Anda di halaman 1dari 62

1

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam bab 1 ini akan dibahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian.
a.

Latar Belakang
Rumah sakit merupakan salah satu bentuk sarana kesehatan, baik yang
diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat yang berfungsi untuk
melakukan upaya kesehatan dasar atau kesehatan rujukan dan upaya
kesehatan penunjang. Rumah sakit dalam menjalankan fungsinya diharapkan
senantiasa memperhatikan fungsi sosial dalam memberikan pelayanan
kesehatan pada masyarakat. Keberhasilan rumah sakit dalam menjalankan
fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanan prima rumah sakit. Mutu
pelayanan rumah sakit sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya
yang paling dominan adalah sumber daya manusia (Depkes RI, 2002).
Sumber daya manusia yang terlibat secara langsung dalam pemberian
pelayanan kesehatan pasien adalah dokter,perawat,bidan serta tenaga
penunjang lainnya. Dalam menjalankan tugas dan profesinya perawat rentan
terhadap stress. Setiap hari, dalam melaksanakan pengabdiannya seorang
perawat tidak hanya berhubungan dengan pasien, tetapi juga dengan keluarga
pasien, teman pasien, rekan kerja sesama perawat, berhubungan dengan
dokter dan peraturan yang ada di tempat kerja serta beban kerja yang
terkadang dinilai tidak sesuai dengan kondisi fisik, psikis dan emosionalnya
(Almasitoh, 2011).
Perawat merupakan tenaga kesehatan yang telah lulus dari pendidikan
perawat yang bertanggung jawab dan berwenang memberikan pelayanan
keperawatan secara mandiri,dan atau berkolaborasi dengan tenaga kesehatan
lainnya sesuai dengan kewenangannya ( Depkes RI, 2002).

Perawat juga merupakan salah satu komponen yang mempunyai peran


penting dalam memberikan pelayanan kesehatan di RS lebih jauh lagi
perawat merupakan staf kesehatan yang mempunyai intensitas yang tinggi
antara pasien dan keluarga terutama pasien yang sulit dan kompleks
merupakan salah satu pemicu timbulnya stress kerja pada perawat.
Stress yang berkepanjangan dapat berdampak pada aspek dan sistem tubuh
seseorang.Stress berdampak pada emosional,kognitif,fisiologis,dan prilaku.
Oleh sebab itu stres pada perawat sangat perlu diperhatikan, karena apabila
seorang perawat mengalami stres yang tinggi akan berdampak pada kualitas
pelayanannya. Pada dasarnya perawat dituntut untuk mampu memberikan
pelayanan secara teratur dan tepat waktu yang harus didukung oleh sikap
ramah tamah, sopan santun dan mau bersabar serta mau menyisihkan
waktunya untuk mendengarkan keluhan pasien dengan memberikan informasi
yang jelas dan mudah dimengerti.
Seseorang yang mengalami stres mempunyai perilaku mudah marah, murung,
gelisah, cemas dan semangat kerja yang rendah. Sehingga, ketika seorang
perawat terkena stres maka kinerja dalam memberikan pelayanan
keperawatan akan menurun, pada akhirnya akan mendatangkan keluhan dari
pasien (Nurmalasari, 2012).
50.9% perawat Indonesia yang bekerja di 4 propinsi mengalami stress kerja,
sering merasa pusing, dan lelah kemungkinan disebabkan tidak ada istirahat
karena beban kerja terlalu tinggi dan menyita waktu, gaji rendah tanpa
insentif yang memadai ( PPNI). Dampak secara emosional meliputi cemas,
depresi, tekanan fisik, psikologis (Perry& Potter,2005).
Dampak

kognitif

berakibat

pada

penurunan

konsentrasi,peningkatan

distraksidan berkurangnya peningkatan jangka pendek. Dampak terhadap


psikologis

berakibat

pada

pelepasan

eprineprin

dan

norepineprin,

penonaktifan sistem pencernaan, nafas cepat, peningkatan denyut jantung,dan


konstriksi pembuluh darah. Dampak pada prilaku misalnya meningkatkan

ketidakhadiran kerja, mengganggu pola tidur dan mengurangi kwalitas


pekerjaan (Eysenck, 2009).
Tenaga kesehatan khususnya perawat, analisa beban kerjanya dapat dilihat
berdasar aspek-aspek tugas yang dijalankan menurut fungsinya. Beberapa
aspek yang berhubungan dengan penelitian di Indonesia peningkatan beban
kerja perawat dari empat orang pasien menjadi enam beban kerja tersebut
antara lain, jumlah pasien yang harus dirawat, kapasitas kerja sesuai dengan
pendidikan yang diperoleh, shift yang digunakan untuk mengerjakan
tugasnya, dan kelengkapan fasilitas yang menunjang pekerjaan. Sebuah
penelitian di Indonesia peningkatan beban kerja orang mengakibatkan 14%
peningkatan kematian pasien yang dirawat dalam 30 hari pertama sejak
dirawat dirumah sakit (Inna.ppni.or.id).
Fluktuasi beban kerja merupakan bentuk lain dari penyebab timbulnya stress
kerja. Untuk jangka waktu tertentu bebannya sangat ringan dan saat-saat lain
bebannya bisa berlebihan. Situasi tersebut dapat kita jumpai pada perawat
yang bekerja di rumah sakit. Keadaan tersebut dapat menimbulkan
kecemasan, ketidakpuasan kerja dan kecenderungan meninggalkan pekerjaan
(Munandar, 2001).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Prihatini (2007), mengenai Analisis
Hubungan Beban Kerja dengan Stres Kerja Perawat di tiap Ruang Rawat Inap
di RSUD Sidikalang terdapat berbagai macam kategori stress kerja pada
tatananyang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan 66,7% perawat di ruang
perawatan bedah mengalami stress kerja sedang, 55,6% perawat di ruang
perawatan anak mengalami stress kerja ringan, 57,1% perawat di ruang
kebidanan mengalami stress kerja kategori ringan dan 50% perawat di ruang
perawatan penyakit dalam mengalami stress kerja kategori ringan.
Beban kerja yang banyak disertai tuntutan dari pihak keluarga pasien
menyebabkan perawat harus selalu bergegas dan terburu-buru dalam

melakukan tindakan keperawatan. Beberapa aspek yang berhubungan dengan


beban kerja tersebut adalah jumlah pasien yang harus dirawat, kapasitas
kerjanya sesuai dengan pendidikan yang diperoleh, shift yang digunakan
untuk mengerjakan tugasnya yang sesuai dengan jam kerja yang berlangsung
setiap hari, serta kelangkapan fasilitas yang dapat membantu perawat
menyelesaikan kerjanya dengan baik (Irwandy, 2007 dalam Prihatini, 2007).
RSIA Hermina Jatinegara merupakan RS tipe B dengan jumlah kapasitas
tempat tidur sebanyak 106. Ruang perawatan terdiri dari perawatan
anak,maternitas dan perinatologi. Untuk perawatan anak sebanyak 44 tempat
tidur, terdapat 31 orang perawat dengan perbandingan perawat pasien 1 : 5.
Untuk ruang perawatan maternitas sebanyak 38 tempat tidur, terdapat 28
orang perawat dengan perbandingan perawat pasien 1:6 Untuk perinatologi
sebanyak 24 tempat tidur, terdapat 18 orang perawat dengan perbandingan
perawat pasien 1:4.
Jumlah tenaga dimasing- masing sift : perawatan anak : total rata-rata pasien
perhari: 31 pasien,pembagian ketenagaan perawat pagi: 7 orang,sore 7,
malam 7 orang, perawatann maternitas : total rata- rata pasien perhari 27
pasien dengan pembagian ketenagaan perawat : pagi :5, sore :5, Malam:
5,perawatan perinatologi : total rata- rata pasien perhari : 17 pasien, dengan
pembagian ketenagaan perawat : pagi : 5 sore : 5, malam 5.Dengan tingkat
ketergantungan rata- rata diperawatan anak dan perinatologi : parsial dan total
kemudian di perawatan maternitas : minimal dan total.
Dari hasil wawancara pendahuluan yang dilakukan peneliti terhadap 75 orang
perawat di RSIA Hermina Jatinegara pada bulan oktober- november 2014,
terdapat 20 0rang (66,6%) dari jumlah perawat 31 orang perawat mengalami
stress kerja yang tinggi diruang perawatan anak, diperawatan perinatologi
terdapat 15 orang (75%) perawat mengalami stress kerja sedang dari jumlah
perawat 18 orang,di perawatan maternitas dari 28 0rang perawat terdapat 20
orang (66,6%) perawat stress kerja ringan ,dan salah satu dari tanda dan
gejalanya adalah sakit kepala,mudah tersinggung,ucapan yang kurang jelas

atau terbata-bata dan tekanan darah tinggi, dan satu bulan terakhir didapatkan
data ada 2 orang yang sakit akibat kelelahan.Adapun kegiatan perawat yang
dilakukan secara langsung adalah memberikan penkes kepasien,memberikan
obat,mencatat intake dan output,mengobservasi tanda- tanda vital,mengambil
bahan eksperimen dan kegiatan keperawatan yang tidak langsung
adalahmengecek kelengkapan dan folmulir,membuat buku laporan,memesan
makanan ke ahli gizi.
Data tersebut didapatkan dengan trend BOR di perawatan lebih dari 70 %.
Peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu perawat pendidik
bahwa perlu dilakukan pengukuran beban kerja melihat banyaknya perawat
pelaksana yang bekerja dua shift ( shift pagi dan sore) dalam 1 hari dan
terjadi hampir tiap hari. Kondisi fisik seperti kelelahan dan psikologis yang
dialami

perawat

cenderung

dapat

mempengaruhi

kinerja

sehingga

menurunnya mutu pelayanan keperawatan. Berdasarkan uraian di atas penulis


tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan beban kerja dengan
stress kerja perawat pelaksana Rawat Inap di RSIA Hermina Jatinegara.
B. Rumusan Masalah
RSIA Hermina Jatinegara merupakan rumah sakit yang menjadi rujukan bagi
RS cabang hermina lainnya di Jakarta,dan memberikan pelayanan selama 24
jam. Perawat memberikan kontribusi yang lebih banyak selama merawat
pasien. Perawat dalam melaksanakan tugasnya membutuhkan kecekatan,
ketrampilan, kesiagaan, kekuatan fisik, ketepatan, keahlian, dalam menangani
pasien sesuai dengan jenis penyakit.
Banyaknya pasien yang ada di ruang perawatan dan harus diberikan asuhan
keperawatan yang maksimal untuk memenuhi kebutuhan pasien, sehingga
dapat menjadi mempengaruhi beban kerja perawat, sehingga dapat
mempengaruhi stress kerja. Banyaknya tugas tambahan yang harus dikerjakan
oleh perawat dapat mengganggu penampilan kerja dari perawat. Akibat
negative dari banyaknya tugas tambahan perawat diantarnya timbul emosi

perawat yang tidak sesuai dengan yang diharapkan dan berdampak buruk bagi
produktifitas perawat (Irwandy, 2006).
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan dilapangan adanya
perbedaan penanganan pasien diruang rawat inap dapat merupakan beban
kerja bagi perawat perawatan pasien pada anak atau bayi,maternitas
mempunyai cara dan ketrampilan yang tidak sama dengan resiko yang
berbeda.diperawatan anak dan perinatologi dalam tehnik pemasangan infus
butuh keahlian khusus
Berdasarkan hasil wawancara pendahuluan yang dilakukan peneliti terhadap
75 orang perawat di RSIA Hermina Jatinegara pada bulan oktober- november
2014, terdapat stress kerja yang dialami oleh perawat di ruang perawatan,
yaitu 66,6% di ruang perawatan anak, di perawatan perinatologi 75%, dan di
perawatan maternitas 66,6% dengan trend BOR di perawatan lebih dari 70 %.
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai Hubungan beban kerja dengan stress kerja perawat pelaksana
diruang perawatan RSIA Hermina Jatinegara.
C. Tujuan Penelitian
1.

Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan beban kerja dengan stress kerja perawat
pelaksana di ruang perawatan RSIA Hermina Jatinegara.

2.

Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi

karakteristik

perawat

meliputi

usia,jenis

kelamin,pengalaman kerja dan pendidikan


b. Diketahuinya gambaran beban kerja perawat pelaksana di ruang
perawatan RSIA Hermina Jatinegara.
c. Diketahuinya gambaran stress kerja perawat pelaksana di ruang
perawatan RSIA Hermina Jatinegara.
d. Diketahuinya hubungan beban kerja dengan stress kerja perawat
pelaksana di ruang perawatan RSIA Hermina Jatinegara.

D. Manfaat Penelitian
1.

Untuk Pelayanan Keperawatan


Memberikan masukan dan gambaran tentang beban kerja perawat
pelaksana sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi
pihak manajemen rumah sakit dalam pengambilan keputusan serta
membuat kebijakan yang berkaitan dengan pelayanan keperawatan
sehingga dapat meminimalkan terjadinya stress kerja perawat pelaksana
di ruang perawatan RSIA Hermina Jatinegara.

2.

Untuk perkembangan Ilmu Keperawatan


Sebagai masukan dan gambaran bagi perkembangan ilmu pengetahuan
keperawatan khususnya tentang hubungan beban kerja dengan stress
kerja pada perawat pelaksana di ruang perawatan RSIA Hermina
Jatinegara.

3.

Bagi Rumah Sakit


Memberikan informasi agar rumah sakit melakukan perbaikan dalam
memperhitungkan tenaga keperawatan sesuai dengan beban kerja
perawat yang akan mempengaruhi kinerja perawat.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Bab ini berisikan teori yang digunakan untuk menjelaskan variabel yang akan
digunakan.
A. Stress kerja
1. Definisi
Secara sederhana stress kerja sebenarnya merupakan suatu bentuk
tanggapan seseorang, baik secara fisik maupun mental, terhadap suatu
perubahan

di

lingkungannya

yang

dirasakan

mengganggu

dan

mengakibatkan dirinya terancam (Anoraga, 2005). Seorang ahli menyebut


tanggapan tersebut dengan istilah fight or flight response. Jadi
sebenarnya stress adalah sesuatu yang amat alamiah.
Stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses
berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam
kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan (Handoko, 2012).
Stress adalah hasil dari tidak atau kurang adanya kecocokan antara orang
(dalam

arti

lingkungannya,

kepribadiannya,
yang

bakatnya,

mengakibatkan

dan

kecakapannya)

ketidakmampuannya

dan
untuk

menghadapi berbagai tuntutan terhadap dirinya secara efektif (Munandar,


2001).
Secara umum stres kerja dipengaruhi oleh banyak faktor selain beban
kerja, seperti yang disebutkan dalam penelitian Restiaty, et al (2006)
tentang beban kerja dan perasaan kelelahan menyimpulkan adanya
hubungan beban kerja di tempat kerja dengan kelelahan kerja yang
merupakan gejala fisik stress kerja, artinya semakin berat beban kerja di
tempat kerja maka semakin tinggi tingkat stress kerja. Lebih lanjut
dijelaskan bahwa variabel yang berhubungan dengan beban kerja adalah
tempat bekerja, jenis pekerjaan, serta beban mental.

Menurut Manuaba (2000), akibat beban kerja yang terlalu berat dapat
mengakibatkan seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat
kerja. Beban kerja yang terlalu berlebihan akan menimbulkan kelelahan
baik fisik atau mental dan reaksi-reaksi emosional seperti sakit kepala,
gangguan pencernaan dan mudah marah. Sedangkan pada beban kerja
yang terlalu sedikit dimana pekerjaan yang terjadi karena pengulangan
gerak akan menimbulkan kebosanan, rasa monoton. Kebosanan dalam
kerja rutin sehari-hari karena tugas atau pekerjaan yang terlalu sedikit
mengakibatkan kurangnya perhatian pada pekerjaan sehingga secara
potensial membahayakan pekerja. Beban kerja yang berlebihan atau
rendah dapat menimbulkan stress kerja.
Menurut (Sondang P. Siagian, 2009), stress merupakan kondisi ketegangan
yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran dan kondisi fisik
seseorang. Stress yang tidak diatasi dengan baik biasanya akan berakibat
pada ketidakmampuan seseorang berinteraksi secara positif dengan
lingkungannya, baik dalam arti lingkungan pekerjaan maupun diluarnya.
Artinya karyawan yang bersangkutan akan menghadapi berbagai gejala
negatif yang pada gilirannya berpengaruh pada prestasi kerja.
Menurut (Rivai & Basri, 2005), stress sebagai istilah paying yang
merangkumi tekanan, beban, anxieti, kemurungan, dan hilangnya daya.
Stress adalah suatu kondisi ketegangan yang menciptakan adanya ketidak
seimbangan fisik dan psikis, yang mempengaruhi emosi, proses pikir, dan
kondisi seorang karyawan.
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah dijelaskan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa stress kerja adalah sesuatu yang dirasa memberikan
tekanan akibat adanya ketidakseimbangan antara beban kerja yang
diterima dengan kemampuan kepribadian individu dalam memberikan
tanggapan baik secara fisik maupun mental terhadap berbagai urusan
pekerjaan yang dirasa tidak menyenangkan.
2. Gejala-Gejala Stress Kerja

10

Menurut Goliszek ( 2005), gejala stress dapat berupa tanda-tanda sebagai


berikut ini:
a. Gejala fisik
Sakit kepala, kelopak mata berkedip-kedip tanpa sadar, hidung
bergerak- gerak tanpa sadar, rasa nyeri di muka atau rahang, mulut atau
tenggorokan kering, sulit menelan, sariawan dilidah, sakit leher, pusing,
sulit berbicara dan berbicara dengan ucapan yang kurang jelas atau
terbata-bata, sakit punggung, nyeri otot, rasa lemah, sembelit, gangguan
penceranaan, rasa mual atau muntah-muntah, sakit perut, diare, berat
badan bertambah atau berkurang, nafsu makan berkurang atau selalu
ingin makan, kulit gatal-gatal dan merah, sakit dibagian dada, rasa
panas diperut, jantung berdebar-debar, sering buang air kecil, keringat
berlebih, tidak dapat tidur, tekanan darah tinggi, gerakan otot gemetar,
menstruasi secara berlebihan atau kegelisahan pada saat menstruasi.
b. Gejala Emosional
Mudah tersingung, suasana hati (mood) berubah-ubah, depresi, sikap
agresif yang tidak normal, kehilangan konsentrasi, gelisah atau
bergairah secara berlebihan, mimpi buruk, frustasi, menarik diri dari
orang lain, pikiran kacau, mudah marah, khawatir, panik, sering
menangis, muncul pikiran untuk bunuh diri, perasaan kehilangan
kontrol, mengalami periode kebingungan, berkuranganya ketertarikan
seksual.
c. Gejala Perilaku
Suka menggeretakkan gigi, dahi berkerut, gelak tawa bernada tinggi,
mengantuk-antukkan kaki atau jari, menggigit kuku, menarik atau
memutar-mutar rambut, merokok secara berlebihan, memakai obatobatan secara berlebihan, mengkonsumsi alkohol secara berlebihan, diet
secara kompulsif, berjalan mondar-mandir, kehilangan ketertarikan
pada penampilan fisik, perilaku sosial berubah tiba-tiba, kelambanan
kronis.
3. Faktor- faktor Penyebab Stress Kerja

11

Menurut Hurrel (dalam munandar 2001) sumber stress yang menyebabkan


seseorang tidak berfungsi optimal atau yang menyebabkan seseorang jatuh
sakit, tidak saja datang dari satu macam pembangkit tetapi dari beberapa
pembangkit stress. Sebagian dari waktu manusia itu adalah untuk bekerja,
karena itu lingkungan pekerjaan mempunyai pengaruh besar terhadap
kesehatan seorang pekerja.Pembangkit stress dipekerjaan merupakan
pembangkit stress yang besar terhadap kurang berfungsinya atau jatuh
sakitnya seseorang tenaga kerja yang bekerja. Faktor- faktor dipekerjaan
yang

berdasarkan

penelitian

yang

dapat

menimbulkan

stress

dikelompokkan dalam 5 kategori :


a. Faktor instrinsik dalam pekerjaan
Faktor instrinsik dalam pekerjaan kategorinya adalah tuntutan fisik dan
tuntutan tugas : kondisi fisik: kondisi fisik misalnya faktor kebisingan
panas, penerangan dan sebagainya sedangkan faktor tugas mencakup
:kerja malam.Beban kerja dan penghayatan dari resiko bahaya.Tuntutan
fisik yaitu kondisi fisik kerja mempunyai pengaruh terhadap Faal dan
psikologis seorang Tenaga kerja. Kondisi fisik dapat merupakan
pembangkit stress, tuntukan tugas menurut penelitian menunjukkan
bahwa shift kerja /kerja malammerupakan sumber stress bagi pekerja
pabrik roti. Beban kerja berlebih dan beban kerja terlalu sedikit
merupakan pembangkit stress.
b. Peran dalam organisasi
Setiap tenaga kerja bekerja sesuai dengan perannya dalam organisasi
artinya setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus
dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dan sesuai dengan yang
diharapkan oleh atasannya, namun demikian tenaga kerja tidak selalu
berhasil untuk memainkan perannya tanpa menimbulkan masalah.
Kurang baiknya fungsi peran merupakan pembangkit stress yang
meliputi konflik peran dan ketidakjelasan.
c. Pengembangan karir

12

Pengembangan karir merupakan pembangkit stress yang potensial yang


mencakup ketidakpastian pekerjaan, promosi yang berlebih atau
promosi yang kurang.
d. Hubungan dalam pekerjaan
Hubungan dalam pekerjaan yang tidak baik terungkap dalam gejalagejalanya dalam kepercayaan yang rendah, minat yang rendah dalam
pemecahan masalah dalam organisasi, komunikasi antar pribadi yang
tidak sesuai antara pekerja, ketegangan psikologis dalam bentuk
kepuasan kerja yang menurun dan penurunan kondisi kesehatan.
e. Struktur dan iklim organisasi
Faktor stress yang dikenali dalam kategori ini adalah terpusat pada
sejauh mana tenaga kerja dapat terlihat atau berperan serta pada support
sosial. Kurangnya peran serta atau partisipasi dalam pengambilan
keputusan.
4. Penggolongan Stress
Menurut Sri Kusmiati dan Desminiarti (dalam Sunaryo, 2004) apabila
ditinjau dari penyebab stress, dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Stress fisik, disebabkan oleh suhu atau temperatur yang terlalu tinggi
atau rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu terang, atau tersengat
arus listrik.
b. Stress kimiawi, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat
beracun, hormon atau gas.
c. Stress fisiologik, disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan,
organ, atau sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.
d. Stress proses pertumbuhan dan perkembangan, disebabkan oleh
gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua.
e. Stress psikis/emosional, disebabkan oleh gangguan hubungan
interpersonal, sosial, budaya, atau keagamaan.
5. Tingkatan Stress
Gangguan stress biasanya timbul secara lamban, tidak jelas kapan
mulainya dan seringkali kita tidak menyadari. Situasi stress ringan bisanya
tidak mengakibatkan kerusakan fisiologis kronis, tetapi stress sedang dan

13

berat dapat menimbulkan resiko penyakit medis atau memburuknya


penyakit kronis (Leidy et al dalam Potter dan Perry, 2005).
a. Stress ringan : Stressor yang dihadapi setiap orang secara teratur, seperti
terlalu banyak tidur, kemacetan lalu lintas, kritikan dari atasan. Situasi
ini biasanya berlangsung beberapa menit atau jam.
b. Stress sedang : Berlangsung lebih lama, dari beberapa jam sampai
beberapa hari. Misalnya, perselisihan yang tidak terselesaikan dengan
rekan kerja, anak yang sakit, atau ketidakhadiran yang lama dari
anggota keluarga.
c. Stress berat : Situasi kronis yang dapat berlangsung beberapa minggu
sampai beberapa tahun, seperti perselisihan perkawinan terus menerus,
kesulitan financial yang berkepanjangan, dan penyakit jangka panjang.
Makin sering dan makin lama situasi stress, makin tinggi resiko
kesehatan yang ditimbulkan.
6. Tahapan Stress
Sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Dadang Hawari (dalam Sunaryo,
2004) bahwa tahapan stress sebagai berikut:
a. Stress tahap pertama (paling ringan), yaitu stress yang disertai perasaan
nafsu bekerja yang besar dan berlebihan, mampu menyelesaikan
pekerjaan

tanpa

memperhitungkan

tenaga

yang

dimiliki,

dan

penglihatan menjadi tajam.


b. Stress tahap kedua, yaitu stress yang disertai keluhan, seperti bangun
pagi tidak segar atau letih, lekas capek pada saat menjelang sore, lekas
lelah sesudah makan, tidak dapat rileks, lambung atau perut tidak
nyaman, jantung berdebar, otot tengkuk, dan punggung tegang. Hal
tersebut karena cadangan tenaga tidak memadai.
c. Stress tahap ketiga, yaitu tahapan stress dengan keluhan spseti defekasi
tidak teratur, otot semakin tegang, emosional, insomnia, mudah terjaga
dan sulit tidur kembali, koordinasi tubuh terganggung dan mau jatuh
pingsan.
d. Stress tahap keempat, yaitu tahapan stress dengan keluhan, seperti tidak
mampu bekerja sepanjang hari, aktivitas pekerjaan terasa sulit dan
menjenuhkan, respons tidak adekuat, kegiatan rutin terganggu,

14

gangguan pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya ingat
menurun, serta timbul ketakutan dan kecemasan.
e. Stress tahap kelima, yaitu tahapan stress yang ditandai dengan
kelelehan fisik dan mental, ketidak mampuan menyelesaikan pekerjaan
yang sederhana dan ringan, gangguan pencernaan berat, meningkatnya
rasa takut dan cemas, bingung, dan panik.
f. Stress tahap keenam (paling berat), yaitu tahapan stress dengan tandatanda, seperti jantung berdebar keras, sesak napas, badan gemetar,
dingin, dan banyak keluar keringat, loyo, serta pingsan dan makin lama
situasi stress, makin tinggi resiko kesehatan yang ditimbulkan.
7. Dampak Stress Kerja
Stress kerja dapat menimbulkan beberapa dampak terhadap individu,
dalam melakukan pekerjaannya.Dampak dari stress kerja tersebut dapat
dirasakan dalam bentuk efek fisiologi bahkan sampai menimbulkan
penyakit maupun efek psikologi yang dapat mempengaruhi perilaku
seseorang dalam bekerja. Stress yang timbul akibat ketidak jelasan sasaran
dalam pekerjaan akhirnya mengarah ketidakpuasan pekerjaan,kurang
memiliki percaya diri, rasa tidak berguna rasa harga diri yang menurun,
depresi, motivasi rendah untuk bekerja, peningkatan tekanan darah dan
detak nadi, dan kecenderungan untuk meninggalkan pekerjaan (Munandar
2008).
Dampak stress kerja tersebut bias positif dan negatif. Stress kerja
berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja perawat. Stress dapat
menciptakan

keunggulan

kompetitif

bagin

perusahaan

dengan

menenjemen yang baik. Stress juga dapat memberikan dampak positif


yang lain seperti dengan adanya batasan waktu dapat menjadi lebih efektif
dan efisien seperti yang dikemukakan oleh Price (2003). Namun stress
juga bisa berdampak negarif terhadap kinerja perawat dari hasil penelitian
Indriyani(2009).
8. Pengukuran Stress Kerja
Penelitian ini, disamping mengukur beban kerja juga mengukur stress
kerja. Untuk mengukur stress kerja dalam penelitian ini,penelitian akan

15

merujuk pada ketentuan prosedur kerja yang menjadi panduan praktik


keperawatan prima profesional,yang sudah dimiliki dan digunakan oleh
rumah sakit dan memodifikasinya untuk keperluan penelitian ini.
Tingkat stress dapat dikelompokkan dengan menggunakan criteria HARS
(Hamilton Anxiety Rating Scale). Unsur yang dinilai antara lain: perasaan
ansietas, ketegangan, ketakutan,gangguan tidur, gangguan kecerdasan,
perasaan depresi, gejala somatik, gejala respirasi, gejala kardiovaskuler,
gejala respirasi, gejala gastro intestinal, gejala urinaria, gejala otonom,
gejala tingkah laku. Unsur yang dinilai dapat menggunakan skoring,
dengan ketentuan penilaian sebagai berikut:
0 : tidak ada gejala dari pilihan yang ada
1 : satu gejala dari pilihan yang ada
2 : kurang dari separuh dari pilihan yang ada
3 : separuh atau lebih dari pilihan yang ada
4 : semua gejala ada
Untuk selanjutnya skor yang dicapai dari masing- masing unsur atau item
dijumlahkan sebagai indikasi penilaian derajat stress, dengan ketentuan
sebagai berikut :
Skor <14 tidak ada stress
Skor 14-20 stress ringan
Skor 21-27 stress sedang
Skor 28-41 stress berat
Skor 42-56 stress berat sekali Stress Kerja
Menurut Kelana 2011 Pengukuran stress kerja dikategorikan :
Stress Kerja Ringan : 30-70
Stress Kerja Sedang : 71-110
Stress Kerja Berat : 111-150

B. Beban kerja
1. Definisi
Beban kerja adalah banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan oleh
tenaga kesehatan yang professional dalam satu tahun dalam satu sarana
kesehatan (Kep.Men.Kes.RI.No:81/SK/I/2004). Beban Kerja adalah
seluruh kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh seorang perawat

16

selama bertugas di suatu unit pelayanan keperawatan (Marquis and


Houston, 2010).
Beban kerja adalah kemampuan tubuh pekerja dalam menerima pekerjaan.
Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja yang diterima seseorang
harus sesuai dan seimbang terhadap kemampuan fisik maupun psikologis
pekerja yang menerima beban kerja tersebut. Beban kerja dapat berupa
beban kerja fisik dan beban kerja psikologis.
Beban kerja fisik dapat berupa beratnya pekerjaan seperti mengangkat,
merawat, mendorong. Sedangkan beban kerja psikologis dapat berupa
sejauh mana tingkat keahlian dan prestasi kerja yang dimiliki individu
dengan individu lainnya (Manuaba, 2000).
Berdasarkan

(SPO/Keperawatan/No.35/Tahun2013)

RSIA

Hermina

Jatinegara, menetapkan bahwa rasio perbandingan antara jumlah perawat


dengan jumlah pasien di ruang perawatan anak adalah 1 : 5, rasio di ruang
perinatology yaitu 1 : 4, dan rasio di ruang maternitas yaitu 1 : 6.
2. Komponen beban kerja
Beban kerja perawat di RS dapat diukur dengan mempertimbangkan
beberapa komponen, seperti jumlah klien yang dirawat perhari, perbulan,
pertahun (sensus klien), tingkat ketergantungan klien, rata-rata lama rawat
klien, jenis kegiatan tindakan keperawatan, frekuensi masing-masing
tindakan keperawatan yang dibutuhkan klien dan rata-rata waktu yang
diperlukan untuk melaksanakan tindakan keperawatan, yang diuraikan
sebagai berikut
a. Jumlah klien yang dirawat perhari, perbulan dan pertahun
Layanan keperawatan bias diberikan secara optimal apabila ada
keseimbangan antara beban kerja, jumlah klien dan tenaga perawat.
Hal ini sejalan dengan penelitian ilyas (2001), yang menunjukkan
bahwa untuk melayani klien dan berapa lama waktu untuk
menyelesaikan dan berapa lama waktu untuk menyelesaikan tugas,
dapat diketahui melalui jumlah klienini akan menentukan besarnya
beban kerja perawat. Perubahan beban kerja terjadi di rumah sakit

17

secara dinamis dan kontinyu, yang dipengaruhi oleh perkembangan


ilmu pengetahuan, kejadian-kejadian dalam masyarakat, perubahan
situasi politik dan situasi ketenagaan dalam organisasi. Perubahan
institusi

sering lebih

cepat

daripada

gambaran

sensus

tahun

sebelumnya, yang mempunyai sedikit pengaruh terhadap beban kerja.


b. Tingkat ketergantungan
Tingkat ketergantungan klien pada suatu unit keperawatan sangat
berpengaruh terhadap beban kerja perawat. Swansburg dan swansburg
(2001) mengelompokkan ketenagaan, yaitu ketergantungan klien
menjadi lima kategori yaitu:
1) Kategori I : perawat mandiri, meliputi;
a. Aktivasi sehari-hari. Pada kategori ini, seperti makan; dapat
dilakukan secara mandiri atau dengan sedikit bantuan. Merapikan
diri; kebutuhan eliminasi dan kenyamanan posisi tubuh; dapat
dilakukan secara mandiri.
b. Keadaan umum; baik, seperti klien yang masuk rumah sakit untuk
keperluan pemeriksaan/check up atau bedah minor
c. Kebutuhan pendidikan kesehatan dan dukungan
membutuhkan

penjelasan

untuk

tiap

prosedur

emosi;
tindakan,

membutuhkan penjelasan untuk persiapan pulang dan emosi stabil


d. Pengobatan dan tindakan; tidak ada, atau hanya pengobatan dan
tindakan sederhana.
2) Kategori II : perawatan minimal, meliputi;
a. Aktivitas sehari-hari: pada kategori ini, seperti makan dan
minum; perlu bantuan dalam persiapannya dan masih dapat
makan dan minum sendiri. Merapikan diri; perlu sedikit bantuan.
Kebutuhan eliminasi; perlu dibantu kekamar mandi atau
menggunakan urinal. Kenyamanan posisi tubuh; dapat melakukan
sendiri dengan bantuan
b. Keadaan umum; tampak sakit ringan, perlu pemantauan tanda vita
c. Kebutuhan pendidikan kesehatan dan dukungan emosi;
membutuhkan waktu 10-15 menit per-shift, sedikit bingung atau
agitasi, tapi terkendali dengan obat.

18

d. Pengobatan dan tindakan; membutuhkan waktu 20-30 menit pershift, perlu sering dievaluasi keefektifan pengobatan dan
tindakan, perlu observasi status mental setiap 2 jam
3) Kategori III: perawatan moderat;
a. Aktivitas sehari-hari; pada kategori ini, seperti makan dan
minum; harus disuapi, masih dapat mengunyah dan menelan.
Merapikan diri; tidak dapat melakukan sendiri. Kebutuhan
eliminasi; disediakan pispot/urinal, sering ngompol. Kenyamanan
posisi tubuh; bergantung pada bantuan perawat.
b. Keadaan umum; gejala akut, bias hilang timbul, perlu pemantauan
fisik dan emosi tiap 2-4 jam. Klien dengan infuse, perlu dipantau
tiap 1 jam
c. Kebutuhan

pendidikan

kesehatan

dan

dukungan

emosi;

membutuhkan waktu 10-30 menit pershift, gelisah, menolak


bantuan, cukup dikendalikan dengan obat;
d. Pengobatan dan tindakan; membutuhkan waktu 30-60 menit
pershift, perlu sering diawasi terhadap efek samping pengobatan
dan tindakan, perlu observasi status mental tiap 1 jam
4) Kategori IV: perawatan ekstensif (semi total)
a. Aktifitas sehari-hari: pada kategori ini, seperti makan dan minum;
tidak bias mengunyah dan menelan, perlu makan lewat sonde.
Merapikan diri; perlu diurus semua; dimandikan, penataan rambut
dan kebersihan mulut. Kebutuhaneliminasi; sering ngompol lebih
dari 2 kali pershift. Kenyamanan posisi tubuh; perlu dibantu oleh
2 orang.
b. Keadaan umum; tampak sakit berat, dapat kehilangan cairan atau
darah, gangguan system pernafasan akut dan perlu sering
dipantau.
c. Kebutuhan

pendiidikan

kesehatan

dan

dukungan

emosi;

membutuhkan waktu lebih dari 30 menit pershift, gelisah, agitasi


dan tidak dapat dikendalikan dengan obat.

19

d. Pengobatan dan tindakan; membutuhkan waktu lebih dari 60


menit pershift, perlu observasi status mental setiap kurang dari 1
jam.
5) Kategori V: perawatan intensif (total): pada kategori ini, pemenuhan
kebutuhan dasar, seluruhnya bergantung pada perawat. Keadaan
umum; harus diobservasi secara terus menerus. Karena frekuensi
pengobatan dan tindakan yang lebih sering, maka seorang klien
harus dirawat oleh seorang perawat per shift.
3. Dampak Beban Kerja
Beban kerja yang terlalu berlebihan akan mengakibatkan stress kerja baik
fisik maupun psikis dan reaksi-reaksi emosional, seperti sakit kepala,
gangguan pencernaan dan mudah marah. Sedangkan pada beban kerja
yang terlalu sedikit dimana pekerjaan yang dilakukan karena pengulangan
gerak yang menimbulkan kebosanan. Kebosanan dalam kerja rutin seharihari karena tugas atau pekerjaan yang terlalu sedikit mengakibatkan
kurangnya

perhatian

pada

pekerjaan.

sehingga

secara

potensial

membahayakan pekerja (Manuaba, 2000)


4. Metode pengukuran beban kerja
Upaya untuk mengukur beban kerja telah berlangsung sejak tahun 1930
(Norrish& Rundall,2001). Register Nurses Association Of Ontario (2007)
menyatakan pengukuran beban kerja adalah suatu proses kuantifikasi
sejumlah waktu perawatan langsung dan tidak langsung yang dibutuhkan
oleh pasien selama periode jam kerja diunit tertentu,program atau
fasilitas.Secara umum metode pengukuran beban kerja dapat dilakukan
dengan pendekatan observasi dan pendekatan secara subjektif(human
factors approach).
1. Pengukuran beban kerja dengan pendekatan observasi.
Swamburg and swamburg (1999), mengatakan bahwa ada empat tehnik
perhitungan beban kerja perawat, yaitu:
a. Time study and task frequency

20

Pengukuran baban kerja pada metode ini terdiri dari analisis aktivitas
perawat yang spesifik serta bagianbagian dari tugas untuk
menghitung beban kerja dari sisi kualitas yang dikaitkan pekerjaan
dengan waktu yang dibutuhkan. Tujuannya pengamatan terhadap
aktivitas dimulai saat jam tugas perawat mulai sampai dengan
berakhirnya waktu tugas,sehingga dibutuhkan satu obsever untuk
satu orang perawat selama 24 jam.
b. Work sampling of nurse activity
Tehnik ini adalah variasi antara time study dan task frekuensi.Secara
khusus,work sampling adalah proses acak mengamati aktivitas kerja
untuk menentukan jumlah relative waktu yang dihabiskan untuk
tugas- tugas. Metode ini sering digunakan dan terbukti sangat efektif
untuk secara akurat mengamati kegiatan perawat dirumah sakit
(Besterfield-Sacre, Shuman, Wolfe, Clark, & Yildrim, 2007).
Pengumpulan data dengan work sampling yang paling umum dan
sering dilakukan pada penelitian keperawatan.Pendekatan dengan
metode work sampling juga berhasil digunakan ditahun 2003,oleh
Harrris yang memotret (snapshot) aktivitas keperawatan yang
dikumpulkan tiap lima menit.Penggunaan jangka waktu ini didukung
Finkler, Knickman, Hendrickson, Lipkin, dan Thopson (1993) yang
mengungkapkan bahwa interval waktu antara titik pengumpulan data
yang lebih singkat akan menyediakan data dengan akurasi yang lebih
besar terhadap beban kerja yang sebenarnya.
Benner (1998) menanyakan ada tiga kegunaan utama dari work
sampling diantaranya, activity and delay sampling yaitu untuk
mengukur aktivitas dan penundaan aktivitas dari seorang pekerja.
Contohnya dengan mengukur presentase seseorang aktivitas bekerja
dan presentase seseorang aktivitas tidak bekerja, dan waktu yang
tidak

digunakan

untuk

bekerja. Work

measurement,

menetapkan bahwa waktu standar dari suatu kegiatan.

untuk

21

c. Continous observation of nurses performing activities


Metode ini pada dasarnya sama dengan work sampling. Hanya saja
pengukuran dengan cara ini dilakukan dengan cara pengamatan
secara terus menerus terhadap setiap kegiatan perawat yang dicatat
secara rinci untuk kemudian dihitung lamanya waktu pelaksanaan
tugas tersebut. Pencatatan dilakukan pada satu atau lebih responden
secara bersamaan. Metode ini cukup sulit karena membutuhkan
kejelian dan ketahanan fisik maupun psikis. Selain itu pengukuran
dengan cara ini sering menimbulkan perubahan perilaku perawat
yang diamati (Swamburg and swamburg (1999).
d. Self- report of nurse activity
Tehnik ini lebih menekankan pada pemeriksaan daftar tugas yang
ditetapkan terlebih dahulu atau catatan tugas harian yang
dilaksanakan.dengan folmulir tugas harian akan didapatkan data
tentang jenis kegiatan, waktu dan lamanya kegiatan dilakukan
pengamatan ini membutuhkan biaya yang jauh lebih murah, tetapi
hasil masih diragukan. Hal ini disebabkan karena pencatatan
dianggap hal yang membosankan, beban dan butuh ekstra waktu
untuk pengisiannya.
Cara lain untuk menghitung beban kerja personal perawat yang
menurut Ilyas (2004), Huber (2006)

dan

Metode Perhitungan

Kebutuhan tenaga Keperawatan (Depkes RI, 2005) adalah :


a. Pencatatan kegiatan mandiri
Daily log merupakan bentuk sederhana dari work sampling.Setiap
subjek yang terlibat atau orang yang diteliti menuliskan sendiri
kegiatan tersebut. Penggunaan tehnik ini sangat mengandalkan
kerja sama dan kejujuran dari subjek yang sedang diteliti.
Pendekatan ini relative lebih sederhana dan biaya yang jauh lebih
murah, tetapi masih diragukan.Hal ini disebabkan karena
ketidakcakapan beberapa perawat dalam melaporkan kegiatan
yang mereka lakukan secara objektif.

22

Hasil pengukuran beban kerja berdasarkan observasi umumnya


menyebutkan penggunaan waktu, dan jumlah kegiatan untuk
kegiatan langsung, tidak langsung berhubungan dengan perawat
dan

kegiatan

lainnya

(kegiatan

unit/pribadi).

Untuk

mempermudah menghitung proporsi beban kerja ada beberapa


pengkategorian yang telah dilakukan diantaranya : Mochal
(Juliarti, 2009) menyebutkan secara umum rata-rata produktif
perhari karyawan adalah 6-6,5 jam perhari dari 8 jam perhari atau
75%-80%, Sedang sisanya digunakan untuk kegiatan yang non
produktif seperti aktivitas administrasi, bersifat pribadi seperti
kebutuhan untuk berobat, ke kamar mandi (toilet) dan lainnya.
Berbeda dengan formula hasil lokakarya Persatuan Perawat
Nasional Indonesia (PPNI) diasumsikan tingkat produktifitas
perawat oleh PPNI dihitung hanya sebesar 75%. Tahun 2004
kep.Men.PAN nomor : KEP/75/M.PAN/7/2004 berkaitan dengan
pedoman perhitungan kebutuhan pegawai berdasarkan beban
kerja menetapkan waktu produktivitas 70% dan 30 % adalah
waktu yang terbuang (allowance).
2. Pengukuran beban kerja dengan human factors approach
Dilain pihak pengukuran beban kerja perawat dapat dilakukan dengan
pendekatan secara subjektif. Dimana secara hirarki dapat dibedakan
menjadi 4 tingkatan (Carayon& Gurses,2005).
a. Workload at the unit level
Pengukuran beban kerja dilevel unit yang merupakan bagian dari
rumah sakit dan paling umum digunakan untuk membandingkan
hasil

asuhan

keperawatan

dengan

ketersediaannya

personil

keperawatan yang ada. Penelitian sebelumnya memberikan bukti


kuat bahwa tingginya beban kerja perawat pada tingkat unit memiliki
dampak negatif terhadap hasil perawatan pasien. Kelemahan utama
dan hasil jenis penerlitian ini adalah yang mengkonseptualisasikan
beban kerja keperawatan pada tingkat makro, mengabaikan
kontekstual dan karakteristik organisasi (misalnya tata letak fisik,

23

ketersediaan informasi dan tehnologi) yang secara signifikan dapat


mempengaruhi beban kerja. Penelitian harus mempertimbangkan
faktor mikrosystem terhadap beban kerja keperawatan.
b. Workload at the job level
Pengukuran beban kerja pada level ini tergantung pada jenis
pekerjaan perawat atau unit khusus (perawat ICU terhadap perawat
ruang

operasi).

Metode

ini

dianggap

belum

sepenuhnya

menggambarkan beban kerja perawat yang sebenarnya. Karena


beban kerja sangat kompleks, multi dimensi dan ada faktor
kontekstual dari lingkungan perawat (misalnya hambatan kinerja,
dan fasilitator) selain jabatan yang dapat mempengaruhi beban kerja
keperawatan. Instrumen yang telah dikembangkan pada level ini
adalah nine equivalentof nursingmapower use score (NEMS),
resived nursing work indeks (NWI-R) dan comprehensive nursing
intervension score (CNIS).
c. Workload at the patient level
Pengukuran beban kerja pada level ini mengasumsikan bahwa
penentu utama dari beban kerja keperawatan adalah kondisi klinis
pasien.

Beberapa

tingkat

beban

kerja

telah

dikembangkan

berdasarkan variable yang terkait dengan kondisi pasien (misalnya:


Therapeutic Intervention Scoring System) dan telah banyak dipakai
dalam

literature

keperawatan.

Namun

baru-baru

ini

studi

menunjukkan bahwa selain kondisi klinis pasien ada faktor lain


(misalnya, tidak efektif komunikasi, persediaan tidak lengkap) secara
signifikan dapat, mempengaruhi beban kerja keperawatan. Seperti
pada dua level pengukuran beban kerja sebelumnya pada level ini
pun belum dapat menggambarkan dampak dari beberapa faktor
terhadap beban kerja perawat.
d. Situation- level workload
Untuk memperbaiki dan melengkapi kekurangan dari tiga level
pengukuran beban kerja eristic mempertimbangkan faktor manusia:

24

situasion-level workload. Dengan mempelajari beban kerja di


situation-level,

peneliti

dapat

mengidentifikasi

karakteristik

microsystem.
Microsystem yang dimaksud adalah karakateristik pada situasi kerja
keperawatan diantaranya interupsi, fasilitator, jarak antara kamar
pasien interaksi interdisiplin, karakteristik perawat, kondisi dari
lingkungan kerja bising dibandingkan tenang, sibuk dibandingkan
tenang mempengaruhi seluruh upaya dihabiskan oleh perawat untuk
melakukan

pekerjaannya.

Carayon

dan

Gurses

(2005)

mengembangkan instrument pengukuran beban kerja dilevel ini


seperti NASAT LX atau SWAT.
Selain itu pengukuran beban kerja juga meningkatkan upaya
keselamatan pasien. Studi keselamatan pasien telah mengidentifikasi
bahwa beban kerja perawat sebagai kontributor utama sumber
keselamatan dan kualitas mutu pelayanan di Unit - unit. (Carayon 7
& Gurses, 2005). Kendali mutu adalah fungsi kelima dari proses
menajemen. Selama proses pengendalian kinerja diukur menggunkan
standar yang telah ditetapkan sebelumnya dan tindakan untuk
mengkoreksi ketidakcocokan antara standard dan kineja yang
sebenarnya. Pengendalian tidak boleh dipandang sebagai sarana
untuk mentukan keberhasilan atau kegagalan tetapi sebagai cara
untuk belajar dan bertumbuh, baik secara personal maupun
professional.
Pengendalian melalui indikator mutu pelayanan keperawatan
diantaranya,

identifikasi,

komunikasi,

tepat

lokasi,

infeksi

nosokomial, pasien jatuh dan medication error. Saat ini medication


error erat kaitannya dengan kesalahan dalam pemberian obat yang
dilakukan oleh seorang perawat.
Penelitian Terkait Jurnal Pusat Penelitian Kualitas Care, Universitas
Nijmegen, Megen Belanda 2009 (biomedcentral.com). 50.9%

25

perawat Indonesia yang bekerja di 4 propinsi mengalami stress kerja,


sering merasa pusing, dan lelah kemungkinan disebabkan tidak ada
istirahat karena beban kerja terlalu tinggi dan menyita waktu, gaji
rendah tanpa insentif yang memadai (Kusuma. D, 2011).
Metode Perhitungan Kebutuhan tenaga Keperawatan (Depkes RI,2005)
a. Pengelompokkan unit kerja rumah sakit kebutuhan tenaga keperawatan
(Perawat dan bidan) harus memperhatikan unit keja yang ada dirumah
sakit. Secara garis besar terdapat pengelompokkan unit kerja yang ada
dirumah sakit sebagai berikut:
- Rawat Inap dewasa
- Rawat inap anak / perinatal
- Rawat inap intensif
- Gawat darurat(IGD)
- Kamar bersalin
- Kamar operasi
- Rawat jalan
b. Model pendekatan dalam perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan
beberapa

model

pendekatan

yang

dapat

dipergunakan

dalam

perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan (perawat dan bidan) diruang


rawat inap rumah sakit.
Cara perhitungan berdasarkan klasifikasi pasien :
1. Tingkat ketergantungan pasien berdasarkan jenis kasus
2. Rata pasien perhari
3. Jam perawatan yang diperlukan /perhari/perpasien
4. Jam perawatan yang diperlukan/ruangan /hari
5. Jam efektif setiap perawat/bidan adalah 7 jam perhari
Tabel 2.1
Metode rasio menurut SK Menkes No. 262 1979
Rumah Sakit
Kelas A dan B

Kelas C

Perbandingan
tempat tidur:tenaga medis = 4-7:1
tempat tidur:tenaga keperawatan = 2:3-4
tempat tidur:tenaga non-keperawatan = 3:1
tempat tidur:tenaga non-medis = 1:1
tempat tidur:tenaga medis = 9:1
tempat tidur:tenaga keperawatan = 1:1
tempat tidur:tenaga non-keperawatan = 5:1
tempat tidur:tenaga non-medis = 3:4

26

Kelas D

tempat tidur:tenaga medis = 15:1


tempat tidur:tenaga keperawatan = 2:1
tempat tidur:tenaga non-medis = 6:1

Pada suatu layanan professional, jumlah tenaga yang diperlukan


bergantung pada jumlah klien dan derajat ketergantungan klien terhadap
keperawatan. Menurut (Douglas, 1992 dalam Ratna.S, 2006) klasifikasi
derajat ketergantungan pasien dibagi dalam tiga kategori:
1) Perawatan minimal memerlukan waktu 1-2 jam/24 jam, kriteria:
a) Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
b) Makan minum dilakukan sendiri
c) Ambulansi dengan pengawasan
d) Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap jaga (shift).
e) Pengobatan minimal dengan status psikologis stabil.
2) Perawatan parsial memerlukan waktu 3-4jam/24 jam, kriteria:
a) Kebersihan diri dibantu, makan minum di bantu
b) Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam
c) Ambulansi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
d) Klien dengan kateter urine, pemasukan dan pengeluaran dicatat
e) Klien dengan infus, persiapan pengobatan yang memerlukan
prosedur.
3) Perawatan total memerlukan waktu 5-6jam/24 jam, kriteria:
a) Semua keperluan dibantu
b) Perubahan posisi, observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap 2 jam
c) Makan melalui selang atau pipa lambung, terapi intravena
d) Dilakukan pengisapan lender
e) Gelisah/disorientasi.
Berdasarkan

kategori

tersebut,

didapatkan

jumlah

perawat

yang

dibutuhkan pada pagi, sore, malam sesuai dengan tingkat ketergantungan


pasien seperti pada tabel II.2.

Tabel 2.2 Jumlah Tenaga Perawat yang Dibutukan dalam Satu Ruang
Rawat

27

Perkiraan jumlah tenaga dapat dihitung berdasarkan waktu perawatan


langsung yang dihitung berdasarkan tingkat ketergantungan pasien. Ratarata waktu yang dibutuhkan untuk perawatan langsung (direct care) adalah
berkisar 4-5 jam/ klien/ hari. Menurut (Minneti & Gillies, 1994 dalam
Arwani 2005), waktu yang dibutuhkan untuk perawatan langsung
didasarkan pada kategori berikut:
1) Perawatan mandiri (self care) adalah = 2 jam
2) Perawatan sebagian (partial care) adalah = 3 jam
3) Perawatan total (total care) adalah = 4-6 jam
4) Perawatan intensif (intensive care) adalah = 8 jam
Metode (Gillies, 1994 dalam Arwani, 2005) digunakan khusus untuk
menghitung tenaga keperawatan dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:
Jumlah tenaga =

A B 365
(365-hari libur) jam kerja per hari

Keterangan:
A: jumlah kerja tenaga keperawatan per hari
B: jumlah pasien rata-rata per hari
C. Karakteristik perawat
Karakteristik individu perawat meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, lama
kerja dan status pernikahan, diasumsikan dapat mempengaruhi tinggi dan
rendahnya disiplin kerja (Ramsun, 2002). Perawat sebagai pribadi
professional, mempunyai tanggung jawab dalam memberikan asuhan
keperawatan

secara

komprehensif

dan holistic.

Maksudnya

seluruh

pengalaman, pikiran, emosi, reaksi dan system nilai dimilikinya akan


mempengaruh kinerjanya. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa
diri perawat adalah isu sentral dalam hubungan tarapeutik antara perawat dan
klien. Dibawah ini, akan diuraikan tentang sejumlah karakteristik individu
perawat sebagai berikut :

28

1. Usia
Menurut Davis & Newstorm, semakin meningkat usia seseorang, akan
meningkatkan kedewasaan secara teknis dan psikologis serta semakin
mampu melaksanakan tugasnya. Usia semakin meningkat, dapat
mempengaruhi kepuasan kerja karyawan yang yang professional (Robins
2001). Semakin matang dalam mengambil keputusan dan realistic.
Maksudnya diusia yang sudah tua karyawan ingin menikmati masa-masa
menyenangkan dalam pekerjaannya, walaupun telah terjadi penurunan
kemampuan secara fisik tetapi bekerja ulet, teliti, memiliki tanggung
jawab yang besar serta absensi dan turnover nya rendah (hasibuan 2003).
2. Pendidikan
Meningkatnya kemampuan dan keterampilan yang diperoleh dari
pendidikan, dapat meningkatkan produktifitas kerja para kayawan dan
mendapatkan promosi jabatan tertentu yang pada gilirannya akan
meningkatkan produktifitas organisasi (Hasibuan,2003 ; Notoatmodjo,
2003). Menurut Sagian (2001), latar belakang pendidikan yang tinggi,
akan mempengaruhi motivasi kerja yang akhirnya berdampak pada tungkat
disiplin kerja individu.
3. Lama kerja
Lama kerja berpengaruh terhadap pengalaman dan keterampilan seseorang
dalam melaksanakan pekerjaannya. Karyawan yang telah berpengalaman,
akan lebih siap dan mampu menyelesaikan pekerjaannya dibandingkan
dengan yang belum berpengalaman. Dengan demikian, bisa diasumsikan
bahwa lama kerja individu dalam syatu profesi akan semakin
meningkatkan kinerja dan produktivitasnya. Robbins, 2001, Hasibuan,
2003).
4. Status pernikahan
Menurut siagian (1995), status pernikahan berpengaruh terhadap perilaku
seseorang dalam kehidupan organisasinya.
D. Penelitian Terkait

29

1. Penelitian Prihatini (2007), mengenai Analisis Hubungan Beban Kerja


dengan Stress Kerja Perawat di tiap Ruang Rawat Inap di RSUD
Sidikalang terdapat berbagai macam kategori stress kerja pada tatanan
yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan 66,7% perawat di ruang
perawatan bedah mengalami stress kerja sedang, 55,6% perawat di ruang
perawatan anak mengalami stress kerja ringan, 57,1% perawat di ruang
kebidanan mengalami stress kerja kategori ringan dan 50% perawat di
ruang perawatan penyakit dalam mengalami stress kerja kategori ringan.
Terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan stress kerja
pada perawat di ruang perawatan bedah RSUD Sidikalang dengan
koefisien korelasi sebesar (r=0.885 dan p=0.019), Terdapat hubungan yang
signifikan antara beban kerja dengan stress kerja pada perawat di ruang
perawatan anak RSUD Sidikalang dengan koefisien korelasi sebesar
(r=0.705 dan p=0.034), Terdapat hubungan yang signifikan antara beban
kerja dengan stress kerja pada perawat di ruang perawatan kebidanan
RSUD Sidikalang dengan koefisien korelasi sebesar (r=0.756 dan
p=0.049), Terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan
stress kerja pada perawat di ruang perawatan penyakit dalam RSUD
Sidikalang dengan koefisien korelasi sebesar (r=0.797 dan p=0.018),
Perbedaan beban kerja perawat di antara ruang perawatan bedah, ruang
perawatan anak, ruang perawatan kebidanan dan ruangan perawatan
penyakit dalam tidak berbeda nyata (p=0.173), Perbedaan stres kerja
perawat di antara ruang perawatan bedah, ruang perawatan anak, ruang
perawatan kebidanan dan ruangan perawatan penyakit dalam tidak berbeda
nyata (p=0.991).
2. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Hariyono (2009), tentang hubungan
antara beban kerja, stress kerja dan tingkat konflik dengan kelelahan kerja
perawat di Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI kota Yogyakarta, dengan
hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah
perempuan 50 orang (96.2%), mayoritas pada kategori usia 20-30 tahun
sebanyak 46 orang (88.5%), mayoritas sudah menikah 29 orang (55.8%),
mayoritas perawat merasa lelah sebanyak 29 orang (55.77%), mayoritas

30

perawat mempunyai beban kerja sedang 32 orang (61.54%), perawat


mempunyai stress kerja sedang sebanyak 43 orang (82.70%), perawat
mempunyai tingkat konflik sedang sebanyak 35 orang (67.30%). Dengan
hasil bivariate menunjukkan bahwa ada hubungan beban kerja dengan
kelelahan kerja perawat (p value=0.000), ada hubungan antara stress
dengan kelelahan kerja perawat (p value=0.026), ada hubungan antara
tingkat konflik dengan kelelahan kerja perawat (p value=0.000).
3. Penelitian selanjutnya oleh Dhania (2010), tentang pengaruh stress kerja,
beban kerja terhadap kepuasan kerja di kota Kudus. Hasil penelitian
menunjukkan mayoritas responden adalah pria sebanyak 24 orang (57%),
mayoritas pada kategori usia 30-45 tahun sebanyak 26 orang (62%),
mayoritas lama bekerja 5-10 tahun sebanyak 24 orang (57%). Dari hasil
pengujian hipotesis dengan menggunakan tekhnik analisis regresi
diperoleh hasil uji hipotesis menunjukkan nilai Adjusted R2 sebesar -,025
ini menunjukkan bahwa pengaruh beban kerja terhadap stress kerja sebesar
2,5 %. Selain itu diketahui hasil nilai F hitung sebesar 0.000 dengan
tingkat signifikansi 0.993, dan nilai t hitung -0.009 dengan sigifkansi
0.993. Hal ini menunjukan bahwa beban kerja tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap stress kerja. Hasil penelitian berarti menolak hipotesis
1 penelitian, yaitu beban kerja berpengaruh secara signifikan terhadap
stress kerja.

31

E. Kerangka Teori
Skema 2.1
Kerangka Teori Hubungan Beban Kerja dengan Stress Kerja Perawat.
Input

Proses

Karakteristik
perawat :

Beban kerja

- Usia
- Jenis
kelamin
- Pendidikan
- Masa kerja

RS :
- Type
- Jumlah
perawat

Faktor faktor yang


mempengaruhi beban
kerja:
1. Faktor internal
2. Faktor eksternal:
a. Tugas-tugas
b. Organisasi
kerja
c. Lingkungan
kerja

Output
Stress :
1. Fisik
2. Emosional
3. Perilaku

(Goliszek, 2005)
Stress :
1. Ringan
2. Sedang
3. Berat

(Manuaba, 2000)

(Lyidy et all, dalam


Potter & Perry, 2005)

Komponen beban
kerja:

Penyebab stress kerja:

a. Jumlah pasien
yang dirawat
perhari,
perbulan, dan
pertahun (Ilyas,
2001)
b. Tingkat
ketergantungan
(Swansburg,
2001)

a. Faktor instrinsik
dalam pekerjaan
b. Peran
dalam
organisasi
c. Pengembangan
karir
d. Hubungan dalam
pekerjaan
e. Struktur
dan
iklim organisasi

Dampak
stress
kerja :
a. Positif
(batasan waktu)
b. Negatif
(Kinerja Perawat )

BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI
OPERASIONAL

32

Bab ini berisi tentang kerangka konsep, hipotesis dan definisi operasional,
Kerangka

konsep

bertujuan

menjelaskan

hubungan

antara

variabel

bebas,variabel terikat dan variabel perancu. Hipotesa Penelitian adalah jawaban


sementara dari pertanyaan penelitian yang diuji kebenarannya menggunakan uji
statistik. Definisi operasional disajikan untuk mendefinisikan variabel secara
operasional sehngga jadi lebih kongkrit dan dapat diukur
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep dapat menjadi landasan berpikir untuk melakukan
penelitian yang dikembangkan berdasarkan teori pada tinjauan pustaka.
Kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan
atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau antara
variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti.
Berdasarkan kajian teori yang telah di uraikan pada tinjauan pustaka, maka
dapat disusun kerangka konsep penelitian sebagai berikut.
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang
dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep
pengertian tertentu. Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi
oleh variabel independen, sedangkan variabel confounding adalah variabel
yang mengganggu terhadap hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen ( Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini terdiri dari 3 variabel,
yaitu variabel dependen, independen dan confounding.
a.

Variabel bebas (independen)


Variabel bebas/independen merupakan variabel resiko atau sebab yang
dapat mempengaruhi variabel yang lain (Notoatmodjo, 2010). Variabel
bebas (independen) dalam penelitian ini yaitu beban kerja.

34

b.

Variabel terikat (dependen)


Variabel terikat (dependen) merupakan variabel yang dipengaruhi oleh
variabel bebas (Notoatmodjo, 2010). Variabel terikat (dependen) dalam
penelitian ini yaitu stress kerja

c.

Variabel penggangggu (confounding)


Variabel pengganggu (confounding) adalah variabel yang mengganggu
terhadap hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen
(Notoatmodjo, 2010). Variabel pengganggu (confounding) dalam
penelitian ini yaitu karakteristik perawat dengan sub variabel usia dan
masa kerja.
Skema 3.1
Kerangka Konsep Beban Kerja dengan Stress Kerja Perawat
Variabel Independen

Variabel Dependen

Beban Kerja

Stress Kerja Perawat

Karakteristik Perawat
Usia, pengalaman kerja,
pendidikan

Keterangan :
: variabel yang diteliti
: variabel yang tidak diteliti

35

B. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitan,
patokan duga, atau dalil sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan
dalam penelitian tersebut (Sugiono, 2010).
Ho = tidak ada hubungan beban kerja dengan stress kerja perawat pelaksana
di ruang perawatan RSIA Hermina Jatinegara
Ha = ada hubungan beban kerja dengan stress kerja perawat pelaksana di
ruang perawatan RSIA Hermina Jatinegara.
C. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah berfungsi untuk membatasi ruang lingkup atau
pengertian variabel-variabel diamati atau diteliti. Definisi operasional juga
berfungsi untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap
variabel-variabel yang bersangkutan serta pengambilan instrument atau alat
ukur (Notoadmodjo, 2010).
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel

Definisi
Operasional

Variabel Bebas
Beban Kerja
Beban kerja
Perawat
yang dihitung
berdasarkan
jumlah pasien
yang dirawat
dan klasifikasi
pasien

Cara Ukur

Alat Ukur

Hasil Ukur

Mencatat
dalam
lembar
observasi
jumlah
pasien
yang
dirawat.
Pengamata
n atau
observasi
dilakukka
n selama 3
shift.

Menggunak
an lembar
observasi
jumlah
pasien yang
dirawat
berdasarkan
tingkat
ketergantua
n pasien
yang
dirawat oleh
perawat
dalam
melaksanak
an tugasnya

Dikategorikan
berdasarkan :
1. Ringan : Jika
selama 3 kali
shift rata-rata
pengunaan
waktu kerja
perawat
75%.
2. Berat : Jika
selama 3 kali
shift rata-rata
pengunaan
waktu kerja
perawat >
75%.

Skala
Ukur
Nomina
l

36

Variabel
Terikat
Stress Kerja
Perawat

Respon yang
dirasakan
perawat secara
fisik atau mental
akibat
ketidakseimban
gan antara
beban kerja
yang didapat
dengan
kemampuannya.

Variabel Perancu
Usia
Umur subjek
dihitung sejak
tanggal
kelahiran hingga
ulang tahun
terakhir saat
mengisi biodata
Pendidikan
Pendidikan
formal,
Subjek,Penelitia
n berakhir dan
telah selesai
dibuktikan
dengan tanda
lulus dari
institusi
pendidikan
Variabel
Lama bekerja

Mengguna Kuesioner
kan skala
likert
terdiri dari
30 item
pernyataan
.
Nilai
terendah
30, nilai
tertinggi
150.

Dikategorikan
berdasarkan cut
off point mean:
1. Ringan :
63,99
2. Berat: >
63,99
(Uji
KolmogorovSmirnov. p =
0.07)

Pemberian
kuesioner

kuesioner

Dikategorikan
berdasakan cut
off point
median:
1. 30 ahun
2. > 30 tahun

Nominal

Pemberian
kuisioner

kuesioner

Dikategorikan
berdasarkan :
1. Perawat
vocasional
(D3 dan SI
keperawata
n)
2. Perawat
professiona
l SI Ners

Nominal

Definisi
Cara Ukur
Operasional
Jumlah, tahun
Pemberian
subjek
kuisioner
penelitian
bekerja dihitung
sejak tanggal
masuk sebagai
karyawan rumah
sakit sampai
tahun terakhir
pada saat
mengisi
kuesioner

Alat Ukur
kuesioner

Hasil Ukur
Dikategorikan
:
1. <5 tahun
2. 5 tahun
(Sumber:Crand
al gatchell
Reitel,1993:Eb
right et
al,2003;milleta
llo dan lim
2003

Nomina
l

Skala
Ukur
Nominal

37

BAB IV
METODE PENELITIAN
Dalam bab ini akan dibahas tentang desain penelitian, tempat penelitian, waktu
penelitian, populasi dan sampel, etika penelitian, instrument penelitian, prosedur
penelitian, pengolahan data dan analisa data.
A. Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan wadah untuk menjawab pertanyaan penelitian
dan menguji kesahihan hipotesis. Sesuai tujuan penelitian maka desain
penelitian yang digunakan adalah metode deskripsi analitik dengan
pendekatan cross sectional, dimana peneliti mempelajari dinamika korelasi
antara variabel independen dengan variabel dependen. Penelitian cross
sectional

adalah

jenis

penelitian

yang

menekankan

waktu

pengukuran/observasi data kedua variabel hanya satu kali pada satu saat.
Dalam penelitian ini akan dilihat efek suatu fenomena (stress kerja) yang
dihubungkan dengan penyebab (beban kerja) (Nursalam, 2008).
B. Populasi dan Sampel
1.

Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek/subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono,
2010). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana
perawatan anak, maternitas dan perinatologi RSIA Hermina Jatinegara
yang berjumlah 75 orang.

2.

Sampel
Sampel adalah bagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi. Sedangkan sampling adalah suatu proses
dalam menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi

38

(Notoatmodjo, 2010). Cara

pengambilan sampel pada penelitian ini

adalah teknik Total Sampling.


Total Sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana seluruh
populasi dijadikan objek penelitian (Nursalam, 2008) dalam menyeleksi
porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Notoatmodjo, 2010).
Sampel pada penelitian ini sebanyak 75 orang. Peneliti menggunakan
total sampling karena jumlah populasi kurang dari 100 dan apabila
dihitung

menggunakan

rumus

perhitungan

sampel

sederhana

menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh dengan jumlah populasi yang
ada.
Kriteria sampel yang akan diambil didasarkan pada kriteria inklusi dan
Eksklusi.
a. Kriteria Inklusi
Kriteria inkusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian mewakili
sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Nursalam,
2003). Maka kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :
1) Perawat pelaksana di ruang perawatan anak, maternitas dan
perinatologi
2) Bersedia menjadi responden
3) Bekerja minimal 1 tahun
4) Tidak sedang cuti
5) Tidak sedang dinas luar
b. Kriteria Ekslusi
Menurut Aziz Alimul (2009) criteria eksklusi merupakan criteria
dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak
memenuhi syarat sebagai sampel penelitian. Sedangkan menurut
Soekidjo (2010) kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi
yang tidak dapat diambil sebagai sampel. Adapun kriteria eksklusi
pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Sedang cuti
2) Sedang dinas luar
3) Perawat yang tidak berdinas di ruang perinatologi, anak dan
maternitas.
Tabel 4.1 Proporsi Total Sampling
Sampel = 75

39

Unit

Populasi

Cara

Hasil

Keterangan

31
Perawatan Anak

31

X 75

31

X 75

28

X 75

18

75
28
Maternitas
Perinatologi

28
75
18
18
75

Jumlah

75

75

C. Waktu dan Tempat Penelitian


1. Waktu
Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2015. Rincian waktu penelitian
ini mulai dari penyusunan proposal sampai dengan penyusun skripsi, dapat
dilihat secara rinci dalam proses kegiatan penelitian.
2. Tempat
Penelitian dilakukan di ruang perawatan anak, maternitas dan perinatologi
RSIA Hermina Jatinegara. Pemilihan lokasi penelitian ini karena
terjangkau dan memberikan kemudahan dari segi administrasi dan proses
penelitian serta rumah sakit ini belum pernah dilakukan penelitian tentang
beban kerja perawat,kesamaan dalam karakteristik Rumah Sakit type B
dengan pelayanan maternitas, perinatologi dan perawatan anak dan disana
tampak beban kerja tinggi dan stress kerja tinggi.
D. Etika Penelitian
Penelitian kesehatan pada umumnya dan penelitian kesehatan masyarakat
pada khususnya menggunakan manusia sebagai objek yang diteliti di satu sisi,
dan sisi lain manusia sebagai peneliti atau yang menggunakan penelitian. Hal
ini berarti bahwa ada hubungan timbal balik antara orang sebagai peneliti dan
orang sebagai yang diteliti. Adapun langkah yang ditempuh adalah dengan
mengajukan surat permohonan untuk melakukan penelitian kepada institusi
yang terkait, memohon pengarahan dari pembimbing lapangan. Melakukan
informed consent dengan memberikan informasi secara lengkap tentang

40

tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, meminta persetujuan kepada


responden (Notoatmodjo, 2010).
1. Informed consent
Sebelum penelitian dilakukan, peneliti memberikan lembar persetujuan
untuk menjadi responden dengan maksud responden dapat mengerti
tujuan dilakukannya penelitian. Sampel berjumlah 75 perawat dan
semuanya

bersedia

terlibat

dalam

penelitian

sehingga

mereka

menandatangani lembar persetujuan yang telah peneliti lampirkan dalam


2.
3.

kuesioner.
Anominity (tanpa nama)
Peneliti tidak mencantumkan nama pada lembar kuesioner.
Hak untuk merahasiakan informasi yang diberikan
Peneliti menjaga semua kerahasiaan informasi responden

dan

menyimpan lembar kuesioner yang telah diisi oleh responden dengan


baik.
E. Alat Pengumpulan Data
1.

Instrumen penelitian
Alat pengumpulan data adalah suatu pernyataan tentang sifat, keadaan,
kegiatan tertentu dan sejenisnya. Pengumpulan data dilakukan untuk
memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan
penelitian (Gullo, 2002). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan
metode pengumpulan data yaitu ;
a.

Lembar observasi
Lembar observasi ini digunakan untuk mencatat jumlah, jenis
kegiatan dan waktu yang dibutuhkan untuk setiap aktivitas yang
dilakukan sepanjang shift kerja. Lembar ini digunakan untuk
menggambarkan beban kerja perawat pelaksana pada shift pagi, sore,
dan malam (24 jam). Alat pengumpulan data dikembangkan oleh
peneliti. Lembar yang digunakan berisikan daftar kode kegiatan
keperawatan yang dibedakan berdasarkan kriteria untuk perawatan
(Ball, Goldstone, & Collier 1984) dan GRASP system (Meyer, 1978)
yang terdiri dari tiga bagian yang digunakan untuk membedakan
beban kerja dengan klasifikasi pasien: minimal, parsial dan total
care.

41

Rumus menghitung beban kerja berdasarkan waktu yang dibutuhkan


untuk perawatan langsung (Minneti & Gillies, 1994 dalam Arwani
2005):
Minimal = total pasien minimal dalam 24 jam x waktu (2 jam)
Parsial = total pasien minimal dalam 24 jam x waktu (3 jam)
Total = total pasien minimal dalam 24 jam x waktu (4-6 jam)
Contoh untuk sampel pertama di perawatan anak :
Shift
Pagi
Sore
Malam

Klasifikasi Pasien
Minimal
Parsial
0
3
0
3
0
3

Total
2
2
2

Minimal = 0 x 3 = 0
Parsial

=3x3= 9

Total

= 2 x 5 = 10
19 19 x 100% = 79,1% selama 3x observasi
24

b.

Kuesioner
Kuesioner adalah

metode

pengumpulaan

data dengan cara

memberikan daftar pertanyaan/pernyataan tertulis dengan beberapa


pilihan jawaban kepada responden. Responden diminta untuk
memberikan jawaban atau respon terhadap setiap item pertanyaan
yang diajukan. Kuesioner stress kerja terdiri dari 30 pernyataan.
Kuesioner ini juga digunakan untuk mengkategorikan stress kerja
ringan, sedang, dan berat.
Kuesioner ini menggunakan skala likert dimana pernyataan ini
memiliki lima kode, yaitu 1= Tidak pernah Terjadi, 2 = Jarang
Terjadi, 3 = Kadang-kadang terjadi dan 4 = Biasanya Terjadi,
5 = Selalu Terjadi. Pada pernyataan kuesioner ini, jika responden
menjawab 1 maka skornya 1, 2 skornya 2, 3 skornya 3, dan
4 skornya 4, 5 skornya 5.

42

1) Stress ringan artinya jika seorang pekerja dalam melaksanakan


pekerjaannya merasa adanya sedikit tekanan.
2) Stress berat artinya jika seorang pekerja dalam melaksanakan
pekerjaannya

merasakan

tekanan

yang

berada

diluar

kemampuannya untuk menghadapinya.Skor maksimum dalam


kuesioner stress kerja adalah jumlah pernyataan x skor tertinggi
menjadi 30 5 = 150 dan skor minimumnya adalah jumlah
pernyataan x skor terendah menjadi 30 1 = 31 sehingga
rentang nilai untuk stress kerja yaitu, Ringan 63,99 dan berat >
63,99. Menurut rumus Statistik Sudjana (2002) dimana p =
rentang kelas/banyak kelas. P merupakan panjang kelas, rentang
kelas adalah selisih nilai tertinggi dengan nilai terendah yaitu
120, dan banyak kelas ada 2 yaitu stress kerja ringan dan berat.
2.

Hasil Uji Coba Instrument Penelitian


Instrumen penelitian sebelum digunakan oleh peneliti terlebih dahulu
dilakukan uji validitas dan reabilitas. Uji ini bertujuan agar tepat ketika
digunakan dalam pengukuran. Instumen dikatakan valid jika mampu
mengukur apa yang akan diukur,sedangkan reabilitas merupakan
kemampuan menghasilkan data yang sama untuk mengukur objek yang
sama.Uji Coba dilakukan diRS Hermina Depok pada bulan februari 2015
dengan 30 responden.
Dalam hal ini instrumen penelitian menggunakan observasi dan
kuisioner, sehingga diharapkan handal untuk dijadikan instrument dalam
penelitian.
1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benarbenar mengukur apa yang diukur. Untuk mengetahui apakah kuesioner
yang kita susun tersebut mampu mengkur apa yang hendak kita ukur,
maka perlu diuji dengan uji korelasi anatar skors (nilai) tiap-tiap item
(pernyataan) dengan skors tota kuesioner tersebut. Bila semua
pernyataan itu mempunyai korelasi yang bermakna (construct
validity). Apabila kuesioner tersebut telah memiliki validitas konstruk,

43

berarti semua item yang ada di dalam kuesioner itu mengukur konsep
yang kita ukur (Notoatmodjo, 2010). Uji validitas ini dilakukan di luar
dari tempat penelitian. Teknik korelasi yang dipakai adalah teknik
korelasi Pearson product moment yang rumusnya sebagai berikut:

Keterangan:
rxy = Koefisien korelasi
X = Jumlah skor item
Y = Jumlah skor item
N

= Jumlah responden

Kriteria pengujian :
Jika r hitung > r tabel, berarti item pertanyaan adalah valid
Jika r hitung < r tabel, berarti item pertanyaan adalah tidak valid

Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas


Variabel Stress Kerja
Stress
Kerja
A01
A02
A03
A04
A05
A06
A07
A08
A09
A10
A11
A12
A13

r hitung
0.588
0.481
0.444
0.542
0.646
0.420
0.529
0.398
0.731
0.724
0.622
0.379
0.787

r-tabel
(n=30)
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361

Ket. Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Alpha
Cronbach's
0.938

Ket.
Reliabel
> 0.8
(Sangat
Reliabel)

44

A14
A15
A16
A17
A18
A19
A20
A21
A22
A23
A24
A25
A26
A27
A28
A29
A30

0.551
0.786
0.663
0.457
0.365
0.711
0.723
0.588
0.379
0.787
0.551
0.786
0.663
0.457
0.586
0.711
0.723

0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361
0.361

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Nilai r tabel untuk n = 30 dan Alpha 0.05 adalah 0.361, semua nilai r
hitung pada setiap pertanyaan memiliki nilai diatas 0.361, artinya
semua pertanyaan sudah valid.
2. Uji Reliabilitas
Reliabiltas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat
pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti
menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau
tetap asas bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap
gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama
(Notoatmodjo, 2010). Realibitas bisa digunakan rumus Alpha
Cronbach, uji ini dilakukan untuk mengukur rata-rata konsistensi
internal diantara item-item pertanyaan. Keuntungan uji ini adalah
dapat dihitung dengan hanya melakukan pengukuran satu waktu dan
tepat digunakan untuk alat ukur seperti skala likert, dengan rumus
sebagai berikut:

Keterangan:

= Koefisien realibitas instrument (alpha cronbach)


k
= Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

45

2b = Total varians butir


2t
= Total arians
(K.Kelana, 2011)
Kriteria pengujian :
Jika r hitung > r tabel, berarti kuesioner reliabel
Jika r hitung < r tabel, berarti kuesioner tidak reliabel
Tabel 4.3
Tingkat Reabilitas
Alpha
0,00 s.d 0,20
>0,20 s.d 0,40
>0,40 s.d 0,60
>0,60 s.d 0,80
>0,80 s.d 1,00

Tingkat Reabilitas
Kurang Reliabel
Agak Reliabel
Cukup Reliabel
Reliabel
Sangat Reliabel

Sumber : Sugiyono, 2005: 216


Hasil uji reliabilitas untuk pernyataan yang sudah valid dari kuesioner
stress kerja, dan didapat nilai r Alpha Cronbach pada kesiapan
perubahan fisik sebesar 0.938, maka tingkat reabilitas kuisioner
tersebut dapat dinyatakan sangat reliabel.
F. Prosedur Pengumpulan data
Dalam pengumpulan data di lapangan, peneliti akan bekerjasama dengan
RSIA Hermina Jatinegara untuk melakukan penelitian dengan menggunakan
sampel perawat pelaksana yang berada di tempat tersebut. Prosedur
pengumpulan data sebagai berikut:
1. Prosedur Administratif
a. Membuat dan menyerahkan surat pemohonan izin untuk melakukan
survey pendahuluan dan penelitian kepada ketua program Studi S1 yang
dilanjutkan ke ketua STIKes PERTAMEDIKA.
b. Menyerahkan surat perizinan untuk melakukan uji validitas dan
reabilitas dari STIKes PERTAMEDIKA, kepada Direktur RSIA
Hermina Jatinegara.
c. Menyerahkan surat perizinan untuk melakukan penelitian dari STIKes
PERTAMEDIKA, kepada Direktur RSIA Hermina Jatinegara.
2. Prosedur Teknis

46

a. Menjelaskan maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian kepada


responden.
b. Memberikan lembar persetujuan untuk ditandatangani oleh responden.
c. Memberikan penjelasan kepada responden tentang cara pengisian
lembar kuesioner penelitian.
d. Peneliti memberikan waktu 30 menit kepada responden untuk
menjawab seluruh pertanyaan kuesioner.
e. Mengumpulkan lembar kuesioner yang sudah dijawab oleh responden
f. Mengolah data kuesioner yang sudah diisi responden untuk dilakukan
penilaian.
g. Peneliti dibantu asisten peneliti sebanyak 2 orang saat melakukan
pengukuran lembar observasi.
G. Pengolahan dan Analisis Data
a.

Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan melalui tahapan editing, coding, memasukkan
data (data entry), pembersihan data (cleaning) (Notoatmodjo, 2010).
Menurut wasis ( 2006 ) pengolahan dan analis data bertujuan mengubah
data menjadi informasi.
Sedangkan menurut (Notoadmodjo, 2010. hlm:174-176) dalam suatu
penelitian, pengolahan data merupakan salah satu langkah yang penting.
Hal ini disebabkan karena data yang diperoleh langsung dari penelitian
masih mentah, belum memberikan informasi apa-apa, dan belum siap
untuk disajikan. Langkah-langkah pengolahan data secara manual adalah:
1) Editing
Peneliti mengumpulkan hasil kuesioner yang sudah diisi oleh
responden, lalu diperiksa kelengkapannya. Dari semua hasil
kuesioner, responden menjawab pertanyaan dengan lengkap,
sehingga tidak ada kuesioner yang dikeluarkan.
2) Koding
Peneliti mengubah data yang telah diperiksa dalam bentuk kalimat
atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
3) Entry
Peneliti memasukkan jawaban-jawaban dari

masing-masing

responden yang sudah ditotal nilainya ke dalam program SPSS 16.


4) Tabulasi
Membuat tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian.
5) Cleaning

47

Selanjutnya peneliti melihat kembali hasil data yang sudah


dimasukkan untuk melihat kemungkinan terjadinya kesalahan.
Setelah semua sudah dilakukan dan sudah diperiksa kembali.
b. Analisa Data
a.

Uji Normalitas
Uji Normalitas berguna untuk menentukan data yang telah
dikumpulkan berdistribusi normal atau diambil dari populasi normal.
Metode klasik dalam pengujian normalitas suatu data tidak begitu
rumit. Berdasarkan pengalaman emperis beberapa pakar statistik,
data yang banyaknya lebih dari 30 angka (n>30), maka sudah dapat
diasumsikan berdistribusi normal. Biasa dikatakan sebagai sampel
besar.
Namun untuk memberikan kepastian,data yang dimiliki berdistribusi
normal

atau

tidak,

sebaiknya

digunakan

uji

statistik

normalitas.Karena belum tentu data yang lebih dari 30 bisa


dipastikan berdistribusi normal, demikian sebaliknya data yang
banyaknya kurang dari 30 bisa dipastikan berdistribusi normal,
demikian sebaliknya data yang banyaknya kurang dari 30 belum
tentu tidak berdistibusi normal,untuk itu perlu suatu pembuktian uji
statistik normalitas yang dapat digunakan Chi- Square, Kolmogorov
Smirnov, Lilliefors, Shapiro Wilk. (http://Statistik pendidikan.com).
Uji Normalitas Data
Descriptive
Stress Kerja

Mean
95% Confidence Lower Bound
Interval for
Mean
Upper Bound
5% Trimmed Mean
Median
Variance
Std. Deviation
Minimum
Maximum

Statistic Std. Error


63.99
2.002
60.00
67.98
63.81
67.00
300.635
17.339
35
103

48

Range
68
Interquartile Range
30
Skewness
.083
Kurtosis
-.853
Uji Normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov :
1.
2.

.277
.548

Data menyebar normal, jika nilai Sig. 0.05


Data tidak menyebar normal, jika nilai Sig. < 0.05

Ketentuan Mean/Median :
1. Cut offs menggunakan Mean, jika data menyebar normal
2. Cut offs menggunakan Median, jika data tidak menyebar norma
Tabel Hasil Uji Normalitas
Variabel

Sig.

Stress Kerja
b.

0.200

Normal /

Cut

Tidak Normal
Normal

Offs
Mean

Nilai
63.99

Analisa Univariat
Analisa univariat bertujuan untuk menggambarkan populasi yang
diteliti atau memberikan informasi tentang karakteristik sampel.
Data demografi dan data khusus kemudian dikumpulkan dan
dikelompokkan sesuai karakteristik masing-masing data. Data
kemudian diubah kedalam bentuk yang mudah dimengerti dengan
menggunakan tabel proporsi, sedangkan data setelah diukur
dikumpulkan dan dianalisa sesuai desain penelitian, (Dempsey &
Dempsey, 2002).
Analisa univariat pada penelitian ini mendiskripsikan variabel yang
berupa data kategorik seperti usia, masa kerja dan tingkat
pendidikan. Pada umunya dalam analisa ini menghasilkan distribusi
frekuensi dan persentase dari tiap variabel.(Notoatmodjo, 2010: 182)
Dalam penelitian ini analisa univariat akan didideskripsikanan
adalah sebagai berikut
Tabel 4.4
Analisis Data Univariat Variabel Penelitian
Deskriptif

49

Karakteistik berdasarkan: Jumlah (n) dan presentase(%)


-Usia
-Pengalaman kerja
-Pendidikan

2
3

Beban kerja
Stress kerja

Jumlah (n) dan presentase(%)


Jumlah (n) dan presentase(%)

Adapun rumus distribusi kategorik adalah sebagai berikut :


x = fx x 100%
N
Keterangan :
x = hasil yang dicari
f = frekuensi
N = jumlah responden
Gambaran yang didapat dimasukkan kedalam bentuk tabel frekwensi
dan akan digunakan untuk uji chi-square. Tabel frekwensi pada
penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan respondensesuai
karakteristik masing-masing.
Rumus Median
Median = N +1
2
Rumus Mean
Mean = X1
Keterangan
:
N
X
= rata-rata hitungan sampel
X = nilai dalam suatu sampel
N
= Jumlah score maksimal
(Sabri, 2008)
c.

Analisa Bivariat
Analisa bivariat dimaksudkan untuk memperlihatkan keeratan
hubungan antara variabel bebas (Beban kerja) dan variabel terikat
(Stress kerja).Tingkat kemaknaaan hubungan antar variabel dilihat
pada nilai p < 0,05. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Che
square dengan menggunakan skala kategorik Dideskripsikan dengan
tabel sebagai berikut:

50

Tabel 4.5
Analisis Data Bivariat
Variabel
Beban
kerja

Hasil
Skala
Ukur
Ukur
3. Ringan Nominal
: Jika
selama
3 kali
shift
ratarata
penggu
naan
waktu
kerja
perawa
t
75%.
4. Berat :
Jika
selama
3 kali
sift
ratarata
pengun
aan
waktu
kerja
perawa
t>
75%.

Variabel
Stres
Kerja

Hasil
Skala
Ukur
Ukur
3. Ringan Nominal
:
63,99
4. Berat:
> 63,99

Analisis
data
Chisquare

51

BAB V
HASIL PENELITIAN
Bab ini menguraikan hasil penelitian Hubungan Beban Kerja dengan stress kerja
di ruang perawatan RSIA Hermina Jatinegara. Penyajian hasil penelitian meliputi
analisis univariat dan bivariat.
A. Analisis Univariat
Analisis univariat dalam penelitian ini akan melihat distribusi frekuensi dari
seluruh variabel meliputi: Data demografi usia, pengalaman kerja,
pendidikan, sedangkan variabel beban kerja sebagai variabel bebas
(independen). Sedangkan variabel stress kerja sebagai variabel terikat
(dependen).
1.

Variabel Confonding
Tabel 5.1.
Distribusi Frekuensi Reponden Berdasarkan Karakteristik Perawat
di RSIA Hermina Jatinegara
2015 ( n = 75 )
No
1 Usia

Karakteristik

30 tahun
> 30 tahun
Total
Pendidikan
D3 (Vokasional)
S1 (Keperawatan Ners)
Total
Masa Kerja
5 tahun
> 5 tahun
Total

Frekuensi

57
18
75

76.0
24.0
100

75
0
75

100.0
0.0
100.0

52
23
75

69.3
30.7
100.0

Tabel 5.1. menunjukkan bahwa mayoritas perawat pada kategori berusia


30 tahun sebanyak 57 orang (76%), mayoritas perawat berada pada unit
ruang perawatan anak yaitu sebanyak 31 orang (41.3%), mayoritas
perawat memiliki jenjang pendidikan D3 sebanyak 75 orang (100.0%) dan
mayoritas perawat dengan lama kerja 5 tahun sebanyak 52 orang
(69.3%).

52

2. Variabel Independen
Tabel 5.2.
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Beban Kerja
di RSIA Hermina Jatinegara
2015 ( n = 75 )
Variabel Independen
Beban Kerja
Ringan
Berat
Jumlah

Frekuensi

43
32
75

57,3
42,7
100.0

Tabel 5.2 memberikan gambaran bahwa dari 75 perawat didapatkan


perawat memiliki beban kerja ringan sebanyak 43orang (57,3%) dan
perawat lainnya memiliki beban kerja berat.
3. Variabel dependen
Tabel 5.3.
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Stres Kerja
di RSIA Hermina Jatinegara
2015 ( n = 75 )
Variabel Dependen
Stress Kerja
Ringan
Berat
Jumlah

Frekuensi

34
41
75

45.3
54.7
100.0

Tabel 5.3. memberikan gambaran bahwa dari 75 perawat didapatkan


perawat mengalami stress kerja berat sebanyak 41 orang (54.7%) dan
perawat lainnya mengalami stres kerja ringan.
B. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk menguji hubungan antara variabel-variabel
yang meliputi: beban kerja sebagai variabel bebas (independen) dengan
variabel stress kerja sebagai variabel (dependen).
Tabel 5.4.
Hubungan Beban Kerja dengan Stress kerja

53

di RSIA Hermina Jatinegara


2015 ( n = 75 )
Beban
Kerja
Ringan
Berat
Jumlah

Stress Kerja
Jumlah
Ringan
Berat
n
%
n
%
n
%
26 60.5 17 39.5 43 100.0
8 25.0 24 75.0 32 100.0
34 45.3 41 54.7 75 100.0

P
Value

OR
( 95% CI )

0.005

4.588

Hubungan Beban Kerja dengan Stress Kerja


Dari hasil penelitian pada Tabel 5.4. menyatakan bahwa dari 43 responden
yang beban kerja-nya ringan, diketahui 26 orang (60.5%) stress kerja-nya ringan
dan 17 orang (39.5%) stress kerja-nya berat. Sedangkan dari 32 responden yang
beban kerja-nya berat, diketahui 8 orang (25.0%) stress kerja-nya ringan dan 24
orang (75.0%) stress kerja-nya berat.
Dengan P Value sebesar 0.005 nilai P Value ini lebih kecil dari alpha (0.05)
maka H0 ditolak, artinya beban kerja berhubungan secara signifikan dengan stress
kerja. Nilai Odds Ratio sebesar 4.588 artinya responden yang beban kerja-nya
berat memiliki peluang stress kerja-nya berat pula yaitu 5 kali lebih besar
dibandingkan responden yang beban kerja-nya ringan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa semakin berat beban kerja maka responden akan semakin
mengalami stress kerja, dan begitu sebaliknya.
BAB VI
PEMBAHASAN
Bab 6 menguraikan pembahasan hasil penelitian mengenai hubungan beban kerja
dengan stress kerja perawat pelaksana diruang perawatan RSIA Hermina
jatinegara.

Pembahasan

meliputi

intrepetasi

dan

diskusi

hasil

dengan

54

mengintegrasikan hasil penelitian dan menggunakan konsep terkait penelitian


terdahulu yang berhubungan dengan variabel yang diteliti. Selain itu, juga
disampaikan keterbatasan rancangan penelitian.
A. Interpretasi dan Diskusi hasil
1. Berdasarkan hasil analisis univariat didapat hasil sebagai berikut :
a. Karakterisitik Responden
Hasil penelitian distribusi frekuensi responden berdasarkan usia
menunjukkan bahwa mayoritas perawat pada kategori berusia 30
tahun sebanyak 57 orang (76.0%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Hariyono (2009) didapatkan kategori usia antara 20-30
tahun sebanyak 46 perawat (88,5%), tetapi hasil ini menunjukkan
kondisi yang berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Dhania
(2010) didapatkan mayoritas responden memiliki kategori usia 30-45
tahun sebanyak 26 orang (62%).
Menurut Davis & Newstorm, semakin meningkat usia seseorang, akan
meningkatkan kedewasaan secara teknis dan psikologis serta semakin
mampu melaksanakan tugasnya. Peneliti berpendapat bahwa mayoritas
usia perawat 30 tahun yang didapatkan peneliti karena RSIA Hermina
rutin melakukan perekrutan untuk meningkatkan sumber daya manusia
yang dibutuhkan rumah sakit. Meningkatnya SDM diharapkan dapat
meringankan beban kerja perawat sehingga jumlah antara pasien dan
perawat yang dibutuhkan tiap unit seimbang.
Hasil penelitian distribusi frekuensi responden berdasarkan unit ruang
menunjukkan bahwa mayoritas perawat berada pada unit ruang
perawatan anak yaitu sebanyak 31 orang (41.3%). Hal ini sama
denganhasil penelitian yang dilakukan oleh Prihatini (2008) didapatkan
mayoritas responden berada pada unit ruang perawatan anak sebanyak 9
orang (30%). Menurut peneliti kondisi ini didapatkan karena di RSIA
Hermina Jatinegara jumlah tempat tidur ruang perawatan anak lebih
banyak dari ruang maternitas dan perinatologi, yaitu sebanyak 44
tempat tidur, sehingga jumlah perawat yang ditemukan diruang ini lebih
banyak dari ruang maternitas dan perinatologi.

55

Hasil penelitian distribusi frekuensi responden berdasarkan jenjang


pendidikan menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki jenjang
pendidikan D3 sebanyak 75 orang (100.0%). Hal ini sama dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Prihatini (2008) didapatkan mayoritas
perawat memiliki jenjang pendidikan D3 sebanyak 17 orang (56.7%).
Peneliti berpendapat bahwa banyaknya perawat dengan jenjang
pendidikan D3 karena RSIA Hermina Jatinegara didirikan sejak tahun
1967 dimana pada saat itu lebih banyak perawat dengan lulusan D3,
tetapi saat ini Hermina Grup sudah membuat program peningkatan
pendidikan bagi perawat RSIA Hermina Jatinegara.
Hasil penelitian distribusi frekuensi responden berdasarkan lama kerja
menunjukkan bahwa mayoritas perawat dengan lama kerja 5 tahun
sebanyak 52 orang (69.3%). Hal ini berbeda dengan penelitian yang
dilakukan oleh Dhania (2010) bahwa mayoritas responden memiliki
pengalaman kerja selama 5-10 tahun sebanyak 24 orang (57%).
Penelitian lainnya dilakukan oleh Prihatini (2008) menunjukkan bahwa
mayoritas perawat memiliki masa kerja 2-7 tahun sebanyak 14 orang
(46.7%). Menurut peneliti hal ini berkaitan dengan didapatkannya
mayoritas perawat yang berusia 30 tahun di RSIA Hermina Jatinegara,
sehingga masih banyak perawat yang memiliki masa lama kerja 5
tahun. Berbeda dengan hasil penilitian oleh Dhania (2010) yang
mayoritas berusia 30-45 tahun sehingga masa lama kerja pun lebih lama
antara 5-10 tahun.

b. Gambaran Beban Kerja Perawat


Hasil penelitian distribusi frekuensi beban kerja menunjukkan bahwa
mayoritas perawat di RSIA Hermina Jatinegara memiliki beban kerja
ringan sebanyak 43 orang (57.3%).
Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hariyono (2009)
bahwa mayoritas perawat di Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI
memiliki beban kerja sedang sebanyak 32 perawat (61.54%). Penelitian

56

yang dilakukan Prihatini (2008) menyatakan bahwa distribusi perawat


yang memiliki beban kerja sedang di ruang perawatan anak sebanyak 7
orang (77.8%).
Beban kerja perawat adalah seluruh kegiatan atau aktivitas yang
dilakukan oleh seorang perawat selama bertugas di suatu unit pelayanan
keperawatan (Marquis and Houston, 2010). Menurut Ilyas (2001),
beban kerja dapat diukur dengan mempertimbangkan beberapa
komponen yang terdiri dari jumlah klien, tingkat ketergantungan, ratarata lama rawat, jenis tindakan keperawatan dan rata-rata waktu yang
diperlukan untuk melaksanakan tindakan keperawatan.
Peneliti berpendapat bahwa adanya perbedaan hasil penelitian mungkin
karena adanya perbedaan SPO rumah sakit tentang rasio antara jumlah
perawat dengan jumlah pasien yang dirawat, menentukan tingkat
ketergantungan pasien, rata-rata lama rawat serta tindakan keperawatan
yang dilakukan. Tidak sesuainya antara jumlah perawat dengan jumlah
pasien membuat beban kerja menjadi lebih berat untuk perawat dalam
membagi waktunya kepada pasien yang harus dirawatnya. Kesesuaian
rasio antara jumlah perawat dengan jumlah pasien membuat pelayanan
yang diberikan menjadi lebih maksimal dan sesuai kebutuhan pasien
sehingga beban kerja perawat menjadi lebih ringan. Hal ini juga
didukung dengan banyaknya jumlah perawat yang berusia 30 tahun
yang artinya pada umumnya mempunyai fisik yang lebih kuat, dinamis
dan kreatif (Hasibuan dalam Haryono, 2009). Sehingga beban kerja
menjadi lebih ringan karena perawat yang masuk dalam kategori usia
tersebut melakukan kinerja yang lebih optimal.
c. Gambaran Stres Kerja Perawat
Hasil penelitian distribusi frekuensi stres kerja menunjukkan bahwa
mayoritas perawat di RSIA Hermina Jatinegara memiliki stress kerja
berat sebanyak 41 orang (54.7%).

57

Hal ini di dukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Hariyono


(2009) bahwa mayoritas perawat di Rumah Sakit Islam Yogyakarta
PDHI memiliki stres kerja sedang sebanyak 43 perawat (82.70%). Hal
ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Prihatini (2008)
menyatakan bahwa perawat yang memiliki stress kerja ringan di ruang
perawatan anak sebanyak 5 orang (55.6%).
Menurut Hurrel dalam munandar (2001) kondisi stress disebabkan dari
beberapa faktor diantaranya, faktor instrinsik dalam pekerjaan, peran
dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan dalam pekerjaan serta
struktur dan iklim organisasi.Menurut peneliti, perawat di RSIA
Hermina Jatinegara memiliki stress kerja berat karena salah satunya
adalah banyak jumlah pasien yang harus dirawatnya yang memiliki
tingkat ketergantungan berbeda-beda.
Kondisi lain yang ditemukan di RSIA Hermina Jatinegara adalah
adanya tuntutan tugas untuk melakukan shift malam dimana waktu shift
malam lebih panjang yaitu 10 jam dibanding shift pagi dan sore yang
hanya 7 jam, hal ini membuat beban kerja berlebih yang menjadi
pencetus terjadinya stres. Adanya tuntuan dari misi rumah sakit yang
ingin meningkatkan mutu pelayanan dengan memberikan pelayanan
yang professional juga menyebabkan perawat mengalami perubahan
kondisi fisik seperti kelelahan yang merupakan salah satu gejala stress,
karena perawat melakukan kinerja yang lebih demi tercapainya misi
rumah sakit.

1. Hubungan antara beban kerja dengan stress kerja


Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perawat yang memiliki beban kerja
ringan dengan stress kerja berat sebanyak 22 orang (44.0%) dan perawat
yang memiliki beban kerja berat dengan stress kerja berat sebanyak 19
orang (76.0%). Analisis bivariat dari hasil uji statistik diperoleh p-value
sebesar 0.017 (p-value<0.05), maka dapat disimpulkan bahwa ada

58

hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan stress kerja. Dari
hasil analisis diperoleh nilai Odds Ratio sebesar 4.030 yang artinya
perawat yang memiliki beban kerja berat berpotensi mengalami stress
kerja yang berat pula yaitu 4 kali lebih besar dibandingkan dengan perawat
yang memiliki beban kerja ringan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
semakin berat beban kerja maka perawat akan semakin mengalami stress
kerja, dan begitu sebaliknya.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Prihatini (2008) yang menyatakan bahwa adanya hubungan beban
kerja dengan stress kerja perawat di ruang perawatan anak dengan pvalue=0.034 dan dengan tingkat korelasi cukup kuat sebesar 0.705.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Hariyono (2009) yang menyatakan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan kelelahan
kerja perawat di Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI dengan nilai taraf
signifikansi 0.000 dan ada hubungan yang signifikan antara stress kerja
dengan kelelahan kerja perawat di Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI
dengan nilai taraf signifikansi 0.026.
Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukan oleh Manuaba (2000) akibat
beban kerja yang terlalu berat dapat mengakibatkan seorang pekerja
menderita gangguan atau penyakit akibat kerja. Beban kerja yang terlalu
berlebihan akan menimbulkan kelelahan baik fisik atau mental dan reaksireaksi emosional seperti sakit kepala, gangguan pencernaan dan mudah
marah.

Sedangkan pada beban kerja yang terlalu sedikit dimana pekerjaan yang
terjadi karena pengulangan gerak akan menimbulkan kebosanan, rasa
monoton. Selain itu, secara umum stres kerja dipengaruhi oleh banyak
faktor selain beban kerja, seperti yang disebutkan dalam penelitian
Restiaty, et al (2006) tentang beban kerja dan perasaan kelelahan
menyimpulkan adanya hubungan beban kerja di tempat kerja dengan

59

kelelahan kerja yang merupakan gejala fisik stress kerja, artinya semakin
berat beban kerja di tempat kerja maka semakin tinggi tingkat stress kerja
Menurut peneliti beban kerja yang berat akan mempengaruhi emosi,
proses berpikir dan kondisi seseorang. Koping seseorang yang tidak baik
dalam mengatasi perubahan emosi yang terjadi mengakibatkan stress dapat
berakibat lanjut yang dapat mempengaruhi kesehatan seseorang seperti
sakit kepala, sakit punggung, timbul rasa mual atau muntah-muntah
bahkan hingga mengalami ganggua pola tidur. Beban kerja berat yang
menimbulkan stress kerja ini mengakibatkan pelayanan yang diberikan
tidak lagi maksimal karena terjadi perubahan fisik dan mental yang
dialami perawat, sehingga ditakutkan akan menyebabkan tidak tercapainya
misi rumah sakit yaitu memberikan pelayanan yang professional.
B. Keterbatasan Penelitian
1. Keterbatasan Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini termasuk penelitian deskriptif analitik dengan
tujuan membuat gambaran secara objektif dan menganalisis hubungan
antara dua variabel. Metodologi yang digunakan yaitu cross sectional yaitu
peneliti melakukan pengukuran atau pengamatan dalam waktu yang
bersamaan antara variabel independen (beban kerja) dengan variabel
dependen (stress kerja perawat). Sehingga penelitian ini tidak bisa
diartikan sebagai hubungan sebab akibat.
2. Keterbatasan Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah
kuisioner dan lembar observasi. Data yang digunakan dari hasil jawaban
kuisioner melalui pembagian kuisioner kepada 75 responden yang
merupakan perawat RSIA Hermina Jatinegara dan hasil pengamatan yang
dilakukan peneliti dengan menggunakan lembar observasi. Pada penelitian
ini terdapat keterbatasan penelitian antara lain :
a. Sumber data
Data yang diambil merupakan data primer dengan menggunakan
kuisioner melalui pembagian kuisioner langsung terhadap responden

60

dan lembar observasi yang dilakukan oleh peneliti. Adapun kelemahan


yang mungkin terjadi dalam penggunaan metode ini :
1) Terjadinya bias dalam jawaban, kemungkinan jawaban yang
diberikan tidak berdasarkan kejujuran responden. Pengumpulan
data dengan kuisioner mempunyai dampak yang sangat subjektif
sehingga kebenaran data tergantung dari kejujuran responden.
2) Kesalahan persepsi responden tentang pernyataan yang diajukan
dan ketidaktepatan jawaban dapat terjadi karena faktor pemahaman
responden yang kurang terhadap pernyataan-pernyataan yang ada
dalam kuisioner. Data yang terkumpul saat menyebarkan kuisioner
ditentukan oleh pengumpul data terutama kemampuan untuk
menggali informasi.
3) Kemungkinan responden bertanya atau mengikuti jawaban dari
responden lain yang bisa mempengaruhi hasil jawaban yang
sebenarnya.
4) Lembar observasi yang harus dilakukan 24 jam oleh peneliti tidak
dapat dilakukan setiap hari sehingga peneliti mendelegasikan
kepada orang yang dipercaya untuk mengobservasi kegiatan
perawat yang diteliti. Perbedaan persepsi antara peneliti dan orang
yang dipercaya untuk mendelegasikan lembar observasi dapat
mempengaruhi hasil jawaban yang sebenarnya.
5) Alat pengumpulan data ini tidak real menggunakan waktu hanya
menggunakan total klasifikasi ketergantungan pasien (minimal,
parsial dan total) dan tidak menggunakan metode seperti work
sampling dan continuous observation untuk lebih mengetahui real
beban kerja. Alat pengumpul data yang digunakan peneliti hanya
melihat jumlah pasien dan lama perawatan dikalikan berdasarkan
rumus yang sudah ada.
2. Keterbatasan Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi pada penelitian hanya pada perawat pelaksana di ruang perawatan
anak,

maternitas

dan

perinatologi.

Pengambilan

sampel

dengan

menggunakan teknik Total Sampling dengan jumlah 75 sampel,


keterbatasan pada sampel tersebut perlu adanya penyempurnaan berupa
penambahan atau peningkatan jumlah responden (sampel) agar bisa

61

menggeneralisasikan. Karena populasi yang digunakan oleh peneliti hanya


pada perawat pelaksana di ruang perawatan anak, maternitas dan
perinatology di RSIA Hermina Jatinegara.

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan antara beban
kerja dengan stress kerja perawat pelaksana di ruang perawatan RSIA
Hermina Jatinegara, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Berdasarkan distribusi frekuensi karakteristik responden, hasil penelitian
menunjukkan bahwa mayoritas perawat pada kategori berusia 30 tahun
sebanyak 57 orang (76%), mayoritas perawat berada pada unit ruang
perawatan anak yaitu sebanyak 31 orang (41.3%), mayoritas perawat
memiliki jenjang pendidikan D3 sebanyak 75 orang (100.0%) dan
mayoritas perawat dengan lama kerja 5 tahun sebanyak 52 orang
(69.3%).
2. Berdasarkan distribusi frekuensi gambaran terhadap beban kerja, hasil
penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki beban kerja
ringan sebanyak 43 orang (57.3%).

62

3. Berdasarkan distribusi frekuensi gambaran terhadap stres kerja, hasil


penelitian menunjukkan bahwa mayoritas perawat memiliki stress kerja
berat sebanyak 41 orang (54.7%).
4. Ada hubungan antara beban kerja dengan stress kerja di RSIA Hermina
Jatinegara dinyatakan dari p-value sebesar 0.005 (p-value<0.05 = Ho
ditolak).
B. Saran
1. Bagi Pelayanan Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan bacaan bagi perawat dalam
memperkenalkan tentang sistem manajemen keperawatan.
2. Bagi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan untuk penambahan
ilmu pengetahuan serta acuan dalam pengembangan ilmu kepeawaan yang
berkaitan dengan sistem manajemen kepeawatan.
3. Bagi Pengembangan Ilmu Keerawatan
6) Bagi peneliti selanjutya diharapkan menggunakan alat pengumpul data
yang lain misalnya dengan metode work sampling atau continuous
observation.
7) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk pengukuran stress kerja
tidak menggunakan desain cross sectional karena pengukuran atau
pengamatan dilakukan dalam waktu yang bersamaan antara variabel
independen dengan variabel dependen, sehingga penelitian tidak bisa
diartikan sebagai hubungan sebab akibat.
8) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengukur lembar observasi
beban kerja secara berkelompok sehingga tidak perlu untuk melakukan
pendelegasian dan hasil jawaban lebih akurat.
9) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk mendampingi responden
saat mengisi lembar kuesioner sehingga apabila responden tidak
mengerti pertanyaan kuesioner dapat langsung bertanya dengan peneliti
dan meminimalkan responden yang menyontek hasil jawaban ke
responden lain.
4. Bagi Rumah Sakit Hermina

63

a. Masih ada 42.7% perawat memiliki beban kerja yang berat, sehingga
yang harus dilakukan adalah :
1) Memperhatikan pembagian distribusi pasien
2) Memperhitungkan ulang jumlah kebutuhan tenaga berdasarkan BOR
dan kapasitas tempat tidur
3) Mempertimbangkan kembali jumlah pasien berdasarkan rasio
4) Meninjau kembali kemampuan perawat dalam menentukan tingkat
klasifikasi pasien
b. Masih ada 54,7% perawat mengalami stress kerja yang berat, sehingga
yang arus dilakukan adalah :
1) Melakukan medical check up secara rutin
2) Melakukan kegiatan refreshing secara rutin