Anda di halaman 1dari 8

ADAKAH WAKTU UNTUK BERUBAH?

Shafa Az-Zahra Anindya

Kalau bagi mereka, ayah adalah pahlawan, mungkin tidak bagiku.


Matahari mulai mengeluarkan warna jingga kemerahannya yang tenang.
Sunyi senyap ditemani dendangan melodi jangkrik seakan-akan mengisi kegelapan
hatiku.

Namaku Paryu, aku seorang gadis yang lahir di pulau tempat para wali

songo berasal. Pasti kau bisa menebaknya.


Ibuku, Sri. Ibu adalah wanita yang sangat lembut bagai sutra. Dia itu malaikat
yang Tuhan ciptakan buatku, dan ibu tak pernah melukai perasaan orang, tetapi
Tuhan membawanya pulang, Tuhan sayang pada ibu, tak mau ibu terus meringis
karena tumor yang dideritanya.
Bapakku, Watmo. Bapak kejam seperti singa yang sedang geram, tak hanya
denganku, dengan orang lain pun begitu. Di kamarnya tersimpan beberapa benda
asing yang bisa dikatakan kramat seperti keris dan batu hitam. Bapak selalu
memandikan benda tersebut pada malam jumat kliwon, entah untuk apa. Selain itu,
bapak kerap sekali memukulku hanya karena kesalahan kecil, sekecil biji jeruk.
Orang-orang pun hafal benar kelakuan bapak. Ada peribahasa jawa mengatakan,
Sapa nandur bakal ngunduh. Ya, apa yang kita perbuat akan kita rasakan nanti di
hari kemudian. Tak terbayang bila Tuhan memberi balasan pada bapak atas apa
yang bapak perbuat.
Ragaku pun tak pernah terjamah oleh belaiannya. Jangan kan memelukku,
bertanya aku sudah makan atau belum saja tak pernah. Dahaga akan kasih sayang
bapak mengusir air mata hingga keluar dari pelupuk mataku.
Tanpa sadar, tetesan air mata jatuh semakin deras disaat aku tahu ternyata
banyak orang lain yang menangis karena ulah bapak, bukan hanya aku.
Kudengar cerita dari pak de, katanya saat upacara Tingkeban1 ada seorang
kakek yang sangat renta meminta segelas air putih dan sedikit makanan pada
bapak, nafasnya yang tak teratur, dan ngos-ngosan menunjukan bahwa kakek
tersebut sangat kelelahan. Namun apa yang bapak lakukan sangat tidak

menunjukan rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Kata pak de, bapak malah
mencaci maki sang kakek dan mengusirnya. Aku malu, dan hatiku terluka saat
mendengar cerita pak de tentang keangkuhan bapak.
Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tak mau bapak memikul dosa seberat
gunung seluas samudera karena sering menyakiti orang lain.
Aku rindu akan sifat baik bapak. Kapan bapak akan menjadi baik? Kapan
bapak akan memelukku? Apa aku memang ditakdirkan tuk tidak mendapat pelukan
dari bapak?
Aku hanya mampu mengungkap perasaanku melalui batang puisi. Di sudut
ruang berdebu, di situ aku mencurahkan isi hati.
Ayah
Luapan ego mengguncangmu
Uap nafsu menguras jiwamu
Aku tak pernah terdekap pelukanmu
Mengapa?
Mengapa kau pun begitu tega?
Kau melukai banyak insan?
Yang bahkan tak berdosa
Hanya karena keangkuhanmu
Apa sebabnya, Ayah?

Catatan kaki:
1
Upacara Tingkeban yaitu upacara tradisional masyarakat Jawa yang dilaksanakan untuk
memperingati kehamilan pertama ketika kandungan sang ibu memasuki tujuh bulan.

***
Embun nan menghias pagi, kicau burung menyambutku kala jendela kayu
kubuka. Hamparan sawah hijau begitu menghibur mataku yang sembab karena
menangis semalaman. Angin sepoi berhawa sejuk menerpa wajahku. Namun tibatiba suara pecahan piring terdengar dari dapur mengusik kicau burung yang sedang
bernyanyi.
Makanan apa ini?! Kau tidak bisa memasak bukan?
Suara ribut kudengar namun samar-samar. Sepertinya ada badai lagi pagi ini.
Pasti bapak. Siapa lagi? Pria paling sentimen yang bentar-bentar memecahkan
piring karena egonya.
Benar saja yang kuduga, makanan berserak di lantai beserta beling yang
hampir menusuk telapak kakiku, dan itu semua ulah bapak.
Bapak kenapa sih? Mubazir makanan dibuang-buang kaya gini. Bu lek sudah
susah payah masak malah bapak buang. Ucapku dengan kesal, hatiku panas
melihat ulah bapak.
Jangan ikut campur kamu paryu! Nih bu lek kamu, masak aja nggak bener.
Sengaja mau ngeracunin ya?
Astagfirullah nggak.. Sa..saya.. ngg..ga bermaksud.. Jawab bu lek menahan
tangis.
Aku tahu hati bu lek sangat hancur diperlakukan seperti itu oleh bapak.
Sudahlah lebih baik saya cari makan di luar daripada saya keracunan
masakan kamu Sahut bapak sambil berjalan menghentakan kaki keluar rumah.
Aku pun langsung memeluk bu lek dengan erat. Aku paham betul apa yang
bu lek rasakan.
Sabar ya bu lek.. Maafkan sikap bapak.. Aku tau masakan bu lek ngga
seperti yang bapak bilang tadi. Masakan bu lek engga kalah enaknya sama koki di
luar sana. Kataku mencoba menghibur hati bu lek yang hancur.
Udah bu lek gak boleh sedih, hapus air matanya. Sini biar aku saja yang
ngebersihinin pecahan belingnya.

Masya Allah Paryu.. Bu lek bersyukur banget kamu baik kaya ibumu..
Semoga sampai tua nanti kamu tidak ngambil sifat buruk bapakmu itu ya.. Kata bu
lek sambil menatap kedua mataku dengan penuh harap.
Iya bu lek Insya Allah.. Lagian aku gak mau ah jadi orang jahat kaya bapak..
Jawabku sambil tertawa kecil memecahkan suasana.
Yowes sini biar bu lek aja yang bersihin, nanti tanganmu malah kena beling.
Engga. Kita bersihin bareng-bareng aja, yuk! Ajakku dengan penuh
semangat.

Empat bulan kemudian....


Tiap menit, hari-hariku dihiasi oleh masalah yang tak kunjung reda dengan
bapak. Kadang bapak ribut dengan tetangga, kadang bapak mencaci maki pengemis
yang datang kerumah, dan yang tak pernah tertinggal, bunyi pecahan piring yang
selalu menemani telingaku disetiap minggunya. Bahkan tikus pun sepertinya sudah
tak mau lagi bersarang di rumahku, dan yang menyedihkan, bu lek pindah, tinggal
bersama suami nya di Banjarmasin.
Hari pun sudah malam, nyanyian jangkrik menambah keheningan di rumah
ini. Kesepian. Semakin kesepian. Aku masih terjaga di atas ranjang usang ditemani
oleh detakkan jam dinding yang semakin malam semakin keras bunyinya.
Aku melihat perempuan paruh baya dengan rambut disanggul berhias bunga
melati dan mengenakan kebaya putih menatapku sambil tersenyum menunjukan gigi
taringnya. Jujur saja aku sangat takut melihatnya. Jalannya begitu lambat namun
pasti. Tatapannya tajam ke arahku, dan aku berusaha mendekat.
Keris dan batu itu. Di lemari bapakmu. Bisik perempuan itu sambil menunjuk
ke arah kamar bapak.
Aku pun menoleh ke arah tunjukannya dan bertanya, Tapi ada apa dengan
keris itu? Namun perempuan paruh baya itu tiba-tiba lenyap entah menghilang
kemana.
Aku menampar wajahku, dan aku tersadar ternyata aku bermimpi.

***
Hai Novi, mau kemana? Sapaku pada Novi.
Eh Paryu, aku mau ke warung, mau ikut?
Ikut dong. Oh iya Nov, kamu ingat enggak... Aku pun ikut ke warung dengan
Novi sambil bercerita. Kami tertawa lepas mengingat kejadian-kejadian konyol saat
kita masih kecil. Namun, penampakan di dekat pohon pisang menghentikan
tawaanku. Suasana seketika hening. Tatapanku terpusat pada seorang perempuan
yang mirip dengan nenek paruh baya dalam mimpiku, dan memang benar! Ternyata
itu nenek yang datang ke mimpiku. Aku menghampirinya.
Segeralah buang jika ingin bapakmu berubah. Nenek itu berbicara padaku
dengan volume yang sangat kecil, lalu nenek itu tiba-tiba menghilang.
***
Terngiang-ngiang ucapan nenek yang misterius. Begitu menghantui pikiranku.
Ada apa dengan benda kramat itu?
Saat bapak lagi tidak ada di rumah, aku diam-diam mengambil keris dan
batunya. Memasukannya pada tas hitam dan membawanya kabur. Jaraknya cukup
jauh dari rumah. Sekitar 200 meter. Tepat di bawah pohon pisang, dengan ucapan
Basmallah aku menguburkannya, tentunya dengan harapan agar sifat buruk pada
diri bapak ikut terkubur dalam-dalam.
Usai sudah kukuburkan, aku membuka pintu rumah yang tertutup rapat dan
aku sama sekali tidak takut dengan apa yang akan bapak lakukan kepadaku,
mungkin karena aku sudah terbiasa.
Benar saja, tiba-tiba, bapak menarik rambutku dan menamparku.
Kau kemanakan keris dan batu bapak? Jawab Paryu! Sentak bapak sambil
menarik rambutku.
Sudah paryu buang pak, Paryu lakuin itu demi kebaikan bapak!
Dasar kau tolol! Tau apa sih kamu bocah cilik! Bapak meneriakkan kata-kata
kasar itu tepat di depan telingaku. Tangan kasar bapak menyuntrungkan kepalaku.
Air mataku mengalir. Aku ingin memberontak namun kutahan.

Sekarang pergi kau dari sini! Aku tak ingin melihat wajahmu! Jangan pernah
kau injakkan kakimu di rumahku lagi!
Terkejut. Sungguh terkejut. Bapak mengusirku. Namun tak apa. Sepertinya
aku lebih baik pergi mencari kehidupan yang baru dan meninggalkan bapak.

Lima tahun kemudian...


Sekarang, aku sudah punya teman baru, bukan hamparan sawah lagi, tetapi
lambaian nyiur di pantai lah yang menemani hari-hariku. Suara kejaran ombak
membuat pikiranku terasa lebih fresh.
Aku membiayai hidupku dengan membuka bisnis online yang sekarang
sedang trendy dikalangan masyarakat. Alhamdulillah laris manis.
Aku masih kepikiran sama perempuan misterius itu. Lima tahun sudah
berlalu, namun bagaimana dengan sifat bapak? Apakah sudah berubah? Bagaimana
keadaannya sekarang? Mungkin masih sama.
***
Langit sore yang tadinya memerah kini hitam kelam, langkah jarum jam
seakan terdengar begitu keras. Suara hembusan angin memanjakan telingaku
hingga aku tertidur tanpa sempat beranjak dari sofa.
Aku bermimpi bertemu dengan perempuan paruh baya, masih dengan
perempuan yang sama seperti mimpiku sebelumnya, dengan pakaian yang sama
dan ia berkata...
Sesuatu terjadi pada bapak. Pilihan ada ditanganmu. Pulang atau bertahan
di sini.
Perempuan paruh baya itu langsung pergi menjauhiku. Aku mencoba
mengejarnya. Namun aku malah terjatuh dari sofa dan terjaga hingga matahari
menampakkan raganya.
Aku bimbang. Iblis dan malaikat terus berbisik di telingaku. Otakku
mengatakan jangan, karena bapak dari dulu tak pernah sayang padaku.

Aku teringat akan suatu peristiwa, dimana aku adalah seorang anak kecil
yang masih lugu, yang aku tahu hanya tidur dan bermain.
Paryu sayang, pulang! Pamali jam segini masih di luar, nanti diculik
kolongwewe loh Sahut ibu dengan nada menakut-nakutkan.
Saat aku sampai di rumah, aku melihat sebuah batu cincin berwarna hijau
keemasan yang menarik mataku untuk memegangnya. Namanya juga anak kecil,
dengan polos aku memegang dan memperhatikan batu emas itu, kemudian....
Paryu! Lepasin batunya! Ini benda penting, kalau rusak gimana! Teriakan
bapak membuat gendang telingaku hampir pecah, bagai gelegar petir yang
menyambar.
Bapak dengan teganya memukul tanganku hingga berwarna kebiruan.
Namun sepertinya bapak belum puas, hingga bapak menarikku ke kamar mandi dan
mengunciku semalaman. Aku memberontak, namun aku hanya bisa menangis dan
meringis kesakitan. Bahkan ibu tak sanggup untuk menolongku. Kebayang bukan
betapa kejamnya sifat bapak. Padahal aku hanya memegang, tidak merusak atau
malah membuang batu cincin tersebut! Mungkin keselamatanku tak ada apa-apanya
bila dibanding dengan benda itu.
Itulah peristiwa 13 tahun yang lalu. Membuat otakku menolak untuk pulang,
namun hati kecilku menyuruhku untuk kembali. Kembali pada bapak, meski aku
sudah diusir olehnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali, karena aku sadar, sejahat apapun
bapak, dia tetap bapakku, meski bukan pahlawanku. Aku tetap harus berbakti
padanya.

Aku sudah pasrah dengan apa yang akan bapak lakukan nanti saat

bertemu denganku.
***
Perjalananku menghabiskan waktu empat jam saja, karena aku pulang
menggunakan Garuda Indonesia.
Sesampainya di depan rumah, aku melangkah pelan penuh keraguan.
Mulutku terus berkomat-kamit membaca surah-surah pendek yang ada dijuz amma,
aku terlalu takut. Bagaimana bila tiba-tiba bapak menamparku lagi?

Aku pun mengetuk pintu dan mengucap salam. Tak ada jawaban. Sepertinya
bapak sedang di luar. Aku buka pintunya perlahan sambil mengintip ke dalam. Sepi.
Gelap. Begitulah keadaan rumah.
Saat aku membuka pintu kamar, mataku terkejut, kulihat seorang lelaki tua
yang terbaring lemas di atas tikar. Muka nya pucat, keriput nya makin terlihat.
Badannya kurus.
Bapakku! Dia bapakku! Bapak sekarang seperti mayat hidup. Tangan yang
dahulu ia gunakan untuk menampar, kaki untuk menendang orang, sekarang
menjadi lumpuh tak berdaya. Tak ada yang mau menolongnya. Apakah ini balasan
dari Tuhan atas kelakuan jahat bapak? Astagfirullahaldzim. Hatiku tak henti-hentinya
mengucap istighfar, aku tak sanggup menahan air mata melihat penderitaan yang
bapak alami.
Bapak! Ucapku sambil lari hendak memeluk bapak, aku tak peduli akan
responnya, entah dia menolak atau membalas pelukanku. Yang pasti aku ingin
sekali memeluk bapak.
Paryu.. Kau disini? Ucapnya dengan suara yang amat lemah.
Iya pak ini Paryu, anak bapak.
Maafkan bapak.. Bapak telah jahat pada semua. Bapak ingin jadi orang baik.
Maafkan bapak Paryu. Tutur bapak sambil meneteskan air mata penyesalan.
Aku udah maafin bapak.. Alhamdulillah kalo bapak ingin berubah.
Aku bahagia mendengar ucapan bapak, ternyata betul kata perempuan paruh
baya itu, setelah aku menguburkannya, bapak berubah. Sifat bapak berubah !
Sungguh, bapak sayang sama kamu, Paryu. Lalu bapak membalas
pelukanku ! Ya Allah, harapku selama ini terjawab. Aku dan bapak saling
berpelukan. Sama-sama menangis. Duka namun bahagia kurasakan. Campur aduk,
tetapi aku bersyukur, bapak sekarang menjadi baik, meski dalam hembusan terakhir
nafasnya.