Anda di halaman 1dari 5

Nama

NPM
Kelompok

: Hanifa Nurmira Tama


: 1413024037
:2

Sabtu, 28 Juni 2016

Darah
(Laporan Praktikum Fisiologi Hewan)
Tujuan : Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum kali ini yaitu untuk mempelajari
metode untuk menghitung jumlah sel darah merah dan sel darah putih.
A. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Jumlah butir-butir leukosit
Kotak
sedang ke..
I
II
III
IV
Jumlah

Butir leukosit
3
3
4
2
12

Tabel 2. Jumlah butir-butir eritrosit


Kotak kecil
ke..
I
II
III
IV
V
Jumlah

Butir eritrosit
1
3
2
1
4
11

B. Pembahasan
Pada praktikum fisiologi hewan mengenai darah kali ini dilakukan dengan cara
menghitung jumlah sel darah merah terlebih dahulu, isap darah merah sampai batas strip
0,5 menggunakan pipet batu merah, setelah itu isap larutan hayem sampai batas 101 lalu
kocoklah larutan tersebut selama 5 menit setelah selesai biarkan larutan tersebut selama 10
menit, ambil kamar hitung bunker lengkap dengan cover glassnya, teteskan 3 tetes ke tisu,
dan teteskan 1 tetes pada burker diatas cover glass. Kemudian penghitungan jumlah sel
darah putih dilakukan dengan cara isap darah putih sampai batas strip 0,5 menggunakan
pipet tetes batu putih, setelah itu isap larutan turk sampai batas 11 lalu kocoklah larutan

tersebut selama 5 menit setelah selesai biarkan larutan tersebut selama 10 menit, ambil
kamar hitung barker lengkap dengan cover galassnya, teteskan 3 tetes ke tisu, dan teteskan
1 tetes pada burker di atas cover glass, amati di bawah mikroskop lalu digambarkan dan
dibuat kesimpulan.
Fungsi penambahan alat dan bahan yaitu pipet thoma berfungsi untuk mengencerkan darah
dalam pemeriksaan jumlah leukosit dan eosinofil. Pipetthomaeritrosit berfungsi untuk
mengencerkan darah dalam pemeriksaan jumlah eritrosit dan trombosit. Kamar hitung
berfungsi untuk menghitung jumlah sel-sel darah. Pipet Hb (Sahli) berfungsi untuk
menghisap darah pada pemeriksan kadar Hb cara sahli. Cover glass berfungsi untuk
menutup sediaan mikrosopis dan menutup kamar hitung (Goenarso, 2005: 193).
Imunisasi Tetanus Toksoid ialah imunisasi untuk mencegah penyakit tetanus. Imunisasi TT
Pada ibu Hamil adalah upaya yang dilakukan untuk memperoleh kekebalan pada ibu hamil
terhadap infeksi tetanus yaitu dengan menyuntikan vaksin tetanus toxoid.
Imunisasi Tetanus Toksoid adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya
pencegahan terhadap infeksi tetanus.Vaksin Tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang telah
dilemahkan dan kemudian dimurnikan .Ibu hamil adalah ibu yang mengandung mulai
trimester I s/d trismester III (Dahelmi, 1991: 179).
Adapun uraian tujuan, manfaat,efek samping serta tempat pelayanan pemberian Imunisasi
TT sebagai berikut :
1. Tujuan pemberian Imunisasi TT
Memberikan kekebalan pasif kepada ibu hamil terhadap tetanus, karena vaksinasi
selama hamil juga ikut membantu bayinya menghindari tetanus selama beberapa
minggu setelah lahir.
Mencegah terjadinya penyakit tetanus pada ibu saat hamil, bersalin dan nifas
Melindungi bayi baru lahir dari tetanus neonatorum misalnya akibat infeksi tali
pusat pada proses persalinan
2. Manfaat imunisasi TT ibu hamil
Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum. Tetanus neonatorum
adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan)
yang disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin
(racun) dan menyerang sistim saraf pusat.
Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka. Kedua manfaat
tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi
secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatorum.
3. Efek samping imunisasi TT
Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri, kemerahan dan
pembengkakan pada tempat suntikan. TT adalah antigen yang sangat aman dan
juga aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil
mendapatkan imunisasi TT. Efek samping tersebut berlangsung 1-2 hari, ini akan
sembuh sendiri dan tidak perlukan tindakan/pengobatan.
Leukosit adalah sel darah yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Leukosit
mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat

asingan. Didalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 6000-10000
sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bilakurang
dari 5000 disebut leukopenia (Campbell, 2004: 216).
Sebenarnya leukosit merupakan kelompok sel dari beberapa jenis. Untuk klasifikasinya
didasarkan pada morfologi inti adanya struktur khusus dalam sitoplasmanya.
Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih dapat dibedakan yaitu :
1. Granulosit, yaitu leukosit yang mempunyai granula spesifik, yang dalam keadaan hidup
berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang
bervariasi. Terdapat tiga jenis leukosit granuler yaitu neutrofil, basofil,dan asidofil (atau
eosinofil) yang dapat dibedakan dengan afinitas granula terhadap zat warna netral, basa
dan asam.
2. Agranulosit yang tidak mempunyai granula spesifik, sitoplasmanya homogen dengan
inti bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler yaitu limfosit
(sel kecil, sitoplasma sedikit) dan monosit (sel agak besar mengandung sitoplasma lebih
banyak) (Campbell, 2004: 219).
Kelainan pada leukosit :
1. PERGESERAN KE KIRI (Shift To The Left), Peningkatan jumlah leukosit muda dalam
darah tepi. Misalnya peningkatan jumlah netrofil batang > 10 % dalam darah tepi.
2. NETROFILIA, Peningkatan jumlah neutrofil dalam darah tepi lebih dari normal, ini
bisa disebabkan :
a. Infeksi akut contoh : radang paru, pneumonia, meningitis
b. Infeksi lokal yang disertai dengan produksi dan penimbunan nanah
c. Intoksikasi, missal pada zat-zat kimia, uremia.
d. Selain itu ada juga Netrofilia Fisiologik yang disebabkan oleh olah raga yang
berlebihan, stress, ini disebut juga Pseudonetrofilia.
3. EOSINOFILIA, Peningkatan jumlah eosinofil dalam darah tepi, ditemukan pada :
a. Penyakit alergi (Urticaria, Asthma bronchiale).
b. Infeksi parasit misal pada : Schistosomiasis, Trichinosis, Cacing tambang)
c. Sesudah penyinaran
d. Hodgkins disease, Poli arthritis nodosa,dll
e. Keganasan, penyakit kulit misal Eksim
4. BASOFILIA, Peningkatan jumlah basofil dalam darah, ditemukan pada :
a. Infeksi oleh virus (Smallpox, Chickenpox)
b. Kadang-kadang sesudah Spleenektomi, Anemia hemolitik kronis
5. MONOSITOSIS, Peningkatan jumlah monosit dalam darah, ditemukan pada :
a. Infeksi Basil (TBC, Endocarditis sub akut)
b. Infeksi Protozoa (Malaria, dysentri amoeba kronik)
c. Hodgkins disease, Artritis Rheumatoid
6. LIMPOSITOSIS, Peningkatan jumlah limposit dalam darah, ditemukan pada :
a. Infeksi akut (Pertusis, hepatitis, Mononucleusis infeksiosa) dan Infeksi menahun
b. Pada infant (bayi dan anak-anak)
c. Radang kronis misal Kolitis Ulseratif
d. Kelainan metabolic (Hipertiroidisme) (Campbell, 2004: 302).
Haemocytometer adalah alat yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan penghitungan
sel darah. Sekarang juga digunakan untuk menghitung jenis sel serta partikel mikroskopis

lainnya. Hemositomete ini ditemukan oleh Louis-Charles Malassez dan terdiri dari sebuah
slide mikroskop kaca tebal dengan lekukan persegi panjang yang menciptakan sebuah
kamar. Ruangan ini adalah diukir dengan laser-grid tergores garis tegak lurus. Perangkat
ini dibuat dengan hati-hati sehingga daerah yang dibatasi oleh garis diketahui, dan
kedalaman ruang ini juga dikenal. Oleh karena itu mungkin untuk menghitung jumlah sel
atau partikel dalam suatu volume tertentu cairan, dan dengan demikian menghitung
konsentrasi sel dalam cairan secara keseluruhan (Kimball, 1996: 264).
Perhitungan:
Untuk butir sel darah putih (leukosit)
Volume 4 kotak = 4 x 1 mm2 x 1/10 mm
= 4/10 mm3
Hasil perhitungan jumlah butir-butir leukosit adalah 12 butir, maka:
4/10 = 12
1 mm3 = 12 x 10/4
1 mm3= 30 sel/ mm3
Untuk butir sel darah merah (eritrosit)
Volume kotak paling kecil = 1/20 mm x 1/20 mm x 1/10 mm = 1/4000 mm3
Volume 5 kotak = 5 x 16 x 1/4000 mm3
= 1/50 mm3
Hasil perhitungan jumlah butir-butir eritrosit adalah 11 butir, maka:
1/50 mm3 = 11
1 mm3 = 11 x 50
1 mm3 = 550 sel/mm3
C. Kesimpulan
1. Praktikum ini dilakukan untuk mempelajari metode untuk menghitung jumlah sel
darah merah dan sel darah putih.
2. Kamar hitung berfungsi untuk menghitung jumlah sel-sel darah.
3. Imunisasi Tetanus Toksoid adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya
pencegahan terhadap infeksi tetanus.
4. Efek samping dari imunisasi TT biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri,
kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan.
5. Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme
terhadap zat-zat asingan.
6. Didalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 6000-10000
sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bilakurang
dari 5000 disebut leukopenia.
7. Haemocytometer adalah alat yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan
penghitungan sel darah.

D. Daftar Pustaka
Campbell, Reece Mitchael. 2004. Biologi, jilid 3. Erlangga. Jakarta
Dahelmi. 1991. Fisiologi Hewan. UNAND. Padang.

Goenarso, Darmadi. 2005. Fisiologi Hewan. Universitas Terbuka. Jakarta


Kimball, J.W. 1996. Biologi. Erlangga. Jakarta

Praktikan

Bandarlampung, 28 Juni 2016


Mengetahui,
Asisten

Hanifa Nurmira Tama


NPM. 1413024037

Aulia Zakia
NPM. 13130204098