Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH MPKT B

TANGGUNG JAWAB KITA SEBAGAI MANAJER ALAM

Oleh
Home Group 1:
Cindy Yunitasari (1506672975)
Sarah Vania (1506673233)
Muhammad Alief (1506675131)
Nabila Ramadhanti (1506674702)
Muhammad Fathur (150667250)
Rahma Latifa Dewi (1506675453)
Nisrina Hanan (1506675402)

Universitas Indonesia
Depok
2015

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat rahmat-Nya makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik dan tepat
pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas Tanggung Jawab Kita sebagai
Manajer Alam, suatu hal yang sangat penting bagi manusia yang derajatnya lebih
tinggi dari makhluk lain karena kita dibekali akal yang harus kita gunakan dengan
baik dalam menjaga dan memanfaatkan alam sebagai tempat kita hidup di Bumi.
Makalah ini disusun dalam rangka memperdalam pemahaman masalah
manajemen alam oleh manusia dan sekaligus untuk memenuhi tugas mata kuliah
MPKT-B pekan 7. Dalam proses pendalaman materi manajemen alam ini, tentunya
kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran. Untuk itu, kami
menyampaikan terima kasih kepada Ibu Fadilah, M.Si sebagai dosen pembimbing
serta semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca
dan dapat dijadikan salah satu acuan dalam pembahasan mengenai manajemen alam.
Namun, dalam rangka proses belajar, masih terdapat kekurangan dalam makalah ini.
Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari dosen
pembimbing dan pembaca untuk kesempurnaan makalah ini.

Depok, 17 Oktober 2015

Tim Penulis

ABSTRAK

Makalah ini membahas tentang tanggung jawab manusia sebagai manajer


alam. Salah satu tanggung jawab tersebut adalah menata negara kita tercinta,
Indonesia. Kita sebagai manusia yang dibekali Tuhan akal pikiran, dapat mengelola
sumber daya alam Indonesia yang melimpah, baik hayati maupun nonhayati, guna
memenuhi segala kebutuhan sehari-hari. Namun, sumber daya alam tersebut belum
dapat menyejahterakan seluruh rakyat. Sumber daya manusia Indonesia juga
menghadapi masalah seperti tingkat kesehatan yang buruk dengan munculnya
penyakit-penyakit akibat asupan makanan yang tidak sehat dan penggunaan kosmetik
yang mengandung bahan-bahan berbahaya.
Selain itu, lingkungan sebagai tempat tinggal kita sudah mengalami krisis dan
daya dukungnya menurun, dengan adanya konversi lahan besar-besaran. Dari daerah
tangkapan air, hutan dan kawasan pertanian, kini berubah menjadi ladang tambang
dan kawan pabrik industri baru. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya tepat guna
agar kita tetap dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada tanpa harus merusak
atau mengeksploitasinya secara berlebihan dan memperbaiki kesehatan masyarakat
serta lingkungan, sehingga akan tercipta Indonesia baru yang lebih tertata.
Kata kunci: manusia, sumber daya alam, sumber daya manusia, lingkungan

DAFTAR ISI

HALAMAN MUKA....................................................................................................i
KATA PENGANTAR.................................................................................................ii
ABSTRAK.................................................................................................................iii
DAFTAR ISI..............................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH..............................................................1
1.2 PERUMUSAN MASALAH.........................................................................1
1.3 TUJUAN........................................................................................................2
BAB II ISI...................................................................................................................3
2.1 Kita sebagai Manajer Tubuh Kita Sendiri.....................................................3
2.1.1 Pengertian Hidup Sehat........................................................................3
2.1.2 Upaya Hidup Sehat...............................................................................3
2.2 Kita sebagai Manajer Kesehatan Lingkungan...............................................4
2.2.1 Pengertian Lingkungan Sehat...............................................................4
2.2.2 Cara Mewujudkan Lingkungan Sehat yang Bebas Penyakit................4
2.3 Kita sebagai Manajer Alam Sekitar...............................................................4
2.3.1 Pengertian dan Fungsi Air....................................................................4
2.3.2 Pengolahan Sampah.............................................................................5
2.4 Kita sebagai Manajer Alam Global...............................................................5
2.4.1 Kesehatan Lingkungan, Polusi, Dan Toksikologi................................5
2.4.2 Pertambahan Penduduk Bumi..............................................................6
2.5 Kita sebagai Manajer Pembangunan.............................................................6
2.5.1 Lingkungan Hemat Energi...................................................................6
2.5.2 Klasifikasi Material..............................................................................6
2.6 Kita sebagai Manajer dalam Penanggulangan Bencana................................7

2.6.1 Bencana Alam.......................................................................................7


2.6.2 Prinsip-prinsip Penanggulangan Bencana............................................8
2.6.3 Jenis-jenis Bencana Alam.....................................................................9
2.6.4 Mitigasi Bencana................................................................................10
2.6.5 Tugas Badan Mitigasi dan Masyarakat..............................................10
BAB III KETERKAITAN MATERI LSPB DENGAN WACANA CL-2................12
3.1

Wacana Cl-2............................................................................................12

3.2

Keterkaitan Materi dengan Wacana........................................................14


3.2.1

Keterkaitan LSPB 1 : Kita sebagai Manajer Tubuh Kita Sendiri....14

3.2.2

Keterkaitan Materi LSPB 2 : Kita sebagai Manajer Kesehatan


Lingkungan......................................................................................14

3.2.3

Keterkaitan LSPB 3 : Kita sebagai Manajer Alam Sekitar.............15

3.2.4

Keterkaitan LSPB 4 : Kita sebagai Manajer Alam Global..............15

3.2.5 Keterkaitan LSPB 5 : Kita sebagai Manajer Pembangunan...............15


3.2.6

Keterkaitan LSPB 6 : Kita sebagai Manajer dalamPenanggulangan


Bencana...........................................................................................16

BAB IV PENUTUP..................................................................................................17
4.1 KESIMPULAN...........................................................................................17
4.2 SARAN.......................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................18

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki akal pikiran, bertugas
dalam menjaga dan mengelola alam tempat hidupnya dengan baik, yakni
Indonesia dan Bumi. Dengan kata lain, manusia adalah manajer alam. Dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia memanfaatkan alam

sekitarnya.

Namun, sumber daya alam yang melimpah di Indonesia, nyatanya belum dapat
menyejahterakan seluruh rakyat. Selain itu, manusia hanya mengekploitasi alam
tanpa melakukan pembangunan berkelanjutan dan menggunakan energi yang
ramah lingkungan, serta berperan dalam konversi besar-besaran dari yang
awalnya merupakan daerah-daerah sumber resapan air menjadi kawasan industri
dan kawasan pertambangan. Sumber daya manusianya pun mengalami
permasalahan yaitu tingkat kesehatan yang belum baik yang diakibatkan dari pola
makan dan kandungan tidak sehat dalam makanan yang dikonsumsi.
1.2 PERUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana peranan kita sebagai manajer alam?


2. Apa saja dampak negatif dari krisis lingkungan dan lingkungan yang tidak
sehat?
3. Apa saja upaya yang dapat kita lakukan untuk menata dan menyelamatkan
lingkungan serta sumber daya manusia Indonesia?
4. Bagaimana kaitan pembahasan materi kita sebagai manajer alam degan
wacana CL-2 yang berjudul Bagaimana Menata Indonesia?

1.3 TUJUAN

a. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang peranan kita sebagai


manajer alam
b. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang dampak negatif dari krisis
lingkungan dan lingkungan yang tidak sehat
c. Memberikan solusi mengenai perbaikan krisis lingkungan dan lingkungan
yang tidak sehat serta membludaknya populasi manusia
d. Memberikan informasi tentang keterkaitan materi dengan wacana CL-2

BAB II

ISI

2.1 Kita sebagai Manajer Tubuh Kita Sendiri


2.1.1 Pengertian Hidup Sehat
Kesehatan didefinisikan di dalam anggaran dasar WHO tahun 1948
sebagai sebuah kesejahteraan fisik, sosial dan mental yang lengkap, dan
bukan hanya sekedar tidak adanya penyakit atau kelemahan.Prasyaratprasyarat tertentu untuk kesehatan meliputi perdamaian, sumber daya
ekonomi yang memadai, makanan dan tempat tinggal yang bersih,
ekosistem yang stabil serta penggunaan sumber daya yang berkelanjutan.
Hidup sehat adalah hidup yang terbebas dari gangguan-gangguan yang
bersifat fisik maupun non-fisik.Hidup sehat dilakukan dengan menjalani
pola hidup sehat sesuai dengan kondisi dan ketentuan yang berlaku. Hidup
sehat akan memengaruhi kondisi diri kita ke depannya. Apabila seseorang
menjaga dan merawat tubuhnya dengan baik, maka orang tersebut akan
sehat rohani dan jasmaninya serta terhindar dari gangguan-gangguan fisik
maupun non-fisik lainnya.
2.1.2 Upaya Hidup Sehat
Terdapat beberapa cara untuk menjalani pola hidup yang baik agar
dapat memelihara kesehatan tubuh, antara lain:
1. Diet sehat

Diet sehat adalah kegiatan memperbaiki pola makanan yang dikonsumsi


ke dalam tubuh. Diet sehat dilakukan dengan cara:

Makan seimbang dengan menambah variasi makanan yang


mengandung karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin, mineral dan
serat. Untuk porsi kabrohidrat sejumlah 50% - 60% dari total
kebutuhan kalori masing-masing individu per hari, porsi protein
adalah 1 gram untuk setiap 1 kg berat badan seseorang per hari, porsi
lemak adalah 20% - 30% dari kebutuhan kalori dalam satu hari,
sedangkan vitamin, mineral dan serat dengan porsi yang paling kecil
namun sangat penting untuk mendukung kesehatan tubuh yakni 3-5
porsibuah dan sayur dalam sehari dengan besar 1 porsi adalah 100
gram.

Minumlah air minimal 8 gelas per hari agar tubuh tidak dehidrasi dan
dapat menjaga pikiran fokus selama beraktivitas.
2. Kurangilah berat badan jika termasuk kategori overweight atau obese
dengan rutin berolahraga yakni 2-3 kali seminggu dengan durasi 30
menit-1 jam dalam sekali berolahraga.
3. Hindari merokok dan batasilah konsumsi alkohol

2.2 Kita sebagai Manajer Kesehatan Lingkungan


2.2.1 Pengertian Lingkungan Sehat
Lingkungan sehat mempunyai arti lingkungan yang jauh dari kondisi
yang menimbulkan penyakit. Lingkungan yang bersih akan menunjang
terwujudnya hidup sehat. Makna dari lingkungan bersih hidup sehat ialah

lingkungan yang kita tempati memberikan kesan baik terhadap indra dan
memberikan makna kesehatan.
2.2.2 Cara Mewujudkan Lingkungan Sehat yang Bebas Penyakit
Lingkungan memiliki potensi bahaya yaitu berupa penyakit-penyakit
menular. Untuk menghindari hal tersebut, harus diciptakan lingkungan
yang lebih sehat. Salah satu caranaya adalah melakukan intervensi yang
tepat sasaran. Sementara untuk menyehatkan lingkungan hidup manusia
terutama lingkungan fisik dapat dilakukan dengan upaya sanitasi. Sanitasi
berfungsi untuk membendung penyebaran penyakit, membangun kembali
pelayanan dasar dalam komunitas, dan membantu orang-orang kembali ke
aktivitas hariannya. Sanitasi memiliki enam aktivitas inti yaitu manajemen
kualitas air, monitoring suplai air dan sanitasi, pengawasan dan pencegahan
kolera, air dan sanitasi pada keadaan berbeda, manajemen sumber air, dan
beberapa aktivitas lain. Di seluruh dunia, perbaikan kesehatan lingkungan
berhasil mencegah 13 juta kematian setiap tahunnya.
2.3 Kita sebagai Manajer Alam Sekitar
2.3.1 Pengertian dan Fungsi Air
Air merupakan salah satu kebutuhan yang vital untuk kelangsungan
hidup. Fungsi air terbagi menjadi dua, yaitu fungsi sebagai cairan tubuh
dan fungsi bagi manusia. Air berfungsi sebagai bagian dari pernapasan,
pengatur temperatur tubuh, melancarkan peredaran darah, membuang racun
dan sisa makanan dalam tubuh, serta menjadi pelarut nutrien. Selain itu, air
juga berfungsi sebagai media rekreasi, industri dan jasa, pertanian, dan juga
sebagai sarana transportasi.
Selain itu, air juga memiliki berbagai fungsi bagi hewan dan
tumbuhan. Bagi hewan, air berfungsi untuk minum dan tempat tinggal.
Sedangkan bagi tumbuhan, air berfungsi untuk menunjang fotosintesis.

2.3.2 Pengolahan Sampah


Sampah adalah sisa barang atau benda yang dibuang karena sudah
tidak dapat digunakan lagi. Tetapi, masih banyak orang yang membuang
sampah sembarangan tanpa menyadari dampak jangka pendek dan panjang
dari pembuangan sampah tersebut. Pengolahan sampah memiliki prinsip
pengelolaan

sampah

terpadu,

yaitu

Reduce

(mengurangi),

Reuse

(menggunakan kembali), Recycle (daur ulang). Di Amerika Serikat, sekitar


80-90% dari sampah, dapat di gunakan kembali dengan proses daur ulang.
Diharapakan, kedepannya Indonesia dapat mengambil contoh dari
Amerika, agar sampah dapat dijadikan salah satu pendapatan negara atau
dapat menciptakan lapangan pekerjaan.
2.4 Kita sebagai Manajer Alam Global
2.4.1 Kesehatan Lingkungan, Polusi, Dan Toksikologi
Polusi merupakan perubahan lingkungan yang tidak dikehendaki dan
disebabkan oleh materi berbahaya. Polusi dapat disebabkan oleh
kebisingan, panas, logam berat, partikel, senyawa organik, dan medan
elektromagnetik yang disebut sebagai polutan. Polutan sangat berbahaya
karena dapat terakumulasi dalam tubuh, mengendap selama ribuan tahun,
mudah tersebar melalui udara, air, dan tanah, serta menimbulkan dampak
negatif terhadap populasi makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan.
Hal tersebut dapat dilihat dari polusi di perairan yang dapat menyebabkan
ekosistem di dalamnya seperti ikan dan terumbu karang yang mati.
Untuk menangani risiko polusi dibutuhkan penilaian dengan cara
identifikasi bahaya, penilaian dosis dan respon, penilaian pemajangan, dan
karakterisasi risiko. Dengan penilaian tersebut, diharapkan dapat diketahui
penanganan terbaik untuk mengatasi polusi yang terjadi.

2.4.2 Pertambahan Penduduk Bumi


Bertambahnya penduduk bumi dapat menjadi suatu masalah bagi
lingkungan. Dulu manusia hidup sebagai pemburu dan pemulung.
Kemudian, setelah populasinya meningkat, manusia mulai hidup dengan
bertani dan ketika manusia sudah menjadi populasi yang besar, manusia
mulai mengadakan revolusi industri yang mengakibatkan banyak
kerusakan lingkungan. Selain itu, pertambahan populasi manusia
mengakibatkan menipisnya persediaan pangan dan sumber daya alam
seperti tanah untuk hutan, air, dan mineral dalam bumi. Oleh karena itu,
dibutuhkan keseimbangan antara jumlah penduduk bumi dan sumber daya
yang ada agar kelestariaan lingkungan dan keberadaan manusia tetap
berlangsung dengan seimbang. Untuk mencapai keseimbangan tersebut,
diperlukan faktor-faktor yang dapat menghambat bahkan mengurangi
jumlah populasi manusia, agar daya dukung bumi tidak terus menurun.

2.5 Kita sebagai Manajer Pembangunan


2.5.1 Lingkungan Hemat Energi
Kemajuan lingkungan sangat sejajar dengan kemajuan teknologi maka
dari itu kita harus memikirkan teknologi yang ramah lingkungan agar
pembangunan yang hemat energi dapat dilakukan. Dengan teknologi yang
ramah lingkungan, maka tingkat polusi akan perlahan menurun agar kelak
Indonesia tidak lagi berpredikat sebagai negara dengan tingkat poluasi
tertinggi ketiga di dunia setelah Cina dan Meksiko. Selain itu,
pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan juga dapat diterapkan,
mengingat populasi manusia yang sudah mencapai 7 milyar jiwa pada
tahun 2011 dengan kapasitas Bumi yang menurut para peneliti hanya 40

milyar dan terjadinya perubahan iklim akibat efek rumah kaca yang terus
berlangsung.
2.5.2 Klasifikasi Material
Logam: logam menempati golongan IA, IIA dan B. Dapat

dijumpai

berbagai pengaplikasian logam dalam kehidupan sehari hari, misalnya


peralatan makan
Keramik: Berbagai cara pembuatan keramik adalah: glass

forming,

particulate forming, dan cementation


Polimer: Polimer Polimer adalah molekul besar yang

tersusun atas
monomer

Material Mutakhir: jenis material yang dirancang khusus

untuk

aplikasi teknologi tinggi. Material mutakhir diaplikasikan ke berbagai


bidang seperti space-craft.
2.6 Kita sebagai Manajer dalam Penanggulangan Bencana
2.6.1 Bencana Alam
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana mempunyai arti
sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau
penderitaan. Sedangkan bencana alam artinya adalah bencana yang
disebabkan oleh alam (Purwadarminta, 2006).
Menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, bencana adalah
peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor

alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana merupakan
pertemuan dari tiga unsur, yaitu ancaman bencana, kerentanan, dan
kemampuan yang dipicu oleh suatu kejadian.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh gejala-gejala alam yang dapat
mengakibatkan kerusakan lingkungan, kerugian materi, maupun korban
manusia (Kamadhis UGM, 2007).
Bencana alam juga tidak hanya menimbulkan luka atau cedera fisik,
tetapi juga menimbulkan dampak psikologis maupun kejiwaan. Hilangnya
harta benda dan nyawa orang-orang yang dicintainya membuat sebagian
korban bencana alam mengalami stress atau gangguan kejiwaan. Hal
tersebut akan sangat berbahaya tertama bagi anak-anak yang dapat
mengganggu perkembangan psikologisnya.
Mengingat dampak-dampak tersebut, maka penanggulangan bencana
alam harus dilakukan dengan menggunakan prinsip dan cara yang tepat.
Selain itu, penanggulangan bencana alam juga harus menyeluruh, tidak
hanya pada saat terjadi bencana tetapi mengadakan pencegahan sebelum
terjadi bencana dan rehabilitasi serta rekontruksi setelah terjadi bencana.
2.6.2 Prinsip-prinsip Penanggulangan Bencana
Dalam UU No. 44 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana,
disebutkan sejumlah prinsip penanggulangan :
1. Cepat dan tepat
Artinya dalam penanggulangan bencana harus dilakukan secara cepat,
apabila terdapat keterlambatan akan berdampak pada tingginya
kerugian
2. Prioritas

Artinya diutamakan pada penyelamatan jiwa manusia.


3.

Koordinasi dan keterpaduan

4.

Berdaya guna dan berhasil guna


Artinya dalam mengatasi kesulitan masayarakat tidak membuang
waktu, tenaga, dan biaya yang berlebihan.

5.

Transparansi dan akuntabilitas


Artinya dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.

6.

Kemitraan
Hal ini diperlukan karena tidak bisa hanya bergantung pada
pemerintah saja.

7.

Pemberdayaan
Upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengetahui,
memahami, dan melakukan tindakan antisipasi , penyelamatan,
pemulihan bencana.

8.

Nondiskriminatif

9.

Nonproletisi
Dilarang menyebarkan agama/keyakinan pada saat keadaan darurat
bencana.

2.6.3 Jenis-jenis Bencana Alam


Jenis-jenis bencana menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007,
antara lain:
1) Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa
gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin
topan, dan tanah longsor.
2) Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau rangkaian peristiwa non-alam yang antara lain berupa gagal
teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit.

3) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau


serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi
konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan
teror (UU RI, 2007).
Bencana alam dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan penyebabnya
yaitu bencana geologis, klimatologis dan ekstra-terestrial seperti terlihat
pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Jenis Bencana Alam Berdasarkan Penyebabnya
Jenis Penyebab

Beberapa contoh kejadiannya

Bencana Alam
Bencana alam geologis

Gempa bumi, tsunami, letusan


gunung berapi, longsor/gerakan

Bencana alam

tanah, amblesan atau abrasi


Banjir, banjir bandang, angin puting

klimatologis

beliung, kekeringan, hutan (bukan

Bencana alam ekstra-

oleh manusia)
Impact atau hantaman

terestrial

Sumber :Kamadhis UGM, 2007

Bencana alam geologis adalah bencana alam yang disebabkan oleh


gaya-gaya dari dalam bumi.Sedangkan bencana alam klimatologis adalah
bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim, suhu atau cuaca.
Lain halnya dengan bencana alam ekstra-terestrial, yaitu bencana alam
yang disebabkan oleh gaya atau energi dari luar bumi, bencana alam
geologis dan klimatologis lebih sering berdampak terhadap manusia.

2.6.4 Mitigasi Bencana


Mitigasi bencana yang merupakan bagian dari manajemen penanganan
bencana, menjadi salah satu tugas pemerintah pusat dan pemerintah
daerah dalam rangka pemberian rasa aman dan perlindungan dari ancaman
bencana yang mungkin dapat terjadi. Ada empat hal penting dalam
mitigasi bencana, yaitu :
1) Tersedianya informasi dan peta kawasan rawan bencana untuk tiap
jenis bencana.
2) Sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran
masyarakat dalam menghadapi bencana, karena bermukim di daerah
rawan bencana.
3) Mengetahui apa yang perlu dilakukan dan dihindari, serta mengetahui
cara penyelamatan diri jika bencana timbul.
4) Pengaturan dan penataan kawasan bencana.
2.6.5 Tugas Badan Mitigasi dan Masyarakat

Badan mitigasi dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan


Bencana (BNPB) harus bijak dalam membuat keputusan dan tindakan
untuk menghadapi bencana-bencana tersebut karena kebijakan ini
melibatkan ketahanan negara dalam berbagai bidang. BNPB seharusnya

lebih cepat tanggap dalam pemecahan masalah pada daerah penghasil


pangan yang rawan bencana. Badan mitigasi ini pun tidak bisa bekerja
tanpa bantuan pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Kita juga sebagai
bagian dari anggota masyarakat harusnya turut membantu dalam menjaga
lingkungan. Banyak dari kita hanya menyalahkan pemerintah saja tetapi
kita pun belum tentu bisa untuk bekerja seperti mereka. Hal yang harus
dilakukan sebenarnya harus dari diri sendiri terlebih dahulu baru ke
lingkup yang lebih luas lagi. Hal tersebut bisa kita lakukan dari hal yang
terkecil seperti tidak membuang sampah sembarangan seperti ke sungai
dan kali.

BAB III
KETERKAITAN MATERI LSPB DENGAN WACANA CL-2

3.1

Wacana Cl-2

Bagaimana Menata Indonesia?

Wilayah Indonesia, terbentang dari Pulau Weh sampai Papua, dengan


sejumlah pulau besar maupun pulau-pulau kecil.Kekayaan sumber daya alam, baik
hayati maupun nonhayati, yang melimpah belum mampu menyejahterakan rakyat
secara menyeluruh.Dilihat dari sisi sumber daya manusia, ada banyak masalah yang
harus dihadapi bangsa Indonesia.Salah satunya problem kesehatan.Akhir-akhir ini,
muncul berbagai penyakit, yang dipicu oleh asupan makanan yang tidak sehat seperti
aneka sayuran dan buah yang mengandung residu pestisida, aneka makanan yang
mengandung pengawet berbahaya, aneka makanan yang mengandung pewarna toksik
(pewarna cat, pewarna tekstil yang digunakan untuk pewarna makanan). Contoh,
baru-baru ini diketahui ada pabrik saus yang menggunakan pewarna cat, atau industri
rumah tangga yang mengolah kulit atau kikil menjadi kerupuk kulit,menggunakan
formalin. Penyakit juga dapat muncul akibat penggunaan kosmetik yang mengandung
bahan berbahaya.Persoalan kesehatan pun juga dijumpai di lingkungan.Artinya
lingkungan yang tidak sehat baik tanah, air, maupun udara yang tercemar.
Lingkungan yang tidak sehat akan berdampak pada manusia atau organisme yang lain
dan ujung-ujungnya akan berdampak pada ketidak seimbangan ekosistem.
Krisis lingkungan juga telah terjadi di beberapa wilayah seperti di Pulau
jawa.Pulau Jawa berada di ambang krisis, daya dukung lingkungannya sudah
mengkhawatirkan.Namun, ijin penambangan masih diberikan dengan mengonversi

daerah tangkapan air, hutan, dan kawasan pertanian. Dari 2003 2013, ijin usaha
pertambangan di jawa mencapai 1000an dengan total wilayah yang akan dikonversi
471.378 ha. Jumlah itu belum termasuk lahan yang dikuasai blok minyak, serbuan
baru pabrik semen, ekstraksi perusahaan air, konversi untuk properti dan kawasan
industri baru, serta infrastruktur industri internasional seperti pelabuhan Cilamaya.
Konversi lahan besar-besaran itu,membuat situasi Jawa ke depan dapat dipastikan
makin mengerikan dan sangat rentan konflik. Data Kompas 2014,menunjukkan
sejumlah perusahaan semen dari dalam dan luar negeri telah dan siap masuk di Jawa,
di antaranya Siam Cement (Thailand) di Jawa barat, Semen Merah Putih (Wilmar) di
banten, Ultratech di Wonogiri, dan Jui Shin Indonesia di Jawa Barat. Adapun semen
Puger akan beroperasi di Jember, dan semen Panasia di Jawa tengah. Belum, yang
akan masuk ke Luar Jawa. Padahal, RPJMN (Rencana pembangunan Jangka
Menengah Nasional) 2015-2019 mengatakan pembangunan harus didorong untuk
meningkatkan kedaulatan pangan, tidak boleh merusak daya dukung lingkungan dan
mengganggu keseimbangan ekosistem.Jawa, tidak hanya dibebani industri ekstraktif,
tetapi juga kepadatan penduduk yang mencapai 1.057 jiwa per km dengan bangunan
serta gedung yang semakin tidak teratur dan tidak sehat.Lebih dari 50% penduduk
Indonesia tinggal di Pulau Jawa.Problem batu akik pun, harus dicermati, sebab dapat
berdampak pada overeksploitasi bahan tambang. (Kompas, Rabu 11 Maret 2015)

3.2

Keterkaitan Materi dengan Wacana


3.2.1

Keterkaitan LSPB 1 : Kita sebagai Manajer Tubuh Kita Sendiri


Dalam paragraf pertama wacana CL 2 dari baris ke-3 sampai
ke-10 terdapat kalimat yang berbunyi Akhir-akhir ini, muncul
berbagai penyakit, yang dipicu oleh asupan makanan yang tidak sehat
seperti aneka sayuran dan buah yang mengandung residu pestisida,
aneka makanan yang mengandung pengawet berbahaya, aneka
makanan yang mengandung pewarna toksik (pewarna cat, pewarna

tekstil yang digunakan untuk pewarna makanan). Kalimat tersebut


berkaitan erat dengan LSPB 1, yakni subteori Makanan Sehat yang
dibahas dalam makalah ini. Dari kalimat tersebut dapat kita
simpulkan bahwa dengan adanya bahan-bahan berbahaya seperti
residu pestisida, pewarna tekstil dan formalin pada makanan yang
dikonsumsi maka akan menurunkan kualitas kesehatan manusia
sepeti dapat menyebabkan munculnya penyakit-penyakit seperti
alergi, gangguan pencernaan, hingga kanker. Untuk itu, makanlah
makanan yang sehat seperti makanan yang dimasak sendiri dengan
gizi seimbang yakni terdapat karbohidrat, protein, lemak, vitamin,
mineral dan serat agar dapat terhindar dari penyakit-penyakit
sebagaimana sebuah tagline yang menyatakan mencegah lebih baik
daripada mengobati.

3.2.2

Keterkaitan Materi LSPB 2 : Kita sebagai Manajer Kesehatan


Lingkungan
Dalam wacana CL-2 paragraf 1 dari baris ke-11 sampai ke-13
terdapat kalimat yang berbunyi Persoalan kesehatan pun juga
dijumpai di lingkungan.Artinya lingkungan yang tidak sehat baik
tanah, air, maupun udara yang tercemar. Lingkungan yang tidak sehat
akan berdampak pada manusia atau organisme yang lain dan ujungujungnya akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem.
Kalimat tersebut mempunyai kaitan dengan pembahasan dalam LSPB
2 mengenai kesehatan melalui lingkungan yang lebih baik. Dari
kalimat itu pula kita dapat mengetahui bahwa kesehatan lingkungan
dapat diwujudkan dengan beberapa cara, seperti menanam pohon
sehingga lingkungan lebih hijau, membuang sampah pada tempatnya
sehingga tanah tidak tercemar dan menimbulkan bibit penyakit bagi

masyarakat sekitar, serta memiliki dan membantu membangun sanitasi


yang baik di wilayah-wilayah dengan sanitasi yang masih buruk.

3.2.3

Keterkaitan LSPB 3 : Kita sebagai Manajer Alam Sekitar


Persoalan kesehatan pun juga dijumpai di lingkungan. Artinya
lingkungan yang tidak sehat baik tanah, air, maupun udara yang
tercemar. merupakan kutipan dari wacana yang terkait dengan
maeteri dalam LSPB 3, yang berisi mengenai sistem penyediaan air
minum dan pengelolaan sampah. Dewasa ini, perairan sudah banyak
yang tercemar oleh sampah dengan ciri-ciri sebagai berikut:

Perubahan suhu
Perubahan keasaman
Air berbau dan berasa
Adanya mikroorganisme
Dengan adanya pencemaran air tersebut, maka menimbulkan
dampak negatif baik jangka pendek seperti menimbulkan masalah
pencernaan dalam tubuh manusia, yaitu disentri dan diare, maupun
jangka panjang seperti perubahan kromosom, berupa mutasi
kromosom sehingga menghasilkan keturunan yang cacat fisik akibat
terpapar logam berat, dan mengalami gangguan kecerdasan.

3.2.4

Keterkaitan LSPB 4 : Kita sebagai Manajer Alam Global


Pada paragraf 2 wacana CL-2 dari baris ke-15 sampai ke-18 berbunyi

Jawa, tidak hanya dibebani industri ekstraktif, tetapi juga kepadatan


penduduk yang mencapai 1.057 jiwa per km dengan bangunan serta
gedung yang semakin tidak teratur dan tidak sehat. Lebih dari 50%
penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa. Problem batu akik pun, harus

dicermati, sebab dapat berdampak pada overeksploitasi bahan tambang


berkaitan erat dengan LSPB 4, yang membahasa mengenai pertumbuhan
populasi dan juga pencemaran.
Populasi manusia yang terus menerus bertambah seiring waktu
menyebabkan kepadatan penduduk dalam suatu wilayah, seperti di Pulau
Jawa, Indonesia, akibat adanya imigrasi dan meningkatnya angka natalitas
(kelahiran). Pertambahan ini menyebabkan pertumbuhan eksponensial
yang semakin tidak terkendali. Pertumbuhan manusia yang tidak terkendali
menjadi dasar dari masalah-masalah lingkungan yang dihadapi di masa
sekarang ini. Namun, hal tersebut tidak dapat dibiarkan berlangsung begitu
saja, karena penduduk akan kekurangan pangan atau tidak seimbang
dengan pertumbuhan logistik. Untuk itu, langkah-langkah yang dapat
dilakukan untuk mengatasi masalah populasi manusia ini antara lain:

Meningkatkan usia melahirkan satu kali,

Mengendalikan kelahiran seperti KB dan ASI, serta

Memberi tekanan sosial, merupakan langkah yang efektif, seperti


menunda pernikahan dan hanya memiliki 2 anak.

3.2.5 Keterkaitan LSPB 5 : Kita sebagai Manajer Pembangunan


Dalam wacana CL-2 paragraf 2 pada baris ke-12 sampai
ke-15 berbunyi, Padahal, RPJMN (Rencana pembangunan Jangka
Menengah Nasional) 2015-2019 mengatakan pembangunan harus
didorong untuk meningkatkan kedaulatan pangan, tidak boleh merusak
daya dukung lingkungan dan mengganggu keseimbangan ekosistem,
kalimat tersebut mempunyai keterkaitan dengan LSPB 5 yakni kita
harus membangun dan menata infrastrukturyang berkelanjutan, dengan
teknologi yang ramah lingkungan dan hemat energi agar tingkat polusi

di Indonesia, serta dampak perubahan iklim yang terjadi akibat efek


rumah kaca dapat perlahan menurun dan membaik sehingga tercipta
lingkungan yang sehat untuk ditinggali oleh manusia, hewan maupun
tumbuhan.Selain lingkungan yang sehat, juga dapat mendorong untuk
meningkatkan kedaulatan pangan Indonesia, daya dukung lingkungan
dan keseimbangan ekosistem.

3.2.6

Keterkaitan LSPB 6 : Kita sebagai Manajer dalam


Penanggulangan Bencana
Dalam wacana CL-2 paragraf 2 baris ke-2 sampai ke-6
berbunyi, Krisis lingkungan juga telah terjadi di beberapa wilayah
seperti di Pulau jawa.Pulau Jawa berada di ambang krisis, daya
dukung lingkungannya sudah mengkhawatirkan. Lahan yang dikuasai
blok minyak, tambang,

serbuan baru pabrik semen, ekstraksi

perusahaan air, konversi untuk properti dan kawasan industri baru,


serta

infrastruktur

industri

internasional.

kalimat

tersebut

mempunyai keterkaitan dengan LSPB 6 karena bencana merupakan


suatu rangkaian peristiwa yang akan muncul beberapa risiko dan
disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor alam, non-alam dan
sosial yang menimbulkan dampak merugikan bagi kehidupan manusia
antara lain menimbulkan korban jiwa, kerusakan lingkungan,
kerusakan harta benda, dan dampak psikologis.
Untuk itu, diperlukan upaya untuk mengurangi risiko-risiko
tersebut dengan pembangunan fisik maupun penyadaran dan
peningkatan daya dukung lingkungan, yang dikenal dengan istilah
mitigasi bencana.

BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Manusia sebagai manajer alam yang seharusnya mengatur dan menjaga


kesehatan tubuhnya, serta kesehatan dan keberlangsungan lingkungannya. Maka
dari itu, manusia dengan akal yang diberikan oleh Tuhan dapat menciptakan
berbagai solusi untuk menangani permasalahan ini. Pola hidup sehat dengan diet
seimbang, membantu untuk mengontrol pertumbuhan populasi manusia dengan
menerapkan program Keluarga Berencana, melakukan pembangunan infrastruktur
berkelanjutan menggunakan bahan ramah lingkungan, serta penanggulangan
bencana dengan baik merupakan sedikit dari sekian banyak hal yang bisa
dilakukan umat manusia untuk menata negara Indonesia, serta tempat tinggal
seluruh umat manusia yakni Bumi. Tidak pernah ada kata terlambat untuk
berubah. Sekecil apapun hal yang kita lakukan, akan bermanfaat besar di
kemudian hari.

4.2 SARAN
Kepada pemerintah agar bertindak lebih tegas terkait dengan peraturan
mengenai standardisasi keamanan industri dan pembuangan limbah industri. Hal
ini dilakukan agar orang-orang yang terlibat dalam kegiatan industri tidak
menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan tidak mengganggu kesehatan
masyarakat.
Kepada para pendidik supaya memberi pendidikan sedini mungkin mengenai
perilaku hidup bersih dan sehat serta menanamkan cinta lingkungan kepada para
peserta didiknya.

Kepada masyarakat Indonesia, agar menerapkan disiplin dalam hidup


sehat untuk dirinya sendiri, keluarganya hingga lingkungan di sekitarnya serta
manfaatkanlah sumber daya yang ada seperti air dengan bijaksana.

DAFTAR PUSTAKA

Sinha, P. K. Composites materials and structure: Composite Centre of Excellence.


AR & DB. India: Department of Aerospace Engineering,I.I.T. Kharagpur
Wultram I. Ervianto. 2012. Selamatkan Bumi Melalui Konstruksi Hijau. Jogjakarta : Andi
Offset
Undang-undang dan Peraturan terkait, seperti UU No. 24/2007, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Daerah dan Peraturan Menteri.
Charles A. Wentz. 1998. Safety, Health and Environmental Protection. New York:
McGraw Hill.
Keller EA, Botkin DB. 2008. Waste Management, in Essential Environmental
Science. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. USA.

http://www.sehat.info/tips-sehat/19/pola-hidup-sehat/
http://kumpulan.info/sehat/artikel-kesehatan/517-porsi-tepat-nutrisi-tubuh.html
http://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/842
http://sains.kompas.com/read/2013/05/13/17553132/Kadar.CO2.Capai.Titik.Tertinggi
.dalam.3.Juta.Tahun
http://metro.tempo.co/read/news/2011/09/29/057359022/bakteri-e-coli-cemari-airbaku-pdam-bekasi-dan-jakarta
http://reps-id.com/kebutuhan-makronutrien-dan-mikronutrien-dalam-olahraga/
http://www.suyotohospital.com/index.php?
option=com_content&view=category&id=27&layout=blog&Itemid=27