Anda di halaman 1dari 4

PERAN PUBLIC RELATIONS PT.

TELKOM DIVRE IV JATENG & DIY


DALAM MENGATASI KONFLIK
INTERNAL PERUSAHAAN
Oktaviani, Vina (2010) PERAN PUBLIC RELATIONS PT. TELKOM DIVRE IV
JATENG & DIY DALAM MENGATASI KONFLIK INTERNAL PERUSAHAAN.
Undergraduate thesis, Diponegoro University.
Telkom merupakan perusahaan penyelenggara informasi dan telekomunikasi terbesar
di Indonesia yang memiliki jumlah karyawan cukup besar, dengan karakteristik dan
latar belakang yang berbeda-beda. Adanya perbedaan keinginan dari setiap karyawan
mampu memicu munculnya konflik dalam perusahaan. Salah satu contoh konflik
internal perusahaan yaitu demo yang terjadi di halaman gedung Telkom Divre IV
pada 1 Maret 2010 lalu. Penyebab utama munculnya demo ini karena karyawan
merasa keberatan dengan kebijakan penurunan gaji yang dilakukan oleh perusahaan
pada 48 karyawan yang terkena penurunan jabatan, sebagai akibat transformasi
jabatan yang dilakukan perusahaan pada 1 Februari 2010. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mendeskripsikan peran Public Relations PT. Telkom Divre IV Jateng &
DIY dalam mengatasi konflik internal perusahaan. Peneliti menilai peran PR dalam
mengatasi konflik internal perusahaan dengan melihat peranannya sebagai penasehat
ahli, fasilitator komunikasi, fasilitator proses pemecahan masalah dan pemanfaatan
media untuk mengatasi konflik, dalam buku Ruslan (2006). Penelitian ini
menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik
wawancara secara mendalam (indepth interview), dimana yang menjadi narasumber
adalah Officer 1 Komunikasi dan 3 staff PT. Telkom Divre IV Jateng & DIY.
Berdasarkan penelitian di lapangan, peran Public Relations sebagai penasehat
ahli ternyata sangat kurang. Hal ini terlihat dari solusi dan nasehat yang
disampaikan PR pada manajemen hanya digunakan sebagai alternatif jalan
keluar bagi manajemen untuk mengatasi konflik. Berbeda dengan peran PR
sebagai penasehat ahli, peranan PR dirasa sangat baik sekali dalam usahanya
menjadi fasilitator komunikasi antara manajemen dengan karyawan. Hal ini
terlihat dalam komunikasi yang dilakukan saat berdialog dengan karyawan
dan juga saat Public Relations menyampaikan segala keluh kesah serta
tuntutan karyawan pada manajemen. Namun dalam peranan PR sebagai
fasilitator proses pemecahan masalah, PR ternyata tidak memiliki kewenangan
penuh dalam menetapkan suatu keputusan guna mengatasi konflik yang
terjadi. Jadi disini PR hanya berwenang untuk mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya, mencari tahu penyebab konflik, menjadi mediator antara
manajemen dengan karyawan serta membantu memberikan solusi pada
manajemen untuk mengatasi konflik yang terjadi. Dalam pemanfaatan media

komunikasi, Public Relations hanya menggunakan media komunikasi secara lisan


dan langsung dengan karyawan saat berdialog dan juga saat menyampaikan tuntutan
karyawan pada manajemen. Akhirnya pihak manajemen mengeluarkan keputusan
untuk mengembalikan gaji 48 karyawannya seperti sedia kala, namun dengan syarat
perusahaan tidak memberikan potongan gaji karyawan di bulan-bulan sebelumnya.
http://eprints.undip.ac.id/24913/
Penjelasan Kasus :
Dalam kasus tersebut Terdapat kebijakan baru yang menetapkan bahwa
adanya penurunan jabatan dan ini juga mempengaruhi gaji yang
diberikan pada orang yang jabatannya diturunkan. Apabila dilihat dalam
struktur organisasi diatas, ada yang mananya direktur human capital and
general affair dimana tugasnya untuk mengelola sdm perusahaan,
operasional sdm, melalui human resources center serta pengendalian
operasi unit. Seperti management consulting center. Maka dapat
disimpulkan bahwa tugas dari divisi tersebut kurang terealisasi dengan
baik, yang seharusnya dapat menyeimbangkan antara keinginan
karyawan dengan keinginan internal perusahaan. Tetapi dalam
praktiknya, Kebijakan penurunan gaji tersebut terkesan sepihak,
dibuktikan dengan 48 karyawan yang demo karena penurunan jabatan.
Tugas Public Relation adalah proses penyelasaiian konflik, tetapi pada
kenyataannya pada konflik tersebut Public Relation ingin menjalankan
tugas nya sebagai penasihat ahli dan fasilitator komunikasi, guna
pemecahan masalah. Tetapi pada faktanya tugas Public Relation bergeser
hanya menjadi pencari informasi, mencari tahu penyebab konflik dan
menjadi mediator antara manajemen dengan karyawan.
Solusi :
Public relation harus lebih berani untuk mengambil tindakan tegas terkait
tugasnya sebagai fasilitator proses pemecahan masalah , dengan membuat suatu

petisi resmi kepada CEO perusahaan secara langsung. Agar tugas public relation
dalam menangani kasus tersebut cepat dan mendapatkan titik tengah anatara pihak
manajemen dengan karyawan . Sehingga tidak menimbulkan masalah internal yang
pasti akan mempengaruhi kinerja perusahaan.