Anda di halaman 1dari 4

LO no 2

Diagnosa dari skenario adalah Trombosis sinus cavernosus (TSC) adalah suatu trombosis
(bekuan darah) yang berada di dalam penbuluh darah pada sinus cavernosus. Trombosis sinus
cavernosus pertama kali ditemukan sebagai komplikasi dari infeksi epidural dan subdural.
Trombosis sinus cavernosus umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri (umumnya
Streptococcus pneumoniae dan Stafilococcus aureus) yang menyebar dari daerah sekitarnya,
seperti: telinga, hidung, mata, dan gigi (rahang atas).
Gejala yang umumnya timbul dari thrombosis sinus cavernosus adalah :

demam (hipertermi),

sakit pada daerah sekitar dan belakang mata,

penurunan kesadaran,

takikardi,

kaku kuduk,

kejang,

susah menggerakkan mata,

paralisa wajah (kebas),

mata tampak sayu,

bengkak pada kelopak mata dan membran yang menutupi sklera,

mata tampak menonjol,

gangguan pendengaran, atau keluar cairan dari telinga,

keluar sekret berwarna kuning, hijau, atau merah (darah) dari sinus, dan

diplopia atau kehilangan penglihatan.

Pada skenario, tampak gejala-gejala seperti kehilangan kesadaran, adanya bengkak di pipi
kiri hingga meluas ke orbita kiri sehingga kesulitan membuka pelupuk mata. Pasien juga merasa
demam dan sakit hebat. Ini mirip dengan gejala pada penyakit tersebut. Pada ekstraoral juga

didapatkan pembengkakan pada pipi kiri meluas hingga palpebra inferior dan superior,
kemerahan, permukaan licin, palpasi sakit, lunak, terdapat peningkatan suhu dan tidak ada
fluktuasi, sulkus nasolabial rata.
Trombosis sinus cavernosus umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri (umumnya
Streptococcus pneumoniae dan Stafilococcus aureus) yang menyebar dari daerah sekitarnya,
gigi (rahang atas). Pada pemeriksaan intraoral terdapat sisa akar gigi 24, warna gusi kemerahan,
bukal fold tidak terangkat, palpasi sakit dan tidak terdapat fluktuasi. Ditemukan adanya gejala ini
pada pemeriksaan intraoral, menandakan adanya inflamasi dikarenakan infeksi pada gigi 24,
yang kemungkinan merupakan sumber infeksi dari thrombosis sinus cavernosus yang dialami
pasien.
LO no 8
Sedangkan pemberian antibiotik sendiri apabila memungkinkan, sebaiknya pemilihan
obat didasarkan pada hasil smear/pewarnaan gram, kultur dan tes sensitivitas. Antibiotic yang
dipilih diresepkan dengan dosis yang adekuat dan jangka waktu yang memadai. Dosis subklinis
tidak efektif dan bisa mengakibatkan terjadinya resistensi pada bakteri pathogen tertentu.
Kombinasi antibiotic tertentu misalnya satu atau dua macam obat yang biasanya digunakan di
Rumah Sakit untuk infeksi-infeksi yang serius. Terapi antibiotic kombinasi yang biasanya
dilakukan adalah suatu antibiotic spectrum luas dengan obat yang termasuk dalam kelompok
aminoglikosid.

Untuk

merawat

infeksi

dengan

baik

biasanya

dilakukan

dengan

mengkombinasikan perawatan bedah, supportif, dan antibiotik.


a. Penicillin
Penicillin adalah antibiotic yang paling sering digunakan. Baik yang alami maupun
semisintetis mempunyai aktivitas bakteriosidal spectrum luas, dan bekerja dengan kalan
mengganggu pembentukan dan keutuhan dinding sel bakteri. Penicillin adalah obat utama untuk
mengobati sebagian besar penyakit infeksi orofasial dan untuk profilaksis pada pasien risiko
tinggi terhadap infeksi, apabila tidak ada riwayat alergi.
b. Erythromycin
Erythromycin adalah antibiotic yang penting karena bisa digunakan untuk orang yang alergi
terhadap penicillin. Erythromycin efektif terhadap bakteri gram positif yang peka terhadapnya.
Obat ini biasanya tidak efektif untuk bakteri gram negative. Erythromycin menghambat sintesis
protein

pada bakteri, bisa bersifat bakteriostatis terhadap bakteri tertentu dan bakteriosid

terhadap bakteri yang lain.


c. Cephalosporin

Cephalosporin secara structural dan farmakologis mirip dengan penicillin, yang bisa
menjelaskan reaksi alergnik-silang antara kedua kelompok tersebut (kemungkinannya 5-10%,
tetapi bisa lebih rendah apabila diberikan secara oral). Cephalexin, cephaloglycin, cefadroxil,
cephradine bisa digunakan secara oral dan bisa diabsorbsi dengan baik di dalam saluran
gastrointestinal. Cephalosporin bersifat bakterisid terhadap sebagian besar jenis Streptococcus
dan Staphylococcus tetapi tidak efektif terhadap sebagian coccus gram negatif dan batang yang
sering terlibat dalam infeksi orofasial. Cephalosporin jangan digunakan sebagai antibiotic utama
tetapi sebaiknya digunakan sebagai cadangan untuk kasus-kasus dimana tes sensitivitas
menunjukkan bahwa obat tersebut adalah yang paling efektif.
d. Lincosamide
Clindamycin yang merupakan suatu derivate dari lincomycin, bisa diabsorpsi dengan
cepat apabila diberikan secara oral, dan mencapai konsentrasi maksimum dalam darah selama 1 jam. Secara umum kegunaannya sangat dibatasi yakni pada orang yang menderita kelainan
ginjal. Clindamycin bersifat bakterisid, yatu dengan cara menghambat sintesis protein. Walaupun
clindamycin efektif terhadap sebagian bakteri gram positif, indikasinya terutama untuk
perawatan infeksi yang disebabkan oleh coccus gram positif anaerob dan batang gram negative.
Clindamycin dicadangkan untuk infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri anaerob yang rentan
terhadap obat ini, dan pada kasus dimana respon terhadap penicillin kurang baik. Indikasi
lainnya dalah pada pasien yang mengalami infeksi yang parah dan alergi terhadap penicillin.
e. Metronidazole
Metronidazole adalah anti protozoa mulut (Trichomonas, Entamoeba) dan anti-bakteri.
Cara kerja bakteriosidnya dengan jalan mengganggu sintesis DNA. Obat ini bisa diabsorpsi
dengan baik apabila diberikan secara oral, dan terserap dengan baik pada kebanyakan cairan dan
jaringan tubuh termasuk saliva dan cairan serebrospinal. Metronidazole efektif untuk bakteri
anaerob. Apabila digunakan pada kasus campuran (anaerob dan aerob), maka perlu ditambahkan
antibiotic yang sesuai untuk infeksi aerob. Pada kondisi penyakit hepar yang parah, dosisnya
dikurangi. Efek samping yang paling sering terjadi adalah mual, disertai dengan sakit kepala,
anoreksia dan kadang-kadang muntah.
f. Tetracyclin
Tetracycline merupakan obat yang bersifat bakteriostatis yang bekerja dengan jalan
menghambat sintesis protein. Tetracycline tidak dianjurkan sebagai obat utama untuk infeksi
orofasial yang serius. Obat ini sebaiknya digunakan apabila tes sensitivitas menunjukkan

perlunya pemberian obat tersebut, atau obat lain tidak ada, atau pasien alergi terhadap obat
utama. Untuk membantu absorpsinya, sebaiknya obat ini diminum 1-2 jam sebelum atau sesudah
makan. Tetracycline yang digunakan selama odontogenesis, yaitu pertengahan kedua masa
kehamilan

sampai anak berumur 8 tahun, bisa mengakbatkan perubahan warna pada gigi

(kuning, abu-abu, coklat).

Tambahan komplikasi ekstraksi gigi


1. Infeksi
Adanya kemungkinan penjalaran infeksi setelah dilakukan ekstraksi gigi. Untuk itulah 1
jam sebelum insisi diberi antibiotik. Pencabutan gigi yang mengalami sepsis lokal baik
telah dirawat ataupun belum (seperti pada gigi yang mengalami deposit kalkulus berlebih
dan mengalami gingivitis akut) sebaiknya dihindari.
2. Edema versus infeksi
Infeksi pasca bedah, bisa awal atau bersamaan dengan edema.
3. Trismus yang persisten
Komplikasi ini jarang terjadi, dan penyebab pastinya masih belum diketahui.
Kemungkinan dikarenakan hilangnya selulitis maupun efek dari obat anastesi. Bisa
dihilangkan dengan melakukan pemijatan.