Anda di halaman 1dari 14

CLINICAL SCIENCE SESSION

UVEITIS
Preceptor:
dr. Antonia Kartika, SpM(K), M.Kes
dr. Emmy Dwi Sugianty, SpM, M.Kes

Disusun oleh:
Agustina Lestari
Herning Adinda

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
RUMAH SAKIT MATA CICENDO
BANDUNG
2014

DEFINISI
Inflamasi dari traktus uvea yang terdiri dari iris, badan ciliar, dan koroid. Seiring
perkembangannya terminologi uveitis juga digunakan untuk inflamasi intraocular yang melibatkan tidak
hanya uvea, tetapi juga retina dan pembuluh darahnya.

KLASIFIKASI

BERDASARKAN ANATOMIS
A. Anterior Uveitis
Dibagai menjadi :
1. Iritis, inflamasi pada iris
2. Iridocyclitis, inflamasi pada iris dan badan siliar
B. Intermidiate, inflamasi dominan melibatkan vitreous.
C. Posterior Uveitis, inflamasi pada posterior fundus
1. Retinitis
2. Choroiditis
3. Vaskulitis
D. Panuveitis (diffuse)
Inflamasi meliput seluruh traktus uveal tanpa suatu lokasi yang lebih dominan.
E. Endophthalmitis
Inflamasi pada seluruh jaringan intraocular kecuali sclera, biasanya purulent.
F. Panophthalmitis
Inflamasi pada seruh ocular dan sering kali ekstensi ke orbital
BERDASARKAN WAKTU
Onset uveitis dapat sudden atau insidious dan durasi uveitis dapat terbatas (kurang dari 3 bulan) atau
persisten jika lebih.
A. Akut : sudden onset
B. Rekuren : beberapa episode berulang dengan periode sembuh/tidak berobat setidaknya 3 bulan
C. Kronis : inflamasi persisten dengan relapse (kurang dari 3 bulan) setelah pemberentian
pengobatan.

BERDASARKAN PATOLOGI
Dapat dibedakan dua jenis besar uveitis yaitu non-granulomatosa (lebih umum) dan
granulomatosa.
1. Uveitis Non-granulomatosa

Diduga peradangan ini semacam fenomena hipersensitivitas, karena tidak dapat


ditemukan organisme patogen dan berespon baik terhadap terapi kortikosteroid. Terutama timbul
dibagian anterior traktus uveal, yakni iris dan corpus ciliare. Terdapat reaksi radang, dengan
terlihatnya infiltrasi sel-sel limfosit dan dan sel plasma dalam jumlah cukup banyak . Onsetnya
khas akut, sakit, injeksi, fotofobia, dan penglihatan kabur. Terdapat kemerahan sirkumkorneal
karena dilatasi pembuluh-pembuluh darah limbus. Pupilnya kecil, dan mungkin terdapat
kumpulan fibrin dengan sel di kamera anterior. Jika terdapat sinekia posterior , bentuk pupil tidak
teratur.
2. Uveitis Granulomatosa
Dapat menimbulkan uveitis anterior, uveitis posterior (lebih sering), atau keduanya.
Biasanya onsetnya tidak kentara, penglihatan berangsur kabur, mata memerah secara difus di
daerah sirkumkornea. Sakitnya minimal, fotofobianya tidak sama berat dengan bentuk nongranulomatosa. Pupil sering mengecil dan menjadi tidak teratur karena terbentuk sinekia
posterior. Tampak kemerahan (flare) dan sel-sel di kamera anterior, dan nodul yang terdiri atas
kelompok sel-sel putih tampak di tepian pupil iris.

BERDASARKAN ETIOLOGI
PARASITIC UVEITIS
a Toxoplasma retinitis
b Toxocariasis
c Onchocerciacis
d Cysticercosis
e Diffuse unilateral subacute neuroetinitis
fChoroidal pneumocystosis
VIRAL UVEITIS
a. HIV uveitis
b. Cytomegalovirus retinitis
c. Acute retinal necrosis
d. Herpes simplex anterior uveitis

e. varicella zoster anterior uveitis


f. Congenital rubella
FUNGAL UVEITIS
a
b
c

Presume ocular hystoplasmosis syndrome


Cryptococcis
Endogenous fungal endophtalmitis

BACTERIAL UVEITIS
a. Tuberculosis
b. Syphilis
c. Lyme disease
d. Brucellosis
e. Endogenous bacterial endophtalmitis
f. Cat-scracth disease
g. Leprosy

ANAMNESIS DAN FAKTOR RESIKO


1. Usia. Usia onset penting diketahui karena beberapa jenis uveitis muncul pada usia
spesifik, contoh
Uveitis yang berkaitan dengan arthritis juvenile idiopathic dan toxokariasis ocular

biasanya muncul pada anak


HLA-B27 berkaitan dengan uveitis dan sindroma Behcet biasanya pada young

adult
Korioretinopati birdshot dan koroiditis serpiginous lebih sering muncul pada

decade ke 5-7
Nekrosis retinal akut dan toxoplasmosis dapat muncul pada seluruh kelompok

usia.
2. Ras. Terutama pada sindroma Behcet (Timur Tengah dan Asia), sarkoidosis (kulit hitam).
3. Lokasi geografis. Infeksi sepertim lyme disease atau lainnya endemic pada lokasi
tertentu.
4. Riwayat penyakit mata. Lens-induced uveitis, oftalmitis simpatetik, atau HLA-B27
related disease (uveitis unilateral rekuren)
5. Riwayat penyakit lainnya. Untuk identifikasi agen infeksi (Tuberkulosis atau sifilis)

6. Hygiene dan dietary habits. Untuk infeksi toxocariasis (riwayat pica), toxoplasmosis
(undercook meat, penggunaan air di daerah rural0, cysticcrosis (ingesti daging babi di
daerah endemic)
7. Riwayat seksual. Pada infeksi sifilis dan HIV
8. Recreational drugs. Faktor resiko HIV dan fungal endoftalmitis
9. Hewan peliharaan
ANTERIOR UVEITIS
Uveitis anterior disebuit juga sebagai iridosiklitis. Penyebab dari iritis tidak dapat
diketahui dengan melihat gambaran kliniknya saja. Iritis dan iridosiklitis dapat merupakan suatu
manifestasi klinik reaksi imunologik terlambat, dini atau sel mediated terhadap jaringan uvea
anterior. Bakteriemi ataupun viremia dapat menimbulkan iritis ringan, yang bila kemudian
terdapat antigen yang sama dalam tubuh akan dapat timbul kekambuhan.
Anterior uveitis paling sering terjadi dan biasanya unilateral serta onsetnya akut. Gejala
khasnya berupa nyeri, fotofobia, dan penglihatan buram. Pemeriksaan biasanya menunjukkan
adanya kemerahan di sekitar kornea dengan injeksi konjungtiva palpebral atau cairan yang
minimal. Pupil mengecil (miosis) atau irregular diakibatkan formasi posterior synechiae.
Inflamasi yang terbatas pada anterior chamber disebut iritis, sedangkan inflamasi pada anterior
chamber dan anterior vitreous sering disebut sebagai iridocyclitis. Sensasi kornea dan tekanan
intraocular sebaiknya diperiksa pada setiap pasien dengan uveitis.
Penyebab uveitis anterior akut nongranulomatosa

dapat oleh trauma, diare kronis,

penyakit Reiter, herpes simpleks, sindrom Beche, sindrom Posner Schlosman, pascabedah,
infeksi adenovirus, parotitis, influenza, dan klamidia. Sedangkan yang kronis dapat disebabkan
Artritis Rematoid dan Fuchs heterokromik iridosiklitis. Granulomatosa akut terjadi akibat
sarkoiditis, sifilis, tuberkulosis, virus, jamur (histoplasmosis) atau parasit (toksoplasmosis).
Uveitis dapat terjadi mendadak atau akut berupa mata merah dan sakit, ataupun datang
perlahan dengan mata merah dan sakit ringan dengan penglihatan turun perlahan-lahan.
Iridosiklitis kronis merupakan episode rekuren dengan gejala akut yang ringan atau sedikit.

Keluhan pasien dengan uveitis anterior akut mata sakit, merah, fotofobia, penglihatan
turun ringan dengan mata berair, dan mata merah. Keluhan sukar melihat dekat pada pasien
uveitis akibat ikut meradangnya otot-otot akomodasi.
Pupil kecil akibat rangsangan proses peradangan pada otot sfingter pupil dan terdapatnya
edema irirs. Pada proses radang akut dapat terjadi miopisasi akibat rangsangan badan siliar dan
edem lensa.
Terdapat flare atau efek tyndal didalam bilik mata depan dan bila peradangan sangat akut
maka akan terlihat hifema atau hipopion. Pada non-granulomatosa terdapat presipitat halus pada
dataran belakang korne. Pada irirdosiklitis granulomatosa terdapat presipitat besar mutton fat
deposit, benjolan koeppe (penimbulan sel pada tepi pupil atau benjolan Busacca (penimbulan
sel pada permukaan iris).

Perjalanan penyakit iritis adalah sangat khas yaitu penyakit berlangsung hanya antara 2-4
minggu. Diperlukan pengobatan segera untuk mencegah kebutaan. Pengobatan pada uveitis
anterior adalah dengan steroid. Sikloplegik diberikan untuk mengurangi rasa sakit, melepas
sinekia yang terjadi, memberi istirahat pada iris yang meradang. Pengobatan spesifik diberikan
bila kuman penyebab diketahui.

Penyulit uveitis anterior adalah terbentuknya sinekia posterior dan sinekia anterior perifer
yang akan mengakibatkan glaukoma sekunder, terjadi akibat tertutupnya trabekulum oleh sel
radang atau sisa sel radang.

INTERMEDIATE UVEITIS
Intermediatae uveitis mengenai terutama zona intermediate mata ciliary body, pars
plana, peripheral retina, dan vitreous. Intermediate uveitis disebut juga cyclitis, peripheral
uveitis, atau pars planitis, merupakan inflamasi intraocular yang paling sering terjadi. Tanda khas
dari intermediate uveitis adalah inflamasi vitreous. Intermediate uveitis biasanya bilateral dan
cenderung menyerang pasien pada usia remaja akhir atau dewasa muda. Pria lebih sering terkena
daripada wanita. Gejala yang khas berupa floaters dan pandangan kabur. Nyeri, fotofobia, dan
kemerahan biasanya tidak ada atau minimal, walaupun gejala-gejala ini dapat lebih menonjol
pada onset. Temuan yang paling khas pada pemeriksaan berupa vitritis, biasanya disertai dengan
vitreous condensates, baik free-floating seperti snowball atau layered over the pars plana dan
ciliary body sebagai snowbanking. Inflamasi ringan pada anterior chamber dapat terjadi, tetapi
jika signifikan inflamasi lebih tepat disebut sebagai diffuse uveitis atau panuveitis. Penyebabnya
masih belum diketahui. Komplikasi paling sering meliputi cystoid macular edema, retinal
vasculitis, dan neovaskularisasi dari optic disk. Kortikosteroid terutama digunakan untuk
mengobati cystoid macular edema atau retinal neovascularization.

POSTERIOR UVEITIS

Posterior uveitis meliputi retinitis, choroiditis, retinal vasculitis, dan papillitis, yang dapat terjadi
sendiri atau kombinasi. Gejala biasanya meliputi floaters, kehilangan lapang pandang atau

skotoma, atau berkurangnya visus, yang dapat jadi parah. Retinal detachment, walaupun jarang,
paling sering terjadi pada posterior uveitis dan dapat tractional, rhegmatogenous, atau exudative
in nature.
Hampir seluruh kasus posterior uveitis berhubungan dengan beberapa penyakit sistemik.
Penyebab nya dapat dibagi berdasarkan (1) morfologi lesi, (2) mode of onset dan perjalanan
penyakit, atau (3) asosiasi dengan tanda atau gejala sistemik. Konsiderasi lain adalah usia pasien
dan apakah melibatkan unilateral atau bilateral.
Diagnosis dan Manifestas Klinis
Petunjuk diagnostik dan manifestastasi klinis dari sindrom posterior uveitis yang lebih sering
ditemukan dideskripsikan sebagai berikut :
a

Usia pasien
Pada pasien di bawah 3 tahun, dapat disebabkan oleh retinablasatoma atau leukemia.
Penyebab infeksius meliputi juga congenital toxoplasmosis, toxocariasis, dan infeksi
perinatal karena syphilis, cytomegalovirus, herpes simplex virus,herpes zoster virus, atau
rubella.
Pada usia 4-15 tahun, penyebab terseringnya yaitu toxoplasmosis dan toxocariasis.
Penyebab yang jarang yaitu syphilis, tuberculosis, sarcoidosis, Behet's syndrome, dan VogtKoyanagi-Harada syndrome.
Pada usia 16-50 tahun, diagnosis banding dari posterior uveitis meliputi syphilis,
tuberculosis sarcoidosis, toxoplasmosis, Behcets disease, Vogt-Koyanagi-Harada syndrome,
dan acute retinal necrosis syndrome.
Pada pasien di atas 50 tahun yang menderita posterior uveitis dapat juga menderita
syphilis, tuberculosis, sarcoidosis, intraocular lymphoma, birdshot retinochoroiditis, acute
retinal necrosis syndrome, toxoplasmosis, atau endogenous endophtalmitis.

Laterality

Posterior uveitis unilateral mendukung diagnosis toxoplasmosis, toxocariasis, acute retinal


necrosis syndrome, atau endogenous bacterial atau infeksi jamur.
c Gejala
-

Berkurangnya penglihatan
Berkurangnya tajam penglihatan dapat terjadi pada semua tipe posterior uveitis terutama
pada kejadian lesi macular atau retinal detachment. Setiap pasien harus diperiksa
afferent pupillary defect, yang jika positif, menunjukkan adanya kerusakan saraf retinal
atau optic yang luas..

Injeksi ocular
Kemerahan pada mata jarang terjadi pada posterior uveitis tetapi dapat dilihat pada
diffuse uveitis

Nyeri
Nyeri tidak khas pada posterior uveitis tetapi dapat terjadi pada endophtalmitis, posterior
scleritis, atau optic neuritis, terutama ketika disebabkan oleh multiple scleritis

d Tanda
Tanda yang penting untuk mendiagnosis posterior uveitis yaitu formasi hypopyon, formasi
granuloma, vitritis, morfologi lesi, vaskulitis, perdarahan retina, dan formasi scar.
-

Hypopyon
Kelainan pada posterior segment yang mungkin berasosiasi dengan inflamasi anterior
dan hypopion yaitu syphilis, tuberculosis, sarcoidosis, endogenous endophthalmitis,
Behet's disease, dan leptospirosis. Ketika hal itu terjadi, uveitis lebih tepat disebut
dengan diffuse.

Type of Uveitis

Anterior granulomatous mungkin dapat berasosiasi dengan kondisi yang mempengaruhi


posterior retina dan choroid, meliputi syphilis, tuberculosis, sarcoidosis, toxoplasmosis,
Vogt-Koyanagi-Harada

syndrome,

dan

sympathetic

ophthalmia.

Sedangkan

nongranulomatous anterior uveitis mungkin berasosiasi dengan Behet's disease, acute


retinal necrosis syndrome, intraocular lymphoma, atau white dot syndromes.
-

Glaucoma
Glaukoma

akut

berhubungan

dengan

posterior

uveitis

dapat

terjadi

dengan

toxoplasmosis, acute retinal necrosis syndrome, or sarcoidosis.


-

Vitritis
Posterior uveitis sering berhubungan dengan vitritis, biasanya disebabkan kebocoran
dari inflammatory foci, dari retinal vessels, atau dari optoc nerve head.

Morphology and Location of Lesions


-

Retina target utama dari banyak jenis agen infeksi. Toxoplasmosis merupakan
penyebab tersering retinitis pada host imunokompeten.

Choroid target utama proses granuloma seperti tuberculosis dan sarcoidosis.

Optic nerve optic neuritis dapat terjadi dari syphilis, tuberculosis, sarcoidosis,
toxoplasmosis, multiple sclerosis, Lyme disease, intraocular lymphoma,atau systemic
Bartonella henselae infection

Trauma untuk ekskulsi intra ocular foreign body atau sympathetic ophtalmia, atau
endophtalmitis akut/subakut

Optic Nerve

Mode of Onset
-

Terjadi secara akut dan tiba tiba atau lambat dan insidious. Penyakit pada posterior
segment mata yang cenderung muncul dengan hilangnya penglihatan secara tiba tiba
yaitu toxoplasmic retinochoroiditis, acute retinal necrosis syndrome, and bacterial
endophthalmitis.

PENGOBATAN UVEITIS

Tujuan Pengobatan :
1. Untuk mencegah komplikasi yang mengancam fungsi penglihatan
2. Mengurangi ketidaknyamanan pasien akibat uveitis
3. Jika mungkin, mengobati penyakit yang menjadi penyebab

Empat kelompok obat yang digunakan untuk uveitis :


1. Steroid
a Topikal

Efektif pada uveitis anterior karena belum mencapai belakang lensa. Steroid dalam
bentuk solution penetrasi kornea lebih baik daripada ointment (menyebabkan blurring
vision terutama saat bedtime) atau suspense.
Periokular
Indikasi steroid periokular :
JIka bagian belakang lensa sudah ikut inflamasi.
Uveitis posterior
Uveitis unilateral atau intermediate asimetris
Uveitis posterior bilateral dengan kontraindikasi sistemik atau steroid
Poor compliance pengobatan topical atau sistemik
c Intraokular
d Sistemik
Indikasi :
Sight threatening posterior or panuveitis, terutama jika bilateral.
Anterior uvetits yang resisten dengan pengobatan topikal
2. Antimetabolite
Indikasi : sight threatening uveitis & kontraindikasi steroid
Contoh : azathioprine, MTX, Mycophenolate mofetil
b

3. Cyclosporin