Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

KIMIA ANALISIS DASAR

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Instruktur

Dewanda Irawan
Duta Prima Putra
Dwi Ayu Pratiwi
Dwi Okta Larassakti
Ester Necessary
Febi Dwi Kania
Isma Uly Maranggi
: DR. Martha Aznury, M.Si.

Judul Percobaan : Titrasi Asam Basa (Penentuan Karbonat)


Jurusan /Prodi

: Teknik Kimia/ Teknologi Kimia Industri (DIV)

Kelas

: 1 K.I B

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2015
TITRASI ASAM BASA

(PENETUAN KARBONAT BIKARBONAT)

1. TUJUAN PERCOBAAN
Mahasiswa mampu melakukan penentuan karbonat dan bikarbonat
dalamcuplikan dengan cara titrasi menggunakan dua indikator.
2. RINCIAN PERCOBAAN
1. Standardisasi larutan baku HCl dengan borak
2. Titrasi cuplikan untuk menentukan kadar karbonat bikarbonat dengan
menggunakan dua indikator.
3.

TEORI DASAR
Ion karbonat dapat ditentukan dengan cara titrasi dua langkah yaitu
dengan menggunakan dua indikator:
CO32- + H3O+ HCO3 + H2O (Fenolftalein)
HCO3 + H3O+ H2CO3 + H2O (Metil Orange)

Fenolftalein bekerja sebagai indikator untuk titrasi tahap pertama


dengan perubahan warna dari merah ke tidak berwarna. Metil orange
bekerja sebagai indikator tahap kedua dengan perubahan warna dari
kuning menjadi jingga. Fenolftalein dengan jangkauan pH 8,0 sampai 9,6
merupakan indikator yang cocok untuk titik akhir pertama, karena pH
larutan NaHCO3 berjumlah 8,35. Metil orange dengan jangkauan pH 3,1 4,4 cocok untuk titik akhir kedua. Suatu larutan jenuh CO 2 mempunyai pH
kira-kira 3,9. Kedua titik akhir tersebut tidak satupun membentuk patahan
yang sangat tajam.

Gambar : Kurva Titrasi dari Na2CO3 dengan HCl

Campuran karbonat dan bikarbonat, atau karbonat hidroksida dapat


dititrasi dengan HCl standar sampai kedua titik akhir tersebut diatas.
Dalam tabel 1, V1 adalah volum asam dalam ml yang digunakan dari

permulaan sampai titik akhir fenolftalein dan V2 merupakan volum dari titik
akhir sampai titik akhir metil orange. Hal ini membuktikan bahwa NaOH
secara lengkap bereaksi dalam tahap pertama, NaHCO 3 hanya bereaksi
dalam tahap kedua, dan Na2CO3 bereaksi dalam kedua tahap dengan
menggunakan volume titran yang sama dalam kedua tahap.
Tabel 4. Hubungan Volum dalam Titrasi Karbonat
Zat

Hub. Untuk
Identifikasi
Kualitatif

Milimol zat

NaOH

v2 = 0

M x v1

NaHCO3

v1 = v2

M x v1

Na2CO3

v1 = 0

M x v2

NaOH +
Na2CO3

v1 > v2

NaOH : M(v1 v2)

NaHCO3 +
Na2CO3

v1 < v2

Na2CO3 : M x v2

4. ALAT YANG DIGUNAKAN


-

Neraca analitis

kaca arloji

erlenmeyer 250 ml

buret 50 ml

pipet ukur 25 ml

gelas kimia 100 ml, 500 ml

labu takar 100 ml, 500 ml

spatula, penganduk

bola karet

5. GAMBAR ALAT (TERLAMPIR)

6. BAHAN YANG DIGUNAKAN

NaHCO3 : M(v2 v1)


Na2CO2 : M x v1

cuplikan yang mengandung karbonat bikarbonat

HCl

Na2CO3

indikator fenolftalein

indikator metil orange


aquadest

7. PROSEDUR PERCOBAAN
7.1. Standardisasi Larutan Baku HCl dengan Na 2CO3
-

Membuat larutan 0,1 M HCl dengan volume 500 ml

Menimbang dengan teliti 0,4 gr Na 2CO3 , melarutkan dengan


aquadest sampai 100 ml
-

Menyiapkan 3 buah Erlenmeyer

Mengambil Alikot sebanyak 20 ml untuk masing-masing


Erlenmeyer
-

Menambahkan 2 tetes indikator metil merah

Mentritasi dengan HCl , kemudian mencatat volumenya

7.2. Penentuan Karbonat Bikarbonat


Menimbang dengan teliti 0,50 gr Cuplikan yang mengandung
Na2CO3 dan NaHCO3
-

Melarutkan kedalam air demineral

Menyiapkan 3 buah Erlenmeyer, mengisi masing-masing dengan


25 ml alikot
-

Menambahkan 2 tetes indikator fenolftalein

Mentritasi dengan HCl hingga berubah warna dari merah menjadi


tidak berwarna
-

Mencatat volume titran

Menambahkan 2 tetes indikator metil orange

jingga

Mentritasi dengan HCl hingga berubah warna dari kuning menjadi

8. DATA PENGAMATAN
8.1 Standardisasi Larutan HCl
NO.
PERCOBAAN

VOLUME HCL (ML)

1.

21,7

2.

21,8

3.

22,5

Volume HCl:

21,7 +21,8+22,5
3

22

8.2 Penentuan Karbonat Bikarbonat


No. Percobaan

Volume HCl (ml)


pada titrasi 1 (P.P)

Volume HCl (ml)


pada titrasi 2
(M.O)

1.

15,8

2.

7,1

15,7

3.

6,9

16

V1<V2

V = 7 mL

V = 15,8333 mL

NaHCO3 + Na2CO3
No.
Percoba
an

Volume HCl
(ml)
pada titrasi
1 (P.P)

Volume
HCl (ml)
pada titrasi
2 (M.O)

1.

14,9

12,9

2.

13,2

14,4

3.

13,9

14

V1>V2
NaOH + Na2CO3

V = 14 mL

V = 13,766 mL

9. HASIL PERHITUNGAN
9.1 STANDARDISASI LARUTAN HCl
MK Standar P = Mk standar titrasi
Mk Na2CO3 = Mk HCl

gr Na 2CO 3
BE Na2 CO 3

= VHCl x NHCl

NHCl =

gr Na2 CO 3
BE Na2 CO 3 x V HCl

NHCl =

mL
x 0,4 mL
gr
gr
105,99
mol
x 22 mL
mk
2
mol
400,2

100,05
2331,78
2

100,05
1165,89

= 0,0858 N
9.2 STANDARDISASI KARBONAT BIKARBONAT DENGAN HCl
* V1 < V2
Maka culikan adalah campuran Na2CO3 + NaHCO3
% Na2CO3 =

V HCl x N HCl x BE Na2 CO 3


x 100
gr sampel

me
x 105,9 mg /mk
ml
126,9

7 mL x 0,0858
=

x 100

= 0,5012
= 50,12 %
% NaHCO3 =

V HCl x N HCl x BE Na2 CO 3


x 100
gr sampel
me
x 105,9 mg/ mk
ml
126,9

8,83mL x 0,0858
=

x 100

= 0,6322
= 63,22 %

10. PERTANYAAN
1.

Tuliskan rumus kimia untuk indicator fenolftalein dan reaksinya


terhadap perubahan pH?

2.
Berapakah jangkauan pH indikator yang digunakan pada percobaan
ini?
3.

Sebuah contoh, berat 0,6 g yang mungkin mengandung NaOH,


Na2CO3, NaHCO3 atau campuran NaOH + Na2CO3 atau Na2CO3 +
NaHCO3 dititrasi dengan 0,1145 M HCl dengan cara dua indikator.
Ternyata pada titrasi pertama dengan indikator pp diperlukan 34,48
mL HCl, kemudian pada titrasi kedua diperlukan 12,32 mL HCl.

a.

Campuran apakah yangada pada contoh?

b.

Hitung % masing-masing zat?


Jawab :

1.

Reaksinya : CO32- + H3O+ -> HCO3- + H2O


Rumus kimia : C2OH14O4

2.

Fenolftalein -> jangkauan pH indicator 8,0-9,6


Metil Orange -> jangkauan pH indicator 3,1-4,4

Metil Merah -> jangkauan pH indicator 4,2-6,2


3.
a.

Pada titrasi 1 dan 2 :


Campuran NaOH + Na2CO3, karena v1> v2

( 24,48 mL12,32 mL ) x 0,445


b.

%NaOH =

101,4982
600

mek
mg
x 40
ml
mek

600 mg

x 100%

x 100%

=16,9154%

11. ANALISIS PERCOBAAN


Percobaan kali ini adalah penentuan kadar karbonat dan bikarbonat dalam
larutan (cuplikan). Tujuannya adalah menentukan kadar karbonat dan
bikarbonat dalam larutan secara asidimetri dan menggunankan indikator
ganda. Percobaan ini menggunakan cuplikan sebanyak 20 mL dan dititrasi
menggunakan larutan HCl 0,1M. Fungsi dari larutan standar HCl 0,1 M
adalah untuk membuat cuplikan berada dalam keadaan setimbang.
Selain itu, pemilihan HCl 0,1 M sebagai larutan standar karena memenuhi
beberapa persyaratan yaitu :
(1) asam itu harus kuat, yakni sangat disosiasi.
(2) asam tersebut tidak mudah menguap.
(3) larutan asam harus stabil.
(4) garam dari asam tersebut harus mudah larut.

(5) asam tersebut bukan pengoksidasi yang cukup kuat untuk


menghancurkan senyawa-senyawa organik yang digunakan sebagai
indikator.
Kemudian, menyiapkan larutan dari campuran Na2CO3 dan NaHCO3 di
dalam 3 (tiga) buah Erlenmeyer masing-masing diisi 20 ml. Pada
prinsipnya percobaan ini adalah ketika cuplikan (yang berwarna putih)
ditetesi fenolftalein akan berubah menjadi warna merah.
Indikator fenolftalein merupakan asam diprotik dan tidak berwarna.
Indikator ini terurai dahulu menjadi bentuk berwarnanya dan kemudian,
dengan hilangnya proton kedua, menjadi ion dengan sistem terkonjugat;
menghasilkan warna merah. Kemudian larutan ditetesi dengan
indikator metil orange. Saat larutan ditetesi indikator ini, larutan berubah
menjadi kuning terus dititrasi menggunakan larutan HCl 0,1 M. Titrasi
dihentikan ketika muncul warna orange. Dari percobaan tersebut dapat
ditentukan normalitas HCl dan persentasi Na2CO3 dan NaHCO3. Dan dari
percobaan ini pula dapat didapatkan volume HCl yang mentritasinya serta
dapat diketahui volume pada penentuan karbonat-bikarbaonat larutan
tersebut.

12.

KESIMPULAN

Pemilihan HCl 0,10 M sebagai penitrasi (larutan standar) karena


memenuhi syarat asam kuat, tidak mudah menguap, larutan yang stabil,
mudah larut, dan bukan pengoksidasi yang cukup kuat untuk
menghancurkan senyawa-senyawa organik yang digunakan sebagai
indikator.
Indikator yang digunakan adalah fenolftalein dan metil orange karena
pemilihannya ini akan berubah warna di sekitar titik equivalen dari titrasi
untuk asam lemah di atas 7 adalah fenolftalein dan untuk basa lemah di
bawah 7 adalah metil orange.
Indikator fenolftalein jika diteteskan ke cuplikan (berwarna putih) akan
berubah menjadi warna merah karena fenolftalein merupakan asam
diprotik dan tidak berwarna. Indikator ini terurai dahulu menjadi bentuk
warnanya dan kemudian dengan hilangnya proton kedua, menjadi ion
dengan sistem terkonjugat menghasilkan warna merah. Dan saat dititrasi

dengan HCl, warna yang tadinya merah lama kelamaan menjadi tidak
berwarna.
Indikator metil orange jika diteteskan kecuplikan sebelumnya yang (tidak
berwarna/putih bening) akan menghasilkan warna kuning, dan saat
dititrasi dengan HCl, warna yang tadinya kuning lama-kelamaan menjadi
jingga.
Dari hasil titrasi ini dapat ditentukan karbonat dan bikarbonat dengan HCl.

DAFTAR PUSTAKA

Jobsheet. 2015. Penuntun Praktikum Kimia Analis Dasar : Titrasi Asam


Basa (Penentuan Karbonat Bikarbonat). Palembang : Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya
Khopkar, S.M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.
Sumber lain :
http://www.google.com/alat-praktikum.html
http:/.id.wikipedia.org/titrasi.html http://id.wikipedia.org/metiljingga.htmlhttp://anwarpamungkas.wordpress.com/2011/09/12/penentuan-kadarkarbonat-dan-bikarbonat/
http://fitria-peez.blogspot.com/2013/03/titrasi-asam-basapenentuankarbonat.html

SPATULA

AQUADES

BOLA KARET

BURET

PENGADUK

LABU TAKAR

CORONG
GAMBAR ALAT

PIPET UKUR

PIPET TETES

NERACA ANALITIK

KACA ARLOJI

GELAS KIMIA

ERLENMEYER