Anda di halaman 1dari 15

ARTIKEL ALKANA PADA MINYAK BUMI

Oleh
Hafiz Atma Sasmita
NIM. 116025

Artikel ini di buat untuk memenuhi


tugas Kimia Organik I yang diasuh oleh
Antonius Prihanto, S.Pd, MT

AKADEMI KIMIA INDUSTRI SANTO PAULUS


SEMARANG
2016

Komposisi Minyak Bumi


Jika dilihat kasar, minyak bumi hanya berisi minyak mentah saja, tapi dalam penggunaan
sehari-hari ternyata juga digunakan dalam bentuk hidrokarbon padat, cair, dan gas lainnya.
Pada

kondisi temperatur

dan

tekanan

standar,

hidrokarbon

yang

ringan

seperti metana, etana, propana, dan butana berbentuk gas yang mendidih pada -161.6 C,
-88.6 C, -42 C, dan -0.5 C, berturut-turut (-258.9, -127.5, -43.6, dan +31.1 F),
sedangkan karbon yang lebih tinggi, mulai dari pentana ke atas berbentuk padatan atau
cairan. Meskipun begitu, di sumber minyak di bawah tanah, proporsi gas, cairan, dan padatan
tergantung dari kondisi permukaan dan diagram fase dari campuran minyak bumi tersebut.
Sumur minyak sebagian besar menghasilkan minyak mentah (crude oil), dan terkadang
ada juga kandungan gas alam di dalamnya. Karena tekanan di permukaan Bumi lebih rendah
daripada di bawah tanah, beberapa gas akan keluar dalam bentuk campuran. Sumur
gas sebagian besar menghasilkan gas. Tapi, karena suhu dan tekanan di bawah tanah lebih
besar daripada suhu di permukaan, maka gas yang keluar kadang-kadang juga mengandung
hidrokarbon yang lebih besar, seperti pentana, heksana, dan heptana dalam wujud gas. Di
permukaan, maka gas ini akan mengkondensasi sehingga berbentuk kondensat gas alam.
Bentuk fisik kondensat ini mirip dengan bensin.
Persentase hidrokarbon ringan di dalam minyak mentah sangat bervariasi tergantung
dari ladang minyak, kandungan maksimalnya bisa sampai 97% dari berat kotor dan paling
minimal adalah 50%.

Komposisi Hidrokarbon dalam Minyak Bumi


Minyak bumi tersusun dari senyawa hidrokarbon yang berbeda-beda. Perbedaan ini
tergantung dari faktor umur, suhu pembentukan, dan cara pembentukan. Minyak dari
Indonesia mengandung banyak senyawa aromatik seperti benzena, sedangkan minyak bumi
dari Rusia mengandung banyak senyawa sikloalkana seperti sikloheksana. Berdasarkan hasil
analisis yang telah dilakukan, diketahui bahwa dalam minyak bumi terdiri atas bermacammacam senyawa hidrokarbon. Senyawa-senyawa hidrokarbon tersebut sebagai berikut.

1. Alkana

Golongan alkanan yang banyak terdapat dalam minyak bumi adalah n-alkana dan
isoalkana. n-alkana adalah alkana jenuh berantai lurus dan tidak bercabang, contoh noktana.

Isoalkana adalah alkana jenuh yang rantai induknya mempunyai atom C tersier dan
bercabang, contoh isooktana.

Alkana disebut juga parafin. Parafin adalah senyawa hidrokarbon tersatuasi yang
mengandung rantai lurus atau bercabang yang molekulnya hanya terdiri atas atom karbon
(C) dan hidrogen (H).

2. Sikloalkana
Sikloalkana adalah senyawa hidrokarbon berantai tunggal dan berbentuk cincin.
Golongan sikloalkana yang terdapat dalam minyak bumi adalah siklopentana seperti
metil siklopentana dan sikloheksana seperti etil sikloheksana.

Sikloalkana juga dikenal dengan nama naptena. Naptena adalah senyawa hidrokarbon
tersaturasi yang mempunyai satu atau lebih ikatan rangkap pada karbonnya. Naptena

memiliki rumus umum CnH2n dan mempunyai ciri-ciri mirip alkana tetapi mempunyai
titik didih yang lebih tinggi.

3. Hidrokarbon Aromatik
Hidrokarbon aromatik adalah hidrokarbon yang tidak tersaturasi, memiliki satu
atau lebih cincin planar karbon-6 atau cincin benzena. Pada struktur ini, atom
hidrogen berikatan dengan atom karbon dengan rumus umum C nHn. Jika hidrokarbon
aromatik dibakar, akan menimbulkan asap hitam pekat dan beberapa bersifat
karsinogen (menyebabkan kanker). Senyawa hidrokarbon aromatik yang terdapat
dalam minyak bumi adalah senyawa benzena, contoh etil benzena.

Kandungan Unsur Kimia dalam Minyak Bumi


Berikut merupakan tabel kandungan unsur kimia dalam minyak bumi :
Elemen

Rentang Presentase

Karbon

83 sampai 87%

Hidrogen

10 sampai 14%

Nitrogen

0,1 sampai 2%

Oksigen

0,05 sampai 1,5%

Sulfur

0,05 sampai 6%

Logam

<1%

1. Sulfur/Belerang
Minyak mentah mempunyai kandungan belerang yang lebih tinggi. Keberadaan
belerang dalam minyak bumi sering banyak menimbulkan akibat, misalnya dalam
gasoline dapat menyebabkan korosi (khususnya dalam keadaan dingin atau basah),

karena terbentuknya asam yang dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil
pembakaran gasoline) dan air.
2. Oksigen
Oksigen dapat terbentuk karena kontak yang cukup lama antara minyak bumi
dengan atmosfer di udara. Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah antara
0,05 sampai 1,5 persen dan menaik dengan naiknya titik didih fraksi. Kandungan
oksigen bisa menaik apabila produk itu terlalu lama berhubungan dengan udara.
Senyawa yang terbentuk dapat berupa: alkohol, keton, eter, dll, sehingga dapat
menimbulkan sifat asam pada minyak bumi. Oksigen dapat meningkatkan titik didih
bahan bakar.
3. Nitrogen
Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat rendah, yaitu 0,1-2%.
Kandungan tertinggi terdapat pada tipe asphalitik. Nitrogen mempunyai sifat racun
terhadap katalis dan dapat membentuk gum (getah) pada fuel oil. Kandungan nitrogen
terbanyak terdapat pada fraksi titik didih tinggi.
4. Unsur-unsur Logam
Logam-logam seperti besi, tembaga, terutama nikel dan vanadium pada proses
catalytic cracking mempengaruhi aktifitas katalis, sebab dapat menurunkan produk
gasoline, menghasilkan banyak gas, dan pembentukkan coke. Pada power generator
temperatur tinggi, misalnya oil-fired gas turbine, adanya konstituen logam terutama
vanadium dapat membentuk kerak pada rotor turbine. Abu yang dihasilkan dari
pembakaran fuel yang mengandung natrium dan terutama vanadium dapat bereaksi
dengan refactory furnace (bata tahan api), menyebabkan turunnya titik lebur campuran
sehingga merusakkan refractory itu.

Komposisi Molekul Hidrokarbon dalam Minyak Bumi

Ada 4 macam molekul hidrokarbon yang ada dalam minyak mentah. Persentase
relatif setiap molekul berbeda-beda tiap lokasi minyaknya, sehingga menggambarkan
ciri-ciri dari setiap minyak.
Tabel Komposisi Molekul Hidrokarbon dalam Minyak Bumi
Hidrokarbon

Rata-rata

Rentang

Parafin

30%

15 sampai 60%

Naptena

49%

30 sampai 60%

Aromatik

15%

3 sampai 30%

Aspaltena

6%

Sisa-sisa

1. Minyak Bumi Golongan Parafin


Sebagian besar komponen dalam minyak bumi jenis parafin adalah senyawa
hidrokarbon rantai terbuka. Minyak bumi jenis ini dimanfaatkan untuk bahan bakar
karena merupakan sumber penghasil gasolin.
2. Minyak Bumi Golongan Naftalena
Komponen terbesar dalam minyak bumi jenis naftalena berupa senyawa
hidrokarbon rantai siklis atau rantai tertutup. Minyak bumi jenis ini digunakan untuk
pengeras jalan dan pelumas.
3. Minyak Bumi Golongan Campuran Parafin-Naftalena
Minyak bumi golongan ini komponen penyusunnya berupa senyawa hidrokarbon
rantai terbuka dan rantai tertutup.

Proses Pengolahan Minyak Bumi


Minyak mentah yang baru dipompakan ke luar dari tanah dan belum diproses umumnya tidak
begitu bermanfaat. Agar dapat dimanfaatkan secara optimal, minyak mentah tersebut harus
diproses terlebih dahulu di dalam kilang minyak.Minyak mentah merupakan campuran yang
amat kompleks yang tersusun dari berbagai senyawa hidrokarbon. Di dalam kilang minyak
tersebut, minyak mentah akan mengalami sejumlah proses yang akan memurnikan dan
mengubah struktur dan komposisinya sehingga diperoleh produk yang bermanfaat.
Secara garis besar, proses yang berlangsung di dalam kilang minyak dapat digolongkan menjadi
3 bagian, yaitu:

Proses Pemisahan Secara Fisika

Proses Konversi

Pencampuran

1. Proses Pemisahan Secara Fisika


Proses pemisahan secara fisika yaitu proses pemisahan atau pengolahan minyak bumi
yang didasarkan pada perbedaan sifat-sifat fisika.
Proses Distilasi, yaitu proses penyulingan berdasarkan perbedaan titik didih, Proses ini
berlangsung di Kolom Distilasi Atmosferik dan Kolom Destilasi Vakum. Didalam

perminyakan dikenal 3 jenis ditilasi yaitu :


Distilasi Atmospheric dioperasikan pada tekanan atmosfer dan merupakan proses

pertama dalam pengilangan karena menggunakan umpan minyak mentah.


Distilasi Vacum dioperasikan pada tekanan vacuum yang bertujuan untuk memproses
fraksi minyak berat seperti residu hasil produk bawah dari ditilasi atmospheric dan

digunakan supaya temperature operasi tidak terlalu tinggi


Distilasi Bertekanan dioperasikan pada tekanan diatas tekanan atmosfer untuk proses
pemisahan fraksi fraksi hidrokarbon

Gambar ini memperlihatkan proses distilasi (penyulingan) minyak mentah yang berlangsung di Kolom Distilasi

Kolom distilasi berupa bejana tekan silindris yang tinggi (sekitar 40 m) dan di dalamnya terdapat
tray-tray yang berfungsi memisahkan dan mengumpulkan fluida panas yang menguap ke atas.
Fraksi hidrokarbon berat mengumpul di bagian bawah kolom, sementara fraksi-fraksi yang lebih
ringan akan mengumpul di bagian-bagian kolom yang lebih atas.Fraksi-fraksi hidrokarbon yang
diperoleh dari kolom distilasi ini akan diproses lebih lanjut di unit-unit proses yang lain,
seperti:Fluid Catalytic Cracker, dll. Hasil-hasil frasionasi minyak bumi yaitu sebagai berikut.
1) Fraksi pertama
Pada fraksi ini dihasilkan gas, yang merupakan fraksi paling ringan. Minyak bumi dengan titik
didih di bawah 30oC, berarti pada suhu kamar berupa gas. Gas pada kolom ini ialah gas yang
tadinya terlarut dalam minyak mentah, sedangkan gas yang tidak terlarut dipisahkan pada waktu
pengeboran. Gas yang dihasilkan pada tahap ini yaitu LNG (Liquid Natural Gas) yang
mengandung komponen utama propana (C3H8) dan butana (C4H10), dan LPG (Liquid Petroleum
Gas) yang mengandung metana (CH4)dan etana (C2H6).
2) Fraksi kedua
Pada fraksi ini dihasilkan petroleum eter. Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil 90 oC, masih
berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendinginan dengan suhu 30oC 90oC. Pada trayek ini,
petroleum eter (bensin ringan) akan mencair dan keluar ke penampungan petroleum eter.
Petroleum eter merupakan campuran alkana dengan rantai C5H12 C6H14.

3) Fraksi Ketiga
Pada fraksi ini dihasilkan gasolin (bensin). Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil dari 175 oC
, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan suhu 90 oC 175oC. Pada trayek
ini, bensin akan mencair dan keluar ke penampungan bensin. Bensin merupakan campuran
alkana dengan rantai C6H14C9H20.
4) Fraksi keempat
Pada fraksi ini dihasilkan nafta. Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil dari 200 oC, masih
berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan suhu 175 oC - 200oC. Pada trayek ini,
nafta (bensin berat) akan mencair dan keluar ke penampungan nafta. Nafta merupakan campuran
alkana dengan rantai C9H20C12H26.
5) Fraksi kelima
Pada fraksi ini dihasilkan kerosin (minyak tanah). Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil
dari 275oC, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan suhu 175 oC - 275oC.
Pada trayek ini, kerosin (minyak tanah) akan mencair dan keluar ke penampungan kerosin.
Minyak tanah (kerosin) merupakan campuran alkana dengan rantai C12H26C15H32.
6) Fraksi keenam
Pada fraksi ini dihasilkan minyak gas (minyak solar). Minyak bumi dengan titik didih lebih kecil
dari 375oC, masih berupa uap, dan akan masuk ke kolom pendingin dengan suhu 250 oC - 375oC.
Pada trayek ini minyak gas (minyak solar) akan mencair dan keluar ke penampungan minyak gas
(minyak solar). Minyak solar merupakan campuran alkana dengan rantai C15H32C16H34.
7) Fraksi ketujuh
Pada fraksi ini dihasilkan residu. Minyak mentah dipanaskan pada suhu tinggi, yaitu di atas
375oC, sehingga akan terjadi penguapan. Pada trayek ini dihasilkan residu yang tidak menguap
dan residu yang menguap. Residu yang tidak menguap berasal dari minyak yang tidak menguap,
seperti aspal dan arang minyak bumi. Adapun residu yang menguap berasal dari minyak yang
menguap, yang masuk ke kolom pendingin dengan suhu 375oC. Minyak pelumas (C16H34C20H42)

digunakan untuk pelumas mesin-mesin, parafin (C21H44C24H50) untuk membuat lilin, dan aspal
(rantai C lebih besar dari C36H74) digunakan untuk bahan bakar dan pelapis jalan raya.
2. Proses Konversi
Proses konversi pada dasarnya adalah proses reaksi kimia untuk mengubah susunan
kimia hidrokarbon agar didapatkan senyawa hidrokarbon baru yang mempunyai nilai
ekomonis tinggi.
Craking
Cracking adalah penguraian molekul-molekul senyawa hidrokarbon yang besar menjadi
molekul-molekul senyawa hidrokarbon yang kecil. Contoh cracking ini adalah pengolahan
minyak solar atau minyak tanah menjadi bensin. Proses ini terutama ditujukan untuk
memperbaiki kualitas dan perolehan fraksi gasolin (bensin). Kualitas gasolin sangat
ditentukan oleh sifat anti knock (ketukan) yang dinyatakan dalam bilangan oktan.
Terdapat 3 cara proses cracking, yaitu :
a. Cara panas (thermal cracking), yaitu dengan penggunaan suhu tinggi dan tekanan yang
rendah. Contoh reaksi-reaksi pada proses cracking adalah sebagai berikut :

b. Cara katalis (catalytic cracking), yaitu dengan penggunaan katalis. Katalis yang
digunakan biasanya SiO2 atau Al2O3 bauksit. Reaksi dari perengkahan katalitik melalui
mekanisme perengkahan ion karbonium. Mula-mula katalis karena bersifat asam
menambahkna proton ke molekul olevin atau menarik ion hidrida dari alkana sehingga
menyebabkan terbentuknya ion karbonium :

c. Hidrocracking

Hidrocracking

merupakan

kombinasi

antara

perengkahan

dan

hidrogenasi

untuk

menghasilkan senyawa yang jenuh. Reaksi tersebut dilakukan pada tekanan tinggi.
Keuntungan lain dari Hidrocracking ini adalah bahwa belerang yang terkandung dalam
minyak diubah menjadi hidrogen sulfida yang kemudian dipisahkan

Coking
Coking merupakan pemecahan molekul hidrokarbon yang disertai dengan proses kimia
perangkaian molekul hidrokarbon menjadi jauh lebih berat lagi seperti proses pengubahan
residu menjadi cake

Reforming
Reforming adalah perubahan dari bentuk molekul bensin yang bermutu kurang baik (rantai
karbon lurus) menjadi bensin yang bermutu lebih baik (rantai karbon bercabang). Kedua
jenis bensin ini memiliki rumus molekul yang sama bentuk strukturnya yang berbeda. Oleh
karena itu, proses ini juga disebut isomerisasi. Reforming dilakukan dengan menggunakan
katalis

dan

pemanasan.

Contoh reforming adalah sebagai berikut :

Isomerisasi
Dalam proses ini, susunan dasar atom dalam molekul diubah tanpa menambah atau
mengurangi bagian asal. Hidrokarbon garis lurus diubah menjadi hidrokarbon garis
bercabang yang memiliki angka oktan lebih tinggi. Dengan proses ini, n-butana dapat diubah
menjadi isobutana yang dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam proses alkilasi.

ALKILASI dan POLIMERISASI


Alkilasi merupakan penambahan jumlah atom dalam molekul menjadi molekul yang lebih
panjang dan bercabang. Dalam proses ini menggunakan katalis asam kuat seperti H2SO4,
HCl, AlCl3 (suatu asam kuat Lewis). Reaksi secara umum adalah sebagai berikut:

Polimerisasi adalah proses penggabungan molekul-molekul kecil menjadi molekul besar.


Reaksi umumnya adalah sebagai berikut :
M CnH2n

Cm+nH2(m+n)

Contoh polimerisasi yaitu penggabungan senyawa isobutena dengan senyawa isobutana


menghasilkan bensin berkualitas tinggi, yaitu isooktana.

Gambar Proses Konversi

3. Treating
Treating adalah pemurnian minyak bumi dengan cara menghilangkan pengotorpengotornya. Cara-cara proses treating adalah sebagai berikut :

Copper sweetening dan doctor treating, yaitu proses penghilangan pengotor yang dapat
menimbulkan bau yang tidak sedap.

Acid treatment, yaitu proses penghilangan lumpur dan perbaikan warna.

Dewaxing yaitu proses penghilangan wax (n parafin) dengan berat molekul tinggi dari
fraksi minyak pelumas untuk menghasillkan minyak pelumas dengan pour pointyang
rendah.

Deasphalting yaitu penghilangan aspal dari fraksi yang digunakan untuk minyak pelumas

Desulfurizing (desulfurisasi), yaitu proses penghilangan unsur belerang.

4. Proses Pencampuran (Blending)

Proses blending adalah penambahan bahan-bahan aditif kedalam fraksi minyak bumi dalam
rangka untuk meningkatkan kualitas produk tersebut. Bensin yang memiliki berbagai
persyaratan kualitas merupakan contoh hasil minyak bumi yang paling banyak digunakan di
barbagai negara dengan berbagai variasi cuaca. Untuk memenuhi kualitas bensin yang baik,
terdapat sekitar 22 bahan pencampur yang dapat ditambanhkan pada proses pengolahannya.
Diantara bahan-bahan pencampur yang terkenal adalah tetra ethyl lead (TEL). TEL berfungsi
menaikkan bilangan oktan bensin. Demikian pula halnya dengan pelumas, agar diperoleh
kualitas yang baik maka pada proses pengolahan diperlukan penambahan zat aditif.
Penambahan TEL dapat meningkatkan bilangan oktan, tetapi dapat menimbulkan
pencemaran udara.

Sumber : https://www.scribd.com/document/267493881/Makalah-Minyak-Bumi-Final