Anda di halaman 1dari 27

GANGGUAN PENCERNAAN PADA ANAK: DISENTRI

MAKALAH

oleh
Kelompok 8

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
MARET, 2016

GANGGUAN PENCERNAAN PADA ANAK: DISENTRI

MAKALAH
disusun sebagai pemenuhan tugas Keperawatan Klinik III B dengan dosen
pengampu: Ns. Ratna Sari Hardiani, M.Kep

oleh
Dewi Melati Sukma

142310101050

Nishrina Dini Kurniawati

142310101072

Rommiyatun Zainiyah

142310101126

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
MARET, 2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Gangguan Pencernaan Pada Anak: Disentri.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih kurang
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini
berguna dan bermanfaat bagi semuanya.

Jember, 15 Maret 2016

Penyusun,

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL........................................................................................
HALAMAN JUDUL............................................................................................ii
KATA PENGANTAR..........................................................................................iii
DAFTAR ISI........................................................................................................iv
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.........................................................................................1
1.2 Tujuan.......................................................................................................1
1.3 Implikasi Keperawatan.............................................................................1
BAB 2. TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian ................................................................................................ 2
2.2 Epidemiologi............................................................................................ 2
2.3 Etiologi .................................................................................................... 3
2.4 Tanda dan gejala....................................................................................... 3
2.5 Patofisiologi.............................................................................................. 4
2.6 Komplikasi & Prognosis........................................................................... 4
2.7 Pengobatan................................................................................................ 5
2.8 Pencegahan.................................................................................................7
BAB 3. PATHWAY............................................................................................ 9
BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN
4.1 Pengkajian................................................................................................ 10
4.2 Diagnosa................................................................................................... 16
4.3 Intervensi ................................................................................................. 17
4.4 Implementasi ........................................................................................... 20
4.5 Evaluasi.................................................................................................... 21
BAB 5. PENUTUP
4.1 Kesimpulan............................................................................................... 22
4.2 Saran

..................................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 23

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia memiliki beberapa sistem didalam tubuhnya seperti sistem
kardiovaskuler, sistem pernafasan dan sistem pencernaan, didalam sistemsistem tersebut pasti memiliki masalah salah satunya seperti di sistem
pencernaan seperti disentri. Penyakit disentri sendiri yaitu penyakit
peradangan pada bagian intestinal terutama usus besar yang dapat disebabkan
oleh berbagai agen penyebab infeksi yang bisa menginvestasi bagian
intestinal. Penyakit disentri ini bisa menyerang segala umur baik dari usia
muda sampai dengan usia dewasa, penyakit disentri ini juga termasuk penyakit
menular karena penularan dari penyakit ini bisa melalui cara oral kemudian
masuk ke sistem pencernaan. Untuk penyebaran penyakit disentri, di Amerika
Serikat dilaporkan bahwa penyakit disentri sebanyak 500.000 kasus per
tahunnya, sedangakan di Indonesia sendiri pada tahun 2013 (Liputan 6)
terdapat pendapat yang menyatakan bahwa di daerah Palembang sering terjadi
wabah disentri yang sering menyerang masyarakat setempat.
1.2 Tujuan
1.2.1 Mahasiswa dapat mengetahui tentang penyakit Disentri
1.2.2 Mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan pada penyakit Disentri
1.3 Implikasi Keperawatan
1.3.1 Dapat mengetahui dan memahami penyakit Disentri
1.3.2 Dapat melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit Disentri
1.3.3 Perawat sebagai konselor, dapat menjelaskan tentang penyakit Disentri
kepada pasien dan keluarga pasien.

BAB 2. TINJAUAN TEORI


2.1 Pengertian
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (gangguan) dan enteron
(usus), yang berarti peradangan usus yang menimbulkan gejala meluas, tinja
1

lendir bercampur darah yang ditandai dengan sakit perut dan buang air besar.
Disentri merupakan tipe diare yang berbahaya yang disertai dengan darah dan
sering kali menyebabkan kematian dibandingkan dengan tipe diare akut yang lain.
Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri (disentri basiler) dan amoeba (disentri
amoeba).
Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang
menyebabkan tukak terbatas di colon yang ditandai dengan gejala khas yang
disebut sebagai sindroma disentri, yaitu sakit di perut yang sering dan disertai
dengan tanesmus, berak-berak, tinja mengandung darah dan lendir. Adanya darah
dan lekosit dalam tinja merupakan suatu bukti bahwa kuman penyebab disentri
tersebut menembus dinding kolon dan bersarang di bawahnya. Penyakit ini
seringkali terjadi karena kebersihan tidak terjaga baik karena kebersihan diri atau
individu maupun kebersihan lingkungan.

2.2 Epidemiologi
Disentri dapat terjadi di daerah yang populasinya padat dan sanitasinya
sangat buruk. Disentri dapat ditemukan di seluruh dunia. Penyebaran penyakit
disentri terjadi melalui kontaminasi makanan atau minuman dengan kontak
langsung atau melalui vector, misalnya lalat. Factor utama dari disentri adalah
melalui tangan yang tidak dicuci setelah buang air besar. Sebuah penelitian yang
dilakukan di Jakarta Utara, Indonesia dimana surveilans yang dilakukan antara
bulan Agustus 2001 dan Juli 2003 menemukan bahwa anak usia 1 sampai 2 tahun
memiliki insiden tinggi dengan 73% sampai 95%.

2.3 Etiologi
1. Bakteri (Disentri basiler)

Shigella, penyebab disentri yang paling sering dan terpenting (


60% kasus disentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri
yang berat dan mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella.

Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)

Salmonella

Campylobacter jejuni, terutama pada bayi

2. Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih


sering pada anak berusia > 5 tahun.
2.4 Tanda dan gejala
Disentri basiler

Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja. Pada disentri
Shigellosis, pada permulaan sakit bisa terdapat diare encer tanpa darah dalam 6
sampai 24 jam pertama dan setelah 12 sampai 72 jam sesudah permulaan sakit
didapatkan darah dan lendir dalam tinja

Panas tinggi (39,5 samapi 40 oC), appear toxic.

Muntah-muntah

Anoreksia

Nyeri ketika buang air besar (tenesmus)

Sakit kram di perut dan di anus ketika buang air besar

Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai ensefalitis dan sepsis


(kejang, sakit kepala, halusinasi, kaku kuduk)

Disentri amoeba

Diare disertai darah dan lendir dalam tinja

Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit daripada disentri basiler


(10x/hari)

Sakit perut hebat (kolik)

2.5 Patofisiologi
Trofozoit yang mula-mula hidup sebagai komensal di lumen usus besar
dapat berubah menjadi patogen sehingga dapat menembus mukosa usus dan
menimbulkan ulkus. Akan tetapi faktor yang menyebabkan perubahan ini sampai
saat ini belum diketahui secara pasti. Diduga baik faktor kerentanan tubuh pasien,
sifat keganasan (virulensi) amoeba, maupun lingkungannya mempunyai peran.
Amoeba yang ganas dapat memproduksi enzim fosfoglukomutase dan
lisozim yang dapat mengakibatkan kerusakan dan nekrosis jaringan dinding usus.
Bentuk ulkus amoeba sangat khas yaitu di lapisan mukosa berbentuk kecil, tetapi
di lapisan submukosa dan muskularis melebar (menggaung). Akibatnya terjadi
ulkus di permukaan mukosa usus menonjol dan hanya terjadi reaksi radang yang
minimal. Mukosa usus antara ulkus-ulkus tampak normal. Ulkus dapat terjadi di
semua bagian usus besar, tetapi berdasarkan frekuensi dan urut-urutan tempatnya
adalah sekum, kolon asenden, rektum, sigmoid, apendiks dan ileum terminalis.

2.6 Komplikasi & prognosis


2.6.1 Komplikasi
1. Dehidrasi
2. Gangguan elektrolit, terutama hiponatremia
3. Kejang
4. Kehilangan protein enteropati
5. Sepsis
6. Sindroma Hemolitik Uremik
7. Malnutrisi atau malabsorpsi
8. Hipoglikemia
9. Prolapsus rektum
10. Arthritis reaktif
11. Sindroma Guillain-Bare

12. Ameboma
13. Megakolon toksik
14. Perforasi lokal
15. Peritonitis
16. Stenosis
17. Hemoroid
2.6.2 Prognosis
Pasien dengan disentri akibat infeksi sering mengalami nausea, muntah,
nyeri perut sampai kejang perut, demam dan diare disertai dengan darah yang
dapat dilihat dengan jelas. Terjadinya renjatan hipovolemik harus dihindari.
Kekurangan cairan akan menyebabakan pasien merasa haus, lidah kering, tulang
pipi menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Gangguan
biokimiawi seperti Asidosis Metabolik akan menyebabkan frekuensi pernafasan
lebih cepat dan dalam (pernafasan kusmaul). Apabila terjadi renjatan hipovolemik
berat maka denyut nadi cepat (> 120x/menit), tekanan darah menurun sampai
tidak terukur, pasien gelisah, muka pucat, ujung-ujung ekstremitas dingin dan
terjadi sianosis.

2.7 Pengobatan
1. Perhatikan keadaan umum anak, apabila anak mengalami appear toxic,
status gizi kurang maka dilakukan pemeriksaan darah untuk mendeteksi
adanya bakteremia. Apabila dicurigai adanya sepsis maka diberikan terapi
sesuai penatalaksanaan sepsis pada anak.
2. Komponen terapi disentri, antara lain:
a. Koreksi dan maintenance cairan dan elektrolit
Seperti pada kasus diare akut secara umum, hal pertama yang harus
diperhatikan dalam penatalaksanaan disentri setelah keadaan stabil adalah
penilaian dan koreksi terhadap status hidrasi dan keseimbangan elektrolit.

b. Diet
Anak dengan disentri harus diteruskan pemberian makanannya. Berikan
diet lunak tinggi kalori dan protein untuk mencegah malnutrisi yang
disebabkan adanya malabsorpsi karbohidrat, vitamin dan mineral. Dosis
tunggal tinggi vitamin A (200.000 IU) dapat diberikan untuk menurunkan
tingkat keparahan disentri, terutama pada anak yang diduga mengalami
defisiensi. Untuk mempersingkat perjalanan penyakit, dapat diberikan
sinbiotik dan preparat seng oral. Dalam pemberian obat-obatan, harus
diperhatikan bahwa obat-obat yang memperlambat motilitas usus sebaiknya
tidak diberikan karena adanya risiko untuk memperpanjang masa sakit.
c. Antibiotika
Anak dengan disentri harus dicurigai menderita shigellosis dan mendapatkan
terapi yang sesuai. Pengobatan dengan antibiotika yang tepat akan
mengurangi masa sakit dan menurunkan risiko komplikasi dan kematian.
Pilihan utama untuk Shigelosis (menurut anjuran WHO) : Kotrimoksazol
(trimetoprim 10mg/kbBB/hari dan sulfametoksazol 50mg/kgBB/hari) dibagi
dalam 2 dosis, selama 5 hari.
Alternatif yang dapat diberikan :

Ampisilin 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis


Cefixime 8mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis
Ceftriaxone 50mg/kgBB/hari, dosis tunggal IV atau IM
Asam nalidiksat 55mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.

Perbaikan seharusnya tampak dalam 2 hari, misalnya panas turun, sakit dan
darah dalam tinja berkurang, frekuensi BAB berkurang, dll. Bila dalam 2
hari tidak terjadi perbaikan, antibiotik harus dihentikan dan diganti dengan
alternatif lain.
Terapi antiamebik diberikan dengan indikasi :
a. Ditemukan trofozoit Entamoeba hystolistica dalam pemeriksaan
mikroskopis tinja.

b. Tinja berdarah menetap setelah terapi dengan 2 antibiotika berturutturut (masing-masing diberikan untuk 2 hari), yang biasanya efektif
untuk disentri basiler.
Terapi yang dipilih sebagai antiamebik intestinal pada anak adalah
Metronidazol 30-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 10 hari.
Apabila disentri memang disebabkan oleh E. hystolistica, keadaan akan
membaik dalam 2-3 hari terapi.
d. Sanitasi
Beritahukan kepada orang tua anak untuk selalu mencuci tangan dengan
bersih sehabis membersihkan tinja anak untuk mencegah autoinfeksi.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan tinja
2. Makroskopis: suatu disentri amoeba dapat ditegakkan apabila
ditemukan bentuk trofozoit dalam tinja
3. Benzidin test
4. Mikroskopis : leukosit fecal (pertanda adanya kolitis), darah fecal
5. Pemeriksaan darah rutin: eukositosis (5000-15000 sel/mm3),
kadang-kadang dapat ditemukan leucopenia

2.8 Pencegahan
1. Buang air pada tempatnya dan tidak di sembarang tempat, latih anak untuk
buang air dikakus.
2. Cuci tangan sebelum makan dan sesudah makan.
3. Cuci tangan sebelum memasak makanan dan pastikan tangan anda selalu
bersih ketika memberikan makan pada bayi atau balita. Pastikan peralatan
makan dan minum anak dan bayi bersih dan tidak terkontaminasi kuman
apapun juga.
4. Selalu memasak atau merebus peralatan makan dan minum terlebih dahulu.
5. Minum dan makanlah makanan yang sudah dimasak. Hindari memberikan
makanan setengah masak atau setengah matang pada anak.
6. Pastikan air yang dimasak benar-benar mendidih.

7. Berikanlah ASI selama mungkin kepada anak, disamping pemberian


makanan lainnya.
8. Bayi yang minum susu botol lebih mudah terserang diare dari pada bayi
yang disusui ibunya. Tetap menyusui anak walaupun anak terserang diare.
9. Pastikan tangan si pengasuh tetap bersih ketika mengasuh anak atau
memberikan makan dan minum pada anak.
10. Jaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan tempat tinggal.

BAB 3. PATHWAY

10

BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian.
1. Identitas
Tanggal MRS

: 11 Februari 2016

Tanggal Pengkajian

: 13 Februari 2016

Data bayi
Nama

: An. R

No.Register

: 2226178

Umur

: 1 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

:Ds.Kedungwaru RT 88 RW 04 Surakarta

Tanggal lahir

: 22 Januari 2015

Diagnosa medis

: Disentri

Data ayah
Nama

: Tn. R

Umur

: 29 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Ds.Kedungwaru RT 88 RW 04 Surakarta

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

: Wiraswasta

Data Ibu
Nama

: Ny. D

Umur

: 26 tahun

Alamat

: Ds.Kedungwaru RT 88 RW 04 Surakarta

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

2. Keluhan Utama

11

Saat MRS

: An. R buang air besar lebih dari 3x sehari

Saat Pengkajian : An.R buang air besar dengan konsistensi cair,


bercampur lendir dan darah
3. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat Penyakit Sekarang
BAB warna kuning kehijauan, bercampur lendir dan darah. Konsistensi
encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakaian antibiotik atau
kortikosteroid jangka panjang, alergi, ISPA, ISK, OMA campak.
3. Riwayat Nutrisi ASI
Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang
dewasa, porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah
dan susu. Kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat kesehatan keluarga dapat ditanyakan apakah
dalam keluargan juga ada yang mengalami penyakit
yang sama. Perlu dikaji juga keadaan atau lingkungan
rumah dan komunitas. Selain itu juga perlu ditanyakan
makanan yang sering dikonsumsi oleh keluarga.
5. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan
lingkungan tempat tinggal.
6. Riwayat Imunisasi
Perlu ditanyakan pada orang tua apakah anak pernah dilakukan
imunisasi atau tidak. Jika tidak, anjurkan segera setelah berumur
sembilan bulan. Anak 2 kali mendapatkan imunisasi.

4. Pemeriksaan Fisik Umum

12

Keadaan umum: klien lemah, panas, muntah, gelisah,

rewel, lesu, dan kesadaran menurun


Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar
lengan

mengecil,

membesar.
Sistem pencernaan

lingkar
:

kepala,

mukosa

lingkar

mulut

abdomen

kering,

distensi

abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan


menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus,
minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau

kelihatan bisa minum


Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt

karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)


Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah,
tensi menurun pada diare sedang Sistem integumen:
warna kulit pucat, turgor menurun > 2 detik, suhu
meningkat > 37derajat celsius, akral hangat, akral dingin
(waspada syok), capillary refill time memanjang > 2 detik,

kemerahan pada daerah perianal


Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria
(200-400 ml/ 24 jam), frekuensi berkurang dari sebelum
sakit.
5. Pemeriksaan Head to Toe
a) Kepala
: Ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah
menutup pada anak umur 1 tahun lebih.
b) Mata
: Simetris, cekung, konjungtiva merah muda,
sklera putih.
c) Mulut
: Mukosa bibir kering, tidak ada stomatitis,
lidah bersih.
d) Hidung : Simetris,

tidak

ada

sekret,

tidak

ada

pernafasan cuping hidung, tidak ada polip.


e) Telinga : Simetris, tidak ada benjolan, lubang telinga
bersih, tidak ada serumen.

13

f) Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, limfe,

tidak ada bendungan vena jugularis.


g) Dada
Inspeksi

Dada

simetris,

bentuk

bulat

datar,

pergerakan dinding dada simetris, tidak ada retraksi otot


bantu pernapasan.
Palpasi

: Tidak ada benjolan mencurigakan

Perkusi

: Paru-paru sonor, jantung dullnes

Auskultasi: Irama nafas teratur, suara nafas vesikuler,


tidak ada suara nafas tambahan.
h) Perut
Inspeksi

: Simetris

Auskultasi : Peristaltik meningkat 40x/mnt


Palpasi

: Turgor kulit tidak langsung kembali dalam 1

detik
Perkusi

: Hipertimpan,perut kembung

i) Punggung : Tidak ada kelainan tulang belakang (kyfosis,


lordosis, skoliosis) tidak ada nyeri gerak
j) Genetalia : Tidak odem, tidak ada kelainan, kulit
perineal kemerahan
k) Anus
: Tidak

ada

benjolan

mencurigakan,kulit

daerah anus kemerahan


l) Ekstremitas
: Lengan kiri terpasang infus, kedua kaki
bergerak bebas, tidak ada odem
Kebutuhan dasar:
a) Pola ilminasi: Akan mengalami penurunan yaitu BAB
lebih dari tiga kali sehari, BAK sedikit dan jarang.
b) Pola nutrisi: di awali dengan mual, muntah dan anorexia,
menyebankan penurunan berat badan klien.
c) Pola tidur dan istirahat: Akan tergantung akan adanya
distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak
nyaman.
d) Pola hygiene: kebiasan biasa mandi setiap hari.

14

e) Aktivitas: Akan tergantung dengan kondisi tubuh yang


lemah dan adanya rasa nyeri akibat distensi abdomen
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik berupa:
a. Pemeriksaan barium usus
Penderita menelan barium dan perjalanannya melewati
kerongkongan

dipantau

melalui

fluoroskopi

(teknik

rontgen berkesinambungan yang memungkinkan barium


diamati atau difilmkan). Dengan fluoroskopi, dokter
dapat

melihat

kerongkongan

kontraksi
(misalnya

dan

kelainan

penyumbatan

anatomi

atau

ulkus).

Gambaran ini sering kali direkam dengan sebuah film


atau kaset video. Selain cairan barium, bisa juga dengan
makanan yang dilapisi barium. Sehingga bisa ditentukan
lokasi penyumbatan atau bagian kerongkongan yang
tidak berkontraksi secara normal. Cairan barium yang
ditelan bersamaan dengan makanan yang dilapisi barium
dapat memperlihatkan kelainan seperti:
1) Selapu kerongkongan (dimana sebagian kerongkongan
tersumbat oleh jaringan fibrosa)
2) Divertikulum Zenker (kantong kerongkongan)
3) Erosi dan ulkus kerongkongan
4) Varises kerongkongan
5) Tumor
b. Sigmoideskopi atau kolonoskopi
Kolonoskopi adalah suatu pemeriksaan kolon (usus
besar)

mulai

dari

anus,

rektum,

sigmoid,

kolon

desendens, kolon transversum, kolon asendens, sampai


dengan sekum dan ileum terminale.
c. Biopsi
Evaluasi
lanjutan
yaitu
pemeriksaan

endoskopi

gastrointestinal bagian atas atau kolonoskopi dengan


biopsi untuk tindakan diagnostik.
d. Pemeriksaan radiologi abdomen

15

Tes radiologik dapat mempunyai peranan diagnostik


pada pasien dengan dugaan malabsorpsi. Radiograf
abdomen dapat menunjukkan kalsifikasi pankreas pada
pasien dengan pankreatitis kronik. Pemeriksaan USG
abdomen, pemindaian CT atau endoskopik retrograd
kolangiopankreatografi juga dapat digunakan dalam
mengevaluasi kemungkinan penyakit pankreas.
Suatu foto abdomen jarang dapat membantu dalam
diagnosa

nyeri

abdomen

yang

kronis

kecuali

bila

terdapat indikasi klinis khusus tentang penyebabnya.


Foto polos

abdomen tidak

membantu menegakkan

diagnosa kehamilan ektopik yang ruptur dan juga tidak


bisa mengesampingkan adanya apendisitis akut. Oleh
karena itu foto abdomen diperuntukkan bagi penderitapenderita yang klinis amat mencurigakan misalnya
obstruksi usus, perforasi ulcus duodeni/gaster/usus, nyeri
renal atau bilier dengan kolik yang khas, benda asing,
pada

bayi

barulahir

dengan

meconium.

Kelainan

radiologis yang didapat haruslah dikorelasikan dengan


riwayat penyakit dan pemeriksaan klinis. Bila penderita
nampaknya menderita akut abdomen dan terdapat
kesulitan untuk mendapatkan kelainan klinis yang khas,
bisa dipertimbangkan adanya suatu obstruksi. Walaupun
demikian, bila penderita amat sakit, kesan klinislah yang
menentukan pengobatan meskipun hasil foto tidaklah
diagnostik.
e. Tes fungsi hati
Tes

fungsi

hati

untuk

mengukur

kemampuan

hati

melakukan fungsi normal, misalnya: albumin serum


untuk mengukur sintesis protein, waktu protrombin
untuk mengukur faktor pembekuan, bilirubin untuk

16

mengukur konjugasi dan ekskresi garam empedu, atau


pengukuran enzim hati (alkali fosfatase, transminase),
yang merupakan indikator kerusakan hati.
f. Pemeriksan tinja
Mikroskopis warna feses dimulai berwarna coklat
muda sampai warna kuning yang bercampur dengan
lendir, darah atau pus yang mana konsestensinya encer.
Mikroskopis jumlah sel eitel leukosit dan eritrosit
terdiri dari dari PH feces, biasanya menurun yang
menunjukan keadan feces yang asam dan kadar kadar
gula yang diduga (ada sugar itoleran)
g. Pemeriksan darah
Pemeriksaan darah lengkap dapat berupa PH cadangan
alkali dan elektrolit untuk menentukan gangguan untuk
keseimbanagam asam basa.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
berhubungan dengan penurunan absorbsi cairan dan eletrolit yang ditandai
dengan bibir terlihat kering.
2. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan sel point pada hipotalamus
karena peradangan mukosa usus yang ditandai dengan suhu tubuh
meningkat dan akral terasa hangat.
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan
nafsu makanan karena proses patologis yang ditandai berat badan turun.
4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kuantitas buang air besar
terlalu sering ditandai dengan pasien terlihat pucat.
5. Kelemahan berhubungan dengan kekurangan cairan dan elektrolit yang
ditandai dengan pasien tidak mampu melakukan aktivitas.

17

C. Intervensi
Diagnosa
1. Gangguan keseimbangan
elektrolit
Batasan Karakteristik :
a. Membran mukosa kering
b. Peningkatan suhu tubuh
c. Penurunan berat badan
d. Kelemahan
e. Haus

cairan

NOC
dan Tujuan : setelah dilakukan perawatan 2 x 24 jam
pasien bisa menununjukkan kriteria hasil sebaga
berikut :
a. Suhu tubuh dalam batas normal
b. Tidak ada tanda dehidrasi, membran
mukosa lembap, dan tidak ada rasa haus
yang berlebihan

2. Hipertermia
Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 1 x
Definisi : Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran 24 jam. Pasien dapat menunjukkan kriteria hasi
normal.
sebagai berikut : suhu tubuh dalam rentang
Batasan karakteristik :
normal
a. Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran
normal
b. Kulit terasa hangat
Faktor yang berhubungan :
a. Dehidrasi
b. Penyakit

18

3. Gangguan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tujuan : setelah dilakukan perawatan 2 x 24 jam
Batasan Karakteristik :
pasien dapat menunjukkan kriteria hasil sebaga
a. Kram abdomen
berikut :
b. Nyeri abdomen
a. Adanya peningkatan berat badan sesua
c. Menghindari makanan
dengan tujuan
d. Diare
b. Berat badan ideal sesuai dengan tingg
e. Bising usus hiperaktif
badan
f. Penurunan berat badan
c. Tidak ada tanda malnutrisi
g. Membran mukosa pucat
d. Tidak terjadi penurunan berat badan yang
h. Tonus otot menurun
berarti
Faktor yang berhubungan :
a. Faktor biologis
b. Faktor ekonomi
c. Faktor psikologis
d. Ketidakmampuan untuk mengabsorbsi
nutrien
e. Ketidakmampuan
untuk
mencerna
makanan

4. Gangguan Rasa Nyaman


Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 1 x
Definisi : merasa kurang senang, lega, dan 24 jam, pasien dapat menunjukkan kriteria hasi
sempurna dalam dimensi fisik, psikospiritual, sebagai berikut :
lingkungan dan sosial.
a. Mampu mengontrol kecemasan
b. Status lingkungan yang nyaman
Batasan karakteristik :
c. Kualitas tidur dan istirahat adekuat
a. Gangguan pola tidur
d. Control gejala
b. Cemas
e. Status kenyamanan meningkat
c. Takut
f. Dapat mengontrol ketakutan
d. Menangis
g. Support sosial
e. Ketidakmampuan untuk rileks
f. Merintih
g. Melaporkan merasa panas
h. Melaporkan perasaan tidak nyaman
i. Melaporkan masalah distress
j. Melaporkan kurang senang dengan
keadaan tersebut
k. Gelisah
19

l. Berkeluh kesah
Faktor yang berhubungan :
a. Gejala terkait penyakit
b. Kurang pengendalian lingkungan
c. Kurang kontrol situasional
d. Stimulasi lingkungan yang mengganggu.
5. Kelemahan
Tujuan : setelah dilakukan perawatan 2 x 24 jam
Batasan karakteristik :
pasien dapat menunjukkan kriteria hasil sebaga
a. Gangguan konsentrasi
berikut :
b. Penurunan performa
a. Mengatakan peningkatan energi dan
c. Kurang minat terhadap sekitar
merasa lebih baik
d. Peningkatan keluhan fisik
b. Kecemasan menurun
e. Kurang energi
c. Kualitas hidup meningkat
f. Lesu
d. Istirahat cukup
g. Mengatakan kurang energi yang luar
e. Mempertahankan kemampuan untuk
biasa
berkonsentrasi
h. Mengatakan perasaan lelah
i. Mengatakan
tidak
mampu
mempertahankan aktivitas fisik pada
tingkat yang biasanya
Faktor yang berhubungan :
a. Psikologis
b. Fisiologis
c. Lingkungan
d. Situasional

D. Implementasi
Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-aktivitas
yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. Agar implementasi /
pelakasanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi
prioritas perawatan, memantau dan mencatat respon pasien terhadap setiap
intervensi

yang

dilaksanakan

seta

mendokumentasikan

pelaksanaan

perawatan.
E. Evaluasi
pada tahap evaluasi dapat menggunakan SOAP atau SOAPIER

20

S : subjectiv
O : objektif
A : assesment
P : plan

21

BAB 5. PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Penyakit disentri adalah penyakit yang terutama menyerang usus besar
dan menyebabkan peradangan pada bagian intestinalnya bisa disebabkan oleh
beberapa agen seperti bakteri, amoeba, virus dan protozoa. Sebagian besar
disentri disebabkan oleh Shigella yang agen tersebut masuk ke dalam saluran
pencernaan melalui oral kemudian menuju kolon. Gejala khas yang sering
terjadi pada penyakit ini yaitu sakit di perut yang sering disertai dengan
tenesmus, berak-berak dan tinja mengeluarkan darah dan lendir. Untuk
pencegahan sendiri supaya tidak terkena penyakit ini seperti menjaga
kebersihan dan selalu mencuci tangan dengan air bersih sehabis
membersihkan tinja atau bersentuhan dengan tinja untuk mencegah
autoinfeksi.
5.2 Saran
Sebagai seorang perawat harus mampu mengetahui tentang penyakit
yang terjadi pada kliennya. Selain itu, perawat juga harus mampu melakukan
asuhan keperwatan pada klien agar penyakit tersebut dapat teratasi dan tidak
memperpanjang masa perawatan pasien atau memperparah keadaan pasien,
serta menimbulkan penyakit yang baru. Perawat juga harus mampu
melakukan sebuah pendokumentasian atas semua proses keperawatan yang
telah diberikan kepada klien. Disarankan juga untuk para orang tua yang
mempunyai anak atau bayi harus benar-benar menjaga dan mengawasi anakanak dan diri orang tuanya sendiri supaya tidak terjangkit penyakit disentri
ini, dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

22

DAFTAR PUSTAKA

Kuzemko, Jan, 1995, Pemeriksaan Klinis Anak, alih bahasa Petrus Andrianto,
cetakan III, EGC, Jakarta.
Lyke, Merchant Evelyn, 1992, Assesing for Nursing Diagnosis ; A Human Needs
Approach,J.B. Lippincott Company, London.
Mansjoer, dkk. 2000, Kapita Selekta Kedokteran, ed.3, Media Aesculapius,
Jakarta.
Muttaqin,Arif

dan

Sari,

Kumala.2013,Gangguan

Gastrointestinal.Salemba

Medika : Jakarta.
Muttaqin,arif. 2013. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan
Medical Bedah. Jakarta : Salemba medika
Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.
Nurafif A, Kusuma Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA, NIC, NOC. Edisi Revisi Jilid 1. Mediaction :
Jogjakarta.

http://eprints.undip.ac.id/29091/3/Bab_2.pdf
http://library.usu.ac.id/download/fk/penydalam-umar5.pdf
http://citizen6.liputan6.com/read/672953/dana-stimulan-kesehatan-warga-ilirbarat-tak-kunjung-terealisasi

23