Anda di halaman 1dari 8

IDENTIFIKASI JURNAL

PENGARUH PROGRAM EDUKASI BERBASIS KOMUNITAS TERHADAP


SELF-MANAGEMENT LANSIA HIPERTENSI DI PUSKESMAS GOMBONG 2
KEBUMEN
Masalah Penelitian :
1. Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama morbiditas dan
mortalitas di seluruh dunia (Go, Mozaffaria, Roger, Benjamin, Berry, Borden,
et al., 2012). Menurut data dari (WHO) tahun 2013 penyakit jantung
iskemik dan stroke termasuk dalam peringkat satu dan dua dari 10 penyebab
utama kematian di dunia yaitu menyebabkan 7 juta (11,2%) dan 6,2 juta
(10,6%) orang meninggal setiap tahunnya.
2. Pasien
hipertensi
yang melakukan modifikasi gaya hidup
untuk
mengontrol tekanan darahnya hanya sekitar 30% dari semua penderita
hipertensi (Ragot, Sosner, Bouche, Guillemain & Herpin, 2005).
3. Berdasarkan kajian di jurnal salah satu permasalahan dari penelitian
yang dijadikan alasan peneliti, yaitu tidak adanya penelitian khusus
tentang edukasi berbasis komunitas terhadap self-management lansia
hipertensi,

sehingga

hal

ini

menjadi

penting

untuk

dilakukan

penelitian lebih lanjut terkait pengaruh program edukasi berbasis


komunitas terhadap self-management lansia hipertensi di Puskesmas
Gombong 2.
Tujuan Penelitian :
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh program edukasi berbasis
komunitas terhadap self-management lansia hipertensi.
Literatur Review :
Lee,

J.K. (2013). Evaluation of a Medication Self Management Education


Program for Elderly with Hypertension Living in the Community. J. Korean Acad
Nurs. 43 (2): 267-275.
Leung, C. M., Ho, G. K., Foong, M., Ho, C. F., Lee, P. K., & Mak, L.S. (2005). Smallgroup Hypertension Health Education Programme: A Process and Outcome
Evaluation. Journal of Advanced Nursing [J Adv Nurs]. December;
Volume 52 (6)., pp. 631-639.
Mubarak, W. (2012). Promosi Kesehatan untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba

Medika.
Park, Y. H., Kim, J., & Kawak, J. S. (2012). Patient-Tailored Self-Management
Intervention for Older Adults with Hypertension in A Nursing Home.
Journal Of Clinical Nursing [J Clin Nurs] 2013 Mar; Vol. 22 (5-6), pp. 710-22
Prasetyo, A. S., Sitorus, R., & Gayatri, D. (2012). Analisis Faktor-faktor yang
Berhubungan dengan Self Care Management pada Asuhan Keperawatan
Pasien Hipertensi di RSUD Kudus. Tesis: Universitas Indonesia.

Kerangka Teori :
Berdasarkan dari jurnal penelitian tersebut peneliti tidak melampirkan
kerangka teori,

Hipotesis :
Adakah

pengaruh

program

edukasi

berbasis

komunitas

terhadap

self

manaagement lansia hiipertensi ?


Desain Penelitian :
Jenis

penelitian

yang

digunakan

pada

penelitian

ini

adalah

quasi

eksperimental dengan menggunakan desain penelitian one group pretest-post test


with control yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok intervensi dan
kelompok kontrol yang dilakukan pre-test dan post test pada masing-masing
kelompok.
Sampel :
Cara pengambilan sampel wilayah dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan teknik probability sampling dengan pendekatan cluster sampling
sesuai

dengan

kriteria

inklusi.

menggunakan consecutive sampling


kriteria

inklusi

sampel

pada

Penentuan
yaitu

sampel

pada

pengambilan

penelitian

sampel

ini

berdasarkan

sampai memenuhi jumlah sampel yang diinginkan. Penghitungan


penelitian

ini

berdasarkan

proporsi

pada

hasil

penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh Kim, Han, Huh, Nguyen, Lee & Kim (2014)
sehingga didapatkan jumlah sampel sebesar

25

responden

atau

sampel

keseluruhan adalah 50 responden dan ditambahkan untuk mengantisipasi drop

out, sehingga pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol ditambah menjadi
20% dari total responden, sehingga jumlah sampel secara keseluruhan menjadi
60 responden.
Legal Etik :
Dalam penelitian ini isue legal etik tidak ada.
Instrumen :
Kuesioner terdiri dari kuesioner tentang data karakteristik responden
(kuesioner

A),

kuesioner

tentang

self-management hipertensi

(kuesioner

B).

Kuesioner tentang self-management pada hipertensi dibuat berdasarkan sumber


dari Canadian Recommendations for Management of Hypertension (2011) yang
terdiri dari enam kriteria tentang self-management pada hipertensi dan dari SelfManagement Among Hypertension in Bangladesh yang dibuat oleh Akhter,
Nilmanat & Cinnawong (2010). Kuesioner self-management hipertensi terdiri
yaitu pengendalian berat badan, olahraga, diet, manajemen stres, menghentikan
perilaku merokok, menghentikan perilaku konsumsi alkohol, monitoring tekanan
darah dan pengobatan hipertensi.

1. validitas dan reliabilitas:


Pada penelitian ini dilakukan uji validitas dengan menggunakan content
validity yaitu dengan meminta pendapat ahli sebagai pakar penelitian
terkait dengan instrument penelitian yaitu tiga pakar Keperawatan Medikal
Bedah dan Keperawatan
dilakukan

Komunitas

Universitas

Padjadjaran.

Setelah

content validity oleh tiga pakar, instrumen dinyatakan telah

mencakup isi dan konsep penelitian. Selain menggunakan content validity,


instrument penelitian kemudian dilakukan uji
menggunakan

rumus

Pearson

Product

respondenprosedur
2. pengumpulan data:
prosedur pengumpulan data artikel tersebut,

contruct
Moment

subjek

validity dengan
kepada

20

dibagi menjadi

kelompok kontrol yang menerima edukasi rutin dan kelompok perlakuan


yang menerima edukasi rutin dan edukasi berbasis komunitas tentang

self management hipertensi selama 4 minggu. Pengumpulan data dilakukan


dua kali dengan menggunakan kuesioner self-management hipertensi
3. analisa data:
Uji statistik pada penelitian ini menggunakan uji parametrik (uji

berpasangan) yang digunakan untuk melihat beda mean dari dua hasil ukur
pada kelompok yang sama (beda mean pre test dan post test). Perbedaan
mean nilai pre test

dan

post

test

perilaku

kelompok intervensi edukasi berbasis

self-management

komunitas

dan

edukasi

pada
secara

rutin sebelum dan setelah diberikan intervensi, dengan menggunakan uji


parametrik (uji t tidak berpasangan).
4. Hasil:
Hasil penelitian menunjukkan bahwa total nilai self-management hipertensi
pada

kelompok

perlakuan

secara

signifikan

lebih

tinggi

setelah

menerima program edukasi berbasis komunitas dibandingkan total nilai


sebelum perlakuan (p=0,000). Selain itu, total nilai self-management dari
kelompok perlakuan secara signifikan
kontrol

pada

minggu

lebih

tinggi

daripada

kelompok

keempat (p=0,000). Subvariabel self-management

tentang diet, merokok, aktifitas fisik, manajemen stress, pengendalian


berat

badan,

mengalami

alkohol,

monitoring

peningkatan

setelah

tekanan

diberikan

darah

dan

program

pengobatan

edukasi berbasis

komunitas.
5. Diskusi temuan:
Berdasarkan hasil penelitian, program yang sudah rutin dilakukan dapat
meningkatkan perilaku self-management hipertensi pada
peningkatan

perilaku

self-management

hipertensi

lansia,
lebih

program edukasi berbasis komunitas yang melibatkan

namun

tinggi

kader.

pada

Hal ini

dapat disebabkan karena adanya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi


program edukasi berbasis komunitas terhadap perubahan perilaku selfmanagement

hipertensi

yaitu

teori self-management

yang

digunakan,

metode yang digunakan, media pelaksanaan program edukasi dan motivasi


dari penderita hipertensi.
Teori self-management yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori
CDSMP.

Tujuan

dari

pelaksanaan

CDSMP

yaitu

untuk

meningkatkan

koping terutama pada penderita penyakit kronis seperti penyakit jantung,


hipertensi dan DM. Pada pelaksanaan program yang berlandaskan teori ini

lebih

menekankan

pada

pemberian

pendidikan

kesehatan

untuk

meningkatkan pemahaman dan pemantauan penyakit, keterampilan dalam


mempertahankan kehidupan yang sehat dan strategi untuk meningkatkan
kesejahteraan emosional (Bandura, 2004). Hal ini diperkuat oleh penelitian
yang dilakukan Leung, Ho, Foong, Ho,Lee & Mak (2005) tentang program
pendidikan kesehatan pada kelompok penderita hipertensi yang dilakukan
oleh perawat komunitas didapatkan hasil bahwa responden mengatakan
mereka lebih membutuhkan pendidikan kesehatan daripada dukungan dari
anggota kelompok
Metode

pada

pelaksanaan

penelitian

ini

menggunakan

metode

Self

Help Group, yaitu responden dibagi menjadi beberapa kelompok kecil


yang

akan menerima pendidikan kesehatan tentang self-management

hipertensi oleh kader. Menurut Townsend (2003), metode ini mempunyai


kelebihan

yaitu

mampu mengurangi masalah psikologis terutama pada

penderita penyakit kronis. Hal ini dapat terjadi karena pada metode ini
anggota kelompok dapat saling berbagi pengalaman tentang kesulitan dan
cara mengatasi

permasalahan terkait penyakit yang diderita. Hal ini

didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sokolovsky, Sosic & Pavlekovic
(2005) yang dilakukan kepada kelompok hipertensi lansia di Yugoslavia
didapatkan hasil bahwa dengan melakukan pendidikan kesehatan pada
kelompok lansia penderita hipertensi didapatkan hasil bahwa penederita
hipertensi mampu mengontrol tekanan darahnya dan sedikit mengurangi
angka kematian.
Program edukasi dapat berhasil apabila didukung oleh media yang baik.
Media
merupakan sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau
informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator. Media yang biasa
digunakan adalah

poster,

leaflet,

brosur,

stiker,

dan

lembar

balik

(Mubarak, 2012). Pada penelitian ini media yang digunakan adalah berupa
modul yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan selfmanagement hipertensi. Hal ini diperkuat oleh penelitian Flynn, et al.,
(2013) yang melakukan penelitian tentang efek dari internvensi manajemen
diri

pasien

hipertensi.

Pada

penelitian

ini

kelompok

intervensi

mendapatkan pendidikan kesehatan tentang self-management selama 90


menit dengan menggunakan booklet. Hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa pelaksanaan program pendidikan kesehatan menggunakan media
booklet dapat meningkatkan perilaku self-management.
Keberhasilan suatu program edukasi pada penelitian ini juga dipengaruhi
oleh motivasi dari diri sendiri. Menurut The Royal Australian College of
General Practioners

(2010) perilaku self-management hipertensi salah

satunya dipengaruhi oleh motivasi, dimana motivasi seseorgang akan


dipengaruhi dan meningkat seiring dengan perubahan yang dialami oleh
pasien. Hal ini diperkuat oleh

hasil

penelitian

menyatakan bahwa sesorang yang melakukan


baik

dipengaruhi

oleh

Akinsola

(2001)

self-management

yang

dengan

pengetahuan, keterampilan, sikap yang positif,

keyakinan dan optimis untuk meningkatkan kesehatan yang buruk.


Hal

ini

didukung

oleh

The

Royal

Australian

College

of

General

Practioners (2010) yang menyatakan bahwa intervensi manajemen diri


pada orang

yang

menderita

penyakit

kronis

meliputi

kegiatan

yang

berfokus pada kebutuhan pasien,


pengambilan

keputusan,

pemecahan

masalah,

manajemen emosional,

meningkatkan kemampuan pasien dalam mengelola kondisi penyakit dan


menganjurkan pasien untuk aktif dalam pelayanan kesehatan. Beberapa
pilihan

intervensi

yang

dapat

dilakukan

untuk

melaksanakan

self-

management yaitu dengan memberikan edukasi dan informasi dengan


menggunakan buku pegangan untuk pasien, melakukan wawancara dan
memberikan motivasi yang dilakukan oleh penyedia pelayanan kesehatan,
dukungan dan motivasi dari teman sebaya, dan pelaksanaan program selfmanagement yang dipimpin oleh orang awam yang dapat memberikan
inspirasi, dukungan dan role model bagi pasien.
Hasil penelitian didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Iso,
Shimamoto, Yokota, Sankai, Jacobs & Komachi (2010) yang melibatkan
pasien hipertensi

berusia 35-69

tahun,

dengan

jumlah

sampel

pada

kelompok intervensi sejumlah 56 responden dan kelompok kontrol sebanyak

55 responden. Kelompok intervensi mendapatkan pendidikan kesehatan


selama 6 bulan dengan materi yang meliputi tentang pengurangan asupan
sodium,

susu,

gula,

kegiatan

olahraga seperti

jalan

cepat,

dan

pengurangan konsumsi alkohol. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa


program community based education pada pasien hipertensi efektif untuk
menurunkan tekanan darah dengan cara non farmakologis.
6. Rekomendasi
1) Saran teoritis

dari

penelitian

ini

adalah

dilakukan

penelitian

selanjutnya yang berhubungan dengan self-management hipertensi


berdasarkan
2)

konsep

teori

Chronic

Disease

Self-management

Program (CDSMP), terutama dalam pemberdayaan masyarakat.


Adapun saran praktisnya, yang pertama bahwa program edukasi
berbasis

komunitas

kebijakan

dalam

management

dapat

dijadikan

sebagai

program pencegahan

hipertensi.

Program

dan

salah

satu

pengelolaan

edukasi berbasis

self-

komunitas

dapat digunakan dalam praktik keperawatan di Puskesmas terutama


pada

tatanan

komunitas

sebagai

salah

satu

intervensi

self-

management pada hipertensi dengan melibatkan kader kesehatan


dan membentuk suatu kelompok penderita hipertensi di setiap desa.
3) Saran praktis yang kedua dari hasil penelitian ini bahwa program
edukasi

berbasis

komunitas

dapat

digunakan

sebagai

intervensi dalam pengelolaan pasien

hipertensi

keperawatan

program edukasi

komunitas

dan
dapat

bagi

responden

meningkatkan

bagi

model

mahasiswa
berbasis

self-management

lansia

hipertensi yang dapat dilakukan oleh pasien dan keluarga secara


mandiri. Perawat komunitas hendaknya dapat memberikan motivasi
dan kesadaran kepada lansia hipertensi untuk melakukan perilaku
self-management hipertensi untuk mencegah terjadinya

komplikasi

dan menyarankan lansia untuk mengikuti kegiatan posbindu.