Anda di halaman 1dari 11

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Regio Poplitea
Sendi lutut tersusun oleh berbagai tipe jaringan meliputi ligament, tendon,
kartilago dan tulang. Bagian posterior dari sendi lutut terdapat fossa popliteal. Pada
area anatomis sering berkaitan dengan banyak kondisi klinis sehingga perlu untuk
melihat batas dan isinya. Fossa popliteal merupakan daerah berbentuk diamond yang
dibatasi oleh otot-otot di kompartemen posterior antara betis dan paha. Keempat batas
ini terdiri atas batas superiomedial adalah muskulus semimembranosus; batas
superiolateral adalah muskulus biceps femoris; batas inferiomedial adalah medial
head muskulus gastrocnemius; batas inferiolateral adalah Lateral head muskulus
gastrocnemius dan plantaris. Fossa popliteal juga memiliki dasar dan atap. Dasar
popliteal dibentuk oleh permukaan posterior kapsul sendi lutut, dan permukaan
posterior femur. Atapnya terbuat dari dua lapisan yaitu fasia popliteal dan kulit. Fasia
popliteal bersambung dengan fasia lata betis. Fossa popliteal berisi arteria dan vena
tibialis, nervus tibialis, nervus fibularis.7,8,9,10

Gambar 1. Anatomi Fossa Poplitea


Pada sendi lutut terdapat juga struktur anatomi yang disebut bursa. Bursa adalah
struktur berisi cairan yang terdapat antara kulit dan tendon atau tendon dan tulang.
Fungsi utama dari bursa adalah untuk mengurangi gesekan antara struktur bergerak
yang berdekatan. Bursa pada lutut adalah kantung cairan dan kantong synovial yang
mengelilingi dan kadang-kadang berhubungan dengan rongga sendi. Karena
berdinding tipis dan penuh dengan cairan synovial, merupakan titik lemah sendi juga
dapat menghasilkan pembesaran ke ruang sendri.10,11,12
Bursa pada lutut berdasarkan lokasinya dibagi menjadi anterior, lateral dan
medial. Bursa lutut bagian anterior terdiri atas bursa suprapatellar atau reses antara
permukaan anterior bagian bawah femur dan permukaan dalam dari the quadriceps
femoris; bursa prepatellar antara patella dan kulit; deep infrapatellar bursa antara
11

bagian superior tibia dan ligamentum patella; subkutan infrapatellar bursa antara
ligament patella dan kulit; bursa pretibial antara tuberositas tibialis dan kulit. Bursa
lutut bagian lateral terdiri atas bursa gastrocnemius lateralis (subtendinous) antara
lateral head gastrocnemius dna kapsul sendi; bursa fibula antara ligament kolateral
lateral (fibula) dan tendon bisep femoris; bursa fibulopopliteal antara ligamentum
collateral fibula dan tendon popliteus; resesus subpopliteal antara tendon popliteus
dan kondilus lateral femur.10,11,12,13
Dibagian medial, susunan bursa kompleks. Bursa antara medial head
gastrocnemius dna tendon semimembranosus (bursa semimembranosus) dan biasanya
berhubungan dengan sendi. Bursa diantara tendon semimebranosus dan kondilus
tibialis media dimana bursa ini dapat berhubungan dengan medial head
gastrocnemius. Di region ini juga terdapat bursa antara ligament kolateral medial
(tibialis) dan tendon Sartorius, gracilis, dan semitendinosus/ bursa pes anserine. Bursa
yang bervariasi dalam jumlah dan posisi terletak lebih dalam dari medial head
gastrocnemius diantara kapsula, femur, meniscus medial, tibia atau tendon semi
membranosus. Kadang terdapat bursa di antara tendon semimembranosus dan
semitendinosus.10,11,12,13
Gambar 2 . Anatomi Lutut Regio Posterior dan Medial
B.
Definisi Bakers Cyst
Pada tahun 1840, Adam
pertama kali mendeskripsikan
tentang kista popliteal. Dr.
William Baker pada tahun
1877

mendiskripsikan

pembengkakkan

di

fosa

popliteal dan menyimpulkan


bahwa

temuan

ini

akibat

sekunder dari keluarnya cairan dari sendi lutut. Sejak saat itu namanya secara eponym
digunakan untuk kista popliteal. Bakers cyst didefinisikan sebagai distensi abnormal
berisi cairan dari bursa gastrocnemius-semimembranosus. Kista ini biasanya meluas
ke posterior diantara tendon medial head muskulus gastrocnemius dan muskulus semi

12

membranosus melalui suatu saluran hubungan dengan sendi lutut. Kista paling sering
terdapat di aspek posteromedial lutut. 1,2,5,14,15,16

Gambar 3. Gambaran Bakers Cyst


C. Epidemiologi
Bakers cysts merupakan kejadian yang biasanya terjadi pad aorang dewasa dan
jarang pada anak-anak. Prevalensi Bakers cyst secara signifikan lebih tinggi pada
usia diatas 50 tahun, tanpa kecenderungan untuk ras atau jenis kelamin. Insiden kista
Baker bervariasi tergantung pada kondisi yang berhubungan. Meskipun insidensi dan
prevalensi Bakers cyst bervariasi, kista ini umumnya terjadi sekunder akibat patologi
intra articular lainnya pada pasien dewasa. Pada suatu penelitian dapat diidentifikasi
adanya Bakers cyst 4,7%-37% pada sendi lutut tanpa gejala pada orang dewasa.
Penelitian lain menunjukkan bahwa 42% dari pasien dengan osteroarthritis memiliki
Bakers cyst yang terdeteksi dengan pemeriksaan ultrasonografi. Kista Bilateral
terlihat pada 16% dari pasien tersbut. Hingga 48% pasien rheumatoid arthritis dan
21,7% pasien dengan gout arthritis telah terbukti memiliki Bakers byst.2,3,4
Pada populasi anak, prevalensi Bakers cyst jarang. Rentang prevalensi yang
dilaporkan dari 2,4% dari populasi asimtomatik pada skrining prospektif sampai
6,3% pada pemeriksaan MRI anak-anak dengan nyeri lutut. Pada anak-anak
pembentukan Bakers cyst primer terdapat pada 95% kasus. Bentuk idiopatik
mempengaruhi anak-anak antara usia 2 sampai 14 tahun, dua kali lebih sering pada
laki-laki. Biasanya tanpa gejala, tetapi dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan
keterbatasan gerakan. Pada penelitian yang lain. Bakers cyst sering pada juvenile

13

rheumatoid arthritis, dimana penelitian menunjukkan 61% terdapat kista dan terdapat
hubungan dengan efusi sendi.4,5,6,17,18
D. Klasifikasi
Bakers cyst dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu primer atau
idiopatik dan sekunder. Bakers cyst primer jika distensi bursa semimembranosus
dengan sendi lutut tidak terkait dengan penyakit sendi lain dan tidak terdapat
hubungan antara bursa semimembranosus-gastrocnemius dan rongga sendi lutut.
Bakers cyst sekunder jika terkait dengan penyakit sendi lain dan terdapat hubungan
yang terbuka antara bursa semimembranosus-gastrocnemius dan rongga sendi lutut,
sebagian besar Bakers cyst adalah kista sekunder dan terkait dengan penyakit
degenerative sendi lutut. Kista primer jarang terjadi dan terutama terjadi pada anakanak.7
E. Patofisiologi
Patogenesis timbulnya Bakers cyst pada orang dewasa berkaitan dengan
adanya

saluran

hubungan

antara

sendi

lutut

dan

bursa

gastrocnemio-

semimembranosus, serta berkaitan dengan mekanika cairan. Bursa gastrocnemiosemimembranosus

terletak

diantara

tendon

gastrocnemius

dan

muskulur

semimembranosus dan merupakan gambaran anatomi normal. Bursa ini berhubungan


dengan kapsula sendi lutut melalui celah melintang pada kapsula posterior setinggi
kondulys medial femoralis, dimana tendon gastrocnemius menyatu dengan kapsula
sendi. Celah berbentuk horizontal berukuran 4 sampai 24 mm. hubungan natara bursa
dan kapsula sendi hampir tidak terdapat pada anak-anak, dan terdapatnya celah ini
meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Integritas kapsula sendi menurun sesuai
dengan usia, dna menurut teorinya celah tersebut merupakan akibat dari rupturnya
kapsula sendi karena proses degenerasi. Rauschning mengamati bahwa, ketika tidak
ditemukan celah, telrihat kapsula sendi menipis di daerah yang sama dengan celah
dan Bakers cysts adalah herniasi dari sinovium. Adanya hubungan natara bursa
gastrocnemio-semimembranosus dan kapsula sendi, memungkinkan terjadinya
gerakan cairan synovial diantara dua ruangan telah (diperlihatkan pada srthrography).
Mekanisme seperti katub memungkinakan cairan hanya mengalir searah yaitu dari
sendi ke dalam bursa.2,3,4,6,19
14

Bakers cyst biasanya bukan merupakan kelainan tersendiri, kista ini umumnya
terkait dengan kelainan intra-artikular. Kelainan intraartikuler menyebabkan adanya
efusi sendi yang meningkatkan tekanan dalam ruang sendi. Effuse sendi dan fibrin
dipompa dari sendi lutut ke kista, fibrin berfungsi sebagai katup satu arah yang
memblokir kembalinya efusi ke dalam sendi lutut. Efusi yang terjebak dengan
viskositas normal di dalam kista diserap melalui membrane semipermeable,
meninggalkan konsentrat fibrin. Hal ini menjelaskan sulitnya aspirasi isi kista yang
kental dan lengket tersebut.2,3,4,6,19
Bakers cyst pada anak-anak bisa idiopatik, berkaitan dengan juvenile
rheumatoid arthritis atau hemophilia. Baker cyst pada juvenile rheumatoid arthritis
berkaitan dengan efusi sendi lutut. Masih terjadi kontroversi tentang apakah Bakers
cyst pada anak-anak berhubungan dengan kapsula sendi. Beberapa peneliti meyakini
bahwa kista terjadi karena iritasi bursal primer daripada perluasan abnormalitas
sendi.2,3,4,6
F. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari Bakers cyst bervariasi. Pada anak-anak, kista ini paling
sering merupakan temuan incidental pada pemeriksaan fisik karena tidak bergejala.
Tetapi dapat juga menimbulkan rasa tidak nyaman, gerakan terbatas dan teraba massa
di region popliteal yang nyeri. Presentasi klinis pada pasien dewasa dapat berupa
nyeri samar-samar lutut posterior, pembengkakan atau massa local, dan terasa tegang
di daerah popliteal. Gejala dan temuan fisik lainnya seirng berkaitan dengan kelainan
yang terkait dengan kista, seperti meniscus tear atau arthritis. Pembesaran progresif
dari Bakers cyst dapat menyebabkan gangguan pada fleksi dan ekstensi penuh lutut,
pseudotromboflebitis akibat kebocoran atau rupture dari kista dan deep vein
thrombosis akibat kompresi langsung pada arteri dan vena popliteal.2,5,18
G. Pemeriksaan Radiologi
a. Ultrasonografi (USG)
USG adalah alat pencitraan non-invasif, mudah tersedia, akurat dan hemat biaya
untuk mendiagnosis patologi jaringan lunak di region lutut termasuk Bakers cyst.
USG memungkinkan penilaian jenis lesi, ukuran kista, hubungannya dengan otot
yang berdekatan, tendon, pembuluh darah dan adanya septasi intrakistik.
Kelemahan USG adalah kurang sensitive terhadap lesi intra-artikular sehingga
15

diperlukan pencitraan lebih lanjut untuk mengkonfirmasi adanya kerusakan


internal yang terkait.3,4,7
b. Magnetic Resonance Imaging MRI
MRI dianggap sebagai GOLD standart dalam visulaisasi dan karakterisasi massa
lutut. MRI dapat mengkonfirmasi, sifat unilocular dan kistik dari kista popliteal
jinak; mengevaluasi hubungannya dengan struktur anatomi di sendi dan jaringan
sekitarnya; dan menggambarkan patologi intra-artikular yang terkait. Selain itu,
MRI bersifat non-invasif dan tidka melibatkan paparan radiasi. Pada MRI,
Bakers cyst tampak sebagai massa dengan intensitas sinyal rendah pada T1weighted image, intensitas sinyal menengah pada proton density, dan intensitas
sinyal tinggi pada proton density-weighted fat saturation.3
H. Diagnosis Banding
Diagnosis banding untuk Bakers cyst adalah Ganglion cyst. Ganglion cyst
adalah massa kistik jinak berisi bahan koloid yang dibatasi oleh jaringan ikat padat
tanpa lapisan sinocial disekitar sendi atau tendon sheats. Isi bahan koloid berupa
cairan gelatin yang kaya akan hyaluronic acid dan mukopolisakarida. Ganglion cysts
merupakan lesi akibat dari degenerasi myxoid jaringan ikat yang berkaitan dengan
kapsula sendi dan tendon sheaths. Paling sering di bagian dorsal pergelangan tangan,
tetapi ganglion cysts dapat ditemukan di tempat lain di dalam tubuh, termasuk di
dalam dan sekitar sendi lutut. Jarang ganglion cysts muncul intramuscular.20,21,22
Ganglion cyst dapat tidak memperlihatkan gejala atau dapat menyebabkan nyeri lutut
posterior tidak spesifik dan keterbatasan dalam fleksi. Gambaran USG dari ganglion
adalah tampak sebagai massa anechoic batas tegas dengan dinding tipis atau tebal
bentuk oval atau multilokulated disekitar sendi atau tendon. Kadang-kadang ganglion
cyst kronik mempunyai internal echo sehingga tampak sebagai tumor solid
hipoechois.23,24
I. Terapi
Ada banyak pilihan terapi untuk Bakers cyst, yang ditentukan oleh penyebab
yang mendasari dan kondisi terkait. Kadang-kadang tanpa pengobatan atau tindakan
suportif sederhana menghasilkan resolusi spontan kista atau pengurangan gejala yang
terkait. Jika tidak, teknik invasive minimal dan bedah merupakan alternative terapi.3

16

Aspirasi dipandu USG dengan injeksi kortikosteroid adalah prosedur dengan


risiko relative rendah dan cukup berhasil untuk pengobatan osteoarthritis lutut dengan
Bakers cyst.

Gambar 6. Aspirasi Bakers Cyst dipandu USG


Pada penelitian Acebes et al, pasien dengan osteoarthritis lutut dengan Bakers
cyst yang memperlihatkan gejala disuntik intra-artikuler dengan kortikosteroid setelah
aspirasi kista. Pada follow-up 4 minggu kemudian, peneliti mengamati penurunan
yang signifikan dalam nyeri lutut dan pembengkakan serta penurunan yang signifikan
dalam nyeri lutut dan pembengkakan serta penurunan yang signifikan dalam nyeri
lutut dan pembengkakan serta penurunan yang signifikan dalam ukuran kista. Tetapi
metode ini kurang efektif jika kista merupakan kista kompleks yaitu dengan septasi
atau temuan abnormal lainnya. Dari satu penelitian dikatakan bahwa terlihat tandatand akista kambuh pada pasien pada 6 bulan follow-up. Kista kompleks mungkin
sulit untuk aspirasi dan penyuntikkannya karena adanya septasi dan debris intrakistik
dan ini bisa mengganggu hasil prosedur.3
Metode yang lain untuk terapi adalah sclerotherapy. Metode ini menggunakan
cara mengiritasi/membuat sclerosis dengan memberikan agen sklerosing seperti
etanol, fenol, tetrasiklin, kelompok Streptococcus pyogenes dan lainnya. Dari satu
penelitian disebutkan bahwa ukuran kista menurun secara signifikan pada MRI
setelah lebih dari 7 bulan setelah injeksi serial agen sclerosing (12,5% dekstrosa dan
natrium morrhuate).3
Meskipun terdapat tindakan konservatif dan minimal invasive untuk mengobati
beberapa kondisi yang berhubungan dengan Bakers cyst, tidak semua dapat membaik
tanpa intervensi invasive. Secara historis, eksisi terbuka menimbulkan kekambuhan
sangat tinggi. Eksisi terbuka juga dikaitkan dengan morbiditas dan adanya komplikasi
17

akibat diperlukannya sayatan berbentuk Z atau S di daerah popliteal. Saat ini,


prosedur arthriscopic yang paling sering digunakan untuk mengobati kondisi yang
berhubungan dengan Bakers cyst dan mengatasi kista secara langsung. Pendekatan
lain dengan cara arthroscopic mode standar untuk patologi intra-artikular kemudian
hubungan katup antara sendi dan kista diperbaiki sehingga pada aliran cairannya pada
saluran hubungan antara sendi dan kista menjadi dua arah dan bursa gastrocnemiosemimembranosus menjadi normal. Hasilnya cukup baik dengan mengecilnya ukuran
kista dan terjadi resolusi pada follow-up.3

BAB IV
PENUTUP

Simpulan
Bakers cyst didefinisikan sebagai distensi abnormal berisi cairan dari bursa
gastrocnemius-semimembranosus. Kista ini biasanya meluas ke posterior diantara tendon medial
head muskulus gastrocnemius dan muskulus semi membranosus melalui suatu saluran hubungan
dengan sendi lutut. Kista paling sering terdapat di aspek posteromedial lutut.
Bakers cysts merupakan kejadian yang biasanya terjadi pad aorang dewasa dan jarang
pada anak-anak. Pada anak-anak pembentukan Bakers cyst primer terdapat pada 95% kasus.
Bentuk idiopatik mempengaruhi anak-anak antara usia 2 sampai 14 tahun, dua kali lebih sering
pada laki-laki. Biasanya tanpa gejala, tetapi dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan
keterbatasan gerakan. Pada penelitian yang lain. Bakers cyst sering pada juvenile rheumatoid
arthritis, dimana penelitian menunjukkan 61% terdapat kista dan terdapat hubungan dengan efusi
sendi.

18

Untuk mendiagnosis Bakers Cyst selain dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik dan
anamnesa dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa USG dan MRI adalah gold
standartnya. Diagnosis banding untuk Bakers cyst adalah Ganglion cyst. Ganglion cyst adalah
massa kistik jinak berisi bahan koloid yang dibatasi oleh jaringan ikat padat tanpa lapisan
sinocial disekitar sendi atau tendon sheats.
Ada banyak pilihan terapi untuk Bakers cyst, yang ditentukan oleh penyebab yang
mendasari dan kondisi terkait. Kadang-kadang tanpa pengobatan atau tindakan suportif
sederhana menghasilkan resolusi spontan kista atau pengurangan gejala yang terkait. Jika tidak,
teknik invasive minimal dan bedah merupakan alternative terapi. Aspirasi dipandu USG dengan
injeksi kortikosteroid adalah prosedur dengan risiko relative rendah dan cukup berhasil untuk
pengobatan osteoarthritis lutut dengan Bakers cyst. Pembedahan dapat dilakukan untuk kasus
tertentu yaitu ukuran kista yang membesar, dan mengganggu aktivitas.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ward

EE,

Jacobson

JA,

Sonographic Detection of Bakers

Fessell

DP,

Hayes

CW,

Holsbeeck

MV.

Cysts: Comparison with MR Imaging. Am J

Roentgenol. 2001;176:373-80.
2. Tsang JPK, Yuen MK. Sonography of Bakers Cyst (Popliteal Cyst): the Typical
and Atypical Features. Hong Kong J Radiol. 2011;14:200-6
3. Herman AM, Marzo JM. Popliteal Cysts: A Current Review. Orthopedics. 2014;
37(8): e678-84
4. Alessi S, Depaoli R, Canepari M, Bartolucci F,

Zacchino M, Draghi F. Bakers

cyst in pediatric patients: Ultrasonographic characteristics. Journal of Ultrasound . 2012;


15:76e-81
5. Neubauer H, Morbach H, Schwarz T, Wirth C, Girschick H, Beer M. Clinical Study
Popliteal Cysts in Paediatric Patients: Clinical Characteristics and Imaging Features
on Ultrasound and MRI. Arthritis. 2011
6. Traistaru R, Popescu R, Gruia C, Rogoveanu O. A complex assessment of patients
with knee osteoarthritis and Bakers cyst: observational study. Rom J Morphol Embryol.
2013; 54(3):593601

19

7. Chen CK, Lew HL, Liao RIH. Ultrasound-Guided Diagnosis and Aspiration of Bakers
Cyst. M. J. Phys. Rehabil. 2012; 91 (11): 1002-04.
8. Jones O. The Popliteal Fossa. Available from.2014.
19;

Cit at 2014

2014 Marc

Oct 07} http://teachmeanatomy.info/lower-limb/areas/popliteal-

fossa/
9. ONeill JMD. Musculoskeletal
2008.
10. Sathidevi

{ Last modified

Ultrasound:

Anatomy

and

Technique. Springer.

VK, Rahul UR, Arun KA. Popliteal cyst-a case report. National Journal

of Clinical Anatomy. 2012; 1(3):141-3


11. Chatra PS. Bursae around the knee joints. Indian J Radiol Imaging. 2012; 22(1):
2730.
12. Chhabra A, Cerniglia CA, Bursae, Cysts and Cyst-like Lesions About the Knee. J Am
Osteopath Coll Radiol . 2013; 2:1-17
13. Netter FH. Atlas of human anatomy. 5th Ed. ElsevierInc; 2010.
14. Clark GB. Literature Review: Popliteal (Bakers) Cysts of the Knee. Journal of
prolotherapy, 2010; 2(2): 397-99
15. Seil R, Rupp S, Jochum P, Schofer O, Mischo B, Kohn D. Prevalence of popliteal
cysts in children. A sonographic study and review of the literature. Archives of
Orthopaedic and Trauma Surgery. 1999; 119(1-2): 7375
16. Mertinoli C, Bianchi S. Ultrasound of the Musculoskeletal
Springer. 2007.
17. Maeseneer MD, Debaere C,

Desprechins B,

System. Germany.

Osteaux M. Popliteal cysts in

children: prevalence, appearance and associated findings at MR imaging. Pediatric


Radiology. 1999; 29( 8): 60509
18. Liao ST, Chiou CS, Chang CC. Pathology associated to the Baker's cysts: a
musculoskeletal ultrasound study. Clin Rheumato.2010; 29:1043-47
19. Hayashi D. Roemer FW. Dhina Z. Kwoh CK. Hannon MJ.

Moore C. Et al.

Longitudinal assessment of cyst-like lesions of the knee and their relation to


radiographic osteoarthritis and MRI-detected effusion and synovitis in patients with
knee pain. 2010; 12
20. Garg S, Al-Jabri T,

Mutnal S,

Moftah F. A giant ganglion cyst of the

semimembranosus tendon: a case report. Cases Journal . 2009; 2(8305): 1-3


21. Nicholson LT, Freedman HL. Intramuscular dissection of a large ganglion cyst into
the gastrocnemius muscle. Orthopedics. 2012; 35(7):e1122-4.
22. Perdikakis E, Skiadas V. MRI characteristics of cysts and cyst-like lesions in and
around the knee: what the radiologist needs to know. Insights Imaging 2013;4:257-72
20

23. Rumack CM,

Wilson SR,

J. Charboneau JW,

Levine D. Diagnostic Ultrasound

4th Ed. Mosby, Inc., an affiliate of Elsevier Inc; 2011.Philadelphia


24. Jacobson JA. Musculoskeletal Ultrasound and MRI: Which Do I Choose?. Seminars
in Musculoskeletal Radiology. 2005; 9(2): 135-47

21