul, 2008).
Tanaman belimbing wuluh dapat dimanfaatkan dalam kehidupan seharihari. Bagian yang dapat digunakan diantaranya bunga, buah, daun dan batangnya.
Bunga belimbing wuluh digunakan sebagai obat batuk dan sariawan. Buah
belimbing wuluh selain digunakan sebagai bumbu masak juga dapat digunakan
sebagai obat menurunkan tekanan darah tinggi, gusi berdarah, jerawat dan batuk.
Daun belimbing wuluh selain digunakan sebagai penyedap rasa juga dapat
digunakan sebagai obat batuk, obat kompres pada sakit gondokan dan obat
rematik, antidiare, sedangkan batang belimbing wuluh dapat digunakan sebagai
obat sakit perut (Atang, 2009). Bahan aktif pada daun belimbing wuluh yang
dapat dimanfaatkan sebagai obat adalah tanin.

Struktur inti Tanin


Senyawa tanin merupakan senyawa polifenol yang berada di tumbuhan,
makanan dan minuman (Makkar and Becker, 1998) dapat larut dalam air dan
pelarut organik (Haslam, 1996). Senyawa tanin yang terkandung dalam daun
belimbing wuluh bersifat penolak hewan pemakan tumbuhan. Senyawa tanin juga
digunakan untuk proses tanning atau penyamakan kulit binatang yang digunakan
industri kulit, untuk pembuatan tinta, digunakan untuk obat-obatan sebagai
astringen dan untuk pewarnaan (cat) (Ledder, 2000).

B. MAKSUD DAN TUJUAN PERCOBAAN


1. Percobaan ini bermaksud untuk memperkenalkan salah satu metode isolasi
senyawa bahan alam.
2. Tujuan percobaan adalah mengisolasi tanin dari daun belimbing wuluh dengan
metode kromatografi, mengidentifikasi dengan metode pereaksi warna, dan
elusidasi struktur dengan metode spektroskopi.
C. DASAR TEORI
Belimbing wuluh merupakan tanaman yang termasuk dari keluarga Oxalidaceae.
Belimbing wuluh (A. Bilimbi L.) dikenal sebagai tanaman pekarangan yang
berbunga sepanjang tahun. Belimbing wuluh memiliki pohon kecil, dengan tinggi
mencapai 10 m dengan batang yang tidak begitu besar dan mempunyai garis
tengah hanya sekitar 30 cm. belimbing wuluh ditanam sebagai pohon buah, ada
yang tumbuh secara liar dan kebanyakan berada di daerah dataran rendah dengan
ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (Arland, 2006).
Arland (2006) menyatakan bahwa daun belimbing wuluh mengandung
senyawa metabolit sekunder diantaranya senyawa tanin, selain itu daun belimbing
wuluh juga mengandung sulfur, asam format. Faharani (2009) menunjukkan
bahwa ekstrak daun belimbing wuluh mengandung flavonoid, saponin dan tanin.
Dalimarta (2008) menjelaskan bahwa di dalam daun belimbing wuluh selain
tannin juga mengandung peroksidase, kalsium oksalat dan kalium sitrat. Bahan
aktif pada daun belimbing wuluh yang dapat dimanfaatkan sebagai obat adalah
tanin.
Tanin merupakan suatu nama deskriptif umum untuk satu grup substansi
fenolik polimer yang mampu menyamak kulit atau mempresipitasi gelatin dari
cairan, suatu sifat yang dikenal sebagai astringensi. Tanin ditemukan hampir di
setiap bagian dari tanaman; kulit kayu, daun, buah, dan akar (Hagerman, 1998).
Tanin dibentuk dengan kondensasi turunan flavan yang ditransportasikan ke
jaringan kayu dari tanaman, tanin juga dibentuk dengan polimerisasi unit quinon
(Anonymous, 2005).

D. PROSEDUR
1. Penyiapan contoh
Serbuk daun belimbing wuluh ditimbang sebanyak 50 gram kemudian
direndam dengan 400 mL pelarut aseton : air (7:3) dengan penambahan 3 mL
asam askorbat 10 mM. Ekstrak tanin dipekatkan dengan menggunakan vakum
rotary evaporator dan pemanasan di atas waterbath pada suhu 40-50 C. Cairan
hasil ekstrak kemudian diekstraksi dengan kloroform (4x25 mL) menggunakan
corong pisah sehingga terbentuk 2 lapisan. Lapisan kloroform (bawah) dipisahkan
dan lapisan air 1 (atas) diekstraksi dengan etil asetat (1x25 mL) dan terbentuk 2
lapisan. Lapisan etil asetat 1 (atas) dipisahkan dan lapisan air 2 (bawah)
dipekatkan dengan vacum rotary evaporator.
2. Pemisahan Senyawa Tanin
a. KLT Analitik
Pada pemisahan dengan KLT analitik digunakan plat silika G 60 F254 yang
sudah diaktifkan dengan pemanasan dalam oven pada suhu 100 C selama 10

menit. Masing-masing plat dengan ukuran 1 cm x 10 cm. Ekstrak tanin ditotolkan


pada jarak 1 cm dari tepi bawah plat dengan pipa kapiler kemudian dikeringkan
dan dielusi dengan fase gerak toluen : etil asetat (3:1) dengan pendeteksi ferri
sulfat (Yuliani, 2003 ), forestal (asam asetat glasial : H O : HCl pekat) (30:10:3)
2

(Nuraini, 2002), etil asetat : metanol : asam asetat (6:14:1) dengan pendeteksi
aluminium klorida 5 % (Olivina, 2005), n-butanol : asam asetat : air (4:1:5)
(Sudarwanti, 2004), metanol : etil asetat (4:1) dengan pendeteksi AlCl 3 1 %
(Lidyawati, 2006), etil asetat : kloroform : asam asetat 10 % (15:5:2). Setelah
gerakan larutan pengembang sampai pada garis batas, elusi dihentikan. Noda yang
terbentuk masing-masing diukur harga Rf nya, selanjutnya dengan memperhatikan
bentuk noda pada berbagai larutan pengembang ditentukan perbandingan larutan
pengembang yang paling baik untuk keperluan preparatif. Noda yang terbentuk
diperiksa dengan lampu UV-Vis pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm.
b. KLT Preparatif
Pada pemisahan dengan KLT preparatif digunakan plat silika G 60 F 254
dengan ukuran 10 cm x 20 cm. Ekstrak pekat hasil ekstraksi dilarutkan dengan
aseton-air, kemudian ditotolkan sepanjang plat pada jarak 1 cm dari garis bawah

dan 1 cm dari garis tepi. Selanjutnya dielusi dengan menggunakan eluen n-butanol
: asam asetat : air (BAA) (4:1:5) yang memberikan pemisahan terbaik pada KLT
analitik. Setelah gerakan larutan pengembang sampai pada garis batas, elusi
dihentikan. Noda yang terbentuk masing-masing diukur harga Rf nya. Noda-noda
diperiksa di bawah sinar UV pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm.
3. Identifikasi Senyawa Tanin
a. Identifikasi dengan Spektrofotometer UV-Vis
Isolat-isolat yang diperoleh dari hasil KLT preparatif, dilarutkan dengan
aseton : air dan disentrifuge kemudian dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis
merk Shimadzu. Masing-masing isolat sebanyak 2 mL dimasukkan dalam kuvet
dan diamati spektrumnya pada bilangan gelombang 200-800 nm.
Identifikasi dilanjutkan dengan penambahan pereaksi geser NaOH 2 M,
AlCl3 5 %, AlCl3 5 %/HCl, NaOAc, NaOAc/H3BO3. Kemudian diamati
pergeseran puncak serapannya. Tahapan kerja penggunaan pereaksi geser adalah
sebagai berikut:
a. Isolat yang dapat diamati pada panjang gelombang 200-800 nm, direkam dan
dicatat spektrum yang dihasilkan.
b. Isolat dari tahap 1 ditambah 3 tetes NaOH 2 M kemudian dikocok hingga
homogen dan diamati spektrum yang dihasilkan. Sampel didiamkan selama 5
menit dan diamati spectrum yang dihasilkan.
c. Isolat dari tahap 1 kemudian ditambah 6 tetes pereaksi AlCl 3 5 % dalam
metanol kemudian dicampur hingga homogen dan diamati spektrumnya. Sampel
ditambah denga 3 tetes HCl kemudian dicampur hingga homogen dan diamati
spektrumnya.
d. Isolat dari tahap 1 ditambah serbuk natrium asetat kurang lebih 250 mg.
Campuran dikocok sampai homogen menggunakan fortex dan diamati lagi
spektrumnya. Selanjutnya larutan ini ditambah asam borat kurang lebih 150 mg
dikocok sampai homogen dan diamati spektrumnya.
b. Identifikasi Gugus fungsi Senyawa Tanin dengan Spektrofotometer FT-IR
Isolat hasil KLT preparatif yang diduga senyawa tanin diidentifikasi dengan
menggunakan spektrofotometer FTIR. 0,2 g pelet KBr ditambahkan dengan satu

tetes isolat yang diduga senyawa tanin, dikeringkan kemudian diidentifikasi


dengan spektrofotometer FTIR merk IR Buck M500 Scientific dengan panjang
gelombang 4000-400 cm-1 dengan spesifikasi kondisi alat sebagai berikut:
Scan : 32 det/scan
Resolusi : 4
Tekanan : 80 Torr
4. Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif yaitu dengan memperhatikan pola
pemisahan pada kromatogram dari berbagai eluen yang digunakan. Eluen terpilih
pada KLT analitik adalah yang memberikan pemisahan yang baik (dilihat dari
jumlah spot dan pola pemisahan), digunakan sebagai eluen pada KLT preparatif
untuk pemisahan senyawa tanin. Identifikasi senyawa tanin dilakukan dengan
memperhatikan bentuk umum spektrum UV-Vis sampel dalam aseton, perubahan
spektrum yang disebabkan oleh berbagai pereaksi penggeser. Identifikasi gugus
fungsional dapat diamati pada spektrum inframerah, sehingga dapat ditentukan
jenis-jenis senyawa tanin yang terdapat dalam daun belimbing wuluh.

Anda mungkin juga menyukai