Anda di halaman 1dari 15

SPEKTROMETER

(Makalah Instrumentasi Fisika)

Oleh :
Bayu Ahmadi ( 1413022009 )
Shella Ayuningtias ( 0913022067 )

PENDIDIKIAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2015

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 1802, William Hyde Wollaston membuat temuan yang


mencengangkan mengenai cahaya matahari. Ia menemukan bahwa spektrum
matahari bukanlah seberkas cahaya yang perbatasan antara satu warna dan warna
lain berupa gradasi yang sambung-menyambung tidak terputus , melainkan berisi
beratus-ratus celah sempit. Di dalam setiap celah tersebut tidak terdapat panjang
gelombang. Tahun 1804, seorang ahli optika Jerman bernama Josef Von
Fraunhofer, yang mempelajari penemuan Sir Isaac Newton , meneliti spektrum
yang dibentuk oleh cahaya yang berasal dari matahari dan melihat adanya
sejumlah garis kelam yang melintasinya. Ia juga menetapkan alur-alur spektrum
matahari kemudian alur-alur tersebut dikenal dengan nama garis-garis Fraunhofer.
Sekitar tahun 1905 terdapat alat yang digunakan untuk melihat cahaya dalam
spektrum. Zat yang akan diamati diletakkan di dalam tabung dan cahaya putih
yang memancar melaluinya dipecah oleh gesekan difraksi. Di atas bagian tapik
tiang terbawah di bagian tengah. Pengamat melihat spectrum melalui tabung.
Karena penting alat ini, maka kami membuat laporan dan mempraktekan
mengenai spectrometer.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui prinsip kerja, kalibrasi, cara pengukuran dan cara
penggunaan spektrometer dan spektrometer pandang langsung.
2. Dapat menggunakan spektrometer dan spektrometer pandang langsung.

II.PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Spektrometer
Spektrometer adalah sebuah alat yang digunakan untuk melihat spektrum dari
suatu sumber cahaya. Atom-atom atau molekul semua zat memancarkan cahaya
ketika dipanaskan sampai temperatur yang tinggi. Pola spektrum cahaya yang
dipancarkan berbeda-beda untuk setiap zat,sehingga para ilmuwan dapat
mengenal suatu zat atau dapat menentukan komposisi kimiawinya melalui analisis
spektrum.
Spektrometer dilingkupi suatu wadah yang mencegah cahaya yaitu cahaya yang
tidak ingin diketahui spektrumnya. Cahaya masuk melalui celah kecil dan
melewati lensa kolimator. Lensa kolimotor akan menyebabkan cahaya menjadi
sinar yang sejajar. Cahaya yang sejajar kemudian masuk kesebuah prisma.
Disisni, cahaya dipisahkan menjadi spektrum, sebuah lensa menfokuskan cahaya
dicelah keluar. Hanya satu warna cahaya yang dapat melewati celah ini dalam satu
waktu. Oleh karena itu, prisma harus diputar untuk membawa warna-warna lain
masuk kedalam celah keluar dan membaca seluruh spektrum. Skala yang
berbentuk lingkaran mencatat sudut prisma sehingga panjang gelombang cahaya
dapat ditentukan.
Ada spektrometer yang menggunakan cermin datar yang disebut gratting alur
sebagai pengganti prisma. Permukaan sebuah gratting berisi ribuan alur sejajar
yang tipis. Cahaya yang menembus gratting akan menghasilkan sebuah spektrum.
Spektroskopi, yaitu bidang ilmu yang mengkaji spektrum, mulai pada tahun 1860an. Pada tahun 1871, terdapat tabung kaca yang berisi larutan berbagai zat. Zat-zat
ini digunakan sebagai seperangkat standar bila kita mengkaji spektrum. Masingmasing dari zat-zat ini menyerap panjang gelombang tertentu bila cahaya
melaluinya.

Sudah lebih dari satu abad para astronom dapat mempelajari komposisi kimia
bintang dan betapa panasnya bintang-bintang itu dengan spektroskopi. Sebuah
spektroskop menguraikan cahaya putih dari benda langit menjadi spectrum yang
sangat rinci. Seorang ahli optika Jerman Josef Fraunhofer, yang mempelajari
penemuan Isaac Newton, meneliti spektrum yang dibentuk oleh cahaya yang
berasal dari matahari dan melihat adanya sejumlah garis kelam yang melintasinya.
2.2 Spektrometer Prisma
Spektroskop prisma merupakan alat yang digunakan untuk melihat spektrum dari
suatu sumber cahaya. Spektrometer prisma merupakan alat yang digunakan untuk
mengukur spektrum cahaya yang terurai setelah melewati suatu medium atau
untuk mengukur panjang gelombang dan inbeks bias dari suatu prisma..
a.

Bagian Bagian Spektrometer Prisma

Susunan spektrometer prisma terdiri dari komponen-komponen kolimator ,


teleskop, dan meja spektrometer. Berikut merupakan gambar dari spektrometer
prisma.

Prisma

Kolimator

Teleskop

Sekala Utama
Meja
Spektrometer

Sekala nonius

1.

Kolimator

Kolimator merupakan sebuah tabung yang dilengkapi dengan lensa akromatik di


mana satu ujungnya (yang menghadap prisma) dan sebuah celah. Fungsi lensa
Kolimator adalah untuk mensejajarkan berkas sinar yang keluar dari celah . Lebar
celah dapat diatur dengan menggunakan skrup pengatur yang terdapat pada ujung
kolimator didekat celah. Skrup pengatur PC digunakan untuk mengatur lebar
berkas cahaya yang jatuh pada prisma sedangkan posisi lensa terhadap celah dapat
diatur dengan skrup, PL. Dalam penggunaan spectrometer prisma ini, celah
dihubungkan dengan sumber cahaya yang akan diamati spektrumnya. Sumber
cahaya dibungkus dalam sebuah tabung (agar cahaya tidak terpencar) dan diberi
celah sejajar dengan celah yang terdapat pada kolimator.
2.

Teleskop

Teleskop yang digunakan terdri dari lensa obyektif dan lensa okuler. Posisi lensa
okuler terhadap lensa obyektif dapat diatur dengan skrup,yang terdapat pada
ujung teleskop. Teleskop ini dapat digerak-gerakan, selain berfungsi sebagai
tempat melihat spektrum cahaya yang dihasilkan prisma,, teleskop ini dapat
menunjukan besar sudut yang dihasilkan dari pembiasan prisma. Untuk
menentukan posisi celah dengan tepat, digunakan benang silang sebagai rujukan.
3.

Meja Spektrometer

Meja spektrometer merupakan tempat untuk meletakkan prisma. Kedudukannya


dapat dinaikkan / diturunkan atau diputar dengan melonggarkan skrup dan
mengeratkannya. Prisma merupakan suatu objek yang membiaskan spectrum dari
suatu sumber cahaya.
4.

Skala Utama dan Skala Nonius

Dibawah meja spektrometer, terdapat piringan yang merupakan tempat dari skala
utama dan skala nonius. Skala-skala ini menunjukan besar sudut yang dihasilkan
dari pembiasan lensa. Pada sekala utama terdapat 360 skala yang menunjukan
besar sudut pada lingkaran penuh. Sedangkan pada skala nonius terdapat skalaskala yang lebih kecil. Jumlah skala pada skala nonius todak tetap, hal ini

tergantung pada pada ketelitian spectrometer, semakin banyak skala nonius dan
semakin kecil jarak dari skala satu dan yang lain, maka ketelitian spectrometer
semakin kecil pula. Dan kesalahan dalam pengukuran juga sangat kecil.
b.

Prinsip Kerja Spektrometer

Spektrometer prisma memiliki prisip kerja yaitu prinsip dispersi cahaya. Keadaan
dimana terurainya cahaya putih yang melewati sebuah prisma menjadi spektrum
warna. Pada spektrometer dilingkupi suatu wadah yang mencegah cahaya yaitu
cahaya yang tidak ingin diketahui spektrumnya. Cahaya masuk melalui celah kecil
dan melewati lensa kolimator. Lensa kolimotor akan menyebabkan cahaya
menjadi sinar yang sejajar. Cahaya yang sejajar kemudian masuk kesebuah
prisma. Disisni, cahaya dipisahkan menjadi spektrum, sebuah lensa menfokuskan
cahaya dicelah keluar. Hanya satu warna cahaya yang dapat melewati celah ini
dalam satu waktu. Oleh karena itu, prisma harus diputar untuk membawa warnawarna lain masuk kedalam celah keluar dan membaca seluruh spektrum. Skala
yang berbentuk lingkaran mencatat sudut prisma sehingga panjang gelombang
cahaya dapat ditentukan.
c.

Kalibrasi spektrometer prisma

Cara yang digunakan untuk mengkalibrasi spektrometer prisma adalah sebagai


berikut:
1.

Memutar teleskop hingga sesumbu dengan kolimator, selanjutnya pada


teleskop tampak benang berhimpit dengan cahaya yang akan diamati, seperti
gambar dibawah ini

Benang

Berkas cahaya yang akan


diamati

2.

Mengatur sekala utama dan sekala nonius dengan cara mensejajarkan angka
0 pada skala utama dengan angka 0 yang terdapat pada skala nonius, seperti
ganbar dibawah ini
0

Skala utama
Skala nonius

d.

Cara penggunaan spektrometer prisma

Berikut ini merupakan cara untuk menggunakan spectrometer prisma:


1.

memasang lampu natrium (Na) atau sumber cahaya lain

2.

mengarahkan spektrometer kearah lampu sehingga kolimator tepat


berada didepan lampu

3.

mengkalibrasi spektrometer dan mencatat sudut mula-mula ketika


teleskop dan kolimator sesumbu.

4.

meletakan prisma yang akan ditentukan indeks biasnya

5.

mengatur teleskop pada satu arah sampai terlihat garis-garis spektrum


untuk masing-masing panjang gelombang

6.

menggeser teleskop sehingga benang silang berhimpit dengan garisgaris spektrum tadi

7.

mencatat sudut yang dibentuk ketika telah terbentuk spektrum cahaya,


yang terlihat jelas.

8.

melanjutnya

menghitung

indeks

bias

gelombangnya.dengan menggunakan rumus :

Dengan:

= sudut pembiasan prisma

min = sudut deviasi minimum


i

= sudut datang berkas sinar

prisma

dan

panjang

= indeks bias prisma

Keterangan:

Setelah mengetahui berapa sudut deviasi minimum maka selanjutnya akan


ditentukan berapa panjang gelombangnya dengan menggunakan rumus balmer.
Sinar yang jatuh pada salah satu permukaan bidang prisma dapat digambarkan
sebagai berikut;

N1

N2
D
i1

r2

Prisma
Keterangan:
i

= sudut datang

= sudut bias

N1

= sudut normal 1

N2

= sudut normal 2

Cahaya yang merambat melalui prisma akan mengalami dua kali pembiasan, yaitu
saat memasuki dan meninggalkan prisma. Apabila sinar yang dating dan sinar
yang keluar dari prisma diperpanjang, maka keduanya akan berpotongan di suatu
titik dan membentuk sudut tertentu yang disebut sudut deviasi.
Besar sudut datang ini dapat dilihat dari sekala yang ada pada meja spektrometer.
Sedangkan sudut bias didapatkan dari percobaan yaitu sudut perubahan teropong
dari posisi pengkalibrasian hingga terbentuknya spektrum cahaya dengan jelas.

Gambar diatas menggambarkan seberkas cahaya yang melewati sebuah prisma.


Gambar tersebut memperlihatkan bahwa berkas sinar tersebut dalam prisma
mengalami dua kali pembiasan sehingga antara berkas sinar masuk ke prisma dan
berkas sinar keluar dari prisma tidak lagi sejajar. Sudut yang dibentuk antara arah
sinar datang dengan arah sinar yang meninggalkan prisma disebut sudut deviasi
diberi lambang D. Besarnya sudut deviasi tergantung pada sudut datangnya sinar.
Untuk segiempat AFBE, maka : + AFB = 180o
Pada segitiga AFB, r1 + i2 + AFB = 180o, sehingga diperoleh
+ AFB = r1 + i2 + AFB
= r1 + i2
Pada segitiga ABC, terdapat hubungan ABC + BCA +CAB = 180o,
di mana ABC = r2 i2 dan CAB = i1 r1,
sehingga BCA + (r2 i2) + (i1 r1) = 180o
BCA = 180o + (r1 + i2) (i1 + r2)
Besarnya sudut deviasi dapat dicari sebagai berikut.
D = 180o BCA
= 180o {(180o + (r1 + i2) (i1 + r2)}

= (i1 + r2) (i2 + r1)


D = i 1 + r2 -
Keterangan :
Sudut deviasi minimum dapat dinyatakan:

e.

Cara pembacaan skala pada spektrometer prisma

Cara pembacaan skala pada spektrometer prisma adalah sebagai berikut:


30

Berdasarkan gambar diatas, skala yang dekat dengan angka 0 adalah 30 dan skala
nonius yang segaris dengan skala utama adalah 5 sehingga besar sudut yang
didapatkan dari pengukuran adalah 30,5 derajat. Contoh diatas merupakan
pengukuran dengan menggunakan spektrometer prisma yang memiliki ketelitian
0,1 derajat . Ketelitian ini diperoleh berdasarkan alat yang digunakan. Pada
spektrometer ini, dalam satu putaran penuh, antara skala utama dengan skala

nonius memiliki selisih 1o seperti pada gambar. Sehingga ketelitian spektrometer


ini adalah 1/10 atau 0,1 derajat.

10

Skala utama

2.3

Skala nonius

Spektrometer Pandang Langsung

Spektroskop pandang langsung digunakan untuk mengukur panjang gelombang


cahaya dari suatu benda. Spektrometer ini mempunyai bentuk yang sederhana dan
mudah

dalam

penggunaannya.

Berikut

merupakan

gambar

sederhana

spektrometer pandang langsung:

Skala
spektromet
er
Celah
cahaya
yang
diamati

Skrup untuk
mengkalibrasi
Celah untuk
mengamati
spektrum

Dengan menggunakan spektrometer pandang langsung ini kita dapat dengan


mudah melihat spektrum cahaya dan mengukur panjang gelombangnya yaitu
hanya dengan melihat melalui celah spektrometer. Cahaya yang berbeda
intensitasnya memiliki panjang gelombang yang berbeda di setiap spektrum
warnanya. Misalnya pada cahaya yang terang seperti cahaya matahari, berbeda
dengan panjang gelombang dari spektrum yang dihasilkan dari bola lampu.

Panjang gelombang dari spektrum yang dihasilkan cahaya matahari lebih panjang
jika dibandingkan dengan panjang gelombang dari spektrum yang dihasilkan dari
bola lampu.
a. Kalibrasi spektrometer pandang langsung
Mengkalibrasi sperktrometer pandang langsung adalah dengan cara meletakkan
warna spektrum cahaya yang paling bawah pada skala yang paling bawah dalam
spektrometer yaitu dengan cara memutar-mutar skrup yang ada pada bagian
samping spektrometer. Pemutaran skrup kearah kiri digunakan untuk menurunkan
spektrum yang terbentuk pada spektrometer, sedangkan pemutaran skrup kearah
kanan digunakan untuk menaikkan spektrum kebawah.

b. Cara penggunaan spektrometer pandang langsung


Cara menggunakan spektrometer pandang langsung adalah sebagai berikut:
1.

mengarahkan sperktrometer kearah sumber cahaya

2.

mengkalibrasi spektrometer dengan cara yang telah disebutkan diatas

3.

memperhatikan warna yang akan dihitung panjang gelombangnya

c. Membaca skala spectrometer pandang langsung


Memperhatikan cahaya yang akan dihitung panjang gelombangnnya, selanjutnya
melihat batas skala yang ditunjukan pada warna tersebut. Sekala terkecil dalam
spektrometer adalah 4. Selanjutnya mengalikan kisaran sekala yang ditunjukan
oleh warna spektrum yang sedang diamati dengan 1000 A atau 100 nm.

III. KESIMPULAN

Setelah melakukan pembahasan dan percobaan maka dapat diambil beberapa


kesimpulan sebagai berikut :
1. Spektrometer adalah alat yang digunakan untuk mengamati spectrum
cahaya yang terurai setelah melewati medium.
2. Dengan spektrometer kita dapat mengetahui panjang gelombang dan
indeks bias cahaya.
3. Pada spectrometer pandang langsung dengan mudah dapat dihitung
panjang gelombangnya.
4. Cahaya putih merupakan campuran dari semua panjang gelombang cahaya
tampak. Ketika cahaya ini jatuh pada sisi prisma, panjang gelombang yang
berbeda ini dibelokkan dengan derajat yang berbeda pula, sesuai dengan

hukum Snellius. karena indeks bias yang lebih besar untuk panjang
gelombang yang lebih pendek, maka cahaya ungu akan dibelokkan paling
jauh dan merah akan dibelokkan paling dekat.

DAFTAR PUSTAKA

http//www.google.spektrometer.com. Februari, 2010.


http//www.yahoo.gambar spectrometer.com. Februari, 2010.
Manurung,Posman. 2004. Petunjuk Praktikum Fisika Eksperimen II. Lampung;

Unila.
Staf Penulis. 1979. Energi Gelombang dan Medan. Bandung: Ganeca Science
Book Series Bandung.
Tim Penyusun . 1999.Jendela Iptek. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.