Anda di halaman 1dari 6

ORAL DIAGNOSA DAN RENCANA PERAWATAN PENYAKIT

DENTOMAKSILOFASIAL

SALIVA

DIAGNOSIS ORTHODONSIA
OLEH :

Indah Putri A.D

141610101057

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2016

1.Diskrepansi
Diskrepansi adalah selisih antara tempat yang tersedia dengan tempat yang dibutuhkan.
Pengukuran ini digunakan untuk menentukan adanya kekurangan atau kelebihan tempat dari
gigi geligi berdasarkan model studi yang akhirnya untuk menentukan macam perawatan.
Cara pengukuran diskrepansi yaitu dengan rumus :
Tempat yang tersedia (available space)

= mm

Tempat yang dibutuhkan (required space)

= mm
mm

Menentukan macam perawatan berdasarkan hasil diskrepansi menurut profit :


a) 0-6 non ekstraksi
b) 6-8 border
c) > 8 ekstraksi
a. Perawatan non ekstraksi
Pada perawatan non ekstraksi ini tidak dilakukan pencabutan pada gigi tapi
dilakukan stripping atau slicing dan ekspansi.
Perawatan stripping dan slicing diindikasikan pada rahang yang lebar, dengan cara
mengurangi ukuran gigi. Perbedaan keduanya adalah alat yang digunakan untuk
mengurangi ukuran gigi, pada stripping menggunakan metal strip sedangkan pada slicing
menggunakan matabur. Perawatan ekspansi diindikasikan untuk rahang yang sempit, yaitu
b.

perawatan yang digunakan untuk melebarkan lengkung rahang.


Perawatan border
Perawatan border ini digunakan pada masa gigi geligi pergantian. Pada kunjungan
pertama masih belum bisa dilakukan perawatan. Perawatan ini dilakukan serial, yaitu
pencabutan yang bterencana dengan memperhatikan interval waktu. Karena masih harus

melihat pertumbuhan dari gigi geliginya.


c. Perawatan ekstraksi
Ekstraksi dilakukan pencabutan pada gigi permanen
Untuk menentukan tempat yang tersedia :

a.Metode moyers
Metode ini digunakan pada masa gigi geligi pergantian. Metode ini mudah, sederhana
serta tidak memerlukan alat khusus. Alat yang digunakan yaitu jangka, dengan cara
menghitung secara segmental.
Tempat yang tersedia dihitung mulai dari mesial gigi molar pertama permanen kiri
sampai mesial gigi molar pertama permanen kanan.
Cara pengukuran :
lengkung gigi dibagi menjadi beberapa segmen. Segmen 1 mulai dari mesial gigi
molar 1 kiri sampai caninus apabila lengkung rahang

tergolong lebar, sedangkan jika

lengkung rahang tergolong sempit maka bagian caninus dihitung sendiri. Segmen 2 dari
distal insisiv lateral hingga interdental midline kiri. Segmen 3 & 4 dilakukan pada bagian
kanan dengan cara yang sama seperti segmen 1 & 2. Kemudian hasil dari setiap segmen
dijumlahkan.
b. Lundstrom
Metode ini digunakan pada masa gigi permanen.
c.Metode nance
Metode ini digunakan pada masa gigi permanen. Menggunakan brass wire yang
diletakkan pada lengkung geligi mulai dari mesial gigi molar pertama permanen kiri
sampai mesial gigi molar pertama permanen kanan. Kesulitan dalam melakukan metode
ini yaitu menentukan inklinasi dari gigi rahang atas.
Untuk menentukan tempat yang dibutuhkan dapat dilakukan melalui :
a.Langsung pada model : menghitung lebar mesial-distal gigi insisiv pada model studi
b. Pada foto rontgen
: digunakan apabila gigi belum erupsi dan hasil dari foto rontgen
tidak mengalami distorsi
c.Gigi senama
: apabila gigi belum erupsi namun gigi senamanya telah erupsi,
maka menghitung gigi senamanya dikali 2, karena mewakili 2 regio yaitu kiri dan kanan.

d. Table perkiraan
Penggunaan cara-cara diatas untuk menghitung jumlah 4 gigi insisiv rahang bawah
dan rahang atas. Sebagai acuan perhitungan tempat yang dibutuhkan menggunakan hasil

pengukuran dari 4 insisiv rahang bawah. Kemudian dimasukkan kedalam rumus 2x + jumlah
4 Insisiv Rahang Bawah atau 2y + jumlah 4 Insisiv Rahang Atas.
Angka X ataupun Y dapat dilihat pada tabel perkiraan. Seperti tabel moyers dan sitepu.
Untuk orang Indonesia menggunakan tabel sitepu karena hasil penelitian pada ras DeuteroMelayu, yang lebih mendekati ras orang Indonesia. Sedangkan pada tebel moyers merupakan
penelitian terhadap anak kulit putih Amerika.
2. Mengukuran pergeseran gigi
Untuk mengukur adanya pergeseran gigi dilakukan pada model dengan menggunakan
alat simetroskop. Cara pengukurannya yaitu dengan meletakkan bagian segitiga dari
simestroskop pada garis median model kerja (garis median model kerja sesuai dengan garis
median wajah), kemudian membandingkan posisi gigi senama. penulisannya yaitu .....
lebih ke mesial dari ..... . misalnya gigi 12 diukur mendapatkan hasil 7mm dan gigi 22 6mm
maka penulisannya, gigi 22 lebih ke mesial dari gigi 12.
3. Etiologi
Persisten
Persistensi gigi sulung adalah suatu keadaan diamana gigi sulung masih berada
di rongga mulut tetapi gigi permanen yang akan menggantikannya telah erupsi. Pada
keadaan persistensi maka gigi permanen penggantinya akan erupsi pada benihnya,

Letak salah benih


Letak salah benih yaitu gigi yang erupsi dalam lengkung rahang. Namun
menyebabkan gigi dalam lengkung rahang tersebut mengalami rotasi ataupun versi.

DDM
DDM disebabkan karena ruang untuk gigi erupsi tidak cukup. Karena keadaan
rahang yang kecil sedangkan ukuran gigi normal/besar dan sebaliknya. Biasanya pada
DDM terdapat lebih dari satu gigi yang mengalami palatoversi/linguoversi. Ciri-ciri
DDM mirip dengan persistensi gigi dimana terdapat gigi yang erupsi sesuai dengan
benihnya, yaitu pada palatal maupun lingual (palatoversi/linguoversi). Perbedaannya
yaitu pada persistensi gigi terdapat cukup ruang pada lengkung rahang namun gigi
tersebut erupsi pada letak benihnya. Sedangkan pada DDM gigi yang erupsi pada letak
benihnya karena tidak ada ruang yang cukup pada lengkung rahang.

4. Gigi-gigi yang terletak salah


Versi
: perputaran pada sumbu horizontal.
mahkota gigi miring ke arah tertentu. misalnya mesioversi,
distoversi, labioversi, linguoversi
Rotasi
: gigi berputar pada sumbu vertikal.
Dibagi menjadi 2 yaitu :
- Rotasi sentris
: perputaran pada sumbu gigi , jarak antara mesial dan distal pada
-

gigi sebelahnya sama


Rotasi eksentris : perputaran diluar sumbu gigi, jarak antara mesial dan distal pada
gigi sebelahnya tidak sama

5. Cara menentukan midline


Cara menentukan midline pada model studi berdasarkan garis median wajah
pasien.dengan cara yaitu :
Pasien diinstruksikan untuk

oklusi sentris terlebih dahulu, kemudian untuk

menentuka garis median ditarik garis imaginer dari Glabella Philtrum Symphisis.
Setelah itu diproyeksikan ke garis median gigi menggunakan sonde bengkok. Dari hasil
tersebut apabila terjadi pergeseran garis median maka garis median gigi tidak berada pada
garis lurus dengan median wajah dan sebaliknya jika tidak ada pergeseran garis median
maka garis median gigi berada pada garis lurus median wajah. Gambaran yang didapat
kemudian dipindahkan ke model studi.

6.Relasi gigi posterior arah transversal


Relasi gigi yaitu hubungan gigi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan
oklusi. Gigi yang diperiksa adalah gigi molar pertama permanenbdari transversal.
Pada keadaan normal relasi transversal gigi posterior adalah gigitan fisura luar rahang
atas, karena ukuran rahang atas lebih lebar daripada rahang bawah. Apabila rahang atas
terlalu sempit atau terlalu lebar dapat menyebabkan terjadinya perubahan relasi gigi
posterior dalam arah transversal, yaitu gigitan fisura dalam atas, gigitan fisura luar atas..
dan gigitan tonjol. Keadaan gigitan tonjol pada anak-anak masa gigi geligi pergantian
adalah normal, karena masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan rahang.

7. Bentuk rahang
Ada lima bentuk lengkung rahang :
a) Parabola
: bentuk rahang yang normal
b) Omega
: bentuk rahang yang mengalami penyempitan di daerah molar
c) Lyra
: bentuk rahang yang mengalami penyempitan pada daerah premolar
d) Sempit
e) Lebar