Anda di halaman 1dari 18

SOSIOLOGI EKONOMI

Kapitalisme dan Konsumsi di Era Masyarakat Post-Modern

BAB 1
SOSIOLOGI EKONOMI KONTEMPORER DI ERA MASYARAKAT POSTMODERNISME
1. PENDAHULUAN
Gambaran Umum
Bab ini membahas tentang awal mula perkembangan sosiologi ekonomi, tokoh-tokoh
peletak dasar studi sosiologi kontemporer ddi era masyarakat post-modernisme. Didasari
bahwa untuk menjelaskan dan memahami realita dan perilaku ekonomi masyarakat tidaklah
memadai hanya dengan mengandalkan pada ilmu ekonomi atau sosiologi saja, karena ketika
realitas ekonomi makin kompleks, mau tidak mau sosiologi harus menyapa disiplin ilmu
yang lain agar dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif dan kontekstual,
terutama memahami perkembangan perilaku produksi dan konsumsi di masyarakat.
Relevansi
Apa yang dibahas dalam bab ini diharapkan bukan hanya memberikan pengetahuan
kepadda mahasiswa tentang latar belakang dan tokoh-tokoh awal peletak fondasi studi
sosiologi ekonomi, tetapi juga menumbuhkan pemahaman tentang konsep-konsep dasar dan
pergeseran fokus kajian sosiologi ekonomi di era masyarakat post-modernisme.
Bagi mahasiswa yang kelak akan berkecimpung di bidang usaha dan industri,
pengetahuan tentang latar belakang dan perkembangan ruang lingkup kajian sosiologi eonomi
kontemporer ini diharapkan dapat menjadi bkal untuk lebih memahami implementasi
sosiologi ekonomi dalam menyikapi perkembangan perilaku konsumsu masyarakat di era
post-modernisme.
Tujuan Intruksional Khusus (TIK)

Tujuan Instruksional Khusus (TIK) bab ini adalah menjeaskan kepada mahasiswa
latar belakang, tokoh awal sosiologi ekonomi, dan perkembangan studi-studi sosiologi
ekonomi di era kapitalisme lanjut.
PENYAJIAN
Materi
Sosiologi sesungguhnya bukanlah semata-mata ilmu murni (pure science) yang hanya
mengembangkan ilmu pengeahuan secara abstrak demi usaha oeningkatan kualitas ilmu itu
sendiri, namun sosiologi bisa juga menjadi ilmu terapan (applied science) yang menyajikan
cara-cara untuk menggunakan pengetahuan ilmiahnya guna memecahkan masalah praktis
atau masalah sosial yang perlu ditanggulangi (Horton dan Hunt, 1987: 41). Seorang ahli
sosiologi yang melakukan penelitian tentang budaya kemiskinan, perubahan sosial,
kehidupan net generation, masyarakat informasi, konsumerisme, misalnya maka ia boleh
adalah seseorang ilmuan murni yang tengah mengembangkan dan menyusun teori-teori sosial
yang kontekstual. Tetapi, kalau peneliti tersebut kemudian meneruskannya dengan
melakukan studi mengenai bagaimana cara meningkatkan taraf kehidupan keluarga miskin,
bagaimana mencegah agar proses erubahan tidak melahirkan perilaku menyimpang,
bagaimana mencegah agar budaya konsumerisme tidak makin berkembang, dan lain
sebagainya, maka dalam hal ini sosiologi menjadi ilmu terapan. Seorang sosiolog yang
bekerja ditataran praktism ia tidak sekadar meneliti masalah sosial untuk membangun proposi
dan mengembangkan teori, tetapi juga berusaha untuk melakukan perubahan dan
pemberdayaan masyarakat yang menjadi subjek kajiannya.
Sosiologi pada dasarnya bukanlah seperangkat doktrin yang kaku dan selalu menekan
apa yang seharusnya terjadi, melainkan ia adalah semacam sudut pandang baru atau ilmu
yang selalu mencoba menelanjangi realitas: mengungkap fakta-fakta yang tersembunyi di
balik realitas yang tampak. Beberapa ciri sosiologi yang inheren adalah pengakuannya yang
rendah hati terhadap realitas dan sifatnya yang subversif. Sosiologi selalu tidak percaya pada
apa yang tampak sekilas dan selalu mencoba menguak serta membongkar apa yang
tersembunyi (latent) di balik tealitas nyata (manifest) karenassiologi berkeyakinan bahwa
dunia bukanlah sebagaimana tampaknya, tapi dunia yang sebenarnya baru bisa dipahami
jika dikaji secara mendalam dan diinterprestasikan (Berger dan Kellner, 1985: 5).

Kekhususan sosiologi adalah bahwa perilaku manusia selalu dilihat dalam kaitannya
dengan struktur-struktur kemasyarakatan dan kebudaaan yang dimiliki, dibagi, dan ditunjang
bersama (Veeger, 1985: 3). Berbeda dengan matematika, misalnya, yang obyekya mudah
dikenal dan sifatnya pasti-yakni angka-angka, subjek kajian sosiologi paling sulit dimengerti
dan diramalkan karena perilaku manusia merupakan persilangan antara individualitas dan
sosialitas: keduanya saling mengisi dan meresapi. Sosiologi mempelajari perilaku sosial
manusia dengan meneliti kelompok yang dibanngunnya. Kelompok ini mencakup keluarga,
suku bangsa, agama, politik, bisnis, dan organisasi lainnya. Sosiolog mempelajari perilaku
dan interaksi kelompok, menelusuri asal usul pertumbuhannya, serta menganalisis ppengaruh
kegiatan kelompok terhadap anggotanya (Occupational Outlook Handbook, 1980-1981, U.S.
Departmen of Labor 1980: 431). Masyarakat, komunitas, keluarga, perubahan gaya hidup,
struktur sosial, mobilitas sosial, gender, interaksi sosial, dan sebagainya merupakan sejumlah
contoh yang memperlihatkan betapa luasnnya ruang kajian sosiologi.
Sosiolog, dengan demikian bisa dikatakan sebagai ilmu tersendiri, karena ia adalah
disiplin intelektual yang secara khusus, sistematis, dan teandalkan mengembangkan
pengetahuan tentanf hubungan sosial manusia pada umumnya dan tentang produk dari
hubungan tersebut (Hoult, 1969). Dengan kata lain, sosiologi mempelajari tingkah laku
manusia sebagai anggota masyarakat, tidak sebagai individu yang terlepas dari kehidupan
masyarakat. Fokus bahasan sosiologi adaah interaksi manusia, yaitu pada pengaruh timbal
balik di antara dua orang atau lebih dalamm persaan, sikap, dan tindakan. Sosiologi tidak
begitu menitikberatkan pada apa yang terjadi di dalam diri manusia (merupakan bidang studi
psikologi), melainkan pada apa yang berlangsung di antara manusia.
Saat ini, ada banyak definisi resmi mengenai sosiologi. Selo Soemardjan dan
Soeleman Soemardi (1964), misalnya, mendefinisikan sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari struktur soosial dan proses-proses sosial-termasuk perubahan sosial. Struktur
sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah
sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Adapun
proses sosial adalah pengaruh timbal balk antara pelbagai segi kehidupan bersama
(Soemardjan dan Soemardi. 1964: 14). Singkat kata, dapat dikatakan bahwa sosiologi tidak
hanya merupakan suatu kumpulan subdisiplin segala bidang kehidupan bermasyarakat
dengan caranya sendiri. Seseorang yang belajar sosiologi, bukan hanya akan mampu
mengembangkan cara baru untuk memahami apa yang dilihat dan apa yang dia pikirkan

tentang dunia di sekitarnya, tetapi seseorang yang belajar sosiologi juga akan mampu
memahami perubahan yang terjadi pada dirinya sendiri (Macionis, 2012: 2).
Perkembangan Sosiologi
Sosiologi termasuk ilmu yang paling muda dari ilmu-ilmu sosial yang dikenal. Seperti
ilmu yang lain, perkembangan

sosiologi dibentuk oleh setting sosialnya, dan sekaligus

menjadikan setting sosialnya ini sebgai basis masalah pokok yang dikaji. Awal mula
perkembangan sosiologi bisa dilacak pada saat terjadi revolusi Prancis, dan revolusi industri
pada saat terjadi sepanjang abad ke-19 yang menimbulkan kekhawatiran, kecemasan dan
sekaligus perhatian dari para pemikir di waktu itu tentang dampak yang ditimbulkan dari
perubahan dahsyat di bidang politik dan ekonomi kapitalistik di masa itu.
Tokoh yang sering dianggap sebagai Bapak Sosiologi adalah Agust Comte, seorang
ahli filsafat dari Prancis yang lahir tahun 1798. Agust Comte mencetuskan pertama kali nama
sosiology dalam bukunya yang tersohor Positive Philoshopy yang terbit tahun 1838. Istilah
sosiologi berasal dari bahasa Latin socius yang berarti kawan dan bahasa Yunani logos
berarti kata atau berbicara. Jadi, sosiologi berarti berbicara mengenai masyarakat.
Menurut Comte, di dalam hierarki ilmu, sosiologi menempati urutan teratas-diatas astronomi,
fisika, ilmu kimia, dan biologi (Coster, 1977). Pandangan Comte yang dianggap baru pada
waktu itu adalah ia percaya bahwa sosiologi harus didasarkan pada observasi dan klasifikasi
yang sistematis, dan bukan pada kekuasaan serta spekulasi.
Istilah sosiologi menjadi lebih populer setengah abad kemudian berkat jasa Herbert
Spencer-ilmuan dari Inggris yang menulis buku Principles of Sociology (1876). Spencer
menerapkan teori evolusi organik pada masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar
tentang evolusi sosial yang diterima secara luas beberapa puluh tahun kemudian.
Banyak ahli sepakat bahwa faktor yang melatarbeakangi kelahiran sosiologi adalah
karena adanya krisis-krisis yang terjadi di dalam masyarakat. Laeyendecker (1983), misalnya,
mengaitkan kelahiran sosiologi dengan serangkaian perubahan dan krisis yang terjadi di
Eropa Barat. Proses perubahan dan kritis yang diidentifikasi Laeyendecker antara lain:
tumbuhnya kapitalisme pada akhir abad ke-15, perubahan-perubahan di bidang sosial politik,
perubahan berkenaan dengan reformasi Martin Luther, meningkatnya individualisme,
lahirnya ilmu pengetahuan modern, berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri, dan
revolusi industri abad ke-18 serta terjadinya revolusi Prancis. Sosiologi acap kali disebut

sebgai ilmu keranjang sampah (dengan nada memuji), karena membahas ihwal atau
masalah yang tidak dipelajari ilmu-ilmu yang ada sebelumnya dan karena kajiannya banyak
terfokus pada problem kemasyarakatan yang timbul akibat krisis-krisis sosial yang terjadi.
Sejak awal kelahirannya, sosiologi banyak dipengaruhi oleh filsafatsosial. Tetapi,
berbeda dengan filsafat sosial yang banyak dipengaruhi ilmu alam dan memandang
masyarakat sebagai mekanisme yang dikuasai hukum-hukum mekanis, sosiologi lebih
menempatkan warga masyarakat sebagai individu yang relatif bebas. Para filsuf sosial seperti
Plato dan Aristoteles umumnya berkeyakinan bahwa seluruh tertib dan keteraturan dunia dan
masyarakat langsung berasal dari suatu tertib dan keteraturan yang adi-manusia, abadi, tak
terubahkan, dan ahistoris. Sementara sosiologi justru mempertanyakan keyakinan lama dari
para filsuf ini, dan sebagai gantinya muncullah keyakinan baru yang dipandang lebih
mencerminkan realitas sosial yang sebenarnya. Para ahi sosiologi telah menyadari bahwa
bentuk kehidupan bersama adalah ciptaan manusia itu sendiri. Bentuk-bentuk masyarakat,
gejala pelapisan sosial, dan pola-pola interaksi yang berbeda, sekarang lebih dilihat sebagai
hasil inisiatif atau hasil kesepakatan manusia itu sendiri.
Bahwa sosiologi baru memperoleh bentuk dan diakui eksistensinya sekitar abad ke19, tidaklah berarti bahwa baru pada waktu itu orang-orang memperoleh pengetahuan tentang
bagaimana masyatakat dan interaksi sosial. Jauh sebelum Agust Comte memproklamasikan
kehadiran sosiologi, orang-orang telah memiliki pengetahuan akan kehidupannya yang
diperoleh dari pengalaman. Hanya, karena belum terumus menurut metode-metode yang
manta, pengetahuan sosial: bukan pengetahuan ilmuah atau ilmu.
Mengapa pengetahuan sosial tidak bisa digolongkan sebagai ilmu? Berbeda dengan
pengetahuan ilmuah yang bisa diuji kembali kebenarannya, pengetahuan sosial memiliki
sejumlah keterbatasan dan kelemahan. Leonardus Laeyendecker (1983) menyebut ada tiga
keterbatasan dari pengetahuan sosial, yakni: pertama, karena pengetahuan sosial diperoleh
orang dari lingkungannya yang relatif terbatas. Kehidupan masyarakat di luar lingkungan
pergaulannya, mereka sama sekali tidak memahaminya. Kedua, karena pengetahuan sosial
diperoleh secara selektif menurut emosi-emosi dan karakteristik pribadi masing-masing
orang, sehingga besar kemungkinan atau sekurang-kurangnya bukan tidak mungkin muncul
bias. Ketiga, karena pengetahuan sosial acap kali diperoleh secara tidak sengaja, main-main,
dan karenanya kurang dipikirkan secara mendalam dan tidak selalu ditinjau secara kritis.

Perkembangan sosiologi yang makin mantap terjadi tahun 1895, yakni pada saat
Emile Durkheim-seorang ilmual Prancis-menerbitkan bukunya Rules of Sociological Method.
Dalam buku yang melambungkan namanya ini, Durkheim menguraikan tentang perntingnya
metodologi ilmiah di dalam sosiologi untuk meneliti fakta sosial. Durkheim saat ini diakui
banyak pihak sebagai Bapak Metodologi Sosiologi, dan bahkan Reiss (1968), misalnya,
lebih setuju menyebut Emile Durkheim sebagai penyumbang utama kemunculan sosiologi.
Durkheim, bukan saja mampu melambungkan perkembangan sosiologi di Prancis, tetapi ia
juga berhasil mempertegas eksistensi sosiologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan ilmiah
yang memiliki ciri-ciri terukur, dapat diuji, dan objektif.
Menurut Durkheim, tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang disebut sebagai
fakta-fakta sosial, yakni sebuah kekuatan dan struktur yang bersifat eksternal, tetapi mampu
mempengaruhi perilaku individu. Dengana kata lain, fakta sosial merupakan cara-cara
bertindak, berpikir, dan berperasaan, yang berada di luar individu, dan mempunyai kekuatan
memaksa yang mengendalikannnya. Yang dimaksud fakta sosial di sini tidak hanya bersifat
materil, tetapi juga nonmaterial, seperti kultur, agama atau institusi sosial.
Pendiri sosiologi yang lain, Max Weber memiliki pendekatan yang berbeda dengan
Durkheim. Menurut Weber, sebagai ilmu yang mencoba memahami masyarakat dan
perubahan-perubahan yang terjadi di dalamanya, sosiologi tidak semestinya berkutat pada
soal-soal pengukuran yang sifatnya kuantitatif dan sekadar mengkaji pengaruh foktor-faktor
eksternal, tetapi yang lebih penting sosiologi bergerak pada upaya memahami di tingkat
makna, dan mencoba mencari penjelasan pada faktor-faktor internal yang ada di masyarakat
itu sendiri. Pada batas-batas tertentu, Weber dengan demikian mengajak para sosiolog keluar
dari pikiran-pikiran ortodoks yang acap kali terlalu menekankan ada byektivitas dan
kebenaran eksklusif, dan secara terbuka mengajak untuk mengakui relativitas interpretasi.
Secara subtansial, pendekatan yang ditawarkan Weber memang berbeda dengan
Durkheim.Tetapi, justru karena hal itulah perkembangan sosiologi kedepan tidak pernah
stagnan, apalagi mati. Sebagai sebuah ilmu yang relatif baru, perkembangan sosiologi justru
selalu mencoba mencari bentuk dan memperbaiki berbagai kekurangan yang ada.
Memasuki abad ke-20, perkembangan sosiologi mekin variatif. Dipelopori tokohtokoh ilmu sosial kontemporer, terutama Anthony Giddens, fokus minat sosiologi dewasa ini
bergeser dari stuctures ke agency, dari masyarakat yang dipahami terutama sebagai
seperangkat batasan eksternal yang mmbatasi bidang pilihan yang bersedia untuk anggota-

anggota masyaraka tersebut, dan dalam beberapa ha menentukan perilaku mereka, menuju ke
era baru: memahami latar belakang sosial sebagai kumpulan sumber daya yang diambil oleh
aktor-aktor untuk mengejar kepentingan mereka sendiri.
Sosiologi sampai pada taraf yang belum pernah terjadi sebelumnya, dimana kini
sosiologi telah menerima pandangan hermeneutika, menekankan bahwa realitas sosial secara
intrinsik adalah bermakna (diberi makna oleh aktor yang memproduksinya), dan bahwa untuk
memahami realitas tersebut maka seseorang harus merekonstruksi makna yang diberikan
aktor tersebut (Buman, dalam: Kuper & Kuper Eksiklopedia Ilmu-Ilmu Sosial, 2000: 1030).
Di era tahun 2000-an ini, perkembangan sosiologi semakin mantap dan kehadirannya
diakui banyak pihak memberikan sumbangan yang sangat penting bagi usaha pembangunan
dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Bidang-bidang kajian sosiologi juga terus berkembang
makin variatif dan menembus batas-batas disiplin ilmu lain. Horton dan Hunt (1987),
misalnya mencatat sejumlah bidang kajian sosiologi yang saat inni telah dikenal dan banyak
dikembangkan. Beberapa di antaranya: sosiologi terapan, perilaku kelompok, sosiologi
budaya, perilaku menyimpang, sosiologi industri, sosiologi kesehatan, metodologi dan
statistik, hukum dan masyarakat atau sosiologi hukum, sosiologi politik, sosiologi militer,
perubahan sosial, sosiologi pndidikan, sosiologi perkotaan, sosiologi pedesaan, sosiologi
agama, dan sosiologi ekonomi. Di tahun-tahun berikut, seiring dengan perkembangan
masyarakat yang semakin kompleks, bisa diramalkan bahwa perkmbangan sosiologi juga
akan makin beragam dan makin penting. Ferris dan Stein (2008) dalam bukunya The Real
World, An Introduction to Sociology menyatakan bahwa bidang kajian sosiologi tidak lagi
sebatas hanya mengenai kelompok, interaksi sosial, dan stratifikasi sosial, tetapi juga
mengkaji persoalan perubahan sosial, perkembangan, teknologi dan dampaknya terhadap
kehiidupan sehari-hari masyarakat modern atau post-modern.
Kemunculan Sosiologi Ekonomi
Fenomena dan aktivitas ekonomi yang berkembang di masyarakat, seperti aktivitas
produksi, pengolahan, pemasaran dan berbagai lembaga perekonomian yang ada,
sesungguhnya sudah sejak lama menjadi fokus perhatian sosiologi klasik. Tokoh-tokoh
sosiologi klasik, seperti Karl Marx, Max Weber, dan Emile Durkheim telah jauh-jauh hari
menaruh perhatian pada keterkaitan ekonomi dengan kelas sosial, agama, birokrasi dan
aspek-aspek sosial lainnya.. Namun demkian, perhatian sosiologi terhadap persoalan dan

fenomena cenderung menurun selama abad ke-20 dan baru mulai kembai muncul di era
kebangkitan perkembangan sosiologi Marx dan Weberian pada tahun 1970-an. Berbeda
dengan kelompok utilitarianusme yang memahami individu sebagai makhluk yang cenderung
memaksimalkan kepentinfan materialnya sendiri secara rasional, Marx, Weber, dan
Durkheim justru menegaskan adanya sifat-sifat sosial dari kehidupan ekonomi. Aktivitas
ekonomi bukanlah realitas sosial yang soliter dan hanya berkaitan dengan transaksi jual beli
barang yang menekankan untung rugi semata, melainkan di dalamnya juga bertali temali
dengan aspek-aspek yang kompleks.
Dalam studi-studi ilmu sosial, kebangkitan dan puncak perkmbangan sosiologi
ekonomi terjadi sekitar 11980-an, dan di tahun ii lahirlah sosisologi ekonomi baru (new
economic sociology) yang tidak hanya enaruh perhatian pada aspek produksi dan kehidupan
di dunia industri, namun menaruh perhatian pada persoalan sosial ekonomi yang makin luas.
Salah satu tokoh yang terkenal pada 1980-an adalah Mark Granovetter. Granovetter (1985)
dalam artikelnya yang terkenal Economic Action and Social Struktur, mengenalkan istilah
pelekatan dan dengan antusias mendukung penggunaan analisis jaringan dalam sosiologi
ekonomi (Turner, 2012: 618).
Di era 1980-an, arus utama kajian sosiologi ekonomi banyak di pengaruhi
Granovetter, dan berfokus pada tiga konsep penting, yaitu pelekatan, jaringan, dan konstruksi
sosial ekonomi. Tetapi, di luat Amerika, tepatnya di Prancis lahir pemikir baru yang
dipelopori Pierre Bourdieu (2000), yang memiliki penekanan dan pendekatan yang lebih
struktural terhadap fenomena ekonomi. Dengan konsep-konsepnya yang menarik, seperti
habitu, ranah, kepentingan dan modal, Bourdieu tidak terlalu tertarik pada bagaimana
ekonomi pemerintah bekerja, melainkan ia lebih tertarik pada bagaimana manusia menjalani
hidupnya sebagai bagian dari ekonomi, yang berjuang dan melawan struktur ekonomi yang
ada (Turner, 2012: 619).
Dalam satu dekade terakhir, sosiologi ekonomi baru makin berkembang pesat dan
merambah wilayah kajian yang sangat luas, yang meliputi banyak fenomena ekonomi yang
subtantif. Dalam perkembangan sosiologi ekonomi baru nyaris semua aspekk aktivitas
ekonomi di kaji, baik di tingkat individu, kelomppok, komunitas, dan kelembagaan. Sosiologi
organisasi, padar dan lembaga ekonomi lainnya, konsumsi dan waktu luang, isu-isu makro
seperti perkembangan kapitalisme, analisis komparatif sistem perekonomian, dan dampak

perekonomian terhadap kebudayaan dan agama merupakan beberaoa wilayah kajian sosiologi
ekonomi baru yang terus berkembang hingga sekarang (Abercrombie et al., 2010: 172)
Sebagai bagian dari ilmu sosial, sosiologi umumnya menyadari bahwa untuk
menjelaskan dan memaami realitas sosial ekonomi yang terjadi di masyarakat tidaklah cukup
hanya dengan megandalkan teori-teori sosiologi klasik, Mau tidak mau, sosiologi harus
menyapa disiplin ilmu yang lain, termasuk ilmu ekonomi. Ketika sosiologi dan ilmu ekonomi
masing-masing menyadari bahwa tidak selalu mampu atau bahkan gagal menjelaskan
dampak perkembangan kapitalisme, berbagai fenomena sosial ekonomi yang terjadi di
masyarakat modernn, gaya hidup dan perilaku konsumsi masyarakat, maka sejak itu pula
mulai tumbuh kesadaran untuk menyapa disiplin ilmu yang lain. Sosiologi ekonomi pada
awalnya adalah bidang keilmuan yang mencoba mengaplikasikan perpekstif sosiologi untuk
memahami realitas ekonomi (Smelser dan Swedberg, 1984: 3). Lebih dari sekadar persoalan
produksi dan pemasaran, dalam aktivitas dan fenomena ternyata di sana bertali temali dengan
aspek-aspek sosial yang kompleks: kelas sosial, gaya hidup, alienasi, anomi, dan lain-lain.
Sosiologi ekonomi secara sederhana didefinisikan sebagai studi tentang bagaimana
cara orang, kelompok atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka terhadap jasa dan
barang langka, dengan menggunakan pendekatan sosiologi (Damsar, 1997: 9). Cara yang
dimaksud ddi sini berkaitan dengan semua aktivitas orang, kelompok dan masyarakat yang
berhubungann dengan proses produksi, distribusi, pertukaran dan onsumsi jasa dan barangbarang langka. Sementara itu, Richard Swedberg (2012) mendifinisikan sosiologi ekonomi
sebagai bagian dari sosiologi yang membahas dan menganalisis fenomena ekonomi, dengan
bantuan konsep-konsep dan metode sosiologi (Turner, 2012 615).
Berbeda dengan ilmu ekonomi yang memandang perilaku atau tindakan ekonomi
yang dilakukan aktor bersifat rasional, yakni selalu bertujuan untuk memaksimalkan
pemanfaatan bagi para individu dan memaksimalkan keuntungan bagi para pemilik
perusahaan, sosiologi ekonomi justru memandang tindakan ekonomi tidak sealu bersifat
rasional, tetapi bisa bersifat spekulatif-rasional, bahkan tradisional. Dalam kajian sosiologi
ekonomii, tindakan ekonomi dipahami dalam konteks hubungannya dengan aspek sosial
budaya masyarakat, dan bukan atau tidak dipahami seperti pemikiran Bapak Kapitalisme
Adam Smith yang memahami tindakan ekonomi manusia senantiasa rasional-kalkulatif.
Dalam bukunya yang terkenal, The Wealth of Nations (1776), Adam Smith menyatakan
bahwa pada dasarnya tindakan manusia didorong oleh tanganyang tak terliha (the invisible

hand) untuk melakukan pekerjaan yang ditujukan untuk mendapatkan keuntungan bagi
dirinya.
Sebagai seorang ekonom yang mendukung arti penting liberalisme dan pasar bebas,
Adam Smith meyakini bahwa perilaku ekonomi manusia senantiasa mempertimbangkan
untuk rugi, kalkulatif, dan manusia cenderung baru akan mengonsumsi sesuatu jika barang
atau jasa yang ditawarkan di pasar benar-benar sepadan dengan pekerjaan atau uang yang
mereka keluarkan. Sementara itu, sosiologi ekonomi meyakini bahwa perilaku ekonomi
manusia acap kali justru tidak hanya mempertimbangkan untuk rugi, tetapi yang lebih
penting adalah bagaimana konstruksi sosial masyarakat yang bersangkutan dalam
memandang arti penting atau fungsi sbuah barang dan jasa.
Seseorang yang meyakini bahwa memakai tas merek tertentu akan menaikkan
gengsinya di mata orang-orang di lingkungan sosialnya, maka jangan heran jika ia bersedia
mengeluarkan dana hingga sekadar untuk membayar sebuah tas di plaza terkennal di luar
negeriang mode, ukuran, dan fungsinya tak beda dengan tas tak bermerek yang bannyak
dijual di pasar-pasar murah. Seseorang, bisa pula membeli tas atau produk-produk industri
budaya yang lain, dalam jumlah yang sebetulnya sudah tidak lagi dibutuhkan, menjadi
pemboros dan konsumen yang seolah tidak pernah puas untuk terus mengonsumsi berbagai
produk keluaran terbaru. Untuk menjelaskan denomena seperti inilah, jelas tidak mungkin
hanya mengandalkan pada ilmu ekonomi atau sosiologi saja, karena fenomena seperti ini bisa
dipahami jika dikaji dengan menggunakan ilmu yang saling melengkapi, yaitu sosiologi
ekonomi.
Tokoh-tokoh Awal Perkembangan Sosiologi Ekonomi
Tokoh-tokoh sosiologi ekonomi awal yang banyak berperan dalam perkembangan
sosiologi ekonomi adalah Karl Marx (1818-1883), Max Weber (1864-1920), dan Emile
Durkheim (1858-1917). Ketiganya dikenal bukan hanya sebagai tokoh penting dalam
perkembangan ilmu sosial pada umumnya, tetapi mereka juga disebut-sebut sebagai peletak
fondasi dasar dan memberikan konstribusi konsep-konsep penting dalam perkembangan
sosiologi eknomi.
Karl Marx (1818-1883)

Karl Marx adalah salah satu teoretisi sosial yang banyak memberikan sumbanngan
konseptual dan fondasi bagu perkembangan sosiologi ekonomi. Dalam pandangan Marx,
modernitas identik dengan perkembangan ekonomi kapitalis. Meski Marx mengakui berbagai
keberhasilan dan kemajuan yang dicapai dalam era ekonomi kapitalis di bidang produksi,
tetapi dalam buku-buku yang ditulisnya Marx acap kali melontarkan kritik yang tajam tentanf
cacat dan efek samping yang ditimbulkan perkembangan ekonomi kapitalis. Perkembangan
sistem ekonomi yang digerakkan kepentingan meraih laba sebesar-besarnya oleh kaum
borjuis, dinilai Marx telah melahirkan alineasi dan eksploitasi yang merugikan kelas buruh
atau pekerja yang terpaksa harus menerima nasib memperoleh upah yang rendah dan tidak
sesuai dengan nilai lebih yang mereka hasilkan.
Kapitalisme, di mata Marx adalah suatu struktur, atau lebih akuratnya serangkaian
struktur, yang mendirikan penghalang antara seorang individu dan proses produksi, produk
dari proses itu, dan orang-orang lain (Ritzer, 2012: 41). Pada akhirnya, kapitalisme bahkan
memecah-mecah diri individu itu sendiri, sehingga terjadilah apa yang disebut alienasi.
Kerusakan hubungan antarmanusia dan benda yang dihasilkan, terjadi karena kapitalisme
telah berevolusi menjadi sistem dua kelas yang eksploitatif di mana di satu sisi ada kelas
proletar yang tidak memiliki aset produksi dan tak pua memiiki modal, sedangan di sisi lain
ada sekelompok kecil kelas borjuis yang menguasai aset, modal, dan juga menentukan serta
mensubordinasi tenaga kerja yang berasal dari kelas proletar.
Marx menyatakan basis kelas sosial masyarakat di era kapitalisme terletak pada
hubungan produksi dalam ekonomi (relations of production). Mereka yang memiliki dan
mengontrol sarana produksi dan mampu mengambil produk itu membentuk sebuah kelas
borjuis yang berkuasa, sedangkan mereka yang hanya tergantung pada kerja mereka sendiri
membentukk kelas yang lain. Di era kapitalisme, eksistensi tenaga kerja umumnnya
mengalami distorsi dari proses kerja, terutama ketika tenaga kerja menjadi komoditas. Marx
secara lebih perinci menyatakan bahwa dalam lingkungan kerja dan hubungan produksi,
tenaga kerja yang ada umumnya akan mengalami alienasi atau keterasingan, yaitu manusia
terasing dari objek yang dihasilkan, dari proses produksi, dari dirinya sendiri, dan terasing
dari komunitas atau kelompok sosialnya.
Menurut Marx, setiap komoditas sebetulnya memiiki nilai guna komoditas, yakni
ketika barang-barang yang diproduksi digunakan sendiri atau digunaan orang lain untuk
betahan hidup. Tetapi, dalam era kapitalisme, setiap komoditas yang sengaja dihasilkan untuk

dijual ke pasar, produk-produk tersebut tidak hanya memiliki nilai guna, namun juga
memiliki nillai tukar.
Di era kapitalisme, sering terjadi masyarakat yang menghasilkan produk-produk
industri budaya, kemudian produk itu justruu dipuja sendiri oleh masyarakat yang
menghasilkannya layaknya dewa-dewa. Marx menyebut proses ini sebagai pemberhalaan
komoditas (feteshism of comodity). Masyarakat memperlakukan komoditas yang dipuja,
diburu, dan melahirkan fanatisme yang acap kali berlebihan-yang kemudian diikuti dengan
kemunculan kelas konsumen yang cenderungberlebihan.
Kajian dan pemikiran Karl Marx diakui atau tidak telah memberikan sumbanngan
terbesar bagi perkembangan sosiologi ekonomi. Sejumlah teoretisi Marxis dan neo-Marxis,
seperti Anthonio Gramsci dan beberapa teoretisi dari Mazhab Frankfurt, meski tidak lagi
berpikir deterministik seperti Marx, tetapi mereka umumnya banyak berutang pada Marx
dalam mengembangkan fokus kajian tentang masyarakat dan perilaku ekonomi di era
kapitalisme lanjut. Menurut teoretisi neo-Marxian, kelangsungan kapitalisme tidak lagi hanya
mengandalkan pada dukungan modal dan penguasaan aset produksi, tetapi lebih disebabkan
oleh kontrol ideologis yang dilaksanakan oleh kelas borjuis atau para pelaku industri budaya.
Max Weber (1864-1920)
Teori sosiologi ekonomi Weber mendasarkan diri pada pemahaman interpretatif
(verstehen) tentang tindakan sosial. Menurut Weber, tindakan sosial adalah makna subjektif
tindakan individu (aktor). Suatu tindakan disebut tindakan sosial jika diperhitungkan oleh
orang lain dalam masyarakat. Menurut Weber, ada empat tipe tindakan sosial. Pertama,
tindakan tradisional, yaitu tindakan yang tidak berdasarkan pemikiran, melainkan hanya
karena tradisi dan kebiasaan. Kedua, tindakan afektif, yaitu tindakan yang berdasarkan emosi
atau motif sentimental. Ketiga, tindakan berorientasi nilai (wertrational) atau sering disebut
rasionalitas niai adalah tindakan yang berorientasi pada tujuan, tetapi mungkiin bukkan
pilihan rasional. Keempat, tindakan rasional instrumental, yaitu perilaku yang berorientasi
pada pencapaian tujuan yang didasarkan pilihan rasional.
Di mata Weber, modernitas identik dengan rasionalitas, karena di masyarakat modern
semakin ditandai dengan banyaknya tindakan yang rasional instrumental. Rasionalitas adalah
dasar dan trend utama dalam masyarakat kapitalis Barat. Rasionalisasi merupakann proses di
mana setiap wilayah hubungan manusia akan mengalami kalkulasi dan administrasi. Berbeda

dengan aum Marxist yang mencatat keutamaan penghitungan rasional, disiplin pabrik dan
proses kerja, Weber menemukan rasionalisasi dalam semua bidang sosial, politik, agama,
organisasi ekonomi, administrasi universitas, laboratorium, dan bahkan notasi.
Perluasan rasionalitas formal, menyebutkan masyarakat menjadi makin terpenjara
oleh kerangka besi rasionalitas, yang ujung-ujungnya menyebabkan mereka tidak lagi
mmampu mengungkapkan karakteristik manusia yang manusiawi.
Sebagai pelopor sosiologi modern, Weber menollak klaim-klaim positivisme dan
menyatakan Marxisme tidak memiliki dasar yang jelas. Menurut Abercrombie et al. (2010:
613), sosiologi yang dikembangkan Weber dicirikan oleh derita metafisika, yang dengannya
proses rasionalisasi akhirnya mengubah masyarakat kapitalis menjadi kurungan besi tanpa
makna. Sekali lagi, berbeda dengan Karl Marx yang berfokus pada faktor-faktor ekonomi dan
efeknya pada ide, Weber justru mencurahkan perhatiannya pada ide-ide dan bagaimana
efeknya pada ekonomi. Dalamm bukunya yang terkenal, The Protestant Ethic and the Spirit
of Capitalism (1904-1905, 1958), Weber memperlihatkan bagaimana etika Protestan sebagai
sebuah ide memengaruhi munculnya semangat kapitalisme yang kemudian melahirkan
ekonomi kapitalisme.
Weber menemukan bahwa teologi Prostetan, terutama sekte Calvinis, mendorong
orang untukk melakukan aktivitas keduniaannya secara rasional di satu sisi, dan di sisi lain
etika tersebut juga mendorong orang untuk mewujudkan kehidupan yang asketik-sederhana,
rajin beribadah, dan hidup hemat. Sikap hidup ini dikembangkan masyarakat untuk
memperoleh perkenan Tuhan, sehingga mereke merasa menjadi insan yang memang dipilih
uhan. Kerja, bagi para penganut etika Prostetan dilakukan karena dianggap sebagai calling
atau tugas suci dari Tuhan. Para penganut Calvinis yakni bahwa hidup harus diupayakan
melalui kerja keras, dan mereka yakin bahwa hidup memang harus didedikasikan kepada
efisiensi dan rasionalitas agar kerja manusia menjadi maksimal sebagaimana dikehendaki
Tuhan.
Emile Durkheim (1858-1917)
Emile Durkheim adalah sosiologi yang menekankan perspektif kolektivisme dalam
seluruh analisis sosiologinya. Bagi Durkheim, pencapaian kehidupan sosial manusia dan
eksistensi keteraturan sosial dalam masyarakat atau yang ia sebut solidaritas sosial
diwariskan dan dimantapkan melalui sosialisasi (Jones. 2009: 45).

Durkheim menolak pandangan kelompok utilitarian yang menyatakan bahwa


individualisme bisa menjadi dasar kestabilann masyarakat. Modernitas di mata Durkheim
identik dengan munculnya solidaritas organik dan melemahnya hati nurani kolektif.
Meskipun solidaritas organik membawa serta kebebasan yang lebih besar dan produktivitas
yang lebi tinggi, tetapi modernitas dalam penilaian Durkheim juga menyebabkan
melemahnya moralitas dan melahirkan situasi yang anomi.
Ketika suatu masyarakat terindustrialisasi, terurbanisasi, dan menjadi kian kompleks,
pembagian kerja (division of labor) yang muncul, menurut Durkheim cepat atau lambat akan
menghancurkan solidaritas mekanis dan integrasi mora hingga memperburuk tatanan sosial
(Abercrombieet al., 2010: 166). Ketika manusia merasa bahwa tiada lagi panduan moral bagi
perilaku orang di masyarakat, maka yang terjadi adalah penurunan kekuatan collective
conscience, yang ujung-ujungnya bukan tidak mungkkin akan memicu timbulnya aksi bunuh
diri.
Sosiologi Ekonomi di Era Masyarakat Post-Modernisme
Sosiologi ekonomi kontemporer selain berasumsi bahwa tindakan individu dalam
bidang ekonomu dipengaruhi oleh ikatan sosial, juga berasumsi bahwa yang namanya
tindakan ekonomi tidak selalu rasional-kalkulatif, dan tidak lepas dari konteks struktur sosial
dan kebudayaan di mana masyarakat hidup. Berbeda dengan ilmu ekonomi yang lebih fokus
mengkaji dinammika pasar dan kondisi perekonomian, sosiologi ekonomi kontemporer lebih
menitikberatkan kaian pada persoalan bagaimana kekuatan industrik budaya memengaruhi
konsumen agar terus mengonsusi produk-produk yang mereka tawarkan, termasuk di
dalamnya isu-isu tentang perekembangan kaitalisme, proses komodifikasi, perilaku
konsumsi, gaya hidup, dan berbagai isu yang berkaitan dengan perubahan sosial bidaya yang
terjadi di era masyarakat post-industrial.
Keharian sistem perekonomian fastfood, McDonallisasi, fenomena merebeknya
penggunaan kartu kredit sebagai uang plastik yang memudahkan dan meningkatkan perilaku
konsumtif konsumen, proses komodifikasi, perkembangan gaya hidup masyarakat postmodern, perkembangan budaya konsumen, dan lain sebagainya adalah tema-tema yang acap
kali diperbincangkan dalam kajian sosiologi ekonmi kontemporer. Dua perkembangan atau
pergeseran paling menonjol yang terjadi di era masyarakat post-modernisme antara lain:
Pertama, terjadinya pergeseran dari persoalan produksi ke konsumsi. Kedua, terjadinya fokus

kaitalisme dari pengeksploitasian pekerja ke pengeksploitasian konsumen (Ritzer, 2010: 72375). Sosiologi ekonomi kontemporer menyadari bahwa masalah sosial yang muncul di era
kapitalisme lanjut bukan lagi soal eksploitasi dan alienasi buruh, melainkan bagaimana
kekuatan kapitalis memainkan dominasinya melalui penjajahan kultural, menghegemoni, dan
bagaimana caranya memanipulasi hasrat konsumen.
Di era kapitalisme lanjut, diakui atau tidak perkembangan kekuatan industri budaya
benar-benar telah mencapai taraf yang nyari tak terkendali. Ritzer (2010) mencatat, beberapa
perubahan dalam masyarakat dalam masyarakat post-modernisme yang merusak konsumen
antara lain:

Pertama,

pertumbuhan kartu

kredit

yang menyebabkan masyarakat

membelanjakan uang lebih banyak daripada semestinya dan melebihi uang persediaan yang
ada. Sering terjadi, karena difasilitasi kepemilikan kartu kredit yang mudah, konsumen acap
kali membeli sesuatu yang tidak diperlukan, dan bahkan barangkali tidak mereka inginkan.
Kedua, perkembangan shopping mall yang menjamur di berbagai sudut kota, bukan hanya
mendemonstrasikan kemunculan tanpa henti produk-produk industri budaya terbaru, tetapi
juga menawarkan sekaligus membujuk konsumen untuk membeli sesuatu yang tidak mereka
butuhkan. Ketiga, perkembangan jaringan TV shopping dan cyber mall yang memberi
kesempatan masyarakat dapat berbelanja setiap waktu, 24 jam sehari, tujuh hari dalam
seminggu, yang dengan cara demikian meningkatkan kemungkinan konsumen untuk
membelanjakan uang mereka lebih daripada yang semestinya. Keempat, adannya berbagai
katalog yang menawarkan produk-produk industri budaya dengan berbagai variasi
memungkinkan masyarakat membeli produk dari mana saja di dunia, dan mereka dibujuk
untuk membeli produk yang sebetulnya tidak diperlukan.
Tidak ada satu pun aspek kehidupan masyarakat di era post-industrial yang tidak
terkontaminasi dan bisa lepas dari pengaruh kapitalisme. Bahkan, kehidupan umat beragama
yang seharusnya jauh dari pengaruh kapitalisme, sering terjadi tidak pula bisa steril dari
pengaruh kekuatan kapitalisme. Wisata umrah, kegiatan naik haji yang secara khusus
ditawarkan dalam paket istimewa yang melibtkan pendamping artis, misalnya merupakan
salah satu contoh yang memperlihatkan bagaimana gaya hidup dan kosumerisme pun telah
berhasil merambah dan menjadikan ritus-ritus keagamaan sebagai batu pijakan untuk mencari
keuntungan lebih di sektor ini. Di sisi lain, kemiskinan dan penderitaan, aktivitas seksual,
pornoografi, dan lain sebagainya, di era post-industrial tak jarang juga mengalami proses
komodifikasi, dan menjadi bagian dari kemasan budaya populer yang dikemas dan

dipertontonkan untuk tujuan meraih keuntungan. Acara televisi seperti tayangan Bedah
Rumah, Seandainya Aku Menjadi..., dan sejenisnya merupakan acara-acara tayangan
televii yang bukan hannya sukses menguras air mata, tetapi juga sekaligus menghasilkan
keuntungan bagi produsennya.
Realitas sosial ekonomi di era masyarakat post-modernisme makin berkembang,
proses komodifikasi makin meluas, dan bahkan perilaku konsumsi masyarakat telah
mencapai tingkat akselerasi perkembangan yang tidak lagi bisa dikendalikan, karena
dukungan dan pertumbuhan teknologi informasi yang luar biasa. DI era masyarakat postindustrial, masyarakat bukan hanya makin familiar dengan gadget, tetapi juga makin familiar
dengan kehidupan dan interaksi sosial di dunia cyberspace-sebuah ruang halusinasi yang
tercipta dari jaringan data-data komputeryang digunakan sebagai saluran komunikasi
antarmanusia dalam skala global (Pilliang, 2009: 366). Di era masyarakat informasi,
masyarakat tidak hanya bisa mengonsumsi produk industri budaya melalui pemesanan via
internet, tetapi produk budaya acam apa yang dibeli dan dikonsumsi di internet dan juga
stimulasi dari apa yang ditawarkan budata populer.
Sebagai sebuah bidang kajian, sosiologi ekonomi di era post-modernisme boleh dikata
telah menemukan ladang persemian tema yang seolah tak terbatas, dan era ini tidaklah keliru
jika dikatakan sebagai era kebangkitan sosiologi ekonomi kontemporer. Dikatakan sebagai ra
kebangkutan sosiologi ekonomi kontemporer. Dikatakan kontemporer, karena realitas
sosialekonomi yang menjadi fokus kajian tidak lagi berkaitan dengan kehidupan masyarakat
post-modern di mana yang namanya kenyataan dan halusinasi sudah tidak lagi dapat
dibedakan. Era post-industrial, post-modernisme, atau era kapitalisme lanjut, adalah era yang
melahirkan berbagai persoalan baru yang berkaitan dengan konsumsi dan gaya hidup, dan
bagi sosiologi ekonomi hal ini merupakan tantangan baru yang menarik untuk dikaji dan
dipecahkan.
Rangkuman
Tokoh-tokoh sosiologi awal yang banyak berperan dalam perkembangan sosiologi
antara lain Karl Marx (1818-1883), Max Weber (1864-1920), dan Emile Durkheim (18581917). Ketika dikenal bukan hanya sebagai tokoh penting dalam perkembangan ilmu sosial
pada umumnya, tetapi mereka juga disebut-sebut sebagai peletak fondasi dasar dan
memberikan konstribusi konsep-konsep penting dalam perkembangan sosiologi ekonomi.

Dalam perkembangan ilmu sosial, kebangkitan dan puncak perkembangan sosiologi


ekonomi terjadi sekitar tahun 1980-an, dan di tahun ini lahirlah ssiologi ekonomi baru (new
economic sociology). Kehadiran sistem perekonomian fastfood, McDonalisasi, fenomena
merebaknya penggunaan kartu kredit sebagai uang plastik yang memudahkan

dan

meningkatkan perilaku konsumtif konsumen, proses komodifikasi, perkembangan gaya hidup


masyarakat post modern, perkembagan budaya konsumen, dan lain sebagainya adalah tematema yang acap kali diperbincangkan dalam kajian sosiologi ekonomi kontemporer. Dua
perkembangan atau pergeseran paling menonjol yang terjadi di era masyarakat post-industrial
yaitu: Pertama, terjadinya pergeseran dari persoalan produksi ke konsumsi. Kedua, terjadinya
pergeseran fokus kapitalisme dari pengeksploitasian pekerja ke pengeksploitasian konsumen
(Ritzer, 2010: 372-375).
Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Anda terhadap materi di atas, kerjakan latihan
berikut:
1.

Identifikasi kembali apa perbedaan ilmu ekonomi dan sosiologi.

2.

Coba Anda sebutkan dan jeaskan pemikiran Marx, Weber, dan Durkheim yang
relevan dengan studi-studi sosiologi ekonomi.

3.

Coba Anda jelaskan kembali ruang lingkup kaijan sosiologi ekonomi kontemporer.

4.

Sebutkan dua perkembangan yang paling menonjol dari kemunculan masyarakat postindustrial.

PENUTUP
Tes Formatif
1.

Menurut Anda, di mana letak kegagalan ilmu ekonomi dalam menjelaskan dan
memahami perilaku ekonomi masyarakat di era post-industrial? Jawaban Anda
hendaknya didukung dengan contoh yang relevan.

2.

Jelaskan perbedaan pandangan Marx, Weber, dan Durkheim tentang modernisasi dan
kapitalisme.

3.

Uraikan beberapa faktor menurut Ritzer yang memengaruhi dan merusak perilaku
konsumsi masyarakat di era post-industrial.

4.

Jelaskan fokus kajian ssiologi ekonomi di era masyarakat post-industrial. Apa beda
dengan fokus kajian sosiologi ekonomi di era masyarakat modern atau kapitalisme
awal.

Petunjuk Tindak Lanjut


Agar mahasiswa dapat lebih cepat dan mudah memahami sejarah dan perkembangan
sosiologi ekonomi, ada baiknya jika mahasiswa menelusuri informasi tentang tokoh-tokoh
dalam ilmu ekonomi yang banyak mengkaji persoalan produksi dan konsumsi, dan
membandingkannya dengan analisis tokoh-tokoh sosiologi agar diketahui perbedaan dan
persamaan pemikirann di antara kedua bidang ilmu tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Suyanto, Bagong. 2013. Sosiologi Ekonomi, Kapitalisme dan Konsumsi di Era Masyarakat
Post-Modernisme. Jakarta: Kencana.
SENARAI
Sosiologi ekonomi adalah studi tentang bagaimana cara orang, kelompok atau masyarakat
memenuhi kebutuhan hidup mereka terhadap jasa dan barang langka, dengan menggunakan
pendekatan sosiologi.
Relations of Production adalah hubungan produksi dalam ekonomi yang menyebabkan
tenaga kerja ada akhirnya akan mengalami alienasi atau keterasingan, yaitu manusia terasing
dari obyek yang dihasilkan, dari proses produksi, dari dirinya sendiri dan terasing dari
komunitas atau kelompok sosialnya.
Division of labor adalah pembagian kerja di masyarakat yang cepat atau lambat akan
menghancurkan solidaritas mekanis dan integrasi mral hingga memperburuk tatanan sosial.