Anda di halaman 1dari 26

Makalah Auditing

PEMERIKSAAN KAS, PIUTANG DAN


PERSEDIAAN

Disusun Oleh:
1.

Astika Tiarani

C1F01503

2.

Fitria Nur Hidayah

4
C1F01505

3.

Gadis Fithri Afiana

5
C1F01505

4.

Dadang Sudarmadi

6
C1F01506

Surya Hananta Aji Setiawan

2
C1F01506

5.

Disusun dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Auditing I

Program Studi S1-Akuntansi Alih Jenjang


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Jenderal Soedirman
Program Beasiswa STAR-BPKP Batch-III
Maret 2016

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena dengan berkat dan rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Pemeriksaan Kas, Piutang dan Persediaan dalam rangka memenuhi
tugas mata kuliah Auditing I.
Makalah ini disusun dalam rangka memperdalam pemahaman tentang
auditing terutama dalam hal pemeriksaan terhadap kas, piutang dan persediaan.
Kami berharap makalah kami dapat menambah wawasan pembaca baik itu yang
berasal dari kalangan akademisi maupun praktisi mengenai standar pemeriksaan
laporan keuangan.
Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dan kesalahan dalam
penyusunan makalah ini. Masukan dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca sangat kami harapkan agar dapat menjadi perbaikan penyusunan tulisan
ilmiah selanjutnya.

Purwokerto, Maret 2016

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................

KATA PENGANTAR...............................................................................................

ii

DAFTAR ISI........................................................................................................... iii


BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................

A. Latar Belakang ..................................................................................................

B. Rumusan Masalah..............................................................................................

C. Tujuan Penulisan Makalah...................................................................................

BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................

A. Pemeriksaan Kas................................................................................................

B. Pemeriksaan Piutang.......................................................................................... 10
C. Pemeriksaan Persediaan................................................................................... 15
BAB III PENUTUP................................................................................. 22
A. Kesimpulan....................................................................................................... 22
B. Saran................................................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 23

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Informasi keuangan perusahaan yang tepat dan benar sangat berperan
penting bagi pelaku bisnis maupun pemangku kepentingan lainnya dalam
mengambil keputusan. Laporan keuangan merupakan salah satu instrumen
yang digunakan untuk menyampaikan informasi keuangan suatu entitas, baik itu
untuk internal manajemen maupun kepada pihak eksternal yang
berkepentingan.
Untuk menjamin tersedianya informasi keuangan yang handal, audit atau
pemeriksaan adalah sebuah alat yang dapat digunakan untuk meyakinkan
pengguna laporan keuangan akan keandalan informasi yang disajikan. Audit
3

dirancang untuk memberikan keyakinan bahwa laporan keuangan telah disajikan


sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum, tidak dipengaruhi oleh
salah saji material dan juga memberikan keyakinan memadai atas akuntabilitas
menajemen dalam menggunakan aset perusahaan.
Audit atas laporan keuangan dapat bersifat general audit atas semua pos
keuangan perusahaan atau special audit yang menitikberatkan pada pos-pos
tertentu dalam laporan keuangan. Kas, piutang dan persediaan merupakan
beberapa dari sekian banyak jenis pos dalam laporan keuangan perusahaan.
Diantara aset perusahaan, kas merupakan aset yang sifatnya paling liquid
dan mudah dipindahtangankan. Sifat kas yang sangat liquid menempatkannya
dalam daftar teratas urutan aset. Kas merupakan elemen penting dalam
perusahaan karena hampir semua transaksi perusahaan melibatkan kas. Selain
itu kas juga merupakan aset yang sangat mudah diselewengkan.
Persediaan adalah akun yang nilainya sangat besar pada perusahaan dagang
atau manufaktur. Persediaan mempunyai pengaruh besar terhadap perhitungan
laba rugi dan neraca.
Persaingan dunia usaha yang semakin ketat, membuat perusahaan
berinovasi untuk menarik pelanggan. Salah satunya adalah dengan memberikan
layanan berupa penjualan kredit. Penjualan kredit ini akan menghasilkan
piutang bagi perusahaan. Mengelola perputaran piutang bukanlah hal yang
mudah. Sehat tidaknya perusahaan salah satunya dapat dilihat dari perputaran
piutangnya.
Kas, piutang dan persediaan adalah pos yang saling berhubungan satu sama
lain. Ketiganya membentuk rantai yang berputar terus menerus yaitu kaspersediaan-piutang-kas.
Melihat begitu krusialnya kas, piutang dan persediaan dalam suatu
perusahaan, auditor perlu memberikan perhatian lebih pada ketiga pos tersebut.
Hal tersebut melatarbelakangi kami untuk menyusun sebuah makalah yang
berjudul Pemeriksaan Kas, Piutang dan Persediaan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, tim penyusun menguraikan
beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan kas, piutang dan persediaan?
2. Apa yang tujuan pemeriksaan kas, piutang dan persediaan?
3. Bagaimana prosedur pemeriksaan kas, piutang dan persediaan?
4. Apa contoh kasus pemeriksaan kas, piutang dan persediaan?
2

C. Tujuan Penulisan Makalah


Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Memahami karakteristik kas, piutang dan persediaan;
2. Memahami tujuan pemeriksaan kas, piutang dan persediaan;
3. Memahami prosedur pemeriksaan kas, piutang dan persediaan;
4. Memahami dan dapat menyelesaikan kasus pemeriksaan kas, piutang dan
persediaan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PEMERIKSAAN KAS
1. Deskripsi Kas
Kas dan setara kas terdiri dari uang tunai (uang logam dan uang
kertas), pos wesel, certified check, cashiers check, cek pribadi, dan bank
draft, serta dana yang disimpan di Bank yang pengambilannya tidak dibatasi
oleh bank atau perjanjian yang lain.
Kas yang dicantumkan di neraca terdiri dari dua unsur berikut :
1) Kas di tangan perusahaan, yang terdiri dari Penerimaan kas yang belum
disetor ke bank yang berupa uang tunai, pos wesel, certified check,
cashiers check, cek pribadi, dan bank draft.
2) Saldo dana kas kecil, yang berupa uang tunai yang ada di tangan
pemegang dana kas kecil. Kas di bank, yang berupa simpanan di bank
yang berbentuk rekening giro.
Prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian kas di neraca berikut ini:
1) Kas yang dicantumkan di neraca adalah saldo kas yang ada di tangan
perusahaan pada tanggal tersebut dan saldo rekening giro di bank, yang
pengambilannya tidak dibatasi oleh bank atau perjanjian yang lain.
2) Kas dalam bentuk valuta asing harus dicantumkan di neraca sebesar nilai
kurs yang berlaku pada tanggal neraca.
3) Unsur-unsur berikut ini harus di sajikan secara terpisah dari unsur kas di
neraca jika jumlahnya material :
a. Tabungan di bank
b. Dana untuk perluasan pabrik, dan pelunasan utang, atau dana lain
yang tidak digunakan untuk keperluan modal kerja.
c. Saldo bank minimum yang disyaratkan oleh bank dalam suatu
perjanjian penarikan kredit.
d. Saldo di bank luar negeri yang tidak digunakan dalam hubungannya
dengan kegiatan bisnis di luar negeri dan tidak dapat segera di ubah ke
dalam mata uang rupiah karena batasan-batasan.
e. Persekot biaya perjalanan atau persekot lain kepada karyawan.
Sumber penerimaan kas dapat berasal dari:
1) Pendapatan
2) Penjualan aktiva tetap
3) Penerbitan utang jangka panjang dan modal saham
4

Sedangkan pengeluaran kas dapat berupa :


1) Pembelian (Persediaan dan aktiva tetap)
a. Penggajian
b. Utang Jangka Panjang dan ekuitas Pemegang saham
2. Tujuan Pemeriksaan Kas
Tujuan pemeriksaan (audit objectives) kas dan setara kas adalah sebagai
berikut:
1) Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas
kas dan setara kas serta transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dan
bank.
2) Untuk memeriksa apakah saldo kas dan setara kas yang ada di neraca per
tanggal neraca betul-betul ada dan dimiliki oleh perusahaan.
3) Untuk memeriksa apakah ada pembatasan untuk penggunaan kas dan
setara kas.
4) Untuk memeriksa seandainya terdapat saldo kas dan setara kas dalam
valuta asing, apakah saldo tersebut sudah dikonversikan terhadap rupiah
dengan menggunakan kurs Bank Indonesia pada tanggal neraca dan
apakah selisih kurs yang terjadi sudah dibebankan atau dikreditkan ke
laba rugi tahun berjalan.
5) Untuk memeriksa apakah penyajian kas dan setara kas di neraca sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia.
3. Prosedur Pemeriksaan Kas
Menurut Sukrisno Agoes (2004:125) Prosedur audit ialah langkahlangkah yang harus dijalankan auditor dalam melaksanakan
pemeriksaaannya dan sangat diperlukan oleh asisten agar tidak melakukan
penyimpangan dan dapat bekerja secara efisien dan efektif. Prosedur audit
dilakukan dalam rangka mendapatkan bahan-bahan bukti (audit evidence)
yang cukup untuk mendukung pendapat auditor atas kewajaran laporan
keuangan.
Prosedur Analitis Substantif Kas
Karena sifatnya yang bersisa, kas tidak memiliki hubungan yang dapat
diprediksi dengan akun laporan keuangan lain. Maka prosedur analitis
substantif untuk audit kas terbatas hanya pada perbandingan saldo kas
dengan saldo tahun sebelumnya dan dengan saldo anggaran. Penggunaan
terbatas dari prosedur analitis substantif ini pada umumnya dapat digantikan
dengan :
5

1) Pengujian Pengendalian dan/atau pengujian substantif ekstensif atas


transaksi penerimaan dan pengeluaran kas, atau
2) Pengujian ekstensif atas rekonsiliasi bank entitas.
Tujuan pengujian substantif terhadap saldo kas
Tujuan pengujian substantif terhadap saldo kas adalah :
1) Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang
bersangkutan dengan kas.
2) Membuktikan keberadaan kas dan keterjadian transaksi yang berkaitan
dengan kas yang dicantumkan di neraca.
3) Membuktikan hak kepemilikan klien atas kas yang dicantumkan di neraca.
4) Membuktikan kewajaran penilalain kas yang dicantumkan di neraca
5) Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan kas di neraca.
Pengaruh Pengendalian
Pengendalian utama yang mempengaruhi langsung audit kas adalah
pembuatan rekonsiliasi bank bulanan oleh karyawan klien yang terpisah dari
fungsi penanganan dan pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas.
Rekonsiliasi bank tersebut memastikan bahwa saldo per buku klien
mencerminkan jumlah yang sama dengan saldo bank setelah unsur-unsur
yang direkonsiliasi dimasukkan. Pengendalian dapat lebih baik ditingkatkan
jika fungsi independen seperti auditor internal mereviu rekonsiliasi bank.
Audit Akun Kas Umum
Untuk mengaudit akun kas, auditor harus mendapatkan dokumen-dokumen
berikut ini :
1) Salinan rekonsiliasi Bank
2) Bentuk standar untuk mengonfirmasi informasi saldo akun pada lembaga
keuangan
3) Pisah batas rekening Koran
Kertas Kerja Rekonsiliasi Bank (Bank Reconciliation Working Paper)
Auditor biasanya mendapatkan salinan rekonsiliasi bank yang dibuat oleh
karyawan klien. Pada kertas kerja dilakukan rekonsiliasi terutama adalah
setoran dalam perjalanan, cek yang beredar, dan penyesuaian lain, seperti
biaya jasa bank dan cek yang dikembalikan karena pelanggan tidak memiliki
kas yang mencukupi dalam akunnya untuk membayar cek (cek kosong).
Bentuk Konfirmasi Bank Standar (Standar Bank Confirmation Form)

Auditor biasanya melakukan konfirmasi atas informasi saldo akun dengan


setiap bank atau lembaga keuangan dimana klien memiliki akun. Perhatikan
bahwa bentuk konfirmasi ini tidak meminta karyawan bank untuk
melaksanakan penyelidikan menyeluruh dan terinci atas catatan bank yang
melebihi informasi akun yang diminta dalam konfirmasi.
Pisah Batas Rekening Koran (Cut off Bank Statement)
Langkah utama dalam mengaudit rekonsiliasi Bank adalah melakukan
verifikasi atas ketepatan unsur-unsur yang direkonsiliasi seperti setoran
dalam perjalanan dan cek yang beredar. Auditor memerlukan pisah batas
rekening Koran untuk menguji unsur-unsur yang terdapat dalam rekonsiliasi
bank.
Menguji rekonsiliasi Bank (Test of the Bank Reconciliation)
Auditor menggunakan prosedur audit berikut untuk menguji rekonsiliasi
bank :
1) Uji akurasi matematis kerta kerja rekonsiliasi dan cocokkan saldo menurut
buku dengan buku besar.
2) Cocokkan saldo bank pada rekonsiliasi bank dengan saldo yang terdapat
pada konfirmasi bank standar.
3) Telusuri setoran dalam perjalanan pada rekonsiliasi bank ke pisah batas
rekening koran.
4) Bandingkan cek yang beredar pada kertas kerja rekonsiliasi bank dengan
cek yang dibatalkan pada pisah batas rekening koran, yaitu untuk nama
penerima, jumlah dan endorsement.
5) Cocokkan setiap biaya yang terdapat pada rekening koran rekonsiliasi
bank.
6) Cocokkan saldo buku setelah penyesuaian dengan skedul induk akun kas.

Prosedur Audit Yang terkait dengan kecurangan


Jika klien tidak memiliki prosedur pengendalian yang memadai atau auditor
menduga terdapat kecurangan atau penyalahgunaan kas, maka diperlukan
prosedur audit kas yang lebih luas. Tiga prosedur audit yang khususnya
digunakan auditor untuk menemukan kecurangan pada akun kas adalah :
1) Prosedur Rekonsiliasi bank yang diperluas
2) Pembuktian kas
3) Pengujian untuk kitting
Prosedur Rekonsiliasi Bank yang diperluas (Extended Bank
Reconciliation Procedure)
Dalam beberapa hal, rekonsiliasi bank akhir tahun dapat digunakan untuk
7

menutupi penyalahgunaan kas. Hal ini dilakukan dengan manipulasi unsur


yang harus direkonsiliasi dalam rekonsiliasi bank. Sebagai contoh, misalkan
karyawan klien mencuri $5.000 dari klien. Maka saldo kas klien di bank akan
lebih rendah $5.000 dari yang dilaporkan di buku klien. Pada rekonsiliasi
bank, kekurangan $5.000 tersebut dapat disembunyikan. Oleh karena itu,
pendekatan khusus untuk menyelidiki kemungkinan kecurangan adalah
dengan memperluas prosedur audit atas rekonsiliasi bank dengan memeriksa
penghapusan unsur yang harus direkonsiliasi bank bulan sebelumnya dan
unsur yang harus direkonsiliasi pada rekonsiliasi bank bulan berjalan.
Pembuktian kas (Proff of Cash)
Pembuktian kas digunakan untuk merekonsiliasi penerimaan dan
pengeluaran kas yang tercatat pada buku klien dengan kas yang disetorkan
atau yang dikeluarkan dari akun bank pada suatu periode tertentu.
Pembuktian kas sering kali disebut juga sebagai pembuktian kas empat
kolom. Keempat kolom itu terdiri atas :
-

Rekonsiliasi bank awal periode

Rekonsiliasi antara kas yang disetorkan ke bank dengan penerimaan kas


yang di catat pada jurnal penerimaan kas.

Rekonsiliasi antara kas yang dikeluarkan dari akun bank dengan


pengeluaran kas yang di catat pada jurnal pengeluaran kas.

Rekonsiliasi bank akhir periode.

Pengujian untuk kitting (Test for kiting)


Jika kas dicuri oleh karyawan, sangatlah untuk menutupi kekurangan kas
dengan praktik yang dikenal sebagai kitting. Yaitu, karyawan menutupi
kekurangan kas dengan melakukan transfer dari satu akun bank ke akun
bank lain dan tidak mencatat transaksi tersebut dengan benar dalam buku
klien. Pendekatan yang umumnya dilakukan auditor untuk menguji kitting
adalah membuat skedul transfer antar bank.
Audit akun Impres Penggajian atau Cabang
Audit atas akun kas impres seperti akun penggajian dan cabang mengikuti
langkah audit dasar yang sama dengan audit atas akun kas umum. Pengujian
audit akun ini tidak terlalu luas, untuk dua alasan. Pertama, saldo akun
impres tersebut tidak material, akun penggajian dan cabang tersebut dapat
hanya berisikan saldo sebesar $ 1.000. Kedua, jenis pengeluaran adalah
homogen.
Audit Dana Kas Kecil
8

Kemungkinan penyalahgunaan wewenang karena karyawan klien dapat


melakukan banyak transaksi kecurangan atas dana tersebut pada suatu
bagian tahun. Auditor jarang melakukan prosedur substantif analitis atas kas
kecil. Kecuali bila diduga terjadi kecurangan.
4. Contoh Kasus dan Pembahasan Pemeriksaan Kas
1) Contoh kasus perhitungan fisik
Misal : Perhitungan fisik tanggal 6 Februari 2009 Rp 2.500.000,00 (sama
dengan di buku besar pada tanggal tersebut)
Penerimaan Kas : 1 Januari sd 6 Februari 2009 sebesar Rp 6.000.000,00
Pengeluaran Kas : 1 Januari sd 6 Februari 2009 sebesar Rp 8.000.000,00
Berarti Kas Per 31 Desember 2008 seharusnya adalah sebesar Rp. 2,5juta
+8juta 6juta = Rp.4,5juta, jika terdapat perbedaan dengan kas per
tanggal neraca lakukan pemeriksaan bukti atas penerimaan dan
pengeluaran sampai dengan tanggal pemeriksaan fisik untuk mencari
penyebab :
1) salah catat (kurang/lebih catat),
2) belum catat
3) hilang.
Teknik Audit yang paling relevan dalam pengujian saldo kas per 31
Desember 2xxx adalah dengan cara pemeriksaan fisik.
1

Pemeriksaan fisik dilakukan pada saat tanggal 31 Desember 2xxx atau


ketika tutup buku, berlaku jika penugasan auditnya sudah dimulai

sebelum tanggal neraca.


Pemeriksaan fisik dilakukan setelah tanggal tutup buku (misal tanggal
neraca per 31 Desember 2008), berlaku apabila penugasan audit

dimulai bulan Januari 2009.


Perhitungan fisik dapat dilakukan pada tanggal tersebut 31 Januari
2009. Hasil perhitungan fisik tanggal 31 Januari 2009 ditambah
pengeluaran dari tanggal 1 Januari sd 31 Januari 2009 dikurangi
penerimaan kas dari tanggal 1 Januari sd 31 Januari 2009 dibandingkan
dengan saldo kas per 31 Desember 2008 yang disajikan dalam laporan

keuangan neraca.
Jika terdapat perbedaan, maka kemungkinan cuma 2 :
a. salah catat transaksi, atau
b. ada transaksi yang belum dicatat baik transaksi penerimaan
maupun pengeluaran kas.

Contoh:
9

Laporan keuangan yang diaudit untuk tahun buku 2008, penugasan mulai
dilakukan tanggal 1 Februari 2009. Jadwal pemeriksaan fisik kas di
bendahara dilakukan tanggal 6 Februari 2009.
Langkah-langkah pemeriksaan :
1

Hitung kas yang ada pada tanggal tersebut dan jumlah uang
dikelompokkan berdasarkan pecahan dan satuan logam atau kertas.
Bandingkan dengan catatan kas (buku besar kas) pada tanggal
tersebut.

Jumlahkan kas perhitungan fisik dengan mutasi pengeluaran kas


dikurangi penerimaan kas 1 Januari sd 6 Februari 2009. Hasilnya harus
sama dengan kas yang ada di neraca.

Jika terdapat perbedaan, lakukan pemeriksaan bukti penerimaan dan


pengeluaran kas dari tanggal 1 Januari sd 6 Februari 2009 untuk
mencari tahu penyebabnya.

Bagaimana jika ditemukan uang palsu? maka fisik kas dihitung sebesar
uang aslinya saja.
2) Contoh kasus rekonsiliasi bank
Saldo Giro Bank Mandiri menurut catatan perusahaan per 31 Desember
2008 adalah Rp 10.500.000,00 sedangkan menurut rekening koran bank
Mandiri Rp 11.850.000,00. Atas kasus tersebut dilakukan pencocokan
catatan antara buku besar dan rekening koran bulan Desember 2008.
Setelah ditelesuri, ternyata perusahaan belum membukukan adanya
pelunasan piutang sebesar Rp 1.100.000,00 dari pelanggan pada bulan
Desember (bukti ada di Bulan Desember 2009), biaya Administrasi bank
sebesar Rp50.000,00 dan pendapatan jasa giro Rp 300.000,00.
Teknik Audit yang paling relevan dalam pengujian saldo Bank per 31
Desember 2xxx adalah dengan cara konfimasi bank dan atau rekonsiliasi
bank.
Jika terdapat perbedaan, maka kemungkinan cuma 2 :
1) salah catat transaksi, atau
2) ada transaksi yang belum catat baik transaksi penerimaan maupun
pengeluaran kas (misal karena setoran dalam perjalanan atau
pengeluaran dengan cek tetapi belum dicairkan atau cek yg masih
beredar).
10

REKONSILIASI BANK PER 31 DESEMBER 2008 :


Saldo menurut catatan perusahaan

Rp. 10.500.000,-

Ditambah : Pelunasan Piutang

Rp. 1.100.000,-

Jasa giro

Rp. 300.000

Dikurang : Biaya Adm & Pajak


Saldo yang benar

(Rp. 50.000,-)
Rp. 11.850.000

Saldo menurut rekening koran

Rp. 11.850.000

Ayat jurnal penyesuaiannya :


(D) Kas Bank Mandiri

Rp 1.350.000

(D) Beban Adm & Pajak

Rp

(K)

Pendapatan jasa giro

(K)

Piutang Usaha

50.000
Rp

300.000

Rp 1.100.000

3) Kekurangan kas mungkin ditutupi dengan memindahkan dana dari satu


lokasi lain atau dengan mengubah aktiva yang dapat dinegosiasi menjadi
kas. Bagaimana cara untuk memeriksa hal tersebut?
Jawaban: Dengan melakukan penghitungan kas secara mendadak.
Penghitungan tersebut dapat mendeteksi kekurangan kas agar ketika
dilakukan perhitungan karyawan yang melakukan suatu kecurangan dapat
saja menutupi kekurangan kasnya karena tidak mengira akan dilakukan
perhitungan secara mendadak.
B. PEMERIKSAAN PIUTANG
1. Deskripsi Piutang
Piutang timbul dari beberapa jenis transaksi, di mana yang paling
umum ialah dari penjualan barang atau jasa secara kredit. Kredit dapat
diberikan dalam bentuk perkiraan terbuka atau berdasarkan instrumen kredit
yang sahih, yang disebut surat promes (wesel). Surat promes (promissory
note), yang sering disebut wesel (nota), adalah janji tertulis untuk membayar
sejumlah uang tertentu atas permintaan atau pada suatu tanggal yang telah
ditetapkan.
Menurut Donald E. Keiso (2004:386) piutang adalah klaim uang,
barang, jasa kepada pelanggan atau pihak pihak lainnya. Menurut Sukrisno
Agoes, (2004:173) piutang usaha adalah piutang yang berasal dari
penjualan barang dagangan atau jasa secara kredit.
Contoh dari piutang usaha menurut Sukrisno Agoes (2004:713) ialah :
1) Piutang usaha
2) Wesel tagih
11

3)
4)
5)
6)
7)

Piutang pegawai
Piutang bunga
Uang muka
Refundable deposit (uang jaminan)
Piutang lain-lain

8) Allowance for bad debts (penyisihan piutang tak tertagih)


2. Tujuan Pemeriksaan Piutang
Menurut Sukrisno Agoes (2004:173) tujuan pemeriksaan perkiraan
piutang usaha yaitu:
1) Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern (internal control)
yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan
kas.
2) Untuk memeriksa validity (keabsahan) dan authenticity (keotentikan) dari
pada piutang.
3) Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagihnya) piutang dan
cukup tidaknya perkiraan allowance for bad debts (penyisihan piutang tak
tertagih).
4) Untuk mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability)
yang timbul karena pendiskontoan wesel tagih (notes receivable).
5) Untuk memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/Standar Akuntansi
Keuangan.
3. Prosedur Pemeriksaan Piutang
Sukrisno Agoes (2004:176) menyarankan prosedur audit piutang usaha
sebagai berikut:
1) Pelajari dan evaluasi internal control atas piutang dan transaksi
penjualan, piutang dan penerimaan.
2) Buat Top Schedule dan Supporting Schedule piutang pertanggal neraca.
3) Minta aging shedule dari piutang usaha pertanggal neraca yang antara
lain menunjukkan nama pelanggan (customer), saldo piutang, umur
piutang dan kalau bisa subsequent collections-nya.
4) Periksa mathematical accuracy-nya dan check individual balance ke
subledger lalu totalnya ke general ledger.
5) Test check umur piutang dari beberapa customer ke subledger piutang
dan sales invoice.
6) Kirimkan konfirmasi piutang:
a. Tentukan dan tuliskan dasar pemilihan pelanggan yang akan dikirim
surat konfirmasi.
b. Tentukan apakah akan digunakan konfirmasi positif atau konfirmasi
negatif.
c. Cantumkan nomor konfirmasi baik di schedule piutang maupun di surat
konfirmasi.
12

d. Jawaban konfirmasi yang berbeda harus diberitahukan kepada klien


untuk dicari perbedaannya.
e. Buat ikhtisar (summary) dari hasil konfirmasi
7) Periksa subsequent collections dengan memeriksa buku kas dan bukti
penerimaan kas untuk periode sesudah tanggal neraca sampai mendekati
tanggal penyelesaian pemeriksaan lapangan (audit field work). Perhatikan
bahwa yang dicatat sebagai subsequent collections hanyalah yang
berhubungan dengan penjualan dari periode yang sedang diperiksa.
8) Periksa apakah ada wesel tagih (notes receivable) yang didiskontokan
untuk mengetahui kemungkinan adanya contingent liability.
9) Periksa dasar penentuan allowance for bad debts dan periksa apakah
jumlah yang disediakan oleh klien sudah cukup, dalam arti tidak terlalu
besar dan terlalu kecil.
10) Test sales cut-of dengan jalan memeriksa sales invoice, credit note dan
lain-lain, lebih kurang 2 (dua) minggu sebelum dan sesudah tanggal
neraca. Periksa apakah barang-barang yang dijual melalui invoice
sebelum tanggal neraca, sudah dikirim per tanggal neraca. Kalau belum
cari tahu alasannya. Periksa apakah ada faktur penjualan dari tahun yang
diperiksa, yang dibatalkan dalam periode berikutnya.
11) Periksa notulen rapat, surat-surat perjanjian, jawaban konfirmasi bank,
dan correspondence file untuk mengetahi apakah ada piutang yang
dijadikan sebagai jaminan.
12) Periksa apakah penyajian piutang di neraca dilakukan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK
13)

Tarik kesimpulan mengenai kewajaran saldo piutang yang diperiksa.

4. Contoh Kasus dan Pembahasan Pemeriksaan Piutang


1) Pada tanggal 20 Juni 2011, auditor menemukan bahwa salah satu debitur
PT XX bangkrut pada tanggal 1 April 2011. Penjualan kepada debitur
dilakukan pada tanggal 15 Oktober 2010. Jumlah tersebut tertagih pada
tanggal 31 Desember 2010 dan 10 Februari 2011.
Jawaban:
Tidak perlu melakukan apa-apa
Menurut SA Seksi 560 tentang peristiwa kemudian, menyatakan bahwa
auditor mempunyai tanggung jawab tertentu atas kejadian dan transaksi
yang mempunyai pengaruh material atas laporan keuangan yang terjadi
setelah tanggal laporan posisi keuangan sampai dengan tanggal
berakhirnya pekerjaan lapangan (tanggal laporan audit).
Pada kasus ini piutang atas salah satu debitur tersebut telah tertagih
tanggal 31 Desember 2010 dan 10 Februari 2011, artinya kejadian ini
tentunya telah dilakukan revisi atas laporan keuangan PT XX dan telah
13

dilakukan penyesuaian oleh auditor. Karena pekerjaan lapangan selesai


tanggal 10 Februari 2011 dan laporan auditor keluar tanggal 2 Maret,
artinya kebangkrutan salah satu debitur PT XX tanggal 1 April 2011
tidak menjadi tanggung jawab Auditor.
2) Pada tanggal 3 Februari 2011, auditor menemukan bahwa debitur PT.
XX bangkrut pada tanggal 26 Januari 2011. Penyebab kebangkrutan
adalah adanya kerugian tak terduga akibat tuntutan hukum pada tanggal
10 Januari 2011, karena adanya tuntutan dari pelanggan lainnya
mengenai kualitas produk.
Jawaban:
Mengungkapkan informasi ini dalam penjelasan tambahan untuk
laporan per tanggal 31 Desember 2010
Apabila posisi keuangan debitur yang bersangkutan per tanggal 31
Desember 2010 berada dalam keadaan sehat dan kebangkrutan
disebabkan oleh kerugian tak terduga akibat tuntutan hukum yang terjadi
tanggal 10 Januari 2011 dimana terjadi sesudah tanggal laporan posisi
keuangan, maka klien hanya diminta untuk mengungkapkan dalam
bentuk catatan atas laporan keuangan per 31 Desember 2010.
3) Pada tanggal 5 Februari 2011, Auditor menemukan bahwa debitur PT.
XX bangkrut pada tanggal 26 Januari 2011. Penjualan terakhir terjadi
tanggal 7 Desember 2010 dan sejak tanggal itu tidak ada penerimaan kas
dari debitur tersebut.
Jawaban:
Menyesuaikan laporan keuangan tanggal 31 Desember 2010
Apabila dalam mereview peristiwa kemudian, auditor berkesimpulan
bahwa kebangkrutan debitur disebabkan akibat kesulitan keuangan yang
ada pada tanggal laporan posisi keuangan, dimana sejak penjualan
terakhir terjadi tanggal 7 Desember 2010 dan sejak tanggal tersebut
tidak ada penerimaan kas dari debitur tersebut, maka klien diminta untuk
melakukan penyesuaian atas laporan keuangan per 31 Desember 2010
dengan mengakui kerugian yang diderita.
4) Pada tanggal 6 Agustus 2011, auditor menemukan bahwa debitur PT. XX
bangkrut pada tanggal 20 Februari 2011 karena buruknya kondisi
keuangannya. Penjualan kepada debitur tersebut terjadi pada tanggal 14
Juni 2010.
Jawaban:
Menyesuaikan laporan keuangan tanggal 31 Desember 2010
Apabila dalam me-review peristiwa kemudian, kebangkrutan debitur
disebabkan memburuknya posisi keuangan yang ada pada tanggal
14

laporan posisi keuangan, maka klien diminta untuk melakukan


penyesuaian atas laporan keuangan per 31 Desember 2010 dengan
mengakui kerugian yang diderita.
5) Pada tanggal 2 Februari 2011, auditor menemukan bahwa debitur PT.
XX bangkrut pada tanggal 30 Januari 2011 atas penjulan yang terjadi
pada tanggal 6 Januari 2011. Penyebab kebangkrutan adalah terjadinya
kerugian kebakaran pada tanggal 15 Januari 2011 yang tidak
diasuransikan.
Jawaban:
Mengungkapkan informasi ini dalam penjelasan tambahan
untuklaporan per tanggal 31 Desember 2010
Apabila posisi keuangan debitur per tanggal 31 Desember 2010 berada
dalam keadaan sehat dan kebangkrutan disebabkan oleh kerugian
kebakaran yang terjadi setelah tanggal laporan posisi keuangan, maka
klien hanya diminta untuk mengungkapkan dalam bentuk catatan atas
laporan keuangan.
6) Pada tanggal 18 Januari 2011, PT XX diajukan dalam tuntutan hukum
akibat transaksi yang terjadi pada tahun 2008 dan masih diakui sebagai
kewajiban kontinjensi.
Jawaban:
Mengungkapkan informasi ini dalam penjelasan tambahan
untuklaporan per tanggal 31 Desember 2010
Standar Akuntansi Keuangan mengharuskan kewajiban kontinjensi untuk
diperlakukan sebagai salah satu kemungkinan dicatat sebagai utang
bersyarat, maka klien hanya diminta untuk mengungkapkan dalam
catatan atas laporan keuangan.
7) Pada tanggal 20 Maret 2011, PT XX kalah dalam kasus pengadilan yang
berjalan sejak tahun 2009 dengan jumlah kerugian tepat sebesar
tuntutan. Pada tanggal 31 Desember 2010, penjelasan tambahan
menunjukkan opini penasehat hukum yang menyatakan bahwa
perusahaan kemungkinan besar memenangkan kasus ini.
Jawaban:
Meminta klien untuk merevisi laporan keuangan 31 Desember
2010
Peristiwa yang memberikan tambahan bukti yang berhubungan dengan
kondisi yang ada pada tanggal laporan posisi keuangan berdampak
terhadap taksiran yang melekat dalam proses penyusunan laporan
keuangan jika pada saat penyusunan laporan keuangan per 31 Desember
2010, PT XX belum mencatat jumlah kerugian tuntutan tersebut.
15

Dalam hal ini, PT XX harus melakukan revisi atas laporan keuangannya


karena tututan tersebut telah terjadi sebelum tanggal laporan posisi
keuangan dan jumlahnya tepat tidak ada perubahan. Jika jumlahnya
berbeda baru dilakukan penyesuaian atas laporan keuangan per tanggal
31 Dessember 2010.
8) Pada tanggal 16 Februari 2011, tuntutan hukum diajukan kepada PT XX
karena kasus pelanggaran paten yang terjadi pada awal tahun 2010.
Penasehat hukum berpendapat bahwa mungkin klien akan kalah.
Jawaban:
Tidak perlu melakukan apa-apa
Klaim terhadap pelanggaran hak paten menurut Standar Akuntansi
Keuangan, tidak akan dicatat sampai benar-benar hal tersebut telah
direalisasikan.
9) Pada tanggal 31 Mei 2011, Auditor menemukan adanya tuntutan hukum
yang tak lazim kepada PT XX yang terjadi pada tanggal 20 Juni 2010.
Jawaban:
Tidak perlu melakukan apa-apa
Karena temuan terjadi setelah laporan audit dikeluarkan, maka auditor
tidak perlu melakukan apa-apa lagi karena tanggung jawab auditor
terletak sejak dilakukannya pemeriksaan sampai dengan laporan audit
dikeluarkan. Jika ada kejadian yang terjadi setelah tanggal laporan audit,
maka bukan lagi menjadi tanggung jawab auditor.

C. AUDIT PERSEDIAAN
1. Deskripsi Persediaan
Persediaan (inventory) adalah elemen atau unsur yang sangat penting
dalam perusahaan terutama dalam penentuan harga pokok penjualan pada
perusahaan dagang ataupun perusahaan manufaktur baik yang berskala kecil
maupun berskala besar.
Manajemen persediaan sangat penting untuk menghilangkan resiko
keterlambatan datangnya barang, menghilangkan resiko hilangnya barang,
mempertahankan stabilitas operasional perusahaan, untuk mencapai
penggunaan mesin yang optimal, memberikan pelayanan yang sebaikbaiknya kepada konsumen.
Persediaan mempunyai sifatsifat sebagai berikut :
1) Persediaan biasanya merupakan aktiva lancar (Current Asset) karena
masa perputarannya hanya kurang atau sama dengan satu tahun saja.
16

2) Persediaan merupakan jumlah yang besar terutama untuk perusahaan


produksi.
3) Mempunyai pengaruh yang besar terhadap neraca dan perhitungan laba
rugi bagi perusahaan.
Contoh dari perkiraan-perkiraan yang biasa digolongkan sebagai
persediaan adalah:
1)

Bahan baku (raw materials)

2)

Barang dalam proses (work in process)

3)

Barang jadi (finished goods)

4)

Suku cadang (spare-parts)

5)

Bahan baku pembantu seperti oli, bensin, solar

6) Barang dalam perjalanan (goods in transit), yaitu barang yang sudah

dikirim oleh Supplier tetapi belum sampai di gudang perusahaan.


7) Barang konsinyasi: consignment out (barang perusahaan yang dititip jual

pada perusahaan lain). Sedangkan consignment in (barang perusahaan


lain yang dititip jual di perusahaan) tidak boleh dilaporkan/dicatat sebagai
persediaan perusahaan.
2. Tujuan Pemeriksaan Persediaan
Adapun tujuan utama pemeriksaan persediaan adalah untuk
menentukan bahwa :
1) Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas
persediaan.
2) Untuk memeriksa apakah persediaan yang tercantum di neraca betulbetul ada dan dimiliki oleh perusahaan pada tanggal neraca.
3) Untuk memeriksa apakah metode penilaian persediaan (valuation) sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/Standar
Akuntansi Keuangan.
4) Untuk memeriksa apakah sistem pencatatan persediaan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.
5) Untuk memeriksa apakah terhadap barang-barang yang rusak
(defective), bergerak lambat (slow moving) dan ketinggalan mode
(absolescence) sudah dibuatkan allowance yang cukup.
6) Untuk mengetahui apakah ada persediaan yang dijadikan jaminan kredit.
7) Untuk mengetahui apakah persediaan diasuransikan dengan nilai
pertanggungan yang cukup.
17

8) Untuk mengetahui apakah ada perjanjian pembelian/penjualan


persediaan (purchase/sales commitment) yang mempunyai pengaruh
yang besar terhadap laporan keuangan.
9) Untuk memeriksa apakah penyajian persediaan dalam laporan keuangan
sudah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia/SAK.
Walaupun tujuan-tujuan audit yang disebutkan di atas diarahkan
terutama atas eksistensi dan valuasi persediaan dalam neraca, tetapi auditor
harus selalu ingat bahwa audit terhadap akun persediaan yang dilakukannya
harus berhubungan dengan harga pokok penjualan dan akun-akun terkait
lainnya dalam laporan laba rugi.
3. Prosedur Pemeriksaan Persediaan
Prosedur pemeriksaan dibagi atas prosedur compliance test, analytical
review dan substantive test. Dalam praktiknya, prosedur pemeriksaan yang
dibahas di sini harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan yang diaudit.
Prosedur pemeriksaan persediaan mencakup pembelian,
penyimpanan, pemakaian dan penjualan persediaan, karena berkaitan
dengan siklus pembelian, utang dan pengeluaran kas serta siklus penjualan,
piutang dan penerimaan kas.
Prosedur pemeriksaan untuk compliance test
1)

Pelajari dan evaluasi internal control atas persediaan.


a. Dalam hal ini auditor biasanya menggunakan internal control
questionnaires.
b. Lakukan test transaksi (compliance test) atas pembelian dengan
menggunakan purchase order sebagai sample. Untuk test transaksi
atas pemakaian persediaan (bahan baku) bisa digunakan material
requisition sebagai sample. Untuk test transaksi atas penjualan, bisa

2)

digunakan faktur penjualan sebagai sample.


Tarik kesimpulan mengenai internal control atas persediaan.
Jika dari test transaksi auditor tidak menemukan kesalahan yang berarti,
maka auditor bisa menyimpulkan bahwa internal control atas persediaan
berjalan efektif.

Karena itu substantive test atas persediaan bisa

dipersempit.
Prosedur pemeriksaan substantive atas persediaan
1) Lakukan observasi atas stock opname (perhitungan fisik) yang dilakukan
perusahaan (klien).
18

2) Minta Final Inventory List (inventory Compilation) dan lakukan prosedur


a.
b.
c.
d.

pemeriksaan berikut ini:


check mathematical accuracy (penjumlahan dan perkalian).
cocokkan quantity per book dengan stock card.
cocokkan quantity per count dengan count sheet kita (auditor)
cocokkan total value dengan buku besar persediaan.
3) Kirimkan konfirmasi untuk persediaan consignment out.
4) Periksa unit price dari raw material (bahan baku), work in process (barang
dalam proses), finished goods (barang jadi) dan supplies (bahan
pembantu).
5) Lakukan rekonsiliasi jika stock opname dilakukan beberapa waktu
sebelum atau sesudah tanggal neraca.
6) Periksa cukup tidaknya allowance for slow moving (barang-barang yang
bergerak lambat), barang-barang yang rusak dan barang-barang yang
ketinggalan mode.
7) Periksa kejadian sesudah tanggal neraca (subsequent event).
8) Periksa cut-of penjualan dan cut-of pembelian.
9) Periksa jawaban konfirmasi dari bank, loan agreement (perjanjian kredit),
notulen rapat.
10) Periksa apakah ada sales atau purchase commitment per tanggal
neraca.
11) Seandainya ada barang dalam perjalanan (goods in transit), lakukan
prosedur berikut ini:
a. minta rincian goods in transit per tanggal neraca.
b. periksa mathematical accuracy,
c. periksa subsequent clearance.
12)

Buat kesimpulan dari hasil pemeriksaan persediaan dan buat usulan

adjustment jika diperlukan.


13)

Periksa apakah penyajian persediaan di laporan keuangan sudah

sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.


Beberapa tahapan prosedur audit yang harus dilakukan auditor dalam
melakukan pemeriksaan atas akun persediaan diantaranya adalah :
1. Pemahaman Bisnis Klien
Kecukupan pemahaman atas bisnis perusahaan merupakan dasar terhadap
audit persediaan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh auditor
melalui Kuesioner Pemahaman Bisnis dan Jenis Usaha Klien akan
memberikan auditor pemahaman mengenai aspek-aspek unik dari bisnis
dan jenis usaha, seperti faktor musiman dan siklus, sifat dari keuangan,
metode dan kebijaksanaan penjualan, kondisi persaingan usaha, bahan
baku dan sumbernya, tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang berkaitan
19

dengan kebijaksanaan operasi perusahaan serta karakteristik sistim


informasi termasuk metode costing. Pemahaman ini memungkinkan
auditor untuk mencapai kesimpulan mengenai aspek-aspek laporan
keuangan sehubungan dengan persediaan.
2. Penilaian Pengendalian Intern
Tujuan pengendalian intern atas persediaan adalah untuk meyakinkan
bahwa:
a. Adanya pengendalian yang memadai terhadap mutasi persediaan.
b. Semua transaksi persediaan telah dicatat dan diklasifikasikan dengan
tepat.
c. Penghitungan fisik persediaan telah dijalankan sesuai dengan prosedur
yang telah ditetapkan.
d. Harga perolehan persediaan telah ditentukan dengan tepat.
e. Penyesuaian atas persediaan yang bergerak lambat (slow moving),
usang dan rusak telah dilakukan dengan tepat.
3. Pengujian Substantif
Tujuan utama pengujian substantif terhadap persediaan adalah untuk
memberikan bukti nyata dari keberadaan dan penilaian persediaan.
Pengujian ini meliputi observasi dan pengujian penghitungan fisik (stock
taking), pengujian ringkasan dan pengujian harga.
4. Kasus dan Pembahasan Persediaan Persediaan
1) Kesalahan-kesalahan dan penghilangan berikut ini terdapat dalam
persediaan dan catatan yang berhubungan dari Westbox Manufacuring
Company.
a. Suatu persediaan telah dinilai sebesar S12 setiap unit dan bukan
sebesar nilai yang sesungguhnya yaitu $12 per lusin.
b. Ketika melakukan perhitungan fisik atas persediaan, pengiriman
terakhir untuk hari tersebut dikeluarkan dari persediaan dan tidak
dimasukkan sebagai penjualan hingga tahun berikutnya.
c. Petugas administrasi yang bertugas menangani catatan persediaan
perpetual telah mengubah kuantitas di dalam kartu persediaan untuk
menutupi kekurangan persediaan sebagai akibat dari pencurian yang
dilakukannya selama tahun tersebut.
d. Setelah auditor meninggalkan tempat klien, terdapat beberapa kartu
persediaan yang hilang dan tidak termasuk di dalam ikhtisar
persediaan akhir.
e. Dalam mencatat pembelian bahan baku, harga unit yang salah telah
dimasukkan ke dalam catatan perpetual. Oleh karena itu, penilaian
persediaan menjadi salah karena persediaan fisik dinilai berdasarkan
catatan perpetual.
20

Anda sebagai auditor diminta untuk:


1. Menentukan pengendalian intern yang seharusnya dapat mencegah
terjadinya hal-hal di atas.
2. Menentukan prosedur audit substantif yang dapat dipakai untuk
mengungkapnya.
Jawaban:
Kondis
i

Pengendalian internal yang


dapat mencegahnya

Verifikasi internal oleh orang


lain
Mencatat pengiriman
terakhir sebelum persediaan
dihitung

Dilakukan penghitungan
persediaan oleh orang yang
independen
Menggunakan prenumbered
system pada kartu
persediaan (bernomor
cetak)
Verifikasi internal terhadap
harga presediaan perpetual

Prosedur audit substantif yang


dipakai untuk
mengungkapnya
Periksa faktur dari vendor
Periksa delivery order (DO)
pengiriman pertama setelah
penghitungan fisik untuk
menentukan apakah
pengiriman tersebut dilakukan
setelah tahun berakhir.
Lakukan penghitungan fisik
dan telusuri ke data
persediaan.
Periksa semua kartu
persediaan prenumbered saat
penghitungan fisik dan saat
melakukan compilation test.
Bandingkan faktur dari vendor
dan harga persediaan pada
catatan perpetual.

2) Skandal Manipulasi Laporan Keuangan PT. Kimia Farma Tbk.


PT Kimia Farma adalah salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah
di Indonesia. Pada audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia
Farma melaporkan adanya laba bersih sebesar Rp 132 milyar, dan laporan
tersebut di audit oleh Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM). Akan tetapi,
Kementerian BUMN dan Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebut
terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan audit
ulang, pada 3 Oktober 2002 laporan keuangan Kimia Farma 2001 disajikan
kembali (restated), karena telah ditemukan kesalahan yang cukup
mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan
hanya sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar,
atau 24,7% dari laba awal yang dilaporkan.
Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan
berupa overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik
Sentral berupa overstated persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar, pada
21

unit Pedagang Besar Farmasi berupa overstated persediaan sebesar Rp


8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7 miliar.
Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena
nilai yang ada dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia
Farma, melalui direktur produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga
persediaan (master prices) pada tanggal 1 dan 3 Februari 2002. Daftar
harga per 3 Februari ini telah digelembungkan nilainya dan dijadikan
dasar penilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31
Desember 2001. Berdasarkan penyelidikan Bapepam, disebutkan bahwa
KAP yang mengaudit laporan keuangan PT Kimia Farma telah mengikuti
standar audit yang berlaku, namun gagal mendeteksi kecurangan
tersebut. Selain itu, KAP tersebut juga tidak terbukti membantu
manajemen melakukan kecurangan tersebut.
Analisis kasus:
PT Kimia Farma adalah perusahaan manufaktur sehingga persediaan
merupakan aset yang nilainya sangat signifikan yang sangat berpengaruh
pada laporan laba rugi dan neraca perusahaan. Dalam kasus ini Auditor
mengalami kegagalan untuk mendeteksi kesalahan penyajian salah
satunya berupa overstated nilai persediaan. Untuk audit persediaan
perusahaan PT Kimia Farma seharusnya auditor memberikan perhatian
lebih. Dalam mengaudit persediaan sekelas Kimia Farma sebaiknya:
1. Auditor harus selalu independen dan menerapkan skeptime profesional
yang memadai.
2. Auditor harus dapat menentukan risiko inheren persediaan dengan
tepat mengingat nilai persediaan PT Kimia Farma sangat besar.
3. Auditor perlu untuk memperluas sampling audit.
4. Auditor menggunakan daftar harga sebelum 31 Desember 2001 bukan
harga per tanggal 3 Februari 2002. Auditor seharusnya meminta
price list yang dikeluarkan oleh PT Kimia Farma selama tahun 2001.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan dengan latar belakang dan menjawab rumusan masalah
pada makalah ini, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
22

1. Kas merupakan salah satu aset penting yang dimiliki perusahaan.


Pemeriksaan terhadap kas menjadi salah satu aspek penting bagi auditor
untuk memberikan opini. Pengendalian terhadap kas tidak bisa dipisahkan
dari sistem pengendalian internal perusahaan. Kondisi pengendalian
terhadap kas dapat menggambarkan sistem pengendalian internal
perusahaan secara keseluruhan. Auditor perlu memberikan perhatian lebih
pada pemeriksaan kas. Jika kas tidak bisa dikendalikan dengan baik oleh
perusahaan, maka auditor dapat menggunakannya sebagai acuan akan
kemungkinan penyelewengan yang lebih besar terhadap pos keuangan
lainnya.
2. Piutang timbul karena perusahaan menjual barang atau jasa secara kredit.
Piutang harus disajikan. Audit piutang penting dilakukan karena piutang
memiliki risiko salah saji yang cukup tinggi. Pemeriksaan piutang meliputi
pemeriksaan terhadap penyajian nilai piutang dalam laporan keuangan dan
juga terhadap tingkat kolektibilitas piutang tersebut.
3. Persediaan adalah pos yang keberadaanya sangat mempengaruhi laporan
laba rugi dan neraca perusahaan. Kesalahan pencatatan persediaan baik
yang disengaja maupun tidak disengaja dapat mengakibatkan kesalahan
penghitungan laba rugi perusahaan. Persediaan juga merupakan aset yang
rawan terhadap pencurian dan penyalahgunaan. Auditor perlu memberi
perhatian lebih pada pos persediaan khususnya bagi perusahaan yang nilai
persediaanya sangat besar khususnya pada perusahaan dagang dan
perusahaan manufaktur. Dalam pemeriksaan persediaan penentuan cut of
dan penilaian persediaan adalah area yang harus diperhatikan auditor.
B. Saran
1. Sebelum melakukan pemeriksaan terhadap kas, piutang dan persediaan,
auditor hendaknya memiliki pengetahuan tentang karakteristik dari pos-pos
tersebut. Auditor perlu memberikan perhatian khusus kepada akun kas,
piutang dan persediaan karena sifatnya yang begitu likuid dan rawan
penyalahgunaan.
2. Penting bagi auditor untuk menguji struktur pengendalian perusahaan
terhadap kas, piutang dan persediaan sebelum melakukan pengujian
substantif. Dalam melakukan pengujian substantif terhadap kas piutang dan
persediaan, auditor hendaknya didasarkan pada bukti yang relevan, cukup
dan kompeten.
3. Karena luasnya area pemeriksaan kas, piutang dan persediaan sementara
pemeriksaan seringkali terkendala waktu dan banyaknya data, auditor harus
23

bisa memetakan area-area kunci yang potensi terjadi kecurangan dan


penyalahgunaan sangat besar.

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Sukrisno. 2004. Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor Akuntan
Publik. Edisi ketiga. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Arens, Alvin A. dan James K. Loebbecke. 2008. Auditing dan Jasa Assurance. Edisi
12 Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Adi, Rihadi. 1 Maret 2012. Prosedur audit piutang usaha. Diambil dari
www.catatanakuntansi.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 3 Maret 2016.
Anonim. Contoh Kasus dan Pembahasan Audit. Diambil dari
www.zetzu.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 3 Maret 2016.

24