Anda di halaman 1dari 16

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas limpahan rahmatNya sehingga tugas baca

yang berjudul PSEUDOTUMOR dapat

diselesaikan tepat pada waktunya. Kami juga menyampaikan terima kasih


atas bimbingan, materi dan waktunya kepada dr. Indira R. A., Sp.M
selaku dokter pembimbing tugas baca kami..
Demikian tugas baca ini kami susun. Kami menyadari bahwa masih
banyak kekurangan dalam penyusunan tugas baca ini, oleh karena itu
saran dan kritik dari semua pihak sangat kami harapkan. Semoga tugas
baca ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan sekalian dan menjadi media
penambah ilmu pengetahuan.

Penyusun,
Mei, 2014

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
Pseudotumor merupakan suatu keradangan idiopatik yang bukan
merupakan neoplasma, ataupun infeksi, dan membentuk lesi pada
jaringan orbita (space-occupying orbital lesions). Proses inflamasi
dapat melibatkan beberapa atau seluruh jaringan orbita misalnya
miositis, dakrioadenitis, skleritis, perineuritis optik.(Kanski, 2007).
Pseudotumor orbita merupakan 10% dari seluruh kasus tumor
orbita. Insidennya meningkat pada usia dekade 4-5 tetapi dapat juga
menyerang anak-anak. Tidak ada perbedaan jumlah kasus pada pria
ataupun wanita.
Penyebab dan patogenesis pseudotumor masih belum diketahui
secara pasti. Infeksi, pasca infeksi autoimun, faktor genetik ataupun
faktor

lingkungan

diduga

merupakan

penyebab

pseudotumor.

Keberhasilan pengobatan menggunakan korikosteroid dan agen


imunosupresan lain mengindikasikan adanya proses autoimun.
Secara klinis sel-sel inflamasi membentuk suatu massa di orbita.
Gambaran histologis bervariasi, tergantung jaringan yang terkena.
Massa

tersebut terdiri dari sel inflamasi, limfosit dan sel plasma.

(PDT, 2006)
Pseudotumor memiliki proporsi yang cukup signifikan diantara
tumor orbita lainnya. Adanya proptosis pada pseudotumor
dibedakan

dengan

penyebab-penyebab

proptosi

harus
lainnya.

Pseudotumor orbital dikarakteristikkan dengan onset yang akut


meliputi nyeri, proptosis, dan pembengkakan disekitar orbita. USG
dan CT-Scan menunjukkan gambaran infitrasi difus pada orbit,
inflamasi pada sklera. Pseudotumor orbita menujukkan massa dengan
batas yang tidak jelas. Pasien degan gejala klasik dapat didiagnosis
tanpa harus dilakukan biopsi, dan biasanya pasien merespon cepat
terhadap pengobatan steroid, namun pada kasus-kasus yang tidak
jelas dibutuhkan pemeriksaan biopsi untuk menegakkan diagnosis.

BAB 2
PEMBAHASAN

1. Anatomi
Antomi rongga orbita
1. Tulang- tulang orbita
Tulang-tulang orbita berbentuk piramida segiempat yang terletak
diantara fossa cranial anterior pada bagian superior dan sinus
maxilla pada bagian inferior. Tiap rongga orbita tersusun atas 7
tulang yaitu : Frontal,Maxilla, zygomatic, sphenoid,palatine, ethmoid
dan lakrimal.

Tiap rongga memiliki empat dinding yaitu bagian

medial, lateral, (anterior, superior) basis dan apex.

Dinding medial : merupakan bagian yang paling tipis, dan


mudah terjadi fraktur misalnya pada saat tindakan obitotomi.
Pada bagian ini juga dapat terjadi ethmoiditis yang seringkali

menjadi penyebab oribital selulitis.


Dinding inferior (floor) : berbentuk segitiga, cukup tebal dan

mudah diinvasi oleh tumor bagian antrum maxilla


Dinding lateral orbita : bentuk triangular, menutupi hanya
setengah bagian posterior dinding bola mata, oleh karena itu

palpasi tumor retrobulbar lebih mudah pada posisi ini


Atap orbital : berbentuk segitiga, dibentuk oleh os. Frontal
Dasar orbital :
Apex orbita : merupakan bagian posterior orbita, menutupi
keempat dinding orbita. Terdapat 2 fisura yaitu kanal optic
yang merupakan tempat keluarnya syaraf optik dan arteri
optic, dan fissure orbita yang merupakan tempat keluarnya
syaraf, arteri, vena

2.1.2 Fascia orbita

Merupakan membrane tipis yang tersusun atas jaringan ikat,


berbatasan dengan struktur didalam periosteum orbita. Terdiri
dari fasia bulbi, selubung otot (muscular sheath), septum
intermuscular, perluasan dari otot ekstraokular dan ligament
lockwood. Fasia bulbi menutupi bola mata mulai dari kornea
sampai dengan nervus optic.
2. 1.3 Isi dari orbita
Volum masing masing orbita kurang lebih 30 cc. Kurang lebih
1/5 rongga orbita berisi bola mata. Struktur lainnya antara lain
bagian dari n. optic otot ekstraokuler, kelenjar lakrimal, saccus
lakrimal, arteri ophthalmic dan cabangnya,nervus cranial 3, 4
dan 6, cabang ophthalmic dan maxilla nervus trigeminus,
syaraf simpatik, fascia orbita dan jaringan lemak orbital.

Anatomi Bola mata


Mata dibagi menjadi 2 segmen:

1. Segmen Anterior : kornea lensa


2. Segmen Posterior: permukaan posterior lensa retina (Crick,
2003).

Gambar 2.1Anatomi mata (Khurana, 2007)


1.

Palpebra
Palpebra (kelopak mata) adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat

menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Palpebra terdiri atas
palpebra superior dan palpebra inferior. (Crick, 2003).
2.
Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membran mukosa transparan dan tipis
yang membungkus permukaan posterior kelopak mata yaitu konjungtiva
palpebralis

dan

permukaan

anterior

sklera

yaitu

konjungtiva

bulbaris.Konjungtiva bersambungan dengan kulit tepi palpebra (suatu


sambungan mukokutan) dan epitel kornea di limbus. (Crick, 2003).
Bagian posterior palpebra dilapisi oleh membran mukosa yang
disebut konjungtiva palpebra yang melekat erat pada tarsus. Konjungtiva
palpebra dilapisi oleh epitel berlapis silindris dengan sedikit sel goblet
makin ke arah tepi akan berubah menjadi epitel berlapis pipih.(Crick,
2003).

Konjungtiva bulbaris melekat pada septum orbitale dan melipat


berkali kali.Adanya lipatan lipatan ini memungkinkan bola mata
bergerak. Permukaan konjungtiva bulbi dilapisi oleh epitel berlapis
silindris, yang dekat dengan limbus akan menjadi epitel berlapis pipih dan
akhirnya akan bersambung dengan epitel kornea. Perbatasan konjungtiva
palpebra dan konjungtiva bulbi disebut fornix.(Kanski, 2007)
Palpebra mempunyai fungsi:
Dalam keadaan menutup kelopak mata melindungi bola mata

terhadap trauma dari luar yang bersifat fisik atau kimiawi.


Dapat membuka untuk memberi jalan masuk sinar dalam bola

mata yang dibutuhkan untuk penglihatan.


Pembasahan dan pelicinan seluruh bola mata terjadi karena
pemerataan air mata dan sekresi berbagai mkelenjar sebagai

akibat gerakan buka tutup kelopak mata.


Kedipan kelopak mata berfungsi menyingkirkan debu yang
terdapat pada permukaan bola mata.

3.

Kornea
Kornea merupakan lapisan transparan dan non vaskuler, melapisi

bagian anterior bola mata mulai dari limbus ke anterior.Merupakan


permukaan bola mata yang paling menonjol sehingga mudah mengalami
kerusakan.(Kanski, 2007)
Sumber-sumber nutrisi kornea adalah pembuluh darah limbus,
humor aqueus dan air mata.Kornea superficial juga mendapatkan
sebagian besar oksigen dari atmosfer.Saraf-saraf sensorik kornea
didapatkan dari N.trigeminus cabang ophtalmicus.(Kanski, 2007)
Lapisan kornea jernih dan tembus pandang disebabkan karena:

4.

Sabut kolagen berjalan saling sejajar dan teratur


Non vaskuler
Bahan semen asam hyaluronic sulfat murni

Sklera
Sklera adalah pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar,

yang hampir seluruhnya terdiri atas kolagen.Sklera berbatasan dengan


kornea di sebelah anterior dan duramater nervus optikus di posterior.
Pada permukaan sklera dekat dengan limbus terdapat kanal
schlemm yang dilalui oleh humor aqueus.
8

Di sekitar N.optikus sklera ditembus oleh arteria siliaris posterior


longus dan brevis, dan Nervus siliaris longus dan brevis.Sekitar 4mm di
posterior limbus terdapat 4 arteria dan vena ciliaris anterior menembus
sklera.Persarafan sklera berasal dari N.Siliaris.
Sklera berfungsi untuk mempertahankan bentuk bola mata,
membuat bola mata menjadi padat dan melindungi isi bola mata. (Kanski,
2007)
5.

Iris
Merupakan pelanjutan dari koroid membentuk diafragma dengan

lensa. Iris memisahkan ruang disebelah anterior lensa yang berisi humor
aquesus hingga terbagi menjadi 2 yaitu:
- Camera okuli anterior
- Camera okuli posterior
Vaskularisasi iris didapat dari arteriosus sirkulus major iris.
Persarafan sensoris iris melalui serabut-serabut nervi siliares.
Terdapat otot polos pada iris yaitu:
1. Muskulus sphincter pupil ; pada dekat tepi pupil, arah sirkuler.
2. Muskulus dilatator pupil ; diluar musculus sphincter pupil, arah
radier.
Banyaknya pigmen dari iris menentukan warna mata.Pigmen
melanin terdapat pada permukaan sel-sel epitel yang meliputi permukaan
posterior dari iris.
Iris berfungsi mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk ke
dalam mata. (Kanski, 2007)
6.

Korpus Siliaris
Merupakan bagian anterior koroid yang menebal. Korpus siliaris

secara kasar berbentuk segitiga pada potongan melintang, membentang


ke depan dari ujung choroid anterior ke pangkal iris.
Processus siliaris merupakan bentukan tonjolan-tonjolan dan
lipatan-lipatan kecil yang berarah radier di permukaan korpus siliaris.
Pada korpus siliaris terdapat stroma yang terdiri atas jaringan ikat kendor
dan

terdapat

muskulus

siliaris.Processus

siliaris

dan

epitel

pembungkusnya berfungsi dalam pembentukan humor aqueus.


Muskulus siliaris tersusun dari gabungan serat-serat longitudinal,
sirkular, dan radial. Fungsi serat-serat sirkular adalah untuk kontraksi dan

relaksasi ligamentum zonula zini sehingga mengubah ketegangan kapsul


lensa dan lensa dapat mempunyai berbagai fokus untuk objek berjarak
dekat maupun objek berjarak jauh dalam lapang pandang. Serat-serat
longitudinal

muskulus

siliaris mempengaruhi

besar

pori

anyaman

trabekula. (Kanski, 2007)


7. Lensa
Lensa adalah sesuatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna,
dan hampir transparan sempurna.Di sebelah anterior lensa terdapat
humor aqueus sedangkan di sebelah posteriornya terdapat korpus vitreus.
Lensa dibungkus oleh selaput elastis yang homogen dan tebal
disebut

kapsula

lentis.Kapsul

lensa

adalah

suatu

membran

semipermeabel yang dapat dilalui oleh air dan elektrolit.Permukaan


anterior lensa dilapisi sel-sel kuboid sedangkan permukaan posteriornya
tidak mempunyai sel epitel.Lensa juga tidak mempunyai pembuluh darah
maupun persarafan.
Lensa berfungsi sebagai media refraksi mata dengan cara
memfokuskan cahaya yang ditangkap retina sehingga gambaran yang
ditangkap menjadi jelas. (Kanski, 2007)
8.

Sistem lakrimalis
Aparatus lakrimalis terdiri dari kelenjar lakrimal utama, kelenjar

lakrimal aksesorius, jalur lakrimal yang terdiri dari puncta, canaliculi,


saccus lakrimalis, dan ductus nasolacrimal. (Khurana, 2007)

10

Gambar 2.2 Aparatus lacrimal (Khurana, 2007)

9.

Saraf Trigeminal
Sebagaimana saraf ophthalmica dan maxilaris memasuki tulang

tengkorak, melalui posterior dari dinding lateral dari sinus cavernosus.


Divisi dari saraf mandibular berada di bawah sinus cavernosus.Serabut
saraf dari tiga divisi tersebut masuk ganglion trigeminal (Gasserian
ganglion, semilunar ganglion). Ganglion ini bentuknya datar dan
semilunar, lokasi nya berada di lateral arteri karotis interna dan bagian
posterior dari sinus cavernosus. Serabut saraf meninggalkan ganglion
trigeminal dan memasuki bagian lateral dari pons dimana merupakan akar
dari motorik dan sensorik saraf trigeminal.Akar saraf sensoris membawa
informasi dari struktur wajah dan kepala, termasuk struktur orbital.Setelah
memasuki brainstem serabut saraf serabut saraf tersebut membentuk
traktus ascending dan descending yang ke duanya berakhir di nukleus
sensori dari saraf trigeminal.Traktus ascending berakhir di principle
sensory nucleus di pons, dan memberikan sensasi raba dan tekanan.
Traktus descending memberikan sensasi rasa nyeri dan suhu, jalan dari
traktus descending ini melewati pons dan medula kemudian menuju ke
elongated nucleus of the spinal tract. Traktus tersebut memanjang sampai
ke segmen cervical dua (C2) dari spinal cord. Informasi dari nukelus
trigeminal ini di bawa ke thalamus untuk di proses.

11

Gambar 2.3 Tiga divisi saraf trigeminal

Saraf Ophtalmicus
Setelah melewati orbita, N. nasociliaris, N. Lacrimalis, dan N.

Frontalis bergabung dan membentuk divisi ophtalmicus dari N.


Trigeminus. Saraf Ophtalmica memasuki dinding lateral dari dinding
sinus cavernosus, berjalan diantara 2 lapisan dural. Saraf dari dinding
sinus menerima serabut sensoris dari N. Occulomotorius, N.
Trochlearis, dan N. Abduccent .Beberapa serabut saraf tersebut
membawa informasi proprioceptive dari otot ekstra okuler.
Saraf ophthalmic ini adalah divisi pertama dari N. Trigeminal
dimana merupakan saraf sensoris. Saraf ini mensuplai cabang ke
kornea , siliari body, dan iris ; sebagian kelenjar lakrimal dan
konjungktiva; mukosa rongga nasal ; ke kulit dari kelopak mata, alis ,
dahi , dan hidung. Divisi ini adalah yang terkecil dari ke tiga divisi
dimana secara mayor mencabangi lakrimal, frontal dan nasosiliary. N
siliaris ini memiliki beberapa cabang yaitu long root of the ciliary
ganglion, the long ciliary, ethmoidal nerves.Dimana pada long ciliary
ini melewati saraf optikus.Kemudian dari ganglion siliaris saraf ini
menembus bagian posterior dari sclera dan berjalan diantara koroid
kemudian di distribusikan ke iris dan kornea.Long ciliary ini
merupakan serabut simpatetik dari ganglion servikal superior ke
muskulus dilatator pupil.
Saraf Maxilaris

12

Saraf ini terbentuk dari gabungan N. Infraorbita, N. Zygomatic, dan


akar dari saraf-saraf pada mulut, rahang atas, gusi, dan membran
mukosa pipi, N. Maxilaris ini memotong diantara tulang maxila dan
sphenoid. N. Maxilaris ini memasuki tulang tengkorak melalui foramen
rotundum

1.

2. Idiopathic Orbital Inflamatory dissease /Pseudotumor


Definisi
Keradangan idiopatik yang bukan merupakan neoplasma, ataupun

infeksi, dan membentuk lesi pada jaringan orbita (space-occupying


orbital lesions). Proses inflamasi dapat melibatkan beberapa atau
seluruh jaringan orbita misalnya miositis, dakrioadenitis, skleritis,
perineuritis optik. Gambaran histopatologis menunjukkan gambara sel
inflamasi pleomorfik yang disertai dengan jaringan fibrosis. Kelainan
bersifat unilateral pada dewasa, namun pada anak anak kelainan
dapat bersifat bilateral. .(Kanski, 2007).
2.

Epidemiologi
Pseudotumor orbita merupakan 10% dari seluruh kasus
tumor orbita. Insidennya meningkat pada usia dekade 4-5 tetapi
dapat juga menyerang anak-anak. Tidak ada perbedaan jumlah
kasus pada pria ataupun wanita. Pseudotumor seringkali unilateral,
namun pada anak- anak dapat tejadi bilateral. Pseudotumor
biasanya bersifat monophasic, namun pada beberapa kasus dapat
berulang, terutama pada anak-anak.

3.

Etiologi
Penyebabnya belum diketahui.(Kanski, 2007).
Etiologi pseudotumor orbital tidak diketahui, tetapi infeksi ,
gangguan autoimun , dan gangguan dalam penyembuhan luka
telah diajukan sebagai kemungkinan penyebab pseudotumor.
gangguan juga telah dikaitkan dengan penyakit menular seperti
faringitis streptokokus , infeksi virus pernapasan atas dan infeksi
Borrelia burgdorferi (NCBI, 2008)

13

4.

Patogenesis dan Patologi


Penyebab dan patogenesis pseudotumor masih belum
diketahui secara pasti. Infeksi, pasca infeksi autoimun, faktor
genetik ataupun faktor lingkungan diduga merupakan penyebab
pseudotumor.

Keberhasilan

pengobatan

menggunakan

korikosteroid dan agen imunosupresan lain mengindikasikan


adanya proses autoimun yang dimediasi limfosit B dan T. Bentuk
akut

berupa

infiltrat

polimorfik

sedangkan

bentuk

kronis

menunjukkan peningkatan gambaran stroma fibrovaskular (Renuka,


Datta, 2008)
Gambaran klasik histologi dari IOL adalah infiltrat inflamasi
kronis, dengan matur limfosit berbatas jelas, disertai sel plasma,
neutrofil, eosnofil, histiosit dan makrofag. Gambaran tidak khas
meliputi sclerosing inflammation), granulomatous inflammation,
vasculitis, dan predominant eosinophilia.

14

DAFTAR PUSTAKA

Crick, et all. 2003. A textbook of clinical ophthalmology a practical guides


to disorder of the eye and management third edition. World
scientific : london. Page 168-181.
Olver J, et all. 2005. Ophthalmology at a glance. Blackwell science
:australia. Page 66-67 .

15

Kanski Jack J. 2007.Clinical Opthalmology. Sixth edition. Elsevier: London


New York. Page : 151, 205-211.
Khurana A K. 2007. Comprehensive Opthalmology. Fourth edition. New
Age International: New Delhi. Page : 3-18, 363-365.
Lang G. 2006. Ophtalmology

a Pocket Textbook Atlas. 2nd edition.

Thieme: New York. Page : 49 51.


Young Barbara, Lowe James S, Stevens Alan. 2005. Wheaters Functional
Histology : A Text and Colour Atlas. 5th Edition. Page : 413.
Rioradan Paul, Whitcher John P. 2007. Vaughan & Asburys general
Opthalmology. 17th edition. Mc Graw Hill Lange: London.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2848795/
http://ksos.in/ksosjournal/journalsub/Journal_Article_16_240.pdf

16