Anda di halaman 1dari 6

METODE ANALISIS BAHAN ALAM

Pendahuluan
Karakteristik dari proses pembuatan obat tradisional adalah bahwa obat
obatan herbal, baik yang mengandung ramuan tunggal atau beberapa ramuan
dalam formula campuran, di ekstraksi dengan air mendidih selama proses
perebusan. Oleh karena itu bisa saja hal tersebut menjadi alas an utama mengapa
control kualitas obat herbal tradisional menjadi sulit daripada obat obat sintesis.
Pada zaman dahulu obat digunakan untuk mengobati pasien secara individual dan
obat disiapkan sesuai dengan kebutuhan pasien tetapi sekarang keadaan telah
berubah, obat obatan herbal sedang diproduksu dalam skala besar dan produsen
menemukan banyak permasalahan tentang ketersediaan bahan baku berkualitas
baik, otentikasi bahan baku, ketersediaan standar, metodologi standarisasi yang
tepat untuk obat tunggal formulasinya, parameter control kualitas, dll. Maka,
konsep kualitas dari langkah pertama adalah factor penting yang harus
mendapatkan perhatian yang baik.
Kurangnya parameter standar yang tepat untuk standarisasi obat herbal dan
beberapa contoh herbal standar, mengakibatkan adanya obat herbal yang
dipalsukan. Oleh karena itu, setiap obat tradisional perlu diperiksa kualitasnya
untuk memastikan bahwa obat tradisional tersebut telah memenuhi syarat dan
bersifat konsisten.
Metode Analisis
KLT(Kromatografi Lapis Tipis)
Kromatografi Lapis Tipis, adalah salah satui teknik kromatografi sederhana .
Dalam fitokimia dari obat obatan herbal, KLT secara luas digunakan untuk alas an
alasan sebagai berikut :
1. Analisis ekstrak herbal cepat dengan sampel clean-up
2. Dapat dilakukan kuantifikasi zat zat kimia.
3. Dapat menyediakan informasi kualitatif atau semikuantitatif tentang senyawa
yang telah dipisahkan
Proses penyidikjarian menggunakan metode KLT, data y6ang dapat dicatat
menggunakan pemindai KLT kinerja tinggi adalah kromatogram, nilai retardation
factor (Rf), warna dari pita pita yang terpisahkan, spectrum absorbs,

maks, dan

shoulder infection dari pita pita yang terpisahkan. Semua hal tersebut, bersama
dengan profil deritivikasi dari reagen yang berbed, menunjukkan profil sidik jari KLT
dari sampel. Informasi yang diperoleh dapat diaplikasikan pada indentifikasi obat
yang asli, mengeluarkan bahan pemalsu, dan menjaga kualitas dan konsistensi
obat. Penyidikjarian menggunakan KCKT antara lain pencatatan kromatogram,
waktu retensi dari puncak puncak secara individual, dan spektra absorpsi dengan

fase mobil yang berbeda beda. Demikian juga dengan GLC, digunakan untuk
menghasilkan profil sidik jari dari minyak minyak mudah dari obat obatan herbal.
HPLC (High Performance Liquid Chromatography)
Ada dua jenis HPLC perparatif : HPLC dengan tekanan rendah (dibawah 5 bar)
dan HPLC tekanan tinggi(tekanan di atas 20 bar) (Chimeze et al. 2008). Pada HPLC
preparatif (tekanan diatas 20 bar), kolom stainless steel yang lebihy panjang dan
packing materials (ukuran pertikel 10-30 mikrometer) dibutuhkan. Contoh dari
kolom silica fase normal adalah Kromasil 10 mikrometer, kromasil 16 mikrometer,
Chiralcel AS 20 mikrometer dan dimana untuk fase terbalik adalah Kromasil C18,
Kromasil C8, YMC C18. Tujuannya adalah untuk mengisolasi atau memurnikan
senyawa, dimana tujuan utama analisisnya adalah untuk mendapatkan informasu
mengenai sampel. Hal ini begitu penting dalam industri farmasi mengingat untuk
sekarang saat ini produk baru (alami, sintesis) harus dikenalkan pada pasar
sesegera mungkin. Teknik pemurnian yang sangat baik membuat semakin sedikit
waktu yang digunakan pada kondisi sintesis (Bhutani,2000; Marston,2002; Brand et
al., 2002)
LC-MC (Liquid Chromatoghraphy Mass Spectroscopy)
LC-MC telah menjadio pilihan dalam tingkatan pengembangan obat . Hal mutakhir
meliputi teknik electrospray, thermospray, dan ionspray ionization yang mana
memiliki keuntuingan unik dalam hal sensitivitas deteksi yang tinggi dan
spesifisitas, spektroskopi massa ion cairan sekunder , kemudian spektroskopi massa
laser dengan 600 MHz menganalisis penentuan berat molekul protein dan peptide
secara akurat. Teknik ini juga dapat mendeteksi pola isotop (Bhutani,2000)
LC-NMR (Liquid Chromatography Nuclear Magnetic Resonance )
LC-NMR mengembangkan kecepatan dan sensitivitas dari pendeteksian dan
diketahui beguna dalam bidang famakokinetik. Ini merupakan salah satu metode
yang sangat baik dan hemat waktu untuk memisahkan dan elusidasi struktur dari
campuran senyawa yang tidak diketahui, terutama untuk elusidasi struktur dari
senyawa yang tidak diketahui, terutama untuk elusidasi struktur dari campuran
senyawa yang tidak diketahui, terutama untuk elusidasi struktur dari senyawa yang
tidak diketahui, terutama untuk elusidasi struktur dari senyawa yang sensitive
terhadap siunar dan oksigen (Patil et al., 2010)
GC-MS (Gas Chromatography)
GC dan GC-MS adalah metode yang digunakan untuk analisis obat tradisional
dengan kandungan senyawa yang mudah menguap, berhubungan dengan
sensitifitasnya, stabilitasnya, dan efisiensi yang tingi. Terutama, menghubungkan
denga MS akan menghasilkan informasi yang terpercaya untuk analisisi kualitatif
dari senyawa kompleks (Guo et al., 2006 and Teo etal., 2008). Kecepatan alir dari
kolom kapiler secara umum cukup rendah sehingga keluarannya dapat
dihubuingkan langsung ke dalam ruang ionisasi pada MS. Detektor paling
sederhana pada GC adalah ion Trap Detector (ITD). Instrumen GC-MS telah

digunakan untuk indentifikasi dari ratusan komponen senyawa yang ada pada alam
dan system biologi (Sharma, 2009)
GC-FID
Penyambungan kolom kapiler kromatografi gas dengan FT-IR menghasilkan
informasi yang sangat baik dalam pemisahan dan indentifikasi dari komponen
dalam campuran yang berbeda (Sharma, 2009). Keduanya sensitive untuk berbagai
senyawa dalam rentang yang luas dan keduanya juga sensitive bekerja untuk
rentang konsentrasi yang luas. Detektor yang paling umum digunakan pada
kromatografi gas adalah FID( Flame Ionization Detector) dan TCD( Thermal
Conductivity Detector). FID lebih sensitif dari TCD terutama untuk senyawa
hidrokarbon. Tetapi FID tidak dapat mendeteksi adanya air. TCD adalah detektpr
yang non-destruktif, detector ini dapat digunakan dalam serangkaian analisis
sebelum pengunaan FID (bersifat destruktif) dan demikian dapat menghasilkan
deteksi komplneter dari analit yang sama (Patra etal.,2010)
SFC (Supercritical Fluid Chromatoghraphy )
SFC adalah penggabungan dari kromatografi gas dan cari yang
mengkombinasikan keunggulan dari masing masing metode analisis. SFC
memungkinkan pemisahan dan pentnuan dari sekelompok senyawa yang tidak
dapat dideteksi oleh kromatografi cair atau gas.
Validasi Metode Analisis
`Pendahuluan
Menurut USP 36, validasi metode analisis adalah pengumpulan bukti
terdokumentasi yang menjelaskan bahwa prosedur analisis sesuai untuk digunakan.
Metode analisis perlu di validasi, diverifikasi, atau re-validasi dalam hal- hal berikut:
- Ketika dipindahkan ke laboratorium lain
- Sebelum penggunaan awal dalam pengujian rutin
- Kapan saja saat kondisi atau parameter validasi dari metode yang sudah
divalidasi berubag (miusalnya, instrument dengan karakteristik yang
berbeda) dan perubnahan itu berada di luar lingkup asli dari metode
`Tujuan Validasi Metode
Menurut USP validasi metode dilakukan untuk menjamin bahwametode
analisis akurat, spesifik, reprodusibel, dan tahan pada kisaran analit yang akan
dianalisis (Gandjar dan Rohman, 2009 ). Suatu metode analisis harus divalidasi
untuk melakukan verifikasi bahwa parameter parameter kinerjanya cukup mampu
untuk mengatasi problem analisis, karenanya suatu metode harus divalidasi.
`Panduan validasi metode analisis
ICH Q2A : Text on validation of analytical Procedure
ICH Q2B Validation of analytical procedures methodology
FDA-CDER (Center for Drug Evaluation and Research)
a. Reviewer guidance validation of chromatographic methods
b.

Submitting sample and analytical data for method validation

c. Analytical procedure and method validation for human studies


d. Bioanalytical method validation for human studies
USP: Validation of compendial method
`Karakteristik kinerja Analitik yang Digunakan dalam Validasi Metode
1.

Ketepatan (akurasi)
Akurasi merupakan ketelitian metode analisis atau ketepatan antara nilai tertukur dengan nilai

yang diterima baik nilai konfensi nilai sebenarnya atau nilai rujukan akurasi diukur sebagai banyaknya
analit yang diperoleh kembali pada suatu pengukuran dengan melakukan spiking pada suatu sampel.
Untuk pengujian senyawa obat, akurasi diperoleh dengan membandingkan hasil pengukuran dengan
bahan rujukan standar (Standard reference material, SRM) .
Untuk mendokumentasikan akurasi, ICH merekomendasikan kumpulan data dari sembilan kali penetapa
kadar dengan tiga konsentrasi yang berbeda (misalnya tiga kosetrasi dengan tiga kali replikasi) data
harus dilaporkan sebagai persentase perolehan kembali
2.

Presisi

Presisi merupakan ukuran kedekatan antara serangkaian hasil analisis yang diperoleh dari beberapa kali
pemgukuran pada sampel homogeny yang sama. Presisi biasanya dilakukan pada tiga tingkatan yang
berbeda yaitu:
a.

Keterulangan (repetibility) yaitu ketepatan (precision) pada kondisi percobaan yang sama (berlang)

baik orangnya, peralatannya, tempatnya, maupun waktunya.


b.

Presisi antara (intermediate precision) yaitu ketepatan (precision) pada kondisi percobaan
yang berbeda, baik orangnya, peralatannya, tempatnya, maupun waktunya.

c.

Ketertiruan (reproduksibility) merujuk pada hasil-hasil dari laboratorium yang lain.

3.

Spesifisitas
Selektivitas atau spesifisitas suatu metode adalah kemampuannya yang hanya mengukur zat
tertentu saja secara cermat dan seksama dengan adanya komponen lain yang mungkin ada dalam
matriks sampel. Atau sering juga diartikan spesifisitas adalah kemampuan untuk mengukur yang
dituju secara tepat dan spesifik dengan adaya komponen-komponen lain dengan matriks sampel
seperti ketidak murnian produk degradasi dan kompoen matriks.
Selektivitas seringkali dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan (degree of bias) metode
yang dilakukan terhadap sampel yang mengandung bahan yang ditambahkan berupa cemaran,

hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainnya, dan dibandingkan terhadap hasil analisis
sampel yang tidak mengandung bahan lain yang ditambahkan.
ICH membagi spesifisitas dalam dua ategori yakni uji identifikasi dan uji kemurnian atau
pengukuran. Untuk tujuan identifikasi, spesifisitas ditunjukkan dengan suatu metode analisis untuk
membedakan antar senyawa yang mempunyai struktur molekul yang hampir sama. Untuk tujuan uji
kemurnian dan tujuan pengukuran kadar spesifsitas ditunjjukkan oleh daya pisah dua senyawa yang
berdekatan. Senyawa-senyawa tersebut biasanya adalah komponen utama atau komponen aktif
dan atau suatu pengotor.
Penentuan spesifisitas metode dapat diperoleh dengan dua jalan yang pertama adalah dengan
melakukanoptimasi sehingga diperoleh senyawa yang dituju terpisah secara sempurna dari senyawasenyawa lain (pada solusi senyawa yang dituju > dua). Cara kedua untuk memperoleh spesifisitas
adalah dengan meggunakan detektif selektif, terutama untuk senyawa-senyawa yang terelusi secara
bersama-sama. Sebagai cotoh detector elektro kimia atau detector fluoresen hanya akan mendeteksi
senyawa tertetu, sementara senya yang lainnya tidak terdeteksi.
Selektivitas metode ditentukan dengan membandingkan hasil analisis sampel yang mengandung
cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainnya atau pembawa plasebo dengan
hasil analisis sampel tanpa penambahan bahan-bahan tadi.
Penyimpangan hasil jika ada merupakan selisih dari hasil uji keduanya. Jika cemaran dan hasil
urai tidak dapat diidentifikasi atau tidak dapat diperoleh, maka selektivitas dapat ditunjukkan
dengan cara menganalisis sampel yang mengandung cemaran atau hasil uji urai dengan metode
yang hendak diuji lalu dibandingkan dengan metode lain untuk pengujian kemurnian seperti
kromatografi, analisis kelarutan fase, dan Differential Scanning Calorimetry. Derajat kesesuaian
kedua hasil analisis tersebut merupakan ukuran selektivitas.Pada metode analisis yang
melibatkan kromatografi, selektivitas ditentukan melalui perhitungan daya resolusinya (Rs).
4.

Batas Deteksi (Limit of Detection) dan Batas Kuantitasi (Limit of Quatification)


Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih
memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blangko.Batas deteksi merupakan parameter
uji batas. Batas kuantitasi merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas
terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama (Riyadi
Wahyu , 2009).
Batas deteksi didefenisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang masih dapat
dideteksi Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Batas kuantitasi merupakan sebagai

konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang
dapat diterima pada kondisi operasional metode yang digunakan (Rahman Abdul, 2009).
5 . Linearitas dan Rentang
Linearitas adalah kemampuan metode analisis memberikan respon proporsional terhadap
konsentrasi analit dalam sampel.Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit
yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan, dan linearitas yang dapat
diterima.
6. Kekuatan (Robustness)
Ketahahn merupakan kapasitas metode analisis untuk tetap tidak trerpengaruh oleh adanya variasi
parameter metode yang kecil.

7. Kekasaran (Ruggudness)
Kekasaran merupakan tinggkat Reprodusibilitas hal yang diperoleh dibawah kondisi yang
bermacam-macam yang diekspresikan sebagai larutan kadar deviasi relaitv (persend) kondisi-kondisi ini
laboratorium analisis alat reagen dan waktu percobaan yang berbeda.
Kekasaran metode adalah derajat ketertiruan hasil uji yang diperoleh dari analisis sampel yang
sama dalam berbagai kondisi uji normal, seperti laboratorium, analisis, instrumen, bahan pereaksi, suhu,
hari yang berbeda, dll. Ketangguhan biasanya dinyatakan sebagai tidak adanya pengaruh perbedaan
operasi atau lingkungan kerja pada hasil uji.Ketangguhan metode merupakan ukuran ketertiruan pada
kondisi operasi normal antara lab dan antar analis.