Anda di halaman 1dari 31

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Olahraga sepak bola merupakan olahraga yang paling digemari dan
mampu menyedot hampir seperempat jumlah penduduk di planet ini (Devi, 2004).
Ketika ada pertandingan sepak bola, kita dapat melihat betapa besar antusias
masyarakat untuk menyaksikannya, baik itu scara langsung atau melihatnya dari
televisi. Tidaklah menherankan di beberapa tempat tertentu menyelenggarakan
acara nonton bareng pertandingan sepakbola.
Saat ini, sepak bola tidak hanya dipandang sebagai jenis olahraga
semata, tetapi telah menjadi industri bisnis yang melibatkan peredaran uang yang
sangat besar (Pribadi, 2016). Selain meraih prestasi sebaik mungkin, tujuan dari
beberapa klub sepak bola professional adalah mendapatkan pendapatan
semaksimal mungkin. Salah satu contohnya adalah klub yang berkompetisi di
Barclays Premiere League (Liga Inggris). Bahkan berdasarkan klasemen Deloitte
Football Money League tahun 2016, terdapat lima klub dari Liga Inggris yang
menempati posisi 10 besar. Deloitte Football Money League adalah klasemen atau
peringkat klub sepak bola yang memiliki pendapatan yang sangat besar yang
dibuat oleh perusahaan audit Deloitte (Wikipedia,2016).

Dari klasemen tersebut, dapat disimpulkan hampir setengah dari total


20 klub yang ada berasal dari Liga Inggris. Hal ini membuktikan terjadi perputaran
1
Gambar 1. Klasemen Deloitte
Football Money League 2016
(Sumber: Deloitte)

uang yang sangat besar di Liga Inggris. Bahkan, Newcastle United yang musim
2016/2017 harus terdegradasi ke SkyBet Championship (liga dibawah Barclays
Premiere League) mampu menduduki posisi 17 pada klasemen tersebut. Hal ini
dikarenakan klub-klub sepak bola di Negara Inggris merupakan perusahaan dalam
bentuk Public Limited Company (PLC) yang menjual sahamnya ke masyarakat
umum, terdaftar dalam bursa pasar modal di Inggris, dan diaudit oleh organisasi audit
porfesional seperti Deloitt (Pribadi, 2016).
Seperti yang dilansir Wardhanu (2011) dalam situs peperonika, alasan
peneliti menjadikan klub dari Barclays Premier League sebagai objek penelitian
antara lain:
1. Barclays Premier League merupakan liga dengan harga hak siar paling mahal
didunia, yaitu sebesar 5,136 miliar poundsterling atau hampir Rp 100 triliun,
yang berlaku selama tiga musim dari musim 2016/2017. Untuk di kawasan
Inggris Raya, Hak siar ini dimenangkan oleh Sky Sports dan BT Sports.
2. Barclays Premier League adalah ladang investasi yang sangat menjanjikan.
Tidak sedikit konglomerat meninvestasikan modalnya di beberapa klub.
Sebagai contoh adalah Manchester City yang telah menjadi salah satu tim
besar berkat pundi-pundi uang dari konglomerat Arab
3. Barclays Premier League adalah liga pertandingan yang paling banyak
ditonton oleh penduduk di dunia. Pada setiap akhir pekan, setiap pertandingan
disiarkan ke lebih dari 200 negara dengan penonton 600.000 jiwa.
4. Liga Inggris sebagai obyek wisata andalan.Setiap matchday merupakan daya
tarik tersendiri yang mana 750.000 penduduk di dunia datang ke Inggris
khusus untuk menyaksikan pertandingan tersebut.
Asset berwujud yang paling utama dari sebuah klub adalah adanya stadion.
Stadion yang besar dan memiliki fasilitas yang lengkapd dapat menarik lebih banyak
supporter untuk datang ke stadion tersebut sehingga dapat meningkatkan pemasukan
dari penjualan tiket pertandingan.Fasilitas yang dimaksud bisa berupa restoran,
tempat penjualan merchandise, dan sarana kebugaran seperti gym yang diperuntukkan
khusus untuk meningkatkan kebugaran pemain. Beberapa klub juga menyediakan
paket khusus seperti touring di sekitar stadion yang diharapkan dapat meningkatkan
pemasukan klub.
Kekayaan dari sebuah klub tidak hanya dapat terdiri atas asset berwujud saja
(tangible asset) tetapi juga terdiri atas asset yang tidak berwujud (intangible asset)
2

berupa nilai kontrak pemain, dan staf kepelatihan. Terdapat tiga cara yang dapat
dilakukan oleh klub untuk mendapatkan pemain yaitu dengan mendirikan akademi
sepak bola sendiri, mendapatkan pemain secara gratis (free transfer), dan membeli
pemain yang masih terikat kontrak di klub lain. Jika sebuah klub memiliki pemain
bintang atau berkelas,pemain tersebut akan memberikan kontribusi terhadap
penampilan tim dan dapat membantu klub tersebut memperoleh kemenangan di setiap
match day sehingga peluang klub untuk menjuarai kompetisi terbuka lebar. Apabila
klub tersebut sukses meraih predikat juara, maka klub tersebut berhak mendapatkan
prize money yang disediakan oleh pihak penyelenggara liga dan pihak sponsor akan
memberikan dana yang lebih kepada klub tersebut. Jumlah pemasukan yang diterima
oleh klub tersebut belum termasuk pemasukan dari penjualan merchandiseserta
pemasukan dari hak siar.
Pada setiap musim kompetisi, tidak semua klub menargetkan predikat juara.
Persaingan yang ketat antar klub sepak bola di Liga Inggris akan membuat
manajemen klub menetapkan target yang realistis. Salah satunya adalah untuk
menduduki posisi empat teratas pada akhir kompetisi. Posisi empat teratas merupakan
syarat wajib bagi setiap klub di Liga Inggris untuk mengikuti kompetisi Liga
Champions Eropa (UEFA Champions Leagues). Liga Champions Eropa adalah
kejuaraan antarklub sepak bola tahunan antara klub-klub sepak bola tersukses di
Eropa dan sering dianggap sebagai trofi tingkat klub yang paling prestisius di Eropa
(Wikipedia). Partisipasi sebuah klub di kompetisi tersebut akan meningkatkan brand
image klub tersebut sehingga akan banyak pihak sponsor yang ingin menjalin kerja
sama. Selain itu, keikutsertaan di Liga Champions Eropa merupakan salah satu syarat
bagi klub untuk mendapatkan pemain berkelas.
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Pribadi (2016). Perbedaan
penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah terdapat pada tahun yang
digunakan dalam laporan keuangan dan penambahan variabel yaitu partisipasi klub di
kompetisi Liga Champions Eropa. Penelitian ini mengangkat permasalahan sumber
pertumbuhan laba pada Liga Ingris yang dapat di laporkan
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang tersebut, dapat kita ketahui bahwa sepak bola saat
ini tidak hanya sekedar olahraga semata tetapi telah menjadi sebuah bisnis yang
menguntungkan. Karena merupakan entitas bisnis, setiap klub dituntut untuk
menyajikan laporan keuangan. Dilihat dari segi pendapatan dan jumlah asset yang
3

dimiliki, klub sepak bola tersebut memiliki kinerja keuangan yg baik. Pendapatan yg
diterima umumnya didapat dari pihak sponsor dan juga dari penyelenggara kompetisi.
Namun pada praktiknya, klub sepak bola memiliki permasalahan keuangan,
contohnya adalah permasalahan utang dan tingkat profitabilitas yang tidak sesuai
dengan yang diharapkan. Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui tingkat laba yang
diperoleh klub tidak sebanding dengan tingginya asset tetap berwujud, asset tetap
tidak berwujud dan pemasukan dari partisipasi di kompetisi Eropa (Liga Champions)
yang membuat nama klub menjadi sorotan investor. Berdasarkan fenomena tersebut,
maka hubungan antra tingkat pertumbuhan asset dan partisipasi klub di kompetisi
Eropa menarik untuk diteliti.
Sehubungan dengan hal tersebut, pertanyaan yang ingin dijawab didalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Apakah pertumbuhan aset tetap berwujud (tangible fixed assets) pada sebuah
klub sepak bola di Liga Inggris dapat mempengaruhi pertumbuhan Laba klub
tersebut?
b. Apakah pertumbuhan asset tidak berwujud

(intangible fixed assets) pada

sebuah klub sepak bola di Liga Inggris dapat mempengaruhi pertumbuhan


Laba klub tersebut?
c. Apakah partisipasi klub di Liga Champions Eropa dapat mempengaruhi
pertumbuhan laba klub tersebut?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh
pertumbuhan asset tetap berwujud, asset tetap tidak berwujud dan partisipasi di Liga
Champions terhadap tingkat pertumbuhan laba yang diperoleh klub sepak bola
professional di Liga Inggris. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
referensi kepada klub sepak bola di Indonesia dalam menentukan faktor-faktor yang
mempengaurhi pertumbuhan laba pada sepak bola dan pentingnya laporan keuangan
untuk menarik pada investor dan meningkatkan pendapatan laba sepak bola
Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat dari penelitian ini dapat dibedakan menjadi manfaat teoritis dan
praktis. Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah

wawasan dalam bidang keuangan klub sepak bola. Manfaat praktis dari penelitian ini
diharapkan dapat dijadikan referensi atau bahan acuan untuk penelitian selanjutnya.

BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Teori Sinyal (Signalling Theory)
Signalling theory menekankan kepada pentingnya informasi yang dikeluarkan
oleh perusahaan terhadap keputusan investasi pihak di luar perusahaan. Informasi
merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis karena informasi pada
hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik untuk keadaan masa
5

lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup suatu
perusahaan dan bagaimana pasaran efeknya. Informasi yang lengkap, relevan, akurat
dan tepat waktu sangat diperlukan oleh investor di pasar modal sebagai alat analisis
untuk mengambil keputusan investasi.
Menurut Jogiyanto (2000: 392), informasi yang dipublikasikan sebagai suatu
pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam pengambilan keputusan
investasi. Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan
pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Pada
waktu informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima informasi
tersebut, pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan menganalisis
informasi tersebut sebagai signal baik (good news) atau signal buruk (bad news). Jika
pengumuman informasi tersebut sebagai signal baik bagi investor, maka terjadi
perubahan dalam volume perdagangan saham.
Menurut Sharpe (1997: 211) dan Ivana (2005:16), pengumuman informasi
akuntansi memberikan signal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik di
masa mendatang (good news) sehingga investor tertarik untuk melakukan
perdagangan saham, dengan demikian pasar akan bereaksi yang tercermin melalui
perubahan dalam volume perdagangan saham. Dengan demikian hubungan antara
publikasi informasi baik laporan keuangan, kondisi keuangan ataupun sosial politik
terhadap fluktuasi volume perdagangan saham dapat dilihat dalam efisiensi pasar.
Salah satu jenis informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan yang dapat
menjadi signal bagi pihak di luar perusahaan, terutama bagi pihak investor adalah
laporan tahunan. Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan dapat berupa
informasi akuntansi yaitu informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan dan
informasi non-akuntansi yaitu informasi yang tidak berkaitan dengan laporan
keuangan. Laporan tahunan hendaknya memuat informasi yang relevan dan
mengungkapkan informasi yang dianggap penting untuk diketahui oleh pengguna
laporan baik pihak dalam maupun pihak luar. Semua investor memerlukan informasi
untuk mengevaluasi risiko relatif setiap perusahaan sehingga dapat melakukan
diversifikasi portofolio dan kombinasi investasi dengan preferensi risiko yang
diinginkan. Jika suatu perusahaan ingin sahamnya dibeli oleh investor maka

perusahaan harus melakukan pengungkapan laporan keuangan secara terbuka dan


transparan.
2.2 Pengaruh Investasi Aset Tetap terhadap Laba
Laba yang diperoleh perusahaan tidak bisa lepas dari peran aset tetap yang
digunakan dalam operasi perusahaan tersebut. Tanpa adanya aset tetap, perusahaan
tidak akan dapat berproduksi dan pada akhirnya perusahaan tidak akan memperoleh
laba. Seperti pernyataan yang dikemukakan oleh Syamsudin (2007;409) bahwa: Aset
tetap sering kali disebut sebagai the earning assets (aset yang sesungguhnya
menghasilkan laba bagi perusahaan) oleh karena aset-aset tetap inilah yang
memberikan dasar bagi earning power perusahaan.
Menurut Riyanto (2001;113) mengemukakan sebagai berikut:Investasi dalam
aset tetap menyangkut harapan terhadap hasil penjualan dimasa yang akan datang.
Pada awal berdirinya, perusahaan membelanjakan modalnya untuk mendapatkan aset
tetap. Sehingga dapat digunakan sebagai alat penghasil produk baik itu barang
ataupun jasa. Investasi akan menambah laba perusahaan dari penjualan barang dan
jasa produksinya. Investasi dalam aset tetap menyangkut harapan terhadap hasil
penjualan di masa yang akan datang. Kesalahan dalam melakukan peramalan
investasi akan dapat mengakibatkan adanya over investment under atau investment
dalam aset tetap.
Laba yang diperoleh perusahaan tidak bisa lepas dari peran aset tetap yang
digunakan dalam operasional perusahaan tersebut. Tanpa adanya aset tetap
perusahaan tidak akan bisa berproduksi dan pada akhirnya perusahaan tidak akan
memperoleh laba. Hubungan antara besarnya investasi terhadap laba, mulai dari tanah
sebagai tempat pabrik-pabrik, bangunan sebagai tempat untuk menghasilkan suatu
produksi, mesin-mesin sebagai alat produksi, serta kendaraan sebagi alat pengangkut.
Pada kaitannya aset tetap terhadap investasi memungkinkan bahwa investasi yang
besar atas suatu aset yaitu aset tetap akan mempengaruhi terhadap laba
(Pribadi,2016).
2.3 Aset Tidak Berwujud (Intangible Assets)
FASB, IASC, FRS, dan PSAK telah menetapkan definisi asset tidak berwujud.
Adapun definisi dari Aset adalah sebagai berikut:

a. Menurut FASB, asset adalah keuntungan ekonomi pada masa mendatang yang
terjadi akibat transaksi di masa lampau. Asset dibedakan menjadi dua yaitu
tangible asset (memiliki wujud fisik) dan intangible assets (tidak memiliki
bentuk fisik)
b. Menurut IASC, asset adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan
sebagai akibat kejadian di masa lalu dan merupakan keuntungan di masa
mendatang. Salah satu isi dari IAS 38 memuat defnisi asset tidak berwujud
yang mana merupakan asset non-moneter yang tidak memiliki wujud fisik
yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan
c. Menurut PSAK, asset tidak beruwujud adalah asset non-moneter yang dapat
diidentifikasi serta tidak memiliki wujud fisik yang digunakan untuk
menghasilkan atau menyerahkan barang dan jasa.
Ketentuan asset tidak beruwujud di Indonesia termuat didalam PSAK 19
Revisi 2010 tentang Aktiva tidak berwujud. Adapun kriteria pengakuan aktiva tidak
berwujud agar dapat diakui sebagai aktiva perusahaan adalah sebagai berikut:
a. Kemungkinan besar entitas akan mendapatkan manfaat ekonomis dari asset
tersebut dimasa mendatang.
b. Biaya perolehan atas asset tersebut dapat diukur secara handal.
c. Perusahaan memiliki hak dan kendali atas asset tersebut.
d. Aktiva tersebut dapat diidentifikasi dan memiliki manfaat ekonomis
Pemain sepak bola telah memenuhi kriteria diatas. Sebuah klub memiliki
kendali atas pemain sehingga klub dapat menjual ataupun menyewakan pemain
tersebut kepada klub lain. Pemain yang dimiliki oleh klub tersebut merupakan hasil
transaksi di masa lalu yang bertujuan untuk meningkatkan keuntungan klub melalui
kontribusi jasanya di lapangan sepak bola.
2.4 Industri Sepak Bola
Sebagaimana telah dijelaskan, hampir semua klub yang ada tidak hanya
mementingkan prestasi klub, tetapi juga memikirkan bagaimana untuk mendapatkan
pemasukan yang maksimal. Salah satu cara yang digunakan adalah menjadikan
Supporter sebagai konsumen mereka. Supporter yang memiliki tingkat loyalitas yang
tinggi akan selalu menggunakan produk ataupun jasa yang diberikan oleh klub.
Banyak pendukung klub sepak bola yang setia mendukung timnya saat timnya
memenangi maupun kalah dalam pertandingan. Hal inilah yang jarang ditemui dalam
industri yang lainnya, yaitu loyalitas konsumen, sebaik dan seburuk apapun
barang/jasa yang diterima mereka tetap memiliki kesetiaan.
Klub sepak bola Inggris pada umumnya memiliki suatu bagian manajemen
yang mengelola keuangan klub mereka. Klub juga memiliki entitas bisnis dengan cara
8

menjadikan klub mereka sebagai Public Limited Company (PLC) yang melemparkan
kepemilikan

klub

kepada

pihak

publik,

terutama

pendukung

fanatik

mereka.Sebagaimana umumnya sebuah organisasi, sebuah klub sepak bola juga


dituntut untuk memberikan pelaporan tentang situasi keuangannya. FIFA sebagai
organisasi tertinggi federasi sepak bola tingkat internasional mengeluarkan berbagai
peraturan yang harus ditaati oleh para anggotanya di seluruh dunia. Salah satu
peraturan yang dimuat dalam FIFA Regulations Club Licensing adalah peraturan yang
terdapat pada Article 10 mengenai financial criteria. FIFA menyatakan bahwa
penyiapan dan penyajian laporan keuangan bisa berbeda tiap entitas pada negara yang
berbeda karena perbedaan sosial, ekonomi dan dalam peraturan perundangan. Dalam
sebuah industri sepak bola, karakteristik khususnya adalah fluktuasi dalam laba dan
laba yang disebabkan ketidakpastian dalam industri ini. Sebuah klub dapat
mendapatkan jumlah uang yang besar pada tahun sekarang namun bisa saja tahun
depan akan kehilangan uang dalam jumlah besar pula. Ketidakpastian ini didorong
oleh hasil yang tidak pasti yang diperoleh sebuah klub dari pertandingan liga, padahal
laba klub biasanya sangat tergantung dari hasil tim sepak bolanya pada kompetisi
yang diikuti.

2.4.1 Barclays Premiere League


Sebagaimana dilansir di Wikipedia, Premiere League adalah kompetisi
liga sepak bola profesional yang merupakan kompetisi antar klub kasta tertinggi di
tanah Inggris Lebih dari 10 tahun yang lalu, Premiere League mendapat dukungan
sponsor

dari

Barclays

Bank

sehingga

nama

kompetisi

tersebut

berubah

menjadi Barclays Premier League.


Format dari Liga Inggris sama seperti Liga Spanyol dan Liga Italia. Liga
Inggris terdiri atas 20 klub yang saling berkompetisi untuk mendapatkan predikat
juara di akhir kompetisi. Klub yang berada di posisi empat teratas pada akhir
kompetisi berhak untuk berpartisipasi di Liga Champions Eropa sedangkan klub yang
berada di posisi tiga terbawah harus terdegradasi ke Liga SkyBet Championship.

Harga hak siar Liga Inggris merupakan yang termahal di dunia. Harga hak siar
yang menyentuh angka Rp 100 triliun pada pelelangan tahun 2015 mempertegas
bahwa Liga Inggris merupakan liga bisnis. Pendapatan yang diterima dari pelelangan
hak siar tersebut didistribusikan secara merata ke 20 klub yang ada di Liga Inggris.
Tidak mengherankan apabila klub di Liga Inggris paling boros dalam belanja pemain.

Gambar 2. Kenaikan Hak Siar Premiere League


(Sumber: BBC Sport)

2.4.2 Liga Champions Eropa


Sebagaimana dilansir di Wikipedia, kejuaraan ini pertama kali dicetuskan oleh
salah satu majalah olah raga Perancis. Trofi berbentuk piala yang dijuluki "The Big
Ears" (Telinga Besar),dan trofi pertama berbeda dengan yang sekarang diperebutkan
(dibuat oleh Stadellman). Piala yang diperebutkan sekarang adalah edisi ke-6. Pada
awalnya kejuaraan memperebutkan piala bernama Piala Juara Klub Eropa atau
European Champion Clubs' Cup, yang biasanya disingkat menjadi Piala Eropa
(European Cup), dan berbeda dari Piala Eropa seperti yang dikenal di Indonesia
sekarang ini yang merujuk kepada European Championship.
Kualifikasi untuk Liga Champions ditentukan oleh posisi tim-tim di liga
domestik dan melalui sistem kuota; negara-negara yang mempunyai liga domestik
yang lebih kuat diberikan lebih banyak tempat. Klub yang bermain di liga domestik
yang lebih kuat juga mulai ikut pada babak yang lebih akhir. Misalnya, tiga liga
terkuat, menurut peringkat UEFA, akan melihat juara dan runner-upnya langsung
masuk ke babak fase grup, dan peringkat ketiga dan keempat masuk pada babak
10

kualifikasi ketiga. Ada pengecualian pada peraturan ini; juara bertahan Liga
Champions lolos secara otomatis ke babak grup tanpa tergantung posisi akhirnya di
liga domestik. Dalam perputaran kompetisi liga Champion klub-klub bertarung sengit
untuk menempati posisi teratas sehingga layak ikut serta kejuaraan ini.
Dilansir dari voaindonesia, klub-klub Liga Champions di Inggris mencatat
laba gabungan sebelum pajak pertama kalinya dalam 15 tahun berkat kontrak televisi
bernilai besar dan perlambatan pertumbuhan gaji pemain. Meski kinerja lapangan timtim teratas Inggris dalam melawan elit-elit Eropa menurun dalam Liga Champions
dan Liga Eropa, rekening bank mereka menggendut, menurut perusahaan penasihat
bisnis Deloitte. Pada 2013-2014, klub-klub Liga Premier mendapatkan laba gabungan
sebelum pajak sebesar 190 juta poundsterling, empat kali lipat rekor sebelumnya
sebanyak 49 juta pound pada 1997-1998. Angka itu berbeda tajam dengan dekade
sebelumnya ketika klub-klub Liga Premier mengakumulasi kerugian gabungan
sebelum pajak 2,6 miliar pound. Analis Deloitte Dan Jones mengatakan klub-klub
sekarang menghabiskan lebih sedikit dana untuk membayar gaji-gaji pemain.
2.5 Kerangka Hipotesis

Untuk dapat lebih memahami bagaimana hubungan antara asset tetap


berwujud, asset tetap tidak berwujud dan partisipasi klub di Liga Champions terhadap
pertumbuhan laba klub, digunakan suatu kerangka pemikiran. Berdasarkan penjabaran
teori di atas, kerangka pemikiran dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar 3
:
Pertumbuhan
Tangible Asset
(X1)
Pertumbuhan
Intangible Asset
(X2)
Partisipasi di Liga
Eropa

H1
H2

Pertumbuhan
Laba (Y)

H3

2.6 Pengembangan Hipotesis


11

2.6.1 Pertumbuhan Tangible Asset dan Pertumbuhan Laba


Dalam penelitian Pribadi (2016) yang berjudul Analisis Pengaruh
Pertumbuhan Aset Tetap Berwujud dan Aset Tetap tidak Berwujud terhadap
Pertumbuhan Laba Klub Sepak Bola Barclays Premier League tahun 2011-2014
menyatakan bahwa Variabel Pertumbuhan Aset Tetap Berwujud memiliki pengaruh
positif signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada klub sepak bola yang
berkompetisi di Barclays Premier League selama musim 2011 2014. Pada
umumnya, nilai aset tetap berwujud yang paling besar dalam Laporan Neraca klubklub sepak bola yang berkompetisi di Barclays Premier League adalah dalam bentuk
stadium sepak bola dimana apabila baik dapat menampung jumlah penonton yang
banyak sehingga akan berdampak pada besaran laba yang diterima dari penjualan
tiket pertandingan kepada penonton. Berdasarkan pemikiran tersebut maka hipotesis
satu adalah :
H1 : Pertumbuhan Tangible Asset berpengaruh positif terhadap
Pertumbuhan Laba klub sepak bola.
2.6.2 Pertumbuhan Intangible Asset dan Pertumbuhan Laba
Berdasarkan teori signaling (signaling theory) semakin tinggi nilai aktiva tidak
berwujud perusahaan akan dianggap sebagai sinyal positif bagi investor karena akan
dilihat bahwa nilai aktiva tidak berwujud tersebut mencerminkan nilai modal
intelektual perusahaan. Cardoza et al. (2006) menyatakan bahwa semakin pengamatan
terfokus kepada aktiva tidak berwujud akan lebih menguntungkan investor
dibandingkan melakukan analisis aktiva berwujud, terlebih lagi jika nilai saham
perusahaan lebih tergantung kepada aktiva tidak berwujud daripada aktiva berwujud,
seperti misalnya perusahaan di sektor consumer goods merupakan contoh yang
memiliki nilai aktiva tidak berwujud yang tinggi, yaitu brand equity. Jika investor
menganggap hal tersebut sebagai sinyal yang positif, maka perusahaan dianggap
memiliki prospek yang menjanjikan di masa yang akan datang. Aset tetap tidak
berwujud dalam klub sepak bola berupa nilai kontrak terhadap pemain, pelatih, dan
staf kepelatihan mereka, dengan nilai kontrak pemain yang paling tinggi
komposisinya (Pribadi,2016). Dalam neraca keuangan klub aset tetap tidak berwujud
berada dalam posisi aset tidak lancar (non current asset). Dengan kontrak ini, klub
dapat memperoleh pemasukan atas penjualan pemain tersebut dan merupakan faktor

12

penting dalam menarik investor dengan memberikan informasi mengenai Intangible


asset. Berdasarkan pemikiran tersebut maka hipotesis dua adalah :
H2 : Pertumbuhan Intangible Asset berpengaruh positif terhadap
Pertumbuhan Laba klub sepak bola.
2.6.3 Partisipasi di Liga Eropa dan Pertumbuhan Laba
Target lain yang ingin dicapai klub besar di Liga Ingris selain memenagkan
kompetisi domestic adalah lolos menuju kompetisi Eropa atau Liga Champions. Liga
Champions merupakan kompetisi paling prestisius dan setiap klub yang ada di Benua
Eropa memiliki impian untuk menjuarai kompetisi tersebut. Hal tersebut menjadi
landasan mengapa kompetisi menjadi sangat prestisius, keikutsertaan setiap klub di
kompetisi akan meningkatkan brand image , sehingga pihak investor akan tertarik
mencari informasi mengenai klub untuk menanamkan sahamnya. Selain untuk
menarik investor, keikutsertaan klub di liga champions merupakan salah satu syarat
penting bagi klub agar mendapatkan pemain bintang yang akan dapat meningkatkan
prestasi klub sehingga mendapatkan prize money ataupun tambahan suntikan modal
dari sponsor. Hal tersebut menarik peneliti untuk menambahkan variabel dari jurnal
sebelumnya. Berdasarkan pemikiran tersebut maka hipotesis ketiga adalah :
H3: Partisipasi di Liga Eropa berpengaruh positif terhadap
Pertumbuhan Lba klub sepak bola.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
1. Sampel dan populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang
mempunyai kualitas karaktristik tertentu yang ditetapkan

oleh

peneliti

untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Uma sekaran (2013:240) the


population refers to the entire group of people, events, or thing of interest that the
reseacher wishes to investigate. Populasi dalam penelitian ini adalah klub-klub
sepakbola yang mengikuti liga di benua Eropa periode 2011-2015. Pemilihan populasi
13

ini didasarkan oleh beberapa fakta seperti perkembangan sepak bola di benua eropa
yang sangat cepat, dan juga kualitas pertandaingan sepak bola yang baik, disisi lain
pertandingan sepakbola dibenua eropa menjadi industri bisnis yang berkembang
sangat pesat.
Dalam penelitian ini pemilihan sampel berdasarkan purposive sampling. Peneliti
memiliki kriteria-kriteria khusus yang akan menjadi dasar dalam pemilihan sampel,

Klub sepakbola tidak terdegradasi selama periode waktu yang ditentukan


Klub sepakbola membuat laporan keuangan tahunan
Klub sepakbola terdaftar dan diakui oleh FIFA.

Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti didapat sampel sejumlah 11
klub sepak bola dari jumlah populasi sebanyak 20 klub selama periode 2011-2015,
daftar klub sepak bola tersebut adalah:
a. Arsenal
b. Aston villa
c. Chelsea
d. Everton
e. Manchester united
f. Manchester city
g. Newcastle united
h. Stoke city
i. Sunderland
j. Tottenham hotspur
k. West Bromwich albion
2. Jenis dan Sumber Data
Seluruh data yang digunakan untuk mendukung model-model penelitian ini
merupakan data sekunder. Sumber data penelitian ini adalah sumber eksternal berupa
laporan keuangan masing-masing klub dengan periode waktu tahunan musim
kompetisi 2011-2015.
3. Metode Pengumpulan Data
Semua data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
berupa data tahunan dan kuantitatif periode 2011 2015. Data sekunder merupakan
data penelitian yang diperoleh peneliti yakni melalui perantara (diperoleh dan dicatat
pihak lain). Penelitian ini bersumber dari data yang diperoleh dari laporan keuangan
tahunan klub sepak bola yang diunduh dari Google Internet.

14

4. Pengukuran Variabel
Dalam penelitian ini meggunakan 3 variabel independen (pertumbuhan asset tetap
berwujud, pertumbuhan asset tetap tidak berwujud, dan partisipasi dalam liga
champions Eropa) dan juga 1 variabel dependen (pertumbuhan laba klub)
Vaiabel independen
4.1 Pertumbuhan Aset Tetap Berwujud (X1)

X1 = TAt-TAt-1
TAt-1

TAt = Total nilai buku aset tetap berwujud pada akhir periode t
Tat-1 = Total nilai buku aset tetap berwujud pada akhir periode t-1

4.2 Pertumbuhan Aset Tetap Tidak Berwujud

X1 = IAt-IAt-1
IAt-1

TAt = Total nilai buku aset tetap tidak berwujud pada akhir periode t
TAt-1 = Total nilai buku aset tetap tidak berwujud pada akhir periode t-1

4.3 Partisipasi Dalam Liga Champions Eropa


Variable ketida dalam penelitian ini merupakan variabel dummy, dimana dalam
variabel dummy terdapat pemberian kode 0 dan 1. Nilai 0 biasanya
menunjukkan kelompok yang tidak mendapat sebuah perlakuan dan 1
menunjukkan kelompok yang mendapat perlakuan. Dalam penelitian ini jika
suatu klub ikut berpartisipasi dalam liga champion dalam kurun waktu yang
ditentukan maka akan diberi skor 1 begitu juga sebaliknya, jika klub tidak ikut
dalam ajang kompetisi liga champion dalam kurun waktu yang ditentukan
maka akan diberi skor 0.

15

Variabel dependen
4.1 Pertumbuhan Laba Klub
Pengukuran unutk variabel dependen menggunakan rumus,

Y= LABAt - LABAt-1
LABAt-1

LABAt = Laba pada akhir periode t


LABAt-1 = Laba pada akhir periode t-1

5. Metode Analisis Data


Metode analisis yang digunakan peneliti dalam penelitia ini adalah regresi
linier. Dalam analisis regresi linier sendiri, dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri
dari, uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasi. Alat
bantu yang digunakan peneliti dalam analisis regresi ialah Statistical Package For
Social Science (SPSS) Secara sistematik persamaan dalam regresi ini dapat
dilihat dalam model matematis
sebagai berikut :

Y = + 1x1 + 2x2+ 3x3 +


Dimana:
Y

= pertumbuhan laba klub sepakbola

= konstanta

= koefisien regresi

X1

= pertumbuhan asset tetap berwujud

X2

= pertumbuhan asset tetap tidak berwujud

X3

= partisipasi dalam liga champions Eropa

= error

16

1. Uji Asumsi Klasik


Terdapat beberapa asumsi yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum menggunakan
regresi linier berganda sebagai alat untuk menganalisis pengaruh variabel-variabel
yang diteliti (Gujarti, 2003). Pengujian asumsi klasik yang digunakan terdiri atas:
a. Uji autokorelasi
Uji Autokorelasi adalah untuk mengetahui adanya korelasi antara variabel gangguan
sehingga penaksir tidak lagi efisien baik dalam model sampel kecil maupun dalam
sampel besar. Salah satu cara untuk menguji autokorelasi adalah dengan percobaan d
(Durbin-Watson). Cara pengujiannya dengan membandingkan nilai Durbin Watson
(d) dengan d1 dan du tertentu atau dengan melihat table Durbin Watson yang telah
ada klasifikasinya untuk menilai perhitungan (d) yang diperoleh.
Tabel Durbin Watson Test
Hipotesis

Kesimpulan

Jika

Tidak ada autokorelasi (+)

Tolak

0<d<dl

Tidak ada autokorelasi (+)

Tidak ada kesimpulan

dlddu

Tidak ada autokorelasi (-)

Tolak

4-dl<d<4

Tidak ada autokorelasi (-)

Tidak ada kesimpulan

4-dud4-du

Tidak ada autokorelasi (+),(-) Tidak Tolak

du<d<4-du

(sumber: Algifari, 2000:89)


b. Uji multikolinieritas
Uji Multikolinearitas untuk mengetahui adanya hubungan antara beberapa atau
semua variabel yang menjelaskan dalam model regresi. Jika dalam model terdapat
multikolinearitas maka model tersebut memiliki kesalahan standar yang besar
sehingga koefisien tidak dapat ditaksir dengan ketepatan yang tinggi. Salah satu cara
mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas adalah dengan uji nilai variance inflation
factor (VIF) apabila ketiga variabel lebih kecil dari 5 bisa diduga bahwa antar
variabel tidak terjadi persoalan multikolinearitas.
c. Uji heteroskedastisitas

17

Uji Heteroskedastisitas untuk terjadinya gangguan yang muncul dalam fungsi regresi.
Salah satu cara untuk mendeteksi masalah heteroskedastisitas adalah dengan uji Park.
Hasil perhitungan dilakukan dengan melihat tingkat signifikan apakah > 0.05. Jika
signifikan >0.05 maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model regresi.
d. Uji Normalitas Regresi
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah model regresi mempunyai distribusi
normal ataukah tidak. Asumsi normalitas merupakan persyaratan yang sangat penting
pada pengujian kebermaknaan (signifikansi) koefisien regresi. Uji yang digunakan
untuk menguji kenormalan adalah uji Kolmogorov- Smirnov. Uji tersebut dengan
melihat nilai Asymp. Sig. (2-tailed) apakah lebih besar dari 0.05, jika lebih dari 0.05
maka dapat disimpulkan bahwa data telah terdistribusi secara normal.
2. Analisis Regresi Linear
Analisis regresi linier berganda adalah hubungan secara linear antara dua atau lebih
variabel independen (X1, X2,.Xn) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk
mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen
apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau negatif dan
untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen
mengalami kenaikan atau penurunan (Duwi, 2015).

a. Analisis Determinasi (R2)


Analisis determinasi dalam regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui
prosentase sumbangan pengaruh variabel independen (X1, X2,Xn) secara serentak
terhadap variabel dependen (Y). Koefisien ini menunjukkan seberapa besar prosentase
variasi variabel independen yang digunakan dalam model mampu menjelaskan variasi
variabel dependen. R2 sama dengan 0, maka tidak ada sedikitpun prosentase
sumbangan pengaruh yang diberikan variabel independen terhadap variabel dependen,
atau variasi variabel independen yang digunakan dalam model tidak menjelaskan
sedikitpun variasi variabel dependen. Sebaliknya R2 sama dengan 1, maka prosentase
sumbangan pengaruh yang diberikan variabel independen terhadap variabel dependen
18

adalah sempurna, atau variasi variabel independen yang digunakan dalam model
menjelaskan 100% variasi variabel dependen (Duwi,2015)
b. Uji Statistik F

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen


secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Pengujian
dilakukan dengan uji-F (Indeks Fisher) pada tingkat keyakinan 95% dan tingkat
kesalahan analisis 5% dengan ketentuan degree of freedom (d.f1) = k ; degree of
freedom (d.f2) = n-k-1, dengan ketentuan sebagai berikut:
Ho : Tidak ada pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan tangible
Asset, pertumbuhan Intangible Asset dan partisipasi di Liga Eropa secara bersamasama terhadap pertumbuhan laba.
Ha : Ada pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan tangible Asset,
pertumbuhan Intangible Asset dan partisipasi di Liga Eropa secara bersama-sama
terhadap pertumbuhan laba.
Apabila:
F hitung F tabel : Ho diterima dan Ha ditolak
F hitung > F tabel : Ho ditolak dan Ha diterima
jika Ho diterima berarti variabel-variabel independen secara bersama-sama tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen dan sebaliknya.
Sumber: Ghozali (2013)
c. Uji Statistik T

Pengujian hipotesis terhadap koofisien regresi secara parsial mengujikan Uji Statistik
t (tstudent) pada tingkat kepercayaan 95% dan tingkat kesalahan analisis 5%, dengan
ketentuan degree of freedom (d.f) = n-k-1. Hal tersebug ditentukan dengan :
Ho : tidak berpengaruh secara signifikan
Ha : berpengaruh secara signifikan
Apabila:
T hitung T tabel : Ho diterima dan Ha ditolak
T hitung > T tabel : Ho ditolak dan Ha diterima
jika Ho diterima berarti variabel-variabel independen secara parsial tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap variabel dependen dan sebaliknya.
19

Sumber: Ghozali (2013)

BAB IV
PEMBAHASAN
1. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Autokorelasi
Model Summaryb

Model
1

R Square

.332a

.110

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate
.044

1.934478

a. Predictors: (Constant), Partisipasi, Intangible_Asset, Tangible_Asset


b. Dependent Variable: Laba

20

Durbin-Watson
2.446

Dari hasil output di atas didapat nilai DW yang dihasilkan dari model regresi
adalah 2,446. Sedangkan dari tabel DW dengan signifikansi 0,05 dan jumlah data (n)
= 44, seta k = 3 (k adalah jumlah variabel independen) dalam tabel akan diperoleh
nilai dL sebesar 1,3749 dan dU sebesar 1,6647. Karena nilai DW (2,446) berada pada
daerah antara 4-dL dan 4-dU ( 2,6251 < 2,446 < 2,3353 ), maka tidak menghasilkan
kesimpulan yang pasti dengan tidak adanya korelasi negatif. Korelasi negatif adalah
korelasi antara variabel yang berjalan dengan arah berlawanan. Hasil tersebut
menunjukkan tidak adanya korelasi negatif sehingga variabel dependent dengan
variabel independent mempengaruhi dan berkorelasi dengan searah.
b. Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
Unstandardized

Standardized

Collinearity

Coefficients

Coefficients

Statistics

Model
1

B
(Constant)
Tangible_Asset
Intangible_Ass
et
Partisipasi

Std. Error
-.044

.376

.560

1.172

1.367
.109

Beta

Sig.

Tolerance

VIF

-.116

.908

.072

.478

.635

.976

1.025

.658

.313

2.078

.044

.978

1.022

.616

.026

.176

.861

.997

1.003

a. Dependent Variable: Laba

Dari hasil di atas dapat diketahui nilai variance inflation factor (VIF) ketiga
variabel lebih kecil dari 5, sehingga bisa diduga bahwa antar variabel independen
tidak terjadi persoalan multikolinearitas.
c. Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1(Constant)
Tangible_Asset
Intangible_Asset
Partisipasi

Std. Error
1.263

.277

.502

.863

-.496

.485

.016

.454

Coefficients
Beta

Sig.

Tolerance

VIF

4.560

.000

.581

.564

.976

1.025

-.161 -1.022

.313

.978

1.022

.972

.997

1.003

.092

.006

21

Collinearity Statistics

.035

Dari output di atas dapat diketahui bahwa nilai signifikansi ketiga variabel
independen lebih dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi
masalah heteroskedastisitas pada model regresi.
d. Uji Normalitas Regresi

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Unstandardized
Residual
N

44

Normal Parametersa

Mean

.0000000

Std. Deviation
Most Extreme Differences

1.86577617

Absolute

.141

Positive

.141

Negative

-.129

Kolmogorov-Smirnov Z

.935

Asymp. Sig. (2-tailed)

.347

a. Test distribution is Normal.

Dari output di atas dapat diketahui bahwa nilai signifikansi (Asymp.Sig 2tailed) sebesar 0,347. Karena signifikansi lebih dari 0,05 (0,347 > 0,05), maka nilai
residual tersebut telah terdistribusi secara normal.

2. Analisis Regresi Linear berganda


Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1

B
(Constant)
Tangible_Asset
Intangible_Asset
Partisipasi

Std. Error
-.044

.376

.560

1.172

1.367
.109

a. Dependent Variable: Laba

Persamaan regresinya adalah :


22

Coefficients
Beta

Sig.
-.116

.908

.072

.478

.635

.658

.313

2.078

.044

.616

.026

.176

.861

Y = a +b1x1 +b2x2 +b3x3 + e


Y = -0.044 + 0.56 X1 + 1.367 X2 + 0.109 X3
Keterangan:
Y

: pertumbuhan Laba klub sepak bola

: konstanta

X1

: pertumbuhan Tangible Asset

X2

: pertumbuhan Intangible Asset

X3

: partisipasi di Liga Eropa

b1,b2,b3

: koefisien variabel
Persamaan regresi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut bahwa konstanta

sebesar -0.044; artinya jika pertumbuhan Tangible Asset (X1) , pertumbuhan


Intangible Asset (X2) dan partisipasi di Liga Eropa (X3) nilainya adalah 0, maka
pertumbuhan laba (Y) akan mengalami penurunan. Koefisien regresi variabel
pertumbuhan Tangible Asset (X1) sebesar 0.56; artinya jika variabel independen lain
nilainya tetap dan pertumbuhan Tangible Asset mengalami kenaikan 1%, maka
pertumbuhan laba (Y) akan mengalami kenaikan. Koefisien bernilai positif artinya
terjadi hubungan positif antara pertumbuhan Tangible Asset dengan pertumbuhan
laba, semakin naik pertumbuhan Tangible Asset maka pertumbuhan laba juga akan
terjadi kenaikan. Koefisien regresi variabel pertumbuhan Intangible Asset (X2) sebesar
1.367; artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan pertumbuhan
Intangible Asset mengalami kenaikan 1%, maka harga saham (Y) akan mengalami
peningkatan. Koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara
pertumbuhan Intangible Asset dengan pertumbuhan laba, semakin naik pertumbuhan
Intangible Asset maka semakin meningkat pertumbuhan laba. Koefisien regresi
variabel ketiga yaitu partisipasi di Liga Eropa (X 3) sebesar 0.109 artinya koefisien
bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara partisipasi di Liga Eropa
dengan pertumbuhan laba, jika Klub mengikuti Liga Eropa maka akan memberi
dampak peningkatan pertumbuhan laba. Variabel independen yang memiliki
hubungan positif dan pengaruh yang paling besar terhadap perrtumbuhan laba
ditunjukkan pada variabel pertumbuhan Intangible Asset

23

Casewise Diagnosticsa
Case
Number

Std. Residual

43

Laba

-3.572

Predicted Value

-7.402

-.49240

Residual
6.909697E0

a. Dependent Variable: Laba

Nilai pertumbuhan laba yang diprediksi (Y) dapat dilihat pada tabel Casewise
Diagnostics (kolom Predicted Value), sedangkan Residual (unstandardized residual)
adalah selisih antara pertumbuhan laba dengan Predicted Value, dan Std. Residual
(standardized residual) adalah nilai residual yang telah terstandarisasi (nilai semakin
mendekati 0 maka model regresi semakin baik dalam melakukan prediksi, sebaliknya
semakin menjauhi 0 atau lebih dari 1 atau -1 maka semakin tidak baik model regresi
dalam melakukan prediksi). Dari Std. Residual yaitu sebesar -3.572 < -1 maka pada
model regresi ini kurang baik dalam melakukan prediksi.

a. Analisis Deteminasi (R2)

Model Summaryb

Model

R Square

.332a

.110

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate
.044

1.934478

a. Predictors: (Constant), Partisipasi, Intangible_Asset,


Tangible_Asset
b. Dependent Variable: Laba

Berdasarkan tabel di atas diperoleh angka R2 (R Square) sebesar 0,11 atau


(11%). Hal ini menunjukkan bahwa prosentase sumbangan pengaruh variabel
24

independen (pertumbuhan tangible Asset, pertumbuhan Intangible Asset dan


partisipasi di Liga Eropa) terhadap variabel dependen (harga saham) sebesar 11%.
Atau variasi variabel independen yang digunakan dalam model mampu menjelaskan
sebesar 11% variasi variabel dependen (pertumbuhan laba). Sedangkan sisanya
sebesar 89% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan
dalam model penelitian ini.
b. Uji F
ANOVAb
Model
1

Sum of Squares
Regression

df

Mean Square

18.547

6.182

Residual

149.688

40

3.742

Total

168.236

43

F
1.652

Sig.
.193a

a. Predictors: (Constant), Partisipasi, Intangible_Asset, Tangible_Asset


b. Dependent Variable: Laba

Ho : Tidak ada pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan tangible Asset,


pertumbuhan Intangible Asset dan partisipasi di Liga Eropa secara bersama-sama
terhadap pertumbuhan laba.
Ha : Ada pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan tangible Asset, pertumbuhan
Intangible Asset dan partisipasi di Liga Eropa secara bersama-sama terhadap
pertumbuhan laba.
Tingkat signifikansi menggunakan = 5% (signifikansi 5% atau 0,05 adalah
ukuran standar yang sering digunakan dalam penelitian) dengan F hitung 1.652 dan F
tabel 2.838745, sehingga F hitung < F tabel yaitu 1,652 < 2.838745 yang berarti HO
diterima yaitu Tidak ada pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan tangible
Asset, pertumbuhan Intangible Asset dan partisipasi di Liga Eropa secara bersamasama terhadap pertumbuhan laba.
c. Uji T

25

Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1

B
(Constant)
Tangible_Asset
Intangible_Asset
Partisipasi

Std. Error
-.044

.376

.560

1.172

1.367
.109

Coefficients
Beta

Sig.
-.116

.908

.072

.478

.635

.658

.313

2.078

.044

.616

.026

.176

.861

a. Dependent Variable: Laba

Pengujian koefisien regresi variabel pertumbuhan Tangible Asset


Ho: Tidak ada pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan tangible Asset terhadap
pertumbuhan laba.
Ha: Ada pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan tangible Asset terhadap
pertumbuhan laba.
Tingkat signifikansi menggunakan = 5% dan t hitung sebesar 0.478 dan t
tabel sebesar 2.02107, sehingga t tabel > t hitung yaitu 2.02107 > 0.478. Oleh karena
nilai t tabel > t hitung yaitu 2.02107 > 0.478 maka Ho diterima, artinya secara parsial
tidak ada pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan tangible Asset terhadap
pertumbuhan laba.
Pengujian koefisien regresi variabel pertumbuhan Intangible Asset
Ho : Ada pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan Intangible Asset terhadap
pertumbuhan laba.
Ha: Ada pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan Intangible Asset terhadap
pertumbuhan laba.
Tingkat signifikansi menggunakan = 5% dan t hitung sebesar 2.078 dan t
tabel sebesar 2.02107, sehingga t tabel < t hitung yaitu 2.02107 < 2.078. Oleh karena
nilai t tabel < t hitung yaitu 2.02107 < 0.478 maka Ho ditolak, artinya secara parsial
ada pengaruh secara signifikan antara pertumbuhan Intangible Asset terhadap
pertumbuhan laba.
Pengujian koefisien regresi variabel partisipasi di Liga Eropa
Ho : Ada pengaruh secara signifikan antara partisipasi di Liga Eropa terhadap
pertumbuhan laba.
26

Ha: Ada pengaruh secara signifikan antara partisipasi di Liga Eropa terhadap
pertumbuhan laba.
Tingkat signifikansi menggunakan = 5% dan t hitung sebesar 0.176 dan t
tabel sebesar 2.02107, sehingga t tabel > t hitung yaitu 2.02107 > 0.176. Oleh karena
nilai t tabel > t hitung yaitu 2.02107 > 0.176maka Ho diterima, artinya secara parsial
tidak ada pengaruh secara signifikan antara partisipasi di Liga Eropa terhadap
pertumbuhan laba.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Variabel Pertumbuhan Tangible asset tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap Pertumbuhan Laba pada klub sepak bola yang berkompetisi di Barclays
Premier League selama musim 2011 2015. Klub sepak bola biasanya lebih
menekankan pada keahlian pekerja dan tingkat pelayanan, sehingga melalui penelitian
27

ini pertumbuhan Tangible asset yaitu sebagai contoh bentuk stadium sepak bola tidak
signifikan mempengaruhi pertumbuhan laba karena apabila stadium baik tetapi tidak
diimbangi dengan pertandingan antar klub yang menarik tidak dapat meresap
penonton sehingga hal tersebut mendasari hasil penelitian yang Pertumbuhan
Tangible asset tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan laba.
Variabel Pertumbuhan Aset Tetap Tidak Berwujud memiliki pengaruh positif
sigifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada klub sepak bola yang berkompetisi di
Barclays Premier League selama musim 2011 2015. Seperti yang kita ketahui
kesuksesan suatu klub sepak bola sangat bergantung pada kemampuan para pemain
yang dimilikinya, apabila mereka memiliki pemain-pemain yang berkualitas mereka
akan memiliki semakin banyak penggemar, hal tersebut tentu saja akan menaikkan
penjualan merchandise, tiket, iklan, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, pertumbuhan
aset tidak berwujud (seperti pemain) akan mempengaruhi pertumbuhan laba klub
tersebut.
Terjadi hubungan yang tidak signifikan antara partisipasi di Liga Eropa
dengan pertumbuhan laba dikarenakan menurut peneliti sebelum keikutsertaan klub
pada Liga Eropa harus didasari dengan intangible asset yang baik dengan nilai
pemain yang tinggi. Oleh karena itu, untuk menarik investor brand image tidak
didasarkan pada partisipasi di Liga Eropa, tetapi terlebih dahulu klub harus memiliki
intangible asset atau pemain yang baik yang dibuktikan dengan kemengan.
5.2 KETERBATASAN
Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu akses data yang terbatas untuk
mendapatkan laporan keuangan dari klub sepak bola lainnya. Tidak semua klub sepak
bola menyebarkan secara umum laporan keuangan mereka, laporan keuangan yang
ada pun tidak semuanya melampirkan data-data yang dibutuhkan sehingga sampel
hanya terbatas pada sedikit klub di Eropa saja sehingga tidak dapat mewakili semua
klub sepak bola yang ada.
Dalam penelitian mengenai aset tidak berwujud dalam hal ini pemain sepak
bola, akan lebih baik dan akurat jika data yang ada tidak hanya berdasarkan laporan
keuangan saja tapi juga penelitian primer dengan observasi. Data laporan keuangan
yang kurang representatif menjadikan hasil yang secara simultan tidak signifikan dan
menunjukkan model regresi yang kurang baik.
28

5.3 SARAN
Bagi penelitian selanjutnya, Koefisien determinasi (adjusted R2) yang sebesar
11% menunjukkan bahwa ada 89% variabel lain di luar variabel yang digunakan
dalam model yang dapat menjelaskan Pertumbuhan Laba. Diharapkan penelitian yang
akan datang menggunakan variabel-variabel bebas lainnya, seperti kompetisi yang
diikuti oleh klub sepak bola selama musim kompetisi tertentu.
Dan penambahan sampel yaitu objek penelitian yang berlaga di kompetisi di
berbagai negara, tidak hanya pada kompetisi Barclays Premier League saja dengan
menggunakan sumber data untuk menganalisis selain laporan keuangan seperti data
nonkeuangan jika dimungkinkan. Hal ini dilakukan agar mendapatkan hasil penelitian
yang lebih baik dan lebih mewakili gambaran kinerja klub sepakbola.

DAFTAR PUSTAKA
Pribadi, Muhammad Bangga.2016. Analisis Pengaruh Pertumbuhan Aset Tetap
Berwujud dan Aset Tetap tidak Berwujud terhadap Pertumbuhan Laba Klub
Sepak Bola Barclays Premier League tahun 2011-2014.Bandar Lampung
Devi, Astri Prima. 2004. Akuntansi untuk Pemain Sepakbola. Jurnal Akuntan dan
Keuangan Indonesia, Departemen Akuntansi FEUI. Jakarta.

29

Hartono, Jogiyanto. 2012. Metodologi Penelitian Bisnis. BPFE-Yogyakarta.


Yogyakarta.
Henri, K. 2015. Liga Premier Catat Laba Besar Berkat Kontrak TV.
m.voaindonesia.com.

Diakses

tanggal

13

juni

2016.

http://m.voaindonesia.com/a/liga-premier-catat-laba-besar-berkat-kontraktv/2695005/
Pribadi, Muhammad Bangga. 2016. Analisis Pengaruh Pertumbuhan Aset Tetap
Berwujud dan Aset Tetap Tidak Berwujud Terhadap Pertumbuhan Laba Klub
Sepak Bola Barclays Premier League Tahun 2011-2014. Skripsi. Lampung.
Bandar Lampung.
Riyanto, Bambang. 2001.Dasar Dasar Pembelanjaan Perusahaan. BPFE.
Yogyakarta.
Sekaran, uma dan Roger Bougie. 2013. Edisi 6, Research Method For Business: A
Skill Building Approach. John Wiley @ Sons, New York.
Company Check. 2015. Diakses Mei 20. www.companycheck.co.uk/
Sharpe.1997:211.dan Ivana 2005:16.dalam Andika Surya 2013. Analisis Pengaruh
Ukuran Perusahaan ,Kepemelikan Institusional, dan Kepemilikan Manejerial
Terhadap

Kinerja

Perusahaan

Serta

Dampaknya

Terhadap

Nilai

Perusahaan.
Syamsudin, Lukman. 2007. Manajemen Keuangan Perusahaan. PT. Raja Grafindo
Persada. Jakarta.
Wardhanu, R. 2011. Mengapa Kita Suka Liga Inggris? peneroka.com. Diakses
tanggal 23 Mei 2015. http://peneroka.com/29/mengapa-kita-suka-ligainggris/
Wikipedia. 2015. Liga Utama Inggris. Wikipedia. Diakses tanggal 22 Mei 2015.
http://id.wikipedia.org/wiki/Liga_Utama_Inggris
Duwi,2015. Analisis Regresi Linier Berganda. Diakses tanggal 14 Juni 2016.
http://id.duwiconsultant.org
Jogiyanto, 2000.Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Kedua ,BPFE,
Yogyakarta.
30

31